Anda di halaman 1dari 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Jumlah Pengunjung

Pengunjung merupakan salah satu faktor utama dalam suatu obyek

wisata. Semakin meningkat jumlah kunjungan maka meningkat pula

perekonomian suatu daerah. Jumlah pengunjung obyek wisata Astana Gede

Kawali dalam 3 tahun terakhir mengalami naik turun. Berikut adalah jumlah

pengunjung obyek wisata Astana Gede Kawali menurut data dari Dinas

Parawisata Kabupaten Ciamis:

Tahun
Bulan
2015 2016 2017
Januari 0 500 500
Februari 200 555 330
Maret 400 2,500 495
April 600 1,890 471
Mei 1001 385 504
Juni 800 150 1,892
Juli 2386 947 405
Agustus 400 130 0
September 200 113 502
Oktober 200 334 188
November 400 346 1,039
Desember 500 414 186
Jumlah 7.087 8.264 6.512

Tabel 4.1 Jumlah Pengunjung Obyek Wisata Astana Gede Kawali 2015-

2017

Dilihat dari tabel diatas, jumlah pengunjung obyek wisata Astana

Gede Kawali mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2016 sebesar

1.177 (14,25%) dan kemudian di tahun 2017 mengalami penurunan yang


cukup signifikan sebesar 1.752 (21.2%). Hal ini disebabkan oleh banyak

faktor, diantaranya terdapat kegiatan festival budaya setiap dua tahun sekali

yang kebetulan dilaksanakan pada tahun 2016, manajemen yang masih

dalam perbaikan, dan tingkat kejenuhan wisatawan akibat kurangnya atraksi

wisata. Jumlah pengunjung obyek wisata Astana Gede Kawali dalam 3

tahun terakhir rata-rata 7.288 atau 607 per bulan dan atau 152 per

minggunya. Diharapkan setelah dilakukan pengembangan angka

pertumbuhan bisa terus naik dengan konstan.

4.2 Analisis SWOT

Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan yang ada serta

pemahaman akan ancaman dan peluang merupakan hal yang amat penting

dilakukan dalam melakukan suatu pengembangan untuk lebih mengetahui

hal-hal yang dapat berpengaruh. Dalam mengenali karakteristik

pengembangan obyek wisata, diharapkan mampu memanfaatkan setiap

peluang yang timbul dan dapat mengantisipasi setiap kemungkinan buruk

yang akan dihadapi. Adapun Iokasi yang akan dianalisis dengan

menggunakan teori SWOT yaitu Obyek Wisata Situs Astana Gede Kawali

Kabupaten Ciamis dengan variabel yang harus diperhatikan sebagai berikut:

a. Aspek Sosial dan Ekonomi

Pengembangan daerah wisata ini dapat memberikan manfaat bagi

masyarakat sekitar sehingga dapat mendongkrak pendapatan

masyarakat sekitar sekaligus menjadi salah satu pendapatan daerah

Kabupaten Ciamis.
b. Aspek Tata Ruang Struktur tata ruang

Kabupaten Ciamis dibentuk oleh unsur-unsur kegiatan yang ada.

Oleh karenanya struktur yang diwujudkan berdasarkan persebaran

penduduk, arahan pengembangan komponen utama pembentuk ruang,

serta berbagai faktor lainnya.

c. Aspek Peraturan Perundang-undangan

Perkembangan daerah wisata harus didasarkan pada Peraturan

Perundang-undangan yang berlaku dan keputusan seluruh pihak

pemerintahan terkait dengan dilibatkan peran masyarakat terkait.

Variabel-variabel tersebut akan langsung dipilih menjadi kategori

variabel eksternal (O dan T) atau termasuk kategori variabel internal (S

dan W).

A. Variabel Faktor Internal

1. Kekuatan (Strengths)

Kekuatan (Strengths) merupakan kondisi kekuatan yang terdapat

dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada, kekutan yang di

analisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek

konsep bisnis situ sendiri, yaitu kekuatan apa saja yang dimiliki

pariwisata, dengan mengetahui kekuatan, pariwisata dapat di

kembangkan menjadi lebih tangguh hingga mampu bertahan dalam

pasar dan mampu bersain untuk perkembangan selanjunya yang

menyangkut pariwisata (Freddy, 2014).


