Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL EC MIOMA UTERI

Pembimbing

dr M Luky Satria Syahbana Marwali, Sp.OG(K)

Penyusun

Latifatul Bariyah (1113103000080)

Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati

Program Studi Pendidikan Kedokteran Dan Profesi Dokter

Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2017

1
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL .......................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................... 5
2.1 Anatomi Uterus ..................................................................................................................... 5
2.2 Definisi Mioma Uteri ............................................................................................................ 6
2.3 Epidemiologi Mioma Uteri ................................................................................................... 7
2.4 Etiologi Mioma Uteri ............................................................................................................ 7
2.5 Klasifikasi Mioma Uteri ........................................................................................................ 7
2.6 Gejala Klinis Mioma Uteri .................................................................................................... 9
2.7 Diagnosis Mioma Uteri ......................................................................................................... 9
2.8 Tata Laksana ....................................................................................................................... 10
BAB III ......................................................................................................................................... 12
ILUSTRASI KASUS .................................................................................................................... 12
3.1 Identitas Pasien.................................................................................................................... 12
3.2 Anamnesis ........................................................................................................................... 12
3.3 Pemeriksaan Fisik ............................................................................................................... 13
3.4 Pemeriksaan Penunjang....................................................................................................... 14
3.4 Diagnosis ............................................................................................................................. 15
3.5 Tatalaksana .......................................................................................................................... 15
3.6 Resume ................................................................................................................................ 15
3.7 Prognosis ............................................................................................................................. 15
3.8 Laporan Operasi .................................................................................................................. 16
3.9 Follow Up ............................................................................................................................ 16
BAB IV ......................................................................................................................................... 21
ANALISA KASUS ....................................................................................................................... 21
BAB V .......................................................................................................................................... 22
KESIMPULAN ............................................................................................................................. 22
BAB VI ......................................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 23

2
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan
makalah presentasi kasus yang berjudul “Perdarahan Uterus Abnormal ec Mioma Uteri”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam kepaniteraan klinik di stase Obstetri
dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini, terutama kepada :
1. dr. M. Luky Satria Syahbana M, Sp.OG(K) selaku pembimbing presentasi ini.
2. Seluruh dokter dan staf pengajar di SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum
Pusat Fatmawati Jakarta.
3. Rekan-rekan Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta periode Oktober-Desember 2017.
Saya menyadari dalam pembuatan makalah presentasi kasus ini masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan
makalah presentasi kasus ini sangat saya harapkan.
Demikian, semoga makalah presentasi kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa
membuka wawasan serta ilmu pengetahuan kita, terutama dalam bidang obstetri dan ginekologi.

Jakarta, November 2017

Penyusun

3
BAB I
PENDAHULUAN
Mioma uteri merupakan massa pada uterus yang terbentuk dari otot uterus/myometrium.
Mioma uteri ini sering disebut dengan leiomyoma atau fibroid. Angka kejadiannya cukup tinggi
yaitu terjadi pada 20%-30% wanita usia reproduktif, dengan kejadian pada ras kulit hitam lebih
banyak dibandingkan pada ras dengan kulit putih.

Pada pasien dengan mioma uteri ini banyak yang tidak bermanifestasi. Namun pada pasien
dengan manifestasi klinis yang banyak ditemui adalah dengan keluhan berupa perdarahan haid
yang memanjan dan darah haid semakin banyak atau disebut dengan perdarahan uterus abnormal.

Pilihan terapi pada mioma uteri ini juga bisa mulai dari konservatif, terapi hormon,
miomektomi hingga histerektomi. Pemilihan terapi ini juga bergantung pada beberapa faktor
diantaranya manifestasi dari miomanya, usia, keinginan untuk hamil lagi. Karena itu pada presntasi
kasus ini akan membahas tentang pasien dengan mioma uteri.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Uterus
Uterus merupakan genitalia interna wanita yang berbentuk seperti buah pir atau
avokad yang sedikit gepeng ke arah depan dan belakang. Ukuran uterus sebesar telur
ayam dan mempunyai rongga. Ukuran jpanjang uterus 7-7,5 cm, lebar lebih dari 5,25
cm dan tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1.25 cm.1 Berat uterus antara 50 sampai 100
gram.2

