Anda di halaman 1dari 45

ANGGARAN DASAR

BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

(1) Usaha bersama ini bernama Usaha Bersama Simpan Pinjam “Apoteker Cabang
Manggarai” dengan nama Singkat UBSP “.............” dan selanjutnya dalam
Anggaran Dasar ini disebut UBSP
(2) Koperasi beralamat/bertempat kedudukan di Ruteng dengan Alamat....

BAB II

LANDASAN DAN PRINSIP


Pasal 2

Usaha bersama Simpan Pinjam (UBSP) berlandaskan Pancasila dan Undang-


undang 1945 serta berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Pasal 3
UBSP melakukan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka;
2. pengelolaan dilakukan secara demokratis;
3. pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya
jasa pinjaman masing-masing anggota;
4. kemandirian;

BAB III

MAKSUD DAN TUJUAN SERTA BIDANG USAHA

Bagian Pertama
Maksud dan Tujuan
Pasal 4
(1). UBSP bermaksud memenuhi kebutuhan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
(2). UBSP bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian
nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Bagian Kedua
Bidang Usaha
Pasal 5
Untuk mencapai maksud dan tujuannya, maka UBSP menyelenggarakan usaha:
1. Apotek
2. Distribusi sediaan farmasi
3. Simpan pinjam

Pasal 6
(1) Kegiatan Apotek adalah :
Menyalurkan sediaan farmasi kepada anggota dan masyarakat luas dengan
berlandaskan prinsip bisnis dan prinsip KIE (komunikatip, informatip dan
edukatip)
(2) Kegiatan Distribusi sediaan farmasi adalah :
Menyalurkan sediaan farmasi kepada anggota dengan aturan aturan tambahan
yang ditetapkan dan disepakati oleh anggota. Adapun aturan tambahan akan
dibahas tersendiri
(3) Kegiatan Unit Simpan Pinjam adalah :
1. menghimpun simpanan Koperasi berjangka dan tabungan Koperasi dari anggota
dan calon anggota, Koperasi lain dan atau anggotanya.
1. memberikan pinjaman kepada anggota, calon anggota, dan atau anggotanya;
Dalam memberikan pinjaman Unit Simpan Pinjam wajib memegang teguh prinsip
pemberian pinjaman yang sehat dengan memperhatikan penilaian kelayakan dan
kemampuan pemohon pinjaman.

BAB IV

KEANGGOTAAN

Bagian Pertama
Anggota Koperasi
Pasal 7
Yang dapat diterima menjadi anggota koperasi ini ialah setiap Warga Negara
Republik Indonesia yang memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. terdaftar sebagai anggota Ikatan Apoteker Indonesia cabang Pemalang
2. berdomosili di Pemalang
3. telah melunasi simpanan pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 ayat (1)
4. telah menyetujui isi Anggaran Dasar dan ketentuan-ketentuan Koperasi yang
berlaku.

Pasal 8
(1) Keanggotaan Koperasi mulai berlaku dan hanya dibuktikan dengan catatan
dalam buku daftar anggota.
(2) Berakhirnya keanggotaan mulai berlaku dan hanya dapat dibuktikan dengan
catatan dalam buku daftar anggota.
(3) Setiap orang yang masuk menjadi anggota harus mengajukan permohonan
secara tertulis kepada Pengurus.
(4) Dalam waktu yang telah ditentukan, Pengurus harus memberi jawaban
apakah permohonan itu diterima atau ditolak.
(5) Permintaan berhenti menjadi anggota harus mengajukan permohonan secara
tertulis kepada Pengurus.

Pasal 9
Keanggotaan berakhir, bilamana anggota :
1. meninggal dunia;
2. minta berhenti atas kehendak sendiri;
3. diberhentikan oleh Pengurus karena tidak memenuhi lagi syarat keanggotaan;
4. diberhentikan oleh Pengurus karena tidak memenuhi kewajiban sebagai anggota
atau karena berbeuat sesuatu yang merugikan Koperasi.

Pasal 10
Setiap anggota mempunyai kewajiban :
1. mematuhi Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang
telah disepakati dalam Rapat Anggota;
2. berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Koperasi;
3. mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasar atas azaz kekeluargaan.

Pasal 11
Setiap anggota mempunyai hak :
1. menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam Rapat Anggota;
2. memilih dan/atau dipilih menjadi anggota Pengurus atau Pengawas;
3. meminta diadakan Rapat Anggota menurut ketentuan dalam Anggaran Dasar;
4. mengemukakan pendapat atau saran kepada Pengurus diluar Rapat Anggota baik
diminta maupun tidak diminta;
5. memanfaatkan koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesame
anggota;
6. mendapat keterangan dari Pengurus mengenai perkembangan Koperasi menurut
ketentuan dalam Anggaran Dasar.

Pasal 12
(1) Keanggotaan Koperasi tidak dapat dipindahtangankan.
(2) Dalam hal anggota meninggal dunia, keanggotaanya tidak dapat diteruskan
oleh ahli waris kecuali ahli waris tersebut memenuhi syarat keanggotaan
sebagaimana diatur dalam pasal 7.

Bagian Kedua
Anggota Luar Biasa
Pasal 13

Yang dapat masuk menjadi anggota luar biasa ialah penduduk Indonesia yang
memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. Organisasi Ikatan Apoteker Indonesia cabang Pemalang
2. menyatakan kesanggupan tertulis untuk melunasi simpanan pokok sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1);
3. menyetujui Anggaran Dasar dan ketentuan-ketentuan Koperasi yang berlaku.

Pasal 14
organisasi IAI menunjuk kuasa kepeda seseorang untuk ditunjuk sebagai
perwakilan keanggotaanya di koperasi

Pasal 15
Keanggotaan tidak dapat dipindahtangankan kepada orang lain dengan dalih
apapun.

Pasal 16
Setiap anggota luar biasa mempunyai kewajiban :
1. mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang
telah disepakati dalam Rapat Anggota;
2. berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Koperasi;
3. mengembangkan dan memelihara kebersamaan.

Pasal 17
Setiap anggota luar biasa mempunyai hak :
1. menghadiri Rapat Anggota;
2. memanfaatkan Koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesama
anggota luar anggota;
3. anggota luar biasa mempunyai hak bicara dalam Rapat Anggota Tahunan tetapi
tidak boleh memilih dan dipilih menjadi Pengurus dan Pengawas Koperasi;
4. anggota Luar Biasa berhak atas Sisa Hasil Usaha sesuai dengan keputusan Rapat
Anggota.

BAB V
RAPAT ANGGOTA
Pasal 18
(1) Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam Koperasi.
(2) Rapat Anggota sah jika yang hadir lebih dari separuh jumlah anggota
Koperasi.
(3) Jika Rapat Anggota tidak dapat berlangsung karena tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini maka rapat ditunda
paling lama 7 (tujuh) hari, dan bila pada rapat kedua tetap tidak tercapai syarat
tersebut, maka berlaku syarat-syarat seperti rapat dalam keadaan luar biasa.

Pasal 19
Rapat anggota menetapkan :
1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;
2. kebijaksanaan umum dibidang organisasi, manajemen, dan usaha koperasi;
3. pemilihan, pengangkatan, pemberhentian Pengurus dan Pengawas;
4. rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi serta
pengesahan laporan keuangan;
5. pengesahan pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas dalam pelaksanaan
tugasnya;
6. pembagian Sisa Hasil Usaha;
7. penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi.
Pasal 20
(1) Keputusan Rapat Anggota diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai
mufakat.
(2) Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka
pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
(3) Dalam hal dilakukan pemungutan suara, setiap anggota mempunyai hak satu
suara.
(4) Rapat Anggota untuk menetapkan Anggaran Dasar harus dihadiri sekurang-
kurangnya ¾ dari jumlah anggota Koperasi dan keputusannya harus disetujui ¾
dari jumlah anggota yang hadir.
(5) Jika perubahan Anggaran Dasar harus diadakan berhubung dengan
ketentuan Undang-undang atau peraturan-peraturan/Ketentuan-ketentuan
pelaksanaannya Rapat Anggota sah bila dihadiri ¾ dari jumlah anggota Koperasi.
(6) Rapat Anggota untuk penggabungan, peleburan, dan pembagian Koperasi
harus dihadiri sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota Koperasi, sedangkan
keputusannya harus disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota
yang hadir;
(7) Rapat Anggota untuk pembubaran koperasi harus dihadiri ¾ dari jumlah
anggota Koperasi, sedangkan keputusannya harus disetujui oleh suara ¾ anggota
yang hadir.

Pasal 21
(1) Rapat Anggota berhak meminta keterangan dan pertanggungjawaban
Pengurus dan Pengawas mengenai pengelolaan Koperasi.
(2) Rapat Anggota diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam 1 (satu) tahun.
Pasal 22
Segala keputusan Rapat Anggota dicatat dalam sebuah Buku Daftar Berita Acara
Rapat Anggota dan ditandatangani oleh Ketua Rapat dan Sekretaris Rapat.

Pasal 23
(1) Rapat Anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban Pengurus disebut
Rapat Anggota Tahunan diadakan paling lambat 3(tiga) bulan setelah tahun tutup
buku.
(2) Tanggal dan tempat serta acara Rapat Anggota harus diberitahukan kepada
anggota sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum rapat.
(3) Undangan Rapat Anggota disertai laporan pertanggungjawaban Pengurus
dikirim kepada anggota dalam waktu sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum
rapat.
(4) Acara dan tata tertib rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini
dimintakan pengesahan terlebih dahulu dengan Rapat Anggota.

