Anda di halaman 1dari 7

JPF | Volume I | Nomor 3 | ISSN: 2302-8939 | | 219

PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KEGIATAN SISWA


TERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA
SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 POL-UT
KABUPATEN TAKALAR

Sri Kundi
Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Muhammadiyah Makassar

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian True-Eksperimenyang melibatkan dua kelas, desain yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Post Test Only Control Group design, yang dilaksanakan di SMA Negeri 1
Pol-ut Kab. Takalar bertujuan untuk mengetahui hasil belajar fisika peserta didik. Sampel dalam
penelitian ini yaitu peserta didik kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMA Negeri 1 Pol-ut (Polombangkeng
Utara) Kabupaten. Takalar tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 32 peserta didik ditentukan secara
acak dengan pertimbangan kelas XI homogen. Hasil analisis deskriptif menunjukkan skor rata-rata hasil
belajar fisika peserta didik kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Pol-ut Kab. Takalar yang diajar dengan
menggunakan lembar kegiatan siswa terstruktur sebesar 11,87 dengan standar deviasi sebesar 2,25 dan
skor rata-rata hasil belajar fisika kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Pol-ut Kab. Takalar yang diajar tanpa
menggunakan lembar kegiatan siswa terstruktur 10,00 dengan standar deviasi sebesar 3,53. Dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terhadap hasil belajar fisika peserta didik yang diajar
denganmenggunakan lembar kegiatan siswa tertruktur berada pada kategori “tinggi”.

Kata kunci : Penelitian True Eksperimen, Pengaruh Penggunaan Lembar Kegiatan Siswa Terstruktur,
hasil belajar.

1. PENDAHULUAN dengan baik. Bahkan sekalipun ketiga


elemen tersebut sudah komplit, jika
Proses belajar mengajar merupakan terdapat kelemahan pada salah satu
proses interaksi edukatif yang akan elemen tersebut, maka interaksi tidak
membawa peserta didik pada dunia baru berjalan dengan optimal. Dalam konteks
yang belum pernah dialami sebelumnya. pembelajaran atau proses belajar-
Interaksi edukatif sebagaimana interaksi mengajar, ketiga elemen tersebut adalah
sosial secara umum melibatkan seluruh guru, siswa dan materi pelajaran. Ketiga
aspek komunikasi secara keseluruhan, hal ini menentukan hasil belajar baik atau
yaitu komunikasi verbal dan non verbal tidak.Pesan pembelajaran yang ingin
untuk menyampaikan suatu pesan kepada disampaikan dapat dipahami dengan baik
orang lain. Dalam interaksi atau atau tidak.
komunikasi terdapat tiga elemen, yaitu
komunikator (orang yang menyampaikan Dalam interaksi edukatif, pesan dapat
pesan), komunikan (orang yang menerima berupa uraian tentang topik-topik tertentu.
pesan) dan pesan itu sendiri.Jika salah Arahan guru terhadap siswa tentang
satu dari tiga elemen tersebut tidak ada mempelajari topik-topik tertentu dan
maka penyampaian pesan atau interaksi daftar pertanyaan tentang topik yang
sebagai tujuan utama tidak dapat tercapai sudah dipelajari siswa, serta umpan balik
220