Dalam keadaan fisiologis letak uterus adalah antefleksi yaitu posisi serviks ke
depan dan membentuk sudut dengan vagina dengan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri.3 pada posisi ini uterus menutupi permukaan
superior dan posterior dari kandung kemih. Kondisi dimana uterus tertarik kebelakang
kearah sacrum disebut rerofleksi. Keadaan ini terjadi pada 20% dari wanita dewasa.
Uterus retrofleksi ini dapat tertarik kedepan menjadi antefleksi secara spontan pada
kehamilan usia 3 bulan.2

Untuk mempertahankan posisi antefleksinya, uterus dipertahankan oleh bebrapa


ligament, diantaranya adalah1

 Ligamentum kardinale berjalan dari serviks dan puncak vagina kearah lateral
dinding pelvis. Didalam ligamen ini berjalan arteri dan vena uterine. Ligamen ini
berfungsi mencegah serviks tidak turun.
 Ligamentum sakrouterina, yang berjalan melengkung dari bagian belakang serviks
kiri dan kanan melalui dinding rectum kearah os sakrum. Ligamen ini menahan
uterus agar tidak bergerak.
 Ligamentum rotundum, yang berjalan dari sudut fundus uteri ke daerah inguinal.
Ligament ini menahan uterus tetap pada posisinya.
 Ligamentum latum berjalan dari uterus ke lateral. Ligamentum ini merupakan
bagian dari peritoneum visceral yang meliputi uterus dan kedua tuba, yang
berbentuk lipatan. Ligament ini tidak berperan dominan dalam fiksasi uterus.

Uterus terdiri atas tiga bagian yaitu fundus, korpus dan serviks. Fundus merupakan
bagian atas uterus. Pada dinding fundus uteri ini, masuk tuba fallopi kanan dan kiri.

5
Korpus uteri merupakan bagian uterus yag terbesar yaitu 2/3 dari uterus. Pada korpus
uteri terdapat rongga yang disebut cavum uteri atau rongga rahim. Serviks uteri
merupakan saluran keluarnya Rahim menuju vagina. Uterus ini membuka keluar melalui
kanalis servicalis yang berbentuk lonjong dengan panjang 2,5 cm. saluran ini dilapisi
oleh kelenjar serviks berbentuk toraks bersilia dan berfungsi sebagai reseptakulum
seminis.1,3

Ukuran tebal dinding uterus sangat bervariasi. Pada wanita usia reproduktif yang
tidak dalam kondisi hamil sekitar 1 cm. Dinding uterus ini tersusun dari tiga lapisan yaitu
perimetrium myometrium dan endometrium. Lapisan terluar dari uterus adalah
perimetrium atau serosa yang merupakan bagian dari peritoneum visceral. Lapisan ini
tersusun dari sel epitelium skuamosa dan jaringan ikat.4

Lapisan tengah dari uterus adalah miometrium. Miometrium merupakan lapisan


uterus yang paling tebal, mencapai 90% dari bagian uterus. Lapisan mimetrium ini
tersusun dari serat otot polos tebal, yang paling tebal ada di fundus dan serviks dengan
bagian paling tipis. Serat otot pada myometrium ini terdiri dari tiga lapisan otot secara
berurutan dari dalam keluar, yaitu longitudinal dalam, sirkuler dan longitudinal luar.2,4

Gambar 1 Uterus4

2.2 Definisi Mioma Uteri


Mioma uteri adalah tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot polos
uterus.1 mioma uteri merupakan proliferasi lokal dari sel otot polos dari uterus.5 Mioma
uteri sering disebut dengan leiomyoma atau fibroid ini adalah neoplasma jinak pada
uterus yang umum dijumpai pada wanita usia reproduktif.6

6
Ciri khas mioma uteri adalah berbentuk bulat, keras, dengan warna putih hingga
merah muda pucat.7 Massa mioma ini dibatasi oleh pseudokapsul, konsistensinya keras,
Kapsulnya terdiri dari jaringan ikat yang memfiksasi tumor ke myometrium. Pembuluh
darah yang mensuplai darah ke tumor terletak pada kapsul, berbentuk seperti susunan
menjari. Karena pengaturan suplai darah ini, bagian sentral tumor menerima suplai darah
paling sedikit, dan degenerasi terlihat lebih awal dan paling sering terjadi pada bagian
sentral tumor ini.6