Pasal 24
(1) Selain Rapat Anggota, Koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasa.
(2) Rapat Anggota luar Biasa dapat diadakan apabila situasi dan kondisi Koperasi
dalam keadaan luar biasa dan tidak bisa menunggu diselenggarakan Rapat
Anggota.
(3) Keadaan luar biasa dalam ayat (2) pasal ini adalah :
1. apabila Koperasi berjalan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga;
2. apabila perubahan Anggaran Dasar harus diadakan berhubung ketentuan
undang-undang atau peraturan-peraturan/ketentuan-ketentuan pelaksanaannya;
3. apabila keadaan Negara atau karena peraturan-peraturan/ketentuan-ketentuan
Penguasa Pusat maupun setempat tidak memungkinkan untuk mengadakan
Rapat Anggota.
(4) Rapat Anggota Luar Biasa dapat diadakan :
1. atas permintaan tertulis 1/10 dari jumlah anggota;
2. atas kehendak Pengurus.
(5) Rapat Anggota Luar Biasa diadakan atas permintaan anggota apabila anggota
menilai bahwa Pengurus telah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan
kepentingan Koperasi dan menimbulkan kerugian terhadap Koperasi.
(6) Rapat Anggota Luar Biasa diadakan atas kehendak Pengurus untuk
kepentingan pengembangan Koperasi.
(7) Rapat Anggota Luar Biasa mempunyai wewenang yang sama dengan
wewenang Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam pasal 18.
(8) Rapat Anggota Luar Biasa sah bila dihadiri 20% dari jumlah anggota Koperasi.

BAB VI

PENGELOLAAN
Bagian Pertama
Pengurus
Pasal 25
(1) Pengurus Koperasi dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota.
(2) Pengurus merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota.
(3) Susunan dan nama anggota Pengurus dicatat dalam buku daftar pengurus.
(4) Setiap anggota Pengurus tidak diperbolehkan merangkap sebagai Pengawas.
(5) Pengurus koperasi tidak boleh merangkap sebagai Pengurus Koperasi lain
yang sejenis.

Pasal 26
(1) Masa jabatan pengurus 3 (tiga) tahun, terhitung sejak tanggal menerima tugas
dan jabatan sebagai Pengurus, yang dibuktikan dengan Berita Acara dan berakhir
pada tanggal penyerahan tugas dan jabatan sebagai Pengurus kepada Pengurus
yang terpilih yang dibuktikan dengan Berita Acara.
(2) Anggota Pengurus yang telah habis masa jabatannya dapat dipilih kembali
maksimal 2 (dua) periode berturut-turut.
(3) Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi anggota Pengurus
adalah sebagai berikut :
1. anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
2. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
3. mempunyai sifat kejujuran dan keterampilan kerja;
4. mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memimpin Koperasi;
5. bersifat adil dan objektif (tidak dapat dipengaruhi oleh karena perbedaan agama,
politik, famili, teman dan lain-lain);
6. tabah, sabar, teliti serta mampu dan cakap mengambil keputusan yang cepat dan
tepat;
7. berwibawa, disegani, dan dapat menjadi suri tauladan;
8. bukan Pengawas atau Karyawan Koperasi;
9. diutamakan bagi mereka yang mempunyai pengalaman mengenai organisasi;
10. diutamakan yang memiliki kita Kewira Koperasian;
11. belum pernah melakukan perbuatan tercela.
(4) Pengurus sebelum memangku jabatannya lebih dahulu mengucapkan
sumpah/janji dihadapan Rapat Anggota.

Pasal 27
(1) Bilamana seseorang Anggota Pengurus berhenti sebelum masa jabatannya
habis, maka Pengurus lainnya dapat mengangkat gantinya akan tetapi
pengangkatan itu harus disahkan oleh Rapat Anggota berikutnya;
(2) Pengurus yang berhenti dari jabatannya wajib menyiapkan berita acara serah
terima jabatan;
Tata cara serah terima jabatan Pengurus diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
Pasal 28
(1) Pengurus bertugas untuk :
1. mengelola Koperasi dan usaha;
2. mengajukan rancangan rencana kerja dan rancangan anggaran pendapatan dan
belanja Koperasi;
3. menyelenggarakan Rapat Anggota;
4. menyusun laporan tahunan yang memuat sekurang-kurangnya laporan keuangan
beserta penjelasannya dan keadaan Koperasi serta hasil usaha yang dicapai yang
merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
5. menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib;
6. memelihara buku daftar anggota, buku daftar pengurus, buku daftar pengawas
dan buku daftar karyawan;
(2) Pengurus wajib untuk :
1. mewakili Koperasi didalam dan diluar pengadilan;
2. melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan Koperasi
sesuai dengan tanggungjawabnya.
(3) Pengurus berwenang untuk memutuskan penerimaan dan atau penolakan
anggota baru serta pemberhentian anggota.
(4) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d pasal ini
ditanda tangani oleh semua anggota Pengurus.
(5) Apabila salah seorang Anggota Pengurus tidak menandatangani laporan
tahunan tersebut, anggota yang bersangkutan menjelaskan alasannya secara
tertulis.
Pasal 29
Pengurus bertanggung jawab mengenai segala kegiatan pengelolaan Koperasi dan
usahanya kepada Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa.

Pasal 30
(1) Pengurus dapat mengangkat Pengelola yang diberi wewenang dan kuasa
untuk mengelola usaha.
(2) Sesuai dengan kepentingan Koperasi, Pengelola dapat sebagai manajer atau
direksi.
(3) Rencana pengangkatan Pengelola harus mendapat persetujuan Rapat Anggota.
(4) Apabila rencana pengangkatan Pengelola mendapat persetujuan Rapat
Anggota, sebelum melaksanakan tugas Pengelola harus menandatangani kontrak
kerja yang telah disiapkan oleh Pengurus.
(5) Isi perjanjian kerja/kontrak kerja diatur dalam Peraturan Khusus.
(6) Pengelola bertanggung jawab kepada Pengurus.
(7) Pengelolaan usaha oleh Pengelola tidak mengurangi tanggungjawab Pengurus
sebagaimana ditentukan dalam pasal 29.
(8) Dalam hal Koperasi mengangkat Pengelola, dan Pengurus telah melimpahkan
wewenang dan kuasa yang dimilikinya, maka tugas Pengurus beralih menjadi
mengawasi pelaksanaan wewenang dan kuasa yang dilakukan pengelola.
(1) Besarnya wewenang dan kuasa yang dilimpahkan ditentukan sesuai dengan
kepentingan Koperasi yang diatur dalam Peraturan Khusus.

Pasal 31
(1) Pengelolaan Unit koperasi dilakukan oleh Pengelola yang diangkat oleh
Pengurus.
(2) Pengelola Unit koperasi bertanggung jawab kepada Pengurus.
(3) Pengelolaa Unit koperasi dapat berupa perorangan atau badan usaha,
termasuk yang berbentuk badan hukum.
(4) Dalam melaksanakan pengelolaan Unit koperasi, pengelola wajib mengadakan
kontrak kerja dengan Pengurus.
(5) Dalam hal Pengelola adalah perseorangan, wajib memenuhi persyaratan
minimal sebagai berikut :
1. tidak pernah melakukan tindakan tercela dibidang keuangan dan atau di hukum
terbukti melakukan tindak pidana dibidang keuangan;
2. memiliki akhlak dan moral yang baik;
3. mempunyai keahlian dibidang keuangan atau pernah mengikuti pelatihan
manajemen atau magang dala usaha apotek.
(6) Dalam hal Pengelola adalah badan usaha, wajib memenuhi persyaratan
minimal sebagai berikut :
1. memiliki kemampuan keuangan yang memadai;
2. memiliki tenaga managerial yang berkualitas baik.
(7) Dalam hal Pengelola dilakukan oleh lebih dari 1 (satu) orang, maka :
1. sekurang-kurangnya 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah Pengelola wajib
mempunyai keahlian di bidang keuangan atau pernah mengikuti pelatihan di
bidang manajemen atau magang dalam usaha apotek;
2. diantara Pengelola tidak boleh mempunyai hubungan keluarga sampai derajat
kesatu menurut garis lurus kebawah maupun kesamping.
(8) Pengelola Unit koperasi dilakukan secara terpisah dari unit usaha lainnya.

Pasal 32
Tugas tiap Anggota Pengurus ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga dan
Peraturan Khusus

Pasal 33
(1) Pengurus harus segera mengadakan catatan pada waktunya dalam Buku
Daftar Anggota tentang masuk dan berhentinya anggota.
(2) Pengurus harus segera mengadakan catatan pada waktunya dalam Buku
Daftar Pengurus tentang dimulai dan berhentinya jabatan Pengurus.
(3) Pengurus harus berusaha agar anggota mengetahui akibat pencatatan dalam
Buku Daftar Angota.
(4) Setiap Anggota Pengurus harus memberi bantuan kepada Pengawas untuk
melakukan tugasnya dan ia diwajibkan untuk memberi keterangan yang
diperlukan dan diperlihatkan segala buku, warkat, persediaan barang, alat-alat
perlengkapan dan uang Koperasi yang ada padanya.
(5) Tiap Anggota Pengurus harus berusaha agar pemeriksaan sebagai tersebut
dalam ayat (4) tidak diperhambat baik sengaja atau tidak oleh anggota Pengurus
atau Pengelola.

Pasal 34
(1) Pengurus diwajibkan agar tiap kejadian dicatat sebagaimana mestinya
didalam buku yang telah ditentukan.
(2) Pengurus wajib memberitahukan kepada anggota tiap kejadian yang
mempengaruhi jalannya Koperasi.

Pasal 35
(1) Pengurus wajib memberi laporan kepada anggota tentang keadaan serta
perkembangan organisasi dan usaha-usahanya sekurang-kurangnya 1 (satu) kali
setahun.
(2) Pengurus wajib berusaha agar segala laporan pemeriksaan Koperasi dapat
diketahui oleh setiap anggota.
(3) Pengurus wajib supaya ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Peraturan Khusus, dan keputusan Rapat Anggota diketahui dan
dimengerti oleh segenap anggota.
(4) Pengurus wajib untuk memelihara kerukunan diantara anggota dan mencegah
segala hal yang menyebabkan timbulnya perselisihan paham.
(5) Perselisihan yang timbul karena hanya kepentingan khusus Koperasi atau
dalam hubungan sebagai anggota harus diselesaikan oleh Pengurus dengan jalan
damai tanpa memihak salah satu pihak.
(6) Pengurus harus melaksanakan segala ketentuan dalam Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Peraturan – Peraturan Khusus dan keputusan-
keputusan Rapat Anggota terutama pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan.

