Anda di halaman 1dari 13

Modernitas dianggap sebagai puncak perkembangan masyarakat manapun yang lantas

dijadikan sebagai pedoman untuk bergaya hidup serba lebih “wah” dan baru agar tidak dikatakan
ketinggalan zaman.
Hal seperti ini tentu saja banyak manfaatnya. Tetapi di luar manfaat pasti juga ada
mudlaratnya. Berbagai contoh budaya luar yang bertentangan dengan ajaran Islam bisa kita lihat,
misalnya melalui televisi, majalah, maupun internet. Hal yang tampaknya baru inilah yang akan
menarik bagi masyarakat, terutama para remaja.
Remaja semakin kebingungan mencari trenseter. Bingung memilih mana dan siapa
yang patut dijadikan panutan dalam bermode dan bergaul tanpa peduli bahwa apa yang diikuti itu
pantas atau tidak. Di jalur agama atau tidak. Mereka lupa, bahwa kita hidup di Indonesia yang
punya kebudayaan sendiri. Kebudayaan yang sesuai dengan jiwa keindonesiaan yang santun,
yaitu kebudayaan yang dilandasi dengan agama.
Di tengah-tengah hingar-bingarnya modernitas, kita sebagai remaja muslim wajib
mempertahankan bahkan mengembangkan budaya Islami. Budaya islami yang bisa dijadikan
tameng dalam memfilter budaya-budaya asing yang dirasa negatif dan kurang cocok dianut.
Karena pada dasarnya telah disebutkan dalam Qur’an surat Ar-Ra’du: 11

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum
mereka mengubah pada dirinya.
Saat ini, alhamdulillah kita bisa melihat perkembangan lagu-lagu islami pada aliran pop
maupun rock. Seperti yang dibawakan oleh band Ungu, Gigi, Dewa 19, dll. Belum lagi para
penyanyi solo mulai Iwan Fals, Afgan, dan lain-lain. Perkembangan kesenian islami yang
menggembirakan ini diikuti pula dengan perkembangan mode baju muslim yang semakin
variatif. Sehingga umat Islam yang menutup auratnya kini tidak lagi malu hanya karena memakai
baju panjang dan berkerudung yang dulu terkesan “ndesa”. Hal seperti ini justru menggali
potensi dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat untuk selalu berinovasi dan berkarya.
Semakin banyak orang yang pandai, semakin banyak yang mengembangkan ajaran
Islam dengan perantara budaya yang islami pula. Dengan budaya Islam, berarti dakwah Islam
bisa berjalan, yakni menitikberatkan pada gerakan moral, intelektual, dan ilmu pengetahuan,
serta pembinaan kesadaran beragama yang merupakan landasan etika sekaligus hidup
bermasyarakat. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Rosulullah beserta para sahabatnya yang
mampu merubah sisi negatif perkembangan masyarakat pada masa itu menjadi lebih modern
yang islami. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab : 21

Artinya : Sesungguhnya di dalam diri Rosulullah itu terdapat teladan yang baik
bagimu
Dengan menjalankan kehidupan modern tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai islam,
yakni mengembangkan kebudayaan ataupun kebiasaan yang berciri Islam, insyaallah kita
sebagai remaja muslim, akan bisa menyelamatkan adik-adik kita di masa mendatang dari setan-
setan kemodernan. Jika dalam melakukan segala sesuatu kita berpijak pada agama, kita yakin
negara Indonesia di masa mendatang terselamatkan dari generasi yang tak berpendirian.
PIDATO KEBUDAYAAN KETUA UMUM PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
“BUDAYA SEBAGAI INFRASTRUKTUR PENGUATAN PAHAM KEAGAMAAN”

‫السالم علیكم ورحمة هللا وبركاته‬

6‫ والحول والقوة إالب‬6 ‫بسم هللا الحمد‬

‫والصالة والسالم على رسول هللا وعلى ال وصحبه ومن تبع سنته وجمعاعته من یومنا هذا إلى یوم النهضة‬

Nahdlatul Ulama, merujuk pada penanggalan Masehi, tahun ini berusia 91 tahun. Jika merujuk
pada penanggalan Hijriah, maka NU tahun ini memasuki usia yang ke-94. Secara resmi
peringatan harlah

NU dirayakan pada 16 Rajab 1438 Hijriah. Adapun malam ini kita berkumpul di sini sebagai
bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt sekaligus juga mengenang dan menapaktilasi
perjuangan

pendiri-pendiri Nahdlatul Ulama.

