Anda di halaman 1dari 19

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Tempat Penelitian


4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Tanjung Wangi
Banyuwangi bertempat di Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi Jawa Timur ini
memiliki pelabuhan yang terletak di Ujung Timur Pulau Jawa, tepatnya di Selat
Bali pada posisi : 080- 07’ - 47” S / 1140- 24’ - 03” T. Pelabuhan Umum Tanjung
Wangi adalah pelabuhan pantai yang diusahakan. Kegiatan yang berlangsung di
Pelabuhan Umum Tanjung Wangi adalah kegiatan bongkar/muat barang dan
naik/turun penumpang antar pulau.
PT Pelabuhan Imdonesia III (Persero) Cabang Tanjung Wangi sebagai
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang pelayanan jasa
kepelabuhanan, sesuai dengan peraturan pemerintah RI. No. 70 tahun 1996
tentang pembinaan kepelabuhanan, maka pelabuhan merupakan sarana untuk
berlabuh serta bertambatnya kapal atau kendaraan air lainnya untuk
membongkar/memuat barang, hewan embargasi/debargasi penumpang,
penitipan/penyimpanan sementara barang sebelum dimuat atau sesudah dibongkar
dari kapal.
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Tanjung Wangi sebagai
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mempunyai tugas dan melaksanakan
pengusahaan jasa kepelabuhanan salah satunya Perusahaan Bongkar muat (PBM),
yang mulai aktif pada tahun 2012, sebagai penunjang kegiatan bongkar sementara
ini Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)
cabang Tanjung Wangi masih menangani pembongkaran pupuk curah kering.

28
29

4.1.2 Visi, Misi dan Budaya Perusahaan


A. Visi
Menjadikan Pelabuhan Tanjung Wangi menjadi operator terminal
pelabuhan yang handal dan berkomitmen memacu integrasi logistik yang
efisien dan kompetitif.
B. Misi
1. Menjamin penyediaan jasa kepelabuhan melampaui standart yang
berlaku secara konsisten dan berkesinambungan.
2. Memacu kesinambungan daya saing industri nasional melalui biaya
logistik yang kompetitif.
3. Memenuhi harapan semua stakeholders dengan meningkatkan kualitas
pelayanan jasa terminal dan tata kelola perusahaan yang baik.
4. Menjadikan sumber daya manusia yang berkompeten, berkinerja
tinggi dan berperilaku baik.
5. Mendukung kelancaran arus barang, hewan dan penumpang.

4.1.3 Lokasi Perusahaan


PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Tanjung Wangi Banyuwangi
bertempat di Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi Jawa Timur ini memiliki
pelabuhan yang terletak di Ujung Timur Pulau Jawa, tepatnya di Selat Bali pada
posisi : 08˚ - 07’ - 47’’ S / 114˚ - 24’ – 03’’ T. Pelabuhan Umum Tanjung Wangi
adalah pelabuhan pantai yang diusahakan memiliki panjang dermaga 543 m³ dan
kedalaman laut 15 LWS (Low Water Spring). Kegiatan yang berlangsung di
Pelabuhan Umum Tanjung Wangi adalah kegiatan bongkar/muat barang dan naik
turun penumpang.
Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)
cabang Tanjung Wangi sendiri terletak di dalm komplek Pelabuhan Tanjung
Wangi Banyuwangi.
30

4.1.3 Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi adalah suatu kerangka yang menunjukkan hubungan
diatara pejabat maupun bidang-bidang kerja satu sama lain sehingga memperjelas
dalam kedudukan, wewenang, dan tanggung jawab dalam suatu kebulatan yang
diatur.
Adapun struktur organisasi pada Perusahaan Bongkar Muat (PBM)bPT
Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang Tanjung Wangi menggunakan
struktur organisasi garis, dimana wewenang mengalir dari atas ke bawah,
sedangkan tanggung jawab bergerak dari bawah ke atas. Berikut bagan struktur
organisasi yang dimaksud:
Struktur Organisasi Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan
Indonesia III (PERSERO) Cabang Tanjung Wangi

MANAGER OPERASI DAN


KOMERSIAL
(Tjandra Sukmana)

SPV. PELAYANAN
TERMINAL
(Akbar Alamsyah)

