Anda di halaman 1dari 30

BAB I

GAMBARAN KASUS
1.1 Gambaran Kasus
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup
lanjut, serta bersifat persisten dan irreversibel (Mansjoer, 2000). Ginjal
merupakan organ penting dalam tubuh manusia, yang mengatur fungsi
kesejahteraan dan keselamatan untuk mempertahankan volume, komposisi dan
distribusi cairan tubuh, sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner, 1979
dalam Lubis, 2006). Kerusakan pada ginjal membuat sampah metabolisme dan air
tidak dapat lagi dikeluarkan. Dalam kadar tertentu, sampah tersebut dapat
meracuni tubuh, kemudian menimbulkan kerusakan jaringan bahkan kematian.
(www.nephrologychannel.com).
Tn. L berumur 60 tahun, Laki-laki, beragama islam, BB 57 kg, TB 161 cm,
pekerjaan wiraswasta. Pasien menderita sakit ginjal sejak 2 tahun yang lalu dan
melakukan Hemodialisa sejak 2 tahun yang lalu. Mempunyai riwayat penyakit
hipertensi. Hasil pemeriksaan lab Hb 11,4 g/dl, Ht 34%, Ureum 133,3 mg/dl,
Kreatinin 11,91 mg/dl. Tn. L menyukai semua jenis makanan terutama ikan asin.
Asupan cairan 600-1000 ml/hari, Asupan makanan nasi, tahu, tempe, kopi
(3x/hari), telur, ikan asin (1x/hari), kangkung, ikan, bayam, wortel, brokoli (3-
6x/minggu), jagung, buncis, roti, labusiam (1-2x/minggu). KU lemah, kesadaran
CM, Konjungtiva pucat, suhu 36°C, TD 180/100 mmHg, RR 20x/mnt, Nadi
74x/mnt.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gagal Ginjal Kronik


2.1.1 Defenisi
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan
cukup lanjut, serta bersifat persisten dan irreversibel (Mansjoer, 2000). Ginjal
merupakan organ penting dalam tubuh manusia, yang mengatur fungsi
kesejahteraan dan keselamatan untuk mempertahankan volume, komposisi
dan distribusi cairan tubuh, sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner,
1979 dalam Lubis, 2006). Kerusakan pada ginjal membuat sampah
metabolisme dan air tidak dapat lagi dikeluarkan. Dalam kadar tertentu,
sampah tersebut dapat meracuni tubuh, kemudian menimbulkan kerusakan
jaringan bahkan kematian. (www.nephrologychannel.com).
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah merupakan menurunnya fungsi
ginjal yang berlangsung lama dan bertahap, sifatnya progresif dengan
kreatinin klirens (Sidabutar, 1983). Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal
berupa fungsi ekskresi, fungsi pengaturan, dan fungsi hormonal dari ginjal.
Sebagai kegagalan sistem sekresi menyebabkan menumpuknya zat-zat toksik
dalam tubuh yang kemudian menyebabkan sindroma uremia. Terapi pengganti
pada pasien GGK dapat mempertahankan hidup sampai beberapa tahun. Salah
satu terapi pengganti adalah Hemodialisis (HD) yang bertujuan menggantikan
fungsi ginjal sehingga dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan
memperbaiki kualitas hidup pada penderita gagal ginjal kronik.

2
2.1.2 Patofisiologi
Gagal ginjal kronik terjadi perlahan-lahan, bisa dalam hitungan bulan
bahkan tahun, dan sifatnya tidak dapat disembuhkan.Memburuknya fungsi
ginjal bisa dihambat apabila pasien melakukan pengobatan secara
teratur.Selama ini dikenal dua metode dalam penanganan gagal ginjal.Pertama
transplantasi ginjal dan kedua dialisis atau cuci darah.Untuk transplantasi
ginjal masih terbatas karena banyak kendala yang harus dihadapi, diantaranya
ketersediaan donor ginjal, teknik operasi dan juga perawatan pada waktu
pascaoperasi. Pada metode Dialisis Peritoneal (PD) menggunakan lapisan
dalam ruang perut sebagai saringan dialisis untuk membersihkan sampah-
sampah dan menyeimbangkan kadar elektrolit. (http://widianto
panca.blogdetik.com) Metode PD belum banyak digunakan dan kelemahan
pada teknik ini dapat terjadi 3 kategori komplikasi yaitu mekanik, medis, dan
infeksi. (http://www.tanyadok.com.)
Penurunan ekskresi Na akan menyebabkan retensi air sehingga pada
akhirnya dapat menyebabkan oedem, hipertensi. Penurunan ekskresi kalium
juga terjadi terutama bila GFR < 25 ml/mnt, terlebih pada CKD stadium 5.
Penuruan ekskresi ini akan menyebabkan hiperkalemia sehingga
meningkatkan resiko terjadinya kardiak arrest pada pasien. Asidosis
metabolik pada pasien CKD biasanya merupakan kombinasi adanya anion gap
yang normal maupun peningkatan anion gap. Pada CKD, ginjal tidak mampu
membuat ammonia yang cukup pada tubulus proksimal untuk
mengekskresikan asam endogen ke dalam urin dalam bentuk ammonium.
Peningkatan anion gap biasanya terjadi pada CKD stadium 5. Anion gap
terjadi karena akumulasi dari fosfat, sulfat, dan anion – anion lain yang tidak
terekskresi dengan baik. Asidosis metabolik pada CKD dapat menyebabkan
gangguan metabolisme protein. Selain itu asidosis metabolic juga merupakan
salah satu faktor dalam perkembangan osteodistrofi ginjal.

