Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jantung dan pembuluh darah adalah suatu organ yang bekerja pada sistem kardiovaskuler
yang mempunyai peranan penting untuk mengatur transportasi peredaran darah. Kerja jantung
akan terhambat jika terdapat kelainan yang terjadi pada sistem kardivaskuler. Menurut data
yang dikutip World Health Organization pada tahun 2012 bahwa sebanyak 17,7 juta orang yang
ada di dunia meninggal akibat dari penyakit kardiovaskuler. Riset Kesehatan Dasar (2013) juga
menyebutkan bahwa penyakit-penyakit yang disebabkan dari sistem kardiovaskuler masih
menjadi 10 penyakit yang angka kematiannya masih cukup tinggi. Perlunya penanganan
farmakologi untuk memperbaiki sistem kardiovaskuler yang mengalami kelainan agar dapat
berfungsi kembali seperti semula.
Menurut data dari Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013 prevalensi
penderita jantung koroner antara usia 65-74 tahun (3,6%) selanjutnya pada usia lebih dari 75
tahun (3,2%). Yang menjadi faktor resiko dari penyakit-penyakit kardivaskuler yang tidak dapat
diubah adalah adanya riwayat keluarga yang mengalami penyakit yang sama sebelumnya, usia
dan jenis kelamin. Sedangkan faktor resiko yang dapat diubah adalah penyakit hipertensi,
jarang berolahraga dan diabetes milletus.
Menurut WHO 2015 sekitar 1,13 miliar orang di di dunia menderita hipertensi.
Sedangkan di Indonesia menurut Riskesdas 2013 prevalensi orang yang menderita hipertensi
sebanyak 25,8%. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan seseorang akan terkena
penyakit-penyakit kardiovaskuler seperti gagal jantung dan kejadian jantung koroner. Penyakit
kardiovaskuler lainnya yaitu angina pectoris menurut American Heart Association (AHA)
(2013), awalnya angina pectoris sebagai angina pectoris stabil yang nantinya lama-kelamaan
akan menyebabkan sindrom koroner akut. Pada tahun 2010 menurut WHO terdapat 239.548
pasien yang dirawat akibat dari penyakit jantung yang diderita.
Dari beberapa data yang didapatkan, penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler masih
menjadi penyebab kematian utama pada masyarakatt. Oleh sebab itu, perlunya dilakukan
langkah-langkah pencegahan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengenali
faktor resiko dan gejala penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler. Serta diperlukan upaya
penatalaksanaan untuk penanganan penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler yang diderita.
Upaya penatalaksanaan dapat berupa farmakologi atau pemberian obat-obatan yang dianjurkan
untuk penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler. Terdapat berbagai macam obat-obatan yang
mempunyai fungsi untuk mempengaruhi biokimia dan fisiologis pada sistem kardiovaskuler
yang dapat memperbaiki fungsi jantung ke dalam keadaan normal sebelum terjadi kelainan atau
penyakit kardiovaskuler.
Sebagai tenaga kesehatan sangat penting untuk memahami proses atau mekanisme kerja,
efek samping, kontraindikasi obat-obatan yang digunakan sebagai upaya penatalaksanaan untuk
penyakit kardiovaskuler.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk menambah pemahaman mengenai farmakologi pada sistem kardiovaskuler.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Untuk memahami pengertian dari berbagai macam obat-obatan pada sistem
kardiovaskuler
1.2.2.2 Untuk mengetahui jenis obat-obatan pada sistem kardiovaskuler
1.2.2.3 Untuk mengetahui mekanisme kerja obat-obatan pada sistem kardiovaskuler
1.2.2.4 Untuk mengetahui efek samping obat-obatan pada sistem kardiovaskuler
1.2.2.5 Untuk mengetahui kontraindikasi dari obat-obatan pada sistem kardiovaskuler
BAB II
TINJAUAN LITERATUR

Upaya penatalaksanaan penyakit-penyakit pada sistem kardiovaskuler dapat berupa farmakologi


atau pemberian obat-obatan yang dianjurkan. Terdapat berbagai macam obat-obatan yang mempunyai
fungsi untuk mempengaruhi biokimia dan fisiologis pada sistem kardiovaskuler yang dapat
memperbaiki fungsi jantung ke dalam keadaan normal sebelum terjadi kelainan atau penyakit
kardiovaskuler. Anti hipertensi merupakan salah satu obat-obatan pada sistem kardiovaskuler yang
berfungsi untuk pengobatan hipertensi. Anti angina juga merupakan salah satu obat-obatan pada
sistem kardiovaskuler yang berfungsi untuk mengatasi angina pektoris. Dibawah ini akan dijelaskan
obat-obatan yang dianjurkan sebagai upaya penatalaksanaan penyakit-penyakit pada sistem
kardiovaskuler.

2.1 Obat Antihipertensi


2.1.1 Diuretik
 Definisi
Diuretik terbentuk dari “dioureikos” artinya merangsang pengeluaran air
seni (Dorland, 2012). Selain itu menurut pengertiannya diuretic adalah suatu obat-
obatan yang mempunyai fungsi dapat meningkatkan laju urin (Anief, 2004). Diuretik
juga memiliki fungsi untuk menghambat transport ion, hal ini akan menurunkan laju
reabsorbsi dari garam dan ion-ion lain salah satunya seperti klorin yang terdapat
dalam urin dengan jumlah yang sangat besar melebihi nilai normal untuk menjaga
keseimbangan osmotic. Tekanan yang ada pada ginjal akan lebih mengalami
peningkatan, hal ini disebabkan karena garam banyak terdapat di dalam urin dan
natrium tersebut banyak mengikat air. Sehingga produksi urin menjadi lebih banyak
(Halimudin, 2007).
Diuretik sering digambarkan dapat membantu dalam mengatasi tekanan
darah tinggi/ hipertensi, obat diuretic akan mengurangi jumlah cairan pada pembuluh
darah, kemudian akan membantu menurunkan tekanan darah (Abraham, 2008).
Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi kerja dari diuretic. Faktor-
faktor tersebut adalah letak kerja diuretic yang berada di ginjal. Jenis diuretic yang
letak kerja pada tempat reabsorbsi natrium tergolong sedikit berbeda dengan golongan
diuretic yang letak kerjanya berada pada reabsorbsi natrium yang lebih banyak.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi adalah fisiologi dari organ, misalnya sirosis
hati. Faktor yang ketiga adalah interaksi yang terjadi pada obat dengan reseptornya.
 Jenis Obat
Terdapat 5 golongan dari obat diuretic, yaitu diuretic tiazid, diuretic loop,
diuretic hemat kalium, penghambat karbonik anhydrase dan diuretic osmotic. Tiap
golongan dari diuretic memiliki keefektivitasan yang berbeda-beda, seperti golongan
diuretic hemat kalium, obat-obatan ini mampu mengekskresikan 2% natrium hingga
obat-obatan yang termasuk golongan diuretic loop mampu melepaskan natrium
sampai 20%. Selain itu obat-obatan diuretic juga dapat mempengaruhi sirkulasi darah
secara tidak langsung (Harvey RA, 2012).
a. Diuretik Tiazid
Obat diuretic golongan ini sangat umum digunakan. Obat-obatan pada
golongan diuretik tiazid bekerja pada tubulus distal ginjal. Penggunaan obat-
obatan diuretik tiazid dengan meningkatkan dosis tidak akan menyebabkan
peningkatan keluaran air seni (Harvey, RA, 2012).
Contoh-contoh obat yaitu hydrochlorothiazide (HCT), chlorothiazide,
hydroflumethiazide, polythiazide, benzithiazide, siklothiazide, metiklotiazide,
chlortalidon, kuinetazon dan indapamid (Aidan, 2008).
b. Diuretik Loop
Golongan diuretic loop, obat-obatan ini mempunyai mekanisme kerja pada
ginjal yaitu pada bagian lengkung henle. Diuretik loop adalah diuretic yang
mampu mengekskresi natrium dan klorin dalam tingkat efektivitas tertinggi dari
tubuh. Penggunaan golongan ini juga dapat meningkatkan jumlah produksi urin.
Contoh obat yang termasuk kedalam golongan ini dan paling sering digunakan
adalah furosemide, asam etakrinat dan bumetanide. Obat folongan ini sering
digunakan dalam pengobatan hipertensi, bengkak serta produksi urin yang
tergolong sedikit yang disebabkan oleh kegagalan fungsi ginjal.
c. Diuretik Hemat Kalium
Diuretic hemat kalium adalah golongan diuretic yang bekerja pada tubulus
pengumpul ginjal. Diuretik hemat kalium memiliki fungsi untuk mencegah
penyerapan kembali garam dan pembuangan kalium. Diuretik hemat kalium
dalam pengobatan hipertensi dipergunakan, obat-obatan ini juga daopat
dikombinasikan bersamaan obat golongan diuretic tiazid. Dalam mengkonsumsi
obat golongan ini harus memonitor kadar kalium dalam darah. Contoh obat pada
golongan ini adalah spironolakton, aldosterone, traimteren, dan amilorid
(Harvey, RA, 2012).
d. Penghambat Karbonik Anhidrase
Mempunyai mekanisme kerja yang dapat mengkatalis reaksi CO2 + H2O =
H2CO3 disebut dengan karbonik anhydrase. Dapat ditemukan dalam pancreas,
mata, pada bagian lambung serta pada sistem saraf pusat namun tidak terdapat
dalam plasma. golongann ini akan membatasi produksi humor aqueus sehingga
dapat menurunkan tekanan intraocular pada glukoma. Jadi golongan ini lebih
bekerja bukan sebagai diuretic (Aidan, 2008).
Golongan mempunyai mekanisme kerja pada bagian ginjal yaitu tubulus
proksimal. Dan mempunyai fungsi sebagai pengobatan glukoma karena memiliki
efektivitas yang lebih rendah dibandingkan diuretic tiazid. Yang termasuk pada
golongan ini adalah Acetazolamide, dichlorofenamide, dan meatzolamide
(Harvey, RA, 2012).
e. Diuretik Osmotik
Diuretik osmotik merupakan suatu substansi kimia sederhana yang difiltrasi
dan diekskresikan melalui ginjal. Golongan diuretic osmotic berkemampuan
dalam membawa cairan dalam waktu yang sama pengeluaran ke bagian yang ada
di ginjal. Namun pengeluarannya tergolong sedikit. Golongan ini sebagai tata
laksana pengobatan yang diandalkan untuk menyembuhkan trauma (Harvey RA,
2012).
Menurut Sunaryo dalam Sulistia (2005) menyatakan bahwa sesuatu
dikatakan sebagai diuretic osmotic apabila dapat mencukupi kriteria-kriteria
sebagai berikut: dapat difiltrasi secara bebas oleh glomerulus, sedikit ataupun
tidak direabsorbsi sel tubulus ginjal, zat yang inert secara farmakologis, dan
resisten terhadap perubahan metabolik.

 Mekanisme Kerja
Diuretik juga memiliki fungsi untuk menghambat transport ion, hal ini akan
menurunkan laju reabsorbsi dari garam dan ion-ion lain salah satunya seperti klorin
yang terdapat dalam urin dengan jumlah yang sangat besar melebihi nilai normal
untuk menjaga keseimbangan osmotic. Natrium yang terdapat banyak didalam urin
akan meningkatkan tekanan dalam tubulus ginjal serta akan menyerap air lebih
banyak. Sehingga produksi urin menjadi lebih banyak (Halimudin, 2007).
Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi kerja dari diuretic. Faktor-
faktor tersebut adalah letak kerja diuretic yang berada di ginjal. Jenis diuretic yang
letak kerja pada tempat reabsorbsi natrium tergolong sedikit berbeda dengan golongan
diuretic yang letak kerjanya berada pada reabsorbsi natrium yang lebih banyak.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi adalah fisiologi dari organ, misalnya sirosis
hati. Faktor yang ketiga adalah interaksi yang terjadi pada obat dengan reseptornya.
(Abraham, 2008).

 Efek Samping
Efek samping yang sering terjadi karena penggunaan obat jenis ini adalah
membuat kalium dalam darah terlalu banyak (hanya untuk diuretic hemat kalium),
menyebabkan kadar sodium rendah, sakit kepala, menggigil, selalu merasa haus,
meningkatkan kadar gula darah, kram otot, meningkatkan kadar kolesterol,
menimbulkan bitnik-bintik kemerahan (rash) pada tubuh, menyebabkan gout dan
diare. Namun pada beberapa kasus yang jarang terjadi, diuretic dapat menimbulkan
efek samping yang serius yaitu reaksi alergi, gagal ginjal, dan irama jantung yang
irregular (Syamsudin, 2011).
Selain diatas efek samping yang dapat terjadi adalah tergantung pada
golongan diuretic itu sendiri. Golongan diuretic tiazid dan diuretic loop dapat
menyebabkan sensitivitas pada daerah kulit, golongan ini juga terkadang dapat
menyebabkan terjadinya peradangan pada ginjal. Selain itu diuretic loop Penggunaan
terhadap diuretic juga dapat menyebabkan efek samping yang serius yaitu kelainan
cairan dan elektrolit (Harvey RA, 2012).

 Kontraindikasi
Kontraindikasi dari obat ini adalah apabila dikombinasikan dengan obat-
obatan lain seperti cyclosporine, obat antidepresan seperti fluoxetine dan venlafaxine,
lithium, digoxin dan obat lain untuk tekanan darah tinggi (Gunawan, 2007).

2.1.2 β Blocker
 Definisi
Beta blocker pertama kali dikembangkan oleh Sir James Black pada jaman
industry kimia kerajaan di United pada tahun 1962. Beta blocker adalah salah satu
dari empat obat oral yang telah terbukti uji coba kontrol secara acar yang dapat
menurunkan mobiditas dan kematian pada sistem kardiovaskuler (Mukherjee D.
dalam Aijaz H Mansoor, dkk, 2009). Beta blocker dikenal juga dengan beta-
adrenergic blocking agents yaitu obat-obatan yang dapat menghambat
norephinephrine dan ephinephrine (adrenaline) berikatan dengan reseptor beta.

 Jenis Obat
Contoh obat yang termasuk beta blocker secara umum adalah propranolol,
nadolol, labetalol dsb (Ye Richard, 2005). Beta blocker dapat digunakan untuk
mengatasi irama jantung yang tidak normal, tekanan darah tinggi, gagal jantung,
tremor, nyeri dada (angina), pheochromocytoma dan mencegah migraine. Beberapa
beta blocker juga memiliki fungsi untuk mengurangi produksi dari aqueous humor
pada mata sehingga dapat digunakan dalam pengobatan glukoma.
Terdapat 4 tipe dari beta blocker yaitu beta blocker yang selective, non-
selective beta blocker, beta blocker aktivitas simpatomimetik intrinsic, dan beberapa
beta blocker lain (Aijaz, 2009).

Beta Blocker Selektif


Contoh obat yang termasuk kedalam selective beta blockers adalah
metoprolol. Obat ini memiliki fungsi utama untuk menghambat atau menghalangi
reseptor beta 1 sehingga akan mempengaruhi jantung dan tidak mempengaruhi jalan-
jalan udara. Metoprolol memiliki fungsi untuk menghambat pada reseptor beta
adrenergic. Obat ini memiliki efek antagonis kompetitif dengan katekolamin biasanya
pada saraf-saraf perifer (terutama dijantung) sehingga bisa menurunkan kardiak
output. Selain itu dapat menyebabkan efek sentral yang menyebabkan berkurangnya
aliran simpatis ke jaringan perifer, lalu dapat juga menekan aktivitas renin.
Metoprolol selain sebagai antihipertensi juga dapat digunakan untuk nyeri
pada dada (angina pectoris), aritmia jantung, infark miokard, trotoksikosis, profilaksis
migraine.

Gambar 1. Obat antihipertensi: Metoprolol


Sumber: https://www.alomedika.com

Beta Blocker Non Selektif


Pada golongan non-selective beta blocker contoh obatnya adalah
propranolol. Fungsi dari golongan ini adalah menghalangi reseptor beta 1 dan beta 2
sehingga akan mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan jalan-jalan udara.

Beta Blocker yang memiliki Aktivitas Simpatomimetik Intrinsik


Beta blocker yang memiliki aktivitas simpatomimetik intrinsik contohnya
adalah pindolol dan acebutolol. Golongan ini mempunyai mekanisme kerja yang
berperan simultan beta dalam kondisi aktivitas adrenergic min (tidur) dapat menjadi
penghalang aktivitas beta dalam kondisi aktivitas adrenergic max (berolahraga). Beta
blocker dengan intrinsic simptomimetik activity memiliki efek lebih kecil pada
denyut jantung sehingga pada siang hari akan mengurangi bradikardi pada siang hari
(Priyanto, 2008).
Pindolol merupakan salah satu jenis beta blocker yang efektif digunakan
sendiri atau digunakan berbarengan dengan anti hipertensi lainnya, khususnya jika
dikombinasikan dengan diuretic thiazide. Pindolol dapat diberikan secara oral dengan
dosis sebanyak 2,5-5 mg, diberikan 3 kali sehari, dosis maksimum yang dapat
diberikan dalam sehari adalah 40 mg.