STAF Vd/t FOREMAN PELAKSANA UTAMA III PELAKSANA MADYA I


UTAMA PELAYANAN TERMINAL KOMERSIAL
(Budi S) (Iftah Fiarrahman) (Errik P)

Gambar 4.1 Bagan Struktur Organisasi Perusahaan Bongkar Muat (PBM)

Tugas dan Tanggung Jawab setiap Bagian:


1. Manager Operasi dan Komersial
Membina dalam kegiatan merencanakan, menetapkan dan mengendalikan
semua kegiatan kapal dan bertanggung jawab terhadap General Manager.
2. SPV. Pelayanan Terminal
a. Verifikasi semua tagihan yang berkaitan dengan pendapatan.
31

b. Menangani Perusahaan Bongkar Muat (PBM)


3. Pelaksana Utama III Pelayanan Terminal
a. Membantu merencanakan dan mengawasi B/M.
b. Berkoordinasi dengan pihak terkait untuk persiapan B/M.
c. Menerima laporan harian B/M.
d. Membuat laporan biaya kegiatan B/M.
e. Membuat pranota tagihan jasa PBM (stevedoring) segera setelah kegiatan
dilaksanakan.
f. Melaksanakan tugas lainnya yang diperintahkan oleh Manager Operasi dan
Komersial dan supervisor Pelayanan Terminal.
4. Staf Vd/t Foreman Utama
a. Operational Support untuk kegiatan PBM Pelindo III.
b. Document Support untuk kegiatan PBM Pelindo III.
c. Ikut serta dalam mengawasi keamanan dan menjaga fasilitas pelabuhan dan
peralatan B/M PBM Pelindo III.
d. Melaksanakan tugas lainnya yang diperintahkan oleh Manager Operasi dan
Komersial dan Supervisor Pelayanan Terminal.
5. Pelaksana Madya I Terminal
a. Pelaksana operasional di pelabuhan Tanjung Wangi.
b. Koordinator PAS masuk.
c. Pengawasan Terminal Penumpang.

4.1.4 Fasilitas Perusahaan


Fasilitas-fasilitas Perusahaan Bongkar muat (PBM) PT Pelabuhan
Indonesia III (PERSERO) Cabang Tanjung Wangi dalam menunjang kegiatan
operasional pelayanan kegiatan bongkar adalah sebagai berikut :
1. Hopper
Hopper adalah suatu benda yang digunakan khusus untuk menangani
bongkar muatan curah dari palka kapal menuju ke armada truck untuk dibawa ke
lapangan penumpukan atau gudang, untuk saat ini PT Pelabuhan Indonesia III
32

(Persero) cabang Tanjung Wangi memiliki 6 unit hopper yang berkapasitas 10


ton.

Gambar 4.2 Hopper

2. Forklift
Forklift adalah kendaraan roda empat yang berfungsi sebagai alat
pemindah barang dari satu titik ke titik yang lain dengan jarak yang dekat. Alat ini
biasa digunakan untuk memindah benda atau material yang mempunyai berat
kurang dari 5 ton.

Gambar 4.3 Forklif


33

3. Bucket
Bucket adalah sebuah bak dengan kapasitas tertentu yang digunakan untuk
memuat barang curah atau bag.

Gambar 4.4 Bucket

4.2 Deskripsi Data


4.2.1 Deskripsi Data Penelitian
Dalam penelitian ini, data atau informasi yang telah diperoleh dari
lapangan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dipertanyakan dalam
bab sebelumnya lebih banyak berupa kata-kata yang berasal dari informasi
penelitian. Sedangkan data-data lainnya yang berupa dokumen-dokumen
dijadikan sebagai data pendukung dalam menjawab rumusan masalah penelitian.
Data-data pendukung tersebut didapatkan dengan media wawancara dan observasi
langsung dimana peneliti mengumpulkan data-data dengan informan penelitian
dan di konfirmasi ulang dengan informan peneliti lainnya.

4.2.2 Informan Penelitian


Penelitian ini menggunakan informan penelitian sebagai sumber data
utama. Informan yang peneliti tentukan merupakan pihak-pihak yang secara
langsung terkait dengan fokus penelitian atau orang-orang yang dalam
kesehariannya berada atau berhadapan langsung dengan permasalahan-
permasalahan yang sedang peneliti teliti. Pentingnya informan sebagai sumber
data utama, sehingga penelitian informan ini di dasarkan pada kapabilitas
34

informan dalam memberikan datasecara valid kepada peneliti di lapangan.


