Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu Keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses
keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan.
Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem-solving yang memerlukan
ilmu, teknik, dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
klien/ keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan
berhubungan. Antara lain yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi. Tahap tersebut berintegrasi dalam mendefinisikan suatu tindakan perawatan.
Salah satunya adalah implementasi atau pelaksanaan.

Pada saat implementasi perawat harus melaksanakan hasil dari rencana


keperawatan yang di lihat dari diagnosa keperawatan. Di mana perawat membantu klien
dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.

Sehingga, dengan proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan tanggung gugat
bagi perawat itu dapat dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-tindakan yang
merugikan atau menghindari tindakan yang legal. Semua tatanan perawatan kesehatan
secara hukum perlu mencatat observasi keperawatan, perawatan yang diberikan, dan
respons pasien.

B. Tujuan
1. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.
2. Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan keperawatan yang diberikan.
3. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
4. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru dalam proses
keperawatan.
5. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam pelaksanaan keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian implementasi keperawatan


Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan. Fokus dari intervensi keperawatan antara lain adalah:
- Mempertahankan daya tahan tubuh
- Mencegah komplikasi
- Menemukan perubahan system tubuh
- Memantapkan hubungan klien dengan lingkungan
- Implementasi pesan dokter

B. Tahap-tahap tindakan keperawatan


Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan, :
A. Tahap 1 : persiapan
Persiapan ini meliputi kegiatan-kegiatan:
a. Review antisipasi tindakan keperawatan
b. Menganalisis pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
c. Mengetahui yang mungkin timbul
d. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan
e. Mempersiapkan lingkungan yang kondusif
f. Mengindektifikasi aspek-aspek hukum dan etik

B. Tahap 2 : intervensi
Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab
perawat secara professional antara lain adalah :
a. Independent
Adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan
perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
Lingkup tindakan independent ini antara lain:
1. Mengkanji terhadap klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan dan
pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan klien
2. Merumuskan diagnosa keperawatan.
3. Mengindentifikasi tindakan keperawatan
4. Melaksanakan rencana pengukuran
5. Merujuk kepada tenaga kesehatan lain
6. Mengevaluasi respon klien
7. Partisipasi dalam konsumer atau tenaga kesehatan lainnya dalam
meningkatkan mutu tenaga kesehatan lainnya

Tipe tindakan independent keperawatan dapat dikategorikan menjadi 4, yaitu :


1. Tindakan diagnostik
a. Wawancara dengan klien
b. Observasi dan pemeriksaan fisik
c. Melakukan pemeriksaan laboratoriun sederhana, misalnya (Hb) dan
membaca hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut.

2. Tindakan terapeutik
Tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah klien.
Misalnya :
Untuk mencegah gangguan intergritas kulit dengan melakukan mobilisasi dan
memberikan bantal air pada bagian tubuh yang tertekan
Contoh penulisan :
11/10/2004 melalukan mobilisasi klien tiap 2 jam dan beri bantal air
pada bagian tubuh yang tertekan

3. Tindakan edukatif
Tindakan untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan
pendidikan kesehatan kepada klien.

Misalnya :
Perawat mengajarkan kepada klien cara injeksi insulin
Cara penulisan :
11/10/2004 mengajarkan klien cara injeksi insulin.

4. Tindakan merujuk
Tindakan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya
Contoh penulisan:
11/10/2004 Konsul dengan ahli terapi fisik mengenai kemajuan
klien menggunakan walker pada tanggal 12/10/2004

b. Interdependent
Yaitu suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan
lainnya, misanya tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter.
Misalnya dalam hal :
1. Pemberian obat-obatan sesuai dengan intruksi dokter. Jadi jenis, dosis dan
efek samping menjadi tanggung jawab dokter, tetapi pemberian obat sampai
atau tidak menjadi tanggung jawab perawat
2. Pemberian infus, kapan infus tersebut dipasang, akibat sampingan yang
mungkin timbul dari tindakan adalah tanggung jawab perawat.
Tipe tindakan independent keperawatan ada 4 yaitu:

1. Tindakan Diagnostik
• Wawancara dengan klien

• Observasidan pemeriksaan fisik

• Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana,misalnya HB dan membaca


hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut.

2. Tindakan terapeutik

Tindakan untuk mencegah,mengurangi, dan mengatasi masalah klien.

Misalnya:
Untuk mencegah gangguan integritas kulit dengan melakukan mobilisasi dan
memberikan bantal air pada bagian tubuh yang tertekan.

3. Tindakan Edukatif
Tindakan ini untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan
pendidikan kesehatan kepada klien.