Pasal 36
(1) Pengurus baik bersama-sama, maupun sendiri-sendiri, menanggung kerugian
yang diderita Koperasi, karena tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan.
(2) Disamping penggantian kerugian tersebut, apabila tindakan itu dilakukan
dengan kesengajaan, tidak menutup kemungkinan bagi penuntut umum untuk
melakukan penuntutan.

Pasal 37
(1) Anggota Pengurus Koperasi ini boleh menjadi Anggota Pengurus Koperasi lain
atas kesepakatan Rapat Anggota.
(2) Anggota Pengurus Harian dari Koperasi ini tidak boleh merangkap sebagai
Anggota Pengurus Koperasi lain, termasuk Koperasi Sekundernya.

Bagian Kedua
Pengawas
Pasal 38
(1) Pengawas dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam Rapat Anggota.
(2) Pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota.
(3) Yang dapat dipilih menjadi Pengawas ialah mereka yang memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :
1. anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
2. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
3. mempunyai kemauan dan kemampuan untuk pengewasan/pemeriksaan;
4. bersifat adil dan objektif (tidak dapat dipengaruhi oleh karena perbedaan agama,
politik, famili, teman dan lain-lain).
5. tabah, sabar, teliti serta mampu dan cakap mengambil keputusan;
6. berwibawa, disegani, dan dapat menjadi suri tauladan;
7. bukan Pengurus atau Karyawan Koperasi;
8. diutamakan bagi mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan atau
pengalaman mengenai pembukuan;
9. diutamakan yang memiliki kita kewira Koperasian;
(4) Pengawas sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5
(lima) orang.
(5) Masa jabatan Pengawas 3 (tiga) tahun.
(6) Anggota Pengawas tidak diperbolehkan merangkap sebagai Pengurus atau
Pengelola Koperasi ini.

Pasal 39
(1) Pengawas bertugas untuk :
1. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan
Koperasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali;
2. membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.
(2) Pengawas berwenang untuk :
1. meneliti catatan yang ada pada Koperasi;
2. mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.
(3) Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.
(4) Pengawas sebelum memangku jabatannya lebih dahulu mengucapkan
sumpah/janji dihadapan Rapat Anggota.

Pasal 40
(1) Bilamana seseorang Anggota Pengawas berhenti sebelum masa jabatannya
habis, maka Pengawas lainnya dapat mengangkat gantinya, akan tetapi
pengangkatan itu harus disahkan oleh Rapat Anggota berikutnya.
(2) Pengawas yang berhenti dari jabatannya wajib menyiapkan berita acara serah
terima jabatan.
(3) Tata cara serah terima jabatan Pengawas diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.
Pasal 41
(1) Dalam hal Koperasi megnangkat Pengelola, Pengawas dapat diadakan secara
tetap atau diadakan pada waktu diperlukan sesuai dengan keputusan Rapat
Anggota.
(2) Pengawas yang diadakan pada waktu diperlukan melakukan pengawasan
sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Rapat Anggota.

Pasal 42
(1) Dalam rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan yang bersifat terbuka, dan
melindungi pihak yang berkepentingan Koperasi dapat meminta jasa audit kepada
Akuntan Publik.
(2) Permintaan audit oleh Akuntan Public dilakukan oleh Pengurus atau
Pengawas.

Bagian Ketiga
Keuangan
Pasal 43
(1) Tahun Buku perusahaan koperasi berjalan dari tanggal 1 januari sampai
dengan tanggal 31 desember.
(2) Koperasi wajib menyelenggarakan Pembukuan tentang perusahaannya.
(3) Koperasi wajib pada setiap tutup tahun buku, mengadakan perhitungan
keuangan minimal berupa neraca dan perhitungan hasil usaha yang
penyusunannya sesuai dengan ketentuan akuntansi yang berlaku di Indonesia.
(4) Laporan keuangan yang disusun dalam ayat (3) pasal ini merupakan
konsolidasi dari unit-unit usaha yang ada di Koperasi, serta wajib di audit oleh
lembaga audit.
(5) Rapat anggota menetapkan jumlah setinggi-tingginya yang dapat disediakan
sebagai uang kas, dan kelebihannya dengan segera harus di simpan atas nama
Koperasi pada bank.

Pasal 44
(1) Pengelolaan keuangan Unit simpan pinjam dilakukan secara terpisah dari
unit-unit yang lain.
(2) Unit Simpan Pinjam Wajib menyelenggarakan pembukuan keuangan sendiri
dan setiap tutup tahun buku harus membuat perhitungan keuangan yang
minimal terdiri dari dari neraca dan perhitungan laba/rugi.

BAB VII

PERMODALAN

Pasal 45
(1) Koperasi mempunyai modal sendiri dan modal pinjaman.
(2) Modal sendiri dapat berasal dari :
1. simpanan pokok;
2. simpanan wajib;
3. dana cadangan;
4. hibah.
(3) Modal pinjaman dapat berasal dari :
1. anggota;
2. koperasi lainnya dan atau anggotanya;
3. bank dan lembaga keuangan lainnya;
4. sumber lain yang sah.

Pasal 46
(1) Setiap anggota harus menyimpan atas namanya pada Koperasi, simpanan
pokok sejumlah Rp. 500.000,00. (seratus ribu rupiah) pada waktu keanggotaan
diakhiri merupakan tagihan atas koperasi sejumlah tadi, jika perlu dikurangi
dengan bagian tanggungan kerugian koperasi.
(2) Uang simpanan pokok harus dibayar sekaligus.
(3) Setiap anggota diwajibkan untuk membayar simpanan wajib atas namanya
pada Koperasi sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga yang
besarnya kelipatan dari Simpanan pokok.
(4) Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib tidak diberi bunga tetapi diberi bagian
Sisa Hasil Usaha yang besarnya ditetapkan dalam Rapat Anggota.
(5) Simpanan lainnya diberi bunga yang besarnya ditetapkan dalam Peraturan
Khusus.

Pasal 47
(1) Uang simpanan pokok tidak dapat diminta kembali selama anggota belum
berhenti sebagai anggota.
(2) Uang simpanan wajib tidak dapat diminta kembali selama anggota belum
berhenti sebagai anggota.
(3) Uang simpanan lainnya dapat diminta kembali dan diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga / Peraturan Khusus.

Pasal 48
(1) Ketentuan mengenai pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan
diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
(2) Modal penyertaan dapat berasal dari pemerintah, maupun masyarakat dalam
rangka memperkuat kegiatan usaha Koperasi terutama yang berbentuk investasi.
(3) Modal penyertaan ikut menanggung resiko.
(4) Pemilik modal penyertaan tidak mempunyai hak suara dalam Rapat Anggota
dan dalam menentukan kebikjasanaan Koperasi secara keseluruhan.
(5) Pemilik modal penyertaan dapat diikutsertakan dalam pengelolaan dan
pengawasaan usaha investasi yang didukung oleh modal penyertaan sesuai
dengan perjanjian.

BAB VIII

JANGKA WAKTU BERDIRI

Pasal 49
(1) Koperasi ini didirikan untuk jangka waktu 6 (enam) tahun.
(2) Apabila jangka waktu berdiri telah habis, dengan persetujuan rapat anggota
dan Pemerintah, maka jangka waktu tersebut dapat diperpanjang untuk masa 6
(enam) tahun berikutnya.
(3) Walau jangka waktu belum habis, akan tetapi Rapat Anggota atau Pemerintah
menghendaki Koperasi tersebut bubar karena alasan-alasan tertentu, seperti:
1. bertentangan dengan Undang-undang Perkoperasian dan undang-
undang/peraturan-peraturan yang lain;
2. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan sopan santun, ketertiban
umum, dan kesusilaan;
3. kelangsungan hidup koperasi tidak ada lagi.
maka Koperasi tersebut harus dibubarkan.

BAB IX

PEMBAGIAN SISA HASIL USAHA


Pasal 50
(1) Sisa Hasil Usaha Koperasi, yaitu pendapatan Koperasi yang diperoleh dari
satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan biaya lainnya
termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.
(2) Sisa Hasil Usaha Koperasi dibagi sebagai berikut :
1. 30 % untuk dana cadangan;
2. 40 % untuk anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan masing-masing
anggota dengan Koperasi;
3. 5 % untuk dana pendidikan perkoperasian;
4. 25 % untuk keperluan lain.
(3) Bagian Sisa Hasil Usaha untuk keperluan lain sebesar 25% dari bagian Sisa
Hasil Usaha, jenis dan besarnya ditetapkan sebagai berikut :
1. 60 % untuk dana Pengurus dan Pengawas;
2. 20 % untuk dana sosial;
3. 20 % untuk dana Pembangunan Daerah Kerja.
(4) Yang dimaksud dengan jasa usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
huruf b pasal ini ialah transaksi usaha dan partisipasi modal.
(5) Bagian Sisa Hasil Usaha untuk anggota dapat diberikan secara langsung atau
dimasukkan dalam simpanan anggota yang bersangkutan sesuai dengan
Keputusan Rapat Anggota.

