Anda di halaman 1dari 3

Macam-macam rumput sepakbola

Jika ada yang ingin mengetahui jenis rumput yang digunakan di lapangan sepak bola, berikut
ulasannya.
Jika seorang pelukis membutuhkan kanvas, maka bagi pesepakbola lapangan menjadi tempat
dalam mengekspresikan karya. Banyak hal tentunya yang bisa dilakukan oleh pesepakbola di
atas lapangan sebagai arena tempatnya bermain.
Sepak bola sebenarnya olahraga yang bersifat universal dan fleksibel. Untuk itu, tempat bermain
sepak bola tidak hanya di atas lapangan rumput. Jika Anda pernah ingat, ketika kecil banyak
anak-anak yang bermain sepak bola hanya bermodalkan lapangan yang luas seperti tempat parkir
atau taman yang datar sehingga bisa digunakan bermain bola.
Namun, jika sudah berbicara mengenai sepak bola secara serius maka lapangan dengan rumput
yang hijau menjadi adalah hal wajib dibicarakan. Sebenarnya secara umum rumput memiliki
enam jenis, namun hanya ada tiga jenis rumput yang cocok dipakai untuk lapangan sepak bola
yang direkomendasikan. Ketiga jenis rumput tersebut, adalah Zoysia matrella (ZM), Cynodon
dactylon (CD), dan Axonopus compressus (AC).
Tiga rumput tersebut memiliki kualitas fungsional untuk menjadi rumput lapangan sepak bola
seperti rigiditas, elastisitas, mampu menahan beban, mampu memulihkan diri, dan punya akar
kuat. Tiga jenis rumput ini jelas punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah direnovasi memakai rumput jenis ZM

Yang pertama adalah rumput jenis Zoysia Matrella (ZM) atau dikenal dengan rumput manila.
Rumput ini adalah yang paling baik digunakan untuk lapangan sepak bola dan berstandar
internasional dari FIFA. Rumput ini juga punya warna hijau yang paling pekat diantara dua jenis
lainnya. Memiliki tingkat elastisitas yang baik dan tekstur daun yang runcing sehingga aman saat
mengenai pull sepatu.
Namun, dibalik kelebihannya tentu ada kekurangan. Kekurangan rumput jenis ini adalah biaya
pengelolaan yang sangat tinggi. Selain itu harga rumput ini sangat mahal karena bisa mencapai
Rp80 ribu per meter persegi.
Berikutnya ada rumput Cynodon dactylon (CD), dikenal dengan rumput bermuda. Kualitas
rumput ini hampir sama dengan ZM namun kekuatannya tidak sekuat ZM. Akar rumput ini
sangat mudah terkelupas ketika terinjak pemain. Karena itu, jenis rumput ini lebih banyak
digunakan di lapangan golf meski pada akhirnya belakangan ini banyak klub sepak bola top
dunia yang menggunakan jenis rumput ini.
Yang terakhir, rumput Axonopus compressus (AC) atau rumput gajah. Bisa dibilang jenis ini
adalah rumput liar yang sering tumbuh di taman. Akar rumput ini sangat baik namun bentuknya
lebih lebar dibandingkan ZM dan CD. Rumput ini juga lebih mudah rusak jika tidak dirawat
dengan baik. Untuk itu, banyak stadion di Indonesia yang menggunakan rumput jenis ini karena
biaya yang murah.
Stadion milik Barcelona, Camp Nou (Weloba)

Tetapi, selain ketiga jenis rumput di atas, ada pula rumput buatan atau dikenal dengan istilah
rumput sintetis. Jenis ini memang sangat mudah perawatannya dan murah karena tidak perlu
disiram dan dipotong secara berkala. Tetapi hal buruk dari jenis ini adalah resiko cedera yang
tinggi karena bertekstur kasar sehingga membuat pemain mudah terluka saat jatuh. Untuk itu,
jangan heran jika banyak pelatih klub besar seperti Jose Mourinho selalu mengeluh ketika harus
bertanding di atas rumput sintetis.
Jenis rumput ini banyak dipakai di Rusia atau Ukraina karena faktor cuaca yang dingin. Namun,
meski diklaim menyebabkan resiko cedera yang cukup tinggi, FIFA selalu induk organisasi
sepak bola dunia belum mengeluarkan larangan mengenai penggunaan rumput jenis ini.
Rumput Camp Nou yang berbentuk seperti karpet sebelum dipasang (Youtube)
Dan sebagai informasi tambahan, jika kita lihat rumput stadion di Eropa berbentuk seperti karpet
dan persis seperti rumput sintetis, Anda salah. Rumput di liga top Eropa tidak seperti di
Indonesia yang langsung ditanam di lapangan melainkan ditanam di tempat lain. Baru setelah
rumput tumbuh kemudian dipindahkan ke stadion dalam bentuk gulungan yang menyerupai
karpet.