Anda di halaman 1dari 27

PENGENDALIAN KUALITAS

MAKALAH

(Guna Memenuhi Tugas Manajemen Operasional Lanjutan)

Oleh:

Bima Segara Sakti 100810201008

Adrian Suryo M 100810201010

Ahmad Ulinnuha 100810201128

Hermawan Bagus 100810201137

Bayu Tri Nugroho 100810201151

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JEMBER

2012
PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Pengendalian Kualitas”
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang turut membantu atas terselesainya
makalah kami ini guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Operasional Lanjutan
kami.

Untuk lebih sempurnanya makalah ini, kami berharap pada pembaca makalah ini
untuk menyampaikan saran dan kritiknya kepada kami mengenai makalah ini agar dapat kami
jadikan sebagai acuan yang lebih baik dalam membuat makalah-makalah selanjutnya.

Jember, November 2011

Fakultas Ekonomi, Universitas Jember


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kualitas merupakan salah satu bagian penting dan perlu mendapatkan perhatian yang
serius bagi manajer dalam menjalankan strategi operasinya.Pada era seperti saat ini kualitas menjadi
penentukeberhasilan dari suatu produk yang dilempar ke pasar. Dari waktu ke waktu akan terus terjadi
kecenderungan proses pengembangan produk yang lebih baik, lebih canggih, lebih memiliki kualitas,
lebih murah dibandingkan dengan produk yang sebelumnya karena semakin berkembang dan
bertambah majunya teknologi.Pada saat ini operasional pabrik dituntut untuk menjadi unggulan dalam
daya saing maupun unggulan dalam kualitas produk yang diciptakan.Maka dari itu diperlukan
antisipasi berupa kemitraan atau kerjasama dengan para pemasok atau supplier suku cadang
komponen dengan standar kualitas yang mumpuni.

Pemasok atau supplier harus dapat menunjukkan bukti bahwa suku cadang komponen yang
mereka pasok memiliki standar kualitas seperti yang dikehendaki oleh manajemen kualitas.Oleh
sebab itu, maka perusahaan perlu memperhatikan teknik - teknik pengawasan kualitas untuk
menentukan apakah menerima atau menolak suku cadang komponen yang dipasok.Selain itu
diperlukan pula pengawasan kualitas agar dapat mengurangi jumlah produk cacat yang timbul oleh
sistem operasi perusahaan.

Teknik - teknik pengawasan kualitas ini mampu untuk memberikan bukti dan jaminan kepada
para konsumen bahwa produk atau komponen yang dihasilkan memiliki kualitas yang terkontrol.
Pengawasan ini dapat dilakukan secara statistika atau yanga lain. Dalam pengawasan atau engendalian
kualitas kita membutuhkan pembaharuan untuk mempermudah proses produksi.

1.2 Rumusan Masalah


Didalam manajemen operasi tidak akan bisa lepas dari hal yang menyangkut tentang kualitas.
Produk yang memiliki kualitas baik akan mudah diterima dipasaran akan tetapi produk yang
kualitasnya kurang kemungkinan sulit diterima dipasaran. Maka dari itu perlu dilakukan pengendaian
kualitas.

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dipertanyakan hal - hal sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan pengendalian, kualitas dan pengendalian
kualitas?

2. Seberapa penting kualitas suatu produk baik barang maupun jasa?

3. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi kualitas?

4. Pendekatan apa saja yang dapat digunakan dalam pengendalian kualitas?

5. Bagaimana dan apa saja komponen dalam pengelolaan mutu?

6. Bagaimana dan apa saja komponen dalam kendali mutu?

1.3 Tujuan

Sesuai dengan pertanyaan pada rumusan masalah diatas makalah ini bertujuan, yaitu:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pengendalian, kualitas dan


pengendalian kualitas.

2. Untuk mengetahui penting dari sebuah kualitas.

3. Untuk memahami faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas.

4. Untuk mengetahui pendekatan apa saja yang dapat digunakan dalam


pengendalian kualitas.

1.4 Manfaat

Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi kami sendiri selaku pembuat makalah agar lebih
mengetahui lebih jauh mengenai kualitas dan bagaimana agar menjaga kualitas dengan cara
melakukan pengawasan atau pengendalian kualitas. Dan bermanfaat bagi bagi pembaca makalah ini
agar lebih memahami pengendalian kualitas dalam manajemen operasional.
BAB II PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Pengendalian Kualitas

Kegiatan pengendalian dilaksanakan dengan cara memonitor keluaran (output),


membandingkan dengan standart - standart, menafsirkan perbedaan - perbedaan dan mengambil
tindakan untuk menyesuaikan kembali proses - proses itu sehingga sama / sesuai dengan standar
(Buffa 1999 : 109). Pengendalian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kegiatan
produksi dan operasi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan apabila
terjadi penyimpangan tersebut dapat dikoreksi sehingga apa yang diharapkan tercapai.

Sedangkan kualitas memiliki berbagai definisi, diantaranya adalahkonsisten terhadap suatu


nilai target tertentu, kesesuaian terhadap kebutuhan pelanggan, pemenuhan suatu kebutuhan atau
produksi terhadap batas-batas spesifikasi. Semua definisi ini adalah tepat, dan dapat digunakan dalam
pembahasan mengenai metode pengendalian kualitas.

Deming (1982:176) menyatakan, bahwa kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau
konsumen.

Feigenbaum (1986:7) menyatakan, bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya ( full
customer satisfaction). Suatu produk berkualitas apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada
konsumen. Yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk.

Garvin dan Davis (1994) menyatakan, bahwa kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.

Dalam istilah perbendaharaan International Organization for Standardization (ISO)dikatakan


bahwa, kualitas adalah keseluruhan ciri dana karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya
dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar (Brian, 1993).

Menurut Garvin kualitas di definisikan menjadi lima, yaitu sebagai berikut:

1. Definisi Transcendent (kualitas relatif):


Kualitas adalah sesuatu yang secara umum telah diakui, yang berhubungan dengan
perbandingan fitur (features) dan karakteristik produk – produk.

2. Definisi Berbasiskan Produk:


Kualitas adalah ketepatan dan keterukuran variabel. Perbedaan dalam kualitas
mencerminkan perbedaan kuantitas beberapa atribut produk

3. Definisi Berbasiskan Pengguna :


Kesesuaian terhadap kegunaan yang diinginkan

4. Definisi Berbasiskan Manufactur :


Kesesuaian terhadap spesifikasi

5. Definisi Berbasiskan Nilai :


Definisi kualitas dikaitkan dengan biaya dan harga. Suatu produk dikatakan
berkualitas adalah produk tersebut menyediakan kinerja tertentu pada tingkat harga
yang dapat diterima atau sesuai dengan biaya yang dikeluarkan

Dari pernyataan –pernyataan mengenai definisi diatas terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam
elemen - elemen sebagai berikut:

1. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

2. Kualitas mencakup produk, tenaga kerja, proses, dan lingkungan.

3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang


dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada
masa mendatang).