Hadirin yang saya hormati,

Tema “Budaya Sebagai Infrastruktur Penguatan Paham Keagamaan” berangkat dari adagium
yang sangat terkenal dalam usul fiqh:

‫العادة محكمة‬

“Budaya bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan hukum”

Kita juga mengenal hadist :

‫ما رأه المسلمون حسـنا فهو عند هللا حسن‬

“Apa yang dianggap baik oleh orang muslim, maka ia baik”

Dalam tradisi madzab Hanafi kita juga mengetahui adagium:

‫المعروف عرفا كالمشروط شرطا والثابت بلعرف كالثابت بلنص‬

“Yang baik menurut adat kebiasaan adalah sama nilainya dengan syarat yang harus dipenuhi, dan
yang mantap benar dalam adat kebaisaan, sama nilainya dengan yang mantap benar dalam nash”

Pijakan kaidah atau adagium itu bersumber salah satunya dari AlQur’an Surat Al-A’raf ayat 199:

َ‫ض َع ِن ْال َجا ِهلِین‬ ِ ‫ُخ ِذ ْال َع ْف َو َوأْ ُم ْر ِب ْالعُ ْر‬


ْ ‫ف َوأَع ِْر‬

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh.

Budaya-budaya lokal bisa diadopsi menjadi bagian dari hukum syariah sepanjang budaya dan
adat-istiadat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Dengan kata lain,
proses akulturasi budaya atau sinkretisme budaya dan agama sangat mungkin terjadi dalam
ajaran Islam.

Contoh paling kongkret dalam hal ini adalah prosesi tahlil atau kita mengenalnya dengan sebutan
“tahlilan” untuk mendoakan orang meninggal dunia yang diambil dari tradisi budaya pra-Islam
sebagai wadah, digabungkan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, shalawat serta dzikir pada
Allah yang sangat dianjurkan oleh ajaran Islam, sebagai isi dan substansi dari acara tahlil itu
sendiri.

Tradisi tahlilan adalah gabungan sekaligus ramuan kreatif antara budaya di satu pihak dan ajaran
agama di pihak yang lain. Sebagai budaya, proses tahlilan dari awal hingga akhir (selama tujuh
hari

berturut-turut, dilanjutkan di hari ke 40, 100 hari bahkan sampai ke peringatan tahunan/haul)
merupakan infrastruktur yang berfungsi menguatkan sekaligus mengokohkan pelaksanaan syariat
Islam dalam arti membaca fragmen-fragmen penting dari ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Dengan demikian, tahlilan merupakan gabungan antara tradisi lokal dengan ajaran Islam yang
kemudian telah menjadi ibadah ghairu mahdhoh yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat
Indonesia. Itulah implementasi dari kaidah fiqh: Al ‘Adatul Muhakkamah.

Masyarakat Islam di Kabupaten Kudus, Jawa tengah punya tradisi yang unik: mereka tidak
memakan daging sapi sampai saat ini karena ingin menghormati para tetangganya yang
beragama Hindu. Tradisi itu merupakan warisan yang telah turun temurun dilestarikan Sunan
Kudus. Sunan Kudus sangat menghormati tradisi dan budaya masyarakat Hindu yang
menganggap sapi sebagai hewan yang suci.

Maka, sampai saat ini, sebagai bagian dari menjaga tradisi dan menghargai keragaman dengan
semangat toleransi, masyarakat Kudus tidak pernah memakan daging sapi. Banyak contoh lain
dari — meminjam istilah Gus Dur — keberhasilan pribumisasi Islam di bumi nusantara ini.
Sultan Agung sebagai raja tanah Jawa ketika menggabungkan kalender hijriyah ke dalam
kalender Jawa adalah contoh kreasi yang berhasil memberi pemahaman kultur Islam pada rakyat
bawah di pedalaman Jawa.

Islam menyebar di bumi nusantara ini berlangsung secara gradual: pelan tetapi berjalan dengan
pasti. Tahap pertama, biasanya hanya berupa konversi menjadi muslim nominal (Islam KTP)
terlebih dahulu. Baru kemudian pada tahap kedua, mulailah proses pematangan pemahaman
Islam (ortodoksi) setelah memperoleh dukungan infrastruktur berupa budaya lokal. Di sinilah
letak kecerdasan para wali dan pengajar Islam masa-masa awal yang memahami sosilogi dakwah
dengan memeperhatikan karakter dan kultur masyarakat setempat.

Contoh lain, meskipun Kesultanan Demak atau Keraton Mataram amat berperan dalam
penyebaran Islam, tetapi tidak serta-merta langsung memberlakukan syari’at Islam pada seluruh
penduduknya. Mengapa? Cara gradual mengandaikan, ajaran Islam lebih baik tumbuh sebagai
bentuk kesadaran masyarakat (bottom-up), daripada dipaksakan lewat peraturan-peraturan dari
atas (top-down).

Dengan cara gradual dan akulturatif ini, Islam diterima sebagian besar penduduk tidak dengan
menciptakan masyarakat nusantara yang terbelah sebagaimana terbelahnya antara orang Hindu
dengan Muslim di India. Nyaris tidak ada konflik. Islam tersebar dengan sejuk dan damai.

Tarik-menarik secara kreatif antara proses akulturasi dan ortodoksi ini, bukan tanpa mengalami
pasang-surut dan macam-macam tantangan. Ketika proses ortodoksi tengah berlangsung intensif
yang

dilakukan oleh para wali dan seluruh kesultanan di nusantara, penjajah Portugis dan Belanda
datang. Akibatnya, penyebaran ortodoksi Islam menghadapi pembatasan yang sangat luar biasa.

