Anda di halaman 1dari 10

ANGGOTA KELOMPOK :

IX.2
1)Amelia Nuraini
2)Anggi Anggreyni T
3)Desi Putri U
4)Noni Aplirlia
5)Nur Azizah R
6)Widya Putri

Kata Pengantar
Misi utama pengutusan Nabi Muhammas SAW.adalah untuk
menyempurnakan keluhuran akhlak.Sejalan dengan itu,dijelaskan
dalam al-Qur’an bahwa Beliau diutus hanyalah untuk menebarkan kasih
sayang kepada semesta alam.Dalam struktur ajaran islam,pendidikan
akhlak adalah yang terpenting.Penguatan akidah adalah
dasar.Sementara ,ibadah adalah sarana,sedangkan tujuan akhirnya
adalah pengembangan akhlak mulia.Sehubungan dengan itu,Nabi
Muhammad SAW.,bersabda,”Mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya”.Dengan kata lain,hanya akhlak mulia
yang dipenuhi dengan sifat kasih sayang sajalah yang dapat menjadi
bukti kekuatan akidah dan kebaikan ibadah. Sejalan dengan
itu,Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dioreantasikan pada
pembentukan akhlak yang mulia,penuh kasih sayang,kepada segenap
unsur alam semesta.

Hal tersebut selaras dengan Kurikulum 2013 yang dirancang untuk


mengembangkan kompetensi yang utuh antara
pengetauan,keterampilan,dan sikap.Selain itu ,siswa tidak hanya
diharapkan bertambah pengetahuan dan wawasannya,tapi juga
meningkat kecakapan dan keterampilannya serta semakin mulia
karakter dan kepribadiannya atau yang berbudi pekerti luhur.

Daftar Isi…….
Bab 1 PENDAHULUAN
Meyakini Hari Akhir,Mengakhiri Kebiasaan Buruk
A. Latar Belakangnya…………………………………….
B. Rumusan Masalah……………………………………...
C. Tujuan Penulisan……………………………………….

Bab 2 PEMBAHASAN
Jujur dan Menepati Janji
A. Pengertian Judul……………………………………….
B. Pembagian Jujur……………………………………….
C. Hadis tentang Prilaku Jujur……………………..
D. Manfaat Prilaku Jujur……………………………..
E. Pesan Teladan Rasullalah…………………………
F. Contoh Prilaku Jujur……………………………….

Bab 3 PENUTUP
Menuai Keberkahan dengan Rasa Hormat dan Taat kepada Orang Tua
dan Guru
A. Kesimpulan……………………………………………………
B. Saran……………………………………………………………..
C. Daftar Pusaka………………………………………………..

Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rukun iman yang kelima adalah beriman kepada hari akhir.Iman kepada hari akhir adalah
percaya akan adanya hari akhir.Hari akhir adalah hari berakhirnya kehidupan dunia.Pada
saat itu baik dan buruknya prilaku seseorang akan dicatat bergantung bagaimana kadar
keimanan seseorng dalam hatinya.Orang yang benar-benar beriman adanya hari kiamat
akan senantiasa menjaga agar prilakunya baik dan berusaha menjauhi hal-hal yang
buruk.Begitu juga sebaliknya.

Seorang manusia tidak disebut mukmin sebelum ia bberiman kepada apa yang
terkandung dalam al-Qur’an dan sunah Rasul yang benar yang berkaitan dengan hari
akhir. Mengetahui adanya hari akhir dan senantiasa mengingatnya sangatlah
penting,karena akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kebaikan jiwa
manusia,ketakwaan,dan komitmennya terhadap agama.Tidak ada yang membuat hati
keras dan memberanikan orang berbuat maksiat dari pada kelelaian mengingat hari
kiamat,kengerian,dan kedasyatan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian diatas,kita mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

Pesoalan :

1. Mengapa banyak orang yang berprilaku seperti fenomena tersebut ?


2. Apa pelajaran yang dapat dipetik dari datangnya berbagai bencana alam di bumi
ini ?
3. Bagaimana cara kita untuk dapat mempercayai dan menyakini akan datangnya hari
akhir ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah memberikan sebuah informasi dan ilmu
pengetahuan :

- Mengetahui Tentang hari kiamat.