Pasal 51
(1) Uang cadangan adalah kekayaan Koperasi yang disediakan untuk menutup
kerugian Koperasi.
(2) Kerugian Koperasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur
lebih lanjut dalam anggaran Rumah Tangga.
(3) Rapat Anggota dapat memutuskan untuk mempergunakan paling tinggi 75 %
dari jumlah seluruh cadangan untuk perluasan perusahaan Koperasi.
(4) Sekurang-kurangnya 25 % dari uang cadangan disimpan di bank dalam
bentuk deposito.
(5) Bagian dari cadangan Koperasi dapat dibagikan kepada anggota dalam bentuk
simpanan khusus, apabila jumlah cadangan telah mencapai lebih dari ½ (satu per
dua) bagian atau 50 % bagian dari jumlah seleuruh simpanan pokok, simpanan
wajib dan simpaanan khusus anggota.
(6) Anggota Koperasi yang berhenti dari kenggotaan Koperasi secara sah dapat
memperoleh bagian atas cadangan koperasi berdasarkan prosentase jumlah
simpanan pokok dan simpanan wajib yang dimilikinya pada Koperasi, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB X

SANKSI ANGGOTA, PENGURUS DAN PENGAWAS

Pasal 52
(1) Anggota yang melanggar ketentuan Anggaran Dasar ini dapat dikeluarkan dari
keanggotaan.
(2) Tingkatan pelanggaran ketentuan Anggaran Dasar ini berikut sangsinya diatur
lebih lenjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
(3) Anggota yang tidak aktif dalam kegiatan usaha tidak mendapat bagian hasih
usaha.
(4) Anggota yang tidak hadir dalam suatu Rapat Anggota tidak dapat mewakilkan
suaranya.
(5) Anggota yang tidak mengindahkan kewajibannya terutama dalam hal
keuangan atau berbuat sesuatu yang merugikan koperasi, dan apabila kerugian
Koperasi tersebut dinilai cukup material maka anggota yang bersangkutan dapat
dikenakan sanksi sebagai berikut :
1. dikeluarkan dari keanggotaan;
2. simpanan pokok menjadi kekayaan Koperasi dan pengembalian simpanan wajib
diserahkan kepada keputusan Rapat Anggota dengan mempertimbangkan
kesalahannya;
3. diminta segera menyelesaikan kewajibannya dan mengganti kerugian yang diderita
oleh Koperasi yang disebabkan karena kesalahannya.
(6) Apabila penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) huruf c pasal ini
tidak tercapai maka penyelesaiannya diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.

Pasal 53
(1) Pengurus Koperasi yang tidak melaksanakan kewajibannya dapat dimintai
pertanggung jawbannya dalam Rapat Anggota / Rapat Anggota Luar Biasa yang
diselenggarakan untuk itu.
(2) Jika tindakan oleh Rapat Anggota dinilai merugikan Koperasi, maka Anggota
Pengurus yang merugikan dapat diberhentikan dari kedudukannya sebagai
Pengurus.
(3) Jika Pengurus melanggar ketentuan Anggaran Dasar ini dan atau
menyalahgunakan jabatannya sehingga merugikan Koperasi, maka sesuai dengan
Rapat Anggota / Rapat Anggota Luar Biasa, Pengurus yang bersangkutan
diberhentikan dari kedudukan sebagai Pengurus dan selanjutnya dapat dikenakan
sanksi seperti dalam pasal 52 ayat (5) dan (6).
(4) Mengganti kerugian dan dikeluarkan dari keanggotaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) pasal ini, tidak berlaku bagi Pengurus yang lain apabila
dapat membuktikan bahwa kerugian tadi bukan karena kesalahannya serta ia
telah berusaha dengan secukupnya mencegah perbuatan yang dapat merugikan
Koperasi.
(5) Apabila Pengurus melanggar larangan tentang perangkapan jabatan, akan
diberhentikan dari kedudukannya sebagai Pengurus dan mempertanggung
jawaban tugas pekerjaannya sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.
(6) Rapat Anggota dapat memberhentikan Pengurus setiap waktu bila terbukti
bahwa :
a. Pengurus melakukan kecurangan dan merugikan Koperasi;
1. Pengurus tidak mentaati Undang-undang Koperasi serta peraturan-
peraturan/ketentuan-ketentuan pelaksanaannya;
c. Pengurus baik dalam sikap maupun tindakan-tindakannya menimbulkan
pertentangan dalam gerakan Koperasi.

Pasal 54
(1) Jika Pengawas melanggar ketentuan anggaran dasar ini maka akan dimintai
pertanggung jawabannya dalam Rapat Anggota.
(2) Pengawas yang tidak merahasiakan hasil pemeriksaannya seusai dengan
Anggaran Dasar ini sehingga menimbulkan kerugian kepada Koperasi, dapat
diberhentikan dari jabatannya dan atau dituntut untuk mengganti kerugian
tersebut sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

BAB XI

PEMBUBARAN DAN PENYELESAIAN

Pasal 55
(1) Dengan memperhatikan pasal 19 huruf g, maka Rapat Anggota dapat
mengambil keputusan untuk penggabungan, peleburan, pembagian, dan
pembubaran Koperasi.
(2) Pembubaran koperasi dapat dilakukan berdasarkan :
1. keputusan Rapat Anggota, atau
2. keputusan pemerintah.
(3) Dengan memperhatikan pasal 20 ayat ( 7) maka pembubaran Koperasi
berdasarkan keputusan Rapat Anggota tidak dapat diberlakukan apabila ada
sebagaian anggota sekurang-kurangnya 20 orang yang masih menghendaki
Koperasi tetap berdiri, dan masih ada sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang
masih sanggup/bersedia menjadi Pengurus dan sekurang-kurangnya 1 (satu)
orang yang masih sanggup/bersedia menjadi Pengawas Koperasi.

Pasal 56
(1) Keputusan pembubaran koperasi oleh Rapat Anggota diberitahukan secara
tertulis oleh Kuasa Rapat Anggota kepada :
1. semua kreditor;
2. pemerintah.
(2) Yang dimaksud dengan kuasa Rapat Anggota dalam ayat (1) pasal ini adalah
mereka yang ditunjuk dan diberi kuasa serta tanggungjawab oleh Rapat Anggota
untuk melaksanakan tugas yang diberkaitan dengan pembubaran Koperasi.
(3) Pemberitahuan tersebut dalam ayat (1) pasal ini harus disertai dengan berita
acara yang antara lain memuat :
1. tanggal, tempat diadakan Rapat Anggota untuk pembubaran Koperasi tersebut;
2. jumlah angggota dan jumlah anggota yang hadir;
3. acara rapat;
4. alasan pembubaran Koperasi;
5. jumlah suara yang setuju dan tidak setuju terhadap pembubaran itu.

Pasal 57
Keputusan pembubaran oleh Pemerintah dilakukan apabila :
1. terdapat bukti bahwa Koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan
Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia;
2. Kegiatan Koperasi bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan;
3. Kelangsungan hidupnya tidak dapat lagi diharapkan.

Pasal 58
Untuk kepentingan kreditor oleh dan para anggota Koperasi, terhadap
pembubaran Koperasi dilakukan penyelesaian pembubaran yang selanjutnya
disebut penyelesaian.

Pasal 59
(1) Penyelesaian dilakukan oleh penyelesai pembubaran yang selanjutnya disebut
penyelesai.
(2) Untuk menyelesaikan berdasarkan keputusan Rapat Anggota, Penyelesai
ditunjuk oleh Rapat Anggota.
(3) Untuk penyelesaian berdasarkan keputusan Pemerintah, Penyelesai ditunjuk
oleh Pemerintah.
(4) Penyelesai bertanggung jawab kepada Kuasa Rapat Anggota dalam hal
Penyelesai ditunjuk oleh Rapat Anggota dan kepada Pemerintah dalam hal
Penyelesai ditunjuk oleh Pemerintah.

Pasal 60
(1) Penyelesai mempunyai hak, wewenang dan kewajiban sebagai berikut :
1. melakukan segala perbuatan hukum untuk dan atas nama Koperasi serta
mewakilinya didepan dan diluar pengadilan;
2. mengumpulkan segala keterangan-keterangan yang diperlukan;
3. memanggil Pengurus, anggota dan bekas anggota tertentu yang diperlukan, baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama;
4. memperolah, memeriksa dan menggunakan segala catatan dan arsip Koperasi;
5. menetapkan dan melaksanakan segala kewajiban pembayaran yang didahulukan
dari pembayaran hutang lainnya;
6. mempergunakan sisa kekayaan Koperasi untuk menyelesaikan sisa kewajiban
Koperasi;
7. membagi sisa penyelesaian kepada anggota;
8. membuat berita acara penyelesaian.
(2) Yang dimaksud dengan bekas anggota tertentu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf c Pasal ini ialah mereka yang keluar dari keanggotaan selama tahun
buku yang belum dipertanggungjawabkan sampai dengan adanya pembubaran.

Pasal 61
(1) Dalam hal ini terjadi pembubaran Koperasi, anggota hanya menanggung
kerugian sebatas simpanan pokok, simpanan wajib dan modal penyertaan yang
dimilikinya.
(2) Besarnya tanggungan anggota diperhitungkan dari besarnya kerugian yang
diderita Koperasi pada saat pembubaran.
(3) Modal pinjaman Koperasi dari anggota tidak termasuk dalam ketentuan ayat
(1) Pasal ini.

BAB XII

ANGGARAN RUMAH TANGGA


DAN PERATURAN KHUSUS

Pasal 62
Rapat Anggota menetapkan Anggaran Rumah Tangga dan atau Peraturan Khusus,
yang memuat peraturan pelaksanaan berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar
Koperasi, dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar ini.

BAB XIII

DAFTAR NAMA-NAMA PENDIRI

Pasal 63
(1) Nama : Endang Yuni Purwanti, SH
—Alamat : Jl Malabar RT 01 RW 05 No.44 Bogor 16121
—Pekerjaan : Tim Advokasi PEKA
(2) Nama : Isaam Kholid, S.Kom
—Alamat : Jl Gang Baru 27B Bogor,S.Kom
—Pekerjaan : Network & Infrastrucure Officer of Micronics Internusa
(3) Nama :
—Alamat :
—Pekerjaan :
(4) Nama :
—Alamat :
—Pekerjaan :
(5) Nama :
Dst…………
PENUTUP

Hal-hal yang belum dimuat dalam Anggaran Dasar ini, diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga dan Peraturan Khusus.
Demikian, Anggaran Dasar Koperasi “APEM” ini ditetapkan dan ditanda tangani
oleh Kami yang telah diberi kuasa penuh oleh rapat pembentukan Koperasi
tersebut, pada tanggal … bulan … tahun 2011.