Bentuk hambatan itu antara lain berupa: penghancuran jaringan perdagangan dan dakwah antar
pulau di setiap kesultanan nusantara. Hambatan ini pada gilirannya mengurangi peran Islam
sebagai kekuatan sosial, kultural, dan juga politik. Namun para penyebar Islam tidak kehilangan
cara yang kreatif.
Ketika jaringan niaga dan dakwah maritim menghadapi jalan buntu, pribumisasi Islam
digantikan oleh para kiai pesantren yang umumnya bergelut dengan masyarakat tani di daerah
pedalaman. Para kiai ini merupakan pribadi-pribadi yang matang dididik melalui pendidikan
intensif baik yang berkaitan dengan kualitas ilmu agama ataupun yang berkaitan dengan
pendalaman spiritual (tasawuf).

Kelak, dunia spiritual di pesantren dan masyarakat pertanian lebih dikenal dengan sebutan
tarekat dari pada istilah tasawuf. Proses ortodoksi melalui jaringan pesantren dan tarekat ini
berjalan intensif dan tidak mampu dihadang oleh penjajah Belanda, sehingga perannya sangat
luar biasa untuk keberhasilan islamisasi berlatar belakang budaya di nusantara ini.

Dengan segala pasang surut dan berbagai tantangannya, Islam berbasis kultur setempat itu
kemudian bermetamorfosa (menjelma) menjadi bagian penting sebagai penyumbang paham
keagamaan dan kebangsaan. Kita mengenal mars lagu “hubbul wathan minal iman” yang sangat
populer di kalangan masyarakat NU, itu adalah indikasi kuat bahwa paham keagamaan yang
berlatar belakang infrastruktur budaya telah nyata-nyata menjadi jembatan bersemainya paham
kebangsaan.

Tokoh-tokoh mulai dari HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari
dan KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri serta banyak tokoh lain telah memberi arti
dan makna yang dalam atas kontribusi mereka menjembatani antara paham keagamaan dan
paham kebangsaan.

Jika Imam Syafi’i berhasil meramu teks dengan rasio menjadi produk yang monumental, yaitu
ijma’ dan qiyas, maka Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mampu meramu islam dan
nasionalisme menjadi spirit kabangsaan yang teribingkai dalam diktum yang terkenal:

‫حب الوطن من اإلیمان‬

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Keberhasilan ini tidak ditemui di kawasan-kawasan muslim yang sebelumnya pernah mengalami
masa kejayaan paham negara khilafah di masa lalunya seperti di Negara-negara kawasan Arab
pada umumnya. Di kawasan-kawasan itu, sistem negara khilafah yang utopis masih terus
didambakan, dicari legitimasi pembenarannya bahkan terus dijajakan dan diimpor ke negeri-
negeri lain. Tak terkecuali, ke negeri yang kita cintai ini.

Paham negara khilafah seperti ini serta paham ekstrem yang cenderung gampang menyalahkan
dan mengafirkan terhadap mereka yang tak sepaham dengannya, sangatlah berbahaya dan akan
mengancam eksistensi paham keagamaan dan kebangsaan yang telah dibangun dengan susah
payah bahkan penuh dengan perjuangan darah oleh para founding fathers bangsa ini.

Kesetiaan menjaga tradisi dan sekaligus terus berupaya mengembangkan penemuan-penemuan


yang inovatif ini adalah prinsip yang dianut oleh Nahdlatul Ulama ini. Kita mengenal prinsip:

‫المحافظة على القدیم الصالح واألخذ بلجدید األصلح‬

“Menjaga tradisi dan mengembangkan inovasi”

Hadirin yang saya hormati,

Kita sekarang sudah menikmati hasil dari titik-temu antara paham keagamaan dan paham
kebangsaaan. Yaitu, berupa kemerdekaan negara ini yang dilanjutkan dengan episode-episode
pembangunan politik yang berliku, hingga kita rasakan sistem politik demokrasi seperti yang ada
sekarang.
Dari situlah saya sebagai Ketum PBNU membayangkan, bermimpi dan bercita-cita: kapan sistem
politik demokrasi prosedural ini bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil. Bisakah demokrasi
prosedural ini mensejahterakan rakyat, menghilangkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin
yang hingga sekarang masih menganga (indeks gini rasio: 0,41% dari produk domistik
bruto/PDB).

Kapan sistem politik demokrasi kita bisa mewujudkan ekonomi yang bukan saja tumbuh dan
berkembang, namun juga yang lebih penting adalah merata.Al-Qur’an menegaskan dalam surat
Al-Hasyr ayat 7:

‫كي الیكون دول بین األغنیاء منكم‬

“Janganlah harta hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian”

Kesejahteraan yang dihasilkan oleh sistem politik prosedural itu, disebut sebagai: demokrasi
substansial. Mengapa demikian? Tak lain karena aspirasi rakyat yang dikelola oleh para
wakilnya di parlemen telah berubah menjadi undang-undang dan peraturan yang memihak
kepada rakyat. Bukan memihak konglomerat.