- Meningkatkan keimanan kepada hari akhir.

Bab 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Menepati Janji
Janji menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perkataan yang menyatakan kesediaan dan
kesanggupan untuk berbuat. Pengertian lain menyebutkan bahwa yang disebut dengan
janji adalah pengakuan yang mengikat diri sendiri terhadap suatu ketentuan yang harus
ditepati atau dipenuhi, Al Qur’an menggunakan tiga istilah yang maknanya berjanji yaitu:

1. wa ’ada. Contohnya : Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman


dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar
2. ahada. Contohnya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya (Q.S.Al: Mu’minun ).
3. aqada. Contohnya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.
Aqad (perjanjian) di sini mencakup janji prasetia hamba kepada Allah dan
perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.

Selanjutnya, janji dalam Arti ’aqad/’aqada menurut Abdullah bin Ubaidah ada 5 macam :
 ‘aqad iman / kepercayaan yang biasa disebut ‘aqidah.
 ‘aqad nikah

 ‘aqad jual beli


 ‘aqad dalam arti perjanjian umuni
 ‘aqad sumpah.

Satu sifat lagi yang hampir identik dengan dua sifat sebelumnya (shiddiq dan
amanah) adalah menepati janji. Menepati janji berarti berusaha untuk memenuhi semua
yang telah dijanjikan kepada orang lain di masa yang akan datang. Orang yang menepati
janji orang yang dapat memenuhi semua yang dijanjikannya. Lawan dari menepati janji
adalah ingkar janji. Menepati janji merupakan salah satu sifat terpuji yang menunjukkan
keluhuran budi manusia dan sekaligus menjadi hiasan yang dapat mengantarkannya
mencapai kesuksesan dari upaya yang dilakukan. Menepati janji juga dapat menarik
simpati dan penghormatan orang lain. Rasulullah Saw. tidak pernah mengingkari janji
dalam hidupnya, sebaliknya beliauselalu menepati janji-janji yang pernah dilontarkan.
Kita pun sebagai umat Nabi sudahselayaknya meneladani beliau dalam hal menepati janji
ini sehingga kita selalu dipercaya oleh orang-orang yang berhubungan dengan kita.Dalam
beberapa ayat al-Quran, Allah menegaskan kewajiban orang yang beriman untuk
menepati janji. Dalam QS. al-Maidah (5): 1 Allah Swt. berfirman:

‫أيِاِ أأييِأهاِ اللدذيِأن آأمقنوُا أألوقفوُا دباِللقعققوُدد ۚ أ قدحلللت لأقكم بأدهيأمةق اللألنَأعاِدم إدلل أماِ يِقلتألحىى أعلأليقكحلم أغليحأر قمدحللححيِّ ال ل‬
‫صححليدد أوأأنَقتحلم قحححقرمم ۗ إدلن ل أ‬
‫اح‬
[٥:١] ‫يِألحقكقم أماِ يِقدريِقد‬
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu
binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan
tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah
menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah: 1)
Firman Allah dalam surat Al-Isra’:34

[١٧:٣٤] ‫إإنن اسلمعسهمد مكاَمن ممسسئئوُلل ۖ موأمسوئفوُا إباَسلمعسهإد ۚ مومل تمسقمرئبوُا مماَمل اسليِمإتيِإم إإنل إباَلنإتي إهمي أمسحمسئن محتنىى يمسبلئمغ‬
‫أمئشندهئ‬
Artinya :“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu
pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 34)
Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak
orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya.
Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah
menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya.
Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan
dalam hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir.
Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka
setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam
pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat
orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan
akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati
janji.