Beberapa kekuatan yang dimiliki Obyek Wisata Situs Astana

Gede Kawali yang dapat diidentifikasi di antaranya:

a) Memiliki nilai historis dan budaya (Terdapat 6 buah prasasti


masing-masing mengandung makna dan petuah, menhir, mata air
Cikawali, dan Makam Kuna)
b) Memiliki suasana yang asri dan sejuk
c) Aksesibilitas mudah dijangkau
d) Sarana dan Prasarana menunjang (komunikasi, listrik, air, jalan)
e) Jarak antar Obyek wisata di kabupaten ciamis tidak terlalu jauh.

2. Kelemahan (Weakness)

Kelemahan (Weakness) Merupakan kondisi kelemahan yang

terdapat adalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada,

kelemahan yang di analisis, merupakan faktor yang terdapat dalam

tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri, yaitu segala

faktor yang tidak menguntungkan atau merugikan bagi pengembangan

objek (Freddy, 2014)

Kawasan wisata ini masih kurang promosi sehingga kawasan ini

tidak begitu banyak di minati pengunjug dan investor yang memiliki

modal untuk menunjang pengembangannya. Hal ini sesuai dengan

pendapat Yoeti (20013), suatu objek wisata tidak akan berarti banyak

bila aksesbilitas ke objek wisata tersebut sulit di jangkau, baik lewat

darat maupun lewat udara. Agar pariwisata dapat berkembang dengan

baik, makasuatu destinasi haruslah accessible (bisa di datangi).

Beberapa Kelemahan (Weakness) yang dimiliki Obyek Wisata

Situs Astana Gede Kawali yang dapat diidentifikasi di antaranya:


a) Kurangnya Promosi
b) Kurangnya atraksi dan Fasilitas penunjang.
c) Lemahnya peran serta dan kelembagaan masyarakat setempat
d) Masih lemahnya dukungan pemerintah.
B. Variabel Faktor Internal

1. Peluang (Opportunities)

Peluang (Opportunities) Merupakan kondisi peluang berkembang

di masa datang yang terjadi, kondisi yang tejadi merupakan peluang

dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis, itu sendiri minsalnya

kompetitor, kebijakan. (Freddy, 2014)

a) Meningkatkan Pendapatan asli daerah


b) Meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekitar
c) Astana Gede kaya akan sejarah Sekaligus tempat ziarah dan wisata
alam.
d) Mengenalkan sejarah Kawali
e) Dapat menjadi ikon daerah.

2. Ancaman (Threats)

Ancaman (Threats) Merupakan kondisi yang mengancam dari

luar. Ancaman ini dapat dapat mengganggu organisasi, proyek atau

konsep bisnis itu sendiri (Freddy, 2014)

a) Kerusakan pada obyek yang dilindungi.

b) Minimnya minat masyarakat terhadap sejarah

c) Pencemaran lingkungan akibat sampah.


Strategi Analisi SWOT
Kekuatan/Strengths (S) Kelemahan/Weakness
 Memiliki nilai historis (W):
dan budaya (Terdapat 6  Kurangnya Promosi
buah prasasti, menhir,
 Kurangnya atraksi dan
mata air, dan Makam
Kuno) Fasilitas penunjang.
 Memiliki suasana yang
 Lemahnya peran serta
asri dan sejuk
 Aksesibilitas mudah dan kelembagaan
dijangkau
masyarakat setempat
 Sarana dan Prasarana
menunjang  Masih lemahnya
(komunikasi, listrik, air,
dukungan pemerintah.
jalan)
 Jarak antar Obyek
wisata di Kabupaten
Ciamis tidak terlalu
jauh
Peluang/Opportunities (O) S-O W-O
 Meningkatkan Pendapatan Asli  Warga setempat dapat  Meningkatkan promosi
Daerah membuat kerajinan dengan menggunakan
 Meningkatkan nilai ekonomi untuk dijadikan oleh-
berbagai media
masyarakat sekitar  Menambah atraksi
oleh wisatawan.
 Astana Gede kaya akan sejarah untuk menambah daya
Sekaligus tempat ziarah dan  Membuat acara festival tarik
wisata alam. kesenian dan budaya  Berkoordinasi secara
 Dapat menjadi ikon daerah. tahunan intensif antara
 Membuat tour wisata masyarakat dan
Ciamis pemerintah

