Anda di halaman 1dari 12
Aini Nadhokhotani Herpi, Tonih Feronika, Dedi Irwandi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta e-mail:

Aini Nadhokhotani Herpi, Tonih Feronika, Dedi Irwandi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstract. Chemistry learning which actually have to form students’ logic mostly given in explaining method. This study aims to analyze students’ generik science skills in reactions rate and to find out the differences of students’ generik science skills in upper group, moderate group and lower group student as a result of implementation of guided inquiry. This study was conducted in MAN 1 Kabupaten Sukabumi. The subject of this study were consisted of 30 students on second grade. The method used in this study was descriptive qualitative. This study carried out five stages: orientation, formulate some problems, propose some hypotesis, collecting data and propose some conclutions. The instruments of this study was an essay test and helped by students’ worksheet and observation paper. The result of the analysis from essay test showed that students’ generic science skills in general have achieved well. Indicators of generik skill of students who achieved the most in upper group is logical frame, while in the moderate group and lower group students is direct observation which included into middle category.

Keywords: generik science skill, essay test, guided inquiry

Abstrak. Pembelajaran kimia yang seharusnya membentuk logika siswa ternyata banyak diberikan dalam pembelajaran bersifat ceramah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterampilan generik sains dan mengetahui perbedaan keterampilan generik sains pada kelompok tinggi, sedang dan rendah setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap di kelas XI IPA 3. Sampel penelitian sebanyak 30 siswa kelas XI. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Penelitian ini terdiri dari 6 tahapan yaitu orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan mengajukan kesimpulan. Instrumen utama pada penelitian ini adalah soal tes dibantu dengan LKS dan lembar observasi. Hasil dari analisis data tes menunjukkan bahwa secara umum pencapaian keterampilan generik sains siswa termasuk ke dalam kategori tinggi. Indikator keterampilan generik sains siswa yang paling dominan pada kelompok tinggi adalah logical frame yang termasuk dengan kategori tinggi, pada kelompok sedang dan kelompok rendah adalah pengamatan langsung yang termasuk kedalam kategori sedang.

Kata Kunci: keterampilan generik sains, soal tes essay, inkuiri terbimbing

Pendahuluan

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan pribadi secara optimal agar dapat memainkan peranannya sebagai warga dalam berbagai lingkungan hidup dan kelompok sosial (Mudyahaedjo, 2012). Adanya kemampuan tersebut diharapkan dapat

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

mengubah pola pikir serta keterampilan manusia menjadi lebih baik (Fathurrohman dkk, 2007). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan salah satu prinsip pembelajaran yang digunakan adalah peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills).

Paradigma pembelajaran menuntut guru untuk dapat memanfaatkan hubungan antara materi yang diajarkan dengan pengalaman siswa untuk membuat pembelajaran bermakna karena jika siswa terbawa dalam situasi pembelajaran maka pembelajaran tersebut akan lebih teringat daripada pembelajaran kognitif (Rosebrough dkk, 2011).

Namun faktanya pembelajaran kimia belum menunjukkan hasil yang menggembirakan karena pembelajaran kimia yang seharusnya membentuk logika siswa untuk berfikir sistematis, objektif, kreatif melalui keterampilan proses sains ternyata banyak diberikan dalam pembelajaran bersifat ceramah dan kegiatan praktikum dilakukan hanya untuk membuktikan teori (Sudarmin, 2012).

Nurhadi (2013) dalam tulisannya yang berjudul Strategi Pendidikan dan Pembelajaran di Indonesia menyebutkan bahwa pada proses pembelajaran di Indonesia, guru lebih aktif daripada siswa serta interaksi antara siswa dan guru sangat sedikit sehingga belum mampu menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Saat ini pembelajaran masih bersifat transfer of knowledge dan mementingkan jawaban baku yang dianggap benar sehingga pengetahuan siswa kurang berkembang, hal tersebut menyebabkan hasil belajar siswa hanya terpaku pada hasil kognitif saja.