Gambar 2. Obat antihipertensi: Pindolol


Sumber: https://www.alomedika.com

Beta Blocker lainnya


Beberapa beta blocker lainnya seperti labetalol dan carvedilol berfungsi
untuk menghalangi reseptor beta 1 dan alpha 1. Dengan fungsi tambahan
menghalangi reseptor alpha akan menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah
(vasodilatasi).

Gambar 3. Obat antihipertensi: Labetalol


Sumber: https://www.alomedika.com

Labetalol adalah jenis obat yang memiliki aksi lebih kuat dalam proses
penurunan tekanan darah setelah 3 hari atau 72 jam. Penggunaan labetalol lebih
efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan menggunakan metildopa dan
nifedipin.

 Mekanisme Kerja
Terdapat tiga tipe reseptor beta yaitu reseptor beta 1, reseptor beta 2 dan
reseptor beta 3. Ketiga reseptor beta ini memiliki fungsi berbeda-beda berdasarkan
pada lokasi pada tubuh. Reseptor beta 1 dapat ditemukan di jantung, mata, otak,
neuron adrenergic perifer dan ginjal. Fungsi dari reseptor beta 1 adalah untuk
menstimulasi produksi katekolamin sehingga akan menstimulasi produksi renin.
Dengan penggunaan beta blocker pada reseptor beta 1 akan menyebabkan produksi
renin menurun sehingga cardiac output akan berkurang dengan disertai penurunan
tekanan darah.
Reseptor beta 2 ditemukan di dalam paru-paru, hati, saluran pencernaan,
rahim (uterus). Sedangkan reseptor beta 3 terdapat pada sel-sel adiposit. Obat-obatan
yang tergolong dalam beta blocker lebih sering menghambat reseptor beta 1 dan 2.
Penyekat reseptor beta adrenergic adalah obat yang bekerja dengan menghambat
reseptor β1 dan dapat menurunkan tekanan darah dengan mekanisme: dapat
menurunkan kontraktilitas miokard, keadaan ini juga dapat menurunkan curah
jantung, yang nantinya akan berfungsi sebagai penghambat dari sekresi renin yang
terletak pada bagian ginjal yaitu pada sel jukstagloeruler. Selanjutnya akibat dari
angiotensin II menurun, memberikan efek dapat memberikan pengaruh pada aktivitas
simpatis sehingga mengakibatkan sensitivitas baroreseptor mengalami perubahan,
neuron adrenergic perifer juga mengalami perubahan dan mengakibatkan biosintesis
prostasiklin mengalami peningkatan (Departemen Farmakologi dan Terapeutik UI,
2007). Selain mekanisme diatas beta blocker juga dapat menjadi menghambat pada
proses-proses kimia di hati, mekanisme tersebut juga dapat menghambat kerja enzim
lipase dan efek bronkospasme.

 Efek Samping
Efek samping yang mungkin dapat disebabkan oleh penggunaan beta
blocker menurut Syamsudin (2010) seperti diare, kejang-kejang pada perut, mual
muntah, timbulnya ruam pada kulit, gangguan penglihatan (pandangan menjadi
kabur), kejang-kejang pada otot, dan kelelahan. Beta blocker juga dapat menyebabkan
efek yang serius yaitu dapat memperlambat denyut jantung, mengurangi tekanan
darah, dapat menyebabkan gagal jantung, sesak nafas (pada penderita asma),
disfungsi seksual, dan menyembunyikan gejala dari glukosa darah rendah
(hipoglikemia) pada pasien diabetes. Selain itu menyebabkan efek pada sistem saraf
pusat yaitu sakit kepala, depresi, kebingungan, mengalami mimpi buruk dan
berhalusinasi (Judith Deglin, 2005).
Berdasarkan jurnal penelitian Berth Gormer dalam Diana Lyrawati, 2008
menyatakan bahwa juga terdapat penyebab terjadinya bronkospasme pada saat
penggunaan beta blocker adalah beta blocker memblokade atau menghambat pada
reseptor beta 2 pada bronchi, apalagi jika menggunakan beta blocker jenis kardio
selektif. Pada penderita diabetes mellitus khususnya tipe 1 harus selalu memonitor
glukosa darah disebabkan karena gejala hipoglikemia tidak akan muncul. Kondisi ini
dapat terjadi akibat dari beta blocker memblokade kerja saraf simpatis, dimana saraf
simpatis adalah saraf yang bertugas untuk memperingati jika terjadi hipoglikemia.
Selain itu dapat terjadi mimpi buruk pada penggunaan propranolol, dan pada
penggunaan beta blocker golongan obat-obatan non selektif dapat menimbulkan efek
yaitu terjadinya peningkatan trigliserida dan HDL menjadi turun.

 Kontraindikasi
Kontraindikasi pemberian beta blocker adalah pada seseorang dengan
penyakit paru obstruktif, diabetes mellitus terutama pada keadaan hipoglikemia,
seseorang dengan penyakit-penyakit vaskuler dan disfungsi jantung (Priyanto, 2008).
Penggunaan beta blocker juga tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba karena dapat
menyebabkan nyeri dada (angina) dan menyebabkan serangan jantung.

2.1.3 Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor


 Definisi
Definisi dari Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yaitu suatu golongan
obat-obatan pada sistem kardiovaskuler yang mempunyai mekanisme kerja dapat
menghambat konversi angiotensin dari angiotensin I yang selanjutkan dapat menjadi
angiotensin II. Dimana angiotensin II berperan sebagai vasokonstriktor menstimulasi
aldosterone dapat keluar dan mengaktifkan saraf simpatis sentral serta pada bagian
perifer. Penggunaan ACE inhibitor akan menghambat pembentukan angiotensin II
yang mengakibatkan tekanan darah menurun.

 Jenis Obat
Obat-obatan yang merupakan golongan ACE Inhibitor yaitu benazepril,
delazepril, enalapril maleat, Lisinopril, perindopril, kuinapril, kaptopril, ramipril dan
silazapril (Nafrialdi, 2007).

 Mekanisme Kerja
ACE inhibitor menghambat pembuluh darah, pada bagian ginjal, organ
jantung (Departemen Farmakologi dan Terapeutik UI, 2007). Dimana angiotensin II
berperan sebagai vasokonstriktor dan menstimulasi aldosterone untuk keluar dan
mengaktifkan saraf simpatis sentral serta pada bagian perifer. Penggunaan ACE
inhibitor akan menghambat pembentukan angiotensin II yang mengakibatkan
penurunan tekanan darah. Selain itu ACE inhibitor memiliki tanggung jawab dalam
degradasi kinin yang merupakan salah satu mediator bradikinin, dalam hal ini
memiliki efek pelebaran sehingga akan menghasilkan efek antihiperhensi yang lebih
kuat (Departemen Farmakologi dan Terapeutik UI, 2007).
Penggunaan ACE inhibitor lebih efektif dalam menurunkan risiko penyakit
kardiovaskuler dibandingkan dengan antihipertensi lainnya, selain itu dapat
digunakan pada penyakit diabetes mellitus tipe 2, menurunkan morbiditas dan
mortalitas pada pasien gagal jantung dan memperlambat progress pada penyakit ginjal
kronis (Saseen JJ, 2003).
 Efek Samping
Efek samping dari penggunaan ACE inhibitor adalah dapat menyebabkan
keadaan hipotensi atau penurunan tekanan darah, batuk kering, kalsium dalam darah
dalam jumlah banyak (hyperkalemia), timbulnya bitnik kemerahan (rash) pada kulit,
edema angioneurotik, proteinuria, gagal ginjal akut dan efek teratogenic (Nafrialdi,
2007).

 Kontraindikasi
ACE inhibitor memiliki kontraindikasi untuk wanita hamil dan pasien yang
memiliki riwayat angioedema karena biasanya akan terjadi pembengkakan pada bibir
dan menyebabkan kemungkinan susah bernafas (bila ditemukan riwayat segera
hentikan pemberian ACE inhibitor).

2.1.4 ARB (Angiotensin Receptor Blocker)


 Definisi
Obat golongan ARB adalah obat yang bekerja secara langsung pada reseptor
angiotensin, sehingga menghambat kerja angiotensin II tipe 1 seperti vasokonstriksi,
pelepasan aldosterone, aktivitas saraf simpatik, pelepasan hormone antidiuretic, dan
konstriksi dari glomerulus dan eferen artiola. Namun ARB tidak menghambat reseptor
angiotensin II tipe 2 seperti pelebaran dan memperbaik kondisi suatu jaringan
(Priyanto, 2008).

 Jenis Obat
Contoh obat yang termasuk pada golongan ARB adalah losartan, valsartan,
irbesartan, telmisartan dan candesartan (Vallerand, 2005).

Gambar 4. Obat antihipertensi: Losartan


Sumber: https://www.alomedika.com

 Mekanisme Kerja
Obat yang bekerja secara langsung pada reseptor angiotensin, sehingga
menghambat kerja angiotensin II tipe 1 seperti vasokonstriksi, pelepasan aldosterone,
aktivitas saraf simpatik, pelepasan hormone antidiuretic, dan konstriksi dari
glomerulus dan eferen artiola. Namun ARB tidak menghambat reseptor angiotensin II
tipe 2 seperti pelebaran dan memperbaik keadaan jaringan(Priyanto, 2008). ARB
dapat digunakan pada seseorang yang tidak dapat mentolelir ACE inhibitor. Hal
tersebut dikarenakan ARB memiliki cara kerja yang hampir mirip dengan ACE
inhibitor namun ARB tidak bekerja untuk menghambat pemecahan bradikinin,
kondisi ini tidak akan menyebabkan efek batuk kering persisten nantinya akan
menghambat terapi yang dilakukan dengan ACE inhibitor (Pion BPOM, 2015).

 Efek Samping
Dalam penggunaan ARB memiliki efek samping yaitu hipotensi,
hyperkalemia, dan fetotoksik (Nafrialdi, 2007).

 Kontraindikasi
Kontraindikasi dari obat golongan ARB adalah pada wanita yang tengah hamil. Jika
kehamilan terdeteksi maka pengobatan harus segera dihentikan. Karena ini
berhubungan dengan kemungkinan interaksi dengan sistem renin angiotensin yang
dapat menyebabkan malformasi pada fetal dan kematian neonatal (Pion BPOM,
2015).

2.1.5 Calcium Channel Blockers (CCB)


 Definisi
Kanal Ca merupakan kompleks protein yang tersusun oleh 4 atau 5 subunit
yang berbeda yang disandi oleh beberapa gen. Kanal ion Ca merupakan jalur utama
masuknya ion Ca ke dalam sel pada berbagai jenis tipe sel dan mengatur berbagai
proses intraseluler sel, seperti kontraksi, transkripsi gen, plastisitas sinaptik, dan
pengeluaran hormon atau neurotransmitter. Subunit α1 dengan berat molekul 190 –
250 kDa merupakan subunit terbesar dan merupakan bagian kanal yang bisa
diregulasi oleh second messenger, obat atau toksin (Yousef, 2015).
Subunit α1 terdiri dari 4 domain homolog (I – IV) yang masing – masing
mempunyai 6 segmen transmembran (S1 – S6). Segmen S4 berperan sebagai sensor
voltase, sedangkan loop antara segmen S5 dan S6 pada masing – masing domain
menentukan konduktansi dan selesktivitas ion. Selain itu, terdapat pula subunit β dan
suatu subunit kompleks α2 – δ yang merupakan komponen pada hampir semua tipe
kanal Ca (Ikawati, 2014).

 Jenis Obat
Obat-obat calsium channel blocker menurut Katzung (2002) yaitu:
a. Nifedipine
Nifedipine tergolong obat penghambat kanal kalsium yang bekerja
menurunkan tekanan darah arteri dengan cara meleburkan pembuluh darah
perifer. Dosis nifedipine : untuk mengontrol tekanan darah tinggi dapat
digunakan 10 mg 1-2 tablet sehari bila diperlukan, dosis dapat di naikkan sampai
60 mg sehari bila di perlukan.
Senyawa ini digolongkan ke dalam golongan kalsium antagonis yang
berupaya untuk menghalangi ion kalsium masuk pada sel-sel di otot pada
jantung dan juga di sel-sel pada otot- otot polos di dinding pembuluh darah
arteri. Maka dari itu, kontraksi pada sel-sel itu dapat dihambat dengan adanya
efek pelebaran pembuluh darah. Nifedipine biasanya dipergunakan pada
beberapa penyakit jantung seperti nyeri pada dada yang diakibatkan karena
kurangnya suplai oksigen pada jantung dengan menghindari terjadinya kontraksi
otot yang tidak terkendali sehingga distribusi sel sel darah pada oto jantung
menjadi lebih tinggi, dan di penyakit tekanan darah tinggi berkat adaya daya
pelebaran pada pembuluh darah perifernya. Jika pada spasme otot arteri, berguna
untuk menghilangkan kontaksi otot yang tidak terkendali pada otot tangan di jari-
jarinya.
b. Diltiazem
Rangkaian kerja pada kandungan obat ini untuk menurunkan kerja simpul
sinoatrial dan nodus atrioventrikular pada jantung, juga untuk memvasodilatasi
pembuluh darah arteri, arteri dari ventrikel kiri serta arteri-arteri yang ada pada
ujung bagian tubuh. Karena dari itu obat ini dapat mengurangi denyutan pada
jantung dan menurunkan kontraktilitas pada otot kardio, dan akhirnya dapat
terjadinya keselarasan diantara penyimpanan dengan penggunaan O2 di penyakit
akibat kekurangannya suplai O2 di jantung. Peresepan : pada usia dewasa
diberikan 4 x 30 miligram, bisa di tingkatkan hingga 360 miligram dalam 1 hari
bila diperlukan, untuk pemberiaannya dapat di berikan sebelum makan dan
waktu sebelum tidur.

c. Verapamil
Senyawa ini dapat menghambat masuknya ion kalsium melewati membran
ion miokard dan juga otot polos pada pembuluh darah, sehingga dapat mencegah
proses kontraktil pada otot polos di pembuluh darah jantung. Dosis : dosis
diberikan sebanyak 240-320 mg per hari yang di bagi menjadi tiga dosis
konsumsi.

 Mekanisme Kerja
Mekanisme terjadinya hipertensi dimulai pada proses terjadinya kontraksi
otot, konsentrasi ion Ca2+ intraseluler meningkat pada saat masuk ke dalam sel dan
pada saat dilepaskan dari retikulum sarkoplasma. Kemudian Ca2+ berikatan dengan
molekul kalmodulin (CaM). Ikatan antara Ca2+ dengan kalmodulin (CaM)
mengaktifkan rantai ringan yang biasa disebut miosin kinase (RRMK). Lalu RRMK
memfosfolirasi rantai ringan yang ada pada kepala mioson dan mulai meningkatkan
aktivitas ATPase. Jembatan persilangan antara miosin yang aktif mulai bergeser
sepanjang aktin kemudian menghasilkan kontraksi pada otot (Campbell, 2002).
Peningkatan kadar Ca intraseluler menyebabkan kontraksi otot. Ada sedikit
perbedaan mekanisme regulasi Ca pada kontraksi otot polos dan otot jantung. Pada
otot polos, untuk bereaksi, Ca harus berikatan dengan reseptornya, yaitu suat protein
pengikat Ca yang disebut calmodulin , yang dijumpai pada semua sel eukariota
(umumnya 1% dari total massa protein). Calmodulin sendiri tidak memiliki aktivitas
enzim. Baru setelah berikatan dengan Ca menjadi kompleks Ca/Calmodulin, dia
bekerja dengan mengikat protein lain, misalnya golongan protein kinase yang
tergantung Ca/Calmudulin yang disebut Ca/Calmodulin-dependent protein kinse
(CaM-kinase).
Aksi CaM-kinase adalah memfosforilasi serine atau theroin pada protein
target sehingga akhirnya menimbulkan respons seluler. Salah satu CaM-kinase adalah
miosin light-chain kinase (MLCK) yang berperan dalam kontraksi otot polos. MLCK
akan mengaktifkan miosin. Perlu diketahui bahwa miosin merupakan protein motorik
yang akan berinteraksi dengan filamen aktin untuk menyebabkan kontraksi (Ikawati,
2014).
Pada proses relaksasi ion Ca2+ yang bebas di dalam sitosol mulai menurun
disaat ion kalsium mulai dipompa keluar dari dalam sel atau ion kalsium kembali ke
dalam retikulum sarkoplasma. Ion Ca2+ yang melepaskan diri dari molekul
kalmodulin (CaM) dapat membuat aktivitas pada RRMK mengalami penurunan.
Miosin fosfatase mulai melepas fosfat dari rangkaian rantai ringan miosin, yang dapat
menurunkan aktivitas pada ATPase miosin. Berkurangnya aktivitas yang terjadi pada
ATPase miosin ini dapat juga menurunkan tegangan pada otot (Campbell, 2002). Pada
sirkulasi darah untuk dapat dipertahankannya tekanan darah yang normal, semua
bergantung pada keseimbangan diantara tahanan perifer vaskuler dan curah jantung.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi esensial pada umumnya
memiliki curah jantung normal, namun tahanan perifer pada pembuluh darahnya
meninggi. Kekuatan pembuluh darah perifer ini dapat dilihat bukan hanya dengan
arteri besar dan kecil, karena bisa juga dengan arteriola yang kecil, dimana
dindingnya juga memiliki sel-sel otot yang berjenis polos. Adanya kontraksi yang
terjadi pada jenis sel otot yang polos juga diduga berhubungan erat dengan
terjajdinya konsentrasi ion Ca yang meninggi yang terjadi di dalam sel
(Lumbantobing, 2008).