Adapun informan dalam penelitian ini adalah merupakan informan yang di
anggap mempunyai sumber data atau informasi yang dapat menjawab
permasalahan yang di teliti, informan tersebut yaitu:
a. Budi Surachmad
Budi Surachmad adalah seorang foreman utama yang di miliki Perusahaan
Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang
Tanjung Wangi, beliau bertanggung jawab atas semua karyawan Perusahaan
Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang
Tanjung Wangi.
b. Erick P
Erick P adalah seorang pelaksana lapangan yang dimiliki Perusahaan
Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang
Tanjung Wangi, beliau bertanggung jawab untuk semua hasil laporan
kegiatan bongkar muat di pelabuhan.
c. Rendy
Rendy adalah seorang pelaksana aplikasi system Gen-C yang dimiliki
Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO)
Cabang Tanjung Wangi.
d. Lukman
Lukman adalah seorang foreman darat yang dimiliki Perusahaan Bongkar
Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang Tanjung
Wangi, beliau bertugas ketika ada kegiatan bongkar pupuk curah kering.

Daftar Informan
No Informan Kode Informan Status
1 2 3 4
1 Budi Surachmad 1 Foreman Utama
2 Erick P 2 Pelaksana Lapangan
3 Rendy 3 Gen-C
4 Lukman 4 Foreman Darat
Informan-informan diatas merupakan informan utama dalam penelitian ini.
Adapun data-data lain yang merupakan data pelengkap, peneliti dapatkan dari
35

beberapa sumber lain informasi yang telah diberikan oleh informan utama. Dari
data yang di hasilkan nantinya di pilih sesuai dengan pokok bahasa dan
permasalahan.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Peningkatan Kegiatan Bongkar Pupuk Curah Kering
Sebelum adanya kegiatan bongkar pupuk curah kering perusahaan
menerima SPPBM dari pemilik barang. Perusahaan Bongkar Muat (PBM)
membuat surat permohonan ijin bongkar muat kepada KSOP. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara dan pernyataan dari informan 1 :
Kotak 1

...,”perusahaan menerima SPPBM dari pemilik barang, kemudian membuat


surat ijin bongkar muat kepada KSOP ”,...

Informan 1 : Budi Surachmad (Foreman utama)


Pada saat kapal sandar di dermaga, perusahaan melakukan persiapan-
persiapan sebelum bongkar pupuk curah kering setelah mengetahui kondisi alat
bongkar yang ada di kapal. Persiapan-persiapan tersebut yaitu meliputi pengadaan
atau ampra TKBM dan juga persiapan-persiapan alat bongkar seperti hopper,
loader, excavator, dum truck, terpal, timba, sekrap, sling 40 feet. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara dan pernyataan dari informan 2 :
Kotak 2

...,’’Setelah PBM mengetahui kondisi alat bongkar yang ada di kapal,


kemudian PBM melakukan ampra TKBM, menyiapkan alat bongkar hopper,
loader, excavator, dum truck, terpal, timba, sekrop, sling 40 feet”,...

Informan 2 : Errick (Pelaksana lapangan)


Alat yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan bongkar pupuk curah
kering pada kenyataannya bukan milik perusahaan sendiri melainkan milik
perusahaan lain. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan dari
informan 4 :
36

Kotak 3

...,”Alat seperti hopper, excavator, dan loader milik PT Bromo, dump truck dari
DLN sedangkan alat dari perusahaan hanya terpal, timba, sekrap, sling 40
feet”,...
Informan 4 : Lukman (Foreman)
Ketika kegiatan bongkar pupuk curah berlangsung sering terjadi kendala.
Kendala tersebut tejadi disebabkan karena alat bongkar rusak, waktu tunggu dump
truck karena gudang penuh dan faktor cuaca seperti hujan. Hal ini sesuai dengan
hasil wawancara dan pernyataan dari informan 1 :
Kotak 4

...,”Kendala sering terjadi disebabkan karena alat bongkar rusak, dump truck
lama karena gudang penuh dan hujan”,...