Salah satu keberhasilan pembelajaran ialah jika siswa yang diajar merasa senang dan memerlukan materi ajar, oleh karena itu salah satu cara untuk memotivasi siswa senang belajar kimia adalah dengan cara tidak memberikan hafalan rumus kimia, hukum-hukum kimia atau perhitungan kimia yang rumit bahkan jika memungkinkan rumus kimia dan perhitungan kimia diperoleh dari hasil analisis data (Moewarni, 2001). Diperlukan sebuah model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengumpulkan dan menganalisis data agar siswa termotivasi untuk mempelajari kimia. Menurut Sadia (2014) model pembelajaran inkuiri bertujuan untuk melatih kemampuan siswa untuk melakukan penelitian, menjelaskan fenomena, menemukan inti dan makna dari suatu permasalahan dan memecahkan permasalahan melalui prosedur ilmiah yang dilakukan oleh siswa itu sendiri.

Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa ialah materi laju reaksi. Inkuiri sebagai model pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang berarti bahwa peran siswa sangatlah besar dalam menentukan suasana dan model pembelajaran (Anam, 2016).

Hal ini selaras dengan materi laju reaksi yang berisi mengenai konsep yang harus dipahami oleh siswa. Cara yang harus digunakan oleh guru agar laju rekasi, orde reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi selalu diingat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan mengarahkan siswa untuk mencari sendiri apa yang dimaksud dengan teori tumbukan, laju rekasi, orde reaksi dan apa saja faktor-faktor yang

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

9

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

mempengaruhi laju reaksi. Model pembelajaran inkuiri berlandaskan pada filosofi bahwa siswa akan termotivasi untuk belajar jika mereka terlibat secara langsung dalam pembelajaran dengan landasan prinsip pembelajaran learning by doing (Sadia, 2014).

Penelitian yang dilakukan oleh Triani (2013) mendapatkan hasil bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh secara signifikan untuk meningkatkan keterampilan generik sains siswa. Berdasarkan paparan diatas maka peneliti menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk melatih keterampilan generik sains siswa.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode desktriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan karena peneliti mendeskripsikan bagaimana siswa belajar dengan keterampilan gnerik sains yang dimiliki oleh siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 21 Maret 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI IPA di MAN 1 Kabupaten Sukabumi. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 3 pada semester genap. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dengan instrumen utama soal tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan generik sains siswa setelah pembelajaran dilaksanakan dan dibantu dengan lembar observasi yang digunakan untuk mengamati keterampilan pengamatan langsung dan kesadaran skala peserta didik pada saat kegiatan praktikum serta LKS berbasis inkuiri terbimbing yang menjadi panduan bagi siswa dalam melaksanakan kegiatan praktikum.

Data yang dihasilkan adalah data hasil observasi, data aktivitas siswa serta data keterampilan generik sains siswa. Adapun cara pengolahan data adalah sebagai berikut: guru memberikan skor untuk lembar kerja siswa dan soal tes essay yang telah diisi oleh siswa sedangkan untuk lembar observasi observer memberikan ceklis pada lembar observasi, mencari persentase dari masing-masing indikator yang muncul kemudian data yang telah diperoleh diinterpretasikan secara deskriptif setiap indikator keterampilan generik sains yang muncul. Berikut ini kriteria skor menurut Nurkancana & Sunartana: 90-100% (sangat tinggi), 75-89% (tinggi), 55-74% (sedang), 31-54% (rendah) dan 0-30% (sangat rendah).

Implementasi pembelajaran diawali dengan tahapan orientasi yaitu dengan memberikan informasi kepada siswa mengenai tujuan pembelajaran pada hari ini dan bagaimana pembelajaran yang akan dilakukan pada hari ini. Selanjutnya pembelajaran mengikuti tahapan model pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan dimana siswa dibagi menjadi 6 kelompok.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

Hasil keterampilan generik sains siswa diperoleh dari instrumen tes. Berikut disajikan data hasil tes untuk setiap indikator keterampilan generik sains pada tabel 1.

Tabel 1. Persentase Keterampilan Generik Sains

No

KGS

(%)

Kategori

1.

Pengamatan Langsung

90,7

Sangat tinggi

2.

Pengamatan Tak Langsung

76,7

Tinggi

3.

Kesadaran Skala

65,8

Sedang

4.

Bahasa Simbolik

80,8

Tinggi

5.

Logical Frame

86,7

Tinggi

6.

Konsistensi Logis

71,3

Sedang

7.

Hukum Sebab Akibat

82,7

Tinggi

8.

Pemodelan

74,0

Sedang

9.

Inferensi Logika

82,7

Tinggi

10.

Abstraksi

73,3

Sedang

Rata-rata

80,1

Tinggi

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa persentase tertinggi terdapat pada indikator pengamatan langsung yang termasuk kedalam kategori tinggi. Sedangkan persentase keterampilan generik sains siswa setiap kelompo disajikan pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Persentase Keterampilan Generik Sains Setiap Kelompok

     

%

Kel.