Bukan berarti kita tidak setuju dengan adanya konglongmerat. Kita setuju dengan adanya
konglongmerat, namun konglomerat yang terus borkomitmen untuk mendorong kemajuan
eknonomi kreatif, mengangkat ekonomi kaum miskin, dan juga komitmen terhadap terciptanya
kelas menengah baru demi tercipatanya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Konglemerat yang demikian itu adalah konglomerat yang sesuai dengan isi hadist:

‫لیس منا من لم یوقر كبیرن ولم یرحم صغیرن‬

Artinya: “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang muda di antara kami
dan tidak menghormati orang yang tua”

Begitu pula, pemerintah yang dipilih rakyat mulai dari presiden,gubernur, bupati/walikota harus
terus membuat kebijakan-kebijakan yang selalu bermuara kepada kesejahteraan rakyat.

Ke depan, pemerintah harus lebih hadir dan bekerja keras untuk bukan saja memajukan dan
menumbuhkan, namun juga memeratakan pembangunan demi terciptanya keadilan sosial bagi

seluruh rakyat Indonesia.

Negara, sekali lagi, harus hadir di dalam kehidupan masyarakat. Yang demikian itulah
sesungguhnya dalam bahasa kaidah fikih disebut dengan:

‫تصرف اإلمام على الرعیة منوط بلمصلحة‬

“Kebijakan pemimpin kepada rakyatnya harus didasarkan kepada kemaslahatan”

Hadirin yang berbahagia;

Adalah Nahdlatul Ulama.

Jauh sebelum Indonesia merdeka pada muktamar 1936 di Banjarmasin menyatakan bahwa
Indonesia adalah Darussalam.

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang para pemimpinya terlibat aktif membidani kemerdekaan Indonesia. Melalui BPUPKI dan
PPKI pada tahun 1945.
Adalah Nahdlatul Ulama

Yang menyerukan resolusi jihad 22 oktober 1945, kewajiban mengangkat senjata


mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang berdiri terdepan melawan PKI pada tahun 1965 menyelamatkan Pancasila.

Adalah Nahdlatul Ulama

Di era orde baru menjadi ormas yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas tunggal

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang terlibat aktif melahirkan era reformasi

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang menolak radikalisme agama dan sentiment SARA, yang kini mengancam keutuhan NKRI

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang puluhan juta warganya istiqomah membentengi Indonesia dari ekstrimisme kiri maupun
ekstrimisme kanan

Adalah Nahdlatul Ulama

Payung besar tegaknya toleransi beragama di Indonesia

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang genap berusia 91 tahun pada 31 Januari 2017, dan tidak pernah sekalipun melakukan
bughat/makar terhadap Pancasila dan NKRI

Inilah Nahdlatul Ulama

Meski dibully, difitnah dan dicaci tetap berdiri membela NKRI

Saudaraku sekalian…

Marilah melayani Nahdlatul Ulama seikhlas NU melayani NKRI

‫شكرا ودمتم في الخیر والبركة والنجاح‬

‫وهللا الموفق إلى أقوم الطریق‬

‫والسالم علیكم ورحمة هللا وبركاته‬

Jakarta, 31 Januari 2017

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA

Silakan disebarkan pidato mengagumkan ini. Meski KH Said Aqil dibully, difitnah dan dicaci, ia
tetap berdiri membela NKRI. “Marilah melayani Nahdlatul Ulama seikhlas NU melayani
NKRI,” kata Kiai Said. (ISNU)
Yang terhormat
Yang terhormat, Rektor UIN Jakarta,
Hadirin sekalian
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saya memulai ceramah saya dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah yang telah memberikan
kesempatan kepada saya serta rombongan, baik dari Al-Azhar maupun dari Majelis Al-Hukama Muslim,
untuk mengunjungi Republik Indonesia dan bertemu dengan rakyatnya yang sangat baik, terutama
dengan saudara-saudara kami seagama. Mereka adalah umat Islam yang sangat menghargai Mesir, hal
itu tercermin dalam kuatnya hubungan antara kedua belah pihak sepanjang sejarah umat Islam dimana
keduanya berpegang teguh pada aqidah dan akhlaq Islam yang mulia.

Mungkin saya tidak berlebihan jika saya memuji bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia
telah Allah pilih sebagai negeri tempat menyebarkan Islam sebagai agama yang menyerukan kepada
kebahagiaan dunia dan akhirat serta menjaga orisinalitas dengan tetap menerima segala hal baru yang
keduanya dipadukan secara baik dalam individu maupun masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia juga telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum
Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, sikap terbuka pada orang lain serta
memotivasi untuk memiliki sumber-sumber kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan menyandarkan diri pada Allah semata, disertai usaha yang optimal sehingga kekuatan materi
dan rohani tetap tercapai secara bersamaan.

Untuk itu, kemampuan bangsa Indonesia memadukan antara ilmu, iman dan amal telah menjadikan
Indonesia mampu melakukan lompatan-lompatan sehingga menjadi salah satu negara termaju di
kawasan Asia. Bahkan Indonesia telah menjadi macan Asia. Indonesia juga telah menjadikan Islam
sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan
merupakan agama kemanusiaan secara universal.

