Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini merupakan masalah besar bagi
bangsa Indonesia. Menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2002/2003, AKI adalah 301 untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, dan AKB
adalah 35 untuk setiap 1000 kelahiran hidup. Ini merupakan angka tertinggi di
ASEAN. Untuk itu kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah yang paling
diprioritaskan dalam penurunan AKI dan AKB.
Departemen kesehatan itu sendiri telah mengeluarkan beberapa program
kesehatan untuk upaya itu. Salah satunya ialah dibentuk desa siaga yang
didalamnya terdapat Poskesdes (Pos kesehatan Desa). Untuk tenaga yang ada
dalam Poskesdes itu sendiri ialah tenaga kesehatan yaitu 1 orang bidan dan tenaga
masyarakat yaitu 2 orang kader.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan
masyarakat itu sendiri, departemen Kesehatan membuat program pelatihan untuk
kader kesehatan agar kader-kader kesehatan didesa siaga nantinya mempunyai
pengetahuan yang lebih. Dengan harapan kader dapat menggerakkkan dan
memperdayakan masayarakat agar tercipta masyarakat yang mandiri untuk hidup
sehat terutama pada Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) guna mencapai penurunan
AKI dan AKB di Indonesia.
Kesehatan merupakan kebutuhan dengan hak setiap insan agar dapat
kemampuan yang melekat dalam diri setiap insan. Hal ini hanya dapat dicapai bila
masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, berperan serta untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehatnya.
Kemandirian masyarakat diperlukan untuk mengatasi masalah
kesehatannya dan menjalankan upaya peecahannya sendiri adalah kelangsungan
pembangunan. GBHN mengamanatkan agar dapat dikembangkan suatu sistem
kesehatan nasional yang semakin mendorong peningkatan peran serta masyarakat.

1
Kemampuan masyarakat perlu ditingkatkan terus menerus untuk menolong
dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Kegiatan pembinaan yang di
lakukan oleh bidan sendiri antara lain mempromosikan kesehatan dalam
pelayanan agar peran serta ibu, remaja, wanita, keluarga dan kelompok
masyarakat di dalam upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
meningkat. Ini sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat. Oleh karena itu,
penulis membuat makalah dengan judul “Upaya Pembinaan Pada Kader, Upaya
Pembinaan Peran Serta Masyarakat, Pendataan Sasaran, serta Pencatatan
Kelahiran dan Kematian Bayi dan Ibu”

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja upaya pembinaan pada kader?
2. Apa saja upaya pembinaan pada dukun?
3. Bagaimana upaya pembinaan peran serta masyarakat?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui upaya pembinaan pada kader
2. Untuk mengetahui upaya pembinaan pada dukun
3. Untuk mengetahui upaya pembinaan peran serta masyarakat

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Upaya Pembinaan Pada Kader


a. Pengertian Kader
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh
masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan
perseorangan maupum masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan yang amat
dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (WHO:1995).
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan
masyarakat. Departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai pelatihan untuk
kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka
kematian ibu dan angka kematian bayi. Para kader kesehatan masyarakat itu
seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga
memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara
sederhana.
Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab terhadap masyarakat
setempat serta pimpinan-pimpinan yang ditunjuk oleh pusat-pusat pelayanan
kesehatan. Diharapkakn mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh
para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader kesehatan masyarakat itu mungkin saja bekerja secara full-time
atau part-time dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar
dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas.

b. Peran Fungsi Kader


Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat antara lain
adalah
1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
2. Pengamatan terhadap masalah kesehatan di desa.
3. Upaya penyehatan lingkungan.
4. Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan anak balita.

