Anda di halaman 1dari 7

Aspek Geospasial dan Kajian Sengketa dalam Undang-undang

Pembentukan Daerah Sebelum dan Sesudah Otonomi Luas di


Provinsi Maluku dan Maluku Utara

Made Ditha Ary Sanjaya


Mahasiswa Magister Teknik Geomatika, Universitas Gadjah Mada
(ditha.ary.sanjaya@gmail.com)

ABSTRAK

Perubahan signifikan dalam hal penyelenggaraan negara dialami oleh Indonesia pada
tahun 1998. Penyelenggaraan yang semula bersifat sentralistik berubah menjadi
desentralistik. Sebelum era otonomi daerah, di Indonesia hanya terdapat 27 provinsi dan 277
kabupaten/kotamadya. Setelah otonomi daerah, jumlah tersebut membengkak menjadi 34
provinsi dan 511 kabupaten/kota. Setiap pembentukan daerah baru harus didasari oleh
Undang-undang atau dasar hukum yang kuat. Pembentukan daerah baru seperti yang terjadi
di Provinsi Maluku dan Maluku Utara tidak terlepas dari pembentukan batas-batas yang
merupakan aspek penting yang harus ditetapkan dengan baik untuk menghindari
permasalahan yang mungkin terjadi di masa mendatang. Aspek batas merupakan salah satu
aspek geospasial yang sangat penting dan harus tercantum secara jelas dalam setiap
Undang-undang Pembentukan Daerah.
Aspek geospasial ternyata masih sangat sulit ditemukan pada perundangan sebelum
diberlakukannya otonomi luas. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat besarnya peran
informasi geospasial dalam mendukung isi dari perundangan pembentukan daerah. Akan
tetapi informasi geospasial sudah mulai diperhatikan dan ditekankan pada periode setelah
diberlakukannya Otonomi Luas. Hal ini terbukti bertambahnya informasi peta sebagai aspek
geospasial diiringi dengan peningkatan kualitas informasi peta yang terlampir. Meski
penekanan terhadap aspek geospasial dilakukan secara administratif dalam perundangan,
penegasan fisik terhadap batas daerah harus diperhatikan mengingat potensi konflik dan
sengketa yang tinggi pada setiap daerah yang baru terbentuk.

Kata kunci : Otonomi Luas, Undang-undang Pembentukan Daerah, Maluku, Aspek


Geospasial.

