Anda di halaman 1dari 53

1

I. OSTEOLOGI

Osteologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kerangka (skeleton). Osteologi berasal dari kata os (latin) dan osteon (Yunani) yang berarti tulang. Tulang-tulang Vertebrata membentuk rangka dalam (ENDOSKELETON) berfungsi :

a. Memberi bentuk tubuh.

b. Menahan dan menegakkan tubuh.

c. Melindungi bagian dalam tubuh.

d. Sebagai tempat melekatnya otot rangka.

e. Sebagai alat gerak pasif.

f. Tempat pembentukan sel-sel darah (HEMOPOIESIS).

Ditinjau dari bentuknya dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :

a. Ossa longa / tulang panjang (long bone), tulang yang berbentuk panjang, silindris, Misal: os femur, os humerus, dll.

b. Ossa plana / tulang pipih (flat bone), tulang yang berbentuk pipih, misal: os scapula, ossa costae, ossacrani.

c. Ossa brevia / tulang pendek (short bone), tulang-tulang berbentuk pendek, kecil, missal contohnya: ossa carpi dan ossa tarsi.

d. Ossa irregularis / tulang tidak beraturan (irregular bone), tulang-tulang yang tidak teratur bentuknya, misal: os vertebrae, basis crania.

Columna vertebralis (tulang belakang) Dibagi menjadi 5 bagian yaitu :

a. Vertebrae servicalis (c) ruas tulang leher berjumlah 7 ruas (1 atlas penghubung ke tengkorak, 1 axis sebagai penopang)

b. Vertebrae thoracalis (t) ruas tulang dada berjumlah 13 ruas (5 ruas costae yang melayang dan 8 ruas costae yang menempel)

c. Vertebrae lumbalis

d. Vertebrae sacralis (s) ruas tulang kemudi berjumlah 5 ruas

e. Vertebrae cocygeae (c) ruas tulang ekor 16-18 ruas (kambing), 18-20 ruas (sapi)

(l) ruas tulang punggung berjumlah 6 ruas

2

Gambar. Kerangka sapi perah

2 Gambar. Kerangka sapi perah
2 Gambar. Kerangka sapi perah

Gambar. Ossa crani

Lacrimalis
Lacrimalis

nasalis

temporalis

Keterangan:

3

1. corpus ossis incisive

2. processus nasalis ossis incisive

3. foramina infraorbitalia

4. maxilla (facies facialis)

5. os nasale

6. incisura nasoincisiva

7. incisura nasalis

8. fissure nasolacrimalis

9. os lacrimale

10. fossa sacci lacrimalis

11. os zygomaticum

12. processus frontalis ossis zygomatici

13. processus temporalis ossis zygomatici

14. orcus zygomaticus

15. bulla lacrimalis

16. os frontale

17. processus zygomaticus ossis frontalis

18. processus cornualis

19. protuberantia intercornualis

20. fossa temporalis

21. linea temporalis

22. pars squamosa ossis temporalis

23. processus zygomaticus ossis temporalis

24. condylus occipitalis

25. porus acusticus externu

26. processus paracondylaris

27. foramen stylomastoideum

28. bulla tympanica

29. vagina processus styloidei

30. dens premolaris

superior II 31. dens molaris superior I

32. dens molaris inferior II

33. dens molaris inferior I

34. dentes incisivi

35. margo interalveolaris

36. foramen mentale

37. ramus mandibulae

38. angulus mandibulae

39. processus coronoi dues

40. processus condylaris

41. orbita

42. tuber faciale

4

Gambar. Bovine skeleton of thoracic limb.

4 Gambar. Bovine skeleton of thoracic limb. Keterangan: 1. cartilage scapulae 2. faciescostalis scapulae 3. collum

Keterangan:

1. cartilage scapulae

2. faciescostalis scapulae

3. collum scapulae

4. tuberculummajushumeri

5. tuberculum minus humeri

6. corpus humeri

7. condylushumeri

8. olecranon

9. caput radii

10. corpus radii

11. spatium interosseum

anterbrachii proximale

12. corpus ulnae

13. trochlea radii

14. processusstyloideus ulnae

15. os carpi radiale

16. os carpi ulnare

17. os carpi accesorium

18. oscarpele II et III

19. oscarpale IV

20. osmetacrpale III et IV

21. ossasesamoideaproximalia

22. phalanx proximal digiti IV

23. phalanx proximal digiti III

24. phalanx media digiti IV

25. phalanx media digiti III

26. phalanx distalis digiti IV

27. phalanx distalis digiti III

28. os sesamoideum distale

5

Gambar.Extremitas Caudalis

Ketrangan:

5 Gambar.Extremitas Caudalis Ketrangan: 1. corpus ossis ilium 2. 3.,4.,5., alaossis ilium 3. tuber sacrale 4.
5 Gambar.Extremitas Caudalis Ketrangan: 1. corpus ossis ilium 2. 3.,4.,5., alaossis ilium 3. tuber sacrale 4.
5 Gambar.Extremitas Caudalis Ketrangan: 1. corpus ossis ilium 2. 3.,4.,5., alaossis ilium 3. tuber sacrale 4.

1. corpus ossis ilium

2. 3.,4.,5., alaossis ilium

3. tuber sacrale

4.

5. facies sacropelvina

6. incisura aschiadica major

7. corpus ossis pubis

8. corpus ossisischi

9. tabula ossisischi

crista iliaca

10. tuber ischiadica minor

11. facies sympphysialis

12. corpus ossis femoris

13. trhoclea ossis femoris

14. condylus medialis ossis femoris 24. ostarsale I

15.

16. condylus medialis tibiae

17. tuberositas tibiae

18. eminentia intercondylaris

19. corpus tibiae

20. calcaneus

21. talus

22. os centroquartale

23. os tarsale II et III

patella

25. os metatarsale III et IV

26. phalanx proximalis

27. phalanx media

28. phalanx distalis

29. os sesamoideum distale

30. os sessamoideum metatarsale

31. ossa sesamoidea proximalia

6

Gambar. Osteology Abdomen Thorax

6 Gambar. Osteology Abdomen Thorax Keterangan: 1. vertebra thoratica 2. 3. processusspinosi 4. processus transverse 5.

Keterangan:

1. vertebra thoratica

2.

3. processusspinosi

4. processus transverse

5. caput costae

6. tuberculum costae

7. arcuscostalis

8. vertebra lumbalis II

9. vertebra lumbalis VI

costa II

10. .os sacrum

11. os ilium

12. processusarticulariscranialis cum processumamillari

13. processuscostarii

7

Gambar. Bovine Pelvis And Thich

7 Gambar. Bovine Pelvis And Thich Keterangan: 1. Tuber Coxae 2. Tuber Sacralo 3. Corpus OssisI

Keterangan:

1. Tuber Coxae

2. Tuber Sacralo

3. Corpus OssisI llium

4. Corpus Ossis Pubium

5. Spin Ischiadica

6. Tuber Inschiadium

7. Corpus Ossis Ischii

8. Facies Symphysialis Ossis Coxae

9. Pecten Ossis Pubis

10. TuberculumMinoris

11. Eminentia Iinpubica

12. Foramen Obtoratum

13. Crista Sacralis Mediana

14. Ala Ossis Sacri (Sinistra)

15. Ala Ossis Sacri (Dextra)

16. Pers Lateralis Ossis Sacri

17. Foramina Sacralis Dorsalia

18. Foramina Sacralis Pelvina

19. Caput Ossis Femoris

20. Caput Ossis Femoris

21. Fossa Trochanterica

22. Trochlea Ossis Femoris

23. Condylus Medialis Ossis Femoris

24. Epicondylus Medialis

25. Condylus Lateralis Ossis Femoris

26. Trochanter Minor Ossis

8

Gambar. Bovine Sceleton Pelvis

8 Gambar. Bovine Sceleton Pelvis Keterangan: 1. Tuber Sacrak 2. Tuber Corae 3. Acetabulum 4. Obturator

Keterangan:

