Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


GIGITAN ULAR

Untuk memenuhi tugas matakuliah


Keperawatan Gawat Darurat
Yang dibina oleh Ibu Nurul Hidayah S.Kep., Ns., M.Kep.

Oleh
Rhima Dyah Ayu S 1601470004
Firda Ayu Maghfiro 1601470006
M. Septiadi Indra N. 1601470013
Vela Latifa 1601470014
Ardyah Dwi Pramesti 1601470023
Dinda Risma Putri A. 1601470024
Permata Putri Nadya P. 1601470032
Alifia Fitrah R. 1601470033
Nia Agustina 1601470040
Angger Rangga Santika 1601470041

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D IV KEPERAWATAN LAWANG
Maret, 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan
kami tugas makalah Keperawatan Kegawatan Darurat dengan judul “Asuhan
Keperawatan dpada Pasien dengan Gigitan Ular” tepat waktu.
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan rasa terima kasih
kepada:
1. Bapak Supono S.Kep., Ns., Sp.MB, selaku Kaprodi S.Tr.
Keperawatan Lawang
2. Ibu Nurul Hidayah S.Kep., Ns., M.Kep. selaku dosen
Keperawatan Kegawatan Darurat.
3. Teman-teman yang telah membantu kami dalam penyusunan
makalah ini hingga selesai.
Kami sadar, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses
pembelajaran, penulisan makalah ini banyak kekurangannya. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif dari
pembaca demi perbaikan penulisan makalah untuk selanjutnya. Harapan
kami, semoga makalah sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca.

Lawang, 26 Maret 2018

Tim Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................


DAFTAR ISI ...........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................
1.2 Tujuan Penulisan .........................................................................
1.3 Manfaat Penulisan .......................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian ....................................................................................
2.2 Jenis .............................................................................................
2.3 Penyebab .....................................................................................
2.4 Tanda dan Gejala.........................................................................
2.5 Penanganan Kegawatan ..............................................................
2.6 Asuhan Keperawatan Kegawatan ...............................................
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan .................................................................................
3.2 Saran ...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan Penulisan
Sejalan dengan latar belakang masalah di atas, penulis
merumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian gigitan ular?
2. Apa saja jenis gigitan ular?
3. Apa penyebab gigitan ular?
4. Bagaimana tanda dan gejala gigitan ular?
5. Bagaimana penanganan kegawatan pada gigitan ular?
6. Bagaimana asuhan keperawatan kegawatan pada pasien dengan
gigitan ular?

1.3 Manfaat Penulisan


Sejalan dengan tujuan penulisan di atas, makalah ini disusun dengan
tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian gigitan ular.
2. Untuk mengetahui jenis gigitan ular.
3. Untuk mengetahui penyebab gigitan ular.
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala gigitan ular.
5. Untuk mengetahui penanganan kegawatan pada gigitan ular.
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan kegawatan pada pasien
dengan gigitan ular.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Gigitan ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular
berbisa.
Racun ular adalah racun hewani yang terdapat pada ular berbisa. Racun
binatang adalah merupakan campuran dari berbagai macam zat yang berbeda
yang dapat menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada manusia.
Sebagian kecil racun bersifat spesifik terhadap suatu organ, beberapa
mempunyai efek pada hampir setiap organ. Komposisi racun tergantung dari
bagaimana binatang menggunakan toksinnya. Racun mulut bersifat ofensif
yang bertujuan melumpuhkan mangsanya, sering kali mengandung faktor
letal. Racun ekor bersifat defensive dan bertujuan mengusir predator, racun
bersifat kurang toksik dan merusak lebih sedikit jaringan
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan
mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa
tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar
khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi
kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di
belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi
merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas
enzimatik.
Bisa ular adalah kumpulan dari terutama protein yang mempunyai efek
fisiologik yang luas atau bervariasi. Yang mempengaruhi sistem multiorgan,
terutama neurologik, kardiovaskuler, dan sistem pernapasan. (Suzanne
Smaltzer dan Brenda G. Bare, 2001: 2490)

