Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


KEPERAWATAN

DISUSUN UNTUK

MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN DASAR

KELOMPOK 5:

1. Suwanto NIM: E520183570


2. Tri Yuni Pujiati NIM: E520183571

3. Wahyuningsih NIM: E520183572

4. Widaningsih NIM: E520183573

5. Yulianti NIM: E520183574

6. Yusuf Effendi NIM: E520183575

7. Tutuk Wizariyah NIM: E520183577

PROGRAM KHUSUS RSI PATI STUDI S-1KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemampuan kepada penulis, sehingga
dapat menyusun makalah tentang Implemntasi dan Evaluasi Keperawatan ini dengan lancar.
Sholawat dan salam semoga tetap dilimpah curahkan kepada Khotimul Anbiya Wal
Mursalin yakni Nabi Muhammad SAW. Sebagai Uswatun Hasanah bagi umat semesta alam.
Makalah ini disusun untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi para mahasiswa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, tentunya masih banyak
kekurangan, baik dari segi materi yang dipaparkan maupun dalam kesempurnaan sistematika.
Selanjutnya dengan kerendahan hati, penulis berharap kepada para pembaca agar
memberikan koreksi apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna memperbaiki
penulisan makalah dimasa yang akan datang.
Kami ucapkan terima kasih banyak kepada pihak yang telah membantu penulis dalam
pembuatan makalah ini. Semoga amal baik semua pihak dibalas oleh Allah SWT. dengan
balasan yang berlipat ganda. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan
para pembaca pada umumnya.

Pati, 5 Juni 2018


Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................... i


Daftar Isi ....................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar belakang ....................................................................... 1
b. Rumusan makalah ....................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
IMPLEMENTASI
Definisi implementasi ....................................................................... 3
Jenis implementasi ....................................................................... 3
Tahapan impmentasi ....................................................................... 5
EVALUASI
Definisi Evaluasi ....................................................................... 6
Tujuan Evaluasi ....................................................................... 6
Tahapan Evaluasi ....................................................................... 7
Faktor yang dievaluasi ....................................................................... 9
Macam-macam evaluasi ....................................................................... 9
BAB III PENUTUP ....................................................................... 13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu Keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses
keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik
keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem-solving yang
memerlukan ilmu, teknik, dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan klien atau keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap
yang sequensial dan berhubungan. Antara lain yaitu
pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap tersebut
berintegrasi dalam mendefinisikan suatu tindakan perawatan. Salah satunya adalah
implementasi atau pelaksanaan.
Proses keperawatan menyediakan struktur bagian praktis dengan
penggunaan pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan oleh perawat untuk
mengekspresikan kebutuhan perawatan (human caring). Keperawatan digunakan
secara terus-menerus ketika merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan
dengan mempertimbangkan pasien sebagai figur central dalam merencanakan asuhan
dengan mengobservasi respons pasien terhadap setiap tindakan sebagai
penatalaksanaan dalam suatu asuhan keperawatan.
Pada saat implementasi perawat harus melaksanakan hasil dari rencana
keperawatan yang di lihat dari diagnosa keperawatan. Di mana perawat membantu
klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik
yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
Evaluasi yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan
seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Penilaian
peoses menentukan apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan proses mulai dari
pengkajian, diagnosa, perencanaan, tindakan, dan evaluasi itu sendiri. (Ali, 2009)
Evaluasi merupakan tahap akhir yang bertujuan untuk menilai apakah tindakan
keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak untuk mengatasi suatu masalah.
(Meirisa, 2013). Pada tahap evaluasi, perawat dapat mengetahui seberapa jauh
diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan telah tercapai.
1
Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperwatan tetapi
tahap ini merupakan bagian integral pada setiap tahap proses
keperawatan. Pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan kecukupan data
yang telah dikumpulkan dan kesesuaian perilaku yang observasi. Diagnosis juga perlu
dievaluasi dalam hal keakuratan dan kelengkapannya. Evaluasi juga diperlukan pada
tahap intervensi untuk menentukan apakah tujuan intervensi tersebut dapat dicapai
secara efektif (Nursalam, 2008).
Sehingga, dengan proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan
tanggung gugat bagi perawat itu dapat dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-
tindakan yang merugikan atau menghindari tindakan yang legal. Semua tatanan
perawatan kesehatan secara hukum perlu mencatat observasi keperawatan, perawatan
yang diberikan, dan respons pasien.