2.2 Macam Macam Janji

Sayyid Ridha dalam tafsir Al Manar, membagi janji itu ke dalam tiga bagian, yaitu : janji
kepada Allah janji kepada diri sendiri janji kepada sesama manusia. Bagi kita insan
beriman, ketiga-tiganya biasa kita lakukan :
1. Janji kita kepada Allah SWT
Ketika kita menjalankan shalat, pada doa iftitah kita mengucapkan :
Sesungguhnya shalatku. ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk/milik Allah
Tuhan Semesta Alam “.Ini adaiah merupakan janji manusia terhadap Allah yang
harus ditepati. yakni dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. yang menurut syari’ah dinamakan taat, karena manusia ataupun jin
diciptakan manusia memang untuk beribadah kepada-Nya.
2. Janji Terhadap Diri Sendiri
Misalnya seorang mahasiswa mengatakan, “Jika saya lulus ujianku, aku akan
menyembelih kambing untuk dibagikan kepada orang lain”.
Seorang yang sakit yang serius, kala itu dia mengucapkan Jika aku sembuh dari
penyakitku, aku akan berpuasa tiga hari. “ Kedua hal itu merupakan janji manusia
terhadap diri sendiri yang harus ditunaikan, yang dalam bahasa agama disebut
dengan nadzar. Ini harus dilaksanakan karena Allah telah berfirman : “ …Dan
hendaklah menyempurnakan (memenuhi) nazar mereka… “ (Q.S.Al Hajj
29). Tentu saja nadzar yang harus dipenuhi adalah nadzar yang yang tidak
menyimpang dari syari’at agama Islam. Tapi misalnya ada orang yang
mengatakan,’’Kalau saya lulus ujian, aku akan potong tangan ibuku.” itu haram
dilaksanakan, karena manusia oleh Allah tidak diperkenankan untuk menyiksa diri
sendiri ataupun orang lain.
3. Janji Terhadap Sesama Manusia
Ini banyak ragamnya. Ada yang beijanji dengan seseorang untuk hidup semati, ada
yang janji mau membayar hutang setelah rumahnya laku terjual, ada yang janji
memberangkatkan haji kepada orang tuanya nanti setelah proyeknya seselai.dll
seperti yang sudah kami sebut.

Dan janji ini berlaku dalam berbagai segi kehidupan, sejak dilingkungan keluarga,
kehidupan dalam masyarakat hingga urusan kenegaraan. Yang jelas, selagi orang bergaul
dan saling membutuhkan dan sementara apa yang dibutuhkan belum terwujud, maka
janjilah yang dianggap sebagai solusi sementaranya.

2.3 Ayat dan Hadis Tentang Jujur


Mengapa kita harus jujur? Jujur itu penting. Berani jujur itu hebat. Sebagai makhluk sosial,
kita memerlukan kehidupan yang harmonis, baik, dan seimbang. Agar tidak ada yang dirugikan,
dizalimi dan dicurangi, kita harus jujur. Jadi, untuk kehidupan yang lebih baik kuncinya adalah
kejujuran. Hal ini sesuai dengan hadist sabda Nabi:

Artinya: “Dari Abdullah ibn Mas’ud r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya jujur itu
membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga...” (H.R. Bukhari).

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “kejujuran itu mahal”. Ya, kejujuran memang sangat
mahal karena berkata jujur itu terkadang sangat berat. Akan tetapi, agar dapat dipercaya orang,
kita harus jujur. Rasulullah saw. telah memberi contoh nyata kepada kita. Pada masa jahiliyah
sangat sulit mencari orang yang jujur. Dengan kejujuran Rasulullah saw. menjadi orang yang
paling terpercaya. Beliau mendapat gelar al-Amin (dapat dipercaya) dari bangsa Quraisy.
Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya. Jujur
membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membuat hati jadi was-was. Akan tetapi
kadangkala, ada orang yang tidak suka dengan kejujuran. Hal ini dapat terjadi kalau orang itu
akan terganggu oleh kejujuran kita itu. Meskipun demikian jangan takut dan risau karena lebih
banyak pihak yang mendukung kejujuran.
Kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Seharusnya sifat jujur
juga menjadi identitas seorang muslim. Katakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang
salah itu salah. Jangan dicampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah)
kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”.
(Q.S. al-Baqarah/2:42)

2.4 Manfaat Prilaku Jujur

a. Kejujuran mendatangkan kebahagiaan


b. Kejujuran mendatangkan simpati
c. Kejujuran mendatangkan ketenangan
d. Kejujuran mendatangkan pahala
e. Kejujuran mendatangkan percaya diri
f. Kejujuran mendatangkan kedamaian
g. Kejujuran menciptakan keluarga yang nyaman
h. Kejujuran menghindarkan seseorang dari tuduhan-tuduhan yang merugikan