Misalnya:

Perawat mengajarkan kepada klien cara injeksi insulin.

4. Tindakan Merujuk
Tindakan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya.

c. Dependent

Yaitu pelaksanaan rencana tindakan medis. Misalnya dokter menuliskan


“perawatan kolostomy”. Tindakan keperawatan adalah mendefinisikan perawatan
kolostomy berdasarkan kebutuhan individu dari klien.

3. Tahap 3 : dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikutin oleh pencatatan yang
lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

C. Kategori dalam Implementasi Keperawatan


Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori dari
implementasi keperawatan, antara lain:
1. Cognitive implementations, meliputi pengajaran/ pendidikan, menghubungkan tingkat
pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien
dengan disfungsi komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi
tim keperawatan, mengawasi penampilan klien dan keluarga, serta
menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan, dan lain lain./

2. Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan


pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal,
pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi
klien, role model, dan lain lain.

3. Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit,


melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari data dasar klien,
mengorganisir respon klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan mandiri,
kolaborasi, dan rujukan, dan lain-lain.

D. Metode Implementasi

1. Membantu dalam aktifitas kehidupan sehari-sehari


Aktifitas kehidupan sehari-hari adalah aktifitas yang biasanya dilakukan dalam
sepanjang hari normal: mencakup ambulasi, makan, berpakaian, menyikat gigi,
berhias.
2. Konseling
Konseling adalah metode implementasi yang mebantu klien menggunakan proses
pemecahan masalah untuk mengenali dan menangani stres dan yang memudahkan
hubungan interpersonal antara klien, keluarganya, dan tim perawatan kesehatan. Ini
berjtujuan untuk membantu klien menerima perubahan yang akaan terjadi yang
diakibatkan stres berupa dukungan emosional, intelektual, spiritual, dan psikologis.
3. Penyuluhan
Penyuluhan adalah metode implementasi yang digunakan untuk menyajiakn prinnsip ,
prosedur, dan teknik yang tepat tentang perawatn kesehatan untuk klien dan untuk
menginformasikan klien tentang status kesehatannya.
4. Memberikan asuhan keperawatan langsung.
5. Teknik tepat dalam memberikan perawatan dan menyiapkan klien untuk prosedur.
6. Mencapai tujuan perawatan.
7. Mengawasi dan mengevaluasi kerja dari anggota staf lain

E. Petunjuk Pendokumentasian Pelaksanaan (Implementasi)

1. Gunakan ballpoint tertulis jelas, tulis dengan huruf cetak bila tulisan tidak jelas. Bila
salah tidak boleh di tipp ex tetapi dicoret saja, dan ditulis kembali diatas atau
disamping.
Contoh: RR: 24 kali/menit, Seharusnya RR: 42 kali/menit
RR: 24 kali/menit, RR : 42 kali / menit
2. Jangan lupa selalu menuliskan waktu, jam pelaksanaan
Contoh 28 Mei 2008, pukul 18.00, memonitor tanda vital
RR : 42 kali/menit
Suhu : 39 C
Nadi : 98 kali/menit
TD :140/90 mmHg
3. Jangan membiarkan baris kosong, tetapi buatlah garis kesamping untuk mengisi tempat
yang tidak digunakan
Contoh: Mengukur suhu klien, hasil: suhu 39 C Hartifah, R.N
4. Dokumentasikan sesegera mungkin setelah tindakan dilaksanakan guna menghindari
kealpaan (lupa)
5. Gunakan kata kerja aktif, untuk menjelaskan apa yang dikerjakon.
Contoh : Memberikan obat tetes mata
6. Dokumentasikan bagaimana respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan
7. Dokumentesikan aspekkeamanan, kenyamanan dan pengawasan infeksi terhadap
klien. Juga tindakan-tindakan invasive harus dicatat.
Contoh : Memberikan kompres betadin pacia lokasi tusukan infus
8. Dokumentasikan pula modifikasi lingkungan bila itu merupakan bagian dari tindakan
keperawatan.
Contoh : Membatasi pengunjung, agar pasien dapat istirahat
9. Dokumentasikan.persetujuan keluarga untuk prosedur khusus dan tindakan invasif
yang mempunyai resiko tambahan.
10. Dokumentasikan semua informasi yang diberikan dan pendidikan kesehatan yang
diberikan.
11. Dokumentasikan dengan jelas, lengkap, bukan berarti semua kalimat harus ditulis,
tetapi kata-kata kunci dan simbol-simbol / lambang-lambang sudah baku/lazim dapat
digunakan
Contoh: IVFD, NGT, dll
12. Spesifik hindarkan penggunaan kata yang tidak jelas,bila perlu tuliskan ungkapan klien
untuk memperjelas maksud.
Contoh : Klien nampak cemas (salah), klien tidak dapat tidur, sering menekuk kaki
sebelahkanannya dah ia mengatakan "ingin bertemu' suaminya dulu sebelum mati'
13. Rujuk ke petunjuk, kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk penggunaan format