Inforeman 1 : Budi Surachmad (Foreman utama)


Kerusakan pada alat bongkar yang digunakan tentulah sangat berpengaruh
pada kelancaran proses kegiatan bongkar pupuk curah. Kerusakan pada alat
bongkar sering terjadi khususnya pada hopper, loader, dan excavator. Hal ini
sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan dari informan 2:
Kotak 5

...,”Kerusakan alat bongkar yang digunakan tentulah sangat berpengaruh pada


kelancaran proses kegiatan bongkar pupuk curah sering khususnya yang
terjadi pada crane kapal slingnya putus, hopper excavator sering mogok
karena terlalu sering melakukan pemanasan mesin soalnya alatnya juga sudah
tua, kemudian selang air loader sering bocor, kemudian hopper bocor sehingga
banyak pupuk jatuh ke dermaga, kemudian waktu tunggu dum truck lama
karena gudang penuh”,...

Informan 2 : Errick (Pelaksana lapangan)


Fasilitas peralatan yang mengalami kendala saat kegiatan bongkar
disebabkan kurangnya perawatan dan kurangnya peninjauan serta pengawasan
37

dari pemilik alat. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan dari
informan 3:
Kotak 6

...,”kendala-kendala pada alat tersebut disebabkan karena kurangnya


perawatan dan pengawasan dari pihak perusahaan sendiri mengenai kondisi
alat-alat yang digunakan untuk kegiatan bongkar dek”,...

Informan 3 : Rendi (Foreman)


Ketika terjadi kendala kerusakan alat saat proses kegiatan bongkar pupuk
curah, peran Perusahaan Bongkar Muat (PBM) mengkoordinasikan kepada
pemilik alat bahwa alatnya rusak dan meminta untuk segera melakukan perbaikan.
Di dalam kegiatan bongkar pupuk curah kering Perusahaan Bongkar Muat (PBM)
hanya sebagai pelaksana kegiatan dan bertanggung jawab penuh atas semua
kegiatan di kapal maupun di darat. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan
pernyataan dari informan 2 :
Kotak 7

...,”Perusahaan hanya sebagai jembatan penghubung dengan pihak kapal dan


juga kepada PT Bromo apabila terjadi alat rusak dan apa-apa yang terjadi saat
kegiatan bongkar. Perusahaan Bongkar Muat (PBM) hanya sebagai pelaksana
kegiatan dan bertanggung jawab penuh atas semua kegiatan di kapal maupun
di darat”,...

Informan 2 : Errick P (Pelaksana lapangan)


Berdasarkan perjanjian antara Perusahaan Bongkar Muat (PBM) dengan
PT Bromo Transindo bahwa Perusahaan menggunakan sistem gantian dalam
penggunaan hopper, sistem gantian yang dilakukan antara kedua belah pihak
sebenarnya kurang efektif. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan
dari informan 2:

Kotak 8

...,”Untuk hopper PBM gantian dengan PT Bromo, jadi apabila hari ini pakai
38

punya bromo, maka untuk pembongkaran selanjutnya menggunakan milik PT


Pelindo, semua itu terjadi karena sudah berdasarkan perjanjian dari awal
antara perusahaan dengan PT Bromo, namun dengan cara gantian itu menurut
saya kurang efektif karena kalau pakai punya bromo selain alatnya sering
rusak dan kapasitas muat ke truck hanya 18 ton sedangkan hopper milik
pelindo truck bisa menerima muatan dengan kapasitas 20 ton dan keadaan
hoppernya sangat jauh jika dibandingkan dengan punya bromo”,...

Informan 2 : Errick P (Pelaksana lapangan)


Upaya perusahaan dalam meningkatkan produktivitas bongkar pupuk
curah kering, perlu meningkatkan koordinasi mengenai alat yang digunakan
kepada pemilik barang terkait dengan pelaksanaan bongkar pupuk curah kering,
agar proses kegiatan bongkar pupuk curah kering bisa berjalan dengan lancar dan
maksimal. Selain itu perusahaan juga perlu meningkatkan perawatan serta
pengawasan terhadap peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan bongkar
pupuk curah kering, agar alat yang digunakan dapat beroperasi tanpa mengalami
kendala. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan dari informan 1:
Kotak 9

...,”untuk meningkatkan kegiatan bongkar pupuk curah kering, perusahaan


perlu meningkatkan koordinasi mengenai alat alat yang digunakan kepada
pemilik barang dek, agar proses kegiatan bongkar pupuk curah kering bisa
berjalan dengan lancar. Selain itu perusahaan pemilik barang juga perlu
meningkatkan perawatan serta pengawasan terhadap peralatan yang akan
yang akan digunakan untuk kegiatan bongkar pupuk curah kering, agar alat
yang digunakan dapat beroperasi tanpa mengalami kendala”,...