Suatu produk akan dinyatakan berkualitas oleh produsen, apabila produk tersebut telah sesuai dengan
spesifikasinya. Kesesuaian mencakup beberapa unsur, yaitu:

1. Sesuai dengan spesifikasi fisiknya, misalnya ciri khusus, kekerasan,


teknologi.

2. Sesuai dengan prosedurnya.

3. Sesuai dengan persyaratannya.

Jadi, pengendalian kualitas merupakan alat untuk memperbaiki kualitas produk bila
diperlukan, mempertahankan kualitas produk yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah produk yang
rusak.
Selain itu pengendalian kualitas juga memiliki pengertian lain, diantaranya sebagai berikut:

1. Pengendalian kualitas adalah suatu aktifitas untuk menjaga dan mengarahkan


agar kualitas produk perusahaan dapat dipertahankan sebagaimana telah direncanakan
(Ahyari,1990 : 239).
2. Pengendalian kualitas adalah merencanakan dan melaksanakan cara yang
paling ekonomis untuk membuat sebuah barang yang akan bermanfaat dan
memuaskan tuntutan konsumen secara maksimal (Assauri,1999 : 18).
3. Pengendalian kualitas merupakan alat penting bagi manajemen untuk
memperbaiki kualitas produk bila diperlukan, mempertahankan kualitas, yang sudah
tinggi dan mengurangi jumlah barang yang rusak (Reksohadiprojo, 2000 :245).

Istilah “mutu”digunakan dalam berbagai cara; tidak definisinya yang jelas. Dari segi
pelanggan (konsumen), mutu kerap kali dikaitkan dengan nilai, kegunaan, atau bahkan harag. Dari
segi produsen, mutu dikaitkan dengan merancang dan membuat produk untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan.

Selama bertahun-tahun”mutu” telah memiliki pengertian yang berbeda. Pada awal dekade 1900-an,
artinya adalah pemeriksaan atau inspeksi. Semua barang jadi diperiksa dan setiap cacat diperbaiki.
Pada dekade 1940 an , kata “mutu” mendapat konotasi statistik. Pelopor pengendaliaan mutu secra
statistika – seperti shewat, dodge, romig, dan Nelson_ mengembangakan gagasan bahwa setiap proses
produksi tergantung pada tingkat variasi alami tertentu. Manajer pengendalian mutulah yang
bertanggung jawab untuk menemukan tingkat ini melalui metode statistika dan untuk men jamin
adanya pengendalian proses produksi. Pada dekade1960-an , “mutu” di perluas di luar produksi untuk
mencakup semua fungsi lain yang menggunakan konsep total pengen dalian mutu. Dengan total
pengendalian mutu, keseluruhan organisasi dimobilisasi untuk membantu men hasilkan produk yang
bermutu. Pengertian istialh “mutu” sekarang diperluas lagi untuk mencakup cacat-nol,
penyempurnaan berkesinambungan dan fokus pelanggan.

“Jadi dapat disimpulkan pengendalian kualitas atau mutu adalah aktivitas untuk
menjaga, mengarahkan, mempertahankan dan memuaskan tuntutan konsumen secara
maksimal dan mengurangi kerugian perusahaan sehingga dapat meningkatkan laba
perusahaan.”

2.2.Kecocokan Penggunaan

“Kualitas” pada umumnya telah di definisikan sebagai ”Kecocokan Penggunaan”. Ini berarti
bahwa produk atau jasa memenuhi kebutuhan pelanggan; artinya, produk itu cocok dengan
penggunaan pelanggan. Kecocokan penggunaan dikaitkan dengan nilai yang diterima pelanggan dan
kepuasan pelanggan. Hanya pelanggan bukan produsen yang mampu menentukan.

“Kecocokan Penggunaan” adalah konsep relatif yang berbeda antara satu pelanggan dengan
pelanggan lain. Dari segi produsen, perbedaan kualitas tidak bisa ditolerir. Produsen harus
menetapkan kualitas sekonkrit mungkin dan kemudian berusaha mencapai spesifikasi ini sambil
menyempurnakan produk, dan hasilnya dinilai oleh pelanggan. Produsen harus terus berusaha
memperbaiki kualitas, yakni melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan
manusia, yakni melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pelanggandan
mengurangi varibilitas di dalam semua proses. Penyempurnaan yang berkesinambungan adalah suatu
proses yang tidak pernah berakhir dan diarahkan oleh pengetahuan dan pemecahan masalah.

Menurut Juran dkk (1988), kecocokan penggunaan didasarkan pada lima ciri kualitas:

1. Teknologinya(misalnya, kekuatan dan kesulitan)


2. Psikologisnya(misalnya, cita rasa, kecantikan, status)
3. Orientasi waktu (misalnya, kehandalan dan kemepuan perawatan)
4. Kontraktual(misalnya, jaminan)
5. Etika(Misalnya kesopansantunan personal penjualan, kejujuran)

Kualitas untuk suatu produk manufaktur mungkin ditentukan terutama oleh karakteristik
teknologi, kontraktual, dan orientasi waktu, sedangkan produk jasa mungkin melibatkan semua ciri
yang disebut di atas. Kualitas umumnya lebih sulit di definisikan untuk produk jasa daripada untuk
produk manufaktur. Akan tetapi tanpa memmandang apakah produk jasa atau manufaktur kita bisa
mendefinisikan dimensi kualitas berikut:

1. Kualitas rancangan
2. Kualitas kesesuaian
3. “Kemampuan”
4. Bidang pelayanan

Kualitas rancangan ditentukan sebelum produk dihasilkan. Pada perusahaan manufaktur


kualitas rancangan dipertanggungjawabkan pada departeman rekayasa, tetapi pada jasa ditangani oleh
pemasaran dan operasi yang bekerja sama untuk merancang jasa. Kualitas rancangan ditentukan oleh
proses riset pemasaran, konsep rancangan, dan spesifikasi. Riset pemasaran biasanya ditujukan pada
pemenuhan kebutuhan pelanggan, yang akan menimbulkan konsep rancangan, yang menghasilkan
spesifikasi produk tertentu yang akan dijual ke pasar.
Kualitas kesesuaian adalah memproduksi suatu produk untuk memenuhi spesifikasi.apabila
produk sesuai dengan spesifikasi maka dianggap sebagai produk berkualitas meski mutu rancangan
rendah. Produk akan dianggap berkualitas jika sesuai dengan spesifikasi maka oleh operasi dianggap
berkualitas, meskipun kualitas rancangan rendah. Sebagai contoh sepasang sepatu murah akan bernilai
tinggi jika sesuai spesifikasi meskipun mutu rancangannya mungkin rendah. Dengan demikian
kualitas rancangan dan mutu kesesuaian menggambarkan dua penggunaan yang berbeda dari istilah
kualitas.