2.3 Epidemiologi Mioma Uteri


Disebutkan bahwa mioma uteri termasuk dalam neoplasma jinak genital dengan
waktu pertumbuhan yang lambat yaitu sekitar 3-5 tahun baru akan bermanifestasi klinis
yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi yaitu terjadi pada 20%-30% wanita
usia reproduktif.1,6 Kejadian pada ras dengan kulit hitam dua kali lipat dibandingkan
dengan ras kulit putih dan terhitung 10% dari masalah ginekologi dan angka
kejadiannya meningkat dalam lima dekade ini.7

2.4 Etiologi Mioma Uteri


Penyebab pasti miom uteri sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti.
Namun pada beberapa teori mengatakan bahwa pertumbuhan mioma ini berkaitan
dengan hormon reproduksi.1

2.5 Klasifikasi Mioma Uteri


Berdasarkan lokasinya, mioma uteri diklasifikasikan menjadi tiga yaitu, mioma
uteri submucosa, yang terletak pada lapisan dibawah endometrium yang menonjol
kearah kavum uteri. Mioma jenis ini dapat bertangkai dan dapat keluar melalui ostium
serviks. Jenis kedua adalah mioma uteri intramural yaitu yang berkembang pada
lapisan myometrium. Jenis ketiga adalah mioma uteri subserosa yang tumbuh dibawah
lapisan serosa yang dapat tumbuh keasrah lapisan luar uterus. Mioma jenis ini dapat
juga bertangkai.1

7
Gambar 2 Klasifikasi mioma uteri berdasarkan letaknya6

Baru baru ini muncul pengklasifikasian baru oleh FIGO.8

8
Gambar 3 Klasifikasi mioma uteri submukosa9

2.6 Gejala Klinis Mioma Uteri


Gejala klinis dari mioma uteri ini dialami oleh 35-50 penderita. Sebagian besar penderita
hampir tidak mengetahui adanya miomakarena tidak ada gejala yang dialaminya. Gejala
yang timbul pada penderita diantaranya adalah

a. Perdarahan uterus abnormal


Terjadi pada 30% penderita. Jika berlangsung kronis dapat mengakibatkan anemia
defisiensi besi, dan jika anemia berlanjut hingga waktu yang lama sudah tidak dapat
dikoreksi dengan suplementasi besi lagi. Pada mioma uteri submucosa perdarahan
seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah endometrium, tekanan, dan
bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi
endometrium di atas tumor.1
b. Nyeri
Pada mioma nyeri terjadi jika terjadi gangguan vascular yaitu porses degenarasi
oklusi vascular infeksi, atau torsi tangkai mioma sebagai usaha untuk mnegaluarkan
miomasubserosum dari kavum uteri. Nyeri pinggang dapat terjadi jika mioma
menekan saraf yang berjalan diatas permukaan tulang pelvis.1
c. Infertilitas
Mioma uteri dengan ukuran lebih dai 4 cm dapat menyebabkan infertlitas karena
dapat menghalangi jalannya sperema menuju ovum, nidasi yang lemah, dan blok
dari tuba.6

2.7 Diagnosis Mioma Uteri


a. Anamnesis
Penderita sering mengeluhkan berupa5
- Gangguan haid / perdarajan uterus abnormal
- Lemas, pusing ( karena anemia)
- Nyeri pelvis, kadang juga berupa nyeri haid
- Infertilitas5
- Pada beberapa kasus dapat juga mengalami abortus
b. Pemeriksaan fisik

9
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda tanda anemia yaitu berupa
konjungtiva anemis. Pada pemeriksaan abdomen, dapat teraba massa yang
berbenjol-benjol dan teraba juga pada pemeriksaan bimanual.5
c. Pemeriksaan Laboratorium
Anemia adalah hasil pemeriksaan laboratorium tersering yang ditemukan pada
pasien dengan mioma uteri sebagai akibat dari perdarahan uterus abnormal yang
merupakan gejala tersering dari mioma uteri ini.7
d. Pemeriksaan Radiologi
Pada pemeriksaan USG dapat ditentukan lokasi dan jenis mioma mioma terlihat
sebagai area hipoekoik diantara myometrium.7

2.8 Tata Laksana


Tata laksana pada mioma uteri harus memperhatikan beberapa variable,
diantaranya adalah jumlah mioma, ukuran, lokasi, dan gejala yang dirasakan oleh pasien.
Selain itu harus juga memperhatikan faktor reproduksi yaitu usia, paritas, dan keinginan untuk
mempunyai keturunan.