Gambar 5. Mekanisme hipertensi


Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Hemodynamics

Banyak faktor yang menyebabkan tekanan darah seseorang menjadi tinggi


diantaranya apabila terjadi kontraksi berlebihan dari arteri kecil (arteriola) ( Tatang,
2015 ). Kontraksi pada arteriola dipengaruhi oleh adanya otot polos yang berperan
dalam penyempitan dan pelebaran pembuluh darah. Apabila otot polos mengalami
kontraksi yang berlebihan maka akan menyebabkan penyempitan pada pembuluh
darah yang berkepanjangan. Hal ini lah yang menyebabkan seseorang dapat terkena
hipertensi.
Gambar 6. Perbedaan pembuluh darah normal dengan pembuluh darah yang terkena
hipertensi.
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Hemodynamics

Obat CCB beraksi pada otot polos pembuluh darah dengan mengurangi
kontraksi arteri dan menyebabkan peningkatan diameter arteri, fenomena ini disebut
vasodilatasi (CCBs tidak bekerja pada vena otot polos). Dengan beraksi pada otot
jantung (miokardium) mereka mengurangi kekuatan kontraksi jantung. Dengan
memperlambat konduksi aktivitas listrik dalam hati mereka memperlambat detak
jantung. Dengan menghalangi sinyal kalsium pada sel-sel korteks adrenal, mereka
langsung menurunkan produksi aldosteron, yang menguatkan untuk menurunkan
tekanan darah . Kelas CCBs dikenal sebagai dihidropiridin terutama mempengaruhi
arteri otot polos pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah dengan
menyebabkan vasodilatasi (Yousef, 2005).

 Efek Samping
a. Nifedipine
Efek samping utama penggunaan nifedipine adalah hipotensi (keadaan
tekanan darah rendah), hipotensi terjadi terutama pada titrasi awal atau pada saat
dosis dinaikkan, efek samping lainnya dapat berupa nyeri kepala, pusing
berputar, sembelit,mual, muntah dan mulut kering (Anonim, 2012).
b. Diltiazem
Efek samping yang ditimbulkan adalah pusing terutama saat duduk atau
pada saat bangkit berdiri, nyeri kepala, gangguan saluran cerna dan bradikardia
(Anonim, 2012).
c. Verapamil
Efek samping yang ditimbulkan adalah verapamil memiliki efek samping
yaitu konstipasi, lelah, pusing, sakit kepala, mual, pergelangan kaki bengkak
(Anonim, 2012).

2.1.6 Alfa Blocker


 Definisi
α-blocker adalah agen farmakologis yang bertindak sebagai antagonis netral
reseptor α-adrenergik (adrenoseptor-a). α-blocker digunakan dalam pengobatan
beberapa kondisi, seperti penyakit Raynaud, hipertensi, dan skleroderma. α-blocker
juga dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan dan panik, seperti
gangguan kecemasan umum, gangguan panik, atau gangguan stres posttraumatic
(PTSD). Sementara yang paling umum digunakan untuk mengobati hipertensi
(biasanya bersamaan dengan diuretik saat perawatan lainnya tidak efektif), juga sering
digunakan untuk mengobati gejala BPH (benign prostatic hyperplasia).

 Jenis Obat
Jenis obat α-blocker di bagi menjadi 2 menurut Yousef (2005) yaitu:
a. Alfa bloker Non selektif
o Jenis derivat haloalkilamin
Mekanisme kerja pada obat ini yaitu dengan adanya ikatan pada kovalen yang
stabil dengan adrenoreseptor alfa dapat dihasilkannya hambatan yang
irreversible. Biasa disebut juga dengan alfa bloker nonkompetitif dan kerja
panjang. Indikasi untuk dipergunakannya obat ini adalah pada pasien dengan
hipertensi ringan dan sedang serta pada penderita BPH yang tidak ganas. Pada
penderita Benign prostat hyperplasia yang tidak ganas dapat diberikan terapi
yaitu dilakukannya pembedahan atau bisa juga dengan menggunakan obat yang
mengandung alfa bloker serta bisa juga dengan pemberian obat anti androgen
finasteride.
o Jenis derivat imidazolin
Kandungan tolazolin serta fentolamin adalah jenis alfa bloker non selektif
kompetitif. Obat-obat ini bekerja dengan cara menghambat reseptor serotonin,
lalu melepaskan histamin dari sel mast, kemudian meragsang reseptor
muskarinik yang ada pada saluran cerna, setelah itu sekresi asam lambung
mulai dirangsang, serta pada saliva, air mata dan juga pada keringat. Obat-
obatan ini dipergunakan untuk mengatasi episode akut dari hipotensi, untuk
mengatasi pseudo-obstruksi pada usus, mengatasi nekrosis pada kulit, dan juga
disfungsi pada saat eksresi. Obat fentolamin disediakan dalam vial 5 mg untuk
pemberian pada intravena atau intramuskular, sedangkan untuk tolazolin
disediakan dalam dosis 25 mg/ml untuk suntikan melalui intavena.
o Alkaloid ergot
Merupakan salah satu alfa bloker yang pertama kali ditemukan, bekerja sebagai
agonis ataupun antagonis parsial pada reseptor alfa adrenergik, reseptor
serotonin, dan juga reseptor dopamin.
b. Alfa bloker selektif
o Prazosin
Mekanisme kerja obat ini yaitu antagonis adrenergik alfa-1 perifer mendilatasi
arteri maupun vena. Indikasi pemberian pada pasien yang mengalami hipertensi
dan gagal jantung kongestif. Dosis yang biasanya diberikan adalah 0,5 mg 2
kali sehari selanjutnya dosis di tingkatkan 1 mg 2 kali sehari atau sesuai dengan
anjuran dokter.
o Terazosin
Indikasi pemberian pada pasien hipertensi ringan sampai sedang dan pada
pasien dengan hiperplasia prostat yang jinak. Dosis yang dapat diberikan pada
pasien-pasien yang menderita hipertensi yaitu, 1 mg diberikan sebelum tidur;
bila perlu dosis dapat ditingkatkan menjadi 2 mg setelah 7 hari atau sesuai
dengan anjuran dokter dan dosis penunjang biasanya diberikan sekitar 2-4 mg
sekali dalam sehari pada pasien penderita hiperplasia prostat jinak atau sesuai
dengan anjuran dokter.
o Doksazosin
Mekanisme kerja obat ini yaitu antagonis adrenergik alfa-1 perifer mendilatasi
arteri maupun vena. Indikasi pemberian pada pasien hipertensi.

 Efek Samping
Efek samping obat α-blocker menurut Syamsudin (2011) yaitu:
a. Alfa bloker Non selektif
o Derivat haloalkilamin: Hipotensi postural
o Derivat imidazolin: Hipotensi
o Alkaloid ergot: biasanya pasien akan mengalami pusing atau sakit kepala,
mengantuk, terjadi palpitasi, dan edema pada bagian perifer serta mual
c. Alfa bloker Selektif
o Prazosin
Sakit kepala, hipotensi postural, gangguan saluran pencernaan, gatal-gatal,
mulut kering.
o Terazosin
Pasien akan merasa mengantuk, sakit kepala/ pusing, tidak bertenaga atau
merasa lemas, edema pada bagian perifer tubuh, sering buang air kecil serta
priapismus.
o Doksazosin
Hipotensi postural, infeksi saluran kemih, nyeri otot, gangguan pencernaan,
sakit kepala, kelelahan, vertigo dan edema.

2.2 Obat Antiangina


2.2.1 Definisi
Angina pektoris merupakan nyeri yang sangat berat pada bagian dada yang terjadi
akibat ketidakcukupan oksigen yang akan disalurkan menuju ke jantung. Anti angina
merupakan salah satu obat-obatan yang mempunyai fungsi utama yaitu mengatasi
penderita yang sedang mengalami angina pektoris. Menurut Jamshid (2010) penyebab
angina antara lain
 Kebutuhan O2 meningkat yang menyebabkan kerja yang berlebihan
 Penyediaan O2 menurun sehingga menyebabkan terjadinya sumbatan pada vaskuler.
Untuk itu perlunya obat antiangina untuk menurunkan kerja jantung atau
meningkatkan aliran koroner. Klasifikasi angina terdiri dari dua tipe antara lain:
 Angina klasik. Kondisi ini sering terjadi pada saat olahraga maupun pada saat
seseorang tidak bisa menahan emosi yang meluap
 Angina varian. Kondisi ini sering terjadi pada saat istirahat. Spasme pada arteri
koroner mengakibatkan terjadinya angina varian karena terjadinya pengurangan
secara episodik pada pasokan oksigen miokardial

2.2.2 Jenis Obat


Menurut Departemen Farmakologi dan Terapeutik UI (2007), yang termasuk obat-obatan
antiangina yaitu:
 Nitrat organik: nitrogliserin dan isosorbid
Untuk pencegahan angina dapat mengkonsumsi per oral. Pada saat terjadinya angina
dapat diberikan isosorbid 30% yaitu 2,5mg – 10mg dan juga nitrogliserin 38% yaitu
0,15mg – 0,6mg.
Gambar 7. Sediaan obat antiangina: Nitrogliserin
Sumber: https://www.alomedika.com

 Beta bloker
Penghambat beta (selektif): metoprolol (tab 50mg dan 100mg) dan atenolol (tab 50mg
dan 100mg)
Penghambat beta (non selektif): propanolol (tab 10mg dan 40mg) dan pindolol (tab
5mg dan 10mg)
 Calsium antagonis
Turunan verapamil: verapamil HC dan tiapamil
Turunan alkilarilamin: diltiazem
Turunan piperazin: sinarizin
Turunan fenildihidropiridin: felodipin dan nifedipin

2.2.3 Mekanisme Kerja


Obat-obatan antiangina bekerja untuk melebarkan saluran pembuluh darah yang nantinya
melancarkan aliran darah; juga untuk menurunkan kebutuhan oksigen dengan cara
menurunkan kerjanya.
Menurut Dorland (2012) farmakodinamik pada obat-obatan antiangina yaitu:
 Nitrat organik
Mekanisme kerja dari nitrat organik bermanfaat untuk mengurangi aliran balik
vena sehingga akan mengurangi kerja ventrikel kiri (Abraham, 2008). Dimulai dari
metabolisme awal dengan dilepaskannya ion nitrit (NO 2-) ke dalam sel, kemudian ion
nitrit akan diubah menjadi nitrat oksida (NO) yang secara langsung akan
mengaktifkan enzim selanjutnya akan membuat terjadinya peningkatan pada guanosin
monofosfat siklik (cGMP) (James, 2006). Selanjutnya cGMP akan menyebabkan
penarikan gugus fosfat pada myosin (MCL), relaksasi otot polos dihasilkan dari
aktivitas tersebut (Michael, 2006).
 Beta bloker
Beta bloker mempunyai kerja memblok reseptor beta sehingga menurunkan
kecepatan jantung, output jantung dan kontraksi miokardial sehingga nyeri pada dada
akan berkurang dan kebutuhan oksigen miokardial dapat berkurang tetapi tidak akan
mempengaruhi reseptor alfa. Beta bloker akan memberikan peningkatan kebutuhan
oksigen miokard sehingga perfusi subendokard meningkat; beta bloker juga sebagai
penghambat epineprin yang akan menurunkan frekuensi denyut jantung (Retnosari,
2013). Beta bloker akan menurunkan beban kerja jantung, tetapi lebih jarang dipilih.
Dosis pemberian beta bloker biasanya hanya diberikan sekali dalam sehari atau
menurut anjuran dokter (Farmakologi FKUI, 2009). Penghentian terapi beta bloker
juga harus dilakukan secara bertahap karena mencegah kekambuhan.
 Calsium antagonis
Mempunyai kerja sebagai penghambat arus ion kalsium yang masuk melalui
saluran membran sel yang aktif. Calsium antagonis berperan dalam peristiwa
kontraksi pada otot polos vaskuler dan jantung, semakin meningkat kadar calsium
antagonis kontraksi akan semakin meningkat. Calsium antagonis sebagai penghambat
mempunyai 3 efek hemodinamik yang akan mengurangi kebutuhan oksigen pada otot
jantung (James, 2004) yaitu:
- Peningkatan kebutuhan oksigen ( tekanan darah, pelebaran pada koroner, denyut
jantung menurun akan memperbaik perfusi dari subendokard).
- Vasodilatasi koroner dan perifer
- Kontraktilitas jantung akan menurun

2.2.4 Efek Samping


Efek samping obat-obatan antiangina menurut Syamsudin (2011) yaitu:
 Nitrat organik
Sakit kepala yang disebabkan akibat terjadinya dilatasi arteri, penggunaan dosis tinggi
dapat menyebabkan methemoglobinemia disebabkan karena terjadinya oksidasi
hemoglobin, dapat menyebabkan dermatitis kontak apabila nitrat organik diberikan
secara oral.
 Beta bloker
- Efek farmakologis: bronkospasme, bradikardi dan blok AV disebabkan karena
kontraksi dan konduksi jantung yang mengalami penurunan
- Alergi: demam, purpura
- Sentral: pusing, susah tidur, depresi
- Saluran pencernaan: diare, muntah, konstipasi
 Calsium antagonis
Pusing, sakit kepala, takikardi, mual muntah, edema perifer

2.2.5 Kontraindikasi
Menurut James (2004):
 Nitrat organik
Anemia berat, wanita hamil, hipersensitivitas, hipotensi (<80 mmHg)
 Beta bloker
DM dengan hipoglikemi, asma, disfungsi jantung, hipotensi

2.3 Obat Glikosida


2.3.1 Definisi
Obat gagal Jantung adalah organ yang paling penting ditubuh manusia. Jantung
juga berfungsi untuk alap pemicu pemompa darah pada sistem pembuluh darah, yang
kapasitasnya mempunyai frekuensi yang terbatas. Sistem jantung ialah tempat
penghantar listrik yang dimana dapat memelihara frekuensi irama pada jantung yang
teratur. Jika melihat fungsi jantung pada hal berikut ini, fungsi dan intervensinya dapat di
jelaskan sebagai berikut (Gan, 2010):
Terjadinya penyakit gagal jantung bialamana tidak adanya kontraksi dalam darah
untuk dapat memompa supaya dapat kebutuhan dalam tubuh yang cukup. Seumpama
pada saat memompa secara mekanis, gagal jantung bisa terjadi apabila jantung bekerja
lumayan lama dan waktu kontraksinya juga waktunya juga terbatas. Kasus ini
berkontraksi untuk memompa darah yang oksigennya dapat mencukupi untuk dapat
diproses dalam tubuh dan semua organ lainnya. Dan banyak hal lainnya dan cara supaya
hal tersebut dapat tertangani yaitu melalui terapi farmakologi yang meliputi penurunan
kerja jantung (kontraktilitas miokardial)(Katzung, 2011).
Tujuan utama dari terapi farmakologi pada gagal jantung ialah :
1. Membatasi beban dari tekanan jantung
Istirahat yaitu, maka dapat membuat kerja jantung menjdai terbatas dan dapat kurang
juga. Dengan menurunkan berat badan (BB) juga agar dapat mengurangi penebalan
lemak pada sekitar jantung yang dapat menghimpitnya dan sehingga membuat sesak,
dan yang dapat menyebabkan berkurangnya ruang detak jantung. Pengurangan dari
asupan garam, karena apabila mengkonsumsi asupan yang mengandung kadar garam
berlebih dapat menjadikan hipertensi (darah tinggi) dalam tubuh. Adanya hipertensi
ini maka dapat membuat kerja jantung semakin kontraksinya cepat, sehingga jantung
lebih cepat berkontraksi dengan cepat mendorong dalam mengedarkan darah ke
seluruh tubuh dan jantung mengalami kelelahan (weekness)
2. Mengalami kenaikan penurunan kerja jantung (kontraktilitas miokardial)
Caranya denga terapi farmakologi glikosida jantung, meskipun mekanismenya belum
jelas, tetapi terbukti terapi farmakologi dapat memberi hambatan terhadap ATPase
Natrium-Kalsium dan dapat memberi tekanan pelepasan kalsium di intrasel dari
retikulum sakroplasma.
3. Dapat memberikan tekanan afterload dan preload
Preload (menurunkan tekanan bebabn awal) yaitu pada volume darah dalam pengisian
ventrikel pada saat terjadi diastolik. Sehingga tekanan beban awal meningkat dan
dapat menyebabkan pengisian berlebih di jantung dan beban kerja jantung mengalami
peningkatan. Dan penurunan tekanan tinggi dalam pengisisan berlebih pada gagal
jantung terapi farmakologinya ialah venodilator, obat tersebut dapat mengurangi
preload dengan cara mendistribusikan darah menjauhi dada menuji vena perifer.
Sedangkan after load menurunkan tekanan beban akhir) yaitu memberikan dorongan
agar jantung dapat memompa darah yang baru sehingga sistem arterialdapat
teroksigenasi. Sehingga dalam penurunan curah jantung pada pasien gagal jantung
dapat terjadi peningkatan (refleks) resistensi vaskuler sistemik yang sebagian
dipengaruhi oleh peningkatan impuls simpatis dan katekolamin didalam darah dan
sebagian dipengaruhi oleh pengaktifan sistem renin-angiotensin. Endotelin,
dipengaruhi oleh suatu peptida vasokontriktor yang kuat. Hal ini merupakan sasaran
dari pemakaian farmakologi yang mengurangi tonus arteriol pada pasien gagal
jantung
4. Anti aritmia untuk memperbaiki tekanan frekuensi pada suatau irama jantung.
Aritmia terjadi karena akibat peningkatan tekanan yang secara otomatis (terjadi
depolarisasi secara spontan), blok jantung yang parsial (secara total) yang
mengakibatkan efek penghambat nodus AV.