“Ketersediaan” berarti kesinambungan pelayanan kepada pelanggan. Suatu produk tersedia jika
keadaannya operasional dan tidak mengalami reparasi atau perawatan. Ketersediaan dapat di ukur
secara kuantitatif sebagai berikut:

Masa Operasi
Ketersediaan =
= Masa Operasi + masa reparasi / perawatan

Kehandalan mengacu pada lamanya waktu suatu produk dapat digunakan sebelum rusak.
Secara formal, kehandalan adalah kemungkinan bahwa suatu produk akan berfungsi selama produk
tertentu tanpa mengalami kerusakan. Kehandalan suatu produk dikaitkan dengan mean (rata-rata
hitung) waktu antara kerusakan (mean time between failure =MTBF), yaitu waktu rata-rata bahwa
produk itu kan berfungsi mulai dari satu kerusakan ke kerusakan lainnya. Semakin lama nilai MTBF
maka semakin handal produk tersebut.

“Kemampuan Perawatan” mengacu pada pemulihan suatu produk jika mengalami kegagalan. Semua
pelanggan menganggap perawatan atau perbaikan sebagai gangguan. Jadi diinginkan tingkatan
kemampuan perawatan yang tinggi sehingga produk itu mampu dipulihkan kembali agar dapat segera
dipakai. Kemampuan perawatan dapat di ukur dengan waktu rata-rata untuk memperbaiki (mean time
to repair=MTTR) produk bersangkutan.

MTBF

Ketersediaan = MTBF+MTTR

Jika suatu produk memiliki MTBF 8 jam dan MTTR 2 jam maka setiap mengalami kegagalan maka
ketersediaanya adalah 80%.

Dimensi terakhir dari kualitas adalah bidang pelayanan, yang merupakan jaminan dan
perbaikan atau penggatian produk setelah dijual. Bidang pelayan bersifat tak berwujud, karena
dikaitkan dengan variabel seperti ketepatan, kompetensi, dan integritas. Pelanggan berharap bahwa
setiap masalah akan diperbaiki secara cepat, dengan cara yang memuaskan, dan dengan tingkat
kejujuran serta kesopanan yang tinggi. Akan tetapi, bidang pelayanan kerap kali ditemukan sebagai
dimensi kualitas yang paling jelek definisinya serta paling jelek pengendaliannya.

Mutu Riset Pemasaran


Mutu rancangan Mutu Konsep
Mutu Spesifikasi

Teknologi
Mutu kesesuaian Daya Manusia
Kecocokan
penggunaan Manajemen

Kehandalan

Ketersediaan Kemampuan Perawatan


Dukungan Logistik

Ketepatan
Bidang Pelayanan Kompetensi

Kepaduan

2.3.Proses Perencanaan Dan Pengendalian Kualitas

Proses perancangan dan pengendalian kualitas memerlukan interaksi yang berkesinambungan


antara pelanggan, operasi dan bagian-bagian organisasi yang lain.pelanggan menetapkan
kebutuhannya, biasanya melalui fungsi pemasaran. Kebutuhan ini bisa dikemukakan langsung oleh
pasar ataupun melalui riset pasar. Kemudian bagian rekayasa merancang suatu produk guna
memenuhi kebutuhan tersebut atau bekerja sama dengan pelanggan memeodifikasi rancangan yang
cocok dan masih dalam batas kemampuan produksi, setelah konsep rancangan dan spesifikasi
diselesaikan, kualitas rancangan ditetapkan. Kemudian bagian rekayasa akan bekerja sama dengan
bagian operasi untuk menghasilkan produk yang ditetapkan atau jika memenuhi kesulitan, mengubah
spesifikasi tersebut. Bagian produksi harus secara terus-menerus menjamin bahwa produk itu di
produksi sesuai dengan spesifikasi dengan menaati kualitas kesesuain.
Untuk melaksanakan perencanaan dan pengendaliaan kualitas selama siklus kualitas,
diperlukan tahap-tahap sebagai berikut.

1. Definisikan sifat-sifat (atribut) mutu.


2. Tentukan bagaimana mengukur setiap atribut.
3. Tetapkan standart mutu.
4. Teatapkan program inspeksi.
5. Cari dan perbaiki penyebab mutu yang jelek.
6. Terus lakukan penyempurnaan.

Perencanaan pengendalian kualitas harus selalu mulai dengan sifat-sifat produk/jasa cocok
untuk digunakan dan mana yang tidak. Sebab itu suatu metode harus dirancang untuk menguji dan
mengukur kualitas bagi setiap atribut produknya. Setelah memutuskan teknik pengukuran yang akan
digunakan, perencanaan kualitas harus menetapkan standart yang menggambarkan jumlah kualitas
yang diperlukan pada setiap atribut. Biasanya standart ini dinyatakan sebagai batas toleransi (jumlah
plus minus)atau batas maksimum atau minimum yang dapat diterima. Standart juga dapat ditetapkan
sebagai sasaran yang diingikan.

Setelah standart ditetapkan, program pemeriksaan atau inspeksi dirumuskan. Tidak begitu
mudah memeriksa kerusakan produk.pada waktu kerusakan ditemukan, personel bagian kualitas harus
menemukan penyebab mendasar dan memperbaikinya. Penyebab kualitas yang jelek bisa meliputi
bahan baku yang tidak cocok, kurangnya pelatihan, prosedur yang tidak jelas, mesin yang salah dan
sebagainya. Apabila penyebab kualitas yang jelek ditemukan dan diperbaiki secara teratur, maka
sistem produksi akan berada dalam kendali yang konstan dan karenanya penyempurnaan mungkin
dilakukan.

Pendekatan yang lebih baik adalah terutama mencegah terjadinya kesalahan. Hal ini
memerlukan perancangan produk dan prosedur internal “yang sudah terbukti”, bekerja sama dengan
pemasok untuk mencegah kekeliruan, melatih karyawan sebelum masalah muncul dan melaksanakan
pemeliharaan preventif atas mesin-mesin. Pencegahan kerusakan lebih murah daripada perbaikan
kesalahan setelah kejadian. Namum demikian, apabila kesalahan benar-benar terjadi, harus secepatnya
diperbaiki dan sistem itu sendiri diubah guna mencegah terjadinya kesalahan sejenis.

2.4.Kebijakan Mutu

Untuk memulai proses manajeman kualitas, kebijakan kualitas harus ditetapkan lebih dahulu
oleh manajeman puncak. Pada gilirannya, kebijakan kualitas harus dihasilkan dari strategi perusahaan.
Untuk mambantu penetapan kebijakan dan strategi ini Strategic Planning Institute telah melakukan
studi PIMS (Profit Impact Of Market Strategy = Dampak Laba dari Strategi Pasar) [Buzzell dan
Gale(1987)]. Tujuan dasar studi ini adalah menentukan faktor-faktor apa yang mempengaruhi hasil
atas investasi dan berapa besarnya. Salah satu temuannya adalah bahwa produk dan jasa berkualitas
tinggi adalah paling menguntungkan.