2.2 Jenis
2.3 Penyebab
2.4 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala khusus pada gigitan family ular :
a. Gigitan Elapidae
Misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang,
ular cabai, coral snakes, mambas, kraits), cirinya:
1) Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang
berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
2) Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
3) 15 menit setelah digigit ular muncul gejala sistemik. 10 jam
muncul paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan,
sehingga sukar bicara, susah menelan, otot lemas, kelopak mata
menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur,
mati rasa di sekitar mulut dan kematian dapat terjadi dalam 24
jam.
b. Gigitan Viperidae/Crotalidae
Misal pada ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1) Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam
berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh
anggota badan.
2) Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa
jam.
3) Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan
lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
c. Gigitan Hydropiidae
Misalnya, ular laut, cirinya:
1) Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan
muntah.
2) Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan
nyeri menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis
otot, mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat
gelap (ini penting untuk diagnosis), ginjal rusak, henti jantung.
d. Gigitan Crotalidae
Misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1) Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan,
ekimosis, nyeri di daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya
pemberian polivalen crotalidae antivenin.
2) Anemia, hipotensi, trombositopeni.

Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam
beberapa kategori:
a. Efek lokal, digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra
menimbulkan rasa sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Luka dapat
membengkak hebat dan dapat berdarah dan melepuh. Beberapa bisa
ular kobra juga dapat mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka.
b. Perdarahan, gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid
Australia dapat menyebabkan perdarahan organ internal, seperti otak
atau organ-organ abdomen. Korban dapat berdarah dari luka gigitan
atau berdarah spontan dari mulut atau luka yang lama. Perdarahan yang
tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian.
c. Efek sistem saraf, bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung
pada sistem saraf. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama
secara cepat menghentikan otot-otot pernafasan, berakibat kematian
sebelum mendapat perawatan. Awalnya, korban dapat menderita
masalah visual, kesulitan bicara dan bernafas, dan kesemutan.
d. Kematian otot, bisa dari russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan
beberapa elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan
kematian otot di beberapa area tubuh. Debris dari sel otot yang mati
dapat menyumbat ginjal, yang mencoba menyaring protein. Hal ini
dapat menyebabkan gagal ginjal.
e. Mata, semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai
mata korban, menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan
sementara pada mata.

2.5 Penanganan Kegawatan


a. Prinsip penanganan pada korban gigitan ular:
1) Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa ular.
2) Menetralkan bisa.
3) Mengobati komplikasi.

b. Pertolongan pertama:
Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah
pergi segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban.
Selanjutnya lakukan prinsip RIGT, yaitu:
R (Reassure) : Yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan
korban, kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga
racun akan lebih cepat menyebar ke tubuh. Terkadang pasien
pingsan/panik karena kaget.
I (Immobilisation) : Jangan menggerakan korban, perintahkan
korban untuk tidak berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit
pertolongan medis tidak datang, lakukan tehnik balut tekan (pressure-
immoblisation) pada daerah sekitar gigitan (tangan atau kaki) lihat
prosedur pressure immobilization (balut tekan).
G (Get) : Bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T (Tell the Doctor) : Informasikan ke dokter tanda dan gejala yang
muncul ada korban.

c. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan):


1) Balut tekan pada kaki:
a) Istirahatkan (immobilisasikan) Korban.
b) Keringkan sekitar luka gigitan.
c) Gunakan pembalut elastis.
d) Jaga luka lebih rendah dari jantung.
e) Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal
jari kaki naik ke atas.
f) Biarkan jari kaki jangan dibalut.
g) Jangan melepas celana atau baju korban.
h) Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan
sampai menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna
jari kaki yang tetap pink).
i) Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.
2) Balut tekan pada tangan:
a) Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak
dibalut).
b) Balut siku & lengan dengan posisi ditekuk 90 derajat.
c) Lanjutkan balutan ke lengan sampai pangkal lengan.
d) Pasang papan sebagai fiksasi.
e) Gunakan mitela untuk menggendong tangan.