dan informasi mengenai hal-hal yang pemahaman terhadap materi pelajaran


diperlukan.Interaksi edukatif secara tetap melekat dalam ingatan siswa.
formal umumnya dilaksanakan di kelas.
Otomatis ruang dan waktu belajar secara Dari konsep besar di atas munculah
intensif yang dimiliki terbatas. Sehingga Lembar Kerja Siswa sebagai media
keberadaan tiga elemen tersebut kurang pembelajaran yang instan untuk menguji
memadai untuk mencapai proses interaksi kemampuan dan pemahaman siswa
edukatif atau pembelajaran yang optimal. dengan menjawab pertanyaan-
Oleh karena itu dibutuhkan media yang pertanyaan.Karena di dalam Lembar
dapat digunakan oleh guru maupun siswa Kerja Siswa LKS kurang lebih 70 % dari
untuk mempermudah penyampaikan isi keseluruhan buku adalah soal soal.
materi pembalajaran terhadap siswa.Agar Baik pilihan ganda maupun soal isian
siswa bisa lebih mudah memahami materi yang tidak tersedia jawabannya 30 %
pelajaran tersebut.Tuntutan penggunaan sisanya terdiri dari rangkuman pokok
media pembelajaran bagi seorang guru pembahasan secara singkat. Dengan
dapat mempermudah penyampaian menggunakan LKS guru tidak lagi harus
pembelajaran kepada siswa. bersusah-susah untuk mengumpulkan
soal-soal atau pertanyaan. Dengan media
Pelajaran yang ditangkap secara sepintas itu guru hanya dituntut fokus memberikan
oleh siswa, jika siswa tidak didorong agar pemahaman mata ajar yang telah
mendalami atau mempelajari kembali ditentukan secara maksimal. Untuk
materi pelajaran yang telah disampaikan evaluasi maupun tes hasil belajar, guru
tersebut, siswa akan lupa terhadap pokok- cukup menginformasikan dan
pokok pembahasan yang telah dipelajari. mengarahkan terhadap soal-soal yang
Apalagi penjelasan pelajaran yang telah tersedia di dalam LKS.Karena
konvensional, yang lumrah dilakukan kurang lebihnya LKS berperan sebagai
selama ini adalah dengan metode pemandu siswa dalam melaksanakan
ceramah. Pengetahuan yang ditangkap tugas belajar baik secara idividu maupun
dari mendengar secara serius atau kelompok.
membaca itu masih kalah efektif dengan
metode visual yang menggunakan LKS sebagai turunan dari konsep besar
gambar, cerita, dongeng, film maupun menjawab pertanyaan, merupakan media
metode bermain. Karena matode yang penting untuk mengukur pemahaman
terakhir ini tidak membosankan bagi siswa secara kognitif. Menggunakan LKS
siswa dan menarik perhatian.Sehingga berarti memfasilitasi siswa dapat
tanpa disuruh atau dipaksa sekalipun, menjawab soal-soal tentang mata
siswa dapat fokus dengan sendirinya pelajaran yang telah dipelajari. Dengan
terhadap pokok pembahasan yang sedang adanya LKS siswa dapat memahami
berlangsung. materi pelajaran secara keseluruhan
dengan lebih mudah.Karena menjawab
Oleh karena sekolah-sekolah formal tidak soal-soal dalam LKS sama halnya dengan
banyak melakukan terobosan dalam mempelajari tentang suatu hal secara
inovasi media pembelajaran, untuk berulang-ulang. Tentunya siswa akan
memperkuat ingatan siswa, diperlukan memahami secara mendalam. Menjadikan
media yang dapat mendorong atau lebih LKS sebagai instrumen kegiatan belajar
ekstrim lagi dengan menuntut siswa untuk mengajar merupakan strategi yang efektif
kembali mengingat-ingat pelajaran yang untuk melatih ingatan siswa dalam
telah dijelaskan sebelumnya.Sehingga menguasai materi pelajaran. Karena saat
menggunakan LKS, siswa difokuskan
JPF | Volume I | Nomor 3 | ISSN: 2302-8939 | | 221