Glikosida mempunyai struktur gugus yang ada kandungan gula. Pada penduduk
amerika selatan dan afrika. Glikosida di daerah mereka gunakan untuk racun panah.
Efeknya terjadi untuk jantung. Pada glikosida ditemukan di tanaman keluarga yang
bernama : Apocynaceae, Liliaceae, Moraceae dan Ranunculaceae. Dan sumber
perdagangan glikosida sekarang ini bernama genus stropantus dan genus.
Tanaman genus mempunyai banyak suponin. Contoh senyawanya adalah senyawa
digotinin (aglikon: digitoksigenin) yang terdapat dari digitalis (Topalin S 2008, Mycek
2009). Glikosida ialah senyawa yang tersusun 2 unsur, ialah Glukosa dan Non- Glukosa.
Dan sama-sama mempunyai hubungan erat dengan bentuknya berupa jalan jembatan
oksigen (O-Glikosid, diosein), (N-glikosida, adenosine) seperti jembatan nitrogen, (S-
Glikosida, sinigrin) seperti contohnya sulfur, (C-glikosida, barbaloin) seperti karbon
(Rathbone, 2013). non-glikosida ialah aglikon sedangkan bagian glukosa disebut glikon.
Jika glikon dan aglikon saling berhubungan erat maka unsur ini bisa dinamakan
glikosida.

2.3.2 Jenis terapi farmakologi :


Terapi farmakologi yang dibuat pengobatan gagal jantung, ialah dibedakan atas
beberapa unsur golongan, senagai berikut:
1. Farmakologi inotropik :
 Obat glikosida: obat digitalis , digoxin, obat digitoksin, obat strophantin K, dan
obat quabain
 Agonis B-Adrenergik: obat dobutamin
 Fosfodiesterase inhibitor : obat amrinon dan obat milrinon
2. Obat berjenis deuretik : obat hidroklorotiazid, obat furosemid, obat
metolazon dan obat metolazon
Deuretik ialah suatu zat yang banyak mengeluarkan kemih atau diuresis , yaitu
dengan kinerja secara langsung di ginjal. Farmakologi obatnya menstimulus diuresis
sehingga dapat mempengaruhi kinerja ginjal secara langsung. Misalnya banyak zat
yang dapat memperkuat suatu kinerja jantung terutama obat digoksin dan obat
teofilin. Volume darah menjadi besar (dekstran) sehingga terjadi sekresi pada suatu
hormon yang brnama antidiuretik ADH ialah air, alkohol (Syamsuir, 2010).
Yang memegang peranan ginjal yang paling penting dalam patologis gagal
jantung, itu di akibatkan oleh volume cairan yang mengalami pengurangan ekstrasel
dengan penurunan preload, edema di perifer dan bendungan paru terjadi pengurangan,
maka ini diuretika pada orang dewasa yang sering dipakai sebagai obat yang perdana
dipakai pasien gagal jantung. Akibatnya ringan bendungannya sehingga denyut
jantung normal. Farmakologi ini disebut unsur Golongan tiazid sebagai pilihan obat
pada penderita pasien gagal jantung.
fungsi ginjal dipembentukan kemih
Ginjal fungsinya untuk memelihara kemurnian suatu jalan yaitu pertukaran zat
asing dan sebagai pengeluaran semua zat. Darah mengalami filtrasi. Semua
komponen melalui ‘saringan’ pada ginjal hanya saja kecuali sel darah dan zat putih
telur. Setiap ginjal mengandung kurang lebih 1 juta glomeruli dan seluruh darah
tubuh setiap menit 50 membutuhkan kalsium 5 liter sudah ‘dimurnikan’ diglomeruli.
Meregulasi fungsi penting kadar garam dan cairan tubuh. Ginjal ialah organ yang
paling penting untuk pengaturan homeostasis, dan suatu keseimbangan yang sangat
dinamis antara cairan extrasel dan intrasel, serta volume susunan cairan dan volume
total yang terpelihara. (Syamsuir 2010).
Diuretika pada umumnya dapat dibagi banyak kelompok, yakni :
 Bersifat lengkungan diuretik : etakrinat, obat furosemid dan obat etakrinat
Farmakologi ini berkhasiat pesat dan kuat waktu paruh 4-6 jam.
Digunakan banyak pada terapi hpertensi, contohnys pada edema paru dan otak.
Dosis yang terlihat nampak efeknya datar, artinya senantiasa berubah dan efeknya
(diuresis).
 Bersifat thiazide derifat : obat klopamida, klortalidon, obat indapamida, obat
merfrusida, dan obat xipamida (Diurexan).
Efeknya lambat dan lemah, waktu paruh 6-48 jam dan di gunakan pada kelemahan
jantung dan terapi hipertensi. Obat ini memiliki efek yang datar, selanjutnya dosis
akan naik, kemudian efek tidak bertambah ( bersifat diuresis dan penurunan
tekanan darah).
 Obat penghemat kalium deuretik : obat amilorida, obat triamteren dan antagonis
aldosteron (spironolakton, kanrenoat)
Efeknya lemah dan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna ekskresi kalium
melemah. sehingga mereabsorpsi natrium dan mengekskresikan kalium , proses
tersebut dipengaruhi oleh antagonis aldosteron secara kompetetif. Efek
sekresinya, amilorida, keadaan normal triamteren yang lemah dan mengenai Na
dan K. Dan zat penghemat kalium ini menghambat ekskresi K dengan kuat juga.
Bisa disebabkan karena ekresi dari magnesium.
 Bersifat Diuretika manitol, sorbitol dan osmotis.
Obat ini juga dapat direabsopsi pada tubuli dan direabsorpsi air menjadi terbatas.
Yaitu pada saat efeknya menjadi diuresis osmotis yang menjadikan ekskresi air
dan relative sedikit sekresi NA. Terutama manitol, hanya jarang digunakan sebagai
infuse intravena untuk menurunkan cairan dan tekanan intaokuler, juga untuk
menurunkan volume ccs (sairan cerebrospinal) dan tekanan intracranial.
 Karbonanhidrase perintang : asetazolamida
Zat enzim yang merintangi karbonanhidrase didalam tubuh prokimal, kemudian di
karbonat juga ada NA dan K yang diekskresi bersama didalam air dan lebih
banyak. Hasiatnya diuretiknya itu lemah, kemudian terjadi tachflaxie maka di
gunakan secara waktu yang berselang (intermittens).
Diuretik digunakan di keadaan yang ada peningkatan pengeluaran air, khususnya
dihipertensi pada pasien gagal jantung :
a. Hipertensi dapat mengurangi volume darah dalam jantung di seluruh tubuh sampai
tekanan darah menjadi turun. Pada khususnya di derivat yaitu thiazida yang
digunakan untuk indikasi di diuretika lengkungan dalam jangka waktu yang
panjang ternyata efeknya lebih ringan dari antihipertensi maka hanya digunakan
bila ada kontraindikasi thiasid, seperti pada insuf ginjal. Mekanisme kerjanya
diperkirakan berdasarkan penurunan daya tahan pembuluh perifer. Dosis juga
jangan terlalu tinggi. Thiazida memberikan kekuatan efek obat hipertensi B-Bloker
dan ACE-inhibitors, sehingga di kombinasikan. Penghentiannya melalui
pemberian thiazid juga mempengaruhi usia lansia juga. Karena tidak boleh secara
mendadak, karena resiko timbulnya gejala kelemahan jantung dan peningkatan
kontraksi pada jantung sehingga terjadi tekanan tensi yang meningkat.
b. (dekompenstion cordis) gagal jantung peredaran darah yang bagus tetapi ada
cairan berlebih di jaringan, akibatnya air mengendap sehingga terjadi edema ,
misalnya pada edema paru. Pada sindrom nefrotis juga, ciri-cirinya edema yang
besar akibat proteinuria. Karena permebelitas dari membran glomeruli dengan air
yang tertimbun dirongga perut dan akibatnya sirosis hati. Untuk indikasi yang
digunakan oleh diuretik lengkungan, pada keadana parah atau akut secara IV
(astha cardiale, udema paru). Thiazid dipergunakan didalam situasi dimana
diurestis bisa mengakatkan beban. (Ahmad A, 2009).

Berdasarkan pengggunaan dasar farmakologinya. Dapat di bedakan menjadi 3 kelompok


vasodilator, yaitu:
 Obat hipertensi: minoksidil dan (di)hidralazin.
 Vasodilator koroner yang menggunakan dengan : nitrit dan nitrat
 Vasodilator perifer (obat gangguan sirkulasi) : pentoxillin, buflomedil.

Glikosida alamiah yang diperloeh dari berbagai tanaman obat, antara lain:
a) Purpura folia digitalis: digifoksin, gitalin dan gitoksing
b) Lanata Folia digitalis : lanatasoid (hidrolisa yang menghasilkan digoksin).
c) Gratus stofantus : Jenis obat quabain
d) Kombe Stofantus : Jenis obat strofantin
e) Jenis maritma urginea (menghasilkan ganggang laut : skillaren)
Sediaan Obat-obat glikosida

Gambar 8. Sediaan eleksir digoxin


Sumber: http://ruangdiskusiapoteker.com/2012/07/peranan-digoksin-pada-penanganan-
hhd.html dan AHFS

Gambar 9. Sediaan injeksi digoxin


Sumber: http://ruangdiskusiapoteker.com/2012/07/peranan-digoksin-pada-penanganan-
hhd.html dan AHFS

Gambar 10. Sediaan tablet digoxin


Sumber: http://ruangdiskusiapoteker.com/2012/07/peranan-digoksin-pada-penanganan-
hhd.html dan AHFS
Gambar 11. Sediaan kapsul lunak digoxin
Sumber: http://ruangdiskusiapoteker.com/2012/07/peranan-digoksin-pada-penanganan-
hhd.html dan AHFS

Gambar 12. Sediaan intravena dobutamin


Sumber: https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3952/dobutamine-intravenous/details

Gambar 13. Sediaan injeksi IV milrinon


Sumber: https://www.adlershop.ch/p/97343/milrinon-labatec-injektionsloesung-1mg-ml-
10-durchstechflaschen-10ml
Gambar 14. Sediaan injeksi IV dan IM furosemid
Sumber gambar 13: https://www.webmd.com/drugs/2/drug-8656/furosemide-
injection/details

Furosemidea : Lasix, frusemide dan impugan


 Turunan sulfonamide mempunyai diuretik yang kuat dan kinerjanya dibagian henle
lengkungan. Efektif sekali dalam keadaan edema diotak dan pada paru-paru akut.
Kemudian untuk waktu paruh obat, secara oral sekitar kurang lebih 0,5-1 jam dan bisa
bertahan sampai 4-6 jam, lalu untuk di intravenanya bekerjanya pada waktu paruh
beberapa menit sampai 2,5 jam lamanya
 Reabsoprsinya usus masuk kurang dari 50%, PP-nya Ca hanya 97%, plasma t-0.5
hanya 30-60 menit : ekresinya berkemih secara utuh, kemudian pada dosis tinggi juga
lewat ke empedu.
 Untuk dosis : pada edema : secara oral 40-80 mg pagi, kemudian 250-400 mg
seharian dalam waktu paruh 2-3 dosis. Secara intravena (pelan-pelan) sekitar 20-40
mg, pada keadaan hipertensi sampai 500mg. Penggunaaan injeksi secara intra
muskula tidak dianjurkan.

Gambar 15. Sediaan Bumetadine Injeksi IV dan IM


Sumber : https://guardianemsproducts.com/bumetanide-4ml-vial.html
Bumetanida ialah derivat sulvamoyl dengan diuretik yang bekerja 50 kali lebih kuat.
Kemudian mempunyai karakteristik sifat yaitu secara kinetik lebih kurang sama dengan
furosemide, dan beda penggunaannya
Untuk dosisnya : diminum secara oral kurang lebih 0,5-1 mg setiap pagi, apabila butuh
sekali 3-4 dd. Bisa dilakukan secara intravena maupun intramuskular sekitar 0,5-2 mg.

Gambar 16. Sediaan tablet hidroklortiazid


Sumber: http://ilace.al/hidroklortiazid.html

Hidroklorthiazida
 Senyawa sulvamoyl berikut adalah turunan dari klortthiazida yang dikembangkan
oleh sulfanilamide. Pengaruh bekerjanya pada muka tubuli distal.lalu untuk efek
diuretinya lemah dari diuretic lengkungan, namun dapat bertahan selama 6-12 jam.
Untuk daya hipotensifnya lebih kuat, obat ini sering digunakan sebagai pilhan
pertama sebagai obat untuk hipertensi ringan sampai sedang. Namun pada hal ini efek
kombinasi menjadikan obat ini menjdai lebih berat, yaitu pada khususnya B-Blocker.
Kemudian selanjutnya untuk efek optimal dari dosis yang ditetapkn sekitar 12,5 mg
dan dosis diatasnya tidak akan memperoleh penurunan tensi. Lalu klorthiazid
berkashiat 10 kali lebih lemah dari pada zat induknya, maka sekarang tidak digunakan
lagi
 Reabsorpsinya dari usus ukurannya sampai 80%, PP-nya sekitar kurang lebih 70%,
dengan plasma t-0,5 dalam jangka waktu 6-15 jam. Ekskresinya utuh melewat kemih.
 Untuk dosisnya : pada pasien Hipertensi diberiakan 12,5 mg pagi p.c, udema : 1-2 dd
25-100 mg, untuk cara pemeliharaan 25-100 mg 2-3x seminggu
 Lalu untuk sediaan obat kombinasi ada sebagai berikut:
– obat loirinid, moduretic = HCT 50+ amilorida 5 mg
– obat dytenzide = HCT 25 + triamteren 50 mg
Gambar 17. Sediaan tablet furosemid lasix
Sumber: http://www.best-price-checker.com/lasix-furosemide/

2.3.3 Mekanisme Kerja


Semua glikosida jantung mempunyai efek (Gan, 2010) sebagai berikut:
 Memberikan tekanan yang kuat pada kontraksi otot jantung (kerja positif
inotropik)
 Menghambat dan mengulur waktu lama frekuensi denyut jantung ( kerja negatif
kronotropik
 Memberikan tekanan hantaran rangsangan (kerja negatif dramatropik)
 Memperlambat nilai rngsangan

Mekanisme kerja pada obat glikosida jantung yaitu :


Obat glikosida menurunkan kerja enzim natrium dan kalium ATPase reseptor di sebuah
sel membran, kemudian didaerah miokardium khususnya disitu ada sebuah pertukaran
ion Na+ dan K+ diubah menjadi pertukaran ion Na+ dan Ca++, sehingga meningkatkan
influks Ca menjadi sebuah protein dan berkontraktil menjadi Ca-Dependen pada sel oto
jantung.
Didalam farmakokinetiknya adalah sebagai berikut:
Didalam bioavailabilitas merupakan sebuah preparat orang yang bervariasi, dan sungguh
mendapatkan keprluan untuk dimana di situ adanya monitor dalam kadar serum.
Absorbsinya dihambat oleh makanan cernaadsobsi lantosid ada 50% dari susunan tepung
dan tincture kemudian 50% digoksin, dan 100% digitoksin. Kemudian, saat seluruhnya
digitoksin diabsorbsi dan masuk kedalam darah, nanti pada akhirnya pemberian obat
lewat via Intravena. Terus di ekskresi beda jenis masing-masing adalah indikasi klinik.