1. Tuber Sacrak

2. Tuber Corae

3. Acetabulum

4. Obturator Foramen

5. Tuber Ischii

6. Isohial Area

9

II. ANATOMI AMBING TERNAK PERAH

Pendahuluan

Ambing merupakan karakteristik utama pada semua mamalia. Ambing berasal dari kelenjar kulit dan dikelompokkan sebagai kelenjar eksokrin. Ambing berfungsi mengeluarkan susu untuk makanan anaknya setelah lahir. Ambing ini tumbuh selama kebuntingan dan mulai mengeluarkan susu setelah beranak. Berbagai hormon yang menentukan reproduksi juga mengatur ambing. Ambing juga merupakan alat penghasil susu pada ternak yang dilengkapi suatu saluran ke bagian luar yang disebut puting. Volume ambing pada sapi perah dibagi menjadi 2 yaitu Bagian Depan (40%) dan Bagian Belakang (60%).

yang disebut puting. Volume ambing pada sapi perah dibagi menjadi 2 yaitu Bagian Depan (40%) dan
yang disebut puting. Volume ambing pada sapi perah dibagi menjadi 2 yaitu Bagian Depan (40%) dan

10

Ambing / kelenjar susu sapi terdiri dari empat (4) bagian terpisah. Bagian kiri dan kanan terpisah jelas, bagian ini dipisahkan oleh sulcus yang berjalan longitudinal yang disebut sulcus intermammaria. Kuartir depan dan belakang jarang memperlihatkan batas yang jelas. Jika dilihat dari samping, dasar ambing sebaiknya rata, membesar ke depan dan melekat kuat ke dinding tubuh perut. Pertautan pada bagian belakang sebaiknya tinggi dan lebar, dan tiap kuartir sebaiknya simetris. Gambaran eksternal ini memberi arti produktivitas seumur hidup dan merupakan kriteria penting yang digunakan untuk menilai sapi perah pada pameran ternak dan penilaian klasifikasi bangsa. Berat ambing tergantung umur, masa laktasi, banyaknya susu di dalam ambing, dan faktor genetik. Beratnya berkisar antara11,3527,00 kg atau lebih (tidak termasuk susu). Kapasitas ambing adalah 30,5 kg. Berat dan kapasitasnya naik sesuai dengan bertambahnya umur. Setelah sapi mencapai umur 6 tahun berat dan kapasitas ambing tidak naik lagi. Terbesar kapasitas- nya pada laktasi yang kedua dan ketiga. Normalnya, kuartir belakang lebih besar dari kuartir depan dan menghasilkan susu sekitar 60 persen produksi susu sehari. Susu dari tiap kelenjar disalurkan ke luar melalui puting, puting susu berbentuk silindris atau kerucut yang berujung tumpul. Puting susu belakang biasanya lebih pendek dibandingkan puting susu depan. Bila menggunakan mesin perah puting susu yang pendek lebih menguntungkan dibanding dengan yang panjang, karena milk-flowrate-nya lebih cepat,dengan kata lain lain sapi dengan puting panjang diperah lebih lama dari pada puting pendek. Sifat terpenting puting untuk pemerahan efisien adalah (1)ukuran sedang, (2) penempatan baik, dan (3) cukup tegangan pada otot spinkter sekitar lubang puting agar memudahkan pemerahan dan susu tidak menetes. Bagian-bagian luar Ambing:

Bulu, berfungsi untuk melindungi kulit

Kulit, berfungsi untuk melindungi ambing

Puting, saluran keluarnya air susu

Ligamentum/Jaringan Penyangga, berfungsi untuk menompang ambing :

1. Kulit, walaupun perananan kecil sebagai jaringan penunjang dan stabilisator

ambing,namun kulit ini sangat besar peranannya sebagai jaringan pelindung bagian dalam ambing dari luka dan bakteri.

11

3. Ligamentum Suspensori Lateralis, ligamentum suspensori lateral merupakan salah satu jaringan penunjang utama ambing yang menompang ambing secara menyeluruh. Jaringan ikat ini sangat berserabut, tidak lentur (non-elastis), permukaannya sebagian besar terdiri dari jaringan fibrosa dan berasal dari perluasan otot atas dan belakang ke ambing. Ligamentum suspensori lateralis membesar sepanjang kedua sisi ambing dan bagian ujung jaringan masuk ke dalam ambing untuk menopang bagian dalam ambing. Ligamentum suspensori lateralis membesar ke bagian tengah dasar ambing dimana jaringan bergabung dengan ligamentum suspensori medialis.

4. Ligamentum Suspensori Medialis, ligamentum suspensori medialis membagi ambing menjadi dua bagian. Jaringan ikat ini juga merupakan jaringan penunjang utama ambing. Jaringan disusun dari jaringan lentur (elastik) yang timbul dari tengah dinding perut dan membesar ditengah ambing yang menyatukan ligamentum suspensori lateralis di dasar ambing. Kelenturan ligamentum suspensori medialis berguna agar ambing dapat membesar bila berisi susu.

5. Cordlike Tissue, jaringan ini membentuk ikatan antara permukaan dorsal kuartal depan dan dinding perut. Lemahnya jaringan ini dapat menyebabkan ambing terlepas dari dinding perut. Jaringan ini menjaga agar ambing tetap melekat pada dinding tubuh, namun merupakan jaringan penompang utama dari ambing.

6. Subpelvic Tendon, merupakan jaringan yang menempel pada tulang pelvis dan berpengaruh terhadap kedalaman ligamentum suspensori lateralis.

7. Facia Superficialis, merupakan jaringan subkutan areolar yang menempel pada kulit untuk menjadi dasar jaringan penyangga.

Bagian-bagian dalam Ambing:

Alveoli, fungsi sel ini memindahkan makanan dari darah dan mengubah menjadi susu serta mengeluarkan susu ini ke dalam tiap alveolus. Dalam keadaan berkembang penuh saat laktasi, beberapa alveoli berkelompok menjadi lobuli, dan beberapa lobuli bersatu menjadi lobus. Alveoli-alveoli itu kecil dan strukturnya menyerupai kantung yang bulat. Alveoli mempunyai lumen dan sejalan dengan sel-sel epithelial. Sel-sel epithelial adalah unit dasar sekresi susu dalam kelenjar mammae. Lebih dari setengah jumlah susu yang diproduksi disimpan dalam lumen-lumen alveoli. Sisanya disimpan dalam pembuluh-pembuluh yang menuju lobulus dan lobus. Alveoli dikelilingi oleh sebuah jaringan dari kapiler- kapiler arteri yang mentransfer nutrient yang digunakan

12

dalam sintesa susu. Jaringan sel-sel myoepithelial meliputi seluruh permukaan alveoli dan pembuluh - pembuluh kecil yang mengaliri lobulus. Sel-sel tersebut lembut, berfungsi seperti otot tetapi berasal dari ectodermal bukan mesodermal. Sel-sel tersebut berasal dari sel-sel epithelial. Sel-sel myoepithelial adalah jaringan kontraktil yang memegang peran penting dalam milk ejection/milkletdown (pengeluaran susu). Serat otot halus ditemukan pula di kelenjar mammae. Serat-serat tersebut berhubungan dengan ukuran arteri dan vena yang kecil serta mengontrol suplai darah ke pada sel-sel sekretori.

Milk Ductus, merupakan saluran pengeluaran air susu lanjutan dari lobulus.

Gland Cistern, merupakan tempat penampungan air susu sementara.

Teat Cistern, merupakan lanjutan dari Gland Cistern.

Streak Canal dan Otot Spinchter, berfungsi sebagai pembuka dan penutup saluran keluar air susu.

Rosette of Furstenberg, berfungsi sebagai pelindung saluran air susu dari mikroorganisme.