untuk menjawab soal-soal yang telah b. LKS Terstruktur


tersedia. LKS terstruktur adalah lembar kerja yang
dirancang untuk membimbing siswa
Dengan menggunakan lembar kegiatan dalam suatu program kerja pelajaran
siswa (LKS) Terstruktur sebagai dengan sedikit bantuan dari guru untuk
penunjang untuk meningkatkan aktifitas mencapai sasaran yang dituju dalam
siswa dalam proses belajar dapat pembelajaran tersebut. LKS terstruktur
mengoptimalkan hasilbelajar. Peran LKS dilengkapi dengan petunjuk dan
dalam proses pembelajaran adalah sebagai pengarahan tetapi tidak dapat
alat untuk memberikan pengetahuan, menggantikan peranan guru. Artinya,
sikap dan ketrampilan pada siswa. secara keseluruhan guru masih memegang
Penggunaan LKS memungkinkan guru peranan dalam pelaksanaan dan
mengajar lebih optimal, memberikan perencanaan mengajar yang sudah
bimbingan kepada siswa yang mengalami dipersiapkan sebelumnya yaitu
kesulitan, memberi penguatan, serta menyangkut kegiatan utama seperti
melatih siswa memecahkan masalah, memberi rangsangan, bimbingan,
dimana LKS pun mengandung pengarahan serta dorongan.
permasalahan (problem solving) sehingga
siswa dapat mengembangkan pola pikir Adapun tujuan LKS terstruktur menurut
mereka dengan memecahkan Penyelenggaraan Pemantapan Kerja Guru
permasalahan tersebut. Matematika (dalam Widyastiti, 2007)
adalah sebagai berikut:
Lembar kegiatan siswa dibagi dalam dua  Merupakan alternatif bagi guru untuk
macam, yaitu: (1) lembar kegiatan yang memantapkan pemahaman siswa
berisi sarana untuk melatih, dalam mengarahkan kegiatan belajar
mengembangkan keterampilan serta siswa dan memperkenalkan suatu
menemukan konsep dalam suatu tema definisi, konsep, prinsip, dan
(Lembar Kegiatan Siswa Tak keterampilan.
Berstruktur). (2) lembar kegiatan siswa  Dapat mempercepat proses
yang dirancang untuk membimbing siswa pembelajaran dengan asas
dalam suatu proses belajar mengajar pelaksanaan efektifitas dan efisiensi.
dengan atau tanpa bimbingan guru  Melatih daya pikir siswa agar
(Lembar Kegiatan Siswa Berstruktur) penguasaannya lebih mantap dalam
(Muslimin Ibrahim,2008). mempelajari materi pelajaran.
Menurut Penyelenggaraan
a. LKS Tak Terstruktur Pemantapan Kerja Guru Matematika
LKS tak terstruktur adalah lembaran SLU (dalam Widyastiti, 2007). LKS
sarana untuk menunjang materi terstruktur mempunyai beberapa
pembelajaran sebagai sumber kegiatan kelebihan, diantaranya:
belajar siswa yang dipakai guru untuk  Situasi kelas dapat dikuasai oleh
menyampaikan pembelajaran. Lembar guru, karena guru tidak
kegiatan ini dapat dipakai untuk membelakangi siswa.
mempercepat proses pengajaran, memberi  Meringankan kerja guru dalam
dorongan belajar tiapa individu atau memberikan bantuan kepada siswa
melengkapi materi pelajatan buku paket secara perorangan.
dan dapat berisi petunjuk tertulis atau  Dalam memberikan respon secara
digunakan pengarahan. cepat, sehingga guru secepat
mungkin dapat memprediksikan
222

