Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN PALIATIF

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Spiritual
dan Paliatif

Dosen pengampu: Nurhayati,S.ST,M.Pd

Disusun oleh:

A. Anita Cintya Rahayu P07220116083

B. Ester Yulan M. P07220116093

C. Meidyna Larasati P07220116103

D. Qolifatussakdiyah P07220116113

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN

KELAS BALIKPAPAN

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan

rahmat, karunia,serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN PALIATIF, Meskipun masih banyak

kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan

memberi tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam

rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

PALIATIF dan beberapa hal yang bersangkutan dengan materi tersebut. Kami juga

menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari

kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi

perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada

sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Balikpapan, 15 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i


DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I ............................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 1
A. Latar belakang .................................................................................................................... 1
1. Bagaimana Sejarah perkembangan keperawatan paliatif? ................................................. 2
2. Apakah Dasar hukum paliatif care? ................................................................................... 2
3. Bgaimana Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif? ................................................. 2
1. Mengetahu Sejarah perkembangan keperawatan paliatif ................................................... 2
2. Mengetahu Dasar hukum paliatif care ............................................................................... 2
3. Mengetahu Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif ................................................. 2
BAB II............................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ............................................................................................................................ 3
A. Sejarah perkembangan keperawatan paliatif ...................................................................... 3
B. Dasar hukum paliatif care .................................................................................................. 6
C. Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif .................................................................... 7
BAB III ........................................................................................................................................ 11
PENUTUP ................................................................................................................................... 11
Kesimpulan .............................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Perawatan Paliatif suatu bentuk pelayanan kesehatan yang manusiawi

dengan tujuan menghilangkan/meringankan penderitaan dan meningkatan

kualitas hidup penderita dan keluarganya, yang pernah menjadi ciri khas

pelayanan dan perawatan medis.

Pada kasus yang oleh tim dokter dinyatakan sulit sembuh atau tidak ada

harapan lagi, bahkan mungkin hampir meninggal dunia atau yang dikenal pasien

stadium terminal (PST) tentunya membutuhkan pelayanan yang spesial. Maka,

disinilah perawatan paliatif menjadi aspek penting pada pengobatan

Setelah terjadi kemajuan-kemajuan dalam teknologi kedokteran, paliatif

care terpinggirkan dan diabaikan. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa

kemajuan teknologi kedokteran itu mampu memperpanjang hidup dan kehidupan

manusia, meskipun tanpa mempertimbangkan kualitas hidup penderita akibat

penerapan teknologi tersebut.

Tersisihnya Perawatan Paliatif dengan filosofi dan tujuannya, tampak

juga dari berbagai kebijakan dalam bidang kesehatan yang dibuat oleh berbagai

pihak, hampir selalu terlihat: “... preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

Hampir tidak pernah tercamtum “paliatif”. Meskipun pada kenyataannya sering

Perawatan Paliatif dibutuhkan dalam implementasi kebijakan tersebut.

1
Apalagi kebijakan untuk paliatif care telah dicanangkan oleh Pemerintah

Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia, Nomor 604/MENKES/SK/IX/1989, dan telah lebih jelas lagi dengan

terbitnya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

812/MenKes/SK/VII/2007 dengan penjelasannya yang terdapat di dalam lapiran

surat keputusan tersebut.

Tata kerja organisasi perawatan paliatif ini bersifat koodinatif dan melibatkan

semua unsur terkait dengan mengedepankan tim kerja yang kuat, membentuk

jaringan yang luas, inovasi tinggi, serta layanan sepenuh hati.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah perkembangan keperawatan paliatif?

2. Apakah Dasar hukum paliatif care?

3. Bgaimana Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahu Sejarah perkembangan keperawatan paliatif

2. Mengetahu Dasar hukum paliatif care

3. Mengetahu Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah perkembangan keperawatan paliatif

Munculnya palliative care di dunia dimulai dari sebuah gerakan rumah sakit

pada awal abad ke-19, kaum beragama menciptakan hospice yang memberikan

perawatan untuk orang sakit dan sekarat di London dan Irlandia. Dalam beberapa

tahun terakhir, perawatan paliatif telah menjadi suatu pergerakan yang besar, yang

mempengaruhi banyak penduduk. Pergerakan ini dimulai sebagai sebuah gerakan

yang dipimpin relawan di Negara-negara Amerika dan telah berkembang menjadi

bagian penting dari system perawatan di kesehatan.

Palliative care dan hospice telah berkembang pesat sejak tahun 1960-an.

Cicely Saunders seorangpekerja yang merintis perawatan ini dimana sangat memiliki

peran penting dalam menarik perhatian pasien pada akhir kehidupannya saat

mengidap penyakit ganas stadium lanjut. Palliative care mulai didefinisikan sebagai

subyek kegiatan di tahun 1970 dan dating untuk menjadi sinonim dengan dukungan

fisik, sosial, psikologis, dan spiritual pasien dengan penyakit yang membatasi hidup,

disampaikan oleh tim multidisipliner.