3
Pada CKD terutama stadium 5, juga dijumpai penurunan ekskresi sisa
nitrogen dalam tubuh. Sehingga akan terjadi uremia. Pada uremia, basal urea
nitrogen akan meningkat, begitu juga dengan ureum, kreatinin, serta asam
urat. Uremia yang bersifat toksik dapat menyebar ke seluruh tubuh dan dapat
mengenai sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat. Selain itu sindrom
uremia ini akan menyebabkan trombositopati dan memperpendek usia sel
darah merah. Trombositopati akan meningkatkan resiko perdarahan spontan
terutama pada GIT, dan dapat berkembang menjadi anemia bila
penanganannya tidak adekuat. Uremia bila sampai di kulit akan menyebabkan
pasien merasa gatal – gatal.
Pada CKD akan terjadi penurunan fungsi insulin, peningkatan
produksi lipid, gangguan sistem imun, dan gangguan reproduksi. Karena
fungsi insulin menurun, maka gula darah akan meningkat. Peningkatan
produksi lipid akan memicu timbulnya aterosklerosis, yang pada akhirnya
dapat menyebabkan gagal jantung.
Anemia pada CKD terjadi karena depresi sumsum tulang pada
hiperparatiroidisme sekunder yang akan menurunkan sintesis EPO. Selain itu
anemia dapat terjadi juga karena masa hidup eritrosit yang memendek akibat
pengaruh dari sindrom uremia. Anemia dapat juga terjadi karena malnutrisi.

2.1.3 Etiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut (Price, 2002), adalah :
1. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang manusia
tanpa memandang usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya
dibagi dalam dua kategori besar : Infeksi saluran kemih bagian bawah
(uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing bagian atas
(pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah

4
penyebab utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak. (Price, 2002:
919)
2. Penyakit peradangan
Kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal umumnya disebabkan
oleh glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan
terjadi kerusakan glomerulus secara progresif yang pada akhirnya akan
menyebabkan terjadinya gagal ginjal. (Price, 2002:)
3. Nefrosklerosis hipertensif
Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki kaitan yang erat.
Hipertensi mungkin merupakan penyakit primer dan menyebabkan
kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit ginjal kronik dapat
menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui
mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem
renin-angiotensin. (Price, 2002: 933)
4. Gangguan kongenital dan herediter
Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan
penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya
dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun lebih sering dijumpai pada
penyakit polikistik. (Price, 2002: 937),
5. Gangguan metabolic
Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik
antara lain diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan
amiloidosis. (Price, 2002: 940).
6. Nefropati toksik
Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-
bahan kimia karena alasan-alasan berikut :
a. Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga sering dan
mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.

5
b. Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia
dikonsentrasikan pada daerah yang relatif hipovaskular.
c. Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat,
sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan
meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. (Price, 2002:944).

2.1.4 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Diet pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik pre dialisis
stadium IV dengan TKK < 25 ml/mt pada dasarnya mencoba memperlambat
penurunan fungsi ginjal lebih lanjut dengan cara mengurang beban kerja
nephron dan menurunkan kadar ureum darah. Standar diet pada Penyakit
Ginjal Kronik Pre Dialisis dengan terapi konservatif adalah sebagai berikut :
a. Pengobatan
1) Penanganan khusus yang mengatasi penyebab yang mendasari
penyakit ginjal dapat menghentikan hilangnya fungsi ginjal. Secara
khusus, pasien dengan diabetes mellitus atau hipertensi harus ditangani
secara intensif untuk mengontrol gula darah dan tekanan darah.
Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, seperti lisinopril atau
captopril, adalah obat-obat tekanan darah yang sangat membantu untuk
individu dengan penyakit ginjal.
2) Pembatasan natrium (garam) dan/atau diuretik biasanya diperlukan
untuk mengurangi retensi cairan dan pembengkakan.
3) Anemia umum terjadi pada pasien penyakit ginjal. Pada pasien dengan
defisiensi besi, suplemen besi harus digunakan. Pasien dengan
penyakit ginjal biasanya diobati dengan obat yang disebut
eritropoietin.
4) Olah raga, baik dalam bentuk pelatihan kekuatan dan latihan aerobik,
dapat membantu pasien dengan penyakit ginjal.
5) Pada akhirnya, dialisis atau transplantasi ginjal mungkin diperlukan.