Teat Meatus, merupakan tempat keluarnya air susu.

berfungsi sebagai pelindung saluran air susu dari mikroorganisme.  Teat Meatus, merupakan tempat keluarnya air susu.

13

13
13

14

Sekresi Susu& Milk Let Down Proses pengeluaran susu diawali oleh proses laktogenesis (sekresi susu). Bermula dari konsentrasi hormon estrogen dan progesteron, yang dipertahankan terutama oleh ovari dan plasenta selama kebuntingan, merangsan perkembangan kelenjar mammae, terutama ketika mendekati akhir masa kebuntingan, sementara pada saat yang bersamaan menghambat laktogenesis. Namun, ketika konsentrasi tersebut berubah pada waktu kelahiran atau setelah ovariectomi atau pembuangan uterus bunting, yang kemudian menyebabkan involusi corpus luteum), terjadilah Laktogenesis. Setelah peritiwa laktogenesis, mulailah proses penurunan susu. Pengeluaran susu merupakan suatu refleks sistematik dimana sisi averen terdiri dari saraf-saraf sensoris dari kelenjar mammae terutama nipel atau putting. Saraf-saraf ini menghantarkan impuls yang mencapai hipotalamus dan memulai pelepasan hormon nurofypoviseal melalui tractus hipotalamicopiyuitary. Penghisapan putting oleh calv (pedet) merupakan stimulus yang umum untuk refleks pengeluaran susu. Respons tersebut relatif lambat dibandingkan dengan refleks saraf yang biasa karena waktu yang diperlukan bagi hormon untuk bergerak dari neurohipofisis ke kelenjar mammae, adalah melalu aliran darah (Frandson,1992). Proses penurunan susu (milk let down) sangat dipengaruhi oleh organ reproduksi dan sistem hormonal. Sesuai dengan pendapat Toelihere (1985) yang menyatakan bahwa penurunan susu atau milk let down yang berhubungan erat dengan organ dan hormon reproduksi disebabkan oleh oleh rangsangan penyusuan, pemerahan dan pengurutan ambing serta puting susu yang mempengaruhi pelepasan hormon oxytosin dan vasopressim dari dari kelenjar Hypofise (pituitari) posterior melalui stimulasi terhadap hipothalamus. Organ-organ yang berperan dalam proses penurunan susu adalah alveoli, milk ductus, gland cistern, teat cistern, dan streak canal. Hal ini sesuai dengan pendapat Edward (2003) yang berpendapat bahwa jaringan tebal yang mengeluarkan susu disebut alveoli. Kemudian diserap dan disalurkan ke saluran susu yang disebut milk ductus. Setelah terhubung dengan milk ductus, susu ditampung di gland cistern dan menuju putting.

15

III. SISTEM DIGESTIVUS (PENCERNAAN)

mulut
mulut

Gambar 13. Saluran pencernaan ruminansia

1. Mulut

Pencernaan di mulut pertama kali dilakukan oleh gigi molar dilanjutkan dengan mastikasi, di teruskan ke pencernaan mekanis. Di mulut terdapat proses ensalivasi yaitu pengeluaran saliva yang di hasilkan oleh kelenjar saliva. Menurut Hernawati (2008), jumlah saliva yang dihasilkan per hari adalah 150 liter pada sapi dan 10 liter pada domba. Komposisi terbesar dari saliva adalah air selain itu juga meliputi komponen organik dan anorganik. Fungsi dari saliva antara lain adalah sebagai : 1. Buffer (penyangga asam dan basa) karena adanya fosfat dan bikarbonat yang terkandung dalam saliva, 2.suplay nutrient, 3. Pelumas pakan, 4.Keseimbangan dalam lambung.

2. Esophagus Merupakan saluran penghubung antara mulut dengan bagian lambung. Di

esophagus terdapat proses penelanan pakan (Degluitasi).

3. Rumen (Perut Handuk)

Rumen merupakan bagian lambung yang memiliki kapasitas 80%, bagian ini memiliki pH 6,2-6,8%, temperatur rumen bersuhu 39 0 C. Di perut handuk ini terjadi pencernaan fermentatif yang dibantu oleh 3 mikroorganisme, diantaranya : 1. Bakteri, Konsentrasinya 10 10 -10 11 , bakteri ini terdiri dari bakteri amilolitik, proteolitik dan lipolitik,

2. Protozoa, Konsentrasi 10 5 -10 6 , berfungsi untuk mencerna pati dan menjaga populasi mikroba. 3. Fungi, Konsentrasi 10 2 -10 3 , berfungsi untuk mempermudah mikroorganisme

16

mendegradasi substrat. Pada sistem pencernaan ternak ruminansia terdapat suatu proses yang disebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat atau hijauan yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan istirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi), untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali (proses redugluitasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen.

4. Retikulum (Perut Jala )

Merupakan bagian yang memiliki kapasitas 5 % dengan pH 6,2 - 6,8. Bagian ini memiliki fungsi untuk tempat fermentasi, membantu proses ruminasi, mengatur arus ingesta ke omasum, arbsorbsi hasil fermentasi, pembentukan bolus, serta penyaringan benda asing. Untuk pembatas rumen dan retikulum disebut rumeno retikularis.

5. Omasum ( Perut Buku)

Adalah bagian yang memiliki kapasitas 7 8 % dengan pH berkisar antara 5,2 - 6,5. Terletak di sebelah kanan retikulum, berbentuk elips dan berfungsi sebagai filtering,

fermentasi, dan arbsorbsi. Untuk pembatas retikulum dan omasum disebut retikulum

omasikum.

6. Abomasum ( Perut Sejati ) Bagian ini memiliki kapasitas 7 8 %, dengan pH 3 - 4, fungsi dari abomasum

adalah tempat permulaan pencernaan enzimatis dan mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum pada usus halus. Pembatas antara omasum dan abomasum disebut omaso

abomasum.

7.

Usus halus

a.

Kedalamannya masuk 4 sekresi:

- Cairan duodenum: alkalis, Phospor, dan sebagai buffer.

- Cairan empedu: dihasilkan di hati via saluran empedu, mengandung vitamin K, Na (sebagai pengemulsi lemak).

- Cairan pankreas: mengandung ion bikarbonat menetralisir lambung

- Cairan usus.

b.

Fungsi: absorbsi nutrient

8.

Usus Besar Usus ini terdiri dari 3 bagian yaitu, Sekum sebagai tempat fermentasi dengan kapasitas kecil oleh mikroba. Kolon sebagai tempat absorbsi sebagian kecil VFA dan air, dan Rektum sebagai tempat keluarnya sisa hasil pencernaan.

17

Gerakan Yang Berhubungan Dengan Rumen

1. Prehensi

2. Mastikasi

3. Salivasi

4.

5. Ruminasi

Degluitasi

: Proses pengambilan pakan dibantu oleh lidah

: Pengunyahan yang dibantu oleh lidah dan gigi molar

: Pelumasan pakan dengan saliva oleh kelenjar saliva

: Penelanan

: Regurgitasi, Remastikasi, Reensalivasi, Redegluitasi

18

IV. SISTEM REPRODUKSI TERNAK PERAH JANTAN

18 IV. SISTEM REPRODUKSI TERNAK PERAH JANTAN Gambar 14. Anatomi Sistem Reproduksi Sapi Perah Jantan 4.1

Gambar 14. Anatomi Sistem Reproduksi Sapi Perah Jantan

4.1 ORGAN PRIMER

Organ Primer dari sistem reproduksi sapi perah jantan adalah testis / tetes (jamak). Testes berlokasi di dekat ginjal turun melalui canalis inguinalis masuk kedalam scrotum.

Testis pada sapi mempunyai panjang berkisar 10 - 13 cm, lebar berkisar 5 - 6,5 cm dan beratnya 300-400 gr. Fungsi utama testis adalah memproduksi spermatozoa (spermatogenesis) dan produksi hormon seks jantan (Testoteron).