Informan 1 : Iftah Fiarrahman (Stevedore)


Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat diketahui bahwa
upaya peningkatan produktivitas bongkar pupuk curah kering membutuhkan
beberapa fasilitas peralatan di pelabuhan serta di kapal yang digunakan baik
39

peralatan mekanis maupun non mekanis, untuk peralatan mekanis antara lain
sebagai berikut:
c. Grabe yang digunakan untuk membongkar pupuk curah kering.
d. Crane digunakan sebagai alat untuk membantu membawa grabe.
e. Hopper digunakan untuk membantu memindahkan pupuk curah kering
yang dibawa grabe untuk menuju truck.
f. Excavator digunakan untuk mengeruk pupuk curah yang susah di jangkau
oleh grabe yang berada di dinding palka kapal kemudian dikumpulkan di
tengah palka untuk memudahkan pengambilan oleh grabe.
g. Loader digunakan untuk mengumpulkan muatan agar mudah di jangkau
oleh grabe.
h. Dump Truck digunakan untuk mengangkut pupuk curah kering dari
dermaga ke gudang.
i. Timbangan digunakan untuk mengetahui berat bersih maupun berat kotor
dump truck.
Untuk peralatan non mekanis yang digunakan untuk kegiatan bongkar
pupuk curah kering, antara lain sebagai berikut:
a. Terpal digunakan untuk menahan atau mencegah muatan pupuk curah
kering yang dibawa grabe agar tidak jatuh kelaut.
b. Sekrop digunakan untuk mengumpulkan pupuk curah yang tercecer di
dermaga.
c. Timba digunakan untuk menampung sementara pupuk curah yang
dikumpulkan dengan menggunakan sekrop
d. Sling 30 feet digunakan untuk mengangkat excavator dan loader ke atas
kapal
Pada setiap kegiatan bongkar pupuk curah kering, alat yang digunakan
oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO)
sejatinya bukan milik perusahaan sendiri yaitu milik PT Bromo Transindo seperti
hopper, excavator, dan loader. Dum truck milik perusahaan EMKL yaitu PT
Dharma Lautan Nusantara (DLN) sedangkan alat milik perusahaan sendiri yaitu
40

terpal, sekrop, timba, sling 40 feet dan juga hopper digunakan ketika sampai pada
waktu gantian.
Pernyataan dari informan diatas sesuai dengan teori yang dikemukakan
oleh R.P Suyono. 2000 dalam bukunya yang berjudul “Shipping Pengangkutan
Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut”. Beliau menjelaskan bahwa “Dalam
suatu pekerjaan bongkar muat merupakan salah satu faktor penentu kecepatan dan
keselamatan bongkar muat, alat-alat yang biasa digunakan untuk bongkar muat
dibagi menjadi dua yaitu alat mekanis dan non mekanis”.
Pada saat proses kegiatan bongkar pupuk curah kering terdapat beberapa
kendala-kendala yang terjadi sehingga akan memperlambat proses kegiatan
bongkar pupuk curah. Akibat dari keterlambatan proses kegiatan bongkar maka
akan menyebabkan kerugian terutama pada pemilik barang.
Kendala-kendala yang terjadi khususnya disebabkan karena alat bongkar
yang digunakan sering mengalami kerusakan dan lamanya waktu tunggu dump
truck karena gudang penuh serta faktor cuaca seperti hujan. Kerusakan pada alat-
alat bongkar terjadi karena alat tersebut usianya sudah tua seperti excavator sering
mogok karena terlalu sering melakukan pemanasan mesin, loader mengalami
kerusakan pada selang air pendingin mesin yang sering bocor hingga putus selain
itu mesin sering terjadi mogok, dan hopper sering bocor saat digunakan sehingga
pupuk banyak berceceran di dermaga dan juga jatuh kelaut. Kerusakan yang
terjadi pada alat bongkar tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan dan
peninjauan serta pengawasan dari perusahaan pemilik alat sedangkan kendala
yang terjadi karena lamanya waktu tunggu dump truck yang disebabkan gudang
penuh karena kapasitasnya kurang.
Kendala-kendala yang telah disampaikan oleh informan berdasarkan
wawancara diatas sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sugianto, Henri
(2013) beliau menyampaikan bahwa “Setiap pekerjaan pasti ada kendala-
kendalayang dihadapi. Adapun kendala-kendala yang sering terjadi dalam proses
bongkar atau muat sebagai berikut:
a. Kurangnya armada truck yang disediakan, sehingga memperlambat proses
bongkar atau muat.
41