6
b. Pola Makan Penderita Ginjal Kronik
Mengelola penyakit ginjal memberikan permasalahan tersendiri.
Pasien dengan penyakit ginjal sering memiliki faktor risiko aterosklerosis,
yang akan mendapat manfaat dari diet yang rendah lemak, sodium, gula,
dan tinggi serat. Namun, pasien juga sering menunjukkan tanda-tanda
malnutrisi, yang membutuhkan perencanaan makanan dengan sedikit
pembatasan. Jenis diet yang tepat, seperti yang dijelaskan di bawah ini,
dapat membantu mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan penumpukan
produk limbah dalam darah, memperlambat perkembangan penyakit
ginjal, dan dapat mencegah penyakit kardiovaskular.

1. Penurunan asupan protein


Asupan tinggi protein yang berkepanjangan dapat mengganggu
fungsi ginjal. Pada wanita dengan penyakit ginjal ringan, mereka yang
mengasup protein paling tinggi memiliki peningkatan risiko lebih dari
tiga kali lipat menuju penurunan fungsi ginjal sebesar 15 persen atau
lebih, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi protein paling
sedikit. Efek ini disebabkan oleh sumber protein dari hewan.
Sebuah tinjauan lebih baru berdasarkan delapan cobaan pada total
1.524 pasien menunjukkan bahwa, meskipun asupan protein yang
optimal tetap tidak diketahui, mengurangi asupan protein pada
individu dengan penyakit ginjal dapat mengurangi kematian akibat
penyakit ini sebesar 30 persen, dibandingkan mereka dengan protein
yang lebih tinggi atau yang tidak membatasi asupan protein. Pada

7
pasien dengan penyakit ginjal berat, diet sangat rendah protein
dilengkapi dengan asam amino esensial bisa efektif.
2. Pembatasan natrium (garam)
Tekanan darah tinggi merupakan penyebab penyakit ginjal, dan
pembatasan natrium adalah bagian penting untuk mengendalikan
tekanan darah.
3. Vitamin larut air
Diet rendah protein dapat meningkatkan risiko kekurangan
vitamin, termasuk tiamin, riboflavin, dan terutama piridoksin. Selain
itu, rendahnya tingkat vitamin C sering terjadi pada pasien penyakit
ginjal. Dengan demikian, untuk pasien penyakit ginjal yang tidak
menjalani dialisis ginjal, suplementasi dengan 5 mg per hari piridoksin
dan 30 sampai 50 mg per hari vitamin C telah disarankan. Namun,
tidak ada rekomendasi standar untuk jumlah tiamin atau riboflavin
untuk kelompok ini.
4. Suplemen Vitamin D
Defisiensi vitamin D umumnya terjadi pada awal perjalanan
penyakit ginjal. Suplementasi dengan vitamin D adalah sebuah
tindakan yang penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

5. Diet tinggi serat dan rendah lemak jenuh dan kolesterol


Kebanyakan pasien dengan penyakit ginjal kronis meninggal
akibat kardiovaskuler sebelum mengembangkan penyakit ginjal
yang lebih parah. Dalam sejumlah besar pasien, penanganan

8
kolesterol – dengan diet atau obat – dapat menurunkan
perkembangan penyakit ginjal. Studi menunjukkan bahwa diet
vegetarian dapat sangat membantu dalam mengurangi kolesterol.
Sumber makanan dan suplemen serat dapat membantu untuk
mengurangi penumpukan produk limbah dalam darah yang
menyebabkan banyak gejala penyakit ginjal.
6. Diet tinggi kalori
Kehilangan nafsu makan dan asupan makanan yang buruk
umum terjadi pada pasien ini. Malnutrisi berhubungan dengan
hasil yang buruk dan risiko kematian yang lebih tinggi pada pasien
dengan penyakit ginjal.