19

19 Gambar 15. Bagian dalam testis Gambar 16. Struktur Testis A. Tubuli seminiferi Tubulus seminiferus melaksanakan

Gambar 15. Bagian dalam testis

19 Gambar 15. Bagian dalam testis Gambar 16. Struktur Testis A. Tubuli seminiferi Tubulus seminiferus melaksanakan

Gambar 16. Struktur Testis

A. Tubuli seminiferi Tubulus seminiferus melaksanakan pembentukan spermatozoa 45-50 hari bahkan sampai 60 hari. Berat tubuli seminiferi diperkirakan 80-90% dari berat testes. Tubuli seminiferi merupakan kumpulan dari tubuli-tubuli dan berhimpun menjadi satu kesatuan yang disebut dengan lobus dan lobus-lobus berhimpun menjadi satu kesatuan

yang disebut lobulus. Tubulus seminiferus tersebut disambungkan dengan sebuah tenunan tubulus, yaitu retetestes (muara) yang berhubungan dengan 12-15 saluran kecil, yaitu fas efferentia yang menyatu pada caput epididymis.

a. Membran Basal : pembentukan spermatogonium

b. Spermatogenesis : Spermatogonium Spermatosit Primer Spermatosit Sekunder Spermatid Spermatozoa.

20

c. Sel Sertoli : Sel pemberi nutrisi spermatozoa

d. Sel Interstitial (Sel Leydig) : Sel-sel yang teletak di ruang interstitial, berada dibawah pengaruh LH dan menghasilkan hormon Testoteron.

e. Testosteron : Maturasi sel-sel spermatozoa pada Caput dan Corpus Epididymidis dan Growth hormone.

4.2 ORGAN SKUNDER

A. Epididymis Terletak menempel pada testes, terdiri atas caput, corpus dan cauda. Sperma melewati epididymis selama 7-8 hari.

Fungsi :

1.

Caput dan Corpus Epididymidis

a)

Transit spermatozoa dari rete testes ke fasdeferens

b)

Maturasi spermatozoa di bawah pengaruh testosterone disertai kadar air → untuk motilitas spermatozoa

2.

Cauda Epididymidis

a)

Reservoir spermatozoa sebelum diejakulasikan

b)

Menghasilkan cairan yang akan menjadi bagian dari seminal plasma

B. Vas Defferens

a) Sebagai penghubung antara testes dengan alat kopulasi (penis)

b) Saluran halus sebagai penyalur spermatozoa dan cairan Epididymis. Selama pengaliran saluran ini bergerak peristaltik.

c) Sebelum bermuara pada pangkal penis, terjadi pembesaran Vas Defferens disebut ampula vas defferens, sebagai reservoir spermatozoa sebelum diejakulasikan.

C. Penis

Merupakan organ kopulasi pada ternak jantan, membentang dari titik urethra keluar dari ruang pelvis di bagian dorsal sampai dengan pada orificium urethra eksternal pada ujung bebas dari penis. Pada sapi, domba, kambing, dan babi penis mempunyai bagian yang berbentuk seperti huruf “S” (sigmoid flexure) sehingga penis dapat ditarik dan berada total dalam tubuh.Penis hewan jantan dewasa berukuran panjang 91,4 cm dan bergaris tengah 2,5 cm. Jenis penis sapi adalah fibrio erector dengan bagian-bagian yang dimiliki antara lain Corpus Penis, Musculus Retractor Penis, Urethra, Glans Penis, Processus Urethralis. Sebagai organ kopulatoris penis mengejakulasikan sperma di dalam saluran reproduksi betina. Rata-rata sapi mampu menghasilkan 6 milyard sel sperma/hari

21

dan mampu mengejakulasikan 3-5cc semen atau sperma /hari dengan kandungan sel sperma setiap cc nya mencapai 1 milyard.

kandungan sel sperma setiap cc nya mencapai 1 milyard. Gambar 17. Bentuk Penis D. Skrotum Pembungkus

Gambar 17. Bentuk Penis

D. Skrotum

Pembungkus testes, lapisan luar bagian dari kulit abdominal. Berfungsi sebagai thermoregulator dengan mempertahankan suhu di dalamnya pada kisaran 2-3 0 C di bawah suhu tubuh sapi (37,6-39,2 ºC). Memiliki pembuluh darah dan syaraf yang dapat merespon kondisi ekternal dan melaksanakan fungsinya sebagai thermoregulator.

B. Preputium

Pembungkus penis yang umumnya pada sapi ukuranya panjang dan sempit, melekat pada sisi abdomen sapi yang berfungsi melindungi penis selama masa relax.

4.3 ORGAN AKSESORIA A. Kelenjar Vesikularis (Vesicula Seminalis)

Kelenjar yang pertumbuhannya sebanding dengan besarnya ukuran testes dan pertumbuhan sangat tergantung hormon TESTOSTERON.

Kelnejar ini menghasilkan cairan yang mencairkan sperma saat ejakulasi dan berfungsi untuk mengaktifkan motilitas spermatozoa, kaya dengan sel-sel sekretoris dan sebagian besar produksi cairan terjadi di sini (penghasil 50% volume plasma semen.)

Memasok nutrisi ke dalam semen/sperma untuk spermatozoa yang kaya protein, fruktosa, enzim.

22

Pada hewan KASTRASI : Kelenjar ini mengecil → Hilang

B. Kelenjar Prostata

Sekresinya sebagian kecil dari seminal plasma dan berfungsi sebagai buffering dengan mempertahankan pH 7,8-8.

Memiliki aroma khas (seperti bunga akasia) dan terdapat dua buah (kiri dan kanan)

C. Kelenjar Bulbourethralis (Cowper)

Kelenjar yang bersekresi sebelum ejakulasi berfungsi sebagai lubrycant dan uretrae

Pada sapi / domba menetes keluar penis / praeputium sebelum ejakulasi → DRIBLING.

4.4 ORGAN PENYOKONG

A.

Mesorchium
Mesorchium

Gambar 18. Bagian Mesorchium

B.

Spermatic Cord

A. Mesorchium Gambar 18. Bagian Mesorchium B. Spermatic Cord Gambar 19. Spermatic Cord Spermatic cord menempel

Gambar 19. Spermatic Cord

Spermatic cord menempel bersama vas deferen dan berisi pembuluh darah, syaraf, otot penyokong dan jaringan ikat.

23

V. ANATOMI ORGAN REPRODUKSI TERNAK PERAH BETINA

Organ reproduksi sapi betina pada dasarnya terdiri dari 3 komponen :

1. Organ reproduksi primer yang terdiri dari ovaria (tunggal ovarium) yang menghasilkan ovum dan hormone-hormon reproduksi betina.

2. Organ reproduksi sekunder terdiri dari saluran reproduksi yang terdiri dari tuba falopi / oviduct, uterus, serviks, vagina dan vulva. Fungsi organ reproduksi sekunder betina adalah menerima atau menyalurkan sel kelamin betina, memberi makan dan

melahirkan individu yang ada di dalamnya.

3. Organ pelengkap, yaitu kelenjar mammae yang menghasilkan air susu untuk pertumbuhan anak.

mammae yang menghasilkan air susu untuk pertumbuhan anak. Gambar 20. Organ reproduksi betina 1. Ovarium Ovarium

Gambar 20. Organ reproduksi betina

1. Ovarium Ovarium mempunyai dua fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon kelamin betina estrogen dan progesteron. Ovarium digantung oleh mesovarium dengan panjang 2 cm. Di dalam ovarium terjadi proses Oogenesis. Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogonia (tunggal: oogonium).

24

24 Gambar 21. Pembentukan ovum

Gambar 21. Pembentukan ovum

25

2. Oviduct / Tubafalopi

Berperan penting dalam kopulasi saat proses reproduksi

Terdapat sepasang oviduct kiri dan kanan

a. Infundibulum

- Terdapat jumbai-jumbai yang disebut fimbria

- Berperan mengarahkan ovum menuju ke bukaan abdominal dari tuba uterin.