b. Kerusakan crane kapal atau darat.


c. Kerusakan pada alat bongkar atau muat seperti grabe dan bucket.
d. Cuaca yang kurang mendukung seperti hujan.
e. Ketersediaan barang yang kurang dari kapasitas yang diinginkan.
Adapun upaya Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia
III (PERSERO) Cabang Tanjung Wangi untuk meningkatkan kegiatan bongkar
pupuk curah kering, perusahaan perlu meningkatkan koordinasi mengenai alat-
alat yang digunakan kepada pemilik barang sekaligus pemilik alat yaitu PT
Bromo Tansindo karena pada kenyataannya alat yang digunakan sudah tidak
layak pakai sehingga sering mengalami kerusakan. Dalam hal tersebut PT Bromo
Transindo perlu melakukan adanya penyesuaian baik dengan modifikasi atau
pergantian alat guna memaksimalkan kegiatan bongkar pupuk curah kering yang
ada di pelabuhan. Berdasarkan kesepakatan mengenai fasilitas peralatan yang ada
di pelabuhan, Perusahaan Bongkar Muat (PBM) mengacu pada perjanjian awal
mengenai alat yang akan digunakan demi kelancaran proses kegiatan bongkar
pupuk curah kering.
Berdasarkan hasil penelitian serta masalah-masalah yang terjadi maka
penulis berpendapat dalam meningkatkan produktivitas bongkar pupuk curah
kering dengan menggunakan cara “Pendekatan Incremental” yang sesuai dengan
teori yang di klasifikasikan oleh Jon English dan Anthony R. Marchione tentang
upaya peningkatan produktivitas, menyatakan bahwa “Penganut pendekatan bing
bang berusaha meningkatkan produktivitas dengan investasi satu kali dalam
jumlah yang besar dalam peralatan modal. Meskipun pendekatan ini sering
efektif, kemajuan teknologi dan peralatan tidak sendirinya menyebabkan
produktivitas yang lebih tinggi. Pendekatan incremental berusaha meningkatkan
produktivitas dengan mengadakan perubahan kecil dalam peralatan, pelatihan, dan
prosedur”.
Pendekatan incremental mengakui kenyataan tidak jadi soal apakah
peralatannya baru atau maju secara teknologis, sebuah perusahaan tidak dapat
sungguh-sungguh efisien kalau orang, struktur, dan prosesnya tidak di koordinasi
secara efisien”. (James A.F.Stoner/Charles Wanke, 1988:315)
42

4.3.3 Meminimalisasi Waktu Yang Terbuang (Idle Time)


Pada saat kegiatan bongkar pupuk curah kering dimulai hampir tidak
pernah terjadi keterlambatan mulai jam kerja. Namun penyebab terjadinya waktu
yang terbuang sia-sia (idle time) yaitu disebabkan karena alat yang digunakan
sering mengalami kerusakan dan lamanya waktu tunggu dump truck karena
gudang penuh serta penyebab lainnya seperti hujan. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dan pernyataan dari informan 1:
Kotak 1

...,”tidak pernah terjadi keterlambatan mulai jam kerja, Namun penyebab


terjadinya waktu yang terbuang sia-sia (idle time) yaitu disebabkan karena alat
rusak dan lamanya waktu tunggu dump truck karena gudang penuh serta
hujan”,...