2.2 Hipertensi
2.2.1 Defenisi
Menurut Tom Smith (1991) Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan
tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah diatas normal.Hipertensi adalah tekanan darah
persisten dimana tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic
diatas 90 mmHg. (Brummer dan Studdarth, 2001).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur
paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum seorang dianggap
hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140 mmHg sistolik atau 90
mmHg diastolic. (Elizabeth. J. Corwi. 2001)
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 90 mmHg. (Sylvia. A. Price. 2005). Menurut WHO (1978) batas
tekanan darah yang dianggap normal adalah 140 mmHg dan tekanan darah sama
dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai Hipertensi.
Hipertensi seringkali disebut (Sillent Killer), karena termasuk penyakit
yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejala terlebih dahulu sebagai

9
peringatan bagi penderitanya. gejala tersebut seringkali dianggap sebagai
gangguan biasa, sehingga korban terlambat menyadari akan datangnya penyakit
(Sustrani dkk, 2006).

2.2.2 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras syaraf simpatis, yang berlanjut ke bawah konda spinalis dan keluar
dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
kebawah melalui system syaraf ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetil kolin yang akan merangsang serabut syaraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskanya norepinefrin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriktor.
Pada saat bersamaan dimana system syaraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokontriksi
pembuluh dara. Vasokontriksi yang mengakibatkanpenurunana aliran darah ke
ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan
angiostensin I yang kemudian diubah menjadi angiostensin II, suatu
vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensio natrium dan air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volumeintravaskuler. Semua faktor tersebut
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. ( Brunner dan Suddarth, 2002 ).

10
2.2.3 Etiologi
1. Hipertensi essensial
Hipertensi essensial atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar
patologis yang jelas. Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi essensial.
Penyebab hipertensi meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik
mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress,
reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokontriktor, resistensi insulin dan lain-
lain. Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan
merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain (Nafrialdi, 2009).
Pada sebagian besar pasien, kenaikan berat badan yang berlebihan dan
gaya hidup tampaknya memiliki peran yang utama dalam menyebabkan
hipertensi. Kebanyakan pasien hipertensi memiliki berat badan yang berlebih
dan penelitian pada berbagai populasi menunjukkan bahwa kenaikan berat
badan yang berlebih (obesitas) memberikan risiko 65-70 % untuk terkena
hipertensi primer (Guyton, 2008).
2. Hipertensi sekunder
Meliputi 5-10% kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder dari
penyakit komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan
darah. Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis
atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-
obat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan
hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah
(Oparil, 2003). Hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, sering
berhubungan dengan beberapa penyakit misalnya ginjal, jantung koroner,
diabetes dan kelainan sistem saraf pusat (Sunardi, 2000).

2.2.4 Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala.
Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah

11
kemerahan dan kelelahan, yang bisa saja terjadi pada penderita hipertensi. Jika
hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala sakit
kepala kelelahan, muntah, sesak nafas, pandangan menjadi kabur, yang terjadi
karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan
bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut sebagai
ensefalopati hipertensif ( Medicastro, 2008 ). Sedangkan menurut Lany gunawan
( 2001 ) gejala klinis yang dialami oleh penderita hipertensi biasanya : pusing
mudah marah, sukar tidur, rasa berat di tengkuk, mudah lelah, mata berkunang –
kunang ( Lany Gunawan, 2001 ).

2.2.5 Penatalaksanaan
1. Terapi Obat
Pengobatan hipertensi dilakukan oleh penderita selama hidupnya
sehingga dituntut kerelaan dan kepatuhan penderita untuk menjalankan
pengobatan dengan benar dan tekun serta mematuhi nasehat dokter. Ada
beberapa langkah untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Di antaranya,
menurunkan nilai angka sistolik maupun diastolik, dan pengobatan yang
diarahkan untuk mengontrol tekanan darah sehingga tercapai tekanan yang
normal. Pada pertemuan Perkumpulan Hipertensi Eropa pada Juni 2004
diumumkan hasil penelitian Novartis tentang VALUE (Valsartan
Antihypertensive Long-term Use Evaluation) atau evaluasi pemakaian
Valsartan antihipertensi dalam jangka panjang. Evaluasi ini dimuat dalam
jurnal kedokteran internasional The Lancet. Studi itu berkaitan dengan
pemberian Valsartan dengan unsur angiotensin reseptor blocker (ARB) bagi
penderita hipertensi yang berisiko tinggi mengidap penyakit kardiovaskular.
Hasilnya, Valsartan dapat menurunkan risiko timbulnya penyakit diabetes
mellitus sebesar 23 persen.

12
Pengobatan terhadap penderita hipertensi dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Pengobatan tanpa obat, antara lain dengan diet rendah garam, kolesterol,
dan lemak jenuh; peredaan stres emosional; berhenti merokok dan
alkohol; serta latihan fisik secara teratur.
2. Pengobatan dengan menggunakan obat antihipertensi. Terdapat banyak
jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat
antihipertensi yang tepat, sebaiknya langsung menghubungi dokter.
3. Pengobatan pada golongan khusus.

