Anda di halaman 1dari 2

DESA WUNLAH

I. Identitas Desa
a. Sejarah Berdirinya Desa
Desa Wunlah merupakan salah satu Desa yang awalnya berada di Pulau
Molo. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Desa Wunlah masih bergabung
dengan beberapa desa lain, seperti Desa Nurkat, Tutunametal dan Abat di sebuah
tempat yang bernama “NANGAN ABAT” (Desa Abat lama). Atas inisiatif dari
Almarhum Bapak Itranseu Rahanserang, beliau berpindah dari Nangan Abat menuju
ke pesisir pantai bagian timur Pulau Molo (Desa Wunlah lama) dengan membawa
keluarga beserta anak – anak dan menantunya.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan dari masyarakat yang berpindah
bersama Itranseu semakin banyak. Pemerintah Belanda yang mengetahui bahwa
perkembangan kehidupan masyarakat yang bersama Itranseu semakin besar akhirnya
memerintahkna kepada Itranseu untuk membentuk sebuah desa sendiri yang teprisah
dari Nangan Abat. Dalam rangka menyetujui keinginan kolonial Belanda, Itranseu
yang bertindak sebagai kepala suku sekaligus tuan tanah akhirnya memberi nama
bagi tempat yang mereka diami sekarang sebagai Wunlan yang kemudian berganti
nama menjadi Wunlah.
Nama Desa Wunlah berasal dari bahasa Fordata dan terdiri dari dua suku kata
yaitu Wunu dan Lan. Wunu artinya bintang dan lan artinya yang pertama atau yang
terkemuka. Jadi Wunlah artinya bintang yang terkemuka muncul di bagian timur.
Alasan pemberian nama Desa Wunlah ini di sebabkan karena pada saat itu belum ada
satu desa pun yang mendiami pesisir bagian timur Pulau Molo.
Sejak itu Itranseu dinobatkan menjadi tuan tanah dan pemimpin pertama
yang membawa keluarganya beserta sebagian orang (Lolat atau Wahi lait) pindah
dari Nangan Abat ke Wunlah (pesisir timur Pulau Molo).
Desa Wunlah yang baru terbentuk pun diakui oleh Pemerintah Kolonial
Belanda. Pada saat itu Desa Wunlah telah memiliki batas wilayah yang jelas yaitu :
mulai dari Korik yang berbatasan dengan Desa Wedankou lama sampai ke Warena
berbatasan dengan Desa Abat lama. Kelembagaan adat yang dulunya masih menjadi
satu dengan Nangan Abat, kemudian diserahkan kepada Itranseu sebagai pemimpin
Desa Wunlah untuk memilih dan menetapkan kelengkapan batu adat seperti SOA dan
Saniri Negeri untuk membantu Itranseu sebagai pemimpin. SOA yang dibentuk
antara lain, Soa Rahanserang sebagai tuan tanah sekaligus sebagai pemimpin
pemerintahan, Soa Tawun sebagai marinyo/melafwak, sedangkan Soa Itranmury
sebagai juru bicara dan pengaturan tersebut masih diberlakukan sampai saat ini.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, masyarakat Desa Wunlah
menjadi semakin banyak sementara lahan pertanian yang dimiliki Desa Wunlah
sangat terbatas dan sudah tidak lagi mencukupi untuk bercocok tanam. Maka pada
tahun 1955 Pemerintah Negeri Derek Lakfau Rahanserang dan masyarakat
berinisiatif untuk pindah ke pulau Yamdena bagian Barat. Sejak saat itulah dimulai
upaya – upaya perpindahan dengan cara menjejaki tempat perkampungan yang baru.
Upaya penjejakan ini berhasil dan menemukan sebuah tempat yang tepat untuk
kelangsungan kehidupan baru masyarakat Wunlah yang diberi nama Tarkou (Desa
Wunlah Sekarang). Kemudian pada tanggal 18 Desember 1955 seluruh warga
masyarakat Desa Wunlah secara serempak meninggalkan lokasi Desa Wunlah yang
lama di Pulau Molo menuju lokasi yang baru yaitu Tarkou Yamdena Barat.
Tanggal berpindahnya masyarakat Desa Wunlah ke lokasi yang baru
dijadikan sebagai Hari peralihan Desa atau Hari Ulang Tahun Desa dan tetap
diperingati setiap tahunnya sampai sekarang.

b. Kondisi Umum Desa


Secara administratif Desa Wunlah termasuk dalam wilayah Kecamatan Wuar
Labobar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan terletak di sebelah utara dari
ibukota kabupaten. Luas wilayah Desa Wunlah adalah 45,532 ha dengan batas – batas
desa sebagai berikut,
- Utara : Desa Karatat
- Timur : Hutan Yamdena
- Selatan : Desa Wabar
- Barat : Pulau Labobar
Desa Wunlah memiliki topografi berupa pegunungan dengan ketinggian diantara 0 –
535 mdpl sehingga tergolong ke dalam dataran rendah.

II. Kondisi Sosial Masyarakat, Ekonomi, Pemerintah, dan Budaya


Masyarakat yang menghuni Desa Wunlah kurang lebih berjumlah 926 jiwa dengan
latar belakang pendidikan yang bermacam-macam namun didominasi oleh tamatan sma.
Masyarakat yang mendiami desa ini memiliki profesi yang beragam, mulai dari petani,
nelayan, pengusaha, dokter, aparatur sipil negara, dan guru.
Komoditas pertanian yang banyak dijual adalah kopra, sedangkan komoditas lain
seperti padi, jagung, ubi jalar, ketela pohon, dan jambu mete hanya diperuntukkan
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk komoditas hasil laut, kebanyakan yang banyak
dijual adalah ikan puri.
Dalam segi pemerintahan, masyarakat dikelompokkan ke dalam 4 rukun tangga (rt)
dan guna memperlancar roda pemerintahan, ada beberapa lembaga desa yang telah
didirikan seperti, Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Desa (LPMD), Lembaga Persatuan Pemuda (LPP), Pemberdayaan dan Kesejahteraan
Keluarga (PKK), Lembaga Adat, dan Kader Posyandu.

III. Perkembangan Pendidikan dan Kondisi Kesehatan Masyarakat


Di Desa Wunlah terdapat tiga buah sekolah yang berdiri, yaitu 1 buah gedung sd, 1
buah gedung smp, dan 1 buah gedung sma. Di Kecamatan Wuar Labobar ini hanya
terdapat 1 buah SMA dan 1 buah SMK. Untuk SMA terletak di Desa Wunlah dan SMK
terletak di SMK. Oleh karena itu, wajar jika banyak pemuda di Desa Wunlah karena
mereka ada yang berasal dari desa lain datang dan tinggal di Wunlah untuk mengenyam
pendidikan sma.
Tenaga medis di Desa Wunlah pun juga tergolong cukup banyak yakni berjumlah 14
orang dengan tambahan kader posyandu sebanyak 5 orang. Ditambah lagi sarana dan
prasarana terkait puskesmas juga sudah tersedia di Desa Wunlah, tentu saja hal ini pun
juga meningkatkan taraf kesadaran akan perilaku sehat dalam lingkungan masyarakat
Desa Wunlah. Jelas saja sekarang lingkungan di desa jauh lebih bersih dan tidak banyak
sampah yang berserakan karena didukung dengan program pembinaan perilaku hidup
bersih dan sehat bagi 52 kepala keluarga.