Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PROTISTA MIRIP TUMBUHAN

RHODOPHYTA

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Protista


Yang dibina oleh Ibu Murni Sapta Sari
Disajikan Pada hari Kamis, 12 April 2018

Disusun oleh :
Kelompok 10 Offering B 2017

1. Nida Layli Asfia (170341615020)


2. Mafazatud Diniyyah (170341615017)
3. Tri Utami (170341615066)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
APRIL 2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terletak di daerah khatulistiwa
dengan luas lautnya mencapai 3.166.163 km2 dengan pantai sepanjang 81.000 km. Indonesia
memiliki potensi yang sangat besar di bidang perikanan dan kelautan ditunjang dengan
kondisi iklim tropis memungkinkan untuk tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman laut.
Diperkirakan Indonesia memiliki sekitar 555 jenis tanaman air dan 21 jenis diantaranya
berguna sebagai bahan makanan dan memiliki nilai ekonmis sebagai komoditas perdagangan.
Salah satu jenis tanaman laut adalah alga (Subandi, 2010)
Alga adalah biota laut yang umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak
mempunyai akar, batang maupun daun sejati tetapi hanya menyerupai batang yang disebut
talus. Alga tumbuh dengan mendekatkan dirinya pada karang lumpur, pasir, batu dan
tumbuhan lain secara spesifik (Laila, 2009). Untuk susunan tubuhnya, umumnya bersel
banyak (multiseluler), tetapi ada juga yang bersel tunggal (uniseluler) dan sering juga
membentuk filamen (benang) (Iryaningtyas, 2012).
Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna
atau pigmentasinya. Alga merah hidup di laut dan memiliki bentuk tubuh seperti rumput
sehingga sering disebut dengan rumput laut. Walaupun sebagian besar alga merah hidup di
laut yang beriklim tropis tetapi ada juga sebagian kecil yang hidup di air tawar yang dingin
dengan aliran deras dan banyak oksigen (Lestari, 2009).
Alga merah berwarna merah sampai ungu, tetapi ada juga yang lembayung atau
kemerah-merahan. Kromatofora berbentuk cakram atau lembaran dan mengandung klorofil a,
klorofil b, serta karotenoid. Akan tetapi, warna lain tertutup oleh warna merah fikoeritrin
sebagai pigmen utama yang mengadakan fluoresensi (Rachmawati, dkk., 2009).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan Rhodophyta?
2. Bagaimana ciri-ciri umum Rhodophyta?
3. Bagaimana habitat Rhodophyta di alam?
4. Bagaimana susunan tubuh dari Rhodophyta?
5. Bagaimana susunan sel dari Rhodophyta?
6. Bagaimana reproduksi dari Rhodophyta?
7. Bagaimana daur hidup dari Rhodophyta ?
8. Bagaimana klasifikasi dari Rhodophyta?
9. Bagaimana peranan Rhodophyta bagi kehidupan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk memahami pegertian Rhodophyta
2. Untuk memahami ciri-ciri umum Rhodophyta
3. Untuk mengetahui habitat Rhodophyta di alam
4. Untuk mengetahui susunan tubuh dari Rhodophyta
5. Untuk mengetahui susunan sel dari Rhodophyta
6. Untuk mengetahui reproduksi dari Rhodophyta
7. Untuk mengetahui daur hidup dari Rhodophyta
8. Untuk mengetahui klasifikasi dari Rhodophyta
9. Untuk mengetahui peranan Rhodophyta bagi kehidupan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Rhodophyta (Alga merah)


Alga merupakan tumbuhan talus yaitu tumbuhan yang struktur organ tubuhnya belum
dapat dibedakan dengan jelas (Puty,2001). Tubuhnya memiliki sel tunggal dan juga sel
banyak, yang berpigmen dan berklorofil.Umumnya tumbuhan ganggang hidup di tempat
yang lembab, baik di air tawar maupun air laut. Semua alga mengandung klorofil tetapi ada
pigmen lain yang ,menyusun yang terkandung dalam plastid (Campbell, 1992).
Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu divisi alga berdasarkan zat warna atau
pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah
banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya banyak
sel (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk
berkas atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan
(sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah
sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus
(Tjitrosoepomo, 2005).