Mengenai posisi pasar, studi PIMS memperlihatkan bahwa kualitas dan pangsa pasar
biasanya bejalan bersamaan. Perusahaan yang produknya berkualitas tinggi juga memiliki pangsa
pasar paling besar dan memperoleh keuntungan yang paling besar dari pertumbuhan pasar . Dari segi
kebijakan, perusahaan yang posisi pasarnya lemah harus menekankan kualitas sebagai suatu cara
untuk membangun pangsa pasar. Mereka lebih baik menggunakan kualitas dari pada harga atau
pengeluaran pasar. Studi PIMS mengilustrasikan peran kualitas dalam strategi, yang kadang-kadang
diabaikan masa lalu. Akhir-akhir ini, pentingnya kualitas dari segi strategi telah digambarkan secara
dramatis oleh persaingan global. Kualitas yang tinggi adalah strategi primer dari perusahaan Jepang
dan Jerman dalam meraih pangsa pasar Amerika Serikat di dalam industri mobil, elektronik, dan
peralatan mesin.

Perumusan kebijakan harus diikuti dengan mutu secara rinci ditetapkan secara berkala,
biasanya tahunan. Jika sistem manajemen berdasarkan tujuan (MBO= management by objective),
maka tujuan kualitas harus dimasukkan. Tujuan kualitas harus muncul tidak hanya pada laporan
MBO manajer kualitas tetapi juga dalam laporan setiap manajer yang terlibat dalam kualitas, seperti
operasi, pemasaran, perekayasaan, dan pelayanan lapangan.

2.5.Organisasi Untuk kualitas dan Konsep Total Kualitas Menyeluruh

Selain kebijakan dan tujuan, struktur organisasi adalah salah satu isu yang harus diputuskan
sebagai manajemen kualitas. Dalam perusahaan manufaktur, digunakan dua jenis dasar struktur
organisasi. Pertama, departemen kualitas terlepas dari manejemen operasi (manufaktur) dan langsung
melapor ke manajer umum. Kedua, departemen kualitas adalah bagian dari manufaktur dan melapor
ke manajer manufaktur, hal ini menimbulkan kontroversi. Mereka yang mendukung suatu fungsi
kualitas terpisah yang melapor kepada menajer umum menyatakan bahwa kualitas harus mandiri guna
menghindari kompromi kualitas dalam upaya mencapai jadwal dan mengurangi biaya. Pandangan ini
khususnya kuat dalam perusahaan yang melakukan kontrak dengan pemerintahan sebagi pelanggan.
Mereka yang mendukung bahwa kualitas harus berada dibawah manufaktur mengemukakan bahwa
anda tidak bisa memeriksa kualitas ke dalam suatu produk dan bahwa kualitas memerlukan koordinasi
yang dekat dengan tenaga kerja, pembeliaan dan semua tahap operasi.

Pada tahun-tahun belakangan ini, konsep kualitas menyeluruh telah dikembangkan karena
departemen kualitas dipandang sebagai kordinator organisasi bagi semua departemen lain yang
mempengaruhi kualitas, yaitu: manufaktur, pembelian, pemasaran, dan rekayasa. Dalam program
kualitas menyeluruh, setiap departemen harus mengidentifikasi peran yang tepat dalam kualitas dan
harus menetapkan tujuan untuk mempertahankan kualitas rancangan dan kesesuaian yang layak.

Konsep kualitas menyeluruh menuntut departemen kualitas untuk meluangkan lebih banyak
waktu untuk pemeriksaan dan pengendalian. Pendekatan kualitas menyeluruh menekankan
pencegahan kerusakan dan mengakui peran semua unit organisasi dalam mencapai sasaran kualitas.
Pendekatan sistem menyeluruh diperlukan yang melibatkan keseluruhan organisasi.dalam hal ini
departemen kualitas tidak bertanggung jawab sendiri atas kualitas tetapi sebaliknya, kualitas adalah
tanggung jawab semua orang. Departemen kualitas melaksanakan peran koordinasi untuk menjamin
setiap orang memberi sumbangan bagi pencapaian tujuan kualitas.

2.6.Pendekatan Deming

Bergerak di luar strategi dan struktur organisasi, W.Edwards Deming telah menekankan peran
yang harus dilakukan manajemen untuk penyempurnaan kualitas. Deming mendefinisikan kualitas
sebagai penyempurnaan yang berlanjut dari suatu sistem yang stabil. Definisi ini menekankan dua hal.
Pertama,suatu sitem (administrasi, rancangan, produksi, dan penjualan) harus stabil dalam pengertian
statistika. Kedua, adlah penyempurnaan berlanjut atas berbagai sistem guna mengurangi variasi dan
guna memenuhi kebutuhan pelanggan dengan baik. Deming menekankan bahwa eksekutif puncak
harus menegelola kualitas untuk jangka panjang dan tidak mengorbankan kualitas untuk memperoleh
laba jangka pendek. Manajemen harus menghentikan ketergantungannya pada pemeriksaan untuk
mencapai kualitas sebaliknya menekankan pencegahan kerusakan. Para pekerja dan manajer harus
memiliki peralatan yang tepat guna untuk mengidentifikasi penyebab variasi, mengendalikan variasi,
dan mengurang variasi di dalam produk.

2.7.Biaya Kualitas

Gagasan yang kuat dalam bidang kualitas adalah menghitung biaya kualitas. “Biaya kualitas”
adalah biaya karena tidak memenuhi persyaratan atau kebutuhan pelanggan, yaitu biaya karena
melakukan hal yang salah. Biaya kualitas meliputi kategori pencegahan, penaksiran, kegagalan. Biaya
kualitas bisa dibagi menjadi dua unsur, yaitu: Biaya Pengendalian dan Biaya Kegagalan. Biaya
pengendalian dikaitkan dengan kegiatan meniadakan kerusakan dari arus produksi, hal ini bisa
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pencegahan dan penilaian. Biaya pencegahan meliputi
kegiatan seperti perencanaan kualitas, kaji ulang produk baru, pelatihan, dan rekayasa kegiatan-
kegiatan ini dilakukan sebelum produksi terjadi dan ditujukan pada pencegahan kerusakan sebelum
terjadi. Kategori biaya pengendalian lain adalah penilain atau pemeriksaan yang ditujukan pada
penghilangan kerusakan setelah terjadi tetapi sebelum produk sampai kepada pelanggan.

Biaya kegagalan timbul selama proses produksi (internal) atau setelah produk itu
dikirimkan(eksternal). Biaya kegagalan internal meliputi hal-hal seperti barang sisa, kerja ulang,
penurunan kualitas, dan turun mesin. Biaya kegagalan eksternal maliputi jaminan produk, barang
yang dikembalikan, penyisihan sejenisnya.

Total biaya kualitas dapat diminimumkan dengan mengamati hubungan antara biaya mutu
dan derajat kesesuain terhadap persyaratan pelanggan, seperti pada gambar.