Standar perawatan pertama kali diperkenalkan pada 1997 di Jepang.

Pendidikan palliative care masukdalamkurikulumsekolah-sekolah kedokteran dan

semua sekolah keperawatan. Dua puluh layanan yang terkait dengan palliative care

tersedia di seluruh negeri. Tiga belas organisasi yang dibangun di Singapura untuk
3
menyediakan palliative care. Modul palliative care ditambahkan kekurikulums

ekolah kedokteran. Pemerintah mulai menerapkan di setiap kabupaten dan rumah

sakit umum untuk memperkenalkan suatu palliative care pada tahun 1998 di

Malaysia. Palliative care dimasukkan kedalam rencana kesehatan nasional Mongolia.

Modul palliative care termasuk dalam kurikulum sekolah kedokteran di Mongolia.

Sebuah program pendidikan palliative care telah diterapkan untuk asisten

keperawatan di Selandia Baru. Empat puluh satu pelayanan palliative care ini sudah

tersebar di seluruh negeri dan mulai tahun 2005 palliative care diakui sebagai

spesialisasi medis di Australia.

Sejarah dan perkembangan palliative care di Indonesia bermula dari adanya

perubahan yang terus-menerus setiap rapat kerja untuk membahas system

penanggulangan penyakit kanker pada tahun 1989. Penanggulangan penyakit kanker

ini harus dilaksanakan secara paripurna dengan mengerjakan berbagai intervensi

mulai dari pencegahan, deteksi dini, terapi, dan perawatan paliatif.

Di Indonesia, perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992

di RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS

Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito

(Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar).Pelayanan yang diberikan meliputi:

1. Rawat jalan

2. Rawat inap (konsultatif)

3. Rawat rumah, yaitu dengan melakukan kunjungan kerumah-rumah penderita.

4
4. Day care, merupakan layanan untuk tindakan medis yang tidak memerlukan

rawat inap, seperti perawatan luka,kemoterapi dll.

5. Respite care, merupakan layanan yang bersifat psikologis

Departemen Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan surat Keputusan

Menteri Kesehatan RI Nomor: 812/Menkes/SK/VIII/2007 pada tanggal 19 Juli 2007

yang berisi keputusan Menkes tentang kebijakan palliative care. Dengan terbitnya

surat keputusan tersebut diharapkan bisa menjadi pedoman-pedoman pelaksanaan

palliative care di seluruh Indonesia serta mendorong lajunya pengembangan

palliative care secara kualitas maupun kuantitas.

Di Amerika Serikat saat ini, 55% dari rumah sakit dengan lebih dari 100

tempat tidu rmenawarkan program perawatan paliatif, dan hampir seperlima dari

rumah sakit masyarakat memiliki program perawatan paliatif. Di Surabaya, tepatnya

di RS Dr. Soetomo, perawatan palliative sudah berjalan dengan baik. Sedangkan di

Makassar sendiri, hal tersebut belum begitu optimal.Bahkan pada tanggal 15 Mei

2010 telah dideklarasikan secara resmi di Surabaya sebagai kota paliatif di Taman

Bungkul Surabaya, dengan demikian Surabaya menjadi kota paliatif pertama di

Indonesia.Dari sini diharapkan pasien kanker bisa mendapatkan penanganan lebih

baik melalui pelayanan paliatif.

Di Indonesia perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992

di RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS

Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito

(Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar).Di RS Dr.

5
Soetomo perawatan paliatif dilakukan oleh Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas

Nyeri. Pelayanan yang diberikan meliputi rawat jalan, rawat inap (konsultatif), rawat

rumah, day care, dan respite care.

B. Dasar hukum paliatif care

Dasar hukum pelaksanaan perawatan paliatif di Indonesia yaitu SK Menkes

no. 812/Menkes/SK/VII/2007 Tentang Kebijakan Perawatan Paliatif

Menimbang :

a. bahwa kasus penyakit yang belum dapat disembuhkan semakin meningkat

jumlahnya baik pada pasien dewasa maupun anak;

b. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi

pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan selain dengan

perawatan kuratif dan rehabilitatif juga diperlukan perawatan paliatif bagi

pasien dengan stadium terminal;

c. bahwa sesuai dengan pertimbangan butir a dan b di atas, perlu adanya

Keputusan Menteri Kesehatan tentang Kebijakan Perawatan Paliatif.

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran

Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor

3495);

6
2. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran

(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 4431);

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

159b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit;

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik;

5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi RS di

Lingkungan Departemen Kesehatan;

6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 0588/YM/RSKS/SK/VI/1992

tentang Proyek Panduan Pelaksanaan Paliatif dan Bebas Nyeri Kanker;

7. Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Nomor

319/PB/A.4/88 tentang Informed Consent;

8. Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Nomor

336/PB/A.4/88 tentang MATI.

C. Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif

1. Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif.

a. Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan

paliatif melalui komunikasi yang intensif dan berkesinambungan antara tim

perawatan paliatif dengan pasien dan keluarganya.