Mekanisme Kerja Diuretika


Kebanyakan reabsorbsi natrium di bantu dengan diuretik, kemudian air
diperbanyak pada saat pengeluaran lewat kemih. Proses dimana diuresi dimulai dari
aliran darah menuju glomeruli dan terletak pada ginjal bagian kortex. Pada glumeluro
dinding ini saringan secara halus menyaring secara pasif di lintasi air, kadar glukosa dan
garam. Ultra filtrat yang diterima pada waktu di filtrasi berisi banyak air serta elektrolit
akan menampung didalam wadah, disitu ada corong dan itu dinamakan bownman kapsul
lalu di salurkan kepipa kecil. Dan menuju tubuli, dan tibuli tersusun dari berbagai
proksimal distal, letaknya berenggangan di bagian masin-masing glomerulu, yang bagian
ini dihubungkan oleh sebuah lekungan henle. Maka terjadilah penarikan ulang secara
aktif pada unsur air dan komponen-komponennya yang penting di butuhkan di semua
organ tubuh, seperti garam dan glukos. Antara ion Na+ proses tadi diputar ulang melalui
kapiler yang mengelilingi tubulinya. Sisanya yang berguna akan di proses untuk
perombakan atas semua metabolisme untuk sebagai besar tidak di serap kembali.
Akhirnya, filtrat dari semua tubuli ditampung di sebuah saluran
pengumpulan,penyerapan air kembali dan dimana terutama secara langsung. Filtrasi
disalurkan kekandung kemih dan di kubur, ultrafiltrat yang setiap harinya dihasilkan oleh
orang dewasa sebanyak 180 liter. Dipraktekkan sampai hanya boleh lebih kurang 1 liter
air kemih. Sisanya, lebih dari 99% direabrsorpsi darah kembali. Kemudian dipekatkan
sampai hanya lebih kuran dari 1 liter air kemih, suatu obat yang cuman sedikit
mengurangi reabsorpsi pada tubuh misalnya 1% dan sekiranya mampu menggandakan
volume kemih. Khususnya terhadap tubuli oabat bekerja di tempat lain yakni sebagai
berikut :
 Tubuli prokimal. Mengandung ultrafiltrat yang besar dalam garam yang
mereabsorpsi secara aktif untuk lebih kurang 70% diantanya ion Na+ dan air begitu
juga dengan ureum dan glukosa. Karena raeabsorpsi secaraa proporsionalberlangsung
dengan baik, maa susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma.
Diuretik osmotic bekerja dengan merintangi reabsorpsi air dan juga natrium
 Lengkungan Heanle. Menjadi naik loopnya menjadi 25% Ca dari semua ion Cl- telah
di filtrasi secara aktif, kemudian di susul dengan reabsorpsi pasif dari Na+ dan K+
tetapi tidak ada air hingga filtrat hasilnya hipotonis. Sehingga diuretik lengkungan
menjadi seperti bumetanida, furosemid dan etakrinat kinerja utamanya dengan
merintangi transport Cl- dan mereabsorpsi Na+. Dan mengeluarkan K+ dan air
diperbanyak.
 Tubuli Distal menjadikan Na+ direabsorpsi menjadi banyak cairan dan lebih
hipotonis. Sehingga thiazida dan klortalidon menjdai senyawa yang bekerja ditempat
yang banyak ekresi Na+ dan Cl- sebesar kurang lebih 5-10%. Kemudian ion Na+
ditukar dengan ion K+. Kemudian terjadi proses hormon aldosteron. Sehingga
antagonis aldosteron dan zat penghemat kalium bekerja di titik ekskresi Na+ dan
retensi K+.
 Saluran Pengumpul. Penghasil hormon antideuretik ADH kinerja hipofisanya dengan
jalan saluran air juga mempengaruhi selnya.

Penyalahgunaan Penggunaan Diuretika


Jarang obat disalahgunakan untuk dalam melangsingkan tubuh (overwight) obat
golongan deuretik ini mempunyai efek langsung pada kontraktilitas jantung : mekanisme
kerja utama meraka adalah mengurangi tekanan vena dan preload ventrikel . hal ini
menyebabkan berkurangnya retensi garam dan air serta edema dan gejala-gejalanya..
berkurangnya ukuran jantung yang menyebabkan peningkatan efisiensi pompa,
merupakan hal yang sangat penting pada gagal jantung sistolik. Spironolakton dan
epleron, dieruretikn antagonis aldosteron. Memiliki keuntungan lain, yaitu mengurangi
angkas kesakitan dan kematian di indonesia. Dengan gagal jantung berat yang juga
memerlukan inhibitor ACE dan terapi buku lainnya. Salah satu kemungkinan
mekanisme yang menghasilkan manfaat ini dan telah banyak dibuktikan adalah bahwa
aldosteron juga mendapat fibrosa miokardium dan vaskularserta disfungsi baroreseptor
selain efeknya pada efeknya pada ginjal.

Mekanisme Kerja Digoksin


Digoksin mempunyai efek kardiovaskular langsung dan taklangsung. Lalu semua
itu dengan konsekuensi karena ada teraupetik dan toksik. Selain itu, obat ini memiliki
efek- efek yang tidak diinginkan pada susunan saraf pusat dan usus. Kemudian molekul
meningkat, kemudian semua glikosida jantung yang di gunakan sebagai obat
menghambat NA+/K+-ATPase, pengangkutnya ialah di sebut membran yang sering
dinamai pompa natrium. Meskipun terdapat beberapa banya isoform dari ATPase dengan
sensitivitas bervariasi terhadap glikosida, namun isoform ini tidak banyak yang berubah
selama evolusi. Lalu inhibis diangkut dalam berbagai kisaran dosis yang telah ada.
Bahwa efek inhibis ini mempunyai efek yaitu, efek terapeutik (inotropik positif) serta
sebagian besar juga dari efek toksik digitalis. Kemudian terdapat suatu steroid endogen
mirip digitalis mungkin oubain atau marinobufagenin. Lalu selain itu, di postulasikan
adanya fungsi lain NA+/K+-ATPase, yaitu apoptosis, pertumbuhan dan diferensiasi sel,
imunitas dan metabolisme karbohidrat
Mekanisme Kerja Dobutamin
Dobutamin, cAMP mempunyai tingkatan memproduksi reseptor adregeni B1.
Reseptor B1 mmiliki kinerja bersama dengan mekanisme agonis adrenergik. Saat ini
dengan dosis sedang. Efeknya pada pembuluh darah. Indikasinya untuk supaya
meningkatkan curah jantung. Supaya dapat digunakan untuk penurunan tekanan beban
akhir. Dan digunakan oengobatan untuk syok. Efek yang tidak di harapkan sakit kepala,
mutah, mual, gejala angina, palpitasi, dispnea, dan takikardi.

Mekanisme Kerja jenis obat amrinon


Amrinon, menghambat cAMP degradasi (dimana adalah pembawa pesan yang dapat
membuat jantung terangsang. Kerja mekanismenya dengan menghambat
fotodiesterase/enzim yang memecah cAMP). dan sehingga meningkatkan Camp di
kalsium. Serta meningkatnya kontraktilitas isi sekuncup, kecepatan sinus dan fraksi
ejeksi. Sehingga resistensi perifer mengalami penurunan, pada terapi digoksin
indikasinya ditambahkan bila gagal jantung menetap walaupun sudah di beri digoksin.
Efek yang tidak di inginkan demam, trombositopenia reversibel (20%), intoleransi
saluran cerna. Tidak aritmogenik.

Mekanisme Kerja Vasodilator


Obat vasodilator di tinjau dari beberapa farmakodinamika, dan terjadi konsentrasi plasma
BNP endogen yang mencakup dan meningkatkan pada sebagian besar pasien yang
terkena penyakit gagal jantung karena menyebabkan penurunan preload (melalui
vasodilatasi) dan kadang mengalami penurunan afterload juga (melalui vaso
arterial)beberapa bukti menunjukan bahwa pemberian jangka panjang hidraliz dan
isosorbid dinitrat juga dapat menyebabkan mengurangi remodeling jantung yang bersifat
merugikan.

Obat farmakologi ini masuk dalam golongan vasodilator secara kimiawi menurut
kinerjanya, yaitu :
 A-Blockers : buflomedil, kodergokrin dan prazosin
Zat yang mangelilingi reseptor A-Adrenergik dan mempunya efek vasokonstriksi
yang lemah dan bersifat noradrenalin terhadap arteriole.
 Beta-Adrenergik : obat isoxuprin
Zat ini mempunyai stimulus resptor yang mempunyai unsur Beta-Adrenergik di
arteiol dengan beberapa efek terjadi vasodilataso di bronchia dan otot, namun
dibagian yang terutama tidak sakit
 Antagonis Ca : bensiklan, flunarizin dan sinazirisin, nifedipin dan nimodipin
Obat ini dapat memblok saluran Ca (calcium channels) terdapat pada pembuluh darah
dan otot jantung, sehingga menghindarkan kontraksi dengan efek vasodilatasi di
arteriole deinding vena tidak di pengaruhi karena jauh dari kesensitifan.
 derivat nikotinat: inostol, metal, nikotinilalkohol, xantinol, dan tokoferolnikotinat.
Asam nikotinat dan derivat terutama pembuluh kulit di muka, leher, dan otot lengan
yang mendilatasi, sedangkan bagian tubuh yang bawah penyaluran darahnya justru
berkurang. Maka cara tersebut kurang efektif, karena kurang berguna terhadap
gangguan sirkulasi di betis atau kaki, dan lebih efektif terhadap vasospasme dikulit
 obat farmakologi yang lainnya adalah sebagai berikut : pentoksifilin, ekstrak ginko
biloba dan siklandelat, dan iloprost

2.3.4 Efek Samping


Yang di timbulkan oleh diuretik yaitu:
 Hipokalemia, yaitu kekurangan kandungan darah dalam kalium. Sehingga didalam
diuretik dengan titik kinerja di bagian muka tubuli distal memperbesar ekskresi ion
K+ dan H+ karena pertukaran ion N+. Akibatnya adalah kadar kalium plasma dapat
terjadi pada penangan gagal jantung dengan dosis tinggi furosemida, gejala yang
terjadi adalah kekurangan kalium serta berupa kelemahan otot, kejang, obstipasi,
anoreksia, dan terjadi aritmia jantung. Namun gejala ini tidak selalu berkelanjutan.
Thiazida digunakan pada hipertensi dengan dosis rendah hanya saja sedikit
menurunkan kadar kalium. Oleh karena itu, tak perlu disuplai kalium yang agak
sering terjadi adalah kadang sering dilakukan kombinasi dengan suatu zat kalium
yang cukup. Pasien dengan gangguan jantung menyebabkan ritmenya tidak stabil,
harus dimonitor dengan seksama dan kadang karena kekurangan kalium keluhannya
lama-lama akan menjadi parah dan memberikan tekanan toksisitas digoksin yan
meningkat. Kemudian apabila penyakit mulai akut dan tidak ditindak lanjuti lagi akan
mengalami resiko kematian
 Hipererukemia yaitu akibat retensi uric acid yang dapat terjadi pada sistem semua
deuretika. Menurut para ahli, hal tersebut diakibatkan oleh berbagai faktor
diantaranya dieuretik dengan asam urat mengenai transport didalam tubuh, terutama
klortalidon memberi suatu resiko untuk terjadi retensi asam urat.
 Hiperglikemi, dapat terjadi karena pasien diabetes, pada dosis yang agak tinggi
dikurangi sehingga metabolisme didalam tubuh lewat unsur glukosa yang
berhubungan dengan sekresi insulin yang ditekan, terutama thiazida terkenal
menyebabkan efek yaitu antidiabetes
 Hiperlipidemia terjadi karena akibat meningkatnya tekanan kadar kolestrol total yaitu
LDL, VLDL, dan triasilserida. Kadar kolestrol HDL dianggap berpengaruh sebagai
faktor pelindung dan sehingga diturunkan, terutama oleh klortalidon. Pengecualian
adalah indapamida yang praktis sehingga meningkatkan kadar lipid. Secara klinis
terdapat efek samping penggunaan dalam jangka panjang belum jelas pengaruhnya.
 Hiponatremia terjadi diuresis yang terlalu cepat dan kuat oleh diuretik lengkung,
kemudian natrium plasma yang dapat terjadi hiponatremia dapat menurunkan secara
keras. Gejalanya berupa gelisah, otot tegang, mengantuk, haus dan kolaps. Terutama
pada pasien lansia mereka akan mengalami dehidrasi, maka sebaiknya diberikan dosis
pemakaian yang rendah atau diberikan secara berkala. Misalnya dapat diberikan
seminggu selama 3-4 kali. Terutama pada furosimid dan etakrida yang terjadi
alkalosis (alkali yang meningkat di dalam darah )
 Untuk obat-obatan lainnya: Gangguan yang terjadi kebanyakan pada lambung atau
usus (mutah, mual, diare) rasa letih, nyeri kepala, alergi kulit jarang dan pusing.
Ototoksiktas dapat terjadi pada penggunaan furosemid yang tinggi.
 Kontraindikasi Blok jantung komplit yang intermiten; blok AV derajat II; aritmia
supraventrikular karena sindrom Wolf-Parkinson-White; takikardi atau fibrilasi
ventrikular; kardiomiopati obstruktif hipertrofik.

Kombinasi dari obat farmakologi yang lain dengan obat deuretik dapat
mengakibatkaninteraksi yang laini, seperti :
 Hambatan ACE adapa menimbulkan hipotensi, maka seharusnya diberikan
pengobatan deuretikum diberhentikan 3 hari.
 Obat NSAID efeknya memperlemah diuretis dan antihipertensi akibat retensi natrium
air
 Kortiko steroid untuk menghilangkan kalium dari dalam tubuh.
 Aminoglikosida: berhubungan diuretik sendiri sehingga menyebabkan ketulian
(reversibel) dan ototoksisitas diperkuat.
 antidiabetik oral efeknya bila terjadi hiperglikemia.
 Litium klorida ditingkatkan di dalam kadar darah akibat terhambatnya eksresi.

Efek samping yang ditimbulkan oleh vasodilator yaitu:


 Kepala berdenyut-denyut, sakit kepala nyeri dan hipotensi dengan pusing. efek
hipotensif dari obat dapat di kuatkan.
 Takikardia reflektoris (frekuensi jantung naik) dengan berdebar (palpitasi), gatal-
gatal dan perasaan panas dimuka (flushing).
 Gangguan lambung dan usus, seperti mutah dan mual. untuk mengurangi efek yang
tak diinginkan harus mengkonsumsi vasodilator sesudah makan.

2.4 Obat Antisklerotik


2.4.1 Definisi
Atherosklerosis adalah penyakit gangguan metabolisme lipoprotein yakni kolesterol,
fospolipid, trigliserid dan asam lemak (HDL/LDL). Etiologi atherosklerosis dapat berupa
faktor keturunan, banyak makan-kurang gerak, obesitas, gangguan hormonal, asap rokok
dan alkohol (Halley, 2010).

2.4.2 Jenis Obat


Sediaan obat atherosklerosis (Vallerand, 2005) yaitu Clofibrate, Kolestiramin, Probukol,
Simvastatin.

Gambar 18. Sediaan obat antisklerotik: Kolestiramin


Sumber: http://pionas.pom.go.id/monografi/kolestiramin

Gambar 19. Sediaan obat antisklerotik: Simvastatin


Sumber: http://pionas.pom.go.id/obat-baru/zocor
2.4.3 Mekanisme Kerja
Mekanisme kerjanya: Obat ini bekerja dengan jalan memblok senyawa 3-hidroksi-3-
metilglutar koenzim A (Hmg-CoA reduktase, merusak konversi Hmg-CoA menjadi
mevalonat, yang merupakan fase dimana hal tersebut sangat penting dalam alur
metabolism lemak. Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan memperhatikan dan sifat
pembentukan dan penghancuran LDL dalam tubuh sehinnga menurunkan lipid. Saat obat
anti sklerotik ini diberikan sebagai terapi tunggal, maka hal tersebut sangat efektif untuk
menurunkan kadar kolesterol yang buruk bagi tubuh. Efek samping yang biasa terjadi
keluhan abdominal ringan, ruam kulit, rangsangan gatal, nyeri kepala, lelah, gangguan
tidur. Sediaan yang beredar : Atorvastatin(lipitor), Rosuvastatin(crestor),
Fluvastatin(lescol), Simvastatin(simcor), Lovastatin(lipovas) (Pion BPOM, 2015).