Total biaya

biaya

minimum biaya kegagalan

biaya pengendalian

Apabila derajat keselarasan sangat tinggi (kerusakan rendah), maka biaya kegagalan rendah
tetapi biaya pengendalian sangat tinggi. Apabila derajat keselarasan rendah (kerusakan tinggi), maka
akan terjadi kebalikannya. Jadi terdapat tingkat kesesuaian optimal diantara kedua ekstrem tersebut, di
mana total biaya kualitas bisa diminimumkan. Akan tetapi sekarang sudah diketehui bahwa titik
optimal tersebut mendekati nol dalm banyak kasus. Masalahnya adalah tidak mudah menemukan titik
biaya minimum untuk kualitas dan operasi, kecuali menurunkan biaya kualitas secara konstan. Yang
dapat dilakukan adalah merevisi sistem produksi antara lain, teknologi, pelatihan, sikap, dan
manajemen. Akibatnya biaya pengendalian dan biaya kegagalan sama-sama dikurangi. Manajemen
kualitas yang baik juga menuntut keseimbangan yang tepat antara biaya penaksiran dan biaya
pencegahan, sehingga total biaya pengedalian berada pada tingkat minimum.
2.8.Gugus Kualitas Dan Tim Proyek

Gugus kualitas biasanya merupakan kelompok sukarela karyawan yang bertemu secara
berkala untuk memecahkan masalah kualitas ditempat kerja. Pemimpin gugus kualitas mungkin
adalah karyawan atau salah seorang dari penyelia. Karyawan dilatih tentang tehnik pemecahan
masalah, dan mereka aktif mengumpulkan data dan memecahkan masalah bersama-sama.

Tim proyek biasanya ditugaskan oleh manajemen untuk memecahkan masalah kualitas
tertentu. Tim ini bisa terdiri dari pekerja lepas, staf, dan manajer yang akan mengumpulkan data,
menyarankan alternatif dan merekomendasikan tindakan kepada manajemen senior. Apabila masalah
telah dipecahkan, tim tersebut kerap kali diputuskan untuk dibubarkan.

Gugus kualitas dan tim proyek telah memeperoleh keberhasilan dan beberapa kegagalan,
dalam menyempurnakan kualitas. Tanpa dukungan dukungan manajemen dan bantuan yang
diberikan, kelompok tersebut akan gagal. Beberapa kelompok dibentuk untuk meningkatkan peran
serta karyawan, ketimbang memperbaiki kualitas dan belum mendapatkan dukungan jangka panjang
dari manajemen. Akibatnya masalah akan dipecahkan sesaat, tetapi kemudian upaya tidak dilanjutkan
dan kelompok itu goyah. Apabila gugus kualitas atau tim proyek dibentuk pada saat yang tepat
dengan cara yang tepat, maka dampaknya akan dramatis dan abadi bukan hanya terhadap kualitas
tetapi juga produktifitas dan kualitas umur kerja.

2.9.Pemaduan Pengambilan Keputusan Dan Umur Kerja

Keputusan yang diambil selama rancangan produk dan proses dan juga dalam mengelola
tenaga kerja secara langsung akan mempengaruhi kualitas. Keputusan rancangan produk harus
merinci secara jelas tujuan kualitas dan dan memberi spesifikasi untuk produk atau jasa yang
dirancang. Keputusan produk ini akan menurunkan secara efektif biaya kewajiban dan biaya kualitas
produk yang jika tidak keputusan maka biaya tersebut akan timbul. Dengan cara yang sama, proses
bisa dirancang dari prespektif kualitas guna menjamin pemenuhan tujuan kualitas. Proses arus lini
bervolume tinggi akan menjamin kualitas yang konsisten, sementara kualitas lebih sulit dikendalikan
untuk proses yang masanya sebentar dan proses proyek.

Dalam hal ini pendekatan kerusakan nol, sikap pekerja terhadap kualitas adalah penting dalam
mencapai tujuan operasi kualitas. Dengan cara yang sama, banyak keputusan mengenai tenaga kerja
mempengaruhi kualitas di dalam operasi. Pendekatan total dalam kualitas menekankan saling
keterkaitan antara kualitas, keputusan dalam operasi, dan bagian lain dalam perusahaan. Karena
keputusan rancangan produk, rancangan proses, dan manajemen tenaga kerja mempengaruhi kualitas,
maka keputusan ini harus dipadukan dengan tepat dengan keputusan kualitas.
2.10.Rancangan Sistem Kendali Kualtas

Dalam setiap kendali kualitas untuk memproduksi suatu barang maupun jasa. Dalam
pengendalian kualitas manajemen harus mengidentifikasi setiap proses yang akan dikendalikan dan
dimana tempat pemeriksaan atau pengukuran harus dilakukan. Setelah itu manajemen harus
menentukan jenis dan jumlah pengukuran di setiap titik yang dibutuhkan. Akhirnya manajemen harus
menentukan siapa yang akan melakukan pemeriksaan. Jika keputusanan ini diambil maka akan
menetapkan pengendalian kualitas yang lengkap dan menjamin adanya penyempurnaan yang
berkesinambungan dari suatu sistem yang stabil.

Langkah pertama dalam perancangan pengendalian kualitas adalah mengidentifikasi titik


kritis pada setiap proses, dimana pemeriksaan diperlukan. Pedoman untuk melakukan hal ini sebagai
berikut:

1. Periksa bahan baku yang masuk atau jasa yang dibeli untuk memastikan kesesuaian
pemasok terhadap spesifikasi. Tetapi pemasok yang berkualitas akan mendapatkan
kepercayaan lebih oleh perusahaan.
2. Periksa barang atau jasa dalam proses pada saat penyerahan. Sebagai pedoman
umum, produk atau jasa harus diperiksa sebelum dilakukan operasi yang tidak dapat diubah
atau penambahan nilai yang cukup besar yang ditambahkan ke produk.
3. Titik kritis pemeriksaan ketiga adalah produk atau jasa terakhir.

Langkah kedua dalam merancang sistem kendali kualitas adalah memutuskan jenis
pengukuran yang akan digunakan pada setiap titik pemeriksaan . Pada umumnya ada dua jenis
pilihan, yaitu pengukuran yang didasarkan variabel atau atas atribut. Pengukuran atas variabel
menggunakan skala kontinyu untuk faktor-faktor seperti berat, panjang, lebar. Sedangkan pengukuran
atas atribut menggunakan skala diskrit dengan menghitung jumlah jenis barang yang rusak atau
jumlah kerusakan/cacat per unit.

Langkah kedua adalah mendefinisikan sistem kendali kualitas adalah memutuskan besarnya
pemeriksaan yang akan digunakan. Pilihan pada umumnya adalah pemeriksaan secara 100% atau
secara sampel. Prinsip yang mengarahkan keputusan ini adalah membandingkan lolosnya kerusakan
dengan biaya pemeriksaan.