3
5. Pemasyarakatan keluarga sadar gizi (Kadarzi).
Kader ditunjuk oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-
tugas kader kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya
dibeberapa Negara, yaitu:
1. Pertolongan pertama pada kecelakaan dan penangan penyakit yang ringan.
2. Melakukan pengobatan sederhana.
3. Pemberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu sebelum dan sesudah
melahirkan.
4. Pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak.
5. Memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi (program UPGK).
6. Program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan.
7. Pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan.
8. Melakukan penyuntikan imunisasi (Kolumbia, Papua New Guinea dan
Sudan).
9. Pemberian motivasi KB.
10. Membagikan alat-alat KB
11. Pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan, kesehatan perorangan dan
kebiasaan sehat secara umum
12. Pemberian motivasi tentang penyakit menular, pencegahan dan perujukan.
13. Pemberian motivasi tentang perlunya follow up pada penyakit menular dan
perlunya memastikan diagnosis
14. Membantu kegiatan di klinik.
15. Merujuk penderita ke puskesmas atau ke rumah sakit
16. Membina kegiatan UKS secara teratur
17. Mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membntu pencatatan
dan pelaporan.

c. Pembentukan Kader
Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini
disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan
pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader di desa
yang telah ditetapkan. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan persiapan tingkat

4
desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan bersama untuk
terlaksananya acara tersebut. Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan
berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini ialah
:
1. Calon kader yang akan dilatih.
2. Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
3. Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
4. Adanya perlengkapan yang memadai.
5. Pendanaan yang cukup.
6. Adanya tempat praktik (lahan praktik bagi kader).

Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sektor. Camat otomatis


bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala
puskesmas. Pelaksaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu
melaksanakan. Adapun pelatihnya adalah tenaga kesehatan, petugas KB (PLKB),
pertanian, agama, PKK dan sector lain.
Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode yang
digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi/demonstrasi, permainan peran,
penugasan dan praktik lapangan. Jenis materi-materi yang disampaikan adalah :
1. Pengantar tentang posyandu.
2. Persiapan posyandu.
3. Kesehatan ibu dan anak
4. Keluarga berencana
5. Imunisasi.
6. Gizi.
7. Penanggulangan diare.
8. Pencatatan dan pelaporan.

d. Syarat Untuk Menjadi Kader


Syarat untuk menjadi seorang kader harus mempunyai latar belakang
pendidikan yang cukup, yaitu :
1. Bisa membaca

5
2. Bisa menulis
3. Bisa menghitung secara sederhana
4. Mau menjadi seorang kader

e. Strategi Untuk Menarik Minat Menjadi Kader


Untuk menarik minat Toma dan Toga menjadi kader, yang perlu kita lakukan,
yaitu :
1. Mengumpulkan Toma dan Toga dalam suatu pertemuan. Tujuannya agar kita
lebih mudah dalam memberikan pengarahan tentang kader tersebut.
2. Menjelaskan bahwa menjadi kader itu merupakan suatu tindakan yang sangat
mulia, karena perannya sangat penting dimasyarakat.
3. Menjelaskan bahwa kader merupakan suatu tugas tanpa pamrih, dimana
seorang kader menjalankan tugasnya untuk kepentingan seluruh masyarakat yang
ada di lingkungannya.

f. Strategi Menjaga Eksistensi Kader


Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu adanya strategi agar mereka
dapat selalu eksis membantu masyarakat di bidang kesehatan. Beberapa upaya
yang dapat dilaksanakan adalah :
1. Refreshing kader posyandu pada saat posyandu telah selesai
dilaksanakan oleh bidan maupun petugas lintas sector yang mengikuti kegiatan
posyandu.
2. Adanya paguyuban kader posyandu tiap desa dan dilaksanankan pertemuan
rutin tiap bulan bulan secara bergilir di setiap posyandu.
3. Revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana
semua kader diundang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan bisa
juga diberikan rewards.
4. Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis ke puskesmas
untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi yang lain yang
diberikan setiap tahun.
Para kader kesehatan yang bekerja di pedesaan membutuhkan
pembinaan/pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka dan masalah

6
yang dihadapinya. Salah satu tugas bidan dalam upaya menggerakkan peran serta
masyarakat adalah melaksanakan pembinaan kader. Adapun hal-hal yang perlu
disampaikan dalam pembinaan kader adalah:
1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan
siaga)
2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
3. Penyuluhan gizi dan keluarga berencana
4. Pencatatan kelahiran dan kematian bayi atau ibu
5. Promosi tabulin, donor darah berjalan, ambulan desa, suami siaga, satgas
gerakan sayang ibu.