Tanda Tangan Nama Jabatan

1. ……………………………… ( ) Ketua

2. ……………………………… ( ) Sekretaris I

3. ……………………………… ( ) Sekretaris
II

4. ……………………………… ( ) Bendahara
I
5. ……………………………… ( ) Bendahara
II

Advertisements
Report this ad

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

(1) Koperasi ini bernama Koperasi Simpan Pinjam “Apoteker Pemalang” dengan
nama — singkat Koperasi “APEM” dan selanjutnya dalam Anggaran Dasar
ini disebut — Koperasi.————————————————————————————
—————————–
(2) Koperasi beralamat/bertempat kedudukan di Pemalang———————————
———

BAB II

LANDASAN DAN PRINSIP


Pasal 2

Koperasi berlandaskan Pancasila dan Undang-undang 1945 serta berdasarkan


atas asas kekeluargaan.—————————————————————————————
—–

Pasal 3
Koperasi melakukan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip Koperasi yaitu :
1. keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka;
2. pengelolaan dilakukan secara demokratis;
3. pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa
usaha masing-masing anggota;
4. pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal;
5. kemandirian;
6. melaksanakan pendidikan perkoperasian begi anggota;
7. kerjasama antar koperasi.
BAB III

MAKSUD DAN TUJUAN SERTA BIDANG USAHA

Bagian Pertama
Maksud dan Tujuan
Pasal 4
(1) Koperasi bermaksud memenuhi kebutuhan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian
nasional dalam rangka
(1) mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945.
Bagian Kedua
Bidang Usaha
Pasal 5
Untuk mencapai maksud dan tujuannya, maka Koperasi menyelenggarakan usaha
:
1. Apotek
2. Distribusi sediaan farmasi
3. Simpan pinjam

Pasal 6
(1) Kegiatan Apotek adalah :
Menyalurkan sediaan farmasi kepada anggota dan masyarakat luas dengan
berlandaskan prinsip bisnis dan prinsip KIE (komunikatip, informatip dan
edukatip)
(2) Kegiatan Distribusi sediaan farmasi adalah :
Menyalurkan sediaan farmasi kepada anggota dengan aturan aturan tambahan
yang ditetapkan dan disepakati oleh anggota. Adapun aturan tambahan akan
dibahas tersendiri
(3) Kegiatan Unit Simpan Pinjam adalah :
1. menghimpun simpanan Koperasi berjangka dan tabungan Koperasi dari anggota
dan calon anggota, Koperasi lain dan atau anggotanya.
1. memberikan pinjaman kepada anggota, calon anggota, dan atau anggotanya;
Dalam memberikan pinjaman Unit Simpan Pinjam wajib memegang teguh prinsip
pemberian pinjaman yang sehat dengan memperhatikan penilaian kelayakan dan
kemampuan pemohon pinjaman.

BAB IV

KEANGGOTAAN

Bagian Pertama
Anggota Koperasi
Pasal 7

Yang dapat diterima menjadi anggota koperasi ini ialah setiap Warga Negara
Republik Indonesia yang memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. terdaftar sebagai anggota Ikatan Apoteker Indonesia cabang Pemalang
2. berdomosili di Pemalang
3. telah melunasi simpanan pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 ayat (1)
4. telah menyetujui isi Anggaran Dasar dan ketentuan-ketentuan Koperasi yang
berlaku.

Pasal 8
(1) Keanggotaan Koperasi mulai berlaku dan hanya dibuktikan dengan catatan
dalam buku daftar anggota.
(2) Berakhirnya keanggotaan mulai berlaku dan hanya dapat dibuktikan dengan
catatan dalam buku daftar anggota.
(3) Setiap orang yang masuk menjadi anggota harus mengajukan permohonan
secara tertulis kepada Pengurus.
(4) Dalam waktu yang telah ditentukan, Pengurus harus memberi jawaban
apakah permohonan itu diterima atau ditolak.
(5) Permintaan berhenti menjadi anggota harus mengajukan permohonan secara
tertulis kepada Pengurus.

Pasal 9
Keanggotaan berakhir, bilamana anggota :
1. meninggal dunia;
2. minta berhenti atas kehendak sendiri;
3. diberhentikan oleh Pengurus karena tidak memenuhi lagi syarat keanggotaan;
4. diberhentikan oleh Pengurus karena tidak memenuhi kewajiban sebagai anggota
atau karena berbeuat sesuatu yang merugikan Koperasi.

Pasal 10
Setiap anggota mempunyai kewajiban :
1. mematuhi Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang
telah disepakati dalam Rapat Anggota;
2. berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Koperasi;
3. mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasar atas azaz kekeluargaan.

Pasal 11
Setiap anggota mempunyai hak :
1. menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam Rapat Anggota;
2. memilih dan/atau dipilih menjadi anggota Pengurus atau Pengawas;
3. meminta diadakan Rapat Anggota menurut ketentuan dalam Anggaran Dasar;
4. mengemukakan pendapat atau saran kepada Pengurus diluar Rapat Anggota baik
diminta maupun tidak diminta;
5. memanfaatkan koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesame
anggota;
6. mendapat keterangan dari Pengurus mengenai perkembangan Koperasi menurut
ketentuan dalam Anggaran Dasar.

Pasal 12
(1) Keanggotaan Koperasi tidak dapat dipindahtangankan.
(2) Dalam hal anggota meninggal dunia, keanggotaanya tidak dapat diteruskan
oleh ahli waris kecuali ahli waris tersebut memenuhi syarat keanggotaan
sebagaimana diatur dalam pasal 7.

Bagian Kedua
Anggota Luar Biasa
Pasal 13

Yang dapat masuk menjadi anggota luar biasa ialah penduduk Indonesia yang
memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. Organisasi Ikatan Apoteker Indonesia cabang Pemalang
2. menyatakan kesanggupan tertulis untuk melunasi simpanan pokok sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1);
3. menyetujui Anggaran Dasar dan ketentuan-ketentuan Koperasi yang berlaku.
Pasal 14
organisasi IAI menunjuk kuasa kepeda seseorang untuk ditunjuk sebagai
perwakilan keanggotaanya di koperasi

Pasal 15
Keanggotaan tidak dapat dipindahtangankan kepada orang lain dengan dalih
apapun.

Pasal 16

Setiap anggota luar biasa mempunyai kewajiban :


1. mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang
telah disepakati dalam Rapat Anggota;
2. berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Koperasi;
3. mengembangkan dan memelihara kebersamaan.

Pasal 17
Setiap anggota luar biasa mempunyai hak :
1. menghadiri Rapat Anggota;
2. memanfaatkan Koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesama
anggota luar anggota;
3. anggota luar biasa mempunyai hak bicara dalam Rapat Anggota Tahunan tetapi
tidak boleh memilih dan dipilih menjadi Pengurus dan Pengawas Koperasi;
4. anggota Luar Biasa berhak atas Sisa Hasil Usaha sesuai dengan keputusan Rapat
Anggota.

BAB V
RAPAT ANGGOTA
Pasal 18
(1) Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam Koperasi.
(2) Rapat Anggota sah jika yang hadir lebih dari separuh jumlah anggota
Koperasi.
(3) Jika Rapat Anggota tidak dapat berlangsung karena tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini maka rapat ditunda
paling lama 7 (tujuh) hari, dan bila pada rapat kedua tetap tidak tercapai syarat
tersebut, maka berlaku syarat-syarat seperti rapat dalam keadaan luar biasa.

Pasal 19
Rapat anggota menetapkan :
1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;
2. kebijaksanaan umum dibidang organisasi, manajemen, dan usaha koperasi;
3. pemilihan, pengangkatan, pemberhentian Pengurus dan Pengawas;
4. rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi serta
pengesahan laporan keuangan;
5. pengesahan pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas dalam pelaksanaan
tugasnya;
6. pembagian Sisa Hasil Usaha;
7. penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi.

Pasal 20
(1) Keputusan Rapat Anggota diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai
mufakat.
(2) Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka
pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
(3) Dalam hal dilakukan pemungutan suara, setiap anggota mempunyai hak satu
suara.
(4) Rapat Anggota untuk menetapkan Anggaran Dasar harus dihadiri sekurang-
kurangnya ¾ dari jumlah anggota Koperasi dan keputusannya harus disetujui ¾
dari jumlah anggota yang hadir.
(5) Jika perubahan Anggaran Dasar harus diadakan berhubung dengan
ketentuan Undang-undang atau peraturan-peraturan/Ketentuan-ketentuan
pelaksanaannya Rapat Anggota sah bila dihadiri ¾ dari jumlah anggota Koperasi.
(6) Rapat Anggota untuk penggabungan, peleburan, dan pembagian Koperasi
harus dihadiri sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota Koperasi, sedangkan
keputusannya harus disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota
yang hadir;
(7) Rapat Anggota untuk pembubaran koperasi harus dihadiri ¾ dari jumlah
anggota Koperasi, sedangkan keputusannya harus disetujui oleh suara ¾ anggota
yang hadir.

Pasal 21
(1) Rapat Anggota berhak meminta keterangan dan pertanggungjawaban
Pengurus dan Pengawas mengenai pengelolaan Koperasi.
(2) Rapat Anggota diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam 1 (satu) tahun.
Pasal 22
Segala keputusan Rapat Anggota dicatat dalam sebuah Buku Daftar Berita Acara
Rapat Anggota dan ditandatangani oleh Ketua Rapat dan Sekretaris Rapat.

Pasal 23
(1) Rapat Anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban Pengurus disebut
Rapat Anggota Tahunan diadakan paling lambat 3(tiga) bulan setelah tahun tutup
buku.
(2) Tanggal dan tempat serta acara Rapat Anggota harus diberitahukan kepada
anggota sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum rapat.
(3) Undangan Rapat Anggota disertai laporan pertanggungjawaban Pengurus
dikirim kepada anggota dalam waktu sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum
rapat.
(4) Acara dan tata tertib rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini
dimintakan pengesahan terlebih dahulu dengan Rapat Anggota.