 

No

KGS

%Kel. Tinggi

Sedang

% Kel. Rendah

1.

Pengamatan langsung

95,0

91,4

85,0

2.

Pengamatan

tidak

79,2

78,6

70,8

langsung

3.

Kesadaran

tentang

87,5

69,6

40,6

skala

4.

Bahasa simbolik

93,8

89,3

53,1

5.

Logical frame

100

89,3

65,6

6.

Konsistensi logis

87,5

71,4

55,0

7.

Hukum sebab akibat

97,5

85,7

62,5

8.

Pemodelan

87,5

80,0

52,5

9.

Inferensi logika

88,3

88,8

66,3

10.

Abstraksi

87,5

72,9

60,0

Rata-rata

 

90,4

81,7

61,1

Pembahasan

 

Penelitian ini menganalisis keterampilan generik sains siswa dengan melihat persentase dari masing-masing indikator. Tabel 1 menunjukkan bahwa keterampilan generik sains yang

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

memiliki persentae tertinggi adalah indikator pengamatan langsung dengan nilai 90,7% yang termasuk kedalam kategori sangat tinggi. Persentase terrendah terdapat pada indikator kesadaran skala dengan persentase sebesar 65,8% dan termasuk kedalam kategori sedang. Sedangkan jika dilihat secara keseluruhan rata-rata persentase untuk seluruh indikator keterampilan generik sains mendapatkan nilai 80,1% dengan kategori tinggi.

Indikator Pengamatan Langsung

Model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih dapat meningkatkan aspek pengamatan langsung karena melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing siswa merancang sendiri percobaan eksperimen, sehingga pada tahap eksperimen siswa lebih dapat mengembangkan keterampilan generik sains indikator pengamatan langsung (Octafiana, 2015). Indikator pengamatan langsung mendapatkan pencapaian yang paling tinggi diantara semua indikator karena siswa dapat dengan baik mengamati perubahan warna yang terjadi pada kegiatan praktikum dan karena untuk mengasah keterampilan pengamatan langsung tidak diperlukan alat apapun, maka semua siswa dalam satu kelompok dapat mengamati perubahan warna yang terjadi dan menuliskan hasil pengamatannya pada lembar kerja siswa.

Hasil pencapaian keterampilan generik sains siswa indikator pengamatan langsung pada Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase pada kelompok tinggi adalah sebesar 95,0%, kelompok sedang mendapatkan persentase 91,4% dan kelompok rendah dengan persentase sebesar 85,0%. Berdasarkan persentase yang didapat, kelompok tinggi dan kelompok sedang memiliki keterampilan generik dengan kriteria sangat tinggi sedangkan pada kelompok rendah keterampilan generik sains indikator pengamatan langsung termasuk dalam kategori tinggi. Brotosiswoyo (dalam Sudarmin, 2012) mengungkapkan bahwa keterampilan pengamatan langsung dan tidak langsung termasuk pada indikator yang mudah untuk dikuasai. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang menunjukkan bahwa keterampilan generik sains siswa pada indikator pengamatan langsung mendapatkan persentase tertinggi diantara indikator yang lain (Zulfiani, 2015).

Indikator Pengamatan Tidak Langsung

Pembelajaran yang dilakukan dikelas dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing, pengamatan tak langsung siswa dilatih melalui kegiatan praktikum. Guru mengarahkan siswa untuk melihat bagaimana pengaruh katalis terhadap suatu reaksi. Percobaan ini menggunakan FeCl3 sebagai katalis untuk reaksi penguraian H2O2. Setelah siswa meneteskan FeCl3 dalam larutan H2O2, siswa menutup tabung reaksi dengan menggunakan balon untuk melihat seberapa banyak reaksi tersebut menghasilkan gas H2.

Keterampilan generik sains pengamatan tak langsung memiliki persentase sebesar 76,7% dengan kategori tinggi. Persentase pengamatan tak langsung pada kelompok tinggi adalah sebesar 79,2% dan termasuk kategori tinggi. Pengamatan tak langsung pada kelompok sedang mendapatkan persentase sebesar 78,6% dan juga termasuk kategori tinggi, namun

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

pada kelompok rendah siswa mendapatkan persentase 70,8% dengan kategori sedang.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa dalam kegiatan eksperimen pada model pembelajaran inkuri terbimbing, penggunaan alat bantu indera sangat berperan dalam menghasilkan data dan fakta eksperimen, menyebabkan kegiatan eksperimen berbasis inkuiri terbimbing berjalan dengan baik sehingga setelah melalui proses pembelajaran ini siswa dapat memahami konsep yang dipelajarinya dan berimplikasi langsung pada peningkatan indikator pengamatan tak langsung (Darmawan, 2013).