B. Rumusan Masalah
1. Definsi dan tujuan implentasi keperawatan
2. fokus implementasi keperawatan
3. Jenis implementasi keperawatan
4. Tahapan implementasi keperawatan
5. Definsi dan tujuan evaluasi keperawatan
6. Katagori dan proses evaluasi keperawatan
7. Faktor yang dievaluasi dan macam – macam evaluasi keperawatan

2
BAB II

PEMBAHASAN

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

A. Pengertian Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan yang dimulai setelah
perawat menyusun rencana keperawatan. Implementasi keperrawatan adalah serangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria
hasil yang diharapkan(Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 1997).Intervensi
keperawatan merupakan bentuk penanganan yang dilakukan oleh perawat berdasarkan
pertimbangan pengetahuan klinis yang bertujuan meningkatkan hasil perawatan klien
(Bulechek, Butcher, dan Dochterman 2008).

B. Fokus Implementasi Keperawatan


 Membantu klien untuk mencapai tujuan yang diinginkan
 Mencakup dalam peningkatan kesehatan
 Mencakup pencegahan penyakit
 Mencakum pemulihan kesehatan
 Memfasilitasi klien

C. Tipe Implementasi Keperawatan


Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori dari
implementasi keperawatan, antara lain:
 Cognitive implementations
Meliputi pengajaran/ pendidikan, menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan
kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi
komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi

3
penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan, dan
lain lain.
 Interpersonal implementations
Meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan
komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan,
memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan
lain lain.
 Technical implementations
Meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit, melakukan aktivitas rutin
keperawatan, menemukan perubahan dari data dasar klien, mengorganisir respon
klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan
rujukan, dan lain-lain.

Sedangkan dalam melakukan implementasi keperawatan, perawat dapat


melakukannya sesuai dengan rencana keperawatan dan jenis implementasi
keperawatan.

Dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis implementasi keperawatan, antara lain:


 Independent implementations
Merupakan implementasi yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu
klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya:
membantu dalam memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan
diri, mengatur posisi tidur, menciptakan lingkungan yang terapeutik, memberikan
dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-spiritual, perawatan alat
invasive yang dipergunakan klien, melakukan dokumentasi, dan lain-lain.
 Interdependen/ Collaborative implementations,
Merupakan tindakan keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan
atau dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam hal
pemberian obat oral, obat injeksi, infus, kateter urin, naso gastric tube (NGT),
dan lain-lain. Keterkaitan dalam tindakan kerjasama ini misalnya dalam
pemberian obat injeksi, jenis obat, dosis, dan efek samping merupakan

4
tanggungjawab dokter tetapi benar obat, ketepatan jadwal pemberian, ketepatan
cara pemberian, ketepatan dosis pemberian, dan ketepatan klien, serta respon
klien setelah pemberian merupakan tanggung jawab dan menjadi perhatian
perawat.
 Dependent implementations
Merupakan tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain, seperti ahli
gizi, physiotherapies, psikolog dan sebagainya, misalnya dalam hal: pemberian
nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik
(mobilisasi fisik) sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi.

D. Tahapan Dalam Implementasi Keperawatan


Secara operasional hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam pelaksanaan
implementasi keperawatan adalah:
 Pada tahap persiapan.
 Menggali perasaan, analisis kekuatan dan keterbatasan professional sendiri.
 Memahami rencana keperawatan secara baik.
 Menguasai keterampilan teknis keperawatan.
 Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan.
 Mengetahui sumber daya yang diperlukan.
 Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan
keperawatan.
 Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan.
 Memahami efek samping dan komplikasi yang mungkin muncul.
 Penampilan perawat harus menyakinkan.

 Pada tahap pelaksanaan.


 Mengkomunikasikan/ menginformasikan kepada klien tentang keputusan
tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat.
 Beri kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya terhadap
penjelasan yang telah diberikan oleh perawat.