Pasal 24
(1) Selain Rapat Anggota, Koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasa.
(2) Rapat Anggota luar Biasa dapat diadakan apabila situasi dan kondisi Koperasi
dalam keadaan luar biasa dan tidak bisa menunggu diselenggarakan Rapat
Anggota.
(3) Keadaan luar biasa dalam ayat (2) pasal ini adalah :
1. apabila Koperasi berjalan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga;
2. apabila perubahan Anggaran Dasar harus diadakan berhubung ketentuan
undang-undang atau peraturan-peraturan/ketentuan-ketentuan pelaksanaannya;
3. apabila keadaan Negara atau karena peraturan-peraturan/ketentuan-ketentuan
Penguasa Pusat maupun setempat tidak memungkinkan untuk mengadakan
Rapat Anggota.
(4) Rapat Anggota Luar Biasa dapat diadakan :
1. atas permintaan tertulis 1/10 dari jumlah anggota;
2. atas kehendak Pengurus.
(5) Rapat Anggota Luar Biasa diadakan atas permintaan anggota apabila anggota
menilai bahwa Pengurus telah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan
kepentingan Koperasi dan menimbulkan kerugian terhadap Koperasi.
(6) Rapat Anggota Luar Biasa diadakan atas kehendak Pengurus untuk
kepentingan pengembangan Koperasi.
(7) Rapat Anggota Luar Biasa mempunyai wewenang yang sama dengan
wewenang Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam pasal 18.
(8) Rapat Anggota Luar Biasa sah bila dihadiri 20% dari jumlah anggota Koperasi.

BAB VI

PENGELOLAAN
Bagian Pertama
Pengurus
Pasal 25
(1) Pengurus Koperasi dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota.
(2) Pengurus merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota.
(3) Susunan dan nama anggota Pengurus dicatat dalam buku daftar pengurus.
(4) Setiap anggota Pengurus tidak diperbolehkan merangkap sebagai Pengawas.
(5) Pengurus koperasi tidak boleh merangkap sebagai Pengurus Koperasi lain
yang sejenis.

Pasal 26
(1) Masa jabatan pengurus 3 (tiga) tahun, terhitung sejak tanggal menerima tugas
dan jabatan sebagai Pengurus, yang dibuktikan dengan Berita Acara dan berakhir
pada tanggal penyerahan tugas dan jabatan sebagai Pengurus kepada Pengurus
yang terpilih yang dibuktikan dengan Berita Acara.
(2) Anggota Pengurus yang telah habis masa jabatannya dapat dipilih kembali
maksimal 2 (dua) periode berturut-turut.
(3) Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi anggota Pengurus
adalah sebagai berikut :
1. anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
2. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
3. mempunyai sifat kejujuran dan keterampilan kerja;
4. mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memimpin Koperasi;
5. bersifat adil dan objektif (tidak dapat dipengaruhi oleh karena perbedaan agama,
politik, famili, teman dan lain-lain);
6. tabah, sabar, teliti serta mampu dan cakap mengambil keputusan yang cepat dan
tepat;
7. berwibawa, disegani, dan dapat menjadi suri tauladan;
8. bukan Pengawas atau Karyawan Koperasi;
9. diutamakan bagi mereka yang mempunyai pengalaman mengenai organisasi;
10. diutamakan yang memiliki kita Kewira Koperasian;
11. belum pernah melakukan perbuatan tercela.
(4) Pengurus sebelum memangku jabatannya lebih dahulu mengucapkan
sumpah/janji dihadapan Rapat Anggota.

Pasal 27
(1) Bilamana seseorang Anggota Pengurus berhenti sebelum masa jabatannya
habis, maka Pengurus lainnya dapat mengangkat gantinya akan tetapi
pengangkatan itu harus disahkan oleh Rapat Anggota berikutnya;
(2) Pengurus yang berhenti dari jabatannya wajib menyiapkan berita acara serah
terima jabatan;
Tata cara serah terima jabatan Pengurus diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
Pasal 28
(1) Pengurus bertugas untuk :
1. mengelola Koperasi dan usaha;
2. mengajukan rancangan rencana kerja dan rancangan anggaran pendapatan dan
belanja Koperasi;
3. menyelenggarakan Rapat Anggota;
4. menyusun laporan tahunan yang memuat sekurang-kurangnya laporan keuangan
beserta penjelasannya dan keadaan Koperasi serta hasil usaha yang dicapai yang
merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
5. menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib;
6. memelihara buku daftar anggota, buku daftar pengurus, buku daftar pengawas
dan buku daftar karyawan;
(2) Pengurus wajib untuk :
1. mewakili Koperasi didalam dan diluar pengadilan;
2. melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan Koperasi
sesuai dengan tanggungjawabnya.
(3) Pengurus berwenang untuk memutuskan penerimaan dan atau penolakan
anggota baru serta pemberhentian anggota.
(4) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d pasal ini
ditanda tangani oleh semua anggota Pengurus.
(5) Apabila salah seorang Anggota Pengurus tidak menandatangani laporan
tahunan tersebut, anggota yang bersangkutan menjelaskan alasannya secara
tertulis.
Pasal 29
Pengurus bertanggung jawab mengenai segala kegiatan pengelolaan Koperasi dan
usahanya kepada Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa.

Pasal 30
(1) Pengurus dapat mengangkat Pengelola yang diberi wewenang dan kuasa
untuk mengelola usaha.
(2) Sesuai dengan kepentingan Koperasi, Pengelola dapat sebagai manajer atau
direksi.
(3) Rencana pengangkatan Pengelola harus mendapat persetujuan Rapat Anggota.
(4) Apabila rencana pengangkatan Pengelola mendapat persetujuan Rapat
Anggota, sebelum melaksanakan tugas Pengelola harus menandatangani kontrak
kerja yang telah disiapkan oleh Pengurus.
(5) Isi perjanjian kerja/kontrak kerja diatur dalam Peraturan Khusus.
(6) Pengelola bertanggung jawab kepada Pengurus.
(7) Pengelolaan usaha oleh Pengelola tidak mengurangi tanggungjawab Pengurus
sebagaimana ditentukan dalam pasal 29.
(8) Dalam hal Koperasi mengangkat Pengelola, dan Pengurus telah melimpahkan
wewenang dan kuasa yang dimilikinya, maka tugas Pengurus beralih menjadi
mengawasi pelaksanaan wewenang dan kuasa yang dilakukan pengelola.
(1) Besarnya wewenang dan kuasa yang dilimpahkan ditentukan sesuai dengan
kepentingan Koperasi yang diatur dalam Peraturan Khusus.

Pasal 31
(1) Pengelolaan Unit koperasi dilakukan oleh Pengelola yang diangkat oleh
Pengurus.
(2) Pengelola Unit koperasi bertanggung jawab kepada Pengurus.
(3) Pengelolaa Unit koperasi dapat berupa perorangan atau badan usaha,
termasuk yang berbentuk badan hukum.
(4) Dalam melaksanakan pengelolaan Unit koperasi, pengelola wajib mengadakan
kontrak kerja dengan Pengurus.
(5) Dalam hal Pengelola adalah perseorangan, wajib memenuhi persyaratan
minimal sebagai berikut :
1. tidak pernah melakukan tindakan tercela dibidang keuangan dan atau di hukum
terbukti melakukan tindak pidana dibidang keuangan;
2. memiliki akhlak dan moral yang baik;
3. mempunyai keahlian dibidang keuangan atau pernah mengikuti pelatihan
manajemen atau magang dala usaha apotek.
(6) Dalam hal Pengelola adalah badan usaha, wajib memenuhi persyaratan
minimal sebagai berikut :
1. memiliki kemampuan keuangan yang memadai;
2. memiliki tenaga managerial yang berkualitas baik.
(7) Dalam hal Pengelola dilakukan oleh lebih dari 1 (satu) orang, maka :
1. sekurang-kurangnya 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah Pengelola wajib
mempunyai keahlian di bidang keuangan atau pernah mengikuti pelatihan di
bidang manajemen atau magang dalam usaha apotek;
2. diantara Pengelola tidak boleh mempunyai hubungan keluarga sampai derajat
kesatu menurut garis lurus kebawah maupun kesamping.
(8) Pengelola Unit koperasi dilakukan secara terpisah dari unit usaha lainnya.

Pasal 32
Tugas tiap Anggota Pengurus ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga dan
Peraturan Khusus

Pasal 33
(1) Pengurus harus segera mengadakan catatan pada waktunya dalam Buku
Daftar Anggota tentang masuk dan berhentinya anggota.
(2) Pengurus harus segera mengadakan catatan pada waktunya dalam Buku
Daftar Pengurus tentang dimulai dan berhentinya jabatan Pengurus.
(3) Pengurus harus berusaha agar anggota mengetahui akibat pencatatan dalam
Buku Daftar Angota.
(4) Setiap Anggota Pengurus harus memberi bantuan kepada Pengawas untuk
melakukan tugasnya dan ia diwajibkan untuk memberi keterangan yang
diperlukan dan diperlihatkan segala buku, warkat, persediaan barang, alat-alat
perlengkapan dan uang Koperasi yang ada padanya.
(5) Tiap Anggota Pengurus harus berusaha agar pemeriksaan sebagai tersebut
dalam ayat (4) tidak diperhambat baik sengaja atau tidak oleh anggota Pengurus
atau Pengelola.

Pasal 34
(1) Pengurus diwajibkan agar tiap kejadian dicatat sebagaimana mestinya
didalam buku yang telah ditentukan.
(2) Pengurus wajib memberitahukan kepada anggota tiap kejadian yang
mempengaruhi jalannya Koperasi.
Pasal 35
(1) Pengurus wajib memberi laporan kepada anggota tentang keadaan serta
perkembangan organisasi dan usaha-usahanya sekurang-kurangnya 1 (satu) kali
setahun.
(2) Pengurus wajib berusaha agar segala laporan pemeriksaan Koperasi dapat
diketahui oleh setiap anggota.
(3) Pengurus wajib supaya ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Peraturan Khusus, dan keputusan Rapat Anggota diketahui dan
dimengerti oleh segenap anggota.
(4) Pengurus wajib untuk memelihara kerukunan diantara anggota dan mencegah
segala hal yang menyebabkan timbulnya perselisihan paham.
(5) Perselisihan yang timbul karena hanya kepentingan khusus Koperasi atau
dalam hubungan sebagai anggota harus diselesaikan oleh Pengurus dengan jalan
damai tanpa memihak salah satu pihak.
(6) Pengurus harus melaksanakan segala ketentuan dalam Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Peraturan – Peraturan Khusus dan keputusan-
keputusan Rapat Anggota terutama pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan.