Pendahuluan

Kondisi pemerintahan Indonesia karakteristik tersendiri ditinjau dari besarnya


mengalami perubahan yang signifikan jumlah penduduk yang tersebar tidak merata,
semenjak era reformasi yang dimulai pada keanekaragaman sosial budaya, sumberdaya
tahun 1998. Penyelenggaraan pemerintah alam, flora dan fauna serta keragaman fisik
daerah mengalami perubahan paradigma dari wilayah [2]. Undang-undang No. 22 Tahun
pendekatan sentralistik (Orde Baru 1966- 1999 menyebutkan bahwa perlunya
1998) menjadi desentralisasi yang lebih luas diselenggarakan otonomi daerah
[1]. Prinsip desentralisasi dan otonomi daerah (desentralisasi) akibat perkembangan
serta pemekaran daerah di Indonesia sebagai keadaan di dalam dan luar negeri, serta untuk
negara kepulauan daerah tropis, memiliki menghadapi persaingan global. Otonomi
Daerah harus menekankan prinsip dalam terkait penetapan batas dalam kedua
demokrasi, peran serta masyarakat, masa pemerintahan di Indonesia (Orde Baru
pemerataan keadilan serta memperhatikan dan Orde Reformasi).
potensi dan keanekaragaman daerah. Hal ini Pemekaran daerah/wilayah tidak lepas
diwujudkan dengan memberikan dari persoalan keruangan (geospasial) yaitu
kewenangan yang luas kepada daerah secara mengenai garis batas wilayah sehingga
proporsional. diperlukan pertimbangan terhadap berbagai
aspek untuk mencapai tujuan desentralisasi
Menurut pendapat Tri Ratnawati dan otonomi daerah [5]. Berdasarkan prinsip
menyatakan bahwa ada 4 (empat) faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa garis
pendorong yang menjadi penyebab tingginya batas wilayah menjadi faktor penting di
semangat para elit-elit daerah untuk dalam pemekaran daerah (pembentukan
melakukan pemekaran daerah baru yaitu, daerah otonomi baru). Harmantyo [2]
1.Dalam rangka efektifitas/efisiensi menyebutkan bahwa terbentuknya daerah
(administration disertion) mengingat otonom sebagian besar terjadi di provinsi-
wilayah yang begitu luas, dan penduduk provinsi yang memiliki wilayah paling luas
yang menyebar dalam ketertinggalan; dengan kepadatan penduduk yang rendah
2.Kecerendungan homogenitas; 3.Adanya seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
kemanjaan fiskal yang dijamin oleh Undang- Maluku, dan Papua.
undang bagi daerah-daerah pemekaran
seperti adanya (DAU), bagi hasil SDA, dll; Aspek Geospasial dalam UUPD Provinsi
4. Bureaucratic political rent seeking [3]. Maluku Sebelum Otonomi Luas
Sebelum era otonomi daerah, di Indonesia
hanya terdapat 27 provinsi dan 277 Provinsi Maluku pada mulanya
kabupaten/kotamadya. Setelah otonomi memiliki 4 Daerah Swatantra Tingkat II
daerah, jumlah tersebut membengkak (Daerah Tingkat II) yaitu Maluku Utara,
menjadi 34 provinsi dan 511 kabupaten/kota Maluku Tengah, Maluku Tenggara, dan
bahkan lebih dengan tingkat akselerasi Kotapraja Ambon. Dasar hukum yang
pemekaran yang terhitung luar biasa dan mengatur pembentukan daerah tingkat II
sebagaimana diduga sebelumnya, tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
menciptakan ruang-ruang potensi masalah
baru. Pemekaran suatu daerah menjadi Tabel 1. Dasar Hukum Pembentukan Daerah
beberapa daerah otonom baru berakibat kabupaten/kota di Provinsi Maluku
berubahnya batas-batas wilayah daerah baik
secara administratif maupun geospasial No
Kabupaten/Kota Dasar Hukum
.
(keruangan), yang menjadi esensi munculnya
1. Maluku Utara UURI No. 60 Th. 1958
permasalahan serius. Permasalahan tersebut
adalah Konflik batas wilayah [4]. 2. Maluku Tenggara UURI No. 60 Th. 1958
Konflik batas dilihat dari kenyataan 3. Maluku Tengah UURI No. 60 Th.. 1958
praktis diakibatkan oleh beberapa faktor 4. Ambon PPRI No. 13 Th.1979
yaitu faktor yuridis, ekonomi, kultural,
politik dan demografi, sosial, dan
Pada masa Orde Baru atau masa belum
pemerintahan [4]. Dalam konteks faktor
berlakunya otonomi luas, aspek geospasial
yuridis, hal yang sering menjadi sumber
hampir tidak ditemukan dalam dasar hukum
konflik adalah tidak jelasnya batas daerah
pembentukan daerah tingkat II di Provinsi
dalam Undang-Undang Pembentukan
Maluku. Pada UURI No. 60 Tahun 1958
Daerah. Penetapan batas merupakan aspek
misalnya, hanya mengatur mengenai
geospasial yang sangat beresiko untuk
pembagian wilayah administrasi, tetapi tidak
menimbulkan konflik sehingga
menjelaskan aspek batas-batas wilayah yang
mengharuskan adanya tinjauan-tinjauan
seringkali menimbulkan permasalahan.
Pada Peraturan Pemerintah Republik 3. Halmahera Utara UURI No. 1 Th. 2003
Indonesia No. 13 Tahun 1979 dijelaskan 4. Halmahera Timur UURI No. 1 Th. 2003
mengenai perubahan batas wilayah
5. Kepulauan Sula UURI No. 1 Th. 2003
Kotamadya Ambon. Perubahan yang
dimaksudkan pada peraturan pemerintah ini 6. Ternate UURI No. 11 Th. 1999
adalah perubahan luas Kotamadya Ambon 7. Tidore kepulauan UURI No. 1 Th. 2003
dengan penambahan daerah kecamatan dari
Wilayah Kabupaten Maluku Tengah. Batas- Pada UU RI No. 11 Tahun 1999
batas administratif Kotamadya Ambon merupakan dasar hukum di awal masa
sebelumnya ditetapkan dalam Keputusan Reformasi yang dibuat untuk membentuk
Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal Kotamadya Ternate. Pada UU ini dijelaskan
16 Mei Tahun 1888, Nomor 6 Tahun 1888, mengenai batas-batas wilayah seperti halnya
akan tetapi dirasa tidak relevan dengan UU sebelum diberlakukannya Otonomi Luas
kondisi pembangunan Kotamadya Ambon yaitu penyebutan batas pada arah mata angin.
saat itu sehingga diganti dengan PPRI No. 13 Peta sebagai penjelas Undang-undang juga
Tahun 1979. dilampirkan (dinyatakan pada pasal 6 ayat
Aspek geospasial dalam PPRI tersebut 2). Hal ini menunjukkan penekanan terhadap
belum ditemukan dan bahkan batas-batas pentingnya aspek geospasial terhadap dasar
pada arah mata angin juga tidak hukum suatu pembentukan daerah
dicantumkan. Hal ini dapat mengakibatkan administrasi.
permasalahan yang berkelanjutan terkait Hal yang sama juga dapat dilihat pada
tidak adanya penetapan batas yang jelas antar UU RI No. 1 Tahun 2003 dimana Undang-
daerah tingkat II tersebut. undang melampirkan peta untuk
memperjelas batas-batas dari daerah-daerah
Aspek Geospasial dalam UUPD Provinsi yang dibentuk. Peta dapat dilihat pada
Maluku Setelah Otonomi Luas Gambar 1.