Pada kasus mioma dengan tanpa gejala dan massa mioma ukuran kecil, tidak memerlukan
terapi pembedahan ataupun terapi dengan obat-obatan, cukup diobservasi setiap 6 bulan.6

Untuk pasien mioma uteri dengan gejala dapat diberikan terapi dengan obat-obatan atau
pembedahan. Pilihan obat-obatan yang dapat diberikan adalah suplementasi besi untuk
anemianya. Mifepristone dosis 10-25 mg/hari selama 3 bulan, dapat menyebbakab amenorea
dan mengurnagi massa tumor sampai 50%. Danazo dosis 400-800 mg per hari selama 3-6
bulan dapat mengurangi massa tumor sampai 60%. Terapi GnRH selama 6 bulan dapat
mengurangi massa mioma sampai 50-80%.6

Terapi pembedahan yang dapat dilakukan salah satuunya adalah miomektomi. Pada
miomektomi dilaporkan bahwa pasien yang telah menjalani operasi miomektomi dapat hamil
kembali dengan persentase 40-50%.6

10
Gambar Miomektomi6

11
BAB III

ILUSTRASI KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. AH

No. RM : 01535484

Jenis Kelamin : Perempuan

Tanggal Lahir : 18 September 1988

Umur : 28 tahun

Alamat : Jalan Perdatam VI No 15 RT/RW 005/008 Pangadegan Pancoran


Jakata Selatan

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Status : Kawin

3.2 Anamnesis
 Keluhan Utama :
Perdarahan banyak saat menstruasi sejak 4 bulan sebelum masuk rumah sakit
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Perdarahan saat menstruasi bertambah banyak. Sehari ganti pembalut 6-7 kali.
Lama haid 7-9 hari. Nyeri menstruai VAS 3-4. Tidak ada keluhan adanya benjolan di
perut, mual muntah tidak ada. BAK dan BAB tidak ada keluhan. Nyeri atau perdarahan
pasca koitus tidak ada. Sudah pernah berobat di dokter obsgyn dan dikatakan ada myoma
uteri ukuran 75 mm x 55 mm.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami hal serupa. Riwayat penyakit hipertensi dan
diabetes mellitus tidak ada. Asma tidak ada, rowayat prnyakit jantung tidak ada, alergi
tidak ada.
 Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 tahun

12
Durasi : 6-7 hari, teratur tiap bulan.
Jumlah : 2-3 pembalut/hari
Dismenorea : Tidak ada
 Status Pernikahan
Status : Menikah 1x
Usia pernikahan : 2 tahun
 Riwayat Paritas
P0A0
 Riwayat KB
Tidak ada

3.3 Pemeriksaan Fisik


a. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 82x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit
Suhu : 36,5oC
Berat Badan : 58 kg
Tinggi Badan : 153 cm
IMT : 24,7 kg/m2
Kepala : Normocephali
Mata : Pupil bulat isokor, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik(-/-)
Mulut : Sianotik (-)
Telinga : membran timpani intak/intak, darah (-/-), cairan (-/-)
Hidung : deformitas (-), deviasi septum (-), darah (-), cairan (-)
Tenggorok : Faring Hiperemis (-), membran/ pseudomembran (-/-)
Leher : KGB dan tiroid tidak membesar
Thorax
Cor : BJ 1-BJ 2 normal reguler, murmur(-), Gallop (-)

13
Pulmo : Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Mammae : Simetris, besar normal, retraksi papil -/-, areola mammae tidak
hiperpigmentasi
Abdomen : Supel, datar, nyeri tekan (-), hepar lien tidak teraba membesar, bising
usus (+) normal, turgor kulit baik

Ekstremitas : Akral hangat, Edema tungkai (-/-), CRT < 2 detik

b. Status Ginekologis

Inspeksi : Vulva dan uretra tenang, perdarahan aktif (-)

Inpekulo : Portio tampak licin, OUE tertutup, fluor (+), fluxus (+)