Ancaman/Threats (T) S-T W-T


 Kerusakan pada obyek yang  Menambah keamanan  Mengedukasi lewat
dilindungi. pada setiap obyek yang promosi yang menarik
 Pencemaran lingkungan akibat dilindungi  Menyediakan lebih
sampah.
 Mengemas sejarah banyak tempat sampah
 Minimnya minat masyarakat
terhadap sejarah secara lebih modern
4.3 Perencanaan Tata Ruang

Perecanaan penataan daerah wisata ialah perencanaan mengenai

penataan tiap-tiap bangunan dan sarana pendukung yang bertujuan untuk

menciptakan tata ruang daerah wisata yang memberikan kemudahan dan

kenyamanan kepada pengunjung serta dapat menunjang kawasan wisata

yang strategis sebagai pusat pertumbuhan baru

Menurut data yang diperoleh dari dinas kabupaten Ciamis luas lahan

keseluruhan daerah wisata Astana Gede Kawali adalah 5 ha. Dalam

merencanakan bangunan diperlukan koefisiensi dasar bangunan koefisien

dasar bangunan adalah angka presentase perbandingan antara luas seluruh

lantai dasar bangunan gedung dan atau daerah perencanaan yang dikuasai

sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.

Maksud dari penetapan KDM adalah untuk tetap menyediakan

perbandingan yang seimbang antara lahan terbangun dengan lahan tidak

terbangun sehingga 8 tanah tidak terganggu kebutuhan udara terbuka dapat

terpenuhi dan Citra arsitektur lingkungan dapat dipelihara koefisien dasar

bangunan sama dengan luas bangunan maksimum 70% dari luas lahan luas

ruang terbuka minimal 30% dari luas lahan.

A. Desain Daerah Wisata

Dalam sub bab ini akan dijelaskan mengenai perencanaan-

perencanaan yang ada di dalam pengembangan kawasan Obyek wisata situs

Astana Gede Kawali Kabupaten Ciamis berikut desain tampak atas


Gambar 4.1 Desain gambar tampak atas

1. Museum

Menurut KBBI Museum adalah gedung yang digunakan sebagai

tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian

umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan

barang kuno.

Di Kabupaten Ciamis terdapat banyak museum yang terdapat

benda-benda bersejarah seperti keris, tombak, fosil dan masih banyak

lagi, namun kurang baiknya pengelolaan dan juga letaknya tersebar

dimana-mana dengan skala yang kecil sehingga membuat banyak orang

tidak mengetahui banyak soal museum yang ada di Kabupaten Ciamis.

Pembangunan Museum yang dapat menampung semua benda sejarah di

Kabupaten Ciamis dibutuhkan agar wisatawan mengetahui sejarah secara

menyeluruh tanpa terpotong-potong. Museum dibangun dua lantai

dengan luas 1.240 m2 ini diharapkan dapat menampung sebagian besar


benda bersejarah yang berhubungan dengan sejarah Kabupaten Ciamis

itu sendiri.

Gambar 4.2. Gedung Museum

2. Gedung Kesenian

Pembuatan Gedung kesenian dapat memfasilitasi seniman yang

ada untuk tetap berkarya dalam mengkombinasikan kesenian, budaya

dan sejarah. Selain itu dapat juga mengedukasi warga maupun

pengunjung agar terus mempertahankan budaya yang seharusnya

menjadi identitas. Dua Gedung Kesenian dengan luas masing-masing

174 m2 diharapkan menjadi daya tarik lebih untuk menarik wisatawan.