tingkat ketuntasan siswa terhadap kelas, yakni satu kelas eksperimen dan
pemahaman suatu materi pelajaran. satu kelas control. Variabel bebas dalam
 Dapat mengoptimalkan konsentrasi penelitian ini adalah penggunaan lembar
berpikir siswa, karena situasi yang kegiatan siswa terstruktur, sedangkan
diamati sangat dekat. variabel terikatnya adalah hasil belajar
 Dapat mengoptimalkan aktivitas fisika. Pengolahan data yang digunakan
interaksi dan latihan pemahaman pada penelitian ini adalah dengan
dalam menyelesaikan latihan soal- menggunakan teknik analisis deskriptif
soal. dan analisis inferensial.
 Memerlukan waktu yang relatif
singkat dalam membagikan lembar 3. HASIL PENELITIAN
kegiatan siswa. a. Kelompok Eksperimen
Untuk hasil analisis deskriptif terhadap
Dengan demikian, melalui penggunaan hasil belajar fisika peserta didik pada
LKS Terstruktur siswa akan termotivasi kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel
untuk menemukan sendiri konsep karena di bawah ini:
dengan LKS terstruktur siswa diberikan
Tabel Deskripsi Hasil Belajar Fisika
bimbingan. Selain itu, siswa juga dilatih
Siswa Kelas Eksperimen
untuk berpikir lebih terstruktur atau
sistematis. Statistik
Jumlah sampel 32
2. METODE PENELITIAN Skor ideal 20
Metode yang digunakan dalam penelitian Skor terendah 8
ini adalah true eksperimen(eksperimen
Skor maksimum 16
sesungguhnya), karena dalam desain ini
Skor rata-rata (𝑿) 11,87
dapat mengontrol semua variabel luar
yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Standar deviasi (S) 2,25
Dengan demikian validitas internal Varians (S2) 4,625
(kualitas pelaksanaan rancangan
penelitian) dapat menjadi tinggi.Ciri Berdasarkan Tabel, dapat diketahui
utama dari true eksperimen adalah bahwa, bahwa pada kelas eksperimen
sampel yang digunakan untuk eksperimen menunjukkan skor tertinggi 16 dari skor
maupun sebagai kelompok control maksimum yang mungkin dicapai adalah
diambil secara random dari populasi 20, sedangkan skor terendah 8 dari skor
tertentu. (Emzir, 2010:96) minimum yang mungkin adalah nol dan
skor rata-rata hasil belajar peserta didik
Desain penelitian yang digunakan dalam adalah 11,87 dengan standar deviasi
penelitian ini adalah Post Test Only sebesar 2,25 hal ini menunjukkan bahwa
Contol Group Design yang diilustrasikan skor hasil belajar peserta didik berada di
sebagai berikut kisaran skor rata-rata tersebut. Semakin
kecil skor standar deviasi maka sebaran
R X O1 data akan semakin mendekati skor rata-
R - O2 rata. Dengan menggunakan analisis
taksiran rata-rata, diperoleh taksiran rata-
Populasi yang digunakan dalam penelitian rata terhadap populasi berada diantara
ini adalah siswa kelas XI IPA SMA 11,19 < µ < 12,56sebagaimana
Negeri 1 Pol-ut Kab.Takalar. Sampel ditunjukkan pada Tabel 4.2 di berikut ini:
diperoleh dengan menggunakan teknik
sampling random, sehingga diperoleh dua
JPF | Volume I | Nomor 3 | ISSN: 2302-8939 | | 223

Tabel Distribusi Frekuensi Skor Hasil dengan standar deviasi sebesar 3,53 hal
Belajar Fisika Peserta Didik Kelas ini menunjukkan bahwa skor hasil belajar
Eksperimen Berdasarkan Taksiran Rata- peserta didik berada di kisaran skor rata-
Rata rata tersebut.