F. Tujuan Dokumentasi Pelaksanaan (Implementasi)

Tujuan Dokumentasi Pelaksanaan:

1. Mengevaluasi kondisi kesehatan pasien dalam periode yang singkat (evaluasi


formatif) setelah tindakan dilakukan.
2. Mengetahui jumlah tenaga/jenis tenaga kesehatan yang terlihat langsung memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien.
3. Mengetahui jenis tindakan keperawatan yang telah diberikan.
4. Mengetahui pendidikan kesehatan yang telah diberikan.
5. Dokumentasi legal intervensi keperawatan yang telah diberikan kepada klien dan
keluarganya

G. Manfaat Kegunaan Dokumentasi Implementasi

Manfaat Kegunaan Dokumentasi Implementasi:

1. Mengkomunikesikan secara nyata tindakan‑tindakan yang telah dilakukan untuk


klien. Hal ini penting untuk :
● Menghindarkan kesalahan‑kesalahan seperti duplikasi tindakan, yang seharusnya
tidak perlu terjadi.
Contoh : Pemberian obat sudah diberikan, tetapi tidak dicatat Sehingga diberikan
obat kembali.
● Quality Assurance (menjamin mutu ) yang akan menunjukkan apa yang secara
nyata telah dilakukan terhadap klien dan bagaimana hubungannya dengan standar
yang telah dibuat.
● Melihat hubungan respon‑respon klien dengan tindakan keperawatan yang sudah
diberikan (evaluasi klinis)
2. Menjadi dasor penentuan tugas
Sistem klasifikasi klien didasarkan pada dokumentasi tindakan keperawatan yang
sudah ada, untuk selanjutnya digunakan dalam menentukan jurnal perawat yang harus
bartugas dalam setiap shift jaga.
3. Memperkuat pelayanan keperawatan
Jalan keluar dari tindakan malpraktek tergantung pada dokumen-dokumen yang ada.
● Dokumen tentang kondisi klien
● Segala sesuatu yang telah dilakukan untuk klien.
● Kejadian‑kejadian atau kondisi klien sebelum dilakukan tindakan
● Menjadi dasar perencanaan anggaran pembelanjaan
Dokumen tentang penggunaan alat‑alat dan bahan‑bahan akan membantu
perhitungan anggaran biaya suatu rumah sakit

H. Catatan Keperawatan

1. Gunakan tinta yang jelas, menulis dengan huruf cetak / bila tulisan tidak jelas
2. Menulis pada catatan sesegera mungkin setelah memberikan askep
3. Menulis dengan sebenarnya : bagaimana kapan, dimana kegiatan dilakukan
4. Selalu membuat nama jelas dan paraf
Catatan meliputi :
● Pengkajian
● Intervensi → aktivitas
● Evaluasi → respon
I. Pendokumentasian Implementasi Menggunakan Lembar Alur

Memberi dan mendokumentasikan intervensi merupakan bagian integral dari


praktik keperawatan. Untuk mengurang beban dan waktu pencatatan naratif, maka dibuat
lembar alur. Lembar alur digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian,
mendokumentasikan keperawatan, atau keduanya. Kotak dibawah menggambarkan
beberapa kegunaan lembar alur.
Jika lembar alur digunakan dengan benar, maka akan menghemat waktu perawat
untuk mencatat. Pendokumetasian pengkajian dan perawatan pasien yang bersifat rutin
dan berulang-ulang akan menghabiskan banyak waktu perawat. Data rutin ini dapat
didokumentasikan dengan baik dalam lembar alur. Hindari mengulang data lembar aur
dalam catatan perkembangan, karena akan mengalahkan tujuan dari lembar alur dan
mengerjakan hal yang tidak perlu.
Catatan a suhan keperawatan harus memberikan data dasar yang lengkap tentang
status pasien dan intervensi asuhan keperawatan selama periode waktu yang ditentukan
(biasanya 24 jam). Jika format tersebut dirancang untuk memudahkan perbandingan
status pasien dari satu jam ke jam dinas berikutnya, maka perawat dapat lebih cepat
mengidenfikasi perubahan yang signifikan pada status pasien. Cantumkan istilah kunci
dalam lembar alur agar dijadikan petunjuk perawat. Misalnya, catatan asuhan
keperawatan di unit medikal bedah sering mencatumkan suatu bagian untuk
mendokumentasikan terpasang tidaknya penghalang tempat tidur dan terjakau-tidaknya
bel panggi. Lembar alur tersebut berfungsi sebagai alat pengingat perawat tentang
masalah keamanan pasien yang penting.
Misalnya, jika perawat melakukan pengkajian fisik mulai dari kepala sampai kaki,
informasi harus diatur untuk mempermudah dokumentasi.