- Infundibulum tubae terletak di dekat ovarium fungsinya menangkap folikel yang telah masak (ovum)

- Penggantung oviduct disebut mesosalving

b. Ampulla

- Bagian cauda tempat terjadinya pembuahan (fertilisasi)

- Menggerakkan ovum ke isthmus

c. Isthmus

- Bagian istmus dengan ampulla dibatasi oleh ampulari ismic junction

- Bagian istmus dengan uterus dibatasi uteri tuba junction

- Berperan dalam pembuahan

- Sebagai kapasitasi spermatozoa

3. Uterus Uterus merupakan bagian saluran alat kelamin betina yang berbentuk buluh, berurat daging licin, untuk menerima ova yang telah dibuahi atau embrio dari tubafalopii (Hardjopranjoto, 1995). Uterus merupakan tempat implantasi konseptus (zigot yang telahberkembangmenjadiembrio) (Dellmandan Brown, 1992). Fungsi uterus adalah sebagai jalannya sperma pada saat kopulasi dan motilitas (pergerakan) sperma ke tuba falopii dibantu dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Uterus juga berperan besar dalam mendorong fetus serta membrannya pada saat kelahiran (Hunter, 1995). Panjang corpus uteri berkisar antara 2 sampai 4 cm, sedangkan panjang cornua uteri berkisar 35 sampai 40 cm (Frandson, 1992). Dinding uterus terdiri dari tiga lapis yaitu 1) endometrium, 2) tunica muscularis atau miometrium, 3) tunica serosa atau perimetrium.

26

Tipe bentuk uterus hewan ada bermacam-macam, antara lain:

a. Uterus Simpleks Uterus tipe ini dimiliki oleh primate dan mamalia sejenis. Uterus tipe ini mempunyai servik uteri, korpus uterinya jelas dan tidak memiliki kornua uteri.

b. Uterus Bipartitus Uterus tipe ini dimiliki oleh sapi, domba, anjing, kucing, dan kuda. Uterus tipe ini mempunyai satu servik, korpus uteri jelas terutama pada kuda, mempunyai kornua uteri, dan terdapat sebuah septum pemisah kedua kornua uteri.

c. Uterus Bikornis Uterus tipe ini dimiliki oleh babi. Korpus uterus sangat pendek, sebuah servik dan kornua uteri panjang serta berkelok-kelok.

d. Uterus Duplek Uterus tipe ini dimiliki oleh tikus, mencit, kelinci, dan marmot. Uterus tipe ini memiliki dua korpus uteri, dan dua servik.

e. Uterus Delphia Uterus tipe ini dimiliki oleh hewan berkantung, seperti opossum, kanguru, dan platypus. Semua saluran kelaminnya terbagi dua yaitu dua kornua uteri, dua korpus uteri, dua servik, dan dua vagina.

3. Servix Serviks merupakan suatu struktur yang mempunyai sfingter (sphincter) yang memisahkan rongga uteri dengan rongga vagina. Fungsi pokok serviks adalah untuk menutup uterus guna melindungi masuknya invasi bakteri maupun masuknya bahan-bahan asing. Sfingter itu tetap dalam keadaan tertutup kecuali pada saat kelahiran.

itu tetap dalam keadaan tertutup kecuali pada saat kelahiran. Gambar 22. Bagian organ reproduksi betina dan

Gambar 22. Bagian organ reproduksi betina dan cervik

27

4. Vagina Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara

uterus (arahkranial) dan vulva (kaudal). Vagina juga berperan sebagai selaput yang menerima penis dari hewan jantan pada saat kopulasi (Frandson, 1992). Vagina merupakan buluh berotot yang menjulur dari serviks sampai vestibulum (Dellmandan Brown, 1992).

5. Vulva

Organ reproduksi bagian luar hewan betina terdiri atas vulva dan klistoris. Vulva terdiri dari atas Labia mayora dan labia minora. Labia mayora berwarna hitam dan

tertutupi oleh rambut. Labia mayora merupakan bagian terluar dari vulva. Sedangkan bagian dalam vulva yang tidak terdapat rambut yaitu labia minora. (Bearden and Fuquay,

1997)

6. Klitoris

Alat reproduksi bagian luar terdapat banyak ujung syaraf perasa. Syaraf perasa memegang peranan penting pada waktu kopulasi. Klitoris terdiri dari korporaka verno saklitoridis yang bersifa terektil, glans klitoridis yang rudimenter dan praeputium klitoridis (Dellmann, 1992).

7. Hormon Reproduksi Betina

Kinerja pada organ reproduksi tidak lepas dari adanya pengaruh hormone hormone yang dapat merangsang organ reproduksi untuk bekerja secara optimal, hormone hormone yang berkaitan dengan system reproduksi betina antara lain:

1. Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) GnRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikel stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpan balik kehipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. Fungsi lainnya yaitu mendorong keluar Pituitary menghasilkan GtH 1 & 2, mendorong kembangan dan fungsi gonad (ovarium, ovulasi, testes, sperma), memperbaiki hipofungsi gonad.

2. Hormon Estrogen Estrogen dihasilkan oleh ovarium tepatnya oleh folikel yang sedang berkembang. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan, dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan

28

membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.

3. Hormon Progesterone Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot, mengatur

Kadar progesterone terus

dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG.

4. Hormon FSH (Folikel Stimulating Hormone) Hormon ini dinamakan gonadotropin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GnRH. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Berfungsi untuk tumbuh kembang folikel di Ovarium pada perempuan dan merangsang sekresi estrogen, Pertumbuhan folikel dan sel-sel spermatogenik, meningkatkan penggunaan O2 (oksidasi), sintesis protein tertentu dalam sel teka, sinergis dengan GtH 2 meningkatkan sekresi steroid (sel granulosa), inhibin dan ABP (sel Sertoli).

5. Hormon LH (Luteinizing Hormone) Hormon ini juga dihasilkan oleh hipofisis akibat rangsangan dari GnRH. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum, kemudian folikel ini akan menjadi korpusluteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH. Berfungsi untuk merangsang sekresi kelenjar Gonade / Foliclle menjadi matang pecah dan ovulasi , merangsang Corpus luteum mensekresi progesteron, merangsang perkembangan folikel masak hingga ovulasi, merangsang sintesa steroid (kolesterol, pregnenolon, progesteron), merangsang sel Leydig menghasilkan testosteron, meningkatkan sirkulasi darah dan metabolisme.

pembentukan plasenta dan produksi air susu

29

VI. PENILAIAN SAPI PERAH

Penilaian sapi perah dapat dilakukan dengan metode PDCA (Pure breed Dairy Cattle Assosiation) dengan komponen penilaian sebagai berikut :

1. Frame (15%)

a. Rump (5 point) Yang dinilai :

panjang dan lebarnya sepanjang dengan pin bone

pin bone sedikit lebih rendah dan terletak diantara tulang pinggul (hip)

Thurls harus lebar dan terletak diantara tulang pinggul dan pin bone

Tailhead berada sedikit diatas pin bone.

c b a
c
b
a

Gambar 23.tengah ideal rump

Keterangan gambar :

a. panjang rump

b. lebar rump

c. tail head

b. Stature (2 point) Yang dinilai :

a) Tinggi withers dan hip harus proporsional

c. Front End (5 point) Yang dinilai :

a. Kaki depan lurus, lebar dan sesuai

b. Bahu dan siku harus kuat menempel pada dinding dada

30

30 Gambar 24. Front End Ideal d. Back (2 point) Yang dinilai :  Lurus dan
30 Gambar 24. Front End Ideal d. Back (2 point) Yang dinilai :  Lurus dan

Gambar 24. Front End Ideal

d. Back (2 point) Yang dinilai :

Lurus dan kuat

Loin luas, lebar, besar dan kuat dan permukaannya rata/sejajar

dinilai :  Lurus dan kuat  Loin luas, lebar, besar dan kuat dan permukaannya rata/sejajar