Interval Skor Frekuensi Kategori Dengan menggunakan analisis taksiran


<11,19 9 Rendah rata-rata, diperoleh taksiran rata-rata
11,19 < µ < 10 Sedang terhadap populasi berada diantara
12,56 9,31<µ<10,69 sebagaimana ditunjukkan
>12,56 13 Tinggi pada Tabel 3.4 di berikut ini:
Jumlah 32
Tabel Distribusi Frekuensi Skor Hasil
Belajar Fisika Peserta Didik Kelas
Berdasarkan Tabel di atas diperoleh
Kontrol Berdasarkan Taksiran Rata-Rata
bahwa skor< 11,19 peserta didik berada
dalam kategori rendah dengan frekuensi
Interval Skor Frekuensi Kategori
11,19 < µ < 12,56peserta didik berada
dalam kategori sedang dengan frekuensi <9,31 14 Rendah
10, dan >12,56 peserta didik berada dalam 9,31< μ < 6 Sedang
kategori tinggi dengan frekuensi 13. Hal 10,69
ini menunjukkan bahwa hasil belajar >10,69 12 Tinggi
fisika peserta didik yang diajar dengan Jumlah 32
menggunakan Lembar Kegiatan Siswa
Terstruktur berada dalam kategori tinggi.
Berdasarkan Tabel 3.4 di atas diperoleh
bahwa nilai <9,31peserta didik berada
b. Kelompok Kontrol dalam kategori rendah dengan frekuensi
Untuk hasil analisis deskriptif terhadap
9,31< μ < 10,69peserta didik berada
hasil belajar fisika siswa pada kelas
dalam kategori sedang dengan frekuensi
kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.3 di
6, dan >10,69 peserta didik berada dalam
bawah ini:
kategori tinggi dengan frekuensi 12.
Tabel Deskripsi Hasil Belajar Fisika Berdasarkan pengkategorian hasil belajar
Siswa Kelas Kontrol fisika, nilai tersebut berada pada kategori
rendah.
Statistik
Jumlah sampel 32 Berdasarkan hasil analisis statistik
Skor ideal 20 deskriptif pada kelas eksperimen dan
Skor terendah 2 kelas kontrol, diperoleh hasil penaksiran
rata-rata nilai hasil belajar fisika peserta
Skor maksimum 16
didik yang diajar dengan menggunakan
Rata-rata (𝑿) 10,00
lembar kegiatan siswa terstruktur lebih
Standar deviasi (S) 3,53 tinggi dibandingkan tanpa menggunakan
Varians (S2) 9,89 lembar kegiatan siswa terstruktur.
Berdasarkan pengkategorian hasil belajar
Dari Tabel, dapat diketahui bahwa pada fisika, nilai peserta didik yang diajar
kelas kontrol menunjukkan skor tertinggi dengan menggunakan lembar kegiatan
16 dari skor maksimum yang mungkin siswa terstruktur tersebut berada pada
dicapai adalah 20, sedangkan skor kategori tinggi dan peserta didik yang
terendah 2 dari skor minimum yang diajar tanpa menggunakan lembar
mungkin adalah nol dan skor rata-rata kegiatan siswa terstruktur berada pada
hasil belajar peserta didik adalah 10,00 kategori rendah.
224

