Anda di halaman 1dari 5

RUMPUT ZOYSIA MATRELLA ATAU RUMPUT MANILA (

RUMPUT JEPANG ) TIDAK KALAH DENGAN RUMPUT


LAPANGAN BOLA EROPA
By Hariyono tukang taman01.24.001 comment

“ Rumput tetangga sering terlihat lebih hijau.” Kenyataannya,


kadang-kadang sebaliknya. Begitu juga dengan rumput di
lapangan Eropa yang terlihat lebih hijau. Meski bagus, bukan
berarti bisa sama baiknya saat dipakai di Indonesia.

Jenis rumput di Eropa atau Australia yang dipakai untuk


lapangan sepakbola, tidak cocok dipakai di Indonesia. Sebab,
salah satu faktornya perbedaan cuaca. Rumputnya juga lebih
tipis dan pertumbuhannya pun lebih lambat. Di Indonesia sendiri
tersedia rumput yang bisa membuat lapangan sepakbola seperti
beralas karpet, enak dipandang, sekaligus aman bagi atlet.

Zoysia matrella lin merr, namanya. Rumput jenis ini biasa


ditemukan di area pantai karena media tanamnya pasir. Rumput
inilah yang direkomendasikan FIFA untuk dipakai di negara
tropis seperti di Indonesia. Kebetulan rumput ini tumbuh di
wilayah Asia. Zoysia punya kasta paling tinggi untuk
penggunaan di lapangan sepakbola. Karena itu, stadion-stadion
besar menggunakan rumput ini.

Menurut Komisaris PT Dins Bangkit Mandiri, Dedhi Nurahman,


awalnya rumput ini dibawa dari Filipina pada masa Orde Lama,
saat Indonesia akan menggelar PON. Baru belakangan diketahui
bahwa Zoysia sebenarnya banyak tumbuh di Indonesia.

Zoysia matrella sendiri, kata Dedhi, tak sulit perawatannya. Hal


yang terpenting, dalam satu bulan misalnya, rumput disiram
sehari sekali, kemudian diberi pupuk, dipangkas dua pekan
sekali, dan sebaiknya dipakai untuk pertandingan saja.

“Kalau dipakai untuk latihan dan pertandingan pun sebenarnya


masih bisa, asal ada jedanya. Itu untuk proses perawatan. Dalam
sepekan lapangan harus diistirahatkan minimal tiga hari,” jelas
Dedhi, yang perusahaannya bergerak di bidang konsultan
fasilitas olahraga.

Zoysia yang memakai media tanam pasir, juga membuat


lapangan lebih empuk. Permukaan yang keras, menurut Dedhi,
terjadi pada lapangan yang menggunakan media tanam tanah. “
Kalau media tanamnya pasir tidak! Apalagi kalau tanaman itu,
pengakarannya sesuai media tanam yang disebar,” ujarnya.
“Zoysia punya pengakaran tebal. Kalau media tanam 20 Cm
pengakarannya 20 Cm juga, kalau semeter, pengakaran semeter
juga.”
Setelah Zoysia, kelas di bawahnya ialah rumput gajah.
Lapangan-lapangan “kelas” kecamatan, disarankan memakai
rumput ini karena mudah perawatannya dan murah.

“Lapangan sekelas ini saya sarankan pakai rumput gajah.


Perawatan lebih mudah, pertumbuhan kuat, tapi pengakaran
cuma di permukaan. Enggak disiram juga yang botak pelan-
pelan, tumbuh lagi,” kata Dedhi, yang ditemui saat mengawasi
pembangunan stadion mini di Ciledug, Tangerang, pekan lalu.

“Di sini juga tadinya minta pakai Zoysia, tapi saya sarankan
rumput gajah, yang biasa saja, karena untuk mengejar tenggat
waktu proyek sesuai program dari pemerintahnya, tidak cukup.
Zoysia butuh waktu enam bulan untuk penanaman sampai bisa
dipakai,” jelas Dedhi sambil menunjuk ke arah lapangan yang
berada di samping underpass Ciledug tersebut. "Di Stadion
Bangka Belitung yang baru kami garap, itu pakai Zoysia, imbuh
dia.

Bila dibawa ke luar daerah, pengiriman rumput Zoysia harus


cepat. Setelah tiba di bandara tujuan, kata Dedhi, rumput harus
segera disemai, agar bernapas, karena suhu di dalam kabin
pesawat pengap bisa membuat rumput layu.

“Makanya biar sampainya tengah malam juga harus langsung


dibawa ke stadion untuk disemai (digelar). Tiga atau empat hari,
baru ditanam,” kata Dedhi.

Subdrainase
Selain rumput yang tumbuh rapi dan terlihat cantik, aspek
subdrainase pun tak kalah penting untuk menghindari
munculnya genangan-genangan di permukaan lapangan, apalagi
sampai banjir. Biasanya di Indonesia, untuk mengatasi persoalan
saat hujan, sistem subdrainase menggunakan pipa-pipa bolong,
yang dipasang di bawah permukaan untuk mengalirkan air ke
pinggir lapangan untuk kemudian dibuang ke luar stadion.

Pipa-pipa dikelilingi koral dengan ukuran dan rancangan


tertentu, kemudian diselubungi lagi oleh bahan khusus yang
fungsinya agar pasir tidak masuk ke saluran drainase. Zaman
dulu orang memakai ijuk.

“Saya biasanya membenamkan pipa-pipa berukuran 4 inci ,


dengan jarak 4 meter, di pasang dengan posisi melintangi
lapangan,” urainya. Lapangan pun memiliki kemiringan
melintang, dari 0,5 persen-0,9 persen. Fungsinya juga untuk
memperlancar aliran resapan air ke pembuangan di pinggir
lapangan.

Keperluan resapan air ini juga disesuaikan dengan curah hujan


yang biasa turun di daerah tersebut. Untuk ini, kadang-kadang
diperlukan konsultasi dengan pihak BMKG. Sehingga,
pembuatan drainase disesuaikan dengan kebutuhan.

Sistem pipa sebenarnya tergolong masih konvensional. Tapi


sebenarnya selain itu, ada sistem portabel. Yaitu, media tanam
ditempatkan pada wadah bertentuk kotak seukuran 1 meter
persegi. Dengan ukuran lapangan sepakbola, wadah tersebut
bisa berjumlah sekira 8.200 kotak.
Sistem itu lebih praktis. Karena bila lapangan akan dipakai
untuk konser misalnya, kotak-kotak yang sudah bernomor,
untuk memudahkan pemasangan ulang, tinggal dipindahkan.
Begitu pun bila ada bagian yang rusak, seperti di depan gawang
dan tengah lapangan, kotak-kotak itu tinggal diganti.

Sistem ini baru dipakai di sejumlah lapangan di Eropa, seperti


milik Ajax Amsterdam.”Di Indonesia belum ada yang
menerapkan sistem ini. Padahal lebih praktis,” kata Dedhi.