Langkah terakhir adalah siapa yang harus melakukan pemeriksaan. Biasanya digunakan
kombinasi antara pekerja dari dalam atau pekerja dari luar. Jika digunakan filosofi “kerusakan nol”
atau “ lakukan dengan benar pada pertama kali ” maka pekerja mendapatkan tanggung jawab yang
lebih besar. Selain pekerja, pelanggan juga dapat memainkan peran pemeriksa.
2.11 Kendali Kualitas Secara Statistik

Inti pengendalian kualitas adalah penggunaan metode statistika untuk mengambil keputusan.
Terdapat dua jenis metode statistika yang berbeda yaitu: pengambilan sampel penerimaan dan kendali
proses.

2.11.1.Pengambilan sampel penerimaan

Pengambilan sampel penerimaan didefinisikan sebagai satu sampel atau lebih secara acak dari suatu
partai barang, memeriksa setiap barang di dalam sampel tersebut, dan memutuskan – berdasarkan
hasil pemeriksaan itu – apakah menerima atau menolak keseluruhan partai. Berlaku untuk
pemeriksaan partai dimana keputusan untuk menerima atau menolak suatu partai bahan ditentukan
berdasarkan sampel acak yang diambil dari sampel tersebut.jenis pemeriksaan ini dilakukan jika
produksi selesai. Jenis pemeriksaan ini dilakukan untuk menjamin pemasok yang sesuai spesifikasi
perusahaan. Pengambilan sampel penerimaan dilakukan jika biaya pemeriksaan 100% terlalu tinggi.
Dalam pengambilan sampel pemerimaan tunggal, satu sampel diambil satu partai dan keputusan
apakah menerima atau menolak partai tersebut di ambil setelah sampel itu di periksa. Secara foramal,
adalah:
n= besarnya sampel
c= jumlah penerimaan
x= jumlah unit rusak yang ditemukan pada sampel
Bagi penerimaan sampel tunggal, aturan keputusan apakah menerima atau menolak partai itu setelah
peeriksaan sampel adalah sebagai berikut:
Jika x ≤ c, terima partai itu
Jika x > c, tolak partai itu
Sebagi contoh pengambilan partai 10.000 jenis produk dan sampel 100 (n=100) dan menemukan 3
yang rusak (x=3). Asumsikan angka penerimaan adalah 2 (c=2) maka di tolak karena x<c.
Pengambilan sampel tunggal akan menjadi pengambilan sampel berganda jika dua sampel atau lebih
secara terpisah. Dalam hal ini, setelah sampel pertama, keputusan diambil apakah (a) meneriam,(b)
menolak,(c) mengambil sampel kedua. Kinerja pengambilan sampel, akan tergantung pada kualitas
jenis yang terdapat didalam partai yang masuk. Jika partai yang masuk mengandung jumlah
kerusakan yang rendah, maka tingginya presentase partai itu akan diterima. Hal ini terjadi karena
jumlah kerusakan pada jumlah sampel berada di bawah jumlah penerimaan, dan juga berlaku
sebaliknya.
Hubungan yang tepat antara mutu partai yang masuk dengan kemungkinan untuk menerima
(Pa) partai tertentu ditunjukkan dengan kurva karakteritik operasi (Operating Characteristic=OC)
pada gambar.

Sumbu y dari kurva OC menunjukkan kemungkinan untuk menerima suatu partai (atau
presentase dari partai yang diterima untuk banyak partai), sedangkan sumbu x menunjukkan
presentase unit rusak. Dengan demikian kurva OC menunjukkan kinerja dari rencana pengambilan
sampel yang diberikan untuk kualitas setiap partai yang masuk secara hipotesis. Kurva OC juga
membantu mengevaluasi rencana pengambilan sampel alternatif dan memilih rencana yang lebih
disukai.
Ada dua jenis kesalahan, yaitu: menolak suatu partai yang dianggap bermutu baik(jenis 1) dan
menerima suatu partai yang dianggap berkualitas jelek (jenis II). Kesalahan ini dapat di rumuskan
secara kuantitatif dengan memilih tingkat kualitas yang diterima (acceptable quality level = AQL) dan
presentase toleransi kerusakan partai( lot tolerence perfect defective = LTPD).
Apabila partai partai masuk memiliki tingkat kerusakan kurang dari atau sama dengan AQL, maka
partai itu harus diterima. Semua partai dengan kualitas masukan kurang dari atau sama dengan AQL,
yang ditolak oleh prosedur pengambilan sampel, dianggap kesalahan jenis 1. Kesalahan ini
dinyatakan dengan simbol α dan dianggap sebagi resiko produsen, kareana suatu partai yang bagus
ditolak.
α = probabilitas ( menolak suatu partai apabila tingkat perusakan = AQL)
Apabila partai memilki tingkat kerusakan sama dengan atau lebih dari LTPD, partai harus
ditolak. Menerima partaidengan mutu ≥ LTPD merupakan kesalahan jenis 2 dan dianggap sebagai
resiko konsumen. Dengan mengendalikan penetapan kedua titik kesalahan ini, manajemen akan
mengendalikan rencana yang dipilih dan biaya pengambilan sampel terkait.
β= Probabilitas (menerima suatu partai dengan tingkat kerusakan = LTPD)
Manajemen harus memilih nilai α,AQL,β,LTPD berdasarkan situasi ekonomi. Jika biaya
penolakan partai yang baik ( dengan mutu ≤ AQL) tinggi, maka harus dipilah nilai α rendah untuk
mengendalikan jenis kesalahan 1. Jika biaya menerima partai yang jelek tinggi maka nilai β yang
rendah harus dipilah untuk mengendalikan kesalahan jenis 2.

Perhitungan suatu rencana pengambilan sampel dari probababilitas kesalahan tertentu

Toko perangkat keras (hardware) ABC baru saja menerima kiriman sebanyak 1000 kunci
inggris. Jika AQL adalah 20 unit kerusakan dalam kiriman (2 persen) dan LPTD adalah 8 persen,
carilah rencana pengambilan sempel (n dan c) yang akan menghasilkan kesalahan jenis standar
sebesar 0.05 dan kesalahan jenis II sebesar 0,10
Dengan menggunakan nomograf. Carilah proporsi kerusakan partai untuk AQL = 0.02 pada
skala sebelah kiri dan probabilitas penerimaan 1- α = 0,95 pada skala sebelah kanan. Hubungkan
kedua titik tersebut dengan garis lurus, sebagaimana digambarkan pada pemetaan. Kemudian cari
nilai LTPD = 0,08 pada skala sebelah kiri dan β = 0,10 pada skala sebelah kanan, yang garis lurus
kedua. Di tempat dimana kedua titik itu berpotongan pada nomograf, bacakan nilai n dan c. Dalam hal
ini, n= 96 dan c = 4. Toko perangkat keras tersebut harus memeriksa 96 kunci inggris dan menerima
keseluruhan paratai jika jumlah unit yang rusak di dalam sampel kurang dari atau sama dengan 4.
PERHITUNGAN KURVA OC UNTUK RENCANA TERTENTU
Andaikan toko perangkat keras ABC memutuskan untuk memperketat rencana pemeriksaan
yang di hitung dalam kotak dengan membuat c=2 , sementara itu mempertahankan n=96, c=2,
sementara itu mempertahankan n= 96. Berapa nilai terkait untuk kurva OC dalam rencana revisi ini.
Untuk mengitug kurva OC, cari nilai titik n= 96, c= 2 pada nomograf. Putar garis di sekitar titik ini
dan bacakan pasangan nilai secara bergantian dari skala sebelah kiri dan skala sebelah kanan. Sebagai
contoh, jika proposal kerusakan partai p= 0.93 pada skala sebelah kanan. Dengan demikian table dari
pasangan nilai ini adalah

