Anda di halaman 1dari 6

KARAKTERISTIK SUMBERDAYA LAHAN KABUPATEN BENGKULU TENGAH

Hamdan 1)* dan Irma Calista Siagian 2)

Peneliti Pertama, BPTP Bengkulu Peneliti Pertama, BPTP Bengkulu Jalan Irian Km. 6.5 Bengkulu 38119 e-mail : dhan_firas@yahoo.co.id

2)

1)

ABSTRAK

Provinsi Bengkulu memiliki potensi sumberdaya alam yang terbatas, sehingga sangat diperlukan upaya pemanfaatan lahan secara optimal. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan pertanian berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya lahan yang belum dipetakan berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif. Pemetaan karaketeristik sumberdaya lahan ini dilakukan di Kabupaten Bengkulu Tengah dengan beberapa tahapan metodologi yaitu inventarisasi sumberdaya lahan dan evaluasi sumberdaya lahan. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengidentifikasi, mengkarakterisasi sumberdaya lahan di Kabupaten Bengkulu Tengah dan menyusun peta kesesuaian lahan berdasarkan zona agroekologi skala 1:50.000. Inventarisasi sumberdaya lahan dilakukan dengan beberapa tahapan kegiatan, yaitu: penyusunan peta dasar, analisis satuan lahan dan verifikasi lapangan sedangkan evaluasi sumberdaya lahan dilakukan dengan analisis contoh tanah dan penyusunan database. Berdasarkan hasil interpretasi dan pengamatan di lapangan, daerah penelitian dikelompokkan ke dalam 6 grup landform yaitu aluvial, marin, fluvio marin, tektonik, volkanik dan aneka bentuk. Karakteristik lahan yang digunakan dalam menilai lahan meliputi temperatur rata-rata tahunan, curah hujan, kelembaban udara, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman efektif, kematangan dan ketebalan gambut, KTK, KB, pH, C-Organik, N-Total, P 2 O 5, K 2 O, salinitas, alkalinitas, kedalaman sulfidik, lereng, batuan di permukaan, singkapan batuan, bahaya longsor, bahaya erosi serta tinggi dan lama genangan. yang Zona pengembangan pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah seluas 74.649,90 ha (71,40%) terdiri dari zona pengembangan tanaman pangan lahan basah dan lahan kering, zona pengembangan tanaman tahunan dan tanaman pangan dengan sistem wana tani dan zona pengembangan tanaman tahunan/perkebunan.

Kata Kunci:zona agroekologi, landform, sumberdaya lahan

PENDAHULUAN

Kebutuhan lahan yang semakin meningkat dan persaingan penggunaan lahan antara sektor pertanian dan non pertanian, memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan secara berkelanjutan. Permasalahan utama yang dihadapi berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya lahan untuk sector pertanian, yaitu belum dipetakannya tingkat kesesuaian lahan yang menunjukkan keunggulan komparatif. Pengembangan komoditas pertanian unggulan harus didukung oleh daya dukung agroekologi, artinya bahwa komoditas tersebut untuk dapat tumbuh dan berproduksi tinggi harus didukung oleh kondisi biofisiknya (tanah dan iklim), teknologi, dan sosial budaya petani. Selain itu komoditas pertanian tersebut harus mempunyai permintaan yang tinggi baik di pasar dalam maupun di luar daerah tersebut yang merupakan keunggulan kompetitif.

Provinsi Bengkulu memiliki potensi sumberdaya alam yang terbatas, sehingga sangat diperlukan upaya pemanfaatan lahan secara optimal. Dari luas wilayah provinsi 1.978.870 ha, hanya 1.000.913 ha (51,58%) yang dapat digolongkan sebagai kawasan budidaya. Selebihnya merupakan kawasan hutan dengan topografi bergelombang hingga berbukit/bergunung. Oleh sebab itu dalam pengembangan usaha pertanian, kebijakan yang diperlukan adalah mewujudkan optimalisasi penggunaan lahan, melakukan usaha intensifikasi teknologi pertanian dan penggunaan komoditas unggulan/spesifik lokasi pada lahan-lahan yang telah dimanfaatkan. Data dan informasi sumberdaya lahan yang dikemas dalam produk ZAE merupakan data dasar yang penting dalam perencanaan pengembangan sistem usaha pertanian spesifik lokasi. Penyusunan peta pewilayahan komoditas skala 1:50.000 Kabupaten Bengkulu Tengah berdasarkan ZAE dilakukan dengan identifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahannya melalui pendekatan analisis terrain, dengan mempertimbangkan karakteristik lahan yaitu relief, lereng, proses geomorfologi, litologi/bahan induk, dan hidrologi sebagai parameter dalam analisis terrain (Van Zuidam, 1986). Unsur-unsur terrain seperti lereng dan tingkat torehan mempunyai kaitan erat dengan tingkat kesesuaian lahan, sehingga delineasi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai satuan dasar dalam evaluasi lahan. Secara hirarki, terrain dapat dibedakan berdasarkan skala peta (1:250.000-

1:10.000) kedalam empat kategori yaitu: terrain province, terrain system, terrain unit, dan terrain

component. Kategori terrain unit yang setara dengan land catena dapat digunakan untuk mendelineasi satuan lahan pada skala 1:50.000 (Kips et al., 1981; Van Zuidam, 1986;

Meijerink,1988).

Kabupaten Bengkulu Tengah memiliki luas wilayah 112.394 ha yang terdiri dari 10 kecamatan, 112 desa definitif dan 1 kelurahan yang secara geografis berbatasan; Sebelah Utara dengan Kabupaten Bengkulu Utara, sebelah Selatan dengan Kabupaten Seluma, sebelah Timur dengan Kabupaten Kepahiang, dan sebelah Barat dengan Kota Bengkulu. Sebagai kabupaten baru, tentunya memerlukan data dukung yang memadai dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada khusunya sumberdaya pertanian. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengidentifikasi, mengkarakterisasi sumberdaya lahan di Kabupaten Bengkulu Tengah dan menyusun peta kesesuaian lahan berdasarkan zona agroekologi skala 1:50.000 serta memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan komoditas pertanian unggulan dengan melakukan evaluasi kesesuaian lahan sehingga dapat meningkatkan keunggulan komparatifnya dan melakukan analisis ekonomi untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya. Dengan meningkatnya keunggulan komparatif dan kompetitif tersebut, diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk baik secara regional, nasional dan bahkan internasional.

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian mencakup seluruh batas administrative Kabupaten Bengkulu Tengah, di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Utara, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Seluma, dan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kepahiang. Penyusunan Peta Satuan Lahan Kabupaten Bengkulu Tengah Skala 1:50.000 dilakukan dengan dua tahapan metodologi: 1. Inventarisasi Sumberdaya Lahan meliputi: penyusunan peta dasar, analisis satuan lahan dan verifikasi lapangan (pengamatan tanah, pengambilan contoh tanah, penyusunan satuan evaluasi lahan), 2. Penyusunan Peta Satuan Lahan, terdiri dari pendetilan peta satuan lahan skala 1:250.000 dilakukan dengan overlay peta kontur, peta lereng interval 12.5 dari Digital Elevation Model (DEM) dengan bantuan program SAGA serta interpretasi citra landsat 7 ETM+. Pengelompokkan landform mengacu pada Klasifikasi Landform LREP II (Marsoedi et.al, 1997). Pengambilan contoh tanah Contoh tanah diambil dari profil tanah atau minipit. Contoh tanah profil diambil di seluruh lapisan/horison tanah kemudian dianalisis di laboratorium untuk mendukung klasifikasi tanah, sedangkan contoh minipit diambil sampai kedalaman + 60 cm (mengikuti horisonisasi, dapat terdiri dari 2-3 contoh) untuk mendukung sifat kesuburan tanah yang mewakili satu jenis tanah di dalam satuan lahan. Apabila satuan lahan mempunyai penyebaran yang luas, pengambilan contoh tanah dilakukan pada beberapa lokasi pengematan dan distribusinya merata dan mewakili seluruh satuan lahan. Contoh tanah dianalisis di laboratorium Puslitbangtanak Bogor mengikuti metode yang tercantum dalam Soil Survey Investigation Report No. 1 (Soil Survey Lab. Staff, 1991), dan Penuntun Analisa Tanah (Balai Peneltian Tanah, 2005). Data hasil analisis tanah digunakan untuk reklasifikasi tanah, evaluasi tingkat kesuburan, dan evaluasi lahan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Peta Satuan Lahan Kabupaten Bengkulu Tengah

PEMBAHASAN 1. Peta Satuan Lahan Kabupaten Bengkulu Tengah Tabel 1. Legenda satuan lahan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Tabel 1. Legenda satuan lahan Kabupaten Bengkulu Tengah.

   

Relief

Elevasi

 

L

u

a

s

Simbol

Litologi

(% lereng)

(m dpl)

Karakteristik dan Klasifikasi Tanah

Ha

 

%

Af.1121-n

Endapan liat

Agak datar (1-3)

0-400

Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sangat terhambat; pH sangat masam; KTK 61,09 ( Tropaquepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sangat terhambat; pH masam; KTK 61,09 ( Tropaquepts) Sangat dalam; tekstur lempung liat berdebu; drainase sangat terhambat; pH masam; KTK 61,09 ( Tropaquepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 32,77 (Hapludults) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 32,77 (Hapludults) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 24,25 (Hapludults) Sangat dalam; tekstur liat; drainase cepat; pH masam; KTK 24,25 (Tropopsamments) Dalam; tekstur liat berdebu; drainase baik; pH masam; KTK 59,18 (Hapludults) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase terhambat; pH masam; KTK 11,82 (Hydraquents) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 36,26 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 36,26 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 62,01 (Dystropepts) Sangat dalam; liat; drainase sedang; pH masam; KTK 32,76 (Dystropepts) Sangat dalam; liat; drainase sedang; pH masam; KTK 32,76 (Dystropepts) Sangat dalam; liat; drainase sedang; pH masam; KTK 32,76

1.599,02

 

1,53

Af.1122-f

Endapan liat

Datar (0-1)

0-400

654,14

0,63

Af.12-n

Endapan liat

Agak datar (1-3)

0-400

1.845,30

1,77

Mf.32-f

Endapan liat

Datar (0-1)

0-400

2.647,57

2,53

Mf.32-n

Endapan liat

Agak datar (1-3)

0-400

7.394,78

7,07

Mf.32-u

Endapan liat

Berombak (3-8)

0-400

6.037,37

5,77

Mfq.111-n

Endapan liat, pasir

Agak datar (1-3)

0-400

1.193,14

1,14

Mfq.112-n

Endapan liat, pasir

Agak datar (1-3)

0-400

1.182,23

1,13

Bu.03-f

Endapan liat,

Datar (0-1)

0-400

gambut

1.383,32

1,32

Va.32-h

Tuff andesit

Berbukit (25-40)

400-700

3.233,72

3,09

Va.33-c

Tuff andesit

Berbukit kecil (15-25)

0-400

2.559,12

2,45

Va.33-m

Tuff andesit

Bergunung (>40)

700-1.200

3.523,69

3,37

Vab.31-n

Tuff andesit, basal

Agak datar (1-3)

0-400

351,74

0,34

Vab.31-r

Tuff andesit, basal

Bergelombang (8-15)

0-400

1.766,91

1,69

Vab.31-u

Tuff andesit, basal

Berombak (3-8)

0-400

57,34

0,05

       

(Dystropepts)

Sangat dalam; liat; drainase sedang; pH masam; KTK 32,76 (Dystropepts) Sangat dalam; liat; drainase sedang; pH masam; KTK 32,76 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 29,74 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 29,74 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat; drainase baik; pH masam; KTK 16,74 (Haplohumults) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 33,25 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 33,25 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat; drainase sedang; pH masam; KTK 22,37 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat; drainase sedang; pH masam; KTK 22,37 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 62,01 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat; drainase sedang; pH masam; KTK 22,37 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 62,01 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 62,01 (Dystropepts) Sangat dalam; tekstur liat berdebu; drainase sedang; pH masam; KTK 62,01 (Dystropepts)

   

Vab.32-c

Tuff andesit, basal

Berbukit kecil (15-25)

0-400

2.242,92

2,15

Vab.32-h

Tuff andesit, basal

Berbukit (25-40)

400-700

1.472,15

1,41

Vab.33-h

Tuff andesit

Berbukit (25-40)

400-700

915,62

0,88

Vab.33-m

Tuff andesit

Bergunung (>40)

700-1.200

11.630,56

11,12

Tq.101-n

Endapan batuan

Agak datar (1-3)

0-400

felsik kasar

2.176,06

2,08

Tq.102-u

Endapan batuan

Berombak (3-8)

0-400

felsik kasar

3.895,37

3,73

Tq.103-r

Endapan batuan

Berbukit kecil (15-25)

0-400

felsik kasar

3.138,36

3,00

Tq.111-n

Batu pasir

Agak datar (1-3)

0-400

98,15

0,09

Tq.112-u

Batu pasir

Berombak (3-8)

0-400

7.730,57

7,39

Tq.113-r

Batu pasir

Berbukit (25-40)

0-400

11.724,69

1,21

Tq.121-c

Batu pasir

Berbukit kecil (15-25)

0-400

8.056,03

7,71

Tq.121-h

Batu pasir

Berbukit (25-40)

700-1200

10.544,32

10,09

Tq.122-c

Batu pasir

Berbukit kecil (15-25)

0-400

780,51

0,75

Tq.122-m

Batu pasir

Bergunung (>40)

400-700

2.528,29

2,42

X.1

Bukit Terjal

 

1.132,68

1,08

X.2

Pemukiman

851,43

0,81

X.3

Tubuh air

32,30

0,03

X.5

Areal Tambang

169,98

0,16

Jumlah

104.549,36

100,00

Sumber:Dataprimer(diolah)2013.

Dari kegiatan pemetaan satuan lahan di Kabupaten Bengkulu Tengah dengan skala 1:50.000 dihasilkan 28 satuan peta tanah dan setiap satuan peta lahan/tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei dan pemetaan sumberdaya lahan mempunyai karakteristik-karakteristik yag dapat dirinci dan diuraikan sebagai karakteristik lahan, baik berupa karakteristik tanah maupun fisikk lingkungannya. Karakteristik lahan yang digunakan dalam evaluasi dapat bersifat tunggal maupun bersifat lebih dari satu karena mempunyai interaksi satu sama lain. Karenanya dalam interpretasi perlu mempertimbangkan atau membandingkan lahan dengan penggunaannya dalam pengertian kualitas lahan. Dari karakteristik lahan pada tabel 1 diketahui bahwa drainase pada 28 satuan peta tanah cenderung sedang hingga terhambat. Pada kondisi drainase sedang, air meresap ke dalam massa tanah agak lambat. Air tanah bebas berada di dalam tanah cukup dalam. Tanah basah terjadi hanya dalam wajtu yang singkat selama masa pertumbuhan, tetapi cukup panjang bagio pertumbuhan berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan yaitu tanah berwarna homogen, tanpa bercak atau karatan besi dan mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampau ≥ 50 cm. Sedangkan pada kondisi drainase lambat, air meresap ke dalam tanah secara sangat lambat, sehingga tanah menjadi basah pada lapisan teratas secara periodik selama masa pertumbuhan tanaman, atau selalu basah pada masa yang panjang. Air bebas biasanya berada di permukaan tanah dalam waktu yang cukup lama. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat ditemui di lapangan yaitu tanah berwarna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besi dan mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.

2. Rincian Relief Kabupaten Bengkulu Tengah

Berdasarkan bentukan relief, Kabupaten Bengkulu Tengah mempunyai ketinggian dari 0- 1.225m dpl). Lahan umumnya mempunyai relief dari datar sampai bergunung. Rincian relief lahan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rincian relief Kabupaten Bengkulu Tengah.

Simbol

Relief

Lereng

Beda Tinggi

Luas

(%)

(m)

Ha

%

F

Datar

<1

<5

4.685,03

4,48

n

Agak Datar

1-3

<5

15.462,34

14,79

u

Berombak

3-8

5-10

17.720,65

16,95

r

Bergelombang

8-15

10-50

16.633,47

15,91

c

Berbukit Kecil

15-25

10-50

13.638,58

13,05

h

Berbukit

25-40

50-300

12.932,08

12,37

m

Bergunung

>40

>300

20.916,25

20,01

X1

Lereng terjal

-

-

1.132,68

1,08

X2

Pemukiman

-

-

1.226,00

1,17

X3

Badan air/sungai

32,30

0,03

X5

Areal tambang

169,98

0,16

J u m l a h

104.549,36

100,00

Sumber: Data primer (diolah) 2013.

Penilaian kualitas/karakteristik lahan terhadap persyaratan tumbuh tanaman yang dinilai dipisahkan dalam tiga kelompok yaitu: (1) persyaratan tumbuh tanaman (crop requirements) yang merupakan karakteristik zone agroekologi; (2) persyaratan pengelolaan [management pengelolaan (management requirements)] yang merupakan grup manajemen atau grup perbaikan lahan; (3) persyaratan pengawetan (conservation requirements) yang merupakan grup konservasi dan lingkungan. Khusus bagi peruntukan pengembangan peternakan terdapat satu kriteria lainnya, yakni (4) persyaratan faktor kenyamanan (freshness) bagi kehidupan ternak. Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. karakteristik lahan yang digunakan dalam menilai lahan adalah temperatur rata-rata tahunan, curah hujan (tahunan atau pada masa pertumbuhan), kelembaban udara, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman efektif, kematangan dan ketebalan gambut, KTK, KB, pH, C organik, total N, P 2 O 5 , K 2 O, salinitas, alkalinitas, kedalaman sulfidik, lereng, batuan di permukaan, singkapan batuan, bahaya longsor, bahaya erosi serta tinggi dan lama genangan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat, DEM dan sumber lainnya dengan menggunakan analisis terrain, Kabupaten Bengkulu Tengah terdiri dari lima landform utama yaitu: alluvial, fluvio-marin, marin, vulkanik, tektonik dan bentukan lain (aneka). Dari lima landform tersebut terdapat 28 satuan peta tanah (SPT) dan empat satuan peta tanah aneka bentuk.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Tanah. 2002. Petunjuk Teknis Penyusunan Pewilayahan Komditas Pertanian Berdasakan Zona Agroekologi (ZAE) Skala 1:50.000 (Model 1). Balai Penelitian Tanah. 2002. Penyusunan Peta Satuan Evaluasi Lahan Untuk Pewilayahan Komoditas Pertanian Skala 1:50.000 Melalui Analisis Terrain (Model 2).

Buurman, P., and T. Balsem 1990. Land unit classification for the reconnaissance soil survey of Sumatra. TR No. 3, Version 2.1. LREP Project. Centre for Soil and Agroclimate Research, Bogor. CSR/FAO Staff. 1983. Reconnaissance land resource surveys 1: 250.000 scale Atlas Format Procedures. AGOF/INS/78/006. Manual 4, Version 1. CSRlFAO, Bogor. Dent, F.J., Desaunettes, J.R, and J.P. Malingreau. 1977. Detailed reconnaissance land resources surveys Cimanuk Watershed area (West Java). AGL/T'F/INS/44. Working paper No. 14. FAO/SRI, Bogor. Desaunettes, J. R 1977. Catalogue of landform fro Indonesia. Example of physiographic approach to land evaluation for agricultural development. AGL/TF/INS/44. Working paper No. 14. SRI/FAO. Bogor. Djaenudin, D., Marwan H., H. Subagyo, Anny Mulyani, dan N. Suharta. 2000. Kriteria kesesuaian lahan versi 3.0. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Environmental Systems Research Institute, Inc. 1996. Arc View GIS. FAO. 1977. Guidelines for soil profile description. FAO Soil Bulletin 73. Rome. Goosen, D. 1967. Aerial photo interpretation in soil survey. FAO Soil Bulletin No.6. Rome. Hartomi, H. D. dan H. Suhardjo. 2001. Kebijakan Pewilayahan Komoditas. Makalah Kebijakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Puslitbangtanak, Bogor. FAO. 1996. Agro-ecological zoning guidelines. FAO Soil Bulletin 73. Rome. Kassam, A.H., H.T. van Velthuizen, G.W. Fischer and M.M. Shah. 1991. Agroecological land resources assessment for agricultural development planning. A case study of Kenya. Resource data base and land productivity. Technical Annex 1. Land Resources. Land and Water Development Division, FAO, Rome.

Kips, A

Djaenudin, and Nata Suharta. 1981. The land unit approach to land

resources surveys for land use planning with particular reference to the Sekampung watershed, Lampung

Province, Sumatra., Indonesia. AGOF/INS/78/006. Technical Note No. 11. Centre for Soil Research, Bogor. Marsoedi, Ds., Widagdo, J. Dai, N. Suharta, Darul SWP, S. Hardjowigeno, J. Hof dan ER. Jordens. 1997. Pedoman klasifikasi landform LT 5 Versi 3.0. Proyek LREP II, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Marwan H., D. Djaenudin, Subagyo H., S. Hardjowigeno, dan E.R. Jordens. 2000. Petunjuk Teknis Pengoperasian Program Sistem Otomatisasi Penilaian Lahan (Automized Land Evaluation System/ALES)

Versi 3.0. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Muljadi, D., and F.J. Dent. 1979. Evaluation of Indonesian soil and land resources. Indonesian Agricultural Research and Development Journal. No. 1-2: 21-23. Mulyani, A. 2001. proposal Penelitian Pembinaan Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agroekologi (ZAE) Skala 1 : 50.000. Bagian Proyek Penelitian Sumberdaya Lahan dan Agroklimat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Rossiter, D.G. and A.R. Van Wambeke. 1997. ALES Version 4.65 User’s Manual. Cornell University. Dept. of Soil, Crop & Atmospheric Sciences. Ithaca, NY USA. Soil Survey Staff, 1998. Keys to Soil Taxonomy. United States Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. Eighth Edition, 1998. Sudaryanto, T. dan N. Syafa’at. 2000. Prosfektif Sektor Pertanian dan Peranan Kegiatan ZAE dalam Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Komoditas Unggulan. Hal 21-40 dalam Prosiding Pemberdayaan Potensi Regional melalui Pendekatan Zone Agroekolog menunjang Gema Prima. Mataram, 8-9 Maret

1999.

Van Zuidam, R. 1986. Air photo-interpretation for terrain analysis and geomorphologic mapping. Smits Publ. The Hague, The Netherlands.