2.4.4 Efek Samping


Efek yang tidak serius dari simvastatin menurut Syamsudin (2011) adalah:
 Sakit kepala
 Insomnia
 Nyeri sendi dan otot
 Konstipasi
 Mual muntah
 Ruam pada kulit

Berhenti minum simvastatin dan hubungi dokter segera jika mengalami efek samping
simvastatin yang cukup serius menurut Syamsudin (2011) seperti:
 Sakit saat BAK dan urin berwarna gelap
 Nyeri otot tanpa sebab
 Bingung
 Mual muntah serta hilangnya nafsu makan
 Mulut kering
 Demam
 Rasa haus yang berlebih

2.4.5 Kontraindikasi
Menurut Syamsuir (2010) yaitu:
 Hipersensitiv terhadap obat antisklerotik
 Sedang menderita penyakit liver
 Wanita yang sedang hamil dan menyusui
2.5 Obat Antiaritmia
2.5.1 Definisi
Obat antiaritmia memengaruhi aksi potensial dan konduksinya dengan beberapa cara.
Secara klinis, hal ini direfleksasikan dalam denyut nadi dan tekanan darah yang sama
baiknya, seperti pada EKG. Jadi, obat antiaritmia merupakan senyawa kimia yang
berfungsi menormalkan atau menstabilkan detak dan ritme jantung (Gunawan, 2009).
Aritmia yang terjadi pada jantung merupakan salah satu masalah pada sistem
kardiovaskular yang sering dijumpai pada praktek kesehatan yang sering timbul akibat
efek dari obat – obatan jenis digitalis, efek dari pasien yang dianastesi, dan sebagian besar
pada pasien yang mengalami infark miokard akut (Departemen Farmakologi dan
Terapeutik UI, 2007). Aritmia dapat menyebabkan gangguan yang serius pada jantung
bahkan bisa mengakibatkan kematian, misalnya terjadinya deplarisasi venrikel premature
yang lebih awal dapat memicu timbulnya fibrilasi ventrike (Abraham, 2008). Pada kondisi
tersebut obat anti aritmia sangat berpengaruh dalam mengatasi gangguan yang terjadi agar
tidak menimbulkan kematian, akan tetapi di sisi lain efek dari penggunaan obat anti
aritmia yang tidak sesuai aturan dan indikasi dapat mengakibatkan terjadinya aritmia yang
lebih fatal.

2.5.2 Jenis Obat


Klasifikasi obat anti aritmia spesifik (Gunawan, 2009):
 Kelas I: block kanalsodium, yang terdiri dari:
Ia (quinidine, procainamide, disopyramide), AP naik
Ib (lignocaine), AP turun
Ic (flecainide), AP normal/ seimbang
 Kelas II: antagonis ß-adrenoceptor (atenolol, sotalol).
 Kelas III: memperpanjang potensial aksi dan periode refractory (menekan ritme er-
entrant), (amiodarone, sotalol).
 Kelas IV: antagonis kanal kalsium. Impair propagasi impuls pada nodal dan area yang
rusak (verapamil).

2.5.3 Mekanisme Kerja


Untuik mencapai hasil terapeutik obat yang optimal, maka sebagai tenaga kesehatan sangat
diperlukan pengetahuan tentang farmakokinetik dan juga keja obat pada sistem
tubuh.Menurut Halley, 2010, obat anti aritmia dikelompokkan menjadi lima berdasarkan
efek elektrofisisologik dan mekanisme kerja obat, yaitu :
1. Kelas I : Blok Kanal Sodium
 Kelas IA : (kuinidin, prokainamid, dan disopiramid)

Gambar 20. Sediaan obat antiaritmia: prokainamid


Sumber: http://pionas.pom.go.id/monografi/prokainamid-hidroklorida

Prokainamid
 Dosis IV dengan kecepatan tidak lebih dari 50mg/menit, apabila diberikan sebanyak
100 mg harus dipantau dengan EKG.
 Infus IV, sebanyak 500-600 mg selama kurang lebih 25-30 menit dengan pemantauan
EKG, dengan kecepatan 2-6 mg/menit, dan diberikan secara oral bila diperlukan,
dilakukan setelah pemasangan infus dengan jarak 3-4 jam.

Efek dari obat anti aritmia ini dapat menyebabkan nodus sinoatrial mengalami depresi
tingkat berat, akan tetapi obat ini, disopiramid merupakan salah satu jenis obat yang efektif
untuk memperlambat kerja sinus SA pada jantung manusia yang mengalami aritmia.
Sedangkan kuinidin bekerja dengan menigkatkan irama pada sinus dan
menghambatmkolinergik atau dengan cara meningkatkan rangsang simpatis secara reflex.
Dalam dosis terapi, obat – obatan tersebut efektif dan mampu untuk memperlambat
rangsang dari serabut purkinje. cara kerjanya yaitu dengan mengurangi kemiringan
depolarisasi pada fase 4 dan menjadikan potensi ambang mendekat sampai ke angka 0.
Sistem yang terjadi diturunkan secara bertahap tanpa terjadinya perubahan yang mencolok
dari Vm.

Mekanisme Kerja Kuinidin


Pada perlakuan hewan coba yang diadakan dalam suatu penelitian, kuinidin terbukti
memberikan efek dapat memblokir efek yang berasal dari stimuulasi vagus (aseltilkolin).
Selain itu, kuinidin dapat menghentikan reseptor – alfa. Hal tersebut yang menyebabkan
terjadinya vasodilatasi dan sraf simpatis selanjutnya akan eraktivasi. Di sisi lain, kolinergik
terhambat dan terjadi peningkatan aktivitas adrenergic- beta yang selanjutnya dapat
meningkatkan potensi munculnya daya listrik dan menjadikan hubungan listrik yang
terjadi pada pacemaker alami AV jadi semakin kuat pada beberapa penderita gasangguan
jantung. Walaupun pada beberapa kasus kerja atau efek obat menjadi lebih lemah daripada
yang lain.
Jika diberikan melalui oral, kuinidin sulfat akan mengalami absorbs dengan cepat dan
dalam waktu 60 – 90 menit akan mengalami kadar puncak dalam plasma. Penyerapan yang
terjadi pada kuinidin glukonat akan lebih lambat dasn tidak sempurn, selain itu kuinidin
baru akan mengalami kdar puncak dalam plasma setelah 3-4 jam setelah intake yang
dilakukan. Selain itu, kuinidin juga bisa diberikan dsecara intramuscular dengan injeksi
walaupun menimbulkan sedikit rasa sakit dan dapat menjadikan keratin kinase plasma
mengalami peningkatan.

Kuinidin mengalami pengikatan terhadap protein sekitar 90% banyaknya. Pendistribusian


obat ini terjadi secara cepat ke hamper semua jaringan pusat, yaitu dengan besar volume
yang didistribusikan sebanyak 2 - 3 liter setiap satu kilogram. Dengan waktu paruh sekitar
6 jam terjadi lebih banyak pembentukan di hepar. Kemudian, disaring di glomeruli,
selanjutnya di ekskresi oelh tubulus proksimal ginjal. Kuinidin merupakan obat yang
bersifat basa lemah, jadi reabsorbsinya di tekan dan diekskresi dengan penguatan jika pH
urin dalam keadaan asam. Sehingga, jika ph urin dinaikkan dari 6-7 menjadi 7-8, maka
kuinidin dalam urin kadarnya akan berkurang sekitar setengahnya dan mengalami
peningkatan kadar pada darah. Keadaan ini jarang dijumpai pada kasus klinik, kecuali jika
pasien meminum natrium bikarbonat atau asetalxzolamid maupun bila terjadi asidosis pada
tubulus ginjal.

Mekanisme Kerja Prokainamid


Pada pemberian per oral prokainamid akan diapsorbsi dengan cepat bahkan hamper
empurna. Kadar puncak dari prokainamid yaitu setelah ¾ jam sampai 1 jam lebih 10 menit
setelah kapsul diminum, berbeda jika berbentuk tablet akan membutuhkan waktu lebih
lama. Pada minggu pertama setelah terjadi infark miokard akut, akan terjadi perburukan
absorbsi oral, keterlambatan tercapainya kadar puncak obat pada plasma, dan
kemungkinan kadar obat tidak akan sanggup untuk melakukan pengontrolan pada aritmia.
Prokainamid membutuhkan waktu yang singkat untuk menyebar ke seluruh tubuh kecuali
ke otak, dan obat tersebut mempunyai vd (volume distribusi) yaitu sekitar 2 liter
perkilogram.
Akan tetapi nilai tersebut akan mengalami penurunan pada pasien yang menderita gagal
jantug ataupun syok. obat tersebut akan dikeluarkan melalui ekskresi ginjal maupun kerja
sistem hati. Dengan jumlah lebih dari 50% dari obat yang diresepkan akan menjadi bentuk
yang tetap dalam air seni. Obat ini bersifat basa lemah yang difiltrasi, ekskresi, maupun di
serap kembali pada ginjal. Peningkatan pada pH urin menjadi penyebab menurunnya juga
ekskresi pada obat ini.
Apabila fungsi ginjal mengalami penurunan, maka akan mengalami peningkatan
kandungan prokainamid dalam plasma juga. dan jika kadar ureum dalam darah mengalami
peningkatan, fraksi dosis prokainamid menurun dan N-asetil prokainamid (NAPA) bisa
mengendap dan menjadi berbahaya.

Mekanisme Kerja Disopiramid


Disopiramid merupakan jenis obat yang mengalami absorpsi oral sebanyak 90% dan
sebagian lainnya terjadi metabolism di dalam hati. Kadar puncaknya terjadi setelah 1-2
jam intake oral. dalam jangkauan terapi yang normal, disopiramid mengalami ikatan
dengan protein plasma sebanyak 70%, ftraksi yang mengalami ikatan yang kontradiksi
dengan kandungan keseluruhan di plasma darah. Volume yang didistribusikan obat jenis
disopiramid yaitu sebanyak kurang lebih 0,6 l/Kg, akan tetapi nominal tersebut bergantung
jumlah yang dikonsumsi.

Pada obat jenis ini (Disopiramid) hampir 100% dari peresepan obat dapat diabsorsi dengan
intake peroral dan sebagian lainnya dimetabolisme di lini awal pada hepar. Obat ini akan
berada pada puncak konsentarsinya dalam darah setelah satu sampai dua jam dari intake
oral pasien. Dalam dosis terapi sekitar sebanyak tujuh puluh persen diikat dalam protein
plasma darah, akan tetapi berbanding dengan fraksi yang berikatan dengan plasma..
Volume yang didistribusikan sekitar < 1 liter per kilogram, hal tersebut disesuyaikan
dengan dosis yang diberikan. Sebanyak setengah dari peresepan Disopiramid akan
dikeluarkan secara utuh oleh renal, sebanyak seperlima berbentruk padatan, dan sepuluh
persennya dalam bentuk yang lain. dalam bentuk padatan yang dikeluarkan oleh ginjal,
senyawa tersebut memeliki khasiat mengatasi gangguan irama jantung yang terjadi dan
mmempunyai sifat anti kolinergen walaupun lemah dari senyawa utamanya. Obat jenis ini
mempunyai rentang paruh pengeluaran obat lima sampai tujuh jam, dan hal tersebut akan
memakan waktu lebih lama yaoitu dsekitar dua puluh jam maupun lebih pada pasuien
dengan kondisi gagal ginjal.

Pada obat – obatan tipe IA mempunyai spectrum lebih luas dan efektif daripada jenis obat
– obat yang lain, maka dari itu sangat cocok jika digunakan untuk pengobatan jangka
panjang maupun jangnka pendek pada kejadian aritmia supraventrikel dan ventrikel.
Selain itu, dalam terapi pengobatan perlu diperhatikan kemungkinan efek toksik yang
timbul dan perlu dilakukan pengecekan rekam EKG secara berkala untuk melihat dan
mengontrol aritmia yang terjadi. Obat aritmia jenis ini dapat digunakan untuk pengobatan
takikardia supraventrikel paroksimal (PSVT) baik yang dikarenakan arus balik dari nodus
AV ataupun yang terjadi pada sindrom Wolf-Parkinson-White, sebagai obat yang
digunakan untuk mencegah munculnya kembali penyakit.

Dikarenakan efek samping dari kuinidin yang terlalu berbahaya, jadi rasio efek terapi dari
kuinidin juga rendah. Pada pemberian dosis obat yang tinggi, efek toksik yang ditimbulkan
juga semakin tinggi dan berbahaya pada jantung yang bisa memblok atau menghentikan
kerja SA, AV derajat tinggi, terjadinya aritmia ventrikel atau asistol yang bisa
menyebabkan aritmia menjadi semakin memburuk (bizarre arrhythmias). Selain hal
tersebut, bahaya dari kuinidin adalah dapat terjadi sinkop atau kematian mendadak. Efek
samping lain dari obat tersebut adalah cinchonism ringan dengan gejala, tuli, penglihatan
kabur, tunitus, dan keluhan pada sistem pencernaan. Pada kejadian toksisk berat, akan
menimbulkan diplopia, nyeri kepala, perubahan warna dalam penglihatan, bingung,
fotofobia, psikosis, dan delirium.
Prokainamid mempunyai side-effect yang hamper menyerupai kuinidin, hanya mungkin
pada derajat yang lebih ringan. Selain itu, obat ini dapat menimbulkan efek gejala
menyerupai penyakit lupus eritematosus sistemik (SLE). Penggunaan Disopiramid dengan
efek depresi langsung maupun kontriksi alerioal pada jantung bisa menyebabkan
penurunan curah jantung dan kinerja pada ventrikel kiri, sehingga harus diperhatikan dan
diberikan secara lebih berhati – hati pada pasien yang dicurigai mempunyai potensi gagal
jantung.

Interaksi obat yang biasa timbul pada obat aritmia jenis ini yaitu dengan obat yang dapat
menginduksi enzim hati, seperti fenobarbital atau fenitoin, yang mempunyai efek
memendekkan kinerja dari kuinidin dengan jalan mempercepat pengeluaran obat tersebut.
Di sisi lain, jika kuinidin diresepkan pada pasien dengan kadar digoksin plasma yang
stabil, maka akan terjadi peningkatan kadar digoksin dari efek menurunnya klirens. Selain
itu, masalah yang sering terjadi yaitu meningkatnya waktu protrombin setelah diberikan
kuinidin pada pasien yang telah mengkonsumsi anti koaguan secara oral. Karena kuinidin
mempunyai efek penyekat adrenoreseptor-alfa, pemberian vasodilatif atau obat yang dapat
menurunkan volume plasma dapat menyebabkan interaksi aditif pada pasien. Karena jika
terjadi peningkatan kandungan K+ di dalam plasma darah , dapat menyebabkan efek yang
ditimbulkan obat tersebut pada sistem konduksi jantung semakin besar.

 Kelas IB : (lidokain, meksiletin, fenitoin, dan tokainid)

Gambar 21. Sediaan obat antiaritmia: lidocaine


Sumber: https://www.alomedika.com/obat/anestetik/anestetik-lokal/lidokain

Obat aritmia pada tipe kelas IB ini sedikit sekali mengubah depolarisasi fase 0 dan
kecepatan konduksi diserabut purkinje jika nilai Vm berada pada rentang normal. Obat tipe
ini, mempunyai kinerja yang berlawanan dengan tipe – tipe obat sebelumnya, yaitu tipe
obat kelas IA. Dalam dosis terapi, obat kelas IB jarang menekan nodus SA, akan tetapi
penekanan bisa muncul pada pasien yang mengidap gangguan sinus. Selain itu, obat ini
juga dapat mengurangi kemiringan depolarisasi pada fase 4 di serabut purkinje. Efek ini
terjadi karena menurunnya arus pacu dan meningkatnya arus ion K+ keluar sel.
Akan tetapi, kemampuan tokainid dan meksiletin untuk mengurangi automatisasi serabut
purkinje lebih mirip kuinodin, yaitu menggeser potensial ambang kearah nilai Vm yang
lebih positif. Selain itu, Lidokain juga dapat memberikan penekanan secara otomatis pada
serabut purkinje yang mengalami depolarisasi dan perenggangan, dan baik lidokain
amupun fenitoin efektif dalam meniadakan trigerred activity pada delayed
afterdepolarization yang disebabkan oleh digitalis. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan
arus K+ yang dikeluarkan lebih banyak daripada yang masuk ke dalam sel yang kecil,
sehingga menyebabkan depolarisasi, maupun dikarenakan menurunnya arus Na+ ke dalam
sel.
Pada tipe obat kelas IB, terjadi peningkatan ambang arus listrik diastolic pada serabut
purkinje yaitu dengan jalan konduksi K+ ditingkatkan dan tanpa terjadi perubahan nilai
Vm atau potensial ambang. Dalam dosis terapeutik, lidokain bisa mengubah sedikit
hubungan Vmax dan Vm di serabut purkinje, jadi pada nilai Vm yang rendah dapat
dilakukan pencegahan terhadap terapi respon cepat yang terjadi. Efek tersebut merupakan
hasil dari peningkatan arus K+ keluar sel oleh Lidokain. Kejadian itu bisa muncul karena
kesigapan membran tergantung pada kadar K+ dalam sel; pengaruh lidokain akan menjadi
sedikit jika kadarnya rendah, dan begitu juga sebaliknya, apabila arus K+ tinggi atau
meningkat, maka lidokain pun akan menyesuaikan dengan kebutuhan terapinya. Lidokain
dan obat lain dalam kelas IB ini, biasanya tidak memberikan pengaruh terhadap cepat
lambatnya konduksi yang terjadi dalam sistem his-purkinje atau otot ventrikel yang
normal.
Pada keadaan tidak ada gangguan obat ini bisa meningkatkan atau menurunkan kecepatan
konduksi pada kedua jaringan tersebut. Pada jaringan iskemik obat kelas IB menurunkan
kecepatan konduksi secara nyata. Pada jaringan yang mengalami depolarisasi oleh
renggangan atau bila K+ ekstra sel yang rendah, lidokain bisa menimbulkan
hiperpolarisasi dan membuat konduksi meningkat secara nyata. Untuk obat selain lidokain,
belum diketahui secara pasti apakah menimbulkan efek yang sama seperti itu atau tidak.
Obat aritmia pada kelas IB hampir tidak berpengaruh terhadap lama potensial aksi pada
serabut atrium. Obat-obat ini mempunyai efek kerja menurunkan secara nyata lama
potensial aksi diserabut purkinje dan otot ventrikel. Hal tersebut terjadi karena arus Na+
yang dihambat selama terjadinya plateau potensial aksi. Perubahan yang terjadi terlihat di
bagian his-purkinje, dimana lama potensial aksi terjadi lebih panjang dari yang lain. Obat-
obat ini memendekkan masa refrakter efektif.
Obat kelas IB dapat menghilangkan arus-balik pada ventrikel yaitu dengan mem-blokade
dua arah atau dengan melakukan perbaikan konduksi. Blokade searah pada arus balik di
jaringan iskemik diubah menjadi blokade dua arah. Pada pasien yang menderita gangguan
nodus AV maupun konduksi ventrikel, tokainid dan meksiletin disarankan lebih efektif
untuk menurunkan konduksi dari pada pemberian lidokain.
Obat kelas IB ini dirasa jauh kurang efektif dibandingkan obat kelas IA dalam melakukian
perlambatan frekuensi denyut atrium pada flutter atau fibrilasi atrium, maupun untuk
mengubah aritmia menjadi irama sinus. Hal ini karena efek yang ditimbulkan dari obat-
obat kelas IB terhadap refractoriness dan kesigapan atrium sangat kecil. Obat kelas IB ini
tidak memberikan efek atau pengaruh terhadap sistem pada saraf otonom kecuali fenitoin.
Efek fenitoin kebanyakan berasal dari Sistem Saraf Pusat, serabut eferen vagus yang
dipengaruhi, dan serabut eferen saraf simpatis pada jantung yang terangsang karena
intoksikasi digitalis dapat ditekan oleh kerja fenitoin.