VT : portio kenyal, uterus anteflexi, nyeri goyang portio (-)

3.4 Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan USG (26 September 2017)
Deskripsi : Uterus antefleksi, bentuk dan ukuran membesar
Portio dan endoserviks normal.
Endometrium stratum basalis regular,
Tampak masaa hipoekoik di fundus anterior kiri ukuran 83 mm x 51 mm x 47 mm
Kedua ovarium dalam batas normal
Hepar dan kedua ginjal normal
Kesimpulan : Mioma uteri

14
 Laboratorium darah (16/11/2017)

NILAI NILAI RUJUKAN


PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
Hemoglobin 12,1 g/dL 11,7-15,5
Hematokrit 38 % 33 – 45
Leukosit 10,5 ribu/ul 5,0 - 10,0
Trombosit 370 ribu /ul 150 – 440
Eritrosit 4,31 juta/uL 3,80-5,20
VER/HER/KHER/RDW
VER 88,1 fl 80.0 - 100.0
HER 28,0 pg 26.0 – 34.0
KHER 31,8 g/dl 32.0 – 36.0
RDW 12,9 % 11.5 – 14.5
3.4 Diagnosis
Perdarahan uterus abnormal ec mioma uteri intramural

3.5 Tatalaksana
Asam traneksamat 3x500 mg PO
Hemobion 1x1 tab PO
Rencana miomektomi

3.6 Resume
Ny A 28 tahun datang dengan perdarahan haid yang semakin banyak dan lamanya haid
yang semakin bertambah sejak 4 bulan SMRS. Sudah pernah berobat dikatakan ada mioma
uteri ukuan 75 mm x 55 mm. Riwayat menstruasi teratur 6-7 tiap bulan GP 2-3 kali/hari.
Pasien belum pernah hamil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Inspeksi Vulva dan uretra
tenang, perdarahan aktif (-), Inpekulo Portio tampak licin, OUE tertutup, fluor (+), fluxus
(+), VT portio kenyal, uterus anteflexi, nyeri goyang portio (-). Pada pemeriksaan
laboratorium darah terdapat leukositosis. Pada pemeriksaan USG didapatkan mioma uteri.

3.7 Prognosis
Ad vitam : bonam

15
Ad Functionam : dubia ad malam

Ada Sanactionam : dubia ad bonam

3.8 Laporan Operasi


Ahli Bedah : dr. Agus Surur As’adi Sp.OG K-Fer

Diagnosa pre op : Perdaraan uterus abnormal ec Mioma uteri intramural

Diagnosa post op : Mioma uteri multiple intramural

Tanggal operasi : 17/11/2017 08.30

Macam Operasi : Laparotomi miomektomi kromotubasi

Organ yang dieksisi : uterus

 Pasien terlentang dalam anestesi spinal

 A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya

 Insisi pfanennstiel. Dindig abdomen dibuka lapis demi lapis

 Setelah peritoneum dibukaa tampak uterus kesan membesar ~ 12 minggu.

 Terdapat masaa ukuran 1x1 cm di fundus kiri dan massa ukuran 8x5 cm di korpus
posterior kiri, sesuai dengan mioma uteri intramural multiple. Kedua tuba dan ovarium
dalam batas normal.

 Dilakukan miomektomi, Lapisan myometrium dijahit interrupted dengan monosyn no


2.0 dilanjutkan dengan jahitan baseball menggunakan PGA no 1. Perdarahan dirawat.

 Dilanjutkan dengan kromotubasi. Didapatkan tuba kanan non paten dan tuba kiri paten.

 Diyakini tidak ada perdrahan, alat dan kassa lengkap

 Dinding abdomen ditutup lapis dem lapis. Tindakan selesai.