5
 Menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar manusia
dan kemampuan teknis keperawatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
yang diberikan oleh perawat.
 Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan tindakan adalah energi
klien, pencegahan kecelakaan dan komplikasi, rasa aman, privacy, kondisi
klien, respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan.

 Pada tahap terminasi.


 Terus memperhatikan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang
telah diberikan.
 Tinjau kemajuan klien dari tindakan keperawatan yang telah diberikan.
 Rapikan peralatan dan lingkungan klien dan lakukan terminasi.
 Lakukan pendokumentasian.

EVALUASI KEPERAWATAN

A. Pengertian Pendokumentasian Evaluasi

Tungpalan (1983) mengatakan bahwa “Dokumen adalah suatu catatan yang dapat
dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“. Sedangkan
pendokumentasian adalah pekerjaan mencatat atau merekam peristiwa dan objek
maupun aktifitas pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting

Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana
tentang kesehatan klien dengan melibatkan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga dan tenaga
kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan yang disesuaikan dengan criteria hasil pada tahap perencanaan.
(Setiadi,2012)

B. Tujuan Evaluasi Keperawatan


1. Tujuan umum

6
a. Menjamin asuhan keperawatan secara optimal
b. Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
2. Tujuan Khusus
a. Mengakhirin rencana tindakan keperawatan
b. Menyatakan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan
d. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan
e. Dapat menetukan penyebab apabila tujuan asuhan keperawatan belum tercapai
f.
C. Tahapan Dan Proses Evaluasi Keperawatan

Ada beberapa tahap evaluasi keperawatan, yaitu: (Ali, 2009)

1. Membaca kembali diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, intervensi


keperawatan.

2. Mengidentifikasi tolak ukur keberhasilan yang akan digunakan untuk mengukur


tingkat keberhasilan atau tingkat pencapaian tujuan, misalnya:

a) Tekanan darah normal 120/80 mmhg

b) Mampu mandi sendiri minimal dua kali/hari

c) Mampu menyebut dengan benar minimal tiga cara mencegah penyakit demam
berdarah

3. Mengumpulkan data atau mengkaji ulang pencapaian hasil sesuai dengan tolak
ukur keberhasilan atau kesesuaian proses pelaksanaan asuhan keperawatan dengan
standar/rencana keperawatan, misalnya hasil pengukuran tekanan darah 100/60,
klien Ali hanya mampu mandi sendiri satu kali dalam satu hari atau mampu
menyebut satu cara pencegahan demam berdarah.

4. Mengevaluasi pencapaian tujuan dengan cara sebagai berikut:

a) Penilaian hasil, yaitu membandingkan hasil (output) yang dicapai dengan


standar/tujuan yang telah ditetapkan.

7
Contoh: Tekanan darah normal 120/80, tetapi kenyataannya (hasil tindakan
keperawatan) tekanan darah 100/60, maka hasil yang dicapai lebih rendah dari
standar atau tekanan darah rendah. Jika tujuan keperawatan mampu mandi
sendiri dua kali sehari, ternyata hanya mampu satu kali, berarti tujuan tidak
tercapai.

b) Penilaian proses, yaitu mambandingkan proses pelakasaan dengan standar


prosedur atau rencana yang telah ditetapkan.

Contoh:

• Mengukur tekanan darah setiap 2 jam sekali, tetapi pengukuran tekanan darah
baru dilakasakan 8 jam sekali, maka hasil penilainnya adalah ada
penyimpangan prosedur.

• Sebelum makan harus cuci tangan (standar) tetapi pelaksanaannya “tidak cuci
tangan” berarti ada penyimpangan prosedur.

5. Cari penyebab ketidakberhasilan atau penyimpangan prosedur untuk bahan


penyesuaian/modifikasi rencana keperawatan.

6. Modifikasi rencana keperawatan. Apabila ada tujuan telah tercapai, kegiatan dapat
diarahkan pada masalah lain, misalnya pencegahan atau promosi kesehatan atau
promosi kesehatan atau diagnosis keperawatan yang lain. Apabila tujuan belum
tercapai, perlu dilakukan modifikasi rencana keperawatan dapat dihentikan. Jika
masalah telah teratasi semuanya, asuhan keperawatan dapat dihentikan. Langkah-
langkah modifikasi rencana keperawatan, yaitu:

a) Jika ada penyimpangan atau ada masalah baru, diagnosis


keperawatan/diagnosis kolaboratif tersebut tetap menjadi modifikasi diagnosis
yang lama.

b) Susun urutan prioritas masalah tersebut.