P 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,10
pa 0,93 0,72 0,48 0,28 0,16 0,08 0,04 0,02 0,01 0,004

Kurva OC ini dipetakan pada gambar. Dengan membandingkannya terhadap kotak perhatikan
pada p= AQL = 0,02 I kesalahan jenis I telah meningkat dengan memperketat rencana menjadi 1- Pa=
0,28. Pada saat yang sama, kesalahan jenis II pada p= 0,28. Pada saat yang sama, kesalahan jenis II
pada p = 0,08 telah berkurang menjadi 1- P a = 0,28. Pada saat yang sama, kesalahan jenis II pada p=
0,08 telah berkurang menjadi Pa= 0,02
2.11.2.Kendali Kualitas Proses

Kendali kualitas proses menggunakan pemeriksaaan produk atau jasa ketika barang tersebut
masih sedang di produksi. Sampel berkala diambil dari keluaran proses produksi. Apabila setelah
pemeriksaan sampel, terdapat alasan untuk mempercayai bahwa karakteristik kualitas proses telah
berubah. Pengendalian proses didasarkan atas dua asaumsi penting, yang salah satunya adalah bahwa
variabilitas adalah mendasar untuk setiap proses produksi. Tujuan kendali proses adalah untuk
menemukan kisaran variasi alami dari proses dan kemudian memastikan bahwa produksi tetap berada
pada kisaran ini.

Prinsip kedua proses adalah proses produksi tidak biasanya berada dalam keadaan terkendali.
Dengan begitu tugas utama manajer pengendalian proses mencari sumber-sumber variasi yang tidak
perlu dan membuat proses berada dibawah kendali statistika.

Suatu proses bisa dibawa kedalam keadaan terkendali dan bisa dipertahankan pada keadaan
ini dengan menggunakan bagan kendali kualitas. Pada bagan kendali kualitas sumbu y menunjukkan
karakteristik kualitas dan sumbu x menunjukkan waktu dan sampel tertentu yang diambil dari proses.
Garis tengah menunjukkan rata-rata karakteristik kualitasyang sedang diukur. Batas atas kendali
menampilkan variasi acak maksimum, dan batas bawah kendali menunjukkan batas bawah
maksimum. Secara umum, batas bawah dan bawah pengendalian ditetapkan pada (±) tiga standart
deviasi dari rata-rata hitung.

Apabila pengukuran jatuh didalam pengendalian maka proses berlanjut, dan jika pengukuran
jatuh diluar batas maka proses dihentikan dan di cari penyebabnya. Apabila kualitas di ukur dengan
atribut, maka karakteristik kualitas adalah presentase yang rusak di dalam proses. Presentase ini
ditaksir dengan mengambil sampel sebanyak n unit secara acak dari proses interval waktu tertentu.
Untuk setiap sampel dihitung presentase kerusakan yang diamati (p) didalam sample tersebut. Nilai
pengamatan dari p ini digambarkan pada bagan satu untuk setiap sample.

Untuk mendapatkan garis tengah dan batas kendali dari bagan pengendalian p, kita
mengambil sampel dalam jumlah besar yakni masing-masing sebanyak n unit. Nilai p tersebut
dihitung untuk setiap sampel dan kemudian dirata-ratakan untuk semua smpel guna menghasilkan
nilai p̄ . nilai p̄ ini digunakan sebagai garis tengah terbaik dari rata-rata presntase kerusakan
sesungguhnya dari proses tersebut kita juga menggunakn nilai p̄ untuk menghitung batas atas dan
batas bawah sebagai berikut:

UCL= P + 3 P(1-P)
n

LCL= P -3 P(1-P)
n

Standart deviasi dari proses adalah jumlah dibawah tanda akar. Kita menambahkan dan
mengurangkan tiga standar deviasi dari mean untuk memperoleh batas-batas pengendalian. Diberikan
coth prhitungan untuk mengendalikan operasi pencatat data pada computer.

2.12.Penyempurnaan Berkesinambungan

Mendefinisikan kendali kualitas sebagai penyempurnaan berkesinambungan dari status proses


yang stabil. Sasaran penyempurnaan berkesinambungan adalah untuk mengurangi variabilitas produk
atau proses. Ini umumnya memerlukan pemecahan masalah atau perubahan di dalam rancangan
produk atau proses itu sendiri. Perubahan semacam itu memungkinkan produk atau jasa dibuat lebih
dengan konsisten dengan lebih sedikit variasi dari satu unit ke unit lainnya.

Tiga tehnik penyempurnaan berkesinambungan antara lain: Diagaram Pareto, Diagram Sebab
Akibat, dan Rancangan Kasar, yang masing-masing metode mengandalkan pengumpulan dan analisis
data guna penyempurnaan produk atau mutu produk.

Dalam analisis Pareto, data dikumpulkan dari berbagai macam kegagalan produksi atau jasa
yang dihasilkan. Kemudian data itu ditabulasikan dalam rangka mengidentifikasi macam kegagalan
yang peling sering muncul. Menurut hukum Pareto, beberapa dari macam kegagalan menyebabkan
sebagian besar kerusakan. Langkah berikutnya dalam analisis ini adalah mengambil salah satu dari
jenis kegagalan ini, katakanlah, samabungan yang longgar dan menganalisis penyebab kegagalannya.
Hal ini dilakukan dengan menggunakan diagaram sebab akaibat, yang juga di sebut diagaram
Ishikawa, setelah Dr. Ishikawa (1976) pertama kali menggunakanya di jepang.
Dengan membangun diagram sebab-akibat, penyebab potensial dari masalah itu menjadi
nyata. Kemudian setiap penyebab potensial dievaluai satu per satu guna menemukan penyebab
sebenarnya dari masalah tersebut. Diagaram sebab-akibat kerap kali disusun dengan menggunakan
gugus kualitas atau kelompok pemecah masalah. Dengan menggunakan pengumpulan gagasan
kelompok itu akan menyusun berbagai kemungkinan penyebab masalah yan dihadapi. Kemudian
kelompok, atau perorangan, bisa mengumpulkan data untuk mempersempit penyebab yang mungkin
sebelum melakukan tindakan perbaikan.