Informan 1 : Budi surachmad (Foreman Utama)


Kerusakan pada alat-alat bongkar terjadi karena alat tersebut usianya
sudah tua seperti excavator sering mogok karena terlalu sering melakukan
pemanasan mesin, loader mengalami kerusakan pada selang air pendingin mesin
yang sering bocor hingga putus selain itu mesin sering terjadi mogok, dan hopper
sering bocor saat digunakan sehingga pupuk banyak berceceran di dermaga dan
juga jatuh kelaut. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan dari
informan 2:
Kotak 2

...,”excavator sering mogok karena terlalu sering melakukan pemanasan mesin,


loader mengalami kerusakan pada selang air pendingin mesin yang sering
bocor hingga putus selain itu mesin sering terjadi mogok, dan hopper sering
bocor saat digunakan sehingga pupuk banyak berceceran di dermaga dan juga
jatuh kelaut semua itu disebabkan karena alatnya sudah tua”,...

Informan 2 : Errick P (Pelaksana Lapangan)


Alat berat khususnya excavator, loader dan hopper sangat penting
peranannya dalam kelancaran proses kegiatan bongkar, namun karena kerusakan
43

yang disebabkan oleh alat bongkar tersebut banyak sekali menyita waktu jam
kerja yang terbuang sia-sia. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan pernyataan
dari informan 2:
Kotak 3

...,”waktu jam kerja banyak yang terbuang karena excavator, loader dan
hopper milik Bromo itu sering mengalami kerusakan atau mogok dek. Hampir
setiap ada pembongkaran kalau pakai excavator, loader dan hopper milik
Bromo sering mengalami macet dek”,...

Informan 2 : Errick P (Pelaksana Lapangan)


Perusahaan Bongkar Muat (PBM) melakukan sistem gantian ketika akan
menggunakan hopper dengan PT Bromo Transindo, namun hal tersebut menurut
perusahaan kurang efektif dan efisien karena sering terjadi keterlambatan ketika
menggunakan hopper milik PT Bromo Transindo. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dan pernyataan dari informan 1:
Kotak 4

...,”Untuk hopper kita gantiang dengan bromo, jadi apabila pembongkaran kali
ini menggunakan milik bromo, maka untuk pembongkaran selanjutnya
menggunakan milik pelindo, semua itu sudah berdasarkan perjanjian antara
pelindo dengan bromo”,...

Informan 1 : Budi surachmad (Foreman Utama)


Usaha yang dilakukan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) ketika akan
terjadi hujan, menghentikan kegiatan bongkar agar pupuk tidak terkena air karena
sifat pupuk bisa mengeras apabila terkena air. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dan pernyataan dari informan 2:
44

Kotak 5

...,”Kalau cuaca sudah memburuk, PBM naik ke kapal kemudian koordinasi


dengan chief officer, jika chief mengintruksikan untuk stop kegiatan maka akan
stop kegiatan, karena pupuk bisa keras kalau terkena air”,...
Informan 2 : Errick P (Pelaksana Lapangan)
Perusahaan Bongkar Muat (PBM) tidak mengetahui bahwa alat yang
digunakan akan mengalami kendala begitu juga dengan faktor cuaca, perusahaan
hanya koordinasi dengan pihak kapal dan pemilik barang guna kesiapan alat yang
akan digunakan pada saat kegiatan bongkar. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dan pernyataan dari informan 1:
Kotak 8

...,”perusahaan hanya koordinasi pada pemilik barang guna kesiapan alat yang
akan digunakan pada saat kegiatan bongkar, dan tidak mengetahui jika alat
yang digunakan mendapati kendala”,...

Informan 1 : Iftah Fiarrahman (Stevedore)


Berdasarkan hasil wawancara dengan informan yang telah dilakukan
tentang upaya meminimalisasi waktu yang terbuang (idle time) dapat diketahui
bahwa Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO)
Cabang Tanjung Wangi tidak pernah mengalami keterlambatan mulai jam kerja.
Waktu yang terbuang di akibatkan alat bongkar sering mengalami kerusakan
khususnya pada excavator sering mogok karena terlalu sering melakukan
pemanasan mesin, loader sering terjadi kerusakan pada selang air pendingi mesin
yang bocor bahkan putus dan juga sering terjadi mogok mesin, dan hopper sering
bocor sehingga banyak pupuk yang jatuh ke dermaga bahkan ke laut, semua
kerusakan tersebut terjadi karena usia alat yang sudah tua. Akibat dari kerusakan
yang disebabkan karena usia alat-alat bongkar yang sudah tua. maka akan
mengakibatkan keterlambatan waktu selesainya bongkar pupuk curah sehingga
dapat merugikan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) dan PT Bromo Transindo.
45