d. Penatalaksana Lanjut
 Penatalaksanaan jalan napas
 Penatalaksanaan fungsi pernapasan
 Penatalaksanaan sirkulasi: beri infus cairan kristaloid
 Beri pertolongan pertama pada luka gigitan: perban ketat dan luas
diatas luka, imobilisasi (dengan bidai)
 Ambil 5 – 10 ml darah untuk pemeriksaan: waktu trotombin,
APTT, D-dimer, fibrinogen dan Hb, leukosit, trombosit, kreatinin,
urea N, elektrolit (terutama K), CK. Periksa waktu pembekuan,
jika >10 menit, menunjukkan kemungkinan adanya koagulopati
 Apus tempat gigitan dengan dengan venom detection
 Beri SABU (Serum Anti Bisa Ular, serum kuda yang dilemahan),
polivalen 1 ml berisi:
 10-50 LD50 bisa Ankystrodon
 25-50 LD50 bisa Bungarus
 25-50 LD50 bisa Naya Sputarix
 Fenol 0.25% v/v
 Teknik pemberian: 2 vial @5ml intravena dalam 500 ml NaCl
0,9% atau Dextrose 5% dengan kecapatan 40-80 tetes/menit.
Maksimal 100 ml (20 vial). Infiltrasi lokal pada luka tidak
dianjurkan.
 Indikasi SABU adalah adanya gejala venerasi sistemik dan edema
hebat pada bagian luka. Pedoman terapi SABU mengacu pada
Schwartz dan Way (Depkes, 2001):
 Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi
dalam 12 jam, jika derajat meningkat maka diberikan SABU
 Derajat II: 3-4 vial SABU
 Derajat III: 5-15 vial SABU
 Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU
Pedoman terapi SABU menurut Luck
Jumlah
Beratnya Taring atau Ukuran zona edema/ Gejala
Derajat vial
evenomasi gigi eritemato kulit (cm) sistemik
venom
0 Tidak ada + <> - 0
I Minimal + 2-15 - 5
II Sedang + 15-30 + 10
III Berat + >30 ++ 15
IV Berat + <> +++ 15
Pedoman terapi SABU menurut Luck
 Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit
 Ulangi pemeriksaan darah pada 3 jam setelah pemberian antivenom
 Jika koagulopati tidak membaik (fibrinogen tidak meningkat, waktu
pembekuan darah tetap memanjang), ulangi pemberian SABU.
Ulangi pemeriksaan darah pada 1 dan 3 jam berikutnya, dst.
 Jika koagulopati membaik (fibrinogen meningkat, waktu
pembekuan menurun) maka monitor ketat kerusakan dan ulangi
pemeriksaan darah untuk memonitor perbaikkannya. Monitor
dilanjutkan 2x24 jam untuk mendeteksi kemungkinan koagulopati
berulang. Perhatian untuk penderita dengan gigitan Viperidae untuk
tidak menjalani operasi minimal 2 minggu setelah gigitan
 Terapi suportif lainnya pada keadaan :
a. Gangguan koagulopati berat: beri plasma fresh-frizen (dan
antivenin)
b. Perdarahan: beri tranfusi darah segar atau komponen darah,
fibrinogen, vitamin K, tranfusi trombosit
c. Hipotensi: beri infus cairan kristaloid
d. Rabdomiolisis: beri cairan dan natrium bikarbonat
e. Monitor pembengkakan local dengan lilitan lengan atau anggota
badan
f. Sindrom kompartemen: lakukan fasiotomi
g. Gangguan neurologik: beri Neostigmin (asetilkolinesterase),
diawali dengan sulfas atropin
h. Beri tetanus profilaksis bila dibutuhkan
i. Untuk mengurangi rasa nyeri berikan aspirin atau kodein, hindari
penggunaan obat – obatan narkotik depresan
 Terapi profilaksis
a. Pemberian antibiotika spektrum luas. Kaman terbanyak yang
dijumpai adalahP.aerugenosa, Proteus,sp, Clostridium sp, B.fragilis
b. Beri toksoid tetanus
c. Pemberian serum anti tetanus: sesuai indikasi (Sudoyo, 2006)

2.6 Asuhan Keperawatan Kegawatan

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1Kesimpulan
Prinsip Pertolongan Pertama pada korban gigitan ular
adalah, meringankan sakit, menenangkan pasien dan berusaha
agar bisa ular tidak terlalu cepat menyebar ke seluruh tubuh
sebelum dibawa ke rumah sakit. Pada beberapa tahun yang lalu
penggunaan torniket dianjurkan. Seiring berkembangannya ilmu
pengetahuan kini dikembangkan metode penanganan yang lebih
baik yakni metode pembalut dengan penyangga. Idealnya
digunakan pembalut dari kain tebal, akan tetapi jika tidak ada
dapat juga digunakan sobekan pakaian atau baju yang disobek
menyerupai pembalut. Metode ini dikembangkan setelah
dipahami bahwa bisa menyebar melalui pembuluh limfa dari
korban. Diharapkan dengan membalut bagian