Provinsi Maluku Utara merupakan


hasil pemekaran dari daerah induk yaitu
Provinsi Maluku, yang diresmikan pada
tahun 1999. Setelah jatuhnya Orde Baru pada
1998, Maluku Utara yang semula
merupakan bagian dari daerah tingkat I
Provinsi Maluku mengajukan otonomi atas
daerahnya untuk menjadi daerah tingkat I
(provinsi). Kabupaten yang berada di
provinsi Maluku Utara terbentuk setelah
tahun 1998 (berlaku otonomi luas). UUPD
yang digunakan untuk mengkaji aspek
geospasial pada penentuan daerah tingkat II
di Provinsi Maluku Utara antara lain dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Dasar Hukum Pembentukan Daerah


kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara

No Gambar 1. Peta Kabupaten Halmahera Utara (UU RI


Kabupaten/Kota Dasar Hukum No. 1 Tahun 2003)
.
1. Halmahera Barat UURI No. 1 Th. 2003
Halmahera Pada Gambar 2 dapat dilihat peta yang
2. UURI No. 1 Th. 2003
Selatan merupakan lampiran Undang-undang
pembentukan Kabupaten Halmahera Utara.
Peta secara umum sudah menjelaskan
gambaran bentuk geografis daerah
kabupaten, namun informasi geospasial yang
ada di dalamnya masih belum lengkap. Hal
ini dibuktikan dengan tidak adanya
penjelasan mengenai skala peta, sistem
koordinat, serta informasi legenda yang
sangat minim. Peta yang serupa juga
dilampirkan pada UU ini yang menjelaskan
tentang batas Kabupaten Halmahera Selatan,
Halmahera Barat, Halmahera Timur,
Kepulauan Sula, dan Tidore Kepulauan.
Provinsi Maluku juga melakukan
pemekaran untuk kabupaten-kabupaten di
dalamnya. Berikut adalah kabupaten yang Gambar 2. Peta Kabupaten Seram Bagian Timur (UU
terbentuk pada era setelah diberlakukannya RI No. 40 Tahun 2003)
Otonomi Luas.

Tabel 3. Dasar Hukum Pembentukan Daerah Sama halnya dengan UU RI No. 1


kabupaten/kota di Provinsi Maluku Tahun 2003, peta lampiran yang menunjukan
batas daerah pada UU RI No. 40 tahun 2003
No
tidak menunjukkan sistem koordinat dan
Kabupaten/Kota Dasar Hukum skala yang merupakan komponen penting
.
Maluku Tenggara UU RI No. 46 Th. dari informasi geospasial, khususnya dalam
1.
Barat 1999 hal batas kabupaten yang dibentuk. Peta
UU RI No. 46 Th. yang dilampirkan hanya menggambarkan
2. Buru
1999 bentuk geografis kabupaten, garis-garis batas
UU RI No. 40 Th.
3. Kepulauan Aru
2003 dan orientasi mata angin.
UU RI No. 40 Th. Informasi geografis yang paling
4. Seram bagian Barat
2003 lengkap ditunjukkan pada lampiran peta
5. Seram Bagian Timur
UU RI No. 40 Th. untuk UU RI Nomor 32 Tahun 2008, yaitu
2003 tentang pembentukan Kabupaten Buru
Kabupaten Buru UU RI No. 32 Th. Selatan di Provinsi Maluku. Peta dapat
6.
Selatan 2008
UU RI No. 31 Tahun dilihat pada Gambar 3.
7. Tual
2007

Dilihat dari UU RI No. 40 Tahun 2003,


aspek geospasial ditekankan dengan
dilampirkannya peta batas kabupaten untuk
menguatkan batas yang telah dinyatakan
dalam arah mata angin. Hal ini dapat dilihat
pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta Kabupaten Buru Selatan (UU RI No.