Mekanisme Kerja Lidokain


Pemberian Lidokain per oral membuat absorbsi obat oleh tubuh menjadi lebih baik Karen
obat tersebut mengalami metabolism yang baik dalam hati, dan hanya sebagian dikit yang
menyebar ke sistem tubuh secara menyeluruh. Akan tetapi masih banyak keluhan mual,
muntah, maupun gangguan pencernaan yang didapatkan saat konsumsi per oral. Pada
pemberian injeksi lebih efektif karena tubuh dapat menyerap secara hampir sempurna,
yaitu sebanyak 70% persen dapat diserap oleh tubuh. Pada ekskresi urin Lidokain mungkin
jarang dan sedikit ditemukan karena obat tersebut tidak dikeluarkan melalui urin secara
sempurna.
Dietilasi di hati menghasilkan metabolit yang aktif dan tak aktif. Klirens lidokain
mendekati kecepatan aliran darah di hati, sehingga perubahan aliran darah hati akan
merubah metabolisme. Waktu paruh eliminasi pada lidokain yaitu sekitar 100 menit. Obat
ini berguna pada terapi aritmia ventrikel yang dikarenakan infark miokard akut, bedah
jantung terbuka, dan digitalis.

Mekanisme Kerja Fenitoin


Fenitoin dicerna lebih lambat dan kurang efektif pada sistem pencernaan. Absorpsi setelah
suntikan intramuskular juga lambat dan tak sempurna. Sekitar 90% fenitoin dalam plasma
diikat oleh albumin, dan berkurang jika terjadi uremia. Obat ini dieliminasi melalui
hidroksilasi di hati dan metabolit yang terbentuk tidak berkhasiat antiaritmia. Metabolisme
berlangsung lambat dan tidak dipengaruhi oleh perubahan aliran darah hati.
Mekanisme kerja Fenitoin hampir sama dengan obat jenis lidokain, hanya saja cara
pemberian lidokain lebih mudah. Pengobatan takikardia ventrikel yang menetap pada
pasien yang menderita jantuing koroner, dan takiaritmia yang menyertai sindrom Q-T
panjang dan dapat diobati secara efektif dapat diberikan terapiu obat dengan menggunakan
fenitoin, dan lebih efektif jika diberikan bersama dengan pemblok adrenoreseptor-beta.
Sistem enzim yang memetabolisme fenitoin menjadi jenuh pada rentang kadar terapi. Oleh
sebab itu, waktu paruh untuk eliminasi bergantung pada dosisnya, dan toksisitas dapat
muncul secara tidak terduga. Fenitoin kurang efektif jika diberikan untuk penyakit aritmia
atrium seperti flutter, fibrilasi atrium, dan SVT. Sedangkan tokainid dan meksiletin di
indikasikan untuk pengobatan aritmia ventrikel pada pasien yang tidak berespon terhadap
pengobatan kuinidin atau obat lain dan kelas IA.

Mekanisme Kerja Tokainid


Tokainid diserap oleh tubuh dengan sempurna setelah diberikan secara peroral, kadar
puncak dalam plasma muncul dalam waktu 1-2 jam, sekitar 40% tokainid dikeluarkan
melalui urin dalam bentuk utuh. Waktu paruh dalam plasma adalah 11-15 jam, dan nilai ini
naik dua kali lipat pada pasien gagal ginjal atau gagal hati.

Mekanisme Kerja Meksiletin


Meksiletin pada pemberian peroral diabsorpsi dengan baik dan bioavaibilitas sistemiknya
adalah sekitar 90%. Obat ini dieliminasi melalui metabolisme hati, sekitar 10% dosis
ditemui dalam bentuk yang tak brubah diurin. Waktu paruhnya sekitar 10 jam.

Dibandingkan dengan obat aritmia tipe kals I yang lain, obat tipe kelas IB ini mempunyai
efek samping pada jantung yang bisa dibilang lebih ringan. Efek yang sering ditimbulkan
oleh kinerja Lidokain yaitu banyak berefek pada sistem saraf pusat, yaitu antari lain mudah
mengantuk dan terjadi agitasi, parestia, disosiasi, dan bisa menyebabkan indra
pendengaran menurun karena tingginya konsentrasi yang diberikan, kejang, henti napas,
dan juga disorientasi. Sedangkan efek yang ditimbulkan oleh Fenitoin tidak berbeda jauh
dengan obat sebelumnya, yaitu terjadinya nistagmus, vertigo, mual, ataksia, dan mudah
mengantuk. Selain itu , obat jenis tokainid dan meksiletin mempunyai efek dengan
karakteriustik pusing kepala ringan, gangguan pada saluran cerna, dan tremor, serta
granulositopenia yang bisa diikuti infeksi, sepsis, maupun kematian merupakan salah satu
efek juga dari tokainid.

Menurunnya kelajuan metabolisme pada lidokain serta dapat membuat aliran darah ke
hepar pada pasien jantung berkurang, hal tersebut terjadi karena interaksi obat terhadap
beta blocker. Selain itu, juga dapat meningkatkan konsentarsi obat dalam plasma darah.
Selain itu, obat – obat yang mempunyai sifat basa bisa menjadi pengganti lidokain dari
ikatan obat tersebut.. Efek obat jenis suksinilkolin efeknya bisa diperkuat dengan
pemberian lidokain, dan pada penderita yang menrima resep simetidin konsentrasi lidokain
bisa meningkat jika dikonsumsi bersamaan. Pemberian rifampisin yang bersamaan dengan
fenitoin akan memperbesar laju metabilisme pada fenitoin.
Kelas IC : (enkainid, flekainid, indekainid, dan propafenon).

Gambar 22. Sediaan obat antiaritmia: flecainide


Sumber: https://hellosehat.com/obat/flecainide/

Jenis obat pada tipe ini mempunyai ikatan yang kuat terhadap Kanal Natrium yang berada
di Sarkolema. Obat kelas ini berafinitas tinggi terhadap kanal Na+ di sarkolema.
Antiaritmia pada kelas ini merupakan salah satu jenis yang efektif dalam mengurangi
kecepatan daya lecut listrik dan menghambat arus natrium masuk ke sel. Jika
dibandingkan dengan jenis – jenis obat yang digunakan untuk menghambat kanal natrium ,
obat kelas IC ini merupakan jenis yang paling efektif untuk digunakan.

Mekanisme Kerja Flekainid


Dengan pemberian melalui oral, flekainid bisa dipastikan dapat diserap hampir seluruhnya
dan konsentrasinya akan mencapai puncak dalam kurun waktu kurang lebih 3 jam. Obat
ini diolah di dalam hati sebanyak sekitar empat puluh persen, kemudian dikeluarkan
melalui sistem perkemihan yang tidak banyak berubah dan hasil ekskresinya tidak
berfungsi lagi sibagai anti aritmia. Flekainid mempunyai waktu paruh di dalam tubuh
kurang lebih 11 jam, dank arena obat tersebut dapat mengendap dan berrdampak pada
apsien yang mengidap penyakit gagal jantung, maka dari itu perekaman EKg harus
dipantau dengan rutin dan seksama. Jika oibat ini dikonsumsi dengan digandengkan jenis
digoksin, maka hal tersebut dapat meningkatkan konsentrasi digoksin. sedangkan jika
diberikan berbarengan dengan propanolo, maka konsentrasi kedua jenis obat tersebut akan
sama – sama mengalami kenaikan.

Mekanisme Kerja Enkainid


obat jenis ini juga mengalami penyerapan yang efektif jika diberikan langsung melalui
mulut. akan tetapi, efeknya akan mengalami penurunan menjadi kurang dari 50%, saat
mengalami pengolahan di lini pertama pemrosesan pada hati. Sedangkan
konsentrasinyaakan mengalami kenaikan dan dalam keadaan puncak selama kurun waktu
setengah sampai satu setengah jam. Obat ini mengalami metabiolisme di hati selama dua
sampai tiga jam. Jika obat ini mengalami interaksi dengan jenis obat simetidin maka akan
mengalami penurunan konsentrasi flekainid dalam plasma darah sekitar tiga belas sampai
dua puluh tujuh persen. Beberapa efek samping yang disebabkan oleh ibat ini adalah
terjadinya proaritmia pada beberapa pasien dengan kelainan keganasan aritmia pada
ventrikel. Sedangkan, obat Nekainid dan Flekinid dapat membuat terjadinya resiko
kematian mendadak menjadi meningkat dan terjadinya peningkatan henti jantung atau
cardiac arrest pada penderita yang mempunyai riwayat kerusakan pada miokard jantung
dan aritmia ventrikel yang tanpa gejala. Pemberian flekainid maupun enkainid yang
melebihi dosis terapi obat bisa menyebabkan gangauan pada indera penglihatan pada
beberapa pasien. Sedangkan obat jenis propafenon didapatkan data bahwa dapat
menimbulkan efek perubahan bentuk pada granulosit dan dapat menyebabkan SLE. Dan
ketiga jennies obat tersebut, akan meningkat konsentrasinya di dalam darah jika diberikan
bersamaan dengan simetidin.

Gambar 23. Sediaan obat antiaritmia: propafenon


Sumber: http://pionas.pom.go.id/monografi/propafenon-hidroklorida

Propafenon
 Takaran yang diberikan di awal yaitu sebanyak 150 miligram dikonsumsi 3
kali dalam satu hari, setelah makan pada pasien yang memiliki BB sama
atau lebih dari 70 kg dan harus ditambahkan pemantauan EKG serta tekanan
darah. Jika Interval QRS memanjang lebih dari dua puluh persen, maka
dosis harus dikurangi atau jika perlu dihentikan untuk sementara waktu
sampai monitor EKG pada pasien kembali normal. Dan berlaku juga jika
BB dibawah 70 Kg, takaran harus dikurangi.
2. Kelas II: Pemblok adrenoreseptor beta (propanolol, esobutanol, dan esmolol)
 Beta blocker memberikan kerja yang berfungsi sebagai anti aritmia dikarenakan
bisa mengurangi efek dari adrenoreseptor-beta
 Pemberian propanolol melalui intake oranl memberikan efek penyerapan yang
baik terhadap obat, akan tetapi akan terjadi penurunan bioviabilitas sebesar
seperempat persen dari keseluruhan fungsi dari obat tersebut. Obat tersebut
mempunyai waktu bekerja di tubuh selama kurang lebih 4 jam, setelah itu akan
diekskresikan dan akan dieliminasi dalam hepar.
 Asetobutalol mempunyai efektifitas pada intake oral sebesar setengahnya.
Memiliki waktu paruh selama 3 jam dan delapan sampai dua belas jam untuk
diasetolol. Obat ini mengalami liminasi di renal.
 Esmolol diresepkan secara injeksi pada vena dan memilki waktu paruh selama
dua menit.

Gambar 24. Sediaan obat antiaritmia: esmolol


Sumber : https://hellosehat.com/obat/esmolol/

Obat ini digunakan untuk pasien yang terindikasi takiaritmia pada supraventrikel, yaitu
bisa berupa terjadinya fibrilasi, flutter pada atrium, maupun takikardia pada supraventrikel
paroksimal. output yang diharapkan dari pemberian obat ini yaitu mengurangi laju atau
kecepatan pada denyut ventrikel tanpa mengeliminasi aritmia yang terjadi. Esmolol
difungsikan untuk memonitor secara cepat denyut nadi ventrikel pada pasien yang terjadi
flutter atrium maupun fibrilasi sesudah pembedahan maupun keadaan emergency dimana
dibutuhkan obat yang bekerja secara cepat. Dalam pengujian yang telah dilakukan,
timolol, propanolol, maupun metoprolol memperluhatkan kefektifannya dalam
menurunkan terjadinya moratlitas serta terjadinya infark ringan dalam kurun waktu satu
tahun dari kejadoian infark yang awal.

Sedangkan efek samping yang ditimbulkan yaitu terjadinya hipotensi yang terjadi pada
penderita kegagalan jantung. Jika dilakukan pemberhentian mendadak dalam konsumsi
beta-blocker ini pada pasien dengan angina pectoris ditakutkan memberikan efek angina
yang terjadi semakin parah, maupun aritmia pada jantung dan juga dikhawatirkan
memunculkan infark miokard jenis akut.

Gambar 25. Sediaan obat antiaritmia: propanolol


Sumber : https://hellosehat.com/obat/propranolol/

3. Kelas III: (amiodaron, bretilium, sotalol, dofetilid, dan ibutilid)


Pada kelas ini, jenis – jenis obat memunculkan karakteristik farmakologis yang berbeda satu dengan
yang lain. Akan tetapi mempunyai khasiat yang sama yaitu mampu memanjangkan potensial aksi
yang ditimbulkan lebih lama serta refraktorin serabut purkinje maupun cabang – cabang dari otok
bilik jantung. Obat jenis ini bekerja dengan cara memperlambat reseptor adrenal dengan cara non-
kompetitif.
Gambar 26. Sediaan obat antiaritmia: amiodarone
Sumber : https://hellosehat.com/obat/amiodarone/

 Bretilium merupakan salah satu jenis obat dalam golongan ini yang mempunyai daya
serap yang kurang baik jika diberikan secara injeksi. Tidak akan termetabolisme dan
di dalam ginjalpun langsung di eliminasi secara utuh. Obat ini mempunyai waktu
paruh dalam tubuh selama kurang lebih Sembilan jam dan akan mengalami kenaikan
sampai lebih dari 15 jam pada penderita renal failure. Pemberian obat (bretilirum) ini
harus diberikan di ruang perawatan intensif. Obat ini diindikasikan untuk kejadian
aritmia pada ventrikel dalam keadaan emergency.
 Amivadron adalah salah satu jenis obat kelas III yang absorbsinya lambat jika
dikonsumsi secara peroral. Obat ini mempunyai efektifitas kurang dari 50% dan
konsentrasinya berada pada puncak selang lima sampai enam jam setelah dikonsumsi.
Di Hepar oabat ini akan dimetabolisme walaupun secara lambat. Obat ini mempunyai
waktu paruh yang lumayansangat panjang dibandingkan dengan yang lain yaitu
sekitar 25 sampai 60 hari, metabolismenya masih aktif. Obat ini berkhasiat untuk
mencegah atau menangani fibrilasi yang berulang pada atrium dan takikardi yang
tidak stabil dan berlarut – larut pada bagian ventrikel.
 Sotalol merupakan salah satu jenis dari obat ini yang bisa terabsorbsi dengan cepat
melalui intake oral. Memiliki bioviabilitas hampir sempurna daripada obat yang lain
dalam kelas ini. Mencapai konsentrasi maksimal setelah dua sampai tiga jam dan
waktu paruhnya yaitu 10 – 11 jam. Dieleminasi melalui air seni dan meruapakan obat
yang aman dan direkomendasikan daripada jenis amiodaron, sehingga diharapkan
obat ini dapat digunakan untuk lini pertama dalam penanganan kasus aritmia maligna
yang terjadi pada ventrikel. selain itu, obat ini efektif juga jika digunakan untuk
 menangani kejadian fibril pada atrium maupuan takikardia di supraventrikel
paroksimal jantung.