3.9 Follow Up
Instruksi Post Op
Awasi tanda vital dan perdarahan

16
IVFD 1500cc/24 jam Dx 5% : RL 2:1
Cek Hb 3 jam post OP, jika <8, pro transfuse
Miring kana, miring kiri, duduk setelah 24 jam
Ceftriaxone 1x2 gram IV
Ketorolac drip 1 ampul/8 jam
Asam traneksamat 3x500 mg IV
Profenid sup 3x1
18/11/2017
 S: Nyeri luka operasi VAS 2-3, pendarahan jalan lahir(-), BAB (-), flatus (+)
 O: KU: tampak sakit sedang, kesadaran: CM
TD : 100/70 mmHg
HR : 90x/menit
RR : 18x/menit
S : 36,6°C
St. generalis : mata konjungtiva anemis (-/-), abdomen bising usus (+) normal,
lain-lain dalam batas normal
St. ginekologis : v/u tenang, pendarahan(-)
St. Lokalis: luka operasi tertutup verban, rembesan(-)
Labortorium post op:
DPL 10,6/37/20.000/300.000
VER/HER/KHER/RDW 88,3/29,0/32,8/12,7
 A: - POD I post laparotomi miomektomi kromotubasi ai mioma uteri intramural
- anemia
 P:
Observasi KU, TTV dan perdarahan
Ceftriaxon 1x 2 gram IV (lanjut sampai hari ke III)
Asam mefenamat 3x00 mg PO
SF 2x1 PO
Diet putih terlur 6 butir/hari
Mobilisasi bertahap
GV hari ke 3

17
19/11/2017
 S: Nyeri luka operasi VAS 1-2, pendarahan jalan lahir(-), BAK dan BAB sudah
 O: KU: tampak sakit sedang, kesadaran: CM
TD : 110/70 mmHg
HR : 86x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,6°C
St. generalis : mata konjungtiva anemis (-/-), abdomen bising usus (+) normal,
lain-lain dalam batas normal
St. ginekologis : v/u tenang, pendarahan(-)
St. Lokalis: luka operasi tertutup verban, rembesan(-)
 A: - POD II post laparotomi miomektomi kromotubasi ai mioma uteri intramural
- anemia
 P:
Observasi KU, TTV dan perdarahan
Ceftriaxon 1x 2 gram IV
Asam mefenamat 3x00 mg PO
SF 2x1 PO
Diet putih terlur 6 butir/hari
Mobilisasi bertahap
GV besok
Cek DPL post terapi antibiotic besok
20/11/2017
 S: Nyeri luka operasi minimal, pendarahan jalan lahir(-), BAK dan BAB sudah
 O: KU: tampak sakit sedang, kesadaran: CM
TD : 120/70 mmHg
HR : 82x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,6°C

18
St. generalis : mata konjungtiva anemis (-/-), abdomen bising usus (+) normal,
lain-lain dalam batas normal
St. ginekologis : v/u tenang, pendarahan(-)
St. Lokalis: luka operasi tertutup verban, rembesan(-)
 A: - POD III post laparotomi miomektomi kromotubasi ai mioma uteri intramural
- anemia
 P:
Observasi KU, TTV dan perdarahan
Ceftriaxon 1x 2 gram IV
Asam mefenamat 3x00 mg PO
SF 2x1 PO
Diet putih terlur 6 butir/hari
Mobilisasi aktif
GV hari ini
Cek DPL post terapi antibiotic hari ini, jika bagus, boleh pulang
Pasien boleh pulang dengan kedaan
S : nyeri luka operasi minimal, BAB BAK normal
O : TD 110/70 mmHg, HR : 89 x/menit RR : 18x/menit,
Status generalis dalam batas normal,
Status ginekologis v/u tenang, perdarahan aktif tidak ada
Status lokalis : luka operasi tertutup verban, rembesan tidak ada
Laboratorium 20/11/2017
DPL 9,3/29/9.000/289.000
MCV/MCH/MCHC/RDW 90,0/28,7/31,9/13,0
A : - POD III post laparotomi miomektomi kromotubasi ai mioma uteri intramural
- anemia
P : Cefixime 2x200 mg PO
Asam mefenamat 3x500 mg PO
Hemobion 1x1 tab PO
Hasil Patologi Anatomi 27/11/2017
Makroskopik : diterima jaringan ± 8,5 x 6,5 x 5 cm dan 1,5 x 1 x 1 cm

19
a. Jaringan yang besar cup, 3 blok
b. Jaringan yang kecil 2 cup 1 blok
Mikroskopik : sediaan jaringan dari massa tumor di uterus terdiri dari
beberapa jaringan dengan sama terdiri dari kelompokan sel-
se spindle fusiform berjaras-jaras, saling membentuk
kumparan. Setempat tampak jaringan hyaline diantaranya
Tidak tampak tanda ganas.
Kesimpulan : sesuai dengan mioma uteri

20
BAB IV

ANALISA KASUS
Pasien ini didiagnosis mioma uteri berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksan penunjang.