Gambar 25. Back ideal

31

e. Breed character (1 point)

31 e. Breed character (1 point) Gambar 26. Breed Character Yang dinilai : a) Kepala feminim

Gambar 26. Breed Character

Yang dinilai :

a) Kepala feminim dan rapi

b) Moncong luas

c) Lubang hidung besar

d) Rahang yang kuat

2. Dairy Character (20%)

a. Rusuk (9 point)

b. Thighs (3 point)

: lebar, datar, dalam dan miring kea rah belakang

: ramping, incurving datar dan lebar dari belakang

belakang : ramping, incurving datar dan lebar dari belakang Keterangan : Thighs terlihat lebar dari belakang

Keterangan :

Thighs terlihat lebar dari belakang

Gambar 27. Thighs

32

c. Withers (3 point)

: tajam dengan tulang punggung menonjol

c. Withers (3 point) : tajam dengan tulang punggung menonjol Tulang punggung menonjol Rusuk miring ke

Tulang punggung menonjol

Rusuk miring ke belakang

Gambar 28. Tulang punggung dan rusuk yang ideal

d. Neck (3 point) : panjang, ramping, menyatu ke bahu, gelambir dan brisket bersih serta tidak banyak mengandung lemak

e.

Kulit (2 point)

: tipis, longgar dan lentur

3. Body Capacity (10%)

a. Barrel (5 point) : panjang, dalam, dan luas

b. Chest (5 point) : dalam dan lebar, menyatu dengan bahu

b a
b
a

Keterangan : a. barrel b. chest

Gambar 29. Barrel dan Chest

33

4. Legs and Feet (15%)

a. Front (5 point)

: lebar dan sesuai/tepat

and Feet (15%) a. Front (5 point) : lebar dan sesuai/tepat Gambar 30. Feet and Legs

Gambar 30. Feet and Legs

b. Hind (5 point) : pastern hampir tegak lurus dengan hock, baik dari sisi maupun belakang

c. Hock (2 point)

: bersih, tidak kasar agar tidak terjadi pembengkakan

point) : bersih, tidak kasar agar tidak terjadi pembengkakan Hock Pastern Feet Gambar 31. Bentuk kaki

Hock

Pastern

Feet

Gambar 31. Bentuk kaki sapi ideal

d. Pastern (1 point) : pendek, kuat, lentur dan memiliki sudut moderat

e. Feet (2 point) : sudut curam dan tumit mendalam dengan singkat

kuat, lentur dan memiliki sudut moderat e. Feet (2 point) : sudut curam dan tumit mendalam

Gambar 32. Feet

34

5. Mammary system (40%)

a. Ambing depan Kuat, melekat dengan halus, panjang sedang, lebar seragam dari depan ke belakang

halus, panjang sedang, lebar seragam dari depan ke belakang Gambar 33. Ambing depan b. Ambing belakang

Gambar 33. Ambing depan

b. Ambing belakang Kuat, tinggi, dengan lebar seragam dari atas ke bawah, bagian dasar ambing sedikit membulat

dari atas ke bawah, bagian dasar ambing sedikit membulat Membulat Gambar 34. Ambing belakang c. Penyokong
dari atas ke bawah, bagian dasar ambing sedikit membulat Membulat Gambar 34. Ambing belakang c. Penyokong

Membulat

Gambar 34. Ambing belakang

c. Penyokong ambing Menyokong pas diatas hock, menunjukkan ligament suspensori yang kuat dan membagi ambing menjadi 2 bagian dengan jelas

yang kuat dan membagi ambing menjadi 2 bagian dengan jelas Tinggi di atas hock dan terbagi

Tinggi di atas hock dan terbagi 2 bagian (kanan dan kiri)

Gambar 35. Penyokong ambing

35

d.

Puting Seragam/simetris, panjang dan diameter sedang, berbentuk silinder, terletak tepat di bawah masing-masing kuartal, tegak lurus apabila dilihat dari samping maupun belakang.

tegak lurus apabila dilihat dari samping maupun belakang. Gambar 36. puting PENILAIAN SAPI PERAH DARA (HEIFER)

Gambar 36. puting

PENILAIAN SAPI PERAH DARA (HEIFER)

1. Frame (30%) Criteria yang dinilai : sifat dari, bagian muka atau dahi, dada berisi), punggung lurus; pinggang luas; pantat lebar

2. Dairy Character (30%) Terlihat ramping, leher panjang, bila dilihat dari belakang paha terlihat lebar, baik untuk perkembangan ambing.

3. Body Capacity (15%) Lingkar dada lebar, tubuh panjang; lebar dan relative besar

4. Feed and legs (25%) Tulang kaki panjang, kaki belakang hampir lurus; pergelangan kaki lentur

BODY CONDITION SCORE (BCS) Kondisi tubuh scoring (BCS) mengacu pada jumlah relatif lemak tubuh subkutan

atau cadangan energi dalam sapi. Ini adalah alat manajemen yang penting untuk memaksimalkan produksi susu dan efisiensi reproduksi sekaligus mengurangi kejadian metabolik dan penyakit peripartum lainnya. Nilai BCS sapi adlaah 1-5

Nilai BCS 1 Rongga dalam di sekitar tailhead. tulang panggul dan tulang rusuk pendek yang tajam dan mudah dirasakan. tidak ada jaringan lemak di daerah panggul atau pinggang. depresi berat di pinggang.

36

36 Gambar 37. Nilai BCS 1  Nilai BCS 2 Rongga tailhead yang dangkal dengan beberapa
36 Gambar 37. Nilai BCS 1  Nilai BCS 2 Rongga tailhead yang dangkal dengan beberapa

Gambar 37. Nilai BCS 1

Nilai BCS 2 Rongga tailhead yang dangkal dengan beberapa jaringan lemak lapisan itu menutupi tulang pin. pelvis mudah dirasakan. Ujungnya atau rusuk pendek terasa permukaan membulat dan bagian atas dapat dirasakan dengan sedikit tekanan, depresi terlihat dalam pinggang.

dengan sedikit tekanan, depresi terlihat dalam pinggang. Gambar 38. Nilai BCS 2  Nilai BCS 3
dengan sedikit tekanan, depresi terlihat dalam pinggang. Gambar 38. Nilai BCS 2  Nilai BCS 3

Gambar 38. Nilai BCS 2

Nilai BCS 3 Tidak ada rongga di sekitar tailhead dan jaringan lemak mudah terasa lebih pada seluruh daerah. pelvis dapat dirasakan dengan sedikit tekanan. lapisan tebal jaringan yang menutupi atas rusuk pendek yang masih dapat dirasakan dengan tekanan. sedikit depresi di daerah pinggang.

atas rusuk pendek yang masih dapat dirasakan dengan tekanan. sedikit depresi di daerah pinggang. Gambar 39.
atas rusuk pendek yang masih dapat dirasakan dengan tekanan. sedikit depresi di daerah pinggang. Gambar 39.