Indonesia juga telah mampu membantah bohongnya tuduhan yang disampaikan oleh musuh-musuh
Islam bahwa Islam adalah agama kemalasan dan tidak produktif sehingga masyarakatnya tidak maju
bahkan Islam dianggap sebagai agama yang menghambat kemajuan ekonomi dan politik. Saat ini
Indonesia telah menjadi model Negara Muslim yang dapat dibanggakan oleh umat Islam seluruh dunia,
karena Indonesia telah mampu mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa terutama di Asia Tenggara.

Indonesia memeluk agama Islam melalui perantara para pedagang muslim. Kawasan Nusantara telah
Allah jadikan berhati lembut dan sangat tertarik kepada Islam, karena ajaran dan akidah Islam yang
sangat jelas toleran dan penuh keadilan. Selain itu kawasan Nusantara merupakan kawasan di Asia yang
pertama kali menerima Islam yang dari waktu ke waktu Islam terus mengalami kemajuan di kawasan
Nusantara sehingga Indonesia menjadi negara muslim terbesar dunia, dan mereka juga merupakan
bangsa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta al-Qur’an dan ajarannya.

Adapun terkait hubungan antara bangsa Indonesia dan Mesir seperti disampaikan para sejarawan
bahwa hubungan tersebut telah dimulai beberapa abad yang lalu melalui hubungan dagang, pendidikan
dan kebudayaan, dimana saat itu banyak para jamaah haji Indonesia yang sengaja datang ke Mesir
untuk menuntut ilmu di Al-Azhar. Para sejarawan Eropa mencatat bahwa pada pertengahan abad ke 19
M telah dimulai kedatangan mahasiswa pelajar Indonesia di Al-Azhar yang menuntut ilmu dari para
ulama Al-Azhar di Mesir.

Indonesia di Al-Azhar, tinggal di asrama-asrama yang di sebut dengan ruwak Jawa. Selain itu banyak
penerbit Mesir yang menerbitkan berbagai karya ulama Indonesia. Pelajar Indonesia di Mesir juga
banyak terpengaruh oleh gerakan-gerakan pembaharuan Mesir terutama yang dilkukn oleh Sheikh
Mohammad Abduh dan para muridnya, ditambah dengan gerakan kebangsaan yang dipimpin oleh
Mustafa Kamel serta para tokoh nasional Mesir lainnya saat itu.

Saat ini ada sekitar 5000 pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar di antara mereka ada
yang menapatkan beasiswa. Saat ini setiap tahun Al-Azhar memberikan 20 beasiswa kepada mahasiswa
Indonesia selain itu setiap tahun Al-Azhar mengirim guru bahasa Arab ke sekolah sekolah di Indonesia
dengan jumlah 31 orang.

Hadirin yang saya hormati,

Zaman kita sekarang ini menghadapi berbagai macam persoalan dan krisis yang sangat serius, terutama
di bidang politik ekonomi dan lingkungan hidup. Persoalan seperti ini yang paling banyak terjadi
terutama di dunia ketiga yang mengancam keamanan kesehatan, masyarakat serta Negara tersebut.
Selain itu kita juga menghadapi ancaman hilangnya rasa perdamaian yang diikuti oleh menyebar luasnya
kekacauan dan kegelisahan serta dominasi kekuatan pihak tertentu yang menguasai orang-orang lemah.
Hal yang lebih buruk lagi hal seperti itu terwujud dengan banyaknya kejahatan dalam bentuk
peperangan serta penumpahan darah mengatasnamakan agama, terutama dengan mengatasnamakan
agama Islam dengan sengaja menyematkan sifat teroris pada Agama Islam, di mana pada saat yang
bersamaan tidak ada satupun agama samawi yang disifati dengan sifat teroris. Tentu saja penyifatan ini
merupakan sebuah kedzaliman dan menipu akal serta pemahaman yang benar serta tuduhan ini sangat
bertentangan dengan realitas dan sejarah umat Islam. Sebab banyak pemeluk agama lain yang justru
banyak menggunakan kekerasan dan tindakan kejahatan yang menggunakan atas nama agama mereka,
hal ini sebagaimana diakui oleh mereka sendiri baik oleh para tokohnya ataupun oleh para pemeluk
biasa. Jika tidak percaya silahkan jelaskan apa yang terjadi dengan perang salib di dunia timur Islam
serta perang atas nama agama di Eropa, ditambah dengan pengadilan-pengadilan yang menjatuhkan
vonis pada penganut agama Yahudi dan umat Islam. Tidakkah semua tindakan dan peperangan ini
merupakan salah satu bentuk terorisme dan kejahatan yang merusak tata nilai kemanusiaan sepanjang
sejarah?