Pasien Ny A 28 tahun mengeluhkan perdarahan saat haid yang bertambah banyak. Pasien
yang biasanya ganti pembalut 2-3 kali dalam sehari, sejak 4 bulan ini bertambah menjadi 6-7 kali
dalam sehari. Hal ini menunjukkan semakin banyaknya darah yang dikeluarkan oleh pasien
melalui menstruasinya. Pasien juga mengeluhkan haid yang semakin lama. Keluhan utama pasien
ini sesuai dengan gejala klinis dari mioma uteri yaitu pedarahan uterus abnormal berupa
menoragia. Keluhan BAB dan BAK tidak ada sehingga dapat dikatakan bahwa tidak adanya
penekanan dan keterlibatan organ-organ sekitar.

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan konjungtiva anemis pada pasien menandakan
pasien tidak dalam keadaan anemia, mengingat gejala tersering pada mioma adalah perdarahan
haid memanjang dan banyak. Pada pemeriksaan ginekologi didapatkan Inspeksi Vulva dan uretra
tenang, perdarahan aktif (-), Inpekulo Portio tampak licin, OUE tertutup, fluor (+), fluxus (+), VT
portio kenyal, uterus anteflexi, nyeri goyang portio (-). Pada pemeriksaan laboratorium darah
terdapat leukositosis. Pada pemeriksaan USG didapatkan mioma uteri. Dari pemeriksaan ini dapat
dietegakkan diagnosis mioma uteri pada pasien ini.

Pasien direncanakan operasi miomektomi dengan pertimbangan pada pasien sudah ada
gejela yaitu perdarahan haid yang memanjang dan bertambah banyak dan pada pasien juga
menginginkan untuk memiliki keturunan. Miomektomi merupakan pilihan untuk pasien dengan
gejala yang telah dijelaskan diatas, karena pasien dengan post miomektomi dapat terjadi kehamilan
pada 50-80% kasus.

Pemberian obat-obatan berupa antibiotic injeksi berupa ceftriaxone 1x2 gram IV selama
sampai 3 hari setelah operasi adalah karena adanya leukositosis hingga 20.000. pemberian anti
nyeri pada pasien ini yaitu berupa profenid.

21
BAB V

KESIMPULAN
Mioma uteri merupakan neoplasma genital jinak terbanyak pada wanita. Pada kasus ini sesuai
dengan teori bahwa pasien dengan mioma uteri dating dengan keluhan perdarahan uterus abnormal
dan pada pemeriksaa fisik tidak ditemukan kelainan genitalia interna yang mengarah kepada
keganasan dan pada pemeriksaan USG juga ditemukan adanya massa hipoekoik yang merupakan
ciri dari mioma uteri. Terapi pembedahan yang dilakukan yaitu berupa miomektomi sudah sesuai
karena memang pada pasien ini masih menginginkan untuk hamil.

22
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilmu Kandungan. (PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2011).

2. Martini, F. H., Nath, J. L. & Bartholomew, E. F. Fundamental Anatomy & Physiology.


(Pearson, 2012).

3. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. (PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,


2008).

4. Tortora, G. J. & Derrickson, B. Principles of Anatomy and Physiology. (John Wiley &
Sons, 2009).

5. Callahan, T. L., Caughey, A. B. & Heffner, L. J. Blueprint Obstetrics & Gynecology.


(Blackwell Publishing, 2004).

6. Howkins & Bourne Shaw’s Textbook of Gynaecology. (Reed Elsevier India Private
Limited, 2015).

7. Pernoll, M. L. Benson & Pernoll’s Handbook of Obstetrics & gynecology. (Mc Graw
Hill).

8. Vilos, G. A., Allaire, C., Laberge, P. Y. & Leyland, N. The Management of Uterine
Leiomyomas. J. Obstet. Gyneology Canada 2015, 157–178 (2015).

9. Advancing, A., Invasive, M. & Worldwide, G. AAGL Practice Report : Practice


Guidelines for the Diagnosis and Management of Submucous Leiomyomas. J. Minim.
Invasive Gynecol. 19, 152–171

23