Gambar 39. Nilai BCS 3

37

Nilai BCS 4 Lipatan jaringan lemak yang terlihat di sekitar tailhead dengan bercak lemak yang menutupi tulang pin. pelvis dapat dirasakan dengan tekanan kuat. rusuk pendek tidak bisa lagi dirasakan. tidak ada depresi di daerah pinggang.

bisa lagi dirasakan. tidak ada depresi di daerah pinggang. Gambar 40. Nilai BCS 4  Nilai
bisa lagi dirasakan. tidak ada depresi di daerah pinggang. Gambar 40. Nilai BCS 4  Nilai

Gambar 40. Nilai BCS 4

Nilai BCS 5 Tailhead kini tertimbun lapisan tebal jaringan lemak. tulang panggul tidak dapat dirasakan bahkan dengan tekanan kuat. rusuk pendek ditutupi dengan lapisan tebal jaringan lemak.

rusuk pendek ditutupi dengan lapisan tebal jaringan lemak. Gambar 41. Nilai BCS 5 Pengukuran Sapi Perah
rusuk pendek ditutupi dengan lapisan tebal jaringan lemak. Gambar 41. Nilai BCS 5 Pengukuran Sapi Perah

Gambar 41. Nilai BCS 5

Pengukuran Sapi Perah

38

6. Tinggi Badan Pengukuran panjang badan dimulai dari wither sampai ke tanah.

7. Lingkar Dada Melingkarkan metline dari chest satu ke chest yang lain.

8. Lebar Dada Panjang dari chest bagian kiri ke bagian kanan (sebaliknya)

Rumus Bobot Badan Sapi Perah

BB = 601.8 9,003 . Ld + 0,04546 . (Ld) 2

# nb = LD

: lingkar dada

1cm : 0,3937 inchi

A B
A
B

Keterangan : A. panjang badan

B. tinggi badan

C. Lebar dada

C
C

39

FORM PENILAIAN

1.

Frame (15 %)

 

Nama bagian

Persentase

Nilai

P

x N

 

(%)

 

Rump

5

   

Front End

5

   

Back

2

   

Stature

2

   

Breed character

1

   

Jumlah

     

2.

Dairy Character (20 %)

 
 

Nama bagian

Persentase

Nilai

P

x N

 

(%)

 

Rusuk

9

   

Wither

3

   

Thighs

3

   

Neck

3

   

Kulit

2

   

Jumlah

     

3.

Body Capacity (10 %)

 
 

Nama bagian

Persentase

Nilai

P

x N

 

(%)

 

Rusuk

5

   

Wither

5

   

Jumlah

     

40

4. Feet and Leg (15 %)

 

Nama bagian

Persentase

Nilai

P

x N

 

(%)

 

Front

5

   

Hind

5

   

Hock

2

   

Pastern

1

   

Feet

2

   

Jumlah

     

5.

Mammary System (40 %)

 
 

Nama bagian

Persentase

Nilai

P

x N

 

(%)

 

Ambing depan

10

   

Ambing belakang

10

   

Penyokong

13

   

ambing

Putting

7

   

Jumlah

     

Hasil penilaian digunakan untuk menentukan klasifikasi type sebagai berikut :

1. Excellent nilai skor > 90

2. Very good nilai skor 85 90

3. Good plus nilai skor 80 84

4. Good nilai skor 75 79

5. Fair nilai skor 70 79

6. Poor nilai skor < 69

41

VII. PENILAIAN KAMBING PERAH

41 VII. PENILAIAN KAMBING PERAH Gambar 43. Bagian bagian tubuh kambing Bangsa-bangsa kambing perah yang umum

Gambar 43. Bagian bagian tubuh kambing

Bangsa-bangsa kambing perah yang umum di Indonesia :

Bagian bagian tubuh kambing Bangsa-bangsa kambing perah yang umum di Indonesia : Gambar 44. Kambing PE

Gambar 44. Kambing PE ( Peranakan Etawa )

42

42 Gambar 45. Kambing JR ( Jawa Randu ) Gambar 46. Kambing Sanen Terdapat perbedaan di

Gambar 45. Kambing JR ( Jawa Randu )

42 Gambar 45. Kambing JR ( Jawa Randu ) Gambar 46. Kambing Sanen Terdapat perbedaan di

Gambar 46. Kambing Sanen

Terdapat perbedaan di dalam menilai sapi perah dan kambing perah. Komponen

penilaian sapi perah menginduk pada sebuah asosiasi yang disebut DHIA, sedangkan

kambing perah menginduk pada organisasi ADGA.

Penilaian ternak kambing perah berdasarkan ADGA (American Dairy Goat

Association) komponen penilaian induk kambing perah dibagi menjadi beberapa

komponen:

NO

KOMPONEN

PRESENTASI (%)

1

General Appearance (Penilaian Umum)

 

35%

 

Stature (Tinggi)

2

 
 

Head and Breed Characteristic (Kepala dan Kharacteristic Bangsa) : ukuran telinga medium/sedang, Mata bercahaya, Muka Ideal Panjang sampai ke moncong

5

 

Front End Assembly (Bagian Depan)

5

 

Back (Punggung) : kuat, tulang belakang terlihat

8

 

Legs, Pastern, Feet : kaki tegak lurus dari hock ke pastern, kaki lebar terpisah ketika dilihat dari

15

43

belakang, lurus, kuat, Feet pendek dan lurus dengan kedalaman dan tingkat telapak kaki

belakang, lurus, kuat, Feet pendek dan lurus dengan kedalaman dan tingkat telapak kaki

belakang, lurus, kuat, Feet pendek dan lurus dengan kedalaman dan tingkat telapak kaki
belakang, lurus, kuat, Feet pendek dan lurus dengan kedalaman dan tingkat telapak kaki

2

Dairy Kharakter (Karakter Sapi Perah)

 

20%

 

Neck, Withers, Ribs, Flank, Thighs and Skin (Leher, Bahu, Tulang Rusuk, Panggul, Paha dan Kulit) :

 

leher panjang dan ramping, Punggung atau bahu berbentuk Baji bila dilihat dari atas, Tulang Rusuk lebar terpisah, Panggul dalam dan melengkung, tekstur kulit harus baik/bagus,longgar dan lunak.

3

Body Capacity (Kapasitas Tubuh)

 

10%

 

Chest (Dada) : dada lebar diantara kaki depan, point of elbow sempurna

4

 
 

Barrel (seperti bentuk tong) : dalam dan kuat mendukung

6

4

Mamary System (Sistem Persusuan)

 

35%

 

Udder Support (Ambing Tampak Keseluruhan)

13

 
 

Fore Udder (Ambing Depan)

5

 

Rear Udder (Ambing Belakang) :

7

besar dan lebar

 

Balance, Symmetry and Quality (Keseimbangan, Simetris dan Kualitas) : harus seimbang dan simetris bentuknya, kuat dan memiliki kapasitas yang bagus

6

 

Teat (Puting) : Ukuran Panjang seragam/simetris, Bentuk silindris, Mudah untuk diperah

4

ADGA KARTU PENILAIAN ANAK KAMBING PERAH (CEMPE) :

NO

KOMPONEN

PRESENTASI (%)

1

General Appearance (Penilaian Umum)

 

55%

 

Stature (Tinggi)

2

 
 

Head and Breed Characteristic (Kepala dan Kharacteristic Bangsa) : ukuran telinga medium/sedang,

10

44

 

Mata bercahaya, Muka Ideal Panjang sampai ke moncong

   
 

Front End Assembly (Bagian Depan)

8

 

Back (Punggung) : kuat, tulang belakang terlihat

12

 

Legs, Pastern, Feet : kaki tegak lurus dari hock ke pastern, kaki lebar terpisah ketika dilihat dari belakang, lurus, kuat, Feet pendek dan lurus dengan kedalaman dan tingkat telapak kaki

23

2

Dairy Charakter (Karakter Sapi Perah)

 

30%

 

Neck, Withers, Ribs, Flank, Thighs and Skin (Leher, Bahu, Tulang Rusuk, Panggul, Paha dan Kulit) :

 

leher panjang dan ramping, Punggung atau bahu berbentuk Baji bila dilihat dari atas, Tulang Rusuk lebar terpisah, Panggul dalam dan melengkung, tekstur kulit harus baik/bagus,longgar dan lunak.

3

Body Capacity (Kapasitas Tubuh)

 

15%

 

Chest (Dada) : dada lebar diantara kaki depan, point of elbow sempurna

7

 
 

Barrel (seperti bentuk tong) : dalam dan kuat mendukung

8

Perbedaan kartu penilaian diantara anak kambing perah(cempe) dan induk kambing

perah hanya terletak pada mamary system (sistem persusuan). Secara praktis pemilihan

kambing dapat menggunakan penilaian individual dengan mengamati bentuk luar tubuh.