Ada orang yang mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut merupakan kesalahan sejarah yang
telah terjadi sudah sangat lama dan tidak ada pengaruh apapun pada kehidupan kita hari ini. Jika seperti
itu silahkan anda dalami apa yang disebut dengan perang salib dua, di mana peperangan ini telah
menjadi pintu masuk konflik panjang di dunia arab dan dunia Islam. Bahkan seorang penulis Amerika:
John Fifer, menulis buku yang berjudul Perang salib II: perang barat dan penjajahan baru terhadap Islam.
Tentu saja saya di sini tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang dijelaskan oleh penulis tersebut
tetapi saya ingin menekankan bahwa tindakan melanggar batas di luar ketentuan Islam yang dilakukan
oleh sebagian kecil penganutnya di mana tindakan ini sangat ditentang oleh para ulama Islam serta para
pemikirnya bahkan orang awam pun tidak dapat menerimanya, sikap melanggar batas tersebut juga ada
pada pemeluk agama lain dimana para pelakunya dijanjikan akan mendapatkan surga.

Saya tegaskan bahwa dengan membaca kembali sejarah perbandingan terorisme, jelaslah bahwa umat
Islam merupakan umat yang paling adil dan objektif di mana mereka dapat membedakan antara agama
dan sikap sebagian pengikutnya. Umat Islam menilai peperangan yang dilakukan oleh orang barat
terhadap Islam sebagian peperangan orang Eropa terhadap orang Islam dan tidak menuduh agama yang
dianut oleh orang Eropa sebagai landasan ideologis tejadinya peperangan tersebut. Hal ini untuk
membedakan antara nilai-nilai agama dengan perilaku para pemeluknya yang menjual belikan
agamanya, dengan harga yang sangat murah. Hal ini merupakan salah satu wujud penghormatan umat
Islam terhadap keyakinan agama lain mekipun umat Islam di seluruh penjuru dunia banyak ditindas dan
selalu disingkirkan. Hanya saja kita tidak mungkin berdiam diri atas sikap yang menyududkan umat
Islam, pembunuhan massal terhadap umat Islam seperti yang terjadi di Myanmar di tengah-tengah
diamnya masyarakat dan media internasional, padahal mereka mengaku sebagai masyarakat yang
sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan tanpa membedakan antara muslim dan non-muslim.

Kita juga tidak mungkin berdiam diri terhadap apa yang saat ini menimpa masjidil aqsa yang merupakan
kiblat pertama umat Islam dan tempat isra’ mi’raj Rasulullah, dari penjajahan dan penghinaan yang
dilakukan oleh Negara lain sehingga sangat menghinakan nilai-nilai dan peninggalan umat Islam. Jika
seperti ini dunia barat banyak meneriakkan terhadap segala sesuatu sikap permusuhan yang menimpa
orang Kristen di timur, padahal mereka di dunia timur bisa hidup dengan damai dan berdampingan
dengan umat Islam, mereka juga berdiam diri terhadap setiap permusuhan yang menimpa umat Islam
menghancurkan para wanita dan anak-anak mereka. Untuk itu saya katakan jika lembaga-lembaga
keagamaan di barat yang sangat besar membolehkan dirinya untuk menyuruh umatnya dalam
menyikapi peristiwa-peristiwa tersebut, maka saya juga harus memainkan peran saya untuk menyeru
mereka yang memiliki akal dan perasaan di seluruh dunia untuk menyelesaikan problem serta sikap
permusuhan umat non-muslim kepada umat Islam baik di timur maupun di barat. Hal ini saya lakukan
demi mewujudkan perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan baik di timur maupun di barat.

Hadirin sekalian,

Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menurunkan agama untuk memecah belah umat manusia, tidak
juga untuk memberikan kemadharatan dan rasa takut kepada umat manusia tetapi Dia menurunkan
agama sebagai cahaya petunjuk dan rahmah serta kasih sayang. Dimana umat Islam merupakan
makhluk yang sangat jauh dari berbagai tindakan yang berbau terorisme serta tindakan-tindakan
kekerasan pertumpahan darah serta menyia-nyiakan manusia.

Saya secara pribadi tidak pernah menemukan satu buku pun dalam agama lain di dunia ini yang
mengancam setiap pelaku kejahatan terorisme dan pertumpahan darah dengan hukuman yang sangat
berat sebagaimana terdapat dalam kitab suci umat Islam. Dimana Islam mengancam pelaku kejahatan
dengan siksaan yang sangat berat, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, bagaimana
mungkin Islam dijuluki sebagai agama teroris, padahal Islam adalah agama yang diproklamirkan oleh
Rasulnya bahwa Islam adalah yang menjamin setiap manusia merasa aman dan selamat dari tindakan
dan perkataan tetangganya. Rasulullah bersabda, Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram
meneteskan darah, merampas harta dan kehormatan. Islam juga tidak hanya melarang pembunuhan
dan penetesan darah, bahkan Islam juga melarang sikap menakut-nakuti orang lain meskipun hanya
bercanda. Oleh karena itu, saya tidak mungkin, dan tidak masuk akal, agama ini dituduh sebagai agama
terorisme dan haus kekerasan padahal Rasulnya disebut sebagai pembawa kasih
sayang kepada seluruh umat manusia.

Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa kata kasih sayang yang disebut berulang-ulang dalam al-Qur’an
dan diikuti dengan kata-kata kejujuran, keadilan, amanah, memaafkan dan memenuhi janji berkali-kali
bahkan kata kasih sayang yang diajarkan Islam disebut dalam Alquran, bukti lain adalah bahwa kasih
sayang yang diajarkan oleh Islam tidak hanya untuk sesama muslim tetapi harus berlaku untuk seluruh
umat di seluruh dunia, baik makhluk hidup maupun benda mati. Jika Anda memperhatikan sejarah nabi
Muhammad maka Anda akan terkejut dengan perilaku beliau yang sangat penuh dengan nilai-nilai cinta
kasih yang terwujud dalam perilakunya baik kepada manusia, hewan maupun makhluk lainnya.

Untuk itu saya berharap agar seluruh hadirin dapat memperbandingkan antara akhlak dan nilai luhur
yang diajarkan oleh Islam bahkan pada saat terjadi peperangan dalam bentuk sikap adil kepada musuh,
dilarang membunuh wanita, orang tua serta anak kecil. Sikap ini membuktikan bahwa Islam sangat
menekankan nilai-nilai kasih sayang meskipun kepada musuh. Oleh sebab itu sangat tidak masuk akal
jika saat ini dengan sangat serampangan Islam dihukumi sebagai agama penyebar kekerasan. Jika saat
ini ajaran agama Islam dikotori dengan perilaku sebagian umatnya yang berani melakukan pembunuhan
meneteskan darah umat Islam dan umat lainnya dengan menilai perbuatan ini sebagai jihad di jalan
allah demi menegakkan Negara Islam, mengkafirkan orang-orang yang berseberangan dengan mereka,
ini merupakan tindakan yang tidak diajarkan oleh Islam bahkan Islam sangat menentang perbuatan
tersebut. Untuk itu Al-Azhar mengemban amanat yang sangat besar untuk menyapaikan pesan ini sebab
kami akan ditanya dihadapan Allah di hari kiamat untuk selalu mengingatkan dan memperbaiki sikap
serta pemikian sebagian kecil pemeluk agama islam yang menyimpang, bahwa sikap-sikap tersebut
bukan bagian dari ajaran Islam, dimana ini sangat merusak citra Islam serta nilai-nilainya yang sangat
suci, serta membuka pintu kepada para musuh Islam untuk menghina Islam dan merendahkannya.
Untuk itu Al-Azhar menyeru para pemuda yang terpengaruh pemikiran-pemikiran yang menyimpang
tersebut agar mereka segera sadar dan kembali kepada jalan yang benar serta mengingatkan bahwa
perilaku mereka yang bersikap ekstrim merupakan perilaku yang sangat dilarang Islam. Untuk itu dalam
rangka mengemban amanah mengingatkan umat Islam, terutama para pemuda tersebut, saya serukan
kepada mereka yang mengotori agama ini agar segera kembali dan menyesali tindakan mereka, dan
segera bertaubat kepada Allah SWT atas tindakan yang telah mengotori ajaran agama Islam. Di sini saya
juga ingin mengingatkan diri saya dan para ulama umat di mana kita semua akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat untuk menghabiskan segala daya upaya untuk
saling menasehati dalam rangka menjaga keutuhan umat serta kemurnian akidah mereka dari ajaran-
ajaran yang ekstrim serta tindakan-tindakan bodoh sebagian kecil pelakunya. Kita juga perlu mengingat
perlunya segera menanamkan fikih yang penuh kemudahan dalam rangka memerangi fikih ekstrim
dengan terus berupaya mengantisipasi upaya westernisasi dan penghancuran identitas umat Islam serta
ajaran agamanya, secara bersungguh-sungguh. Kita juga perlu untuk memperbaiki sitem pendidikan
dalam menanamkan fikih penuh kemudahan menerima orang lain secara berdampingan berdasarkan al-
Qur’an dan sunah dengan menghindarkan berbagai perbedaan kecil dalam hal-hal yang bersifat tidak
prinsipil.

Saya juga menyeru agar umat ini banyak meminta fatwa kepada para ahli ilmu mendalam yang
menganut paham sunni, serta dari mereka yang menguasai temuan-temuan moderan di abad ini.
Mereka juga perlu segera sadar banyaknya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, di mana fanatisme
terhadap golongan telah menjadi hal utama menjadi penyebab perpecahan umat, sehingga para
musuhnya dengan mudah dapat memecah belah umat Islam dan menyebarkan kebencian kepada umat
Islam.