B. Pengertian Dukun
Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh
masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai
kebutuhan masyarakat. Dukun bayi adalah seorang wanita atau pria yang
menolong persalinan. Kemampuan ini diperoleh secara turun menurun dari ibu
kepada anak atau dari keluarga dekat lainnya.
Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang
wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki ketrampilan menolong
persalinan secara tradisional dan memperoleh ketrampilan tersebut dengan cara
turun temurun belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah
penigkatan ketrampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan. .
Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang
wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki keterampilan menolong
persalinan secara tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan cara
turun-temurun belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah
peningkatan keterampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan.
Dukun bayi adalah seorang wanita atau pria yang menolong persalinan.
Kemampuan ini diperoleh secara turun menurun dari ibu kepada anak atau dari
keluarga dekat lainnya.

7
1. Ciri-Ciri Dukun Bayi
Dukun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pada umumnya adalah seorang anggota masyarakat yang cukup dikenal di
desa.
b. Pendidikan tidak melebihi pendidikan orang biasa, umumnya buta huruf
c. Pekerjaan sebagai dukun umumnya bukan untuk tujuan mencari uang tetapi
karena ‘panggilan’ atau melalui mimpi-mimpi, dengan tujuan untuk
menolong sesama
d. Disamping menjadi dukun, mereka mempunyai pekerjaan lainnya yang tetap.
Misalnya petani, atau buruh kecil sehingga dapat dikatakan bahwa pekerjaan
dukun hanyalah pekerjaan sambilan
e. Ongkos yang harus dibayar tidak ditentukan, tetapi menurut kemampuan dari
masing-masing orang yang ditolong sehingga besar kecil uang yang diterima
tidak sama setiap waktunya
f. Umumnya dihormati dalam masyarakat atau umumnya merupakan tokoh yang
berpengaruh, misalnya kedudukan dukun bayi dalam masyarakat

2. Pembagian dukun bayi


Pembagian Dukun Bayi, Menurut Depkes RI, dukun bayi dibagi menjadi 2
yaitu :
1. Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan
oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2. Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih
oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum
dinyatakan lulus.
Pembinaan dukun adalah suatu pelatihan yang di berikan kepada dukun bayi
oleh tenaga kesehatan yang menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan dukun
yang bersangkutan, terutama dalam hal higiene sanitasi, yaitu mengenai
kebersihan alat – alat persalinan dan perawatan bayi baru lahir, serta pengetahuan
tentang perawatan kehamilan , deteksi dini terhadap risiko tinggi pada ibu dan
bayi, KB, gizi serta pencatatan kelahiran dan kematian.

8
Pembinaan dukun merupakan salah satu upaya menjalin kemitraan antara
tenaga kesehatan (bidan) dan dukun dengan tujuan menurunkan angka kematian
ibu dan bayi. Supervise / pembinaan adalah bimbingan teknis yang terus menerus
dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan.

3. TUJUAN PEMBINAAN
Untuk meningkatkan status dukun, maka di lakukan upaya pelatihan dan
pembinaan dukun dengan tujuan :
1. Agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan
diterima oleh anggota masyarakat.
2. Memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan
di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak.
3. Untuk memperbaiki kegiatan – kegiatan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh
dukun, seperti memberikan, saran tentang kehamilan, melakukan persalinan
bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat
persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat dikurangi atau di
cegah sedini mungkin.
Tujuan supervisi / bimbingan dukun bayi :
a. Menjaga, menpertahankan, meningkatkan ketrampilan dukun bayi
b. Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan cakupan hasil kegiatan dukun
dalam merawat bumil, bulin dan bufas
c. Sebagai kesempatan pemasukan bahan habis pakai.
d. Sebagai bahan asupan dalam penyusunan laporan kegiatan petugas puskesmas

4. Kelebihan Dan Kekurangan Dukun Bayi


a. Kelebihan
a. Dukun merawat ibu dan bayinya sampai tali pusatnya putus
b. Kontak ibu dan bayi lebih awal dan lama
c. Persalinan dilakukan di rumah
d. Biaya murah dan tidak ditentukan.