Pasal 36
(1) Pengurus baik bersama-sama, maupun sendiri-sendiri, menanggung kerugian
yang diderita Koperasi, karena tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan.
(2) Disamping penggantian kerugian tersebut, apabila tindakan itu dilakukan
dengan kesengajaan, tidak menutup kemungkinan bagi penuntut umum untuk
melakukan penuntutan.

Pasal 37
(1) Anggota Pengurus Koperasi ini boleh menjadi Anggota Pengurus Koperasi lain
atas kesepakatan Rapat Anggota.
(2) Anggota Pengurus Harian dari Koperasi ini tidak boleh merangkap sebagai
Anggota Pengurus Koperasi lain, termasuk Koperasi Sekundernya.

Bagian Kedua
Pengawas
Pasal 38
(1) Pengawas dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam Rapat Anggota.
(2) Pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota.
(3) Yang dapat dipilih menjadi Pengawas ialah mereka yang memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :
1. anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
2. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
3. mempunyai kemauan dan kemampuan untuk pengewasan/pemeriksaan;
4. bersifat adil dan objektif (tidak dapat dipengaruhi oleh karena perbedaan agama,
politik, famili, teman dan lain-lain).
5. tabah, sabar, teliti serta mampu dan cakap mengambil keputusan;
6. berwibawa, disegani, dan dapat menjadi suri tauladan;
7. bukan Pengurus atau Karyawan Koperasi;
8. diutamakan bagi mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan atau
pengalaman mengenai pembukuan;
9. diutamakan yang memiliki kita kewira Koperasian;
(4) Pengawas sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5
(lima) orang.
(5) Masa jabatan Pengawas 3 (tiga) tahun.
(6) Anggota Pengawas tidak diperbolehkan merangkap sebagai Pengurus atau
Pengelola Koperasi ini.

Pasal 39
(1) Pengawas bertugas untuk :
1. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan
Koperasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali;
2. membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.
(2) Pengawas berwenang untuk :
1. meneliti catatan yang ada pada Koperasi;
2. mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.
(3) Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.
(4) Pengawas sebelum memangku jabatannya lebih dahulu mengucapkan
sumpah/janji dihadapan Rapat Anggota.

Pasal 40
(1) Bilamana seseorang Anggota Pengawas berhenti sebelum masa jabatannya
habis, maka Pengawas lainnya dapat mengangkat gantinya, akan tetapi
pengangkatan itu harus disahkan oleh Rapat Anggota berikutnya.
(2) Pengawas yang berhenti dari jabatannya wajib menyiapkan berita acara serah
terima jabatan.
(3) Tata cara serah terima jabatan Pengawas diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.
Pasal 41
(1) Dalam hal Koperasi megnangkat Pengelola, Pengawas dapat diadakan secara
tetap atau diadakan pada waktu diperlukan sesuai dengan keputusan Rapat
Anggota.
(2) Pengawas yang diadakan pada waktu diperlukan melakukan pengawasan
sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Rapat Anggota.

Pasal 42
(1) Dalam rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan yang bersifat terbuka, dan
melindungi pihak yang berkepentingan Koperasi dapat meminta jasa audit kepada
Akuntan Publik.
(2) Permintaan audit oleh Akuntan Public dilakukan oleh Pengurus atau
Pengawas.

Bagian Ketiga
Keuangan
Pasal 43
(1) Tahun Buku perusahaan koperasi berjalan dari tanggal 1 januari sampai
dengan tanggal 31 desember.
(2) Koperasi wajib menyelenggarakan Pembukuan tentang perusahaannya.
(3) Koperasi wajib pada setiap tutup tahun buku, mengadakan perhitungan
keuangan minimal berupa neraca dan perhitungan hasil usaha yang
penyusunannya sesuai dengan ketentuan akuntansi yang berlaku di Indonesia.
(4) Laporan keuangan yang disusun dalam ayat (3) pasal ini merupakan
konsolidasi dari unit-unit usaha yang ada di Koperasi, serta wajib di audit oleh
lembaga audit.
(5) Rapat anggota menetapkan jumlah setinggi-tingginya yang dapat disediakan
sebagai uang kas, dan kelebihannya dengan segera harus di simpan atas nama
Koperasi pada bank.

Pasal 44
(1) Pengelolaan keuangan Unit simpan pinjam dilakukan secara terpisah dari
unit-unit yang lain.
(2) Unit Simpan Pinjam Wajib menyelenggarakan pembukuan keuangan sendiri
dan setiap tutup tahun buku harus membuat perhitungan keuangan yang
minimal terdiri dari dari neraca dan perhitungan laba/rugi.
BAB VII

PERMODALAN

Pasal 45
(1) Koperasi mempunyai modal sendiri dan modal pinjaman.
(2) Modal sendiri dapat berasal dari :
1. simpanan pokok;
2. simpanan wajib;
3. dana cadangan;
4. hibah.
(3) Modal pinjaman dapat berasal dari :
1. anggota;
2. koperasi lainnya dan atau anggotanya;
3. bank dan lembaga keuangan lainnya;
4. sumber lain yang sah.

Pasal 46
(1) Setiap anggota harus menyimpan atas namanya pada Koperasi, simpanan
pokok sejumlah Rp. 500.000,00. (seratus ribu rupiah) pada waktu keanggotaan
diakhiri merupakan tagihan atas koperasi sejumlah tadi, jika perlu dikurangi
dengan bagian tanggungan kerugian koperasi.
(2) Uang simpanan pokok harus dibayar sekaligus.
(3) Setiap anggota diwajibkan untuk membayar simpanan wajib atas namanya
pada Koperasi sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga yang
besarnya kelipatan dari Simpanan pokok.
(4) Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib tidak diberi bunga tetapi diberi bagian
Sisa Hasil Usaha yang besarnya ditetapkan dalam Rapat Anggota.
(5) Simpanan lainnya diberi bunga yang besarnya ditetapkan dalam Peraturan
Khusus.

Pasal 47
(1) Uang simpanan pokok tidak dapat diminta kembali selama anggota belum
berhenti sebagai anggota.
(2) Uang simpanan wajib tidak dapat diminta kembali selama anggota belum
berhenti sebagai anggota.
(3) Uang simpanan lainnya dapat diminta kembali dan diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga / Peraturan Khusus.
Pasal 48
(1) Ketentuan mengenai pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan
diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
(2) Modal penyertaan dapat berasal dari pemerintah, maupun masyarakat dalam
rangka memperkuat kegiatan usaha Koperasi terutama yang berbentuk investasi.
(3) Modal penyertaan ikut menanggung resiko.
(4) Pemilik modal penyertaan tidak mempunyai hak suara dalam Rapat Anggota
dan dalam menentukan kebikjasanaan Koperasi secara keseluruhan.
(5) Pemilik modal penyertaan dapat diikutsertakan dalam pengelolaan dan
pengawasaan usaha investasi yang didukung oleh modal penyertaan sesuai
dengan perjanjian.

BAB VIII

JANGKA WAKTU BERDIRI

Pasal 49
(1) Koperasi ini didirikan untuk jangka waktu 6 (enam) tahun.
(2) Apabila jangka waktu berdiri telah habis, dengan persetujuan rapat anggota
dan Pemerintah, maka jangka waktu tersebut dapat diperpanjang untuk masa 6
(enam) tahun berikutnya.
(3) Walau jangka waktu belum habis, akan tetapi Rapat Anggota atau Pemerintah
menghendaki Koperasi tersebut bubar karena alasan-alasan tertentu, seperti:
1. bertentangan dengan Undang-undang Perkoperasian dan undang-
undang/peraturan-peraturan yang lain;
2. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan sopan santun, ketertiban
umum, dan kesusilaan;
3. kelangsungan hidup koperasi tidak ada lagi.
maka Koperasi tersebut harus dibubarkan.

BAB IX

PEMBAGIAN SISA HASIL USAHA


Pasal 50
(1) Sisa Hasil Usaha Koperasi, yaitu pendapatan Koperasi yang diperoleh dari
satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan biaya lainnya
termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.
(2) Sisa Hasil Usaha Koperasi dibagi sebagai berikut :
1. 30 % untuk dana cadangan;
2. 40 % untuk anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan masing-masing
anggota dengan Koperasi;
3. 5 % untuk dana pendidikan perkoperasian;
4. 25 % untuk keperluan lain.
(3) Bagian Sisa Hasil Usaha untuk keperluan lain sebesar 25% dari bagian Sisa
Hasil Usaha, jenis dan besarnya ditetapkan sebagai berikut :
1. 60 % untuk dana Pengurus dan Pengawas;
2. 20 % untuk dana sosial;
3. 20 % untuk dana Pembangunan Daerah Kerja.
(4) Yang dimaksud dengan jasa usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
huruf b pasal ini ialah transaksi usaha dan partisipasi modal.
(5) Bagian Sisa Hasil Usaha untuk anggota dapat diberikan secara langsung atau
dimasukkan dalam simpanan anggota yang bersangkutan sesuai dengan
Keputusan Rapat Anggota.