Side effect yang ditimbulkan akibat konsumsi obat jenis Bretilium tekanan darah menjadi
rendah. Sedangkan efek samping obat dari jenis pemakaian Amidoran baru akan dirasakan
dan semakin meningkat setelah penggunaan selama 1 tahun dan dapat berefek pada
kematian pada pasien.
Ditinjau dari interaksi dengan obat lain, amidoran merupakan salah satu jenis yang berefek
dalam peningkatan konsentrasi digoksin, warfarin, prokainamid, dan obat anti aritmia
sejenisnya yang dapat berinteraksi dengan amidoran. Obat ini juga memiliki efek
memberikan pemningkatan terhadap kejadian bradikardia, berhentinya sinus, dan
menghambat AV jika diberikan dengan obat jenis beta-blocker maupun penghambat kanal
natrium.

Kelas IV: Penyekat kanal Kalsium (verapamil dan diltiazem)


Khasiat antagonis dari Kalsium yaitu memberikan pressure pada pada potensial aksi kalsium
dependen maupun perambatan hantaran pada nodus AV. Obat jenis Verapamil merupakan satu dari
sekian obat yang fungsinya mencegah kanal kalsium yang diedarkan dengan fungsi sebagai obat anti
aritmia. Pemberian obat ini melalui injeksi intravena.
pengaplikasian terapi obat ini, menjadi rekomendasi awal pada serangan yang terjadi secara akut pada
takikardia di supraventrikel paroksimal yang diakrenakan terjadinya arus balik di noduys AV taupun
karena terjadinya anomaly hubungan padsa nodus AV. Selain itu, Verapamil \berkhasiat dalam
nmenurunkan secara cepat terhadap respon ventrikel terhadap kejadian fibril maupun flutter yang
terjadi di atrium jika aritmia yang terjadi tidak dibarengi dengan sindrom Parkinson serigala putih.
Obat ini, diltiazem dan verapamil tidak direkomendasikan untuk aritmia pada ventrikel kecuali yang
terjadi dikarenakan sebab spasmenya arteri koroner.

Gambar 27. Sediaan obat antiaritmia: verapamil


Sumber: https://www.alodokter.com/verapamil

Verapamil maupun Diltiazem, kedua jenis obat ini mempunyai efek samping yang
dominant terhadap cardiac maupun sistem digestive. Pemberian dengan jalan injeksi pada
intravena tidak direkomendasikan pada pasien dengan gagal jantung skala berat, tekanan
darah tinggi,
Efek sampingnya yang utama dari verapamil, kelainan sindrom sinus blok AV, sindrom
Parkinson serigala putih, maupun ventrikel takikardi. Obat ini mempunyai interaksi
terhadap peresepan beta-blocker maupun jenis obat digitalis dan secara aditif akan
memunculkan gejala bradikardia maupun tterjadinya blok AV. Sedangkan jika
dikombinasikan dengan reserpin ataupun metildopa, akan berakibat fatal yaitu membuat
sinus menjadi terdepresi dan meningkatkan kejadian bradikardia.

4. Kelas V: Jenis lain (digitalis, adenosin, dan magnesium (Gunawan, 2009).


Ada tiga yaitu digitalis, adenosin, dan magnesium
 Salah satu obat dalam kelas ini yaitu jenis digitalis. Jenis obat ini memiliki
karakteristik vagotonis yaitu merupakan penyebab terhambatnya aliran kalsium
dalam nodus AV dan pengaktivan aliran Ca+ dengan perantara aseltikolin yang
berada di serambi jantung. Digitalis ini mempunyai efek yang secara tidak langsung
menyebabkan hiperpolarisasi, aksi potensial pada serambi mejadi memendek, dan
meningkatnya masa refrakter dalam nodus AV. Obat jenis ini dispesialkan pada
kejadian fibrilasi pada atrium pada kasus cardiac arrest.
 Jenis lain dari golongan V , yaitu obat jenis adenosine. senyawa ini meruapakan
nukleosid yang alamai terdapat dalam tubuh. Jenis ini bekerja dengan memberikan
aktivasi terhadaop ion Ca+ yang peka terhadap aseltikolin yang berada di serambi,
sinus, dan nodus AV, dengan output waktu aksi potensial hiperpolarisasi yang terjadi
menjadi memendek dan melambatnya pengaktifan secara otomatis.
Gambar 27: Sediaan obat antiaritmia: adenosin
Sumber: https://halosehat.com/obat-a-z/obat-a/adenosin

 Magnesium memiliki khasiat terhadap kerja jantung secara langsung maupun tidak
dengan efek yang berpengaruh terhadap keseimbangan Ca+ dan K dalam jantung.
Unsur Magnesium membuat siklus sinus yang terjadi menjadi panjuang,
melambatkan hantaran Av, maupuan hantaran oada intraartial dan intravena. Selain
itu, memberikan efek perpanjangan masa terhadap beberapa siklus yang berakiatan
dengan konduksi dan nodus yang terjadi di jantung.

Mekanisme Kerja secara umum


Kejadian Aritmia diakibatkan karena kinerja aliran – aliran atau nodus – nodus pada
jantung bekerja secara tidak normal. Terapi yang diberikan terhadap gangguan ritme yang
terjadi pada jantung ini ditujukan untuk mengurangi aktivitas konduksi – konduksi pada
jantung dan gangguan lain yang mengakibatkan potensial- potensial listrik dalam jantung
terganggu (Departemen Farmakologi dan Terapeutik UI, 2007).

Mekanisme utama untuk mencapai tujuan adalah :


 Menghambat saluran Na+
 Menghambat akibat simpatis otonom pada jantung
 Memperpanjang fase refraksi yang efektif
 Menghambat kanal Ca+

Jenis obat anti aritmia bekerja dengan menormalkan sistem/ alur terbentuknya kejutan –
kejutan listrik yang memunculkan ritme jantung. Sistem kerjanya yaitu dengan jalan
memblok saluran Na+ maupun Ca+ dengan selektif. Beberapa jenis obat memuiliki efek
afinitas yang maksimum pada saluran aktif (fase 0) dan sebaliknya, ada yang memberikan
efek minimal pada saluran yang pasif (pada fase 2).. Oleh karena hal tersebut, mekanisme
obat yang bekerja pada sistem ini mengacu pada konduktivitas listrik dan nodus – nodus
yang muncul pada jantung. jika lecutan – lecutan listrik semakin banyak dan cepat maka
obat ini bekerja denfgan menurunkan afinitasnya bagitu juga sebaliknya (Abraham, 2008).
Mekanisme yang terjadi pada obat ini dalam mekanismenya untuyk menormalkan
gangguan ritme yang terjadi jantung sering digambarkan sebagai “ use or state dependent “
dikarenakan hal tersebut merupakan perantara yang sering dimanfaatkan pada fase tak
aktif dan lebih mudah dalam melakukan kerja obat ini.

2.5.4 Side-Effect
 Kelas I; Terjadinya tekanan darah rendah, dalam kasus toksis skala berat bisa
menimbulkan nyeri kepala, kebingungan, delirium, perubahan penerimaan warna oleh
panca indera. Selain itu berakibat timbul rasa kantuk, pada obat jenis tokainid maupun
meksiletin berefek tremor, kepala pusing ringan, dan gangguan pada saluran pencernaan.
 Kelas II; berakibat tekanan darah menjadi turun, aritmia dan angina pada jantung malah
semakin berat, dapat menyebabkan terjadinya infark miokard akut pada jantung.
 Kelas III; Tidak berbeda jauh dari efek obat yang ditimbulkan oleh dua kelas obat
sebelumnya. Obat kelas ini selain menimbulkan hipotensi, juga mengakibatkan gangguan
pada paru, hati, merubah kulit menjadi berwarna biru, dan kulit menjadi sensitive
terhadap paparan cahaya mmatahari.
 Kelas IV; Sedangkan pada tipe – tipe obat dalam kelas ini dapat berakibat pada saluran
digestive dan terjadinya hipotensi (Syamsudin, 2011).

2.5.5 Kontraindikasi
 Kelas I; Obat ini tidak direkomendasikan dan tidak dianjurkan pada penderita yang
mengkonsumsi digoksin maupuan digitoksin dikarenakn efenya akan membuat tosik
menjadi meningkat. Untuk pasien yang mengidap penyakit jantung bisa berakibat
metabolisme lidokain menurun dan mengalami peningkatan dalam plasma. Sealin itu,
obat kelas ini dilarang digunakan berbarengan dengan simetidin.
 Kelas II ; kontraindikasi jika dialkukan terapi dengan kurun waktu yang lama dengan
jenis digitalis akan berakibat gagal jantung. Pemberhentian yang tiba – tiba juga berakibat
memperparah nyeri pada jantung dan dapat berakibat infark pada miokard secara akut.
 Kelas III ; kontraindikasi apabila terjadi pertemuan obat kelas ini dengan obat jenis
amiodaron bisa berakibat peningkatan konsentrasi dan efeknya terhadap tubuh. Hal
tersebut akan terus terjadi sampai lebih dari satu minggu setelah pemberhantian konsumsi
obat.
 Kelas IV; kontraindikasi obat ini berlaku pada penderita hipertensi, heart failure chronic,
sindrom sinus, blok AV, sindrom Parkinson serigala putih, dan yang mempunyai
takikardia pada ventrikelnya (Syamsuir, 2010).
BAB III
KESIMPULAN

Jantung adalah organ yang mempunyai peranan penting yang berfungsi untuk transportasi
darah keseluruh bagian tubuh serta juga sebagai pembawa zat gizi bagi organ yang ada pada tubuh
yang sistemnya sangat dinamik. Penyakit-penyakit kardiovaskuler masih mendominasi sebagai
penyakin terbanyak dan sebagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian walaupun tidak menular.
Semakin banyak teknik diagnostik canggih yang memungkinkan kita dapat terdeteksi penyakit
jantung dan cacat klinisnya. Namun penggunaan teknik-teknik ini hanya sebagai pelengkap penilaian
klinis dan sistematis dari pasien yang bersangkutan, tetapi bukan merupakan suatu pemeriksaan yang
menggantikan, anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap dari pasien tersebut.
Diagnosis penyakit jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan (1) penilaian
klinis yang terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik, denyut dan tekanan arteria, tekanan dan denyut
vena, gerakan prekordial jantung, bunyi jantung. (2) prosedur diagnostik non invasif, yang terdiri dari
ektrokardiogram permukaan, ekokardiografi, CT (Computed Tomography) scan. (3) prosedur
diagnostik invasif terdiri dari study elektrofisiologi, kateterisasi pada penyakit katup jantung,
pemantauan hemodinamik.
Namun ada berbagai cara juga sebelum penyakit itu terjadi yaitu, dengan cara memberikan
obat – obatan kardiovaskuler sehingga kita dapat cegah terlebih dahulu sebelum terjadi dan pada
akhirnya kalau lama-lama tidak dicegah bakal memburuk. Dan terdapat berbagai macam obat-obatan
yang efektif untuk mengatasi kelainan pada jantung. Jantung merupakan pusat awal transportasi aliran
darah, terdapat denyutan yang berotot secara berulang. Setiap denyutan akan menyalurkan darah yang
terdapat di jantung, yang dialirkan ke seluruh bagian tubuh melalui jaringan yang tertutup.
Dimakalah ini meringkas sebuah obat-obatan kardiovaskular yang pertama adalah obat
Hipertensi ada beberapa jenis obat ini yaitu
I. Diuretika. Merupakan salah satu obat garis pertama, Jenis : diuretik thiazide dan diuretik
loop. Obat ini mempunyai cara kerja : obat ini akan menghambat terjadinya retensi air dan garam
serta ekskresi air dan garam akan mengalami peningkatan. Terapinya dalam jangka panjang. Dan efek
sampingnya : penurunan kadar kalium dibawah normal, dapat menyebabkan terjadinya asam urat,
gula darah akan mengalami peningkatan diatas normal, hipomagnesemia.
2. B-Blocker yaitu Prototip : propranolol (b1 dan b2 receptor blocker). Cara kerja : akan
menurunkan beban kerja jantung, pelepasan renin terhambat dari ginjal, menghambat kerja sistem
saraf simpatis. Aktif per oral, mengalami metabolisme lintas pertama. Efek Samping : bradikardi,
hipotensi, letargi, insomnia, halusinasi, meningkatkan TG dan menurunkan HDL, disfungsi seksual.
3. ACE Inhibitor Efek Samping: batuk kering (akibat peningkatan bradikinin), rash, demam,
altered taste, hipotensi (pada keadaan hipovolemia), hiperkalemia.
4. Angiotensin Receptor Blocker Prototip : losartan, valsartan, irbesartan, candesartan. Efek
farmakologis mirip ACE inhibitor menyebabkan vasodilatasi dan menurunkan sekresi aldosteron. 5.
Calcium Channel Blocker Cara Kerja : Kalsium masuk sel melalui kanal yg sensitif terhadap
voltase, CCB memblok masuknya kalsium melalui kanal tipe L yang terdapat pada otot polos jantung
dan pembuluh darah koroner dan perifer menyebabkan relaksasi pembuluh darah melebar,
Mempunyai efek natriuretik intrinsik. Efek Samping : konstipasi (10%), pusing, sakit kepala,
hipotensi. pemberian 3x sehari. Contoh obat CCB dan Efeknya sebagai berikut : VERAPAMIL CCB
yang tidak selektif, Berefek pada otot polos jantung dan pembuluh darah, Efek inotropik negatif
DILTIAZEM Berefek pada otot polos jantung dan pembuluh darah, Efek inotropik negatif dan efek
sampingnya lebih sedikit. DIHYDROPYRIDINES Generasi I : Nifedipine, Generasi II a interaksi
dengan obat CV lain sedikit, Berefek pada otot polos jantung dan pembuluh darah, Efektif untuk
terapi hipertensi.
5. A-Blocker Prototipe : Prazosin, doxazosin, terazosin Cara Kerja : alfa blocker akan
memblok kerja adrenoseptor a1 -> kemudian akan menyebabkan terjadinya relaksasi otot polos arteri
dan vena -> keadaan tersebut menyebabkan penurunan tahanan yang ada pada vaskuler perifer.
Jangka panjang : takikardi. Efek Samping : tekanan darah dibawah normal, jantung akan berdetak
lebih cepat dan diatas rata-rata orang normal (takikardi), syncope (dosis I)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi didefinisikan sebagai adanya peningkatan pada tekanan
darah sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan pada tekanan sistolile yang melebihi angka 140
mmHg dan tekanan diastole yang melebihi angka 90 mmHg. Obat yang termasuk jenis dari
antihipertensi berfungsi sebagai penurun tekanan darah yang mengalami peningkatan dari batas
normal. Sebagian besar obat-obatan yang termasuk jenis obat antihipertensi mempunyai kerja pada
tempat kontrol anatomis serta mekanisme kerja itu akan mempunyai pengaruh yang cukup signifikan
dalam regulasi.
Yang kedua yaitu antiangina merupakan salah satu obat-obatan untuk mengatasi kondisi
angina pectoris (nyeri yang sangat berat pada bagian dada yang terjadi akibat ketidakcukupan oksigen
yang akan disalurkan menuju ke jantung.). Obat Antiangina lainnya yaitu nitrat organic, β-bloker dan
penghambat Ca⁺⁺.Obat yang digunakan pada bloker β yaitu propanolol, pada bloker kanal Ca⁺⁺ yaitu
nifedipin,ditiazem,verapamil,amlodipin dan pada nitrat digunakan gliseril trinitrat,isosorbid dinitrat,
isosorbid mononitrat. Pengobatan angina pectoris dapat menggunakan kombinasi beberapa obat
dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping serta rasa nyeri yang dirasakan
sangat tajam pada daerah dada, biasanya nyeri ini dapat menjalar sampai ke bagian lengan,
dipresipitasi oleh aktivitas kemudian gejala ini dapat berkurang bila dilakukan istirahat dan juga dapat
diberikan obat-obatan (nitrat).
Aritmia adalah suatu keadaan yang terjadi pada frekuensi serta irama jantung yang
mengalami perubahan disebabkan oleh keabnormalan yang terjadi pada sitem konduksi elektrolit.
Aritmia dapat timbul dari perubahan elektrofisiologi yang terdapat pada bagian sel-sel miokardium.
Penyebab kondisi aritmia adalah iskemi dan infark, penyakit ini kebanyakan disertai dengan
perubahan gangguan elektrolit yang biasanya mengalami perubahan, metabolisme yang cenderung
mengalami perubahan.
Obat-obat antiaritmia terdiri dari 4 kelas yaitu :
a) Antiaritmia yang tergolong kelas I
Contoh obat: ((blokade Na primer dan Kr sekunder) prokainamid)
b) Antiaritmia yang tergolong kelas II
Contoh obat: Beta blocker
c) Antiaritmia yang tergolong kelas III
Contoh obat: Amiodarone
d) Antiaritmia yang tergolong kelas IV
Contoh obat: Verapamil