Gambar 4.3. Gedung Kesenian


3. Pusat Informasi

Pusat informasi sangatlah dibutuhkan untuk memberikan informasi

pada pengunjung. Selain sebagai kantor informasi, bisa juga digunakan

untuk kantor pengelola Astana Gede Kawali dan Museum. Bangunan

dengan luas 170 m2 dengan luas teras 40 m2

Gambar 4.4. Pusat Informasi

4. Pusat Oleh-Oleh

Bangunan dua lantai dengan luas 264 m2 dijadikan sebagai pusat

oleh-oleh atau suvenir yang khas Ciamis. Pusat oleh-oleh dapat menjadi

wadah untuk menjual buah tangan yang dibuat oleh warga setempat

untuk para pengunjung. Selain itu juga dapat mempromosikan makanan

khas daerah. Oleh-oleh yang tersedia bervariasi mulai dari souvenir

hingga makanan khas yang ada di Kabupaten Ciamis.


Gambar 4.5. Pusat Oleh-Oleh

5. Masjid

Masjid sangat diperlukan agar pengunjung yang beragama islam

dapat berwisata tanpa harus melupakan ibadahnya. Masjid didesain

dengan luas 144 m2 dapat memuat hingga 200 jamaah.

Gambar 4.5. Pusat Oleh-Oleh


6. Area Parkir

Area parkir merupakan tempat pemberhentian kendaraan dalam

kurun waktu tertentu. Area parkir sangatlah dibutuhkan karena hampir

seluruh pengunjung membawa kendaraan. Area parkir disediakan

dengan luas 1.594 m2 termasuk gedung keamanan. Area parkir ini dapat

menampung lebih dari 60 Mobil pribadi dan 130 Motor.

Gambar 4.6. Area Parkir

7. Pintu Masuk / Ticket Gate

Pintu masuk kedalam kawasan obyek wisata Astana Gede Kawali

sekaligus tempat pembelian tiket dibuat 1 loket dengan pintu arah masuk

dan keluar. Didesain dengan luas 21 m2 termasuk ruangan.


Gambar 4.7. Pintu Masuk Kawasan

8. Toilet

Toilet dalam kawasan Astana Gede Kawali dibuat dalam 2 titik,

yang pertama di dekat pintu masuk lalu yang kedua di kawasan atraksi.

Menurut Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, ukuran

standar toilet yaitu untuk WC panjang 80-90 cm dan lebar 150-160 cm

dengan tinggi 220-240 cm. Dengan luas Toilet sebesar 26 m2 maka secara

matematika didapat 21 ruang. Namun diperkirakan hanya didapat

maksimal 6 toilet pria, 6 toilet wanita dan 1 toilet untuk disabilitas.

Gambar 4.8. Toilet


9. Bangunan Prasasti

Bangunan pelindung prasasti dibuat untuk melindungi prasasti dari

cuaca dan juga ulah manusia. Bangunan ini dapat didesain dengan

sekelilingnya kaca agar dapat meminimalisir kerusakan oleh faktor

eksternal pada benda bersejarah tersebut.

Gambar 4.9. Bangunan Prasasti

10. Arena Bermain

Arena bermain berada di dalam kawasan Astana Gede Kawali,

selain untuk bermain digunakan untuk beristirahat sejenak sekaligus

menikmati suasana alam yang ada. Dalam arena bermain dibuat beberapa

atraksi, misalnya rumah pohon, gazebo, dan mini outbond.


Gambar 4.10. Arena Bermain

Gambar 4.11. Rumah Pohon

Gambar 4.12. Gazebo

11. Panggung Alam

Dengan konsep panggung berada diatas kolam dapat digunakan

untuk pertunjukan acara kesenian dan hiburan. Panggung dibuat dengan

material alam seperti kayu dan bambu.


Gambar 4.13. Pusat Oleh-Oleh

4.4 Analisis Kebutuhan Parkir

Tempat parkir untuk suatu wilayah wisata tentu hal yang dominan

harus diperhatikan sebab para pengunjung pasti akan berkunjung

menggunakan kendaraan dan tentu sangat perlu perencanaan tempat parkir

yang matang agar para pengunjung menempatkan kendaraannya dengan

nyaman mudah dan aman berikut pendeskripsiannya

A. Satuan Ruang Parkir

Dalam merencanakan sebuah lahan perparkiran yang nyaman maka

perlu mengetahui kebutuhan akan ruang parkir. Kebutuhan ruang parkir

ditentukan berdasarkan Satuan Ruang Parkir (SRP). Berdasarkan Pedoman

Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir terdapat hal-hal yang

menjadi pertimbangan dalam menentukan satuan ruang parkir adalah

sebagai berikut :