Pasal 51
(1) Uang cadangan adalah kekayaan Koperasi yang disediakan untuk menutup
kerugian Koperasi.
(2) Kerugian Koperasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur
lebih lanjut dalam anggaran Rumah Tangga.
(3) Rapat Anggota dapat memutuskan untuk mempergunakan paling tinggi 75 %
dari jumlah seluruh cadangan untuk perluasan perusahaan Koperasi.
(4) Sekurang-kurangnya 25 % dari uang cadangan disimpan di bank dalam
bentuk deposito.
(5) Bagian dari cadangan Koperasi dapat dibagikan kepada anggota dalam bentuk
simpanan khusus, apabila jumlah cadangan telah mencapai lebih dari ½ (satu per
dua) bagian atau 50 % bagian dari jumlah seleuruh simpanan pokok, simpanan
wajib dan simpaanan khusus anggota.
(6) Anggota Koperasi yang berhenti dari kenggotaan Koperasi secara sah dapat
memperoleh bagian atas cadangan koperasi berdasarkan prosentase jumlah
simpanan pokok dan simpanan wajib yang dimilikinya pada Koperasi, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB X

SANKSI ANGGOTA, PENGURUS DAN PENGAWAS


Pasal 52
(1) Anggota yang melanggar ketentuan Anggaran Dasar ini dapat dikeluarkan dari
keanggotaan.
(2) Tingkatan pelanggaran ketentuan Anggaran Dasar ini berikut sangsinya diatur
lebih lenjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
(3) Anggota yang tidak aktif dalam kegiatan usaha tidak mendapat bagian hasih
usaha.
(4) Anggota yang tidak hadir dalam suatu Rapat Anggota tidak dapat mewakilkan
suaranya.
(5) Anggota yang tidak mengindahkan kewajibannya terutama dalam hal
keuangan atau berbuat sesuatu yang merugikan koperasi, dan apabila kerugian
Koperasi tersebut dinilai cukup material maka anggota yang bersangkutan dapat
dikenakan sanksi sebagai berikut :
1. dikeluarkan dari keanggotaan;
2. simpanan pokok menjadi kekayaan Koperasi dan pengembalian simpanan wajib
diserahkan kepada keputusan Rapat Anggota dengan mempertimbangkan
kesalahannya;
3. diminta segera menyelesaikan kewajibannya dan mengganti kerugian yang diderita
oleh Koperasi yang disebabkan karena kesalahannya.
(6) Apabila penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) huruf c pasal ini
tidak tercapai maka penyelesaiannya diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.

Pasal 53
(1) Pengurus Koperasi yang tidak melaksanakan kewajibannya dapat dimintai
pertanggung jawbannya dalam Rapat Anggota / Rapat Anggota Luar Biasa yang
diselenggarakan untuk itu.
(2) Jika tindakan oleh Rapat Anggota dinilai merugikan Koperasi, maka Anggota
Pengurus yang merugikan dapat diberhentikan dari kedudukannya sebagai
Pengurus.
(3) Jika Pengurus melanggar ketentuan Anggaran Dasar ini dan atau
menyalahgunakan jabatannya sehingga merugikan Koperasi, maka sesuai dengan
Rapat Anggota / Rapat Anggota Luar Biasa, Pengurus yang bersangkutan
diberhentikan dari kedudukan sebagai Pengurus dan selanjutnya dapat dikenakan
sanksi seperti dalam pasal 52 ayat (5) dan (6).
(4) Mengganti kerugian dan dikeluarkan dari keanggotaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) pasal ini, tidak berlaku bagi Pengurus yang lain apabila
dapat membuktikan bahwa kerugian tadi bukan karena kesalahannya serta ia
telah berusaha dengan secukupnya mencegah perbuatan yang dapat merugikan
Koperasi.
(5) Apabila Pengurus melanggar larangan tentang perangkapan jabatan, akan
diberhentikan dari kedudukannya sebagai Pengurus dan mempertanggung
jawaban tugas pekerjaannya sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.
(6) Rapat Anggota dapat memberhentikan Pengurus setiap waktu bila terbukti
bahwa :
a. Pengurus melakukan kecurangan dan merugikan Koperasi;
1. Pengurus tidak mentaati Undang-undang Koperasi serta peraturan-
peraturan/ketentuan-ketentuan pelaksanaannya;
c. Pengurus baik dalam sikap maupun tindakan-tindakannya menimbulkan
pertentangan dalam gerakan Koperasi.

Pasal 54
(1) Jika Pengawas melanggar ketentuan anggaran dasar ini maka akan dimintai
pertanggung jawabannya dalam Rapat Anggota.
(2) Pengawas yang tidak merahasiakan hasil pemeriksaannya seusai dengan
Anggaran Dasar ini sehingga menimbulkan kerugian kepada Koperasi, dapat
diberhentikan dari jabatannya dan atau dituntut untuk mengganti kerugian
tersebut sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

BAB XI

PEMBUBARAN DAN PENYELESAIAN

Pasal 55
(1) Dengan memperhatikan pasal 19 huruf g, maka Rapat Anggota dapat
mengambil keputusan untuk penggabungan, peleburan, pembagian, dan
pembubaran Koperasi.
(2) Pembubaran koperasi dapat dilakukan berdasarkan :
1. keputusan Rapat Anggota, atau
2. keputusan pemerintah.
(3) Dengan memperhatikan pasal 20 ayat ( 7) maka pembubaran Koperasi
berdasarkan keputusan Rapat Anggota tidak dapat diberlakukan apabila ada
sebagaian anggota sekurang-kurangnya 20 orang yang masih menghendaki
Koperasi tetap berdiri, dan masih ada sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang
masih sanggup/bersedia menjadi Pengurus dan sekurang-kurangnya 1 (satu)
orang yang masih sanggup/bersedia menjadi Pengawas Koperasi.

Pasal 56
(1) Keputusan pembubaran koperasi oleh Rapat Anggota diberitahukan secara
tertulis oleh Kuasa Rapat Anggota kepada :
1. semua kreditor;
2. pemerintah.
(2) Yang dimaksud dengan kuasa Rapat Anggota dalam ayat (1) pasal ini adalah
mereka yang ditunjuk dan diberi kuasa serta tanggungjawab oleh Rapat Anggota
untuk melaksanakan tugas yang diberkaitan dengan pembubaran Koperasi.
(3) Pemberitahuan tersebut dalam ayat (1) pasal ini harus disertai dengan berita
acara yang antara lain memuat :
1. tanggal, tempat diadakan Rapat Anggota untuk pembubaran Koperasi tersebut;
2. jumlah angggota dan jumlah anggota yang hadir;
3. acara rapat;
4. alasan pembubaran Koperasi;
5. jumlah suara yang setuju dan tidak setuju terhadap pembubaran itu.

Pasal 57
Keputusan pembubaran oleh Pemerintah dilakukan apabila :
1. terdapat bukti bahwa Koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan
Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia;
2. Kegiatan Koperasi bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan;
3. Kelangsungan hidupnya tidak dapat lagi diharapkan.

Pasal 58
Untuk kepentingan kreditor oleh dan para anggota Koperasi, terhadap
pembubaran Koperasi dilakukan penyelesaian pembubaran yang selanjutnya
disebut penyelesaian.

Pasal 59
(1) Penyelesaian dilakukan oleh penyelesai pembubaran yang selanjutnya disebut
penyelesai.
(2) Untuk menyelesaikan berdasarkan keputusan Rapat Anggota, Penyelesai
ditunjuk oleh Rapat Anggota.
(3) Untuk penyelesaian berdasarkan keputusan Pemerintah, Penyelesai ditunjuk
oleh Pemerintah.
(4) Penyelesai bertanggung jawab kepada Kuasa Rapat Anggota dalam hal
Penyelesai ditunjuk oleh Rapat Anggota dan kepada Pemerintah dalam hal
Penyelesai ditunjuk oleh Pemerintah.

Pasal 60
(1) Penyelesai mempunyai hak, wewenang dan kewajiban sebagai berikut :
1. melakukan segala perbuatan hukum untuk dan atas nama Koperasi serta
mewakilinya didepan dan diluar pengadilan;
2. mengumpulkan segala keterangan-keterangan yang diperlukan;
3. memanggil Pengurus, anggota dan bekas anggota tertentu yang diperlukan, baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama;
4. memperolah, memeriksa dan menggunakan segala catatan dan arsip Koperasi;
5. menetapkan dan melaksanakan segala kewajiban pembayaran yang didahulukan
dari pembayaran hutang lainnya;
6. mempergunakan sisa kekayaan Koperasi untuk menyelesaikan sisa kewajiban
Koperasi;
7. membagi sisa penyelesaian kepada anggota;
8. membuat berita acara penyelesaian.
(2) Yang dimaksud dengan bekas anggota tertentu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf c Pasal ini ialah mereka yang keluar dari keanggotaan selama tahun
buku yang belum dipertanggungjawabkan sampai dengan adanya pembubaran.

Pasal 61
(1) Dalam hal ini terjadi pembubaran Koperasi, anggota hanya menanggung
kerugian sebatas simpanan pokok, simpanan wajib dan modal penyertaan yang
dimilikinya.
(2) Besarnya tanggungan anggota diperhitungkan dari besarnya kerugian yang
diderita Koperasi pada saat pembubaran.
(3) Modal pinjaman Koperasi dari anggota tidak termasuk dalam ketentuan ayat
(1) Pasal ini.

BAB XII

ANGGARAN RUMAH TANGGA


DAN PERATURAN KHUSUS

Pasal 62
Rapat Anggota menetapkan Anggaran Rumah Tangga dan atau Peraturan Khusus,
yang memuat peraturan pelaksanaan berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar
Koperasi, dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar ini.

BAB XIII

DAFTAR NAMA-NAMA PENDIRI

Pasal 63

(1) Nama : Endang Yuni Purwanti, SH


—Alamat : Jl Malabar RT 01 RW 05 No.44 Bogor 16121
—Pekerjaan : Tim Advokasi PEKA
(2) Nama : Isaam Kholid, S.Kom
—Alamat : Jl Gang Baru 27B Bogor,S.Kom
—Pekerjaan : Network & Infrastrucure Officer of Micronics Internusa
(3) Nama :
—Alamat :
—Pekerjaan :
(4) Nama :
—Alamat :
—Pekerjaan :
(5) Nama :
Dst…………
PENUTUP

Hal-hal yang belum dimuat dalam Anggaran Dasar ini, diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga dan Peraturan Khusus.
Demikian, Anggaran Dasar Koperasi “APEM” ini ditetapkan dan ditanda tangani
oleh Kami yang telah diberi kuasa penuh oleh rapat pembentukan Koperasi
tersebut, pada tanggal … bulan … tahun 2011.

Tanda Tangan Nama Jabatan


1. ……………………………… ( ) Ketua

2. ……………………………… ( ) Sekretaris I

3. ……………………………… ( ) Sekretaris
II

4. ……………………………… ( ) Bendahara
I

5. ……………………………… ( ) Bendahara
II

Report this ad

Report this ad

Related

Contoh Business PlanIn "Umum"


JADWAL IMUNISASIIn "Umum"
PEDOMAN PENDIDIKAN BERKELANJUTAN APOTEKER INDONESIAIn "Profesi"

Comments RSS feed