2.5 Pesan Teladan Rasullah (Jujur)

Seperti dikatakan pada awal pembahasan, bahwa Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan
perilaku Jujur dalam kehidupan sehari-hari melalui kisah-kisah teladan yang memberikan pesan-
pesan mulia bagi umatnya. Berikut beberapa kisah-kisah teladan tentang perilaku jujur:
1. Kisah Teladan kejujuran Nabi Muhammad SAW

Pada masa sebelum kenabian Rasulullah Muhammad SAW, terjadi banjir di Makkah yang
mengakibatkan Baitullah Ka'bah rusak total. Penduduk Quraisy di Makkah sepakat untuk
merenovasi Ka'bah bersama-sama. Ketika renovasi sampai ke tahap akhir, terjadi perselisihan
dalam menentukan siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Setiap kabilah yang
terlibat masing-masing merasa bahwa golongan mereka paling pantas dan paling terhormat untuk
melakukan tugas tersebut. Perselisihan nyaris berlanjut ke arah baku hantam antar kabilah.
Untunglah ada seorang tua yang bijak yang mengusulkan agar masalah tersebut diselesaikan oleh
orang yang muncul pertama kali di pintu masjid. Mereka pun akhirnya sepakat. Dengan
berdebar-debar mereka pun menunggu.
Tak lama kemudian muncullah Muhammad di pintu itu. Setiap orang yang di tempat itu
pun akhirnya bernapas lega karena Muhammad terkenal dengan panggilan Al-Amin karena ia
selalu berkata jujur dan menjaga amanah dengan baik. Dan memang setelah itu Muhammad
membuat keputusan yang sangat adil yang mencakup setiap keinginan para kabilah. Sifat jujur
yang dimiliki Muhammad (sebelum kenabian) membuat ia disenangi oleh kaumnya dan
dipercaya dalam setiap urusan. Hal yang sama juga terjadi setelah kenabian.

2.6 Contoh Prilaku Jujur

contoh jujur kepada Allah : melakukan ibadah dg ihlas karena Allah , bukan karena yg
lain , jika kita beribadah karena yg lain itu artinya kita tdk jujur kepada Allah , artinya
kita membohongi Allah , karena ibadah kita adalah kewajiban kita kepada Allah , bukan
kepada yg lain

contoh jujur terhadap diri sendiri : jika kita tidak mampu untuk melakukan sesuatu ya
jangan dipaksakan , jika memaksakannya berarti kita tdk jujur terhadap diri kita sendiri ,
misalkan kita tidak mampu untuk membeli motor , ya jangan dipaksakan

contoh jujur terhadap org lain : jika memberi kabar berita sesuai dg kenyataan , jangan
diberi bumbu" penyedap hanya untuk menyenangkan hati orang , jika kenyataannya si A
tidak pandai , ya kita katakan sejujurnya

tidak nyontek waktu ulangan merupakan jujur pada diri sendiri , jika memang
kemampuan kita segitu , dan juga jujur pada orang lain , tdk membohongi guru.

Bab 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1)Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain, baik orang tua,
guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan orang tua, perilaku hormat
ditujukan dengan berbakti kepada orang tua. Berbakti merupakan kewajiban anak kepada
orang tua
2)Perilaku hormat dan patuh kepada orang lain sangat baik dilakukan oleh seorang
muslim. Oleh karena itu, perilaku hormat dan patuh ini harus diterapkan kepada siapa
saja. Berikut adalah contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua, guru dan
anggota keluarga
3)Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada umat
manusia untuk menghormati orang tua. Dalil-dalil tentang perintah Allah Swt. tersebut
antara lain pada Surah Al-Isra':

3.2 Saran

Sesuai dengan Pembahasan dan kesimpulan di atas, Kami menyarankan untuk dapat
memahami konsep pemikiran atau mindset yang baik akan sikap dan tindakan yang benar
dalam Menghormati dan Mematuhi kedua Orangtua dan Guru.
bersifat membangun.’