2. Terapi Makanan
a) Kandungan garam (Sodium atau Natrium)
Seseorang yang mengidap penyakit hipertensi sebaiknya
mengontrol diri dalam mengkonsumsi garam. Yang dimaksud dengan
garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua
bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu
sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu,
dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari
atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.
Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi
garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada
pasien hipertensi. Adapun syarat-syarat diet garam rendah adalah :
a. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin.
b. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
c. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau
air dan/atau hipertensi.
Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan
keadaan penyakit dapat diberikan berbagai tingkat Diet Garam
Rendah.

13
 Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)
Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema, asites
dan/atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak
ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi
kadar natriumnya.
 Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)
Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema, asites,
dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari
sama dengan Diet Garam Rendah I. Pada pengolahan makanannya
boleh menggunakan ½ sdt garam dapur (2 g). Dihindari bahan
makanan yang tinggi kadar natriumnya.
 Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema
dan/atau hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama
dengan Diet Garam Rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh
menggunakan 1 sdt garam dapur (4 g).

b) Kandungan Potasium atau Kalium


Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan
tekanan darah. Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-
buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan
baik untuk dikonsumsi penderita hipertensi antara lain semangka, alpukat,
melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah
buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan yang
mengandung unsur omega 3 sagat dikenal efektif dalam membantu
penurunan tekanan darah (hipertensi).
Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram
mmHg, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik

14
dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk
membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan
darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk
menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya
kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan
pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti
jantung, ginjal dan diabetes mellitus.

15
BAB III
ADIME

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. L
Umur : 60 tahun
JK : Laki-laki
Agama : Islam
Dx : GGK + Hemodialisa

3.1 Assesment Gizi


a. Riwayat Gizi (FH)
Tn. L menyukai semua jenis makanan terutama ikan asin. Asupan
cairan 600-1000 ml/hari, Asupan makanan nasi, tahu, tempe, kopi (3x/hari),
telur, ikan asin (1x/hari), kangkung, ikan, bayam, wortel, brokoli (3-
6x/minggu), jagung, buncis, roti, labusiam (1-2x/minggu).
b. Antropometri Data (AD)
BB = 57 kg
TB = 161 cm

𝐵𝐵 57 57
𝐼𝑀𝑇 = = = = 22 𝑘𝑔/𝑚2 (𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙)
(𝑇𝐵)² (1,61)² 2,59
𝐵𝐵𝐼 = (𝑇𝐵 − 100)𝑥 0,9 = (161 − 100)𝑥 0,9 = 54,9 𝑘𝑔
c. Biokimia Data (BD)
Jenis Nilai Nilai Normal Kategori
Pemeriksaan
Hb 11,4 g/dl 13 - 16 g/dl Rendah

16
Ht 34% 40 - 48 % Rendah

Ureum 133,3 mg/dl 10 – 50 mg/dl Tinggi

Kreatinin 11,91 mg/dl < 1,5 mg/dl Tinggi

Kesimpulan : Hb, Ht (Rendah), Ureum, Kreatinin (Tinggi)


d. Physical Data (PD)
1. Fisik
Keadaan umum lemah, kesadaran CM, Konjungtiva pucat.
2. Klinis
Jenis pemeriksaan Nilai Nilai normal Kategori

Suhu 36°C 36 – 37 °C Normal

TD 180/100 mmHg 120/80 mmHg Tinggi

RR 20x/mnt 20 – 34 x/mnt Normal

Nadi 74x/mnt 80 – 100 x/mnt Lambat

Kesimpulan : TD (Tinggi), Nadi (Lambat)


e. Riwayat Client (CH)
1. Riwayat personal
Tn. L usia 60 tahun, agama islam, pekerjaan wiraswasta
2. Riwayat medis
Pasien menderita sakit ginjal sejak 2 tahun yang lalu dan melakukan
hemodialisa sejak 2 tahun yang lalu, mempunyai riwayat penyakit
hipertensi.
3. Riwayat social
-

17
3.2 Diagnosa Gizi

Domain Problem Etiologi Sign/symptom

NI.2.2 Perubahan nilai lab Berkaitan dengan Ditandai dengan hasil


terkait gizi adanya gangguan lab ureum 133,3 mg/dl
fungsi ginjal (Tinggi), Kreatinin
11,91 U/L (Tinggi).

NB.1.7 Pemilihan makanan Berkaitan dengan Ditandai dengan suka


yang salah penyakit yang diderita mengkonsumsi ikan
yaitu hipertensi asin 1x sehari.