Pada pembelajaran dengan menggunakan tidak aktif belajar sehingga pembelajaran


lembar kegiatan siswa terstruktur yang diperoleh kurang bermakna dan
merupakan salah satu pendekatan peserta didik tidak mampu mengingat
pembelajaran yang dititik beratkan kepada materi pembelajaran tersebut dalam waktu
peserta didik. Dimana peserta didik akan yang lama.
merumuskan pertanyaan, dan peserta
didik sendiri yang menemukan jawaban Kelebihan dari penggunaan lembar
terhadap pertanyaan yang telah kegiatan siswa terstruktur ini yaitu
dirumuskannya tersebut. Dengan cara kegiatan pembelajarannya tidak terpusat
seperti ini peserta didik menjadi terbiasa pada guru tetapi di tuntut keaktifan
menjawab pertanyaan sehingga dapat peserta didik sehingga minat peserta didik
meningkatkan kemampuannya dalam dalam pembelajaran fisika lebih besar dan
menyelesaikan pertanyaan yang ada dan peserta didik lebih mudah memahami soal
sehingga pembelajaran yang diperoleh karena di buat sendiri, peserta didik juga
lebih bermakna dan peserta didik akan menjadi terpacu untuk terlibat secara aktif
mengingat materi pembelajaran tersebut dalam membuat soal dan dengan
dalam waktu yang lama. membuat soal dapat menimbulkan
dampak terhadap kemampuan peserta
Membiasakan peserta didik dalam didik dalam menyelesaikan masalah juga
merumuskan, menghadapi dan dapat membantu peserta didik untuk
menyelesaikan soal merupakan salah satu melihat permasalahan yang ada dan yang
cara untuk mencapai penguasaan konsep baru diterima sehingga diharapkan
akan menjadi lebih baik. Untuk mencapai mendapatkan pemahaman yang
pemahaman yang lebih baik dapat mendalam dan lebih baik, merangsang
dilakukan dengan cara mengulang-ulang peserta didik untuk memunculkan ide
masalah yang disampaikan. Dengan yang kreatif dari yang diperolehnya dan
penguasaan konsep yang baik maka memperluan bahasan/ pengetahuan,
secara tidak langsung akan meningkatkan peserta didik dapat memahami soal
hasil belajar fisika. sebagai latihan untuk memecahkan
masalah. Adapun kekurangannya yaitu
Dibandingkan dengan peserta didik yang persiapan guru lebih karena harus
diajar dengan tanpa menggunakan menyiapkan informasi apa yang dapat
menggunakan lembar kegiaatan siswa disampaikan dan waktu yang digunakan
terstruktur. Dimana pembelajarannya lebih banyak untuk membuat soal dan
tidak dititikberatkan kepada peserta didik penyelesaiannya sehingga materi yang
sehingga peserta didik tidak aktif dalam disampaikan lebih sedikit.
pembelajaran. Pada pembelajaran dengan
menggunakan lembar kegiatan siswa Berdasarkan dari uraian diatas “Hasil
terstruktur peserta didik tidak dilatih Belajar Peserta Didik Lebih Tinggi
merumuskan pertanyaan dan menemukan Menggunakan Lembar Kegiatan Siswa
jawaban terhadap pertanyaannya sendiri Terstruktur dibandingkan tanpa
dengan melakukan observasi atau menggunakan menggunakan lembar
pengamatan melainkan guru yang kegiatan siswa terstruktur” pada siswa
memberikan masalah dan guru juga yang kelas XI IPA SMA Negeri 1 pol-ut. Hal
menyelesaikan masalah tersebut sehingga tersebut menunjukkan bahwa hipotesis
pembelajaran dengan tanpa menggunakan yang telah disusun sebelumnya terbukti
lembar kegiatan siswa terstruktur ini kebenarannya di tempat penelitian.
memberikan kesan bukan peserta didik Dengan demikian salah satu upaya yang
yang aktif melainkan guru . Dengan dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil
pembelajaran seperti ini peserta didik belajar fisika peserta didik adalah dengan
JPF | Volume I | Nomor 3 | ISSN: 2302-8939 | | 225

memberikan pembelajaran disertai dengan Sugiyono. 2012. Metode Penelitian


penggunaan lembar kegiatan siswa Pendidikan Pendekatan
terstruktur, khususnya pada siswa kelas Kuantitatif, kualitatif, dan R & D.
XI IPA SMA Negeri 1 pol-ut. Bandung : Alfabeta.

4. PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa: “Terdapat hasil
belajar fisika peserta didik kelas XI IPA
SMA Negeri 1 pol-ut tahun ajaran
2013/2014 lebih tinggi menggunakan
Lembar Kegiatan Siswa Terstruktur
dibandingkan dengan tanpa menggunakan
Lembar Kegiatan Siswa terstruktur”.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Khoiri.2011. Paikem Gembrot.
Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.

Arikunto.2012. Dasar-dasar Evaluasi.


Jakarta: Bumi Aksara.
Emzir.2007.Metodologi Penelitian
Pendidikaan.Jakarta: PT Raja
Grafindo.

Hamdani.2010. Strategi Belajar


Mengajar. Bandung: CVPustaka
Setia.

Pujawan. (2008). Lembar Kerja Siswa


terstruktur. (Online),
(http://matematikablendedlearning
.blogspot.com/2010/11/lembar-
kerja-siswa-lks-terstruktur.html,
diakses 13 juni 2013).

Purwanto. 2008. Evaluasi Hasil Belajar.


Surakarta: Pustaka Belajar.

Subana. M. 2009. Dasar-dasar


Penelitian Ilmiah.Bandung:
CVPustaka Setia.

Sudjana. 1996. Metode Statistik. Tarsito :


Bandung.