Terakhir tidak ada yang dapat kita lakukan saat ini kecuali berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah
untuk menghindarkan perpecahan umat. Selain itu kita sekalian sebagai ulama umat ini perlu megingat
kembali peringatan dari Rasulullah SAW yang menyerupakan umat akhir zaman ini sebagai menu
makanan yang dapat disantap dengan mudah dan diperebutkan oleh para musuh Islam, untuk itu kita
harus benar-benar sadar akan peringatan nabi ini untuk menghindarkan perpecahan yang menjadikan
umat islam sebagai umat yang hanya menjadi objek umat lain dan tanpa daya upaya. Kita perlu
memaksimalkan segala daya upaya yang kita miliki untuk memaksimalkan segala sumber daya yang kita
miliki untuk memperbaiki kondisi umat agar lebih baik, sehingga jika ini benar-benar kita laksanakan
maka umat Islam akan mendapatkan kejayaan sebagaimana kejayaaan yang pernah dialami masa lalu.
Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Pidato!
Melestarikan Budaya Bangsa Menuju Insan Yang Berakhlak Mulia
Assalamualaikum wr.wb...
Tiada kata yang pantas ku ucapkan selain mengajak hadirin yang ada disini untuk
kupanjatkan puji syukur kehadirat allah swt yang telah melimpahkan rahmatnya. Sehingga kita
dapat bertatap muka dalam acara lomba pidato bahasa indonesia.
Tak lupa pula sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi agung
Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di yaumul qiyamah amin ya rabbal alamin...
Dewan juri yang saya hormati serta teman teman peserta lomba pidato yang saya
banggakan. Pada kesempatan kali ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato bahasa
indonesia yang bertema “Melestarikan Budaya Bangsa Menuju Insan Yang Berakhlak Mulia”
Dalam era globalisasi saat ini akhlak mulia dan kejujuran mempunyai peran yang sangat
penting bagi anak anak dan generasi muda kita. Keduanya merupakan kunci untuk membuka
tabir kebenaran. Akhlak mulia dan iman sebagai ciri kepribadian orang yang beragama, akhlak
mulia bukan saja menjadi diri secara pribadi tetapi juga sebagai standar untuk mengukur tinggi
rendahnya peradaban manusia. Akhlak mulia menunjukkan karakteristik kualitas kepribadian
orang yang beriman dan sebagai landasan utama dalam sebuah tatanan kehidupan yang damai
sejahtera. Jika akhlak mulia sudah tidak ada dalam seorang anak, maka tatanan kehidupan akan
guncang dan muncul sikap saling membenci, mencurigai dan perilaku tak beraturan yang
lainnya. Hingga akhirnya menimbulkan konflik dan perpecahan .
Teman teman peserta lomba pidato yang berbahagia, sekarang ini budaya barat sangat
mudah masuk kedalam diri kita. Budaya ini tumbuh dan berkembang pesat di indonesia.
Anehnya kita selaku generasi muda tampaknya akan lebih menyukai budaya barat ketimbang
budaya negeri kita. Kita akan lebih PD dan merasa lebih gaul jika kita meniru budaya barat yang
sangat mudah sekali ditiru melalui media elektronik, seperti internet dan Hp.
Sebagai seorang pelajar seharusnya berperilaku baik, sopan, mematuhi peraturan dan
norma-norma yang ada, namun yang terjadi tidak sedikit pelajar yang perilakunya brutal. Seperti
melakukan kenakalan-kenakalan yang sangat meresahkan dan mengenaskan. Semua itu terjadi
karena pengaruh budaya barat dan meninggalkan budaya sendiri, serta akhlak mulia sudah
terabaikan. Tata krama, budi pekerti, serta ajaran agama sudah jarang diajarkan di lingkungan
keluarga. Mudah-mudahan saja dengan dimasukkannya pendidikan budi pekerti yang di gabung
dengan pendidikan agama pada kurikulum 2013 bisa menjadikan pelajar dan generasi muda
melestarikan budaya bangsa menuju insan yang berakhlak yang mulia.
Hadirin yang saya hormati, untuk melestarikan budaya bangsa serta menuju insan yang
berakhlak mulia, maka tanamkanlah sikap jujur, sopan santun dan kepribadian yang baik sedini
mungkin kepada anak-anak. Karena akhlak mulia merupakan kunci penyembuhan penyakit
moral.
Hadirin yang saya hormati dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk
melestarikan budaya bangsa menuju insan yang berakhlak mulia marilah kita tanamkan
pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia sedini mungkin. Yang dimulai dari lingkungan
keluarga, sebelum anak mengenal lingkungan diluar rumah. Misalnya orang tua harus
memberikan contoh akhlak mulia antara lain berbuat jujur, tidak mengeluarkan kata-kata kotor
atau menyakitkan hati saat marah. Karena tidak ada pemberian orang tua kepada anak selain
keteladanan yang baik dari orang tua.
Hadirin yang berbahagia marilah kita lestarikan budaya bangsa menuju insan yang
berakhlak mulia dalam pribadi anak dan masyarakat. Kita tidak boleh meniru budaya barat yang
tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Maka insyaallah indonesia bukan hanya akan
di kenal oleh negara lain sebagai negara yang memiliki keanekaragaman budaya, agama, suku
adat istiadat, bahasa, melainkan Indenesia akan di kenal oleh negara lain sebagai negara yang
memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik.
Dewan juri yang saya hormati serta teman-teman peserta lomba pidato yang berbahagia,
demikianlah yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat. Amin...
Apabila ada salah kata saya mohon maaf...
Wassalamualaikum wr.wb...