Rhodophyta (ganggang merah) umumnya hidup di laut dan beberapa jenis di air tawar,
mengandung pigmen klorofil a, klorofil d, karoten, fikoeritrin, fikosianin.Tubuh bersel
banyak menyerupai benang atau lembaran.Reproduksi vegetatif dengan spora (Bold, 1978).
Alga merah berbentuk lembaran. Susunan Sel Rhodophyta berwarna merah sampai
ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerah-merahan, kromatofora berbentuk
cakram atau suatu lembaran, mengandung klorofil-a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup
oleh zat warna merah yang mengadakan fluoresensi, yaitu fikoeritrin. Pada jenis-jenis
tertentu terdapat fikosianin. Sebagai hasil asimilasi terdapat sejenis karbohidrat yang disebut
tepung floride, yang juga merupakan hasil polimerisasi glukosa, berbentuk bulat, tidak larut
dalam air, seringkali berlapis-lapis, jika dibubuhi yodium berwarna kemerah-merahan.
Tepung ini sifatnya lebih dekat kepada glikogen, dan tidak terdapat dalam kromatofora,
melainkan pada permukaannya. Selain tepung floride terdapat juga floridosida (senyawa
gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes minyak. Pirenoid kadang-kadang juga terdapat. Selain
beberapa perkecualian, rhodophyta selalu bersifat autotrof. Yang heterotrof tidak mempunyai
kromatofora dan hidup sebagai parasit pada lain ganggang. Dinding sel terdiri atas dua lapis,
yang dalam terdiri atas selulosa, yang luar terdiri atas pectin yang berlendir (Bold,1978).
2.2 Ciri-ciri Rhodophyta
Sementara itu, Rhodophyta memiliki beberapa ciri-ciri. Rhodophyta secara spesifik
dipaparkan sebagai berikut (Bold,1978):

1) Mengandung kloroplas berisi fikoeretrin lebih banyak dibandingkan klorofil, ada


karotenoid, sedikit fikosianin.
2) Kebanyakan hidup di air laut, yaitu laut dalam yang hanya dapat dicapai oleh cahaya
bergelombang pendek. Hidup sebagai bentos, melekat pada substrat dengan
benang/cakram pelekat.
3) Bersifat autotrof, tetapi ada yang heterotrof. Yang heterotrof tidak berkromatofora dan
hidup sebagai parasit pada ganggang lain.
4) Hasil asimilasi berupa tepung floridae (mirip glikogen) dan floridosida (senyawa
gliserin dan galaktosa) serta tetes minyak. Kadang terdapat pirenoid.
5) Dinding sel ganggang merah terdiri atas selulosa (sebelah dalam) dan pektin berlendir
(sebelah luar).
6) Bentuk talus beranekaragam dengan jaringan tubuh yang belum bersifat parenkim
tetapi hanya berupa plektenkim.
7) Reproduksi aseksual dengan spora, dan seksual dengan cara oogami. Spora atau gamet
tidak berflagel, jadi tidak dapat bergerak aktif.

2.3 Habitat Rhodophyta


Sebagian besar alga merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian
kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada
pula yang hidup di air payau. Alga merah yang banyak ditemukan di laut dalam adalah
Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum menyukai laut dangkal. Rhodophyta
yang ada di habitat air tawar dan tanah adalah spesies dari genus Audouinella, Bangia,
Batrachospermum, Chroodactylon,Hildenbrandia, Lemanea dan Porphyridium. Beberapa
genus, misalnya Bangia, Bostrychia dan Hildenbrandia, memuat spesies kelautan maupun air
tawar. Beberapa ganggang merah bersifat parasit pada ganggang lainnya, seperti Choreocolax
dan Holmsella (Nontji, 1993).
Spesies kelautan biasanya berwarna kemerahan, sementara spesies air tawar biasanya
hijau kebiruan, hijau kekuningan, coklat atau abu-abu. Ganggang merah mengandung klorofil
a, dan sebagian juga mengandung klorofil d; tilakoid tunggal (tidak berasosiasi) dan
mengandung pikobilisoma yang memuat pikoeritrin dan/atau pikosianin. Banyak karotenoid,
misalnya xantofil dan beta karoten, juga ada. Produk hasil fotosintesis antara lain pati
floridean dan floridosida (Nontji, 1993).