3.3 Intervensi Gizi


a. Nama diet : Diet Dialisis 1
b. Prinsip diet : Rendah kalium, Tinggi protei, Rendah Natrium, Rendah Lemak
c. Tujuan
1. Untuk membantu menormalkan nilai lab hingga mencapai normal
2. Memberikan edukasi gizi tentang makan bergizi seimbang
d. Bentuk makanan : Makanan Biasa
e. Syarat Diet
1. Energy yaitu 1845 kkal
2. Protein 14,8 % yaitu 68,4 gram
3. Lemak 20% yaitu 41 g (SFA = 6,2 g, PUFA = 16,4 g, MUFA = 16,4 g)
4. KH 65,2% yaitu 300,73 gram
5. Dianjurkan untuk 3x makan 2x selingan
6. Cairan dibatasi yaitu jumlah urin 24 jam ditambah 500 – 700 ml

18
7. Kalium yaitu 1941,7 mg
8. Natrium yaitu 390,8 mg
f. Perhitungan Kebutuhan
BMR = (10 x BB) + (6,25 x TB) – (5 x Usia) + 5
= (10 x 57) + (6,25 x 161) – (5 x 60) + 5
= 570 + 1006,25 – 300 + 5
= 1281,25 kkal
TEE = BMR x FA x FS
= 1281,25 x 1,2 x 1,2
= 1845 kkal
 Kebutuhan Zat Gizi Makro
Protein = 1,2 kg/BB % Protein = 68,4 x 4 x 100 : 1845
= 1.2 x 57 = 14,8 %
= 68, 4 gram
Lemak = 20 % x 1845 : 9 = 41 gram
 SFA = 4% x 1845 : 9 = 8,2 g
 PUFA = 8% x 1845 : 9 = 16,4 g
 MUFA = 8% X 1845 : 9 = 16,4 g
KH = 65,2 % x 1845 : 4 = 300,73 gram
 Kebutuhan Zat Gizi Mikro
Vitamin (C = 243 mg, B6 = 2 mg, B9 = 234 mg)
Mineral (Ca = 1000 mg, Na = 400 mg, K=1341,7 mg)
g. Frekuensi menu 1 hari
Pagi = 25% x 1845 = 461,2 kkal
Snack = 10% x 1845 = 184,5 kkal
Siang = 30% x 1845 = 553,5 kkal
Snack = 10% x 1845 = 184,5 kkal
Malam = 25% x 1845 = 461,2 kkal

19
h. Tabel Menu 1 hari
No Waktu Menu Bahan Makanan BB URT

1 Pagi Bak Kut The - Beras 60 ¾ gls


(07.00 - Daging ayam 50 1 ptg
WIB) - Tofu 100 1 nj
- Jamur 50 ½ gls

2 Snack Kuih Muih - Tepung beras 20 1 sdm


(10.00 - Tepung 20 2 sdm
WIB) gandum 5 ½ sdm
- Gula pasir 5 ½ sdm
- Gula aren 2 ¼ sdm
- Minyak
3 Siang Nasi katok - Beras 75 ¾ gls
(13.00 - Gula pasir 10 1 sdm
WIB) - Tomat 50 ½ gls
- Daging ayam 75 1 ½ ptg
- Minyak 3 ¼ sdm
- Wortel 75 ¾ gls

4 Snack Kuih Celurut - Tepung beras 50 8 sdm


(15.00 - Santan 20 ¼ gls
WIB) - Gula aren 5 ½ sdm

5 Malam Char kway teow - Mie basah 150 1 ½ gls


(19.00 - Udang 50 1 gls
WIB) - Toge 50 ½ gls
- Telur ayam 50 1 btr
- Kerang 50 ½ gls

20
21
j. Rekapan Belanja

No Nama Bahan BB BDD BK Harga Harga


Makanan (g) (%) (g) Satuan Total

1 Beras 135 100 135 Rp 20.000/kg Rp 2700


2 Daging ayam 125 58 216 Rp 35.000/kg Rp 7543
3 Tofu 100 100 100 Rp 12.000/250g Rp 1200
4 Jamur tiram 50 100 50 Rp 10.000/250g Rp 500
5 Tepung beras 70 100 70 Rp 8.000/500g Rp 560
6 Tepung tapioca 20 100 20 Rp 12.000/kg Rp 240
7 Gula pasir 5 100 5 Rp 16.000/kg Rp 80
8 Gula aren 10 100 10 Rp 25.000/kg Rp 250
9 Minyak 5 100 5 Rp 14.000/kg Rp 70
10 Tomat 50 88 57 Rp 10.000/kg Rp 570
11 Wortel 75 88 89 Rp 10.000/kg Rp 2400
12 Santan 20 100 20 Rp 14.000/kg Rp 280
13 Mie basah 150 100 150 Rp 14.000/kg Rp 2100
14 Udang 50 80 63 Rp 50.000/kg Rp 3250
15 Toge 50 100 50 Rp 12.000/kg Rp 600
16 Telur ayam 50 90 56 Rp 1.500/btr Rp 1400
17 Kerang 50 70 72 Rp 90.000/kg Rp 6480
18 Ikan gabus 100 80 125 Rp 90.000/kg Rp 7000