1. Dimensi kendaraan standar untuk mobil penumpang


Gambar 4.14 Dimensi Kendaraan Standar untuk Mobil Penumpang

Sumber : Pedoman Teknis Dirjen Perhubungan Darat , 1996

Keterangan :
a = Jarak gandar h = Tinggi total
b = Depan tergantung B = Lebar total
c = Belakang tergantung L = Panjang total
d = Lebar
2. Ruang bebas kendaraan parkir

diberikan pada arah lateral dan longitudinal kendaraan. Ruang

bebas arah lateral ditetapkan pada saat posisi pintu kendaraan dibuka,

yang diukur dari ujung terluar pintu ke badan kendaraan parkir yang

ada di sampingnya. Ruang bebas ini diberikan agar tidak terjadi

benturan antara pintu kendaraan dan kendaraan yang parkir di

sampingnya pada saat penumpang turun dari kendaraan. Ruang bebas

arah memanjang diberikan di depan kendaraan untuk menghindari

benturan dengan dinding atau kendaraan yang lewat jalur gang (aisle).

Jarak bebas arah lateral diambil sebesar 5 cm dan jarak bebas arah

longitudinal sebesar 30 cm.


3. Ukuran lebar bukaan pintu

merupakan fungsi karakteristik pemakai kendaraan yang

memanfaatkan fasilitas parkir. Sebagai contoh, lebar bukaan pintu

kendaraan karyawan kantor akan berbeda dengan lebar bukaan pintu

kendaraan pengunjung pusat kegiatan perbelanjaan. Dalam hal ini,

karakteristik pengguna kendaraan yang memanfaatkan fasilitas parkir

dipilih menjadi tiga seperti Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Lebar Bukaan Pintu Kendaraan

Pengguna dan/atau Peruntukan


Jenis Bukaan Pintu Gol
Fasilitas Parkir
 Karyawan/pekerja kantor

Pintu depan/belakang  Tamu/pengunjung pusat


terbuka kegiatan perkantoran, I
tahap awal 55 cm.
perdagangan,pemerintahan,
universitas
 Pengunjung tempat

Pintu depan/belakang olahraga, pusat hiburan,


terbuka rekreasi, hotel, pusat II
penuh 75 cm perdagangan
eceran/swalayan, rumah sakit,
bioskop

Pintu depan terbuka penuh


dan  Orang cacat III
ditambah untuk pergerakan
kursi roda
Sumber : Pedoman Teknis Dirjen Perhubungan Darat , 1996

B. Penentuan Satuan Ruang Parkir

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka penentuan

Satuan Ruang Parkir (SRP) dibagi menjadi tiga jenis kendaraan dan
berdasarkan penentuan SRP untuk mobil penumpang diklasifikasikan

menjadi tiga golongan, seperti pada Tabel 4.2 .

Tabel 4.2 Penentuan Satuan Ruang Parkir

No Jenis Kendaraan SRP dalam m2

1 a. Mobil Penumpang Gol I 2,30 x 5,00

b. Mobil Penumpang Gol II 2,50 x 5,00

c. Mobil Penumpang Gol III 3,00 x 5,00

2 Bus / Truk 3,40 x 12,50

3 Sepeda Motor 0,75 x 2,00

Sumber : Pedoman Teknis Dirjen Perhubungan Darat , 1996

Besar satuan ruang parkir untuk tiap jenis kendaraan adalah

sebagai berikut.

1) Satuan Ruang Parkir untuk Mobil Penumpang

Gambar 4.15 Satuan Ruang Parkir untuk Mobil Penumpang

Sumber : Pedoman Teknis Dirjen Perhubungan Darat , 1996


Keterangan :