2.4 Susunan Tubuh dari Rhodophyta


Umumnya tubuh berwarna merah karena adanya protein fikobilin,terutama fikoeritrin,
tetapi warnanya bervariasi mulai dari merah ke coklat atau kadang-kadang hijau karena
jumlahnya pada setiap pigmen. Dinding sel terdiri dari sellulosa dan gabungan pektik, seperti
agar-agar, karaginan dan fursellarin. Hasil makanan cadangannya adalah karbohidrat yang
kemerah-merahan. Ada perkapuran di beberapa tempat pada beberapa jenis. Jenis dari divisi
ini umumnya makroskopis, filamen, sipon, atau bentuk talus, beberapa dari mereka
bentuknya seperti lumut.

2.5 Susunan Sel dari Rhodophyta


Tubuh Rhodophyta umumnya multiseluler, berbentuk benang atau lembaran. Dinding
selnya mengandung zat kapur (kalsium karbonat), misalny a Corralina. Rhodophyta
menyimpan cadanagan makanan dalam bentuk tepung florid (bahan agar-agar). Dinding
selnya terdiri dua lapis, lapisan bagian dalam kasar (rigid) dan menyerupai mikrofibril,
sedangkan bagian luar berbentuk lapisan mucilaginous. pada dinding selnya terdapat berbagai
macam bahan selain selulosa, yaitu polisakarida sulfat, agar dan karagenin. Pada alga
pembentuk koral, dapat mengumpulkan CaCO3 di dalam dinding selnya. Oleh karena hal
tersebut jenis alga ini berperan penting dalam proses pembentukan karang.

2.6 Reproduksi dari Rhodophyta


Perkembangbiakan dapat secara aseksual, yaitu dengan pembentukan spora, dapat
pula secara seksual (oogami).

a) Reproduksi seksual terjadi melalui pembentukan dua anteridium pada ujung-ujung


cabang talus. Anteridium menghasilkan gamet jantan yang disebut spermatium.Gametangium
betina disebut karpogonium yang terdapat pada ujung cabang lain.Karpogonium terdiri dari
satu sel panjang. Bagian karpogonium bawah membesar seperti botol, sedangkan bagian
atasnya membentuk gada atau benang dan dinamakan trikogen. Inti sel telur terdapat di
bagian bawah yang membesar seperti botol. Spermatium mencapai trikogen karena terbawa
air (pergerakan secara pasif). Spermatium kemudian melekat pada trikogen. Setelah dinding
perlekatan terlarut,seluruh protoplasma spermatium masuk dalam karpogonium. Setelah
terjadi pembuahan, terbentuklah sumbat di bagian bawah. karpogonium. Sumbat
itumemisahkan karpogonium dan trikogen. Zigot hasil pembuahan akan membentuk benang-
benang sporogen. Dalam sel-sel di ujung benang sporogen itu, terbentuk spora yang masing-
masing memiliki satu inti dan satu plastida; spora tersebutdinamakan karpospora. Karpospora
akhirnya keluar dari sel-sel ujung benangsporogen sebagai protoplasma telanjang berbulu
cambuk. Karpospora ini mula-mula berkecambah menjadi protalium yang akhirnya tumbuh
menjadi individu baru lengkap dengan alat-alat generatifnya.

b) Reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk tetraspora. Tetrasporaakan menjadi


gametangium jantan dan gametangium betina. Gametangium jantann dan betina akan bersatu
membentuk karposporofit. Karposporofit kemudian menghasilkan tetraspora, Contoh
anggota-anggota Rhodophyta antara lain: Corrallina, Palmaira, Batrachospermum
moniliforme, Gelidium, Gracilaria, Eucheuma,dan Scicania furcellata.

Baik spora maupun gametnya tidak mempunyai bulu cambuk, jadi tidak dapat bergerak aktif.
Rhodophyceae dibagi dalam dua anak kelas, yaitu Bangieae dan Florodeae.
2.7 Daur Hidup Rhodophyta

Pergantian keturunan, pada Rhodophyta yang tinggi tingkatannya terdiri dari 2 tipe, yaitu
bifasik dan trifasik.

A.Tipe Bifasik

Pada tipe Bifasik inti zigot langsung mengadakan meiosis; hingga menghasilkan
karposporafit haploid yang tumbuh pada gametofitnya atau inti zigot membelah mitosis
hingga membentuk karposporangium yang intinya diploid inti karposporangium mengadakan
meiosis dan membentuk karpospora yang haploid. Karposporofit berada pada gametofit.