9
b. Kekurangan
a. Dukun belum mengerti teknik septik dan anti-septik dalam menolong
persalinan.
b. Dukun tidak mengenal keadaan patologis dan kehamilan, persalinan, nifas dan
bayi baru lahir.
c. Pengetahuan dukun rendah sehingga sukar ditatar dan di ikutsertakan dalam
program pemerintah.

c. Kesalahan Yang Sering Dilakukan Dukun Bayi


Kesalahan yang sering dilakukan oleh dukun sehingga dapat mengakibatkan
kematian ibu dan bayi, antara lain :
a. Terjadinya robekan rahim karena tindakan mendorong bayi didalam rahim dari
luar sewaktu melakukan pertolongan pada ibu bersalin
b. Terjadinya perdarahan pasca bersalin yang disebabkan oleh tindakan mengurut-
ngurut rahim pada waktu kala III
c. Terjadinya partus tidak maju, karena tidak mengenal tanda kelainan partus dan
tidak mau merujuk ke puskesmas atau RS.
d. Untuk mencegah kesalahan tindakan dukun tersebut di perlukan suatu
bimbingan bagi dukun.

5. UPAYA PEMBINAAN DUKUN


Masyarakat masih menganggap dukun sebagai tokoh masyarakat yang patut
di hormati, memiliki peranan penting bagi ibu – ibu di desa. Oleh karena itu, di
butuhkan upaya agar bidan dapat melakukan pembinaan dukun. Beberapa upaya
yang dapat di lakukan bidan di antaranya adalah :
1. Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
2. Melakukan pendekatan dengan para dukun.
3. Memberikan pengetahuan kepada para dukun tentang pentingnya persalinan
yang bersih dan aman.
4. Memberi pengetahuan kepada para dukun tentang komplikasi – komplikasi
kehamilan dan bahaya proses persalinan.

10
5. Membina kemitraan denga dukun dengan memegang asas saling
menguntungkan.
6. Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus – kasus risiko tinggi
kehamilan kepada tenaga kesehatan.
a. Pelaksana Pembinaan Dukun Bayi
Pelaksana supervisi / bimbingan / pembinaan :
- Dokter
- Bidan
- Perawat kesehatan
- Petugas imunisasi
- Petugas gizi
b. Tempat Pembinaan
Tempat pelasanaan pembinaan dukun bayi :
- Posyandu pada hari buka oleh petugas / pembina posyandu
- Perkumpulan dukun bayi dilaksankan di puskesmas.
c. Waktu Pembinaan
Waktu pelaksanaan pembinaan dukun bayi
a. Saat kunjungan supervisi petugas puskesmas di posyandu di desa tempat
tinggal dukun.
b. Pertemuan rutin yang telah disepakat
c. Waktu-waktu lain saat petugas bertemu dengan dukun bayi
d. Saat mendampingi dukun bayi waktu menolong persalinan

6. KLASIFIKASI MATERI PEMBINAAN DUKUN


a. Promosi Bidan Siaga
Promosi adalah suatu usaha dari pemasar dalam menginformasikan dan
mempengaruhi orang atau pihak lain sehingga tertarik untuk melakukan transaksi
atau pertukaran produk barang atau jasa yang dipasarkannya.
Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan
yang diakui oleh negara serta memperoleh kodifikasi dan diberi izin untuk
menjalankan praktek kebidanan wilayah itu.Bidan siaga adalah seorang bidan
yang telah dipercaya dan diberi kepercayaan yang lebih dari pemerintah/ negara

11
untuk membantu masyarakat. Promosi Bidan Siaga merupakan salah satu cara
untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan
dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan
persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun
menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat
dilibatkan dalam perawatan Bayi Baru Lahir ( BBL).
Apabila cara tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka dengan kesadaran,
dukun akan memberitahukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga
kesehatan ( bidan ). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi
diwilayah tersebut semakin meningkat.
b. Peran Dukun Paraji
1. Membantu bidan dalam merencanakan kunjungan ke posyandu kelompok ibu
atau KPKIA.
2. Mendampingi bidan dalam melaksanakan kunjungan.
3. Memberikan masukan tentang kebutuhan masyarakat akan kunjungan dan
materi pelatihan atau penyuluhan.
4. Memberikan penyuluhan tentang :
a. Kebersihan atau kesehatan secara umum.
b. Kesiapan dalam menghadapi kehamilan.
c. Makanan bergizi dan pencegahan anemia.
d. Kematangan seksual, dan kehidupan seksual yang bertanggung jawab.
e. Bahaya kehamilan pada usia muda.
f. Perencanaan keluarga sehat sejahtera (KB).
Salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan
melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama
dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai
apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bu bidan. Dukun
bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir.