B = Lebar total kendaraan L = Panjang total kendaraan

O = Lebar bukaan pintu a1, a2 = Jarak bebas arah longitudinal

R = Jarak bebas arah lateral

Gol I : B = 170 a1 = 10 Bp = 230 = B + O + R

O = 55 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2

R=5 a2 = 20

Gol II : B = 170 a1 = 10 Bp = 250 = B + O + R

O = 75 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2

R=5 a2 = 20

Gol III : B = 170 a1 = 10 Bp = 300 = B + O + R

O = 80 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2

R = 50 a2 = 20

2) Satuan Ruang Parkir untuk Bus/Truk

Gambar 4.16 Satuan Ruang Parkir untuk Mobil Bus

Sumber : Pedoman Teknis Dirjen Perhubungan Darat , 1996


C. Konsep kebutuhan parkir

1) Perhitungan kebutuhan parkir

Pengunjung terbagi menjadi dua, yaitu pengunjung pejalan kaki

dan pengunjung kendaraan, pengunjung kendaraan lebih banyak dari

pada pengunjung pejalan kaki, asumsi ini diperhitungkan jika ada acara

besar yang sedang dilaksanakan.

Total jumlah pengunjung diasumsikan = 1000 orang

Diasumsikan 60% pengunjung biasa (60%x 1000) = 600 orang

Diasumsikan 40% pengunjung rombongan (40% x 1000) = 400 orang

a. Pengunjung biasa (tidak rombongan)

Jika diasumsikan 40% menggunakan mobil dan 60 %

menggunakan motor, maka kebutuhan parkir :

 Mobil :

Jumlah pengunjung menggunakan mobil 40% x 600 = 240 orang

standar 1 mobil / 6 orang dengan kebutuhan luas parkir = 12,5 M²

setiap mobil

Total kebutuhan luas parkir mobil pengunjung = ( 240 : 6 ) x

12,5 = 500 M² ( 40 mobil )

 Motor :

Jumlah pengunjung menggunakan motor 60% x 600 = 360

orang
Standar 1 motor = 2 orang

Kebutuhan luas parkir = 2 M² / motor

Total kebutuhan luas parkir motor = (360 : 2 ) x 2 = 360 M² (

130 motor )

b. Pengunjung rombongan :

Jika diasumsikan jumlah pengunjung rombongan 40% dari

total pengunjung maka, jumlah pengunjung rombongan 40% x

1000 = 400 orang. Pengunjung rombogan adalah pengunjung

yang datang menggunakan bus, maka kebutuhan luas parkir :

 Bus

Jumlah pengunjung rombongan adalah 400 orang

Standar 1 bus = 40 orang

Kebutuhan luas parkir 42,5 m² / bus

Total kebutuhan luas parkir bus = ( 400 : 40 ) x 42,5 = 425 m² (

10 bus )

c. Perhitungan parkir pengelola

Pengelolaan fasilitas dakwah dan masjid terdiri dari kepala dan

wakil, sekretaris umum, dan kepala – kepala bagian beserta stafnya.

Jika di asumsikan pengelolaan fasilitas ini dikelola oleh kepala beserta


stafnya berjumlah 30 orang, maka kebutuhan parkirnya jika

diasumsikan 60% naik motor dan 40% naik mobil:

 Motor

Jumlah pengelola naik motor = 60% x 30 = 18 orang

Standar 1 motor = 1 orang

Kebutuhan luas parkir 2 m² / motor

Total kebutuhan luas parkir motor = ( 18 : 2 ) x 2= 18 m² ( 9

motor )

 Mobil

Jumlah pengelola naik mobil = 40% x 30 = 12 orang

Standar 1 mobil = 4 orang

Kebutuhan luas parkir = 12,5 m² / mobil

Total luas kebutuhan parkir mobil = ( 12 : 4 ) x 12,5 = 37,5 m² (

3 mobil )

 Parkir service

Direncanakan 1 buah mobil box

Standar 1 mobil box = 14 m²

Total kebutuhan parkir service = 1 x 14 = 14 m²


2) Total perhitungan kebutuhan parkir

a. Parkir pengunjung :

Parkir mobil = 500 m² ( 40 mobil )

Parkir motor = 360 m² ( 130 motor )

Parkir bus = 425 m² ( 10 bus )

b. Parkir pengelola

Parkir motor = 18 m² ( 9 motor)

Parkir mobil = 37,5 m² ( 3 mobil)

Parkir service = 14 m² ( 1 mobil box )

Total = 500+360+425+18+37,5+14

= 1.354,5 m² + 20 %(sirkulasi)

= 1.625,4 m²