Penilaian ternak berguna untuk memperoleh ternak dengan kondisi tubuh yang baik dan

produksi tinggi.

GENERAL APPEARANCE

Kepala dan Leher : Idealnya Panjang dan Panjang sampai ke moncong mulut

45

45 Gambar 47. Kepala dan leher kambing

Gambar 47. Kepala dan leher kambing

46

46

47

Back and Rump : Ideal terletak pada gambar kiri pojok atas karena back tidak terlalu melengkung ke dalam

pojok atas karena back tidak terlalu melengkung ke dalam Gambar 48. Back and rump Rump yang

Gambar 48. Back and rump

Rump yang baik juga terletak pada gambar sebelah kiri karena rump rata dan tidak terlihat curam seperti gambar sebelah kanan

rata dan tidak terlihat curam seperti gambar sebelah kanan Gambar 49. Bentuk tubuh kambing Tampilan tubuh

Gambar 49. Bentuk tubuh kambing

Tampilan tubuh kambing yang baik jika dilihat dari atas yaitu membentuk huruf V terbalik sedangkan kaki depan yang baik adalah kaki depan yang mempunyai jarak yang cukup lebar

baik adalah kaki depan yang mempunyai jarak yang cukup lebar Gambar 50. Bentuk kaki kambing Jarak

Gambar 50. Bentuk kaki kambing

Jarak antara kaki kanan dan kiri yang baik adalah pada gambar A karena pada gambar A terdapat jarak yang cukup luas antara kaki dan ambing.Sedangkan gambar B

48

adalah jarak kaki yang terlalu sempit dengan ambing.Gambar C kaki terlalu melengkung sehingga dapat mengakibatkan kambing tersebut tidak terlalu lama dapat menopang tubuh dan ambingnya.

tidak terlalu lama dapat menopang tubuh dan ambingnya. kaki yang ideal terdapat pada gambar A karena

kaki yang ideal terdapat pada gambar A karena kaki pendk dan kuat dengan teracak atau tapakan kaki yang dalam dan rata.

kuat dengan teracak atau tapakan kaki yang dalam dan rata. Mamary system yang baik adalah puting

Mamary system yang baik adalah puting yang tidak melebihi batas lutut,dimana pada saat kambing duduk, puting tidak akan menyentuh tanah yang dapat menyebabkan bakteri masuk melalui puting dan menyebabkan mastitis.

Bentuk Ambing

Terdapat 3 bentuk ambing pada ternak kambing yaitu:

1. Bentuk buah pear : puting kecil, batas antara putting dan ambing samar- samar/tidak begitu jelas, sulit diperah. Contoh : kambing PE.

2. Oval / botol : puting besar, puting dan ambing terpisah secara jelas dari bagian glandula dan tampak condong ke depan. Contoh : Kambing Jawa Randu.

3. Globular : putting lebih kecil disbanding tipe yang lain, namun bentuk ambingnya agak bulat dan besar. Contoh : Kambing Saanen.

PENGUKURAN TUBUH

bulat dan besar. Contoh : Kambing Saanen. PENGUKURAN TUBUH Gambar 53. PANJANG BADAN : Point of

Gambar 53. PANJANG BADAN : Point of shoulder sampai pin bone

49

49 Gambar 54. TINGGI BADAN/TINGGI GUMBA: dari puncak tertinggi Gambar 55. LINGKAR DADA Gambar 56. LEBAR

Gambar 54. TINGGI BADAN/TINGGI GUMBA: dari puncak tertinggi

49 Gambar 54. TINGGI BADAN/TINGGI GUMBA: dari puncak tertinggi Gambar 55. LINGKAR DADA Gambar 56. LEBAR

Gambar 55. LINGKAR DADA

49 Gambar 54. TINGGI BADAN/TINGGI GUMBA: dari puncak tertinggi Gambar 55. LINGKAR DADA Gambar 56. LEBAR

Gambar 56. LEBAR DADA

50

PENGUKURAN AMBING DAN PUTING

50 PENGUKURAN AMBING DAN PUTING Gambar 57. PANJANG AMBING Gambar 58. TINGGI AMBING Gambar 58. PANJANG

Gambar 57. PANJANG AMBING

50 PENGUKURAN AMBING DAN PUTING Gambar 57. PANJANG AMBING Gambar 58. TINGGI AMBING Gambar 58. PANJANG

Gambar 58. TINGGI AMBING

Gambar 58. PANJANG PUTING
Gambar 58. PANJANG PUTING
AMBING DAN PUTING Gambar 57. PANJANG AMBING Gambar 58. TINGGI AMBING Gambar 58. PANJANG PUTING Gambar
Gambar 59. TINGGI PUTING
Gambar 59. TINGGI PUTING
AMBING DAN PUTING Gambar 57. PANJANG AMBING Gambar 58. TINGGI AMBING Gambar 58. PANJANG PUTING Gambar

51

51 Gambar 60. LINGKAR PUTING Rumus berat badan untuk kambing perah: Catatan : (LD 2 x

Gambar 60. LINGKAR PUTING

Rumus berat badan untuk kambing perah:

Catatan :

(LD 2 x PB, inchi) / 300

1 kg = 2,20461 pounds

1cm = 2,54 inchi

Body Condition Scoring

Body condition scoring ( BCS ) merupakan metode mengklasifikasikan kondisi

tubuh ternak dengan menilai karakteristik pada dan sekitar tulang belakang dan sekitar

daerah ekor.

Cara menilai BCS yaitu dengan menekan ibu jari dan jari telunjuk pada penonjolan

tulang punggung dari tulang rusuk sehingga dapat dilihat derajat perlemakan tubuhnya dan

dilakukan penilaian ( score ). Pengukuran yang tepat memerlukan latihan dan pengalaman.

). Pengukuran yang tepat memerlukan latihan dan pengalaman. BCS 1 = VERY THIN (SANGAT KURUS) -Kambing

BCS 1 = VERY THIN (SANGAT KURUS) -Kambing kelihatan kurus (emmiciated) -Lemah serta tulang belakang sangat tampak, Panggul cekung dan tulang rusuk tampak jelas -Tidak tertutup lemak dan jari telunjuk dapat mengetahui jarak kosong diantara tulang rusuk dengan cara menekan -Tidak ada lemak yang terlihat

52

52 BCS 2 = THIN (KURUS) -Terlihat lebih baik daripada bcs 1 tetapi kambing masih terlihat

BCS 2 = THIN (KURUS) -Terlihat lebih baik daripada bcs 1 tetapi kambing masih terlihat agak kurus (bony) - Terdapat sedikit terisi timbunan lemak -Tulang rusuk dapat terlihat dan dirasakan -Lemak sternal lebih lebar dan lebih tebal dibandingkan BCS 1

sternal lebih lebar dan lebih tebal dibandingkan BCS 1 BCS 3 = NORMAL -Tulang belakang tidak

BCS 3 = NORMAL -Tulang belakang tidak menonjol -Lemak sudah mulai menutupi tulang rusuk -Otot yang tebal mulai menutupi tulang belakang -Lemak sternal lebar dan tebal,sudah mulai dapat digenggam

-Lemak sternal lebar dan tebal,sudah mulai dapat digenggam BCS 4 = FAT (GEMUK) -Pinggang kelihatan halus

BCS 4 = FAT (GEMUK) -Pinggang kelihatan halus -Tulang belakang dan tulang rusuk tidak terlihat -Lemak sternal sulit untuk digenggam

53

53 BCS 5 = VERY FAT (SANGAT GEMUK) -Tulang belakang tertutup lemak -Tulang rusuk tidak tampak

BCS 5 = VERY FAT (SANGAT GEMUK) -Tulang belakang tertutup lemak -Tulang rusuk tidak tampak dan terlalu banyak tertutup lemak -Lemak sternal memanjang dan menutupi sternum, dan tidak dapat digenggam