Selain kerusakan alat, terjadinya keterlambatan waktu selesai kegiatan


bongkar yang disebabkan waktu terbuang sia-sia (idle time) yaitu lamanya waktu
tunggu dum truck untuk melakukan pengisian pupuk curah disebabkan karena
gudang penuh. Berdasarkan hasil penelitian ke gudang bahwa kapasitas daya
tampung hanya 15.000 ton tentu merupakan kapasitas yang sangat kurang jika
dibandingkan dengan total pupuk yang yang di bawah kapal yaitu ±40.000 ton.
Serta penyebab lainnya yaitu faktor cuaca seperti hujan .
Berdasarkan semua permasalahan yang terjadi di atas sesuai dengan teori
yang di ungkapkan oleh Setiawan, Feri (2016;4) bahwa “Penyebab idle time dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa faktor. Faktor idle time dikasifikasikan menjadi
tiga, karena kesalahan manusia, kendala teknis, dan faktor alam”.
Hal diatas juga sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Asit, Ayiful
Ramadhan, FE UI, 2010. Bahwa “Idle Time adalah waktu yang terbuang dalam
melakukan bongkar muat kapal yang disebabkan karena beberapa hal seperti
menunggu truk yang akan menerima muatan dari kapal, kerusakan alat bongkar
muat, serta terlambatnya proses penyelesaian dokumen”. Upaya perusahaan untuk
meminimalisasi waktu yang terbuang (idle time) yang disebabkan beberapa alat
bongkar seperti excavator, loader, dump truck dan hopper yang sering
mengalami kerusakan saat beroperasi yaitu dengan meningkatkan koordinasi
dengan pemilik alat-alat tersebut dan selalu melakukan persiapan sebelum alat-
alat tersebut mulai digunakan dengan pemilik barang yang sekaligus pemilik alat.
Faktor alam atau cuaca merupakan salah satu faktor yang penting untuk
kelancaran kegiatan bongkar terutama hujan, karena apabila terjadi hujan akan
menyebabkan terjadinya waktu yang terbuang sia-sia (idle time). Sehingga apabila
hujan maka semua kegiatan akan dihentikan dan melakukan penutupan palka
sampai hujan berhenti, hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melindungi
muatan agar tidak terkena air hujan. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan
oleh Airwas, Dirgahayu (1999:195) bahwa “Idle time adalah waktu yang terpakai
oleh kapal selama bertambat di dermaga yang tidak digunakan untuk egiatan
bongkar muat dan berada didalam jam kegiatan bongkar muat (misalnya kegiatan
yang berhenti karena hujan)”. Upaya perusahaan untuk meminimalisasi waktu
46

yang terbuang (idle time) yang disebabkan karena faktor alam atau hujan yaitu
sangatlah terbatas, karena hal tersebut merupakan diluar batas kemampuan
perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan ketika akan terjadi hujan perusahaan
harus lebih sering memantau keadaan alam sehingga sebelum hujan turun bagian
lapangan mengkoordinasikan kepada pihak kapal untuk persiapan penutupan
palka.
Dari hasil wawancara yang telah disampaikan oleh beberapa informan
diatas dapat disimpulkan bahwa waktu yang terbuang (idle time) yang terjadi pada
saat kegiatan bongkar pupuk curah kering pada Perusahaan Bongkar Muat (PBM)
PT Pelabuhan Indonesia III (PERSERO) Cabang Tanjung Wangi disebabkan
karena beberapa faktor yaitu, kerusakan alat seperti (excavator, loader, dump
truck, dan hopper) serta faktor alam yaitu hujan. Hal ini sesuai dengan teori yang
disampaikan oleh Airwinas, Dirgahayu (1999:195) bahwa faktor penyebab idle
time yaitu:
a. Keterlambatan saat mulai kerja.
b. Jam kerja selesai lebih lambat.
c. Menunggu kedatangan truk.
d. Menunggu perbaikan alat.
e. Pemasangan atau penyandaran posisi kapal.
f. Menunggu muatan.
g. Keterlambatan dokumen muatan.
h. Cuaca buruk atau hujan.