Indikator Kesadaran tentang Skala

Indikator kesadaran skala merupakan keterampilan untuk memilki kepekaan yang tinggi terhadap skala numerik sebagai besaran/ukuran skala mikroskopis maupun makroskopisnya (Sudarmin, 2012).

Keterampilan generik sains indikator kesadaran skala dilatih melalui kegiatan mengukur volume larutan yang dibutuhkan. Siswa melakukan kegiatan mengukur 10 ml HCl dengan miniskus yang tepat dimana kegiatan tersebut dapat mengembangkan keterampilan generik sains indikator pengamatan kesadaran skala. Alat yang digunakan dalam mengembangkan keterampilan generik sains kesadaran skala pada praktikum yang digunakan adalah gelas ukur. Siswa dilatih untuk menggunakan alat yang sesuai dengan kebutuhan, dalam hal ini yaitu gelas ukur.

Keterampilan generik sains indikator kesadaran tentang skala memiliki persentase sebesar 65,8% yang termasuk kedalam kategori sedang. Jika dilihat lebih detail, pada kelompok tinggi siswa mendapatkan persentase sebesar 87,5% yang termasuk kedalam kategori tinggi, kelompok sedang mendapatkan persentase sebesar 69,6% yang termasuk kedalam kategori sedang dan kelompok rendah mendapatkan persentase sebesar 40,6% yang termasuk kedalam kategori rendah. Siswa kelompok rendah mendapatkan persentase yang termasuk kedalam kategori rendah karena kurangnya kontrol dari guru untuk membagi kegiatan mengukur volume larutan secara merata.

Indikator Bahasa Simbolik

Keterampilan generik sains bahasa simbolik berarti menggunakan aturan matematis untuk memecahkan masalah kimia/ fenomena gejala alam (Sudarmin, 2012).

Sebelum siswa melakukan praktikum pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, siswa diberikan wacana yang berhubungan dengan luas permukaan. Tahapan ini melatih keterampilan siswa dalam menggunakan aturan matematis, sehingga siswa dapat melihat dan membuktikan kubus yang seperti apa yang memiliki luas permukaan lebih besar.

Trianto (2009) menyatakan bahwa salah satu tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing adalah menganalisis data dimana siswa bertanggung jawab untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan dan menganalisis data yang telah diperoleh. Oleh karena itu pembelajaran dengan

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dilakukan lebih menekankan pada pembelajaran bermakna sehingga keterampilan bahasa simbolik yang dikembangkan bukan hanya sekedar menghafal tetapi juga memaknai arti dari simbol maupun istilah kimia.

Dalam pembelajaran kimia, bahasa simbolik yang diterapkan oleh guru hendaknya dijelaskan makna fisis dan asumsi sebagai pendekatan (Sudarmin, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah mempunyai keterampilan generik bahasa simbolik yang baik (Yulianti, 2016).

Indikator Logical Frame

Keterampilan generik sains indikator logical frame dilatih melalui kegiatan merumuskan masalah yang merupakan salah satu tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing. Selain wacana, untuk memaksimalkan stimulus pada siswa, peneliti juga menayangkan video untuk setiap subbahasan yang akan dibahas sehingga ketika siswa memasuki tahapan merumuskan masalah, siswa dapat mengembangkan keterampilan logical frame secara maksimal.

Keterampilan generik sains siswa indikator logical frame pada kelompok tinggi mendapatkan persentase dengan kategori sangat tinggi, pada kelompok sedang mendapatkan kategori tinggi dan pada kelompok rendah mendapatkan kategori sedang, sehingga keterampilan generik sains siswa indikator logical frame mendapatkan persentase rata-rata sebesar 86,7% yang termasuk kedalam kategori tinggi. Keterampilan generik logical frame penting untuk dikembangkan untuk melatih kemampuan pemecahan masalah secara sistematis pada proses pembelajaran dan diterapkan dalam permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Brotosiswoyo, 2011).