12
c. Peran Dukun Bayi dalam Memberikan Promosi Kesehatan pada Ibu
Hamil untuk Bersalin dengan Tenaga Kesehatan
1. Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda
bahaya selama kehamilan
2. Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang
ketidaknyamanan selama kehamilan serta cara mengatasinya.
3. Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tantang
pentingnya menjaga personal hygiene
4. Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan tentang pentingnya tablet Fe
pada ibu hamil yang anemia, atas pengawasan bidan.
5. Dukun bayi mampu mendeteksi dini resiko persalinan dengan harapan dapat
membantu tenaga kesehatan untuk membantu resiko persalinan yang terjadi.
6. Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan dengan
memotivasi ibu hamil agar bersalin dengan tenaga kesehatan.
7. Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda
bahaya persalinan.
8. Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan pada ibu hamil
untuk persiapan persalinanan.
9. Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tentang cara
mengejan yang baik saat bersalin.
10.Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang
pentingnya perawatan payudara.
11.Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan untuk
pemberian ASI Eksklusif segera setelah persainan.
12.Dengan memberi penyuluhan dan promosi kesehatan diharapkan dukun bayi
mampu meningkatkan harapan hidup ibu dan bayi.

7. LANGKAH – LANGKAH PEMBINAAN DUKUN


Pembinaan dukun di lakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan
peraturan dari masing – masing daerah atau dukun berasal, karena tidaklah mudah
mengajak seorang dukun untuk mengikuti pembinaan.

13
Beberapa langkah yang dapat di lakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah
sebagai berikut :
1. Meminta bantuan pamong desa untuk memotivasi dukun bayi agar bersedia
mengikuti pelatihan – pelatihan dukun yang di selenggarakan.
2. Mengajak dukun bayi yang sudah di latih untuk ikut serta memberikan
penyuluhan dan membantu melakukan deteksi dini ibu risiko tinggi di posyandu
maupun pada kegiatan – kegiatan yang ada di masyarakat.

8. HAMBATAN DAN SOLUSI DALAM PEMBINAAN DUKUN


Hambatan – hambatan yang sering di jumpai dalam melakukan pembinaan dukun
di masyarakat di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Sikap dukun yang kurang kooperatif
b. Kultur yang kuat
c. Sosial ekonomi
d. Tingkat pendidikan
1. Sikap Dukun yang Kurang Kooperatif
Faktor yang menyebabkan sikap dukun tidak kooperatif adalah adanya
perasaan malu apabila di latih oleh bidan, dukun merasa tersaingi oleh bidan, dan
dukun terlalu idealis dengan cara pertolongan persalinan yang di lakukan.
Solusi :
Informasikan dan tekankan kepada dukun bahwa pembinaan yang di lakukan
bukan untuk melakukan perubahan metode atau kebiasaan yang di lakukan oleh
dukun dalam melakukan pertolongan persalinan atau untuk bersaing. Akan tetapi,
pembinaan yang di lakukan bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman baru
dalam pelayanan kebidanan. Bidan harus mengajak dukun untuk bekerja sama
dengan cara memberikan imbalan sebagai ucapan terima kasih. Libatkan dukun
dalam perawatan bayi baru lahir, misalnya memandikan bayi.
2. Kultur yang Kuat
Sosial budaya mengenai dukun yang merupakan hambatan dalam upaya
pembinaan dukun adalah sebagai berikut :
a. Dukun bayi biasanya adalah orang yang di kenal masyarakat setempat.
b. Kepercayaan masyarakat terhadap dukun di peroleh secara turun temurun.