JUMLAH TOTAL Rp 37.823

22
3.4 Monitoring dan Evaluasi
Rencana Evaluasi Target Waktu Pelaksanaan

Nilai lab Hingga mencapai normal Akhir perawatan

Asupan makanan Mengkonsumsi makanan Setiap hari


yang bergizi dan
seimbang

24
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

4.1 Menu Asli

Bahan Utama Resep Ayam Sambal Katok Brunei Darussalam:


 250 g daging ayam
 10 butir bawang merah.
 5 siung bawang putih.
 20 buah cabai merah kering, rendam dengan air panas kurang lebih
selama 10 menit.
 10 buah cabai rawit merah/setan (sesuaikan dengan selera).
 2 sendok makan air asam jawa.
 Terasi secukupnya.
 Garam secukupnya.
 Gula secukupnya.
 Saus tomat secukupnya.
 Saus sambal secukupnya.
 1 sendok teh saus tiram.

25
Bahan Pendamping Resep Ayam Sambal Katok Brunei Darussalam:
 Sedikit teri goreng sesuai selera.
 1 sendok makan minyak goreng untuk menumis.

Langkah Memasak Resep Nasi Sambal Katok Lezat :


 Blender bawang merah, bawang putih dan cabai hingga halus dengan
sedikit air.
 Tumis sambal hingga sambal matang dan air menyusut.
 Tambahkan terasi, air asam jawa, saus tomat, saus sambal, saus tiram,
aduk rata.
 Masak bahan tersebut sebentar, beri garam dan gula, lalu cicipi rasanya.
 Matikan api, campurkan teri goreng, aduk rata (atau jika suka ambil
sedikit sambal, masukkan ke dalam mangkuk, baru beri sedikit teri, aduk
rata).

4.2 Menu Modifikasi


Bahan Utama
 5 bh bawang merah  10 g saus tomat
 3 bh bawang putih  50 g tomat
 1 sdm air asam jawa  15 g ikan teri
 1 sdm minyak untuk  75 g daging ayam
menumis  75 g beras
 ¼ sdt saus tiram  10 g gula pasir
 Garam secukupnya  75 g wortel
 Gula secukupnya
Langkah kerja :
 Blender bawang merah, bawang putih hingga halus dengan sedikit air.
 Tumis tambah air asam jawa, saus tomat, tomat, saus sambal, saus tiram,
aduk rata. Potong wortel lalu potong panjang setelah itu rebus

26
 Rebus ayam sampai matang lalu goreng menggunakan tepung
 Masak bahan tersebut sebentar, beri garam dan gula, lalu cicipi rasanya.
 Matikan api, campurkan teri goreng, aduk rata (atau jika suka ambil
sedikit sambal, masukkan ke dalam mangkuk, baru beri sedikit teri, aduk
rata).
 Nasi sambal katok siap disajikan bersama ayam goreng tepung

4.3 Alasan Modifikasi


1. Penambahan wortel yang mana wortel merupakan jenis sayuran hijau yang
dapat digunakan untuk terapi antikanker dan antioksidan. Yang ada pada
wortel adalah vitamin C. penelitian yang dilakukan oleh Murasti dkk yang
menunjukkan bahwa efek konsumsi wortel apabila dikonsumsi sebanyak 100
g dalam 3 minggu dapat menurunkan hipertensi.
2. Penambahan ikan gabus karena didalam ikan gabus mengandung albumin
yang tinggi dan penderita gagal ginjal kronik harus konsumsi albuminnya
harus mencukupi dan juga ikan gabus mengandung kadar albumin yang bias
membantu meningkatkan asupan makan pasien.

4.4 Pembahasan
Pada kasus ini Tn. L umur 60 tahun didiagnosa Gagal Ginjal Kronik dan
hipertensi dengan tekanan darah lebih dari normal. Menurut Nursalam (2006),
gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang
berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya
yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau
transplantasi ginjal. Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir
merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan
cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen
lainnya dalam darah).