Dengan menggunakan diagaram Pareto dan diagram sebab-akibat, maka dimungkinkan untuk
mengurangi kerusakan dan dengan demikian menyempurnakan kualitas. Cara lain yang lebih kuat
untuk mengurangi variabilitas prestasi produk atau proses adalah melalui rancangan kasar yang
menyeluruh. Hal ini dilakukan dengan merancang produk dan proses yang prestasi kualitasnya kurang
dipengaruhi oleh variable lingkungan. Rancangan kasar bisa jauh lebih murah dibandingkan dengan
mencoba mengendalikan variasi yang bersumber dari lingkungan selama proses produksi, seperti
suhu, cahaya, debu, dan sebagainya. Hal ini bisa juga menghasilkan mutu yang unggul selama
digunakan di lapangan diman lingkungannya tidak terkendalikan.

Kisah tentang produsen genteng di jepang, yaitu ina Tile Company, mungkin bisa membantu
mengganmbarkan prinsip-prinsip rancangan kasar tersebut. Ina tile company mencatat bahwa
distribusi suhu yang tidak merata di tempat pembakaran yang digunakan untuk menanggung genteng
menyebabkan variasi dalam ukuran genteng. Karena suhu yang tidak merata di tempat pembakaran
yang digunakan untuk memanggang genteng menyebabkan variasi dalam ukuran. Karena suhu yang
tidak stabil adalah penyebab yang diperkirakan, maka pendekatan pengendalian mutu proses akan
merancang suatu metode untuk mengendalikan suhu tersebut dengan lebih cermat, tentunya dengan
biaya yang sesuai. Karena perusahaan ingin menyempurnakan mutu dengan biaya yang lebih rendah,
ia mencoba untuk menemukan formulasi genteng yang tidak begitu peka terhadap suhu yang tidak
stabil. Penemuan ini adalah terobosan baru bagi industri genteng keramik

Contoh ini menggambarkan penemuan seperangkat parameter megurangi varibilitas selama


produksi. Yang jauh lebih penting adalah produk di lapangan untuk memperbaiki kinerja di lapangan
dan dengan demikian mengurangi total biaya bagi pelanggan dalam menggunakan produk. Hal ini
bisa juga digunakan untuk mengurangi varibialitas pelayanan yang di berikan kepada pelanggan
2.13.STANDART KUALITAS INTERNASIONAL

ISO 9000

Kualitas secara global sangat penting sehingga dunia bersatu menciptakan satu standart
kualitas yaitu ISO 9000. Standart ini merupakan satu- satunya standart kualitas yang diakui secara
internasional.

Untuk memiliki sertifikat ini (ISO 9000), suatu perusahaan atau organisasi harus melalui proses
selama 9 hingga 18bulan yang mencakup dokumentasi prosedur kualitas, penilaian lapangan, dan
serangkaian audit yang terus berjalan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. Pada tahun 2000 ISO
memperbaharui menjadi lebih seperti system manajemen kualitas yang lebih terperinci dan disebut
ISO 9001:2000

ISO 14000

Proses internasionalisasi kualitas yang terus terbukti dengan dikembangkannya ISO 14000.

ISO 14000 merupakan standart manajemen lingkungan yang mengandung lima elemen pokok:
manajemen lingkungan, audit, evaluasi kinerja, pelabelan, dan penilaian siklus hidup.

Standart baru ini memiliki kelebihan:

1. Citra public yang positif


2. Pendekatan sistematis yang baik untuk pencegahan polusi melalui minimalisasi dampak
ekologis dari poduk dan aktivitas perusahaan.
3. Ketaatan dengan persyaratan peraturan dan peluang untuk mendapatkan keunggulan bersaing.
4. Berkurangnnya kebutuhan untuk melakukan audit majemuk.

Standart ini telah diterima seluruh dunia dan digunakan oleh banyak perusahaan untuk
meyakinkan pelanggan.
BAB III KESIMPULAN

 Kualitas dapat dedefinisikan sebagai kecocokan penggunaan oleh pelanggan. Ada empat
dimensi kualitas yang menyumbang pada kecocokan penggunaan, yaitu: kualitas rancangan,
kualitas kesesuaian, kemampuan, dan pelayanan publik.
 Terdapat daur kualitas produk, yaitu mulai dari kebutuhan pelanggan melalui kualitas
rancangan, produksi, kualitas kesesuaian dan kualitas penggunaan oleh pelanggan
 Manajemen harus menetapkan kebijakan kualitas menyeluruh, dan kebijakan itu harus
diterapkan melalui tujuan spesifik yang ditetapkan manajer pada semua tingkatan.
 Konsep kulitas menyeluruh menggunakan pendekatan, sistem terhadap kualitas dengan
memadukan program dan tujuan kualitas disepanjang lini organisasi.
 Deming telah menyatakan bahwa manajemen perlu berubah agar kulitas bisa disempurnakan.
Ia juga menganjurkan agar tehnik pengendalian kualitas secara statistik digunakan secara
statistik.
 Biaya kulitas mengukur kurangnya kesesuaian terhadap persyaratan pelanggan. Biaya kulitas
dapat dibagi menjadi biaya pengendalian dan biaya kegagalan.
 Filosofi yang mengatakan “Buatlah Dengan Benar Dan Baiak Pada Saat Pertama Kali”
berguna untuk mencegah terjadinyakerusakan.
 Gugus kulitas dan tim proyek adalah cara yang efektif untuk melibatkan karyawan dalam
upaya perbaikan kulitas dan produktivitas.
 Kendali kulitas didefinisikan sebagai penyempurnaan berkesinambungan atas suatu proses
yang stabil. Proses tersebut sebenarnya adalah urutan subproses yang saling berhubungan
yang masing-masing memilki pelanggan internalnya.
 Pemeriksaan harus dipertimbangkan bagi masukan, sebagai bagian dari proses tersebut dan
untuk keluaran. Titik kritsi kendali untuk pemeriksaan paling baik digambarkan dengan bagan
arus proses.
 Kendali kulitas secara statistik dapat didasarkan atas pengambilan sampel penerimaan atau
pengendalian proses.
 Dalam pengendalian kulitas proses, sampel berkala diambil dari proses produksi secara
berkesinambungan.
 Penggunaan pengendalian proses secara statistik lebih di sukai dari pada secara pengambilan
sampel penerimaan apabila munikin diterapkan. Karena berorientasi pencegahan, sebagai
landasan penerimaan status pelanggan dan proses produksi yang stabil.
 Beberapa metode dapat diterapkan untuk menyempurnakan kulitas secara terus-menerus
antara lain: Bagan Pareto, diagaram sebab akibat, dan rancangan kasar.
 Didalam industri, sebagian besar perusahaan manufaktur menggunakan pengambilan sampel
penerimaan, pengendalian kulitas proses, diagram sebab akibat, dan bagan Pareto.
Penggunaan metode secara statistik lebih sedikt digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Schroeder, Roger G., Manajemen Operasi, Erlangga., Yogyakarta 1995.

Soeharto, Iman., Manajemen Proyek, Edisi Kedua, Erlangga, 2001.

Yamit, Zulian., Manajemen Produksi Dan Operasi, Edisi Kedua, penerbit BPFE UII, Yogyakarta,
2005.

www.google.com