14
c. Dukun bayi masih memiliki peranan penting bagi perempuan di pedesaan.
d. Biaya pertolongan persalinan dukun jauh lebih murah daripada tenaga
kesehatan.
e. Pelayanan dukun di lakukan sampai ibu selesai masa nifas.
f. Masyarakat masih terbiasa dengan cara – cara tradisional.
Solusi :
Lakukan berbagai metode pendekatan dengan tokoh – tokoh masyarakat, misalnya
pamong desa, para petua – petua desa, tokoh agama yang sangat berpengaruh
pada pola pikir masyarakat dengan memberikan penjelasan pentingnya pembinaan
dukun, sehingga tokoh – tokoh masyarakat dapat melakukan advokasi kepada
masyarakat, dan dapat memperbaiki kebudayaan yang melekat pada diri
masyarakat yang dapat merugikan kesehatan terutama kesehatan ibu dan bayi.
3. Sosial Ekonomi
Masyarakat denagn sosial ekonomi rendah atau miskin dengan pendidikan
yang rendah cenderung mencari pertolongan persalinan pada dukun. Masyarakat
yang demikian beranggapan bahwa dukun adalah seorang pahlawan, karena
melahirkan di dukun lebih murah, dukun bersedia di bayar dengan barang, dan
pembayarannya dapat di angsur.
Solusi :
Sosialisasikan atau apabila di butuhkan musyawarahkan dengan masyarakat
tentang biaya persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Bidan harus dapat bekerja
sama dengan masyarakat mengenai persalinan, berdayakan masyarakat dalam
upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi dengan pertolongan persalinan di
tenaga kesehatan. Bidan dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan
pemetaan ibu hamil, membentuk tabungan ibu bersalin (Tabulin), donor darah
berjalan, dan ambulans desa.
4. Tingkat pendidikan
Kebanyakan di masyarakat, dukun adalah orang tua yang harus di hormati
dan mempunyai latar belakang pendidikan rendah. Oleh karena dukun memliki
latar belakang pendidikan rendah, sehingga tidak jarang dukun sulit untuk
menerima pemahaman dan pengetahuan baru.

15
Solusi :
Bidan harus memiliki ketrampilan komunikasi interpersonal dan memahami
tradisi setempat untuk melakukan pendekatan dan pembinaan ke dukun – dukun.
Lakukan pendekatan sesuai dengan tingkat pendidikan dukun, sehingga mereka
dapat memahami dan menerima pengetahuan serta pemahaman baru khususnya
mengenai kahamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.

C. Upaya Pembinaan Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat adalah proses dimana individu, keluarga,
lembaga, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha dan masyarakat luas pada
umumnya :
1. Mengambil tanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri,
keluarga dan masyarakat
2. Mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam upaya peningkatan
kesehatan mereka sendiri dan masyarakat sehingga termotivasi untuk
memecahkan masalah kesehatan yang di hadapinya
3. Menjadi perintis pembangunan kesehatan dan memimpin dalam
perkembangan kegiatan masyarakat dibidang kesehatan yang dilandasi dengan
semangat gotong royong ( Depkes RI 1997 ).
Peran serta masyarakat adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan
berdasarkan gotong royong dan swadaya masyarakat dalam rangka menolong
mereka sendiri, mengenal, memecahkan masalah, dan kebutuhan yang dirasakan
masyarakat, baik dalam bidang kesehatan maupun dalam bidang yang berkaitan
dengan kesehatan agar mampu memelihara kehidupannya yang sehat dalam
rangka meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan masyarakat
Tujuan pembinaan peran serta masyarakat yang dilakukan oleh bidan adalah
terwujudnya upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan
kesehatan ibu, anak, keluarga berencana menuju keluarga sehat dan sejahtera.
Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai upaya dilakukan oleh bidan, seperti :
1. Peningkatan peran pemimpin di masyarakat untuk mendorong dan
mengarahkan masyarakat dalam setiap upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga
berencana.