8
c) Tetapkan tujuan sesuai dengan diagnosis baru tersebut. Dengan
memperhatikan:

• Tujuan direncanakan secara spesifik dan realistis dalam kesempatan dan


waktu yang memungkinkan.

• Tujuan merefleksikan kemampuan perawatan sesuai dengan pilihan klien.

d) Kaji kembali intervensi keperawatan yang telah diberikan dengan menjawab


beberapa pertanyaan sebagai berikut:

• Apakah penilaian rencana tindakan telah dilakukan secara konsisten/

• Apakah intervensi keperawatan dapat meningkatkan kemampuan


klien/meningkatakan kesehatan klien?

• Apakah waktu pemberian intervensi yang lalu sudah cepat?

• Apakah situasi lingkungan cukup mendukung pelaksanaan intervensi?

• Intervensi apa yang dapat membantu meningkatkan kesehatan klien?

e) Identifikasi faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat pencapaian


tujuan.

f) Catat waktu (tanggal, jam) untuk revaluasi kembali.

g) Laksanakan intervensi sesuai dengan rencana modifikasi.

h) Semua data tersebut dicatat dalam format dokumentasi yang telah ditetapkan.

D. Faktor Yang Dievaluasi Dan Macam-Macam Evaluasi

Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara operasional dengan tahapan dengan


sumatif (dilakukan selama proses asuhan keperawatan) dan formatif yaitu dengan proses
dan evaluasi akhir. Evaluasi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

1. Evaluasi berjalan (sumatif)


9
Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisan format catatan perkembangan
dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai
adalah format SOAP. (Setiadi, 2008)

2. Evaluasi akhir (formatif)

Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan
dicapai. Bila terdapat kesenjangaan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam
proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data, masalah atau
rencana yang perlu dimodifikasi. (Setiadi, 2008)

Contoh format evaluasi formatif


Tanggal & Waktu No. Diag. Kep
Evaluasi
15 Juni 2003
16.00

1. S: Keluarga mengatakan bahwa masih ada materi minggu lalu yang tidak
dipahami yaitu tentang….

O: Keluarga dapat menjawab pertanyaan tentang….

Keluarga tidak dapat menjelaskan kembali tentang….

A: Implementasi yang dilaksanakan seminggu lalu dengan metode ceramah dan


media brosur, belum sepenuhnya dimengerti oleh keluarga. Perlu metode dan
media lain yang efektif.

P: Berikan pendidikan kesehatan ulang sesuai kesepakan dengan keluarga.

Metode dengan demonstrasi.

Media ditambah dengan bahan yang sesuai dengan kondisi di keluarga.

10
Contoh format evaluasi sumatif

Tanggal & Waktu No. Diag. Kep


Evaluasi
15 Juni 2003
16.00

1. S: Keluarga mengatakan bahwa masih ada materi minggu lalu yang tidak dipahami yaitu
tentang…...

Keluarga mengatakan tidak mampu untuk menyediakan sarana bagi lansia sesuai
dengan saran perawat.

O: Keluarga dapat menjawab pertanyaan tentang….

Keluarga tidak dapat menjelaskan kembali tentang….

Lansia yang ada di keluarga Bapak An belum mengenakan sandal karet setiap hari
selama di rumah.

Alat bantu untuk berjalan yang ditempel di dinding belum disedikan oleh keluarga.

A: Diagnosis keperawatan belum teratasi.

P: Lanjutkan intervensi.

Rujuk ke LSM yang menyediakan dana bagi Lansia.

Ajarkan keluarga membuat sandal karet dari ban bekas.

D. Jenis – Jenis Pencatatan Di Evaluasi

Ada dua jenis pencatatan evaluasi :


1. Catatan Pasen secara Tradisional
Catatan pasen secara tradisional merupakan catatan yang berorientasi pada sumber
dimana setiap sumber mempunyai catatan sendiri. Sumber bisa didapat dari
perawat, dokter, atau tim kesehatan lainnya. Catatan perawat terpisah dari catatan
dokter dan catatan perkembangan. Biasanya catatan ditulis dalam bentuk naratif.