Keterampilan ini akan membantu siswa untuk berpikir sistematis dalam pemecahan masalah pada pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas dan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajamemiliki tahapan merumuskan masalah yaitu langkah yang membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki (Sanjaya, 2006). Sebelum siswa merumuskan masalah, guru memberikan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagai stimulus bagi siswa untuk merumuskan masalah yang akan dijawab pada tahapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berikutnya.

Indikator Konsistensi Logis

Pengumpulan data melalui pengamatan suatu percobaan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam penentuan keterampilan konsistensi logis (Sudarmin, 2012). Hasil analisis keterampilan generik sains indikator konsistensi logis memiliki persentase rata-rata yang termasuk kedalam kategori sedang yaitu sebesar 71,33%. Konsistensi logis dikembangkan melalui proses menguji hipotesis. Siswa diarahkan untuk menjawab pernyataan pada lembar kerja siswa dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan untuk mengarahkan

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

siswa agar dapat menarik kesimpulan secara induktif setelah percobaan kimia. Sebelum menguji hipotesis, siswa melakukan praktikum terlebih dahulu yang dilakukan untuk mengumpulkan data.

Tahapan mengumpulkan data yang merupakan aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis. Keterampilan konsistensi logis dapat dikembangkan dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing melalui tahapan menguji hipotesis karena tahap ini adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data, tahapan ini juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasional (Sanjaya, 2006).

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniarita (2014) bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterampilan generik sains siswa sebab pembelajaran inkuiri terbimbing membuat suasana kelas menjadi saling bekerjasama dan berinteraksi, memadukan ide dan saling berbagi pendapat, berdiskusi dan berargumentasi.

Indikator Hukum Sebab Akibat

Keterampilan generik hukum sebab akibat ini muncul sebagai akibat adanya keyakinan bahwa gejala-gejala alam saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat yang dapat dipahami dengan penalaran (Sudarmin, 2012). Keterampilan generik sains indikator hukum sebab akibat dilakukan pada tahapan mengajukan hipotesis yang merupakan salah satu tahapan yang terdapat pada model pembelajaran inkuiri terbimbing.

Lembar kerja siswa yang digunakan pada penelitian yang dilakukan meminta siswa untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada suatu reaksi kimia yang belum dilakukan. Tingginya persentase keterampilan generik sains indikator hukum sebab akibat disebabkan karena pada proses pembelajaran terdapat 4 praktikum yang dilakukan oleh siswa yaitu pengaruh suhu terhadap laju reaksi, pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, pengaruh katalis terhadap laju reaksi serta pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi.

Persentase yang termasuk kedalam kategori tinggi menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat melatih keterampian generik sains indikator hukum sebab akibat. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses inkuiri menstimulasi potensi siswa yang pada akhirnya siswa akan memperoleh pemahaman tentang dirinya sendiri sehingga siswa dapat membangun konsep diri (Sadia, 2014).

Keterampilan generik sains hukum sebab akibat munculsebagai akibat adanya keyakinan bahwa gejala-gejala alam saling berkaitandalam suatu pola sebab akibat yang dapat dipahami dengan penalaran (Sudarmin, 2012). Hal ini sesuai yang dikatakan Brown & Abell (2007) menyatakan pendekatan siklus belajar membantu siswa memahami ide- ide ilmiah, meningkatkan penalaran ilmiah, dan keterlibatan siswa di dalam kelas.

Indikator Pemodelan

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

Keterampilan generik sains indikator pemodelan adalah imitasi penyederhanaan tentang sesuatu yang diharapkan dapat membantu memahaminya secara baik yang dapat berupa gambar, animasi, persamaan, program komputer, atau gambaran mental (Sudarmin, 2012). Penelitian yang dilakukan ini mengembangkan keterampilan generik sains siswa indikator pemodelan pada tahap menguji hipotesis. Setelah siswa mengumpulkan data melalui praktikum, data yang telah didapatkan diolah agar siswa dapat mengambil kesimpulan dari praktikum yang telah dilakukan.

Indikator pemodelan mendapatkan persentase yang termasuk kategori tinggi pada kelompok tinggi dan kelompok sedang dengan perbedaan persentase sebesar 7,5% sedangkan kelompok rendah mendapatkan persentase dengan kategori rendah. Rata-rata keterampilan generik sains siswa indikator pemodelan mendapatkan persentase dengan kategori sedang. Persentase keterampilan generik sains indikator pemodelan 74% yang termasuk kedalam kategori sedang. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterampilan generik sains indikator pemodelan (Saptorini, 2008).