16
2. Peningkatan dan kesadaran serta kemauan masyarakat dalam pemeliharaan,
perbaikan dan peningkatan keluarga terutama kesehatan ibu, anak dan keluarga
berencana.
3. Dorongan masyarakat untuk mengenali potensi tersedia yang dapat
dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan masyarakat ( Melani N, 2009 ).
Selain itu juga, tujuan peran serta masyarakat adalah tujuan program peran
serta masyarakat yang meningkatkan peran dan kemandirian dan kerja sama
dengan lembaga – lembaga non pemerintah yang memiliki visi sesuai, yaitu
meningkatkan kuantitas dan kualitas kelembagaan dan organisasi non pemerintah
dan masyarakat, memperkuat peran aktif masyarakat dalam setiap tahap dalam
proses pembangunan melalui peningkatan jaringan kemitraan dengan masyarakat
(Laluna A, 2008). Langkah pembinaan peran serta masyarakat antara lain :
1. Melaksanakan penggalangan, pemimpin dan organisasi di masyarakat melalui
dialog untuk mendapatkan dukungan.
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan
masalah kesehatan keluarga dengan menggali dan menggerakkan sumber daya
yang dimilikinya.
3. Melaksanakan kegiatan kesehatan keluarga untuk masyarakat melalui kader
yang telah terlatih ( Depkes RI, 1997 ).
Faktor – faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat antara lain adalah
1. Manfaat kegiatan yang dilakukan
Jika kegiatan yang dilakukan memberikan manfaat yang nyata dan jelas bagi
masyarakat maka kesediaan masyarakat untuk berperan serta menjadi lebih besar.
2. Adanya kesempatan

Kesediaan juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan atau ajakan untuk


berperan serta dan masyarakat melihat memangg ada hal – hal yang berguna
dalam kegiatan yang akan dilakukan.
3. Memiliki keterampilan
Jika yang dilaksanakan membutuhkan keterampilan tertentu dan orang
mempunyai keterampilan sesuai dengan keterampilan tersebut maka orang tertarik
untuk berperan serta.

17
4. Rasa memiliki
Rasa memiliki sesuatu akan tumbuh jika sejak awal kegiatan masyarakat sudah
diikutsertakan jika rasa memiliki ini bisa ditumbuhkembangkan dengan baik maka
peran serta akan dapat di lestarikan.
5. Faktor tokoh masyarakat
Jika dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat melihat bahwa tokoh –
tokoh masyarakat atau pimpinan kader yang disegani ikut serta maka mereka akan
tertarik pula berperan serta ( Depkes RI, 1997 ).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh
masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan
perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat
dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (WHO, 1995)
Para kader kesehatan yang bekerja di pedesaan membutuhkan
pembinaan/pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka dan masalah
yang dihadapinya. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan
kader adalah:
1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan
siaga)
2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
3. Penyuluhan gzi dan keluarga berencana
4. Pencatatan kelahiran dan kematian bayi atau ibu
5. Promosi tabulin, donor darah berjalan, ambulan desa, suami siaga, satgas
gerakan sayang ibu.
Peran serta masyarakat adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan
berdasarkan gotong royong dan swadaya masyarakat dalam rangka menolong
mereka sendiri, mengenal, memecahkan masalah, dan kebutuhan yang dirasakan
masyarakat, baik dalam bidang kesehatan maupun dalam bidang yang berkaitan
dengan kesehatan agar mampu memelihara kehidupannya yang sehat dalam
rangka meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan masyarakat. Langkah
pembinaan peran serta masyarakat yaitu
1. Melaksanakan penggalangan, pemimpin dan organisasi di masyarakat melalui
dialog untuk mendapatkan dukungan.
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan
masalah kesehatan keluarga dengan menggali dan menggerakkan sumber daya
yang dimilikinya.

19
3. Melaksanakan kegiatan kesehatan keluarga untuk masyarakat melalui kader
yang telah terlatih ( Depkes RI, 1997 ).

B. Saran
Kita sebaiknya mengetahui upaya pembinaan kader dan pembinaan peran serta
masyarakat agar nantinya kita bisa melakukan mitra dengan kader (masyarakat)
dalam menjalankan tugas kita sebagai petugas kesehatan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Karwati, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas). Jakarta:


Trans Info Media.

Meilani, Niken, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya.

Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan. 2006. Perspektif Gender dan


HAM dalam Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Yayasan pendidikan
kesehatan Perempuan.

Runjati. 2010. Asuhan kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.

21