Anda di halaman 1dari 2

MANAJEMN KONFLIK

KONFLIK

Konflik merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia, sehingga konflik tidak dapat
dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan
dengan konflik. Perbedaan keperibadian, kepentingan, sikap, dan pendapat baik secara individu
maupun kelompok, merupakan potensi penyebab konflik. Begitupun dengan kehidupan
organisasi, senantiasa dihadapkan pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan
menimbulkan konflik (destruktif), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai
terhadap ide-ide yang berkembang. Pengelolaan konflik yang tepat akan membuat
tim/organisasi berkinerja lebih baik.
Pemimpin organisasi dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul
dapat berdampak positif untuk meningkatkan mutu organisasi, begitupun dengan auditor perlu
memahami manajemen konflik dengan baik, sehingga dapat proaktif mengelolanya. Manajemen
konflik bertujuan untuk menciptakan konflik yang konstruktif, sehingga akan meningkatkan
semangat kerja, kekompakan dan produktivitas organisasi.
Untuk menghindari terjadinya konflik yang mengarah kepada konflik destruktif, maka
auditor perlu mengenali tahapan-tahapan perkembangan konflik agar setiap tahapan konflik
dapat segera dilakukan penanganan sehingga kerugian akibat konflik dapat dihindari. Menurut
Joan Pastor (2007), konflik dapat berkembang melalui tahap-tahap tertentu yaitu:
1. Tanda-tanda peringatan.
Pada tahap ini, konflik menunjukan tanda-tanda akan terjadi, dimana pihak-pihak yang
berkonflik menunjukan sikap tidak setuju dan menarik diri.
2. Cetusan perbedaan ekspektasi.
Pada tahap ini, perbedaan kepentingan atau harapan mulai ditunjukan oleh pihak-pihak
yang berkonflik, baik dalam bentuk pernyataan maupun tindakan.
3. Konflik terbuka/pertikaian.
Pada tahap ini pihak-pihak yang berkonflik mulai bertindak mengganggu atau
menggagalkan kepentingan pihak lain, beberapa mungkin berupa penyerangan kepada
pihak lawan.
Berdasarkan dimensi derajat kepentingan dan kompatibilitas sasaran maka pendekatan /reaksi
konflik dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Penghindaran
Terjadi jika isu yang dipermasalahkan tidak penting dan kompatibilitas sasaran rendah,
pihak-pihak akan berusaha menghindari interaksi, sehingga konflik tidak perlu terjadi.
Pendekatan ini menghindari pertikaian, konflik diselesaikan dengan cara menerima
konflik sebagai suatu hal biasa atau bukan masalah, sehingga tidak dilakukan upaya
khusus menyelesaikannya.
2. Akomodasi
Terjadi jika isu yang dipermasalahkan tidak penting dan kompatibilitas sasaran tinggi.
Diskusi dapat diarahkan pada tindakan mana yang lebih efektif dan efisien, tanpa
mempermasalahkan tindakan tersebut usulan dari pihak mana.
3. Kompetisi
Terjadi jika pihak-pihak yang berkonflik menilai bahwa sasaran mereka harus tercapai
dan mereka mencapai sasaran yang saling tidak berkesesuaian.
4. Kolaborasi
Terjadi jika isu yang dipermasalahkan penting bagi kedua belah pihak dan kompatibilitas
sasaran tinggi. (Win-win Solution)
5. Kompromi
Terjadi jika kepentingan sasaran masing-masing pihak dan kompatibilitas sasaran
berada ditingkat moderat.
Konflik bukanlah hal buruk yang harus dihindari, menangani konflik secara tepat dapat
menjadikan konflik bersifat konstruktif bagi kemajuan organisasi, sehingga perlu adanya langkah
–langkah menangani konflik berdasarkan pendekatan penyelesaian konflik yaitu terdiri dari :
1. Persiapan
2. Mengumpulkan informasi
3. Sepakati permasalahan
4. Eksplorasi alternatif-alternatif solusi melalui sumbang saran dan
5. Negosiasi solusi

Anda mungkin juga menyukai