32 Tahun 2008)
Pada peta tersebut dapat dilihat bahwa Malifut. Keenam desa yang ingin
peta sudah dilengkapi dengan skala dan digabungkan dalam Kecamatan Malifut
sistem koordinat (sistem koordinat menolak menjadi bagian dari kecamatan,
geografis). Simbol-simbol dan informasi sehingga menimbulkan konflik.
legenda juga sudah lebih lengkap Penyelesaian konflik dapat dilakukan
dibandingkan dengan undang-undang pada dengan melakukan penegasan batas wilayah
tahun-tahun sebelumnya, khususnya sebelum antara kedua kabupaten. Penegasan
diberlakukannya otonomi luas. Peta yang dilakukan harus disesuaikan dengan
dilampirkan pada UU RI No. 32 Tahun 2008 melibatkan pihak kesultanan terjaut serta
merupakan peta dengan skala 1:1.000.000. direvisinya Peraturan Pemerintah tahun 1999
Skala tersebut masih terlalu kecil untuk peta tentang pembentukan Kecamatan Malifut
batas administrasi, diperlukan peta-peta yang dianggap sebagai sumber
pembantu dengan skala besar untuk permasalahan.
memperjelas cakupan batas. Hal ini sangat
membantu untuk menghindari konflik- Kesimpulan
konflik yang sangat mungkin terjadi terkait
dengan batas-batas daerah. Meskipun Aspek geospasial pada Undang-undang
demikian, konflik-konflik batas masih sangat pembentukan daerah masih sangat terbatas
sering terjadi di daerah Maluku. Potensi dan bahkan tidak ada untuk masa belum
konflik tidak dapat diselesaikan hanya diberlakukannya Otonomi Luas. Terbukti
dengan informasi geospasial yang akurat dengan tidak adanya deskripsi batas yang
pada dasar hukum yang digunakan pada tiap jelas mengenai batas-batas wilayah
pembentukan kabupaten/kota di Provinsi kabupaten/kota yang dibentuk sehingga
Maluku. berpotensi menimbulkan kerancuan dalam
interpretasi perundang-undangan tersebut.
Sengketa Wilayah di Provinsi Maluku Masa diberlakukannya Otonomi Luas
Utara (1999-2009) sudah menunjukkan penekanan
terhadap aspek geospasial dalam setiap dasar
Fenomena pemekaran dan penggabungan hukum untuk pembentukan daerah. Hal ini
wilayah di era Otonomi Luas mengakibatkan ditunjukkan dengan lampiran peta yang ada
konflik di Provinsi Maluku Utara [4]. Salah pada setiap dasar hukum. Peta yang
satu konflik yang terjadi adalah perebutan dilampirkan semakin lengkap dari waktu ke
wilayah antara Kabupaten Halmahera Utara waktu sehingga menunjukkan pentingnya
dan Kabupaten Halmahera Barat yang aspek geospasial dalam peraturan
melibatkan enam desa sengketa yaitu Desa perundangan pembentukan daerah.
Pasir Putih, Desa Bobane Igo, Desa Meskipun informasi geospasial sudah
Tetewang, Desa Akelamo Kao, Desa tercantum dalam perundangan, tetap
Akusahu, dan Desa Dum-Dum. Konflik ini diperlukan aktivitas penegasan batas wilayah
bersifat menahun sememnjak terbentuknya fisik pada kabupaten/kota yang berbatasan
Kabupaten Halmahera Utara pada tahun karena potensi konflik dan sengketa yang
2003. sangat tinggi ketika pembentukan daerah
Konflik yang terjadi pada kedua dilakukan.
kabupaten ini diakibatkan oleh
ketidakjelasan batas antara kedua kabupaten,
terutama akibat dibentuknya Kecamatan
1 Daftar Pustaka

[] Suyanto, I., 2005. Otonomi Daerah dan Fenomena Etnosentrisme. Desentralisasi & otonomi daerah, p.241.
2 [] Harmantyo, D., 2007. Pemekaran Daerah dan Konflik Keruangan Kebijakan Otonomi dan
Implementasinya di Indonesia. Makara Sains 11 (1): 16, 22.
3 [] Tri Ratnawari, Pemekaran Daerah, Politik Lokal, dan Beberapa Isu Terseleksi, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009.
4 [] Mou, J., 2015. Konflik Wilayah antara Kabupaten Halmahera Utara dengan Kabupaten Halmahera
Barat. Jurnal Politico, 2(6).
5 [] Hasyim, A., Dharmawan, A.H. and Juan, B., 2010. Analisis Konflik Perebutan Wilayah di Provinsi
Maluku Utara: Studi Kasus Konflik Perebutan Wilayah Antara Kabupaten Halmahera Barat dan
Kabupaten Halmahera Utara tentang Enam Desa. Sodality. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 4(1).

UURI No. 60 Tahun 1958


PPRI No. 13 Tahun 1979
UURI No. 46 Tahun 1999
UURI No. 40 Tahun 2003
UURI No. 22 Tahun 1999
UURI No. 01 Tahun 2003
UURI No. 32 Tahun 2008
UURI No. 31 Tahun 2007
UURI No. 11 Tahun 1999