27
Pada kasus ini diberikan prinsip diet Rendah kalium, Rendah Natrium,
Rendah lemak. Bentuk makanan diberikan makanan biasa. Pada kasus ini
bertujuan Untuk Memberikan asupan makan sesuai prinsip diet penyakit dan
memberikan edukasi mengenai gizi seimbang agar nilai labnya normal. Asupan
makanan yang baik untuk penderita Gagal Ginjal Kronik adalah Makanan yang
berasal dari asam amino esensial atau BCAA contohnya Ikan Gabus.
Pada kasus ini saya mengambil menu makanan makan siang yaitu Nasi
Katok Khas Brunei yang dimana di nasi katok terdapat nasi, daging ayam,
sausnya yang merupakan ciri khasi dari nasi ini yang berasal dari brunei
Darussalam. Maka modifikasi pada menu ini yaitu penambahan 100 gram wortel
sebagai kaya antioksidan ini dapat meningkatkan keseimbangan metabolisme
dan mengatur jumlah produksi tiroid, antioksidan yang tinggi juga dapat
mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi lebih kuat. antioksidan
juga dapat mengurangi dan memperbaiki jaringan otak sehingga pasien penderita
hipertiroid dapat terhindar dari komplikasi dimensia. Selain itu wortel juga dapat
menurunkan tekanan darah yang mengandung mineral yang tinggi yaitu kalsium
yang berfungsi sebagi keseimbangan air dalam tubuh.Sebuah studi “Efektivitas
konsumsi juice wortel terhadap perubahan tekanan darah pada penderita
hipertensi “ menunjukkan bahwa pemberian jus wortel sebanyak 100 gram dapat
menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 6 mmHg dan tekanan distol 5,43
mmHg selama 3 minggu pemberian. Serta penambahan ikan gabus yang dimanan
ikan gabus mempunyai kadar albumin yang tinggi Selain kandungan albumin
yang tinggi, ikan gabus juga merupakan sumber mineral zinc yang baik dalam
meningkatkan nafsu makan penderita GGK. Kandungan albumin dan zinc dalam
100 ml ekstrak ikan gabus adalah 2,17 g dan 3,34 mg.

28
BAB V
KESIMPULAN & SARAN

5.1 Kesimpulan
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah merupakan menurunnya fungsi ginjal yang
berlangsung lama dan bertahap, sifatnya progresif dengan kreatinin klirens
(Sidabutar, 1983). Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal berupa fungsi
ekskresi, fungsi pengaturan, dan fungsi hormonal dari ginjal.
Jadi dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang mengalami gagl ginjal
kronik kadar albuminnya rendah jadi pada menu ini menambahkan ikan gabus
untuk membantu meningkatkan kadar albumin dan juga meningkatkan nafsu
makan pasien. Penambahan wortel untuk menurunkan Nilai Tekanan Darah
hingga mencapai normal yang bias dikonsumsi selama 3 minggu sebanyak 100 g.

5.2 Saran
1. Carilah jurnal yang sesuai dengan kasus yang didapat agar saat penambahan
modifikasi tidak susah mencari jurnal lagi.
2. Buatkan makalah yang baik dan sesuai dengan langkah-langkah atau format
yang telah ada.

29
DAFTAR PUSTAKA

Lewis, R. The pathophysiology underlying chronic kiney disease. 2009. Prim Care
Cardiovas J 2009 : Special Issue : Chronic Kidney Disease : 11-13.

Mansjoer, A., dkk (editor). 2001. Capital Selekta Kedokteran edisi 3. Penerbit : FKUI
Jakarta.

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta : PT Gramedia Pustaka


Utama.

Murray, R.K., dkk. (2003). Biokimia Harper. Edisi 25. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Halaman 270.

National Kidney Foundation, 2010. Chronic Kidney Disease (CKD). Available from:
http://www.kidney.org/kidneyDisease/ckd/index.cfm#what [Accessed 22 April
2010].

Nursalam., Fransisca, BB., 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan


Gangguan Sistem Perkemihan. Salemba Medika, Jakarta.

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), 2003. Penyakit Ginjal Kronik dan


Glomerulopati: Aspek Klinik dan Patologi Ginjal. PERNEFRI, Jakarta.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.

Pranay, K., Stoppler, M.C. (ed), 2010. Chronic Kidney Disease. Available from:
http://www.emedicinehealth.com/chronic_kidney_disease/page18_em.htm#Aut
hors%20a nd%20Editors.

Price, S.A., 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Buku II.
Edisi 4. EGC, Jakarta.

Soekarto, T. Soewarno. 1985. Penilaian Organoleptik. Jakarta : Bhratara Karya


Angkasa.

30
Suharyanto., Abdul, Madjid. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Gangguan Sistem Perkemihan. Trans Info Media. Jakarta.

Sunaryo E. 1985. Pengolahan Produk Serealia dan Biji-bijian. Bogor: Fakultas


Teknologi Pertanian IPB.

Uhing, M.R. (2004). The Albumin Contro Versy. Clin Perinatol. 31(3): 475- 488.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15325533. diakses pada tanggal 9
Oktober 2013.

Winarno, FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/diet_rendah_prot-nabati.pdf

31