Indikator Inferensi Logika

Keterampilan generik sains indikator inferensi logika adalah keterampilan generik untuk dapat mengambil kesimpulan baru sebagai akibat logis dari hukum-hukum terdahulu tanpa harus melakukan percobaan baru. Hasil penelitian yang dilakukan mendapatkan persentase dengan kategori tinggi pada kelompok tinggi dan sedang, sedangkan pada kelompok rendah mendapatkan persentase yang termasuk dalam kategori sedang. Setelah di rata-ratakan persentase keterampilan generik sains siswa indikator inferensi logika mendapatkan persentase sebesar 82.7% yang termasuk ke dalam kategori tinggi.

Indikator inferensi logika ini dilatih melalui pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada tahapan mengambil kesimpulan. Setelah melakukan praktikum pengaruh suhu terhadap laju reaksi, siswa diminta untuk menyimpulkan apa yang diakibatkan oleh tumbukan antar reaktan yang bereaksi, tanpa melakukan kembali praktikum mengenai teori tumbukkan terlebih dahulu. Tahapan ini melatih keterampilan generik sains siswa indikator inferensi logika.

Kelas yang menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing melatih siswa untuk berfikir secara analisis dan sistematis dalam memberikan kesimpulan (inferensi logika) berdasarkan teori, prinsip, maupun hukum yang mendasari hasil setiap praktikum yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa model inkuiri terbimbing dapat melatih keterampilan inferensi logika siswa dengan kategori tinggi. Inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dari suatu proses yang bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan (Trianto, 2007).

Indikator Abstraksi

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

Keterampilan generik sains indikator abstraksi merupakan merupakan kemampuan siswa untuk menggambarkan hal-hal yang abstrak ke dalam bentuk nyata (Sudarmin, 2012). Keterampilan generik sains indikator abstraksi dilatih melalui kegiatan menguji hipotesis. Setelah melatih keterampilan bahasa simbolik, siswa diminta untuk menghubungkan hal yang abstrak mengenai luas permukaan tersebut dengan luas permukaan pada reaktan yang digunakan untuk praktikum. Lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing juga memberikan kolom yang harus diisi oleh siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut sehingga keterampilan generik sains siswa indikator abstraksi dilatih. Selain itu sebelum pada tahapan merumuskan masalah, siswa diberikan video animasi yang menggambarkan mengenai luas permukaan.

Keterampilan generik sains indikator abstraksi mendapatkan persentase dengan kategori tinggi pada siswa yang termasuk kelompok tinggi dan mendapatkan persentase dengan kategori sedang pada siswa yang termasuk kelompok rendah dan sedang. Setelah dirata-ratakan, hasil tes indikator abstraksi memiliki persentase dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing mengembangkan keterampilan generik sains siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Samiana dkk (2012) bahwa siswa mendapatkan keterampilan generik sains abstraksi yang lebih baik karena dalam proses pembelajaran siswa dituntut aktif melakukan penyelidikan terhadap permasalahan yang diberikan untuk selanjutnya dianalisis yang merupakan kegiatan untuk melatih keterampilan abstraksi. Penelitian ini juga menayangkan video bagaimana suhu, luas permukaan, katalis dan konsentrasi dapat mempengaruhi laju reaksi sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan abstraksi dapat dilatih melalui program animasi simulasi berbantuan komputer (Sudarmin, 2012).

Paparan mengenai perbandingan antara hasil analisis persentase keterampilan generik sains siswa menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing mampu melatih keterampilan generik sains siswa pada materi laju reaksi karena model pembelajaran inkuiri terbimbing membantu siswa dengan mengaitkan konsep dan membantu siswa meningkatkan kemampuan konseptual pada proses diskusi (Bilgin, 2009).

Pembelajaran yang diterapkan di kelas juga menyediakan LKS berbasis inkuiri terbimbing yang befungsi sebagai petunjuk praktikum, memberikan stimulus pada siswa dengan membaca wacana pada LKS agar siswa dapat merumuskan masalah, serta membimbing siswa untuk melakukan pengujian hipotesis untuk menemukan konsep yang diharapkan dapat menigkatkan keterampilan generik sains. Proses pembelajaran dibantu dengan lembar kerja siswa yang agak rinci dimana setiap tahapan ada petunjuk atau pedoman berupa pertanyaan-pertanyaan atau langkah yang menuntun siswa untuk menemukan konsep yang akan dipelajari (Sadia, 2014).