7
b. Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran pada

dasarnya dilakukan sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-

undangan.

c. Meskipun pada umumnya hanya tindakan kedokteran (medis) yang

membutuhkan informed consent, tetapi pada perawatan paliatif sebaiknya

setiap tindakan yang berisiko dilakukan informed consent.

d. Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan diutamakan pasien

sendiri apabila ia masih kompeten, dengan saksi anggota keluarga

terdekatnya. Waktu yang cukup agar diberikan kepada pasien untuk

berkomunikasi dengan keluarga terdekatnya. Dalam hal pasien telah tidak

kompeten, maka keluarga terdekatnya melakukannya atas nama pasien.

e. Tim perawatan paliatif sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh pesan

atau pernyataan pasien pada saat ia sedang competen tentang apa yang harus

atau boleh atau tidak boleh dilakukan terhadapnya apabila kompetensinya

kemudian menurun (advanced directive). Pesan dapat memuat secara

eksplisit tindakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, atau dapat pula

hanya menunjuk seseorang yang nantinya akan mewakilinya dalam membuat

keputusan pada saat ia tidak kompeten. Pernyataan tersebut dibuat tertulis

dan akan dijadikan panduan utama bagi tim perawatan paliatif.

f. Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim perawatan

paliatif dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan, dan informasi

dapat diberikan pada kesempatan pertama.

8
2. Resusitasi/Tidak resusitasi pada pasien paliatif

a. Keputusan dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi dapat dibuat

oleh pasien yang kompeten atau oleh Tim Perawatan paliatif.

b. Informasi tentang hal ini sebaiknya telah diinformasikan pada saat pasien

memasuki atau memulai perawatan paliatif.

c. Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi,

sepanjang informasi adekuat yang dibutuhkannya untuk membuat keputusan

telah dipahaminya. Keputusan tersebut dapat diberikan dalam bentuk pesan

(advanced directive) atau dalam informed consent menjelang ia kehilangan

kompetensinya.

d. Keluarga terdekatnya pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan tidak

resusitasi, kecuali telah dipesankan dalam advanced directive tertulis. Namun

demikian, dalam keadaan tertentu dan atas pertimbangan tertentu yang layak

dan patut, permintaan tertulis oleh seluruh anggota keluarga terdekat dapat

dimintakan penetapan pengadilan untuk pengesahannya.

e. Tim perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak melakukan

resusitasi sesuai dengan pedoman klinis di bidang ini, yaitu apabila pasien

berada dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi diketahui tidak akan

menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya berdasarkan bukti

ilmiah pada saat tersebut.

3. Perawatan pasien paliatif di ICU

9
a. Pada dasarnya perawatan paliatif pasien di ICU mengikuti ketentuan-

ketentuan umum yang berlaku sebagai mana diuraikan di atas.

b. Dalam menghadapi tahap terminal, Tim perawatan paliatif harus mengikuti

pedoman penentuan

c. Kematian batang otak dan penghentian peralatan life-supporting.

4. Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif

a. Tim Perawatan Paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh

Pimpinan Rumah Sakit, termasuk pada saat melakukan perawatan di rumah

pasien.

b. Pada dasarnya tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh

tenaga medis, tetapi dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan

pasien tindakan-tindakan tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga

kesehatan non medis yang terlatih. Komunikasi Antara pelaksana dengan

pembuat kebijakan harus dipelihara.

10
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sejarah dan perkembangan palliative care di Indonesia bermula dari

adanya perubahan yang terus-menerus setiap rapat kerja untuk membahas system

penanggulangan penyakit kanker pada tahun 1989. Penanggulangan penyakit

kanker ini harus dilaksanakan secara paripurna dengan mengerjakan berbagai

intervensi mulai dari pencegahan, deteksi dini, terapi, dan perawatan paliatif.

Dasar hukum pelaksanaan perawatan paliatif di Indonesia yaitu SK Menkes no.

812/Menkes/SK/VII/2007 Tentang Kebijakan Perawatan Paliatif. Aspek

medikolegal dalam perawatan paliatif meliputi

1. Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif.

2. Resusitasi/Tidak resusitasi pada pasien paliatif

3. Perawatan pasien paliatif di ICU

4. Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif

11
DAFTAR PUSTAKA

http://www.aidsindonesia.or.id/uploads/20130506131833.Skmenkes_Nomor_812MEN

KESSKVII2007_Tentang_Kebijakan_Perawatan_Paliatif.pdf

Ferrell, B.R. & Coyle, N. (Eds.) (2007).Textbook of palliative nursing, 2 nded. New

York, NY: Oxford University PressHospice and Palliative Care Handbook: Quality,

Compliance, and Reimbursement by T. M. Marrell.ISBN:

Menkes RI.(2007). KeputusanMenteriKesehatanRepublik Indonesia Nomor :

812/Menkes/Sk/Vii/2007

TentangKebijakanPerawatanPaliatifMenteriKesehatanRepublikIndonesia.http://spiritia.o

r.id/Dok/skmenkes812707.pdf. Diaksestanggal 17 Mei 2013.

iii