11
Sistem dokumentasi yang berorientasi pada sumber yang ditulis secara terpisah-
pisah sulit menghubungkan keadaan yang benar sesuai perkembangan pasien.
Catatan tradisional umumnya mempunyai enam bagian, yaitu : catatan khusus,
lembar catatan dokter, lembar riwayat medik, lembar identitas, catatan
keperawatan, dan laporan khusus lainnya.

2. Catatan Berorientasi pada Masalah


Pencatatan yang berorientasi pada masalah berfokus pada masalah yang sedang
dialami pasen. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh dr. Lawrence Weed dari
USA, dimana dikembangkan satu sistem pencatatan dan pelaporan dengan
penekanan pada pasien tentang segala permasalahannya. Secara menyeluruh sistem
ini dikenal dengan nama “Problem Oriented Method”.
Problem Oriented Method (POR) merupakan suatu alat yang efektif untuk
membantu tim kesehatan mengidentifikasi masalah-masalah pasen, merencanakan
terapi, diagnosa, penyuluhan, serta mengevaluasi dan mengkaji perkembangan
pasen. POR adalah suatu konsep, maka disarankan untuk membuat suatu format
yang baku. Tiap pelayanan dapat menerapkan konsep ini dan menyesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi setempat.

Komponen dasar POR terdiri dari empat bagian, yaitu :


a. Data Dasar; identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan
sebelumnya. Riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan
lain-lain, data dasar diperlukan tergantung dari unit atau jenis asuhan yang akan
diberikan, misalnya: data dasar unit kebidanan akan berbeda dengan unit bedah.
b. Daftar Masalah; masalah pasien didapat dari hasil kajian. Pencatatan dasar
masalah dapat berupa gejala-gejala, kumpulan gejala, atau hasil laboratorium
yang abnormal, masalah psikologis, atau masalah sosial. Masalah yang ada
mungkin banyak sehingga perlu diatur menurut prioritas masalah dengan
memberi nomor, tanggal pencatatan, serta menyebutkan masalahnya. Daftar
memberikan keuntungan bagi perawat sebagai perencana keperawatan.
c. Rencana. Rencana disesuaikan dengan tiap masalah yang ada. Dengan
demikian perawat dapat merencanakan sesuai kebutuhan pasen.
12
d. Catatan Perkembangan Pasen. Adalah semua catatan yang berhubungan
dengan keadaan pasen selama dalam perawatan.

BAB III

PENUTUP

Implementasi dan evaluasi status pasien merupakan bagian terpenting dalam


proses keperawatan. Hasil yang ditetapkan secara jelas akan mengarahkan bagaimana dan
kapan evaluasi pencapaian hasil yang diharapkan harus dilakukan, dan menjadi kerangka
kerja untuk pendokumentasian.

Saat ini banyak digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja staf
keperawatan dan dasar perbandingan dengan lembaga pelayanan kesehatan lainnya. Lingkup
pendokumentasian penyuluhan pasien sudah disebarluaskan dengan mendokumentasikan
pasien, keluarga atau keduanya sudah memahami penyuluhan yang diberikan.

Perawat harus berfokus pada perbaikan pendokumentasian untuk


mendemonstrasikan peran mereka dalam membantu pasien ke arah pemulihan, stabilisasi
kesehatan, atau meninggal dalam damai.

13
DAFTAR PUSTAKA

Fisbach, F.T. (1991). Documeting care . F.A. Davis Company. Philadelphia.

Potter, A.P. & Perry,G.A.(1995). Fundamental of nursing. Mosby Company. St. Louis.

Setiadi.(2012).Konsep & Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan edisi-1.Graha


Ilmu:Yogyakarta.

Iyer,Patricia W.(2004).Nursing Documentation: A Nursing Process Approach, Third


Editin.EGC:Jakarta.

https://www.academia.edu/8537857/Dokumentasi Keperawatan Implementasi Keperawatan

http://www.slideshare.net/NikenAnindita/intervensi-dalam-proses-keperawatan

https://www.academia.edu/7513359/Dokumentasi Intervensi Keperawatan

14