Hasil analisis persentase keterampilan generik sains secara keseluruhan termasuk kedalam kategori tinggi. Penyebab tingginya hasil persentase mengenai indikator keterampilan generik sains adalah karena siswa diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri rumusan masalah yang akan dipelajarinya sehingga minat siswa menyelidiki dan mencari tahu melalui kegiatan praktikum lebih tinggi. Model inkuiri terbimbing memberikan kesempatan bagi

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

siswa untuk mengemukakan ide dan dapat menjadi ajang untuk meningkatkan mental siswa dalam pembelajaran kimia (Villagonzalo, 2014).

Penutup

Simpulan

Secara keseluruhan keterampilan generik sains siswa pada kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah tergolong tinggi dan dapat dikembangkan secara optimal. Hal ini terlihat dari persentase rata-rata hasil pencapaian keterampilan generik sains siswa dari kelompok tinggi sebesar 90.4% yang termasuk dalam kategori sangat tinggi, kelompok sedang 81.7% termasuk ke dalam kategori tinggi, dan kelompok rendah sebesar 61.1% termasuk ke dalam kategori sedang. Rata-rata keterampilan generik sains siswa secara keseluruhan ialah 80.1% yang termasuk ke dalam kategori tinggi.

Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka saran yang dapat diberikan yaitu 1) Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing disarankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran karena dapat melatih keterampilan generik sains siswa. 2) Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuri terbimbing disarankan untuk menggunakan lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing agar siswa memiliki acuan dalam proses pembelajaran.

Daftar Pustaka

Anam, K. (2016). Pembelajaran Berbasis Inkuiri: Metode dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bilgin, I. (2009). The effect of guided inquiry instruction incorporating a cooprative learning approach on university students’ achievement of acid and bases concepts and attitude toward guided inquiry instruction. Scientific Research And Essay, 4(10): 1038-1046.

Brotosiswoyo, B, S. (2001). Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran matematika di

Perguruan Tinggi Cet. I. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka. Darmawan, J., Halim, A., & Nur, S. (2013). Metode Pembelajaran Eksperimen Berbasis Inkuiri Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Generik Sains Siswa SMA.

Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 2(8): 22-33. Fathurrohman, P., & Sutikno, M, S. (2007). Strategi Belajar dan Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: PT Refika Aditama.

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 9 Mei 2018 “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”

Moewarni. (2001). Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran Kimia di Perguruan Tinggi.

Jakarta: PAU-PPAI-UT.

Mudyahardjo, R. (2001). Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada. Octafiana, H., Zulfiani, Miranto, S. (2015). Perbedaan Keterampilan Generik Sains Siswa Yang Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Dengan Siswa Yang Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Pada Konsep Sel. Edusains, 7(2):

185-190.

Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Mendikbud. Jakarta

Rosebrough, T, R., & Leverett, R, G. (2011). Transformational Teaching in the Information Age:

Making Why and How We Teach Relevant to Students. USA: ASCD. Sadia, I, W. (2014). Model-model Pembelajaran Sains Konstruktivistik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sanjaya, W. (2013). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Samiana, K., Binadja, A., & Saptorini. (2012). Pengaruh Pembelajaran Kimia Berbasis Masalah Bervisi SETS terhadap Keterampilan Generik Sains. Chem in Edu, 2(1): 36-42. Saptorini. (2008). Peningkatan Keterampilan Generik Sains Bagi Mahasiswa melalui Perkuliahan praktiku Kimia Analisis Instrumen Berbasis Inkuiri. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 2(1): 190-198.

Sudarmin. (2012). Keterampilan Generik Sains dan Penerapannya dalam Pembelajaran Kimia

Organik. Semarang: Unnes Press. Triani, M., Yolida, B., & Marpaung, R, R, T. (2013). Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Generik Sains Siswa. Jurnal Pendidikan FKIP UNILA, 3(2): 1-9.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenda Media

Group. Villagonzalo, E, C. (2014). Process Oriented Guided Inquiry Learning: An Effective Approach in Enchancing Students’ Academic Performance. DLSU Research Congress, 1(007): 1-6. Yuniarita, F. (2014). Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains Siswa SMP. Jurnal Pengajaran MIPA, 19(1): 111-116.

Copyright © 2018| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19