Salah satu manfaat lembar alur adalah berkurangnya duplikasi dokumentasi.Pada saat
sebuah format sedang dibuat atau revisi, pertimbangkan apakah informasi dari dua format
dapat digabungkan menjadi satu lembar alur.

Banyak
Tujuan fasilitas
Lembar yang menggabungkan data pengkajian, informasi keseimbangan cairan,
Alur
1. perawatan
Untukrutin dan pengobatan,
kecepatan dan efesienserta catatan perkembangan
pendokumentasian keintervensi
data atau dalam satu lembar alur

2. untukUntuk
menghilangkan kemungkinan
menggabungkan diperlukan
data yang jika tidakberbagai formatakan
dikumpulkan yangtersebar
berbeda.dalam rekam

medis
3. Untuk mempermudah kontinuitas perawatan
4. Untuk mengurangi duplikasi dalam pencatatan
5. Untuk melindungi aspek legal pasien dan perawat
6. Agar dapat melakukan pengkajian status pasien dengan segera
7. Agar mudah membandingkan data pengkajian dasar dengan hasil pengkajian
8. Untuk mendokumentasikan informasi yang akan digunakan untuk evaluasi
perkembangan pasien dalam pencapaian hasil
Soal

Kasus I

Berdasarkan hasil pengkajian yang penulis lakukan pada tanggal 25 April 2013 pukul 08.30 WIB
didapatkan data: klien bernama Tn. I, klien bertempat tinggal di Waru Baki Sukoharjo, umur 31
tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan sebagai cleaning service, pendidikan klien terakhir
SMA, klien masuk RSJD Surakarta sejak tanggal 25 Maret 2013. Penanggung jawab klien
adalah Ny. S, bertempat tinggal di Sukoharjo, pekerjaan swasta, umur 48 tahun, jenis kelamin
perempuan, hubungan dengan klien adalah kakak kandung klien

Implementasi : Sapa Tn. I dengan ramah, perkenalkan nama lengkap, panggilan dan tujuan
berinteraksi, tanyakan nama lengkap Tn. I dan nama panggilan yang disukai Tn. I, tunjukan
sikap jujur dan menepati janji, tunjukan sikap empati dan menerima Tn. I apa adanya, tanyakan
perasaan Tn. I saat ini

1. Pada tahap implementasi diatas masuk dalam tindakan apakah yang dilakukan seorang
perawat ...
a. Tindakan diagnostik
b. Tindakan subyektif
c. Tindakan terapeutik
d. Tindakan edukatif
e. Tindakan merujuk

2. Metode apakah yang tepat digunakan seorang perawat dalam mengatasi pasien tersebut ...
a. Metode penyuluhan
b. Metode konseling
c. Metode pengawasan
d. Metode membantu
e. Metode edukatif

Implementasi kedua : pada tanggal 26 April 2013, pukul 10.00 WIB. Perawat melakukan
strategi pelaksanaan yaitu mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap
dengan orang lain. Perawat melakukan validasi dan evaluasi cara pertama yaitu menghardik
halusinasi. Perawat melatih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Ketika Tn. I
bercakap-cakap dengan orang lain, terjadi adanya distraksi dan fokus perhatian Tn. I akan beralih
dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain

3. Manakah dibawah ini yang masuk dalam pendokumentasian terapeutik yang benar ...
a. 26 April 2013 pukul 10.00 WIB Perawat melakukan strategi pelaksanaan yaitu

mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap

dengan orang lain

b. 26 April 2013 Perawat melakukan strategi pelaksanaan yaitu

mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap

dengan orang lain

c. pukul 10.00 WIB Perawat melakukan strategi pelaksanaan yaitu mengajarkan cara

mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain

d. Perawat melakukan strategi pelaksanaan yaitu mengajarkan cara

mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain


e. 26 April 2013 pukul 10.00 WIB Terjadi adanya distraksi dan fokus perhatian
Tn.I akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan
dengan orang lain

Kasus II

25 April 2013 Ny. N seorang ibu rumah tangga berumur 51 thaun didiagnos dari analisa data
ditemukan data subyektif antara lain: Ny. N mengatakan nyeri di ulu hati, provocate: makan
tidak teratur, quality: seperti ditusuk-tusuk, region: ulu hati, skala: 4, time: hilang timbul dan
sangat terasa saat batuk. Ny. N mengatakan suka makan-makanan asam, pola makan tidak pasti.
Ny. N juga mengatakan bahwa Ny. N tidak mengetahui apa gastritis itu, penyebab dari gastritis,
tanda dan gejalanya, juga faktor pencetus dari gastritis. Dari data obyektif ditemukan pada saat
kunjungan Ny. N terlihat tegang, ekspresi wajah Ny. N tampak menahan sakit, dari pemeriksaan
palpasi di abdomen di dapat nyeri tekan di ulu hati. Tekanan darah Ny. N 12080 mmHg, nadi 92
kali per menit. Untuk itu muncul diagnosa keperawatan nyeri akut pada Ny. N berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga Tn. D dalam mengenal masalah kesehatan tentang penyaki
gastritis dengan skor 4.

4. Dari diagonosa data diatas terdapat data subyektif dan obyektif yang dapat digunakan
sebagai pendokumentasian, dimanakah dibawah ini merupakan pendokumentasian yang
benar sesuai kasus diatas...
a. 25 April 2013
● Evaluasi derajat nyeri, catat lokasi, karakteristik dan intensitasnya, catat
perubahan Tanda-tanda vital dan emosi.
● Jangan tidur dalam posisi telentang, jangan tidur dengan posisi miring ke arah
kanan ini akan membuat otot pintu esofagus menjadi lemah sehingga asam
lambung akan dengan mudah naik ke atas
● Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan
b. 25 April 2013
● Dengan mengatur posisi semi fowler pasien diharapkan pasien merasa nyaman
● Dengan memberikan istirahat yang cukup diharapkan rasa nyeri pasien
berkurang
● Dengan menghindari makanan yang mengndung garam diharapkan dapat
menghindari peningkatan tekanan darah

c. 25 April 2013
● Mengkaji reflek tendon dan tonus oto
● Membantu dan mendorong pasien untuk melakukan aktivitas perawatan diri
secara bertahap.
d. 25 April 2013
● Menganjurkan untuk klien banyak minum
● Menganjurkan klien untuk istirahat dan melakukan kompres hangat pada
daerah perut.
e. 25 April 2013
● Mengauskultasi bunyi nafas, mencatat adanya bunyi nafas, misalnya :
wheezing, ronkhi
● Berikan bronchodilator sesuai indikasi.

5. Dalam membantu dokumentasi asuhan keperawatan yang diberikan kepada tim


kesehatan, merupakan salah satu tujuan utama dokumentasi yang sifatnya sebagai ...
a. Sebagai komunikasi
b. Sebagai informasi
c. Sebagai sumber data penclitian
d. Sebagai sarana pendidikan
e. Sebagai jaminan kualitas pelayanan keschatan

Kunci jawaban :

1. C

2. B

3. A

4. A

5. A

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Pendokumentasian implementasi proses keperawatan merupakan hal yang esensial guna
memberi suatu kejelasan dan deskripsi kronologis tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi
selama hospitalisasi pasien. Pengkajian keperawatan yang menyeluruh dan pendokumentasian
intevensi terhadap pengobatan merupakan cara membela diri yang terbaik jika terjadi tuntutan
malpraktik. Merancang format yang efisien yang dapat digunakan dengan mudah untuk mecatat
data akan mengingatkan proses keperawatan.

19

Daftar Pustaka
Ovedoff, David. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Klinik. Bina Rupa Aksara

Setiadi. 2011. Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan Praktik.
Surabaya : Graha Ilmu

http://makalahlistavanny.blogspot.co.id/2015/05/makalah-implementasi-keperawatan.html

https://www.academia.edu/5878928/STUDI_KASUS_ASUHAN_KEPERAWATAN_PADA_T
N._I_DENGAN_GANGGUAN_PERSEPSI_SENSORI_HALUSINASI_PENDENGARAN_DI_
RUANG_ABIMANYU_RUMAH_SAKIT_JIWA_DAERAH_SURAKARTA_PROGRAM_ST
UDI_DIPLOMA_III_KEPERAWATAN_SEKOLAH_TINGGI_ILMU_KESEHATAN_KUSU
MA_HUSADA_SURAKARTA_2013