B. Tipe Trifasik

Pada tipe Trifasik inti zigot hanya membelah mitosis, membentuk karposporangium dengan
karpospora yang diploid. Karposporofit terdapat pada gametofit, karpospora yang diploid
tumbuh menjadi tetrasporofit yang diploid dan hidup bebas, tetrasporangium yang terbentuk
intinya membelah meiosis dan menghasilkan 4 spora yang haploid (tertraspora). Tetraspora
tumbuh menjadi gametofit. Gametofit dan tetrasporofit umumnya isomorfik. (Tim dosen UM,
2006)

2.8 Klasifikasi Rhodophyta

Menurut Smith , divisi Rodophyta hanya mempunyai satu kelas, yaitu Rhodophyceae
selanjutnya Rhodophyta dibagi dalam dua anak kelas, yaitu Bangieae dan Florideae.

1) Anak kelas bangieaea (protofloroda)

Talus berbentuk benang, cakram atau pita dengan tidak ada percabangan yang
beraturan. Pembiakan vegetatif dengan monospora yang dapat memperlihatkan
gerakan ameboid. Anteridium menghasilkangamet jantan yang disebut spermatium.
Dalam golongan ini termasuk suku Bangiaceae, yang membawahi antara lain
ganggang tanah Porpyridium cruentumdan ganggang laut Bangia artropurpurea.

2) Anak kelas floridae

Talus ada yang masih sederhana, tapi umumnya hampir selalu bercabang-
cabang dengan beraturan dan mempunyai beraneka ragam bentuk, seperti benang,
lembaran-lembaran. percabangannnya menyirip atau menggarpu. Tiap anteridium
menghasilkan satu gamet betina yang oleh karena tidak dapat bergerak tidak
dinamakan spermatozoid tetapi spermatium.Gametangium betina dinamakan
karpogonium, terdapat pada ujung-ijung cabang lain daripada cabang talus yang
mempunyai anteridium. Suatu karpogonium terdiri atas satu sel panjang, bagian
bawahnya membesar seperti botol, bagia atasnya berbentuk gada atau benang dan
dinamakan trikogen.

Zigot tidak mengalami waktu istirahat, melainkan dari bidang sampingnya lalu
membentuk sel-sel yang merupakan benang-benang sporogen.Dalam sel-sel ujung
benang itu terbentuk satu spora, masing-masing dengan satu inti dan satu plastida dan
dinamakan karpospora.Karpospora itu mula-mula berkecambah menjadi suatu
protalium yang akhirnya tumbuh menjadi individu baru dengan alat-alat generatif.
Peristiwa di atas terdapat antara lain pada Batrachospermum moniliforme. Pada warga
Floridaea lainnya terdapat pergiliran antar 3 keturunan dalam daur hidupnya yaitu :

· Gametofit yang haploid, yang mempunyai anteridium dan karpogonium.

· Karposporofit yang diploid, mengeluarkan karpospora diploid.

· Tetrasporofit, yang habitusnya menyerupai gametofit (keturunan pertama), akan


tetapi tidak mempunyai alat-alat seksual, melainkan mempunyai sporangium yang
masing-masing mengeluarkan 4 spora (tetraspora)

Daur hidup yang memperlihatkan 3 keturunan itu antara lain terdapat pada
Callithamnion corymbosum. Gametofit dan tetrasporofit dapat isomorf, tetapi ada pula
yang tidak, misalnya Bonnemaisonia hamifera.

Florideae dibagi dalam sejumlah bangsa, diantaranya yaitu :

1. Bangsa Nemalionales, termasuk suku Helminthocladiacaeyang antara lain mencakup


Batrachospeermum moniliforme, Bonnemisonia humifera.
2. Bangsa Gelidiales, termasuk suku Gelidiaceae, misalnya Gelidium cartilagineumdan
Gelidium lichenoides, terkenal sebagai penghasil agar-agar.
3. Bangsa Gigartinales, kebanyakan terdiri atas ganggangang laut. Yang penting ialah suku
Gigartinaceaedengan dua warganya yang menghasilkan bahan yang berguna, ialah
Chondrus crispusdan Gigartina mamillosa, penghasil karagen atau lumut islandia yang
berguna sebagai bahan obat.
4. Bangsa Nemastomales, dari bangsa ini perlu disebut suku Rhodophyllidaceaeyang salah
satu warganya terknal sebagai penghasil agar-agar, yaitu Euchema spinosum.Suku
Sphaerococaceae, juga mempunyai anggota-anggota yang merupakan penghasil agar-
agar pula, diantaranya Gracilaria lichenoidesdan berbagai jenis yang termasuk marga
Sphaerococcus.
5. Bangsa Ceramiales, dalam bangsa ini termasuk antara lain suku Ceramiaceaedi
dalamnya. Contoh, Callithamnion corymbosum.

2.9 Peranan Rhodophyta

Alga merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain
yang hidup di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus
crispus (lumut Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina
mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat
krem, dan obat pencuci rambut. Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema
spinosum, Gelidium dan Agardhiella dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa
gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai medium
biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel, untuk pengental dalam banyak makanan,
perekat tekstil, sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup.

Zat agar dan karaginan yang ditemukan pada dinding sel Rhodophyta merupakan
senyawa pembentuk gel, dan digunakan dalam produk makanan dan penelitian ilmiah.
Karagenan merupakan bahan penting dalam pasta gigi dan banyak produk susu, seperti es
krim dan cokelat susu. Agar memiliki banyak aplikasi ilmiah dalam mikrobiologi,
bioteknologi, dan kriminologi, dan juga digunakan dalam kemasan daging kalengan. Salah
satu yang paling populer makanan rumput laut produk adalah rumput laut merah yang disebut
nori (Porfiria), yang digunakan dalam membungkus sushi dan masakan Jepang lainnya. Nori
ditanam di pertanian rumput laut komersial di pantai timur Amerika Utara dan di Asia.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu devisi dari alga
berdasarkan zat warna atau pigmentasinya
2. Ciri-ciri Rhodophyta adalah : mengandung kloroplas berisi fikoeretrin lebih banyak
dibandingkan klorofil, ada karotenoid, sedikit fikosianin, kebanyakan hidup di air laut,
Bersifat autotrof, tetapi ada yang heterotrof. Hasil asimilasi berupa tepung floridae (mirip
glikogen) dan floridosida (senyawa gliserin dan galaktosa) serta tetes minyak. Kadang
terdapat pirenoid, dinding sel ganggang merah terdiri atas selulosa (sebelah dalam) dan
pektin berlendir (sebelah luar), bentuk talus Reproduksi aseksual dengan spora, dan
seksual dengan cara oogami.
3. Habitat Rhodophyta adalah di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian kecil hidup
di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula
yang hidup di air payau.
4. Susunan tubuh Rhodophyta Pada umumnya adalah multiseluler, tersusun filament yang
bercabang-cabang bebas.
5. Sistem reproduksi Rhodophyta secara aseksual yaitu dengan pembentukan spora dan
secara seksual yaitu (oogami).
6. Divisi Rodophyta hanya mempunyai satu kelas, yaitu Rhodophyceae selanjutnya
Rhodophyta dibagi dalam dua anak kelas, yaitu Bangieae dan Florideae.
7. Peranan rhodophyta yaitu : bahan makanan dan kosmetik, dipakai dalam industri agar-
agar, sebagai bahan yang dipakai untuk mengeraskan/memadatkan media pertumbuhan
bakteri, kuat dalam mengatasi terjangan ombak, juga menjadi bahan makanan bagi
manusia juga dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat
pencuci rambut.

3.2 Saran

Dalam sistem penulisan makalah ini, Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu saran dan masukan dari pembaca sangat kita
harapkan demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi generasi penerus bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Bold. 1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi :
Prentice Hall Of India.
Campbell, Neil A. 1992. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga
Tjitrosoepomo, Gembong.2005. Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta: UGM Press
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara.Jakarta: Djambatan.
Iryaningtyas. 2013. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Laila, Siti. 2009. Biologi Sains dalam Kehidupan. Jakarta: Yudhistira.

Lestari, Sri Endang. 2009. Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Rachmawati, Faridah, Nurul Urifah, Ari Wijayati. 2009. Biologi Untuk SMA/MA. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Subandi. 2010. Mikrobiologi. Bandung: Rosdakarya.
Tim Dosen. 2006. Buku Ajar Botani Tumbuhan Bertalus Alga. Malang: Universitas Negeri
Malang

Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Thallophyta,


Bryophyta, Pteridophyta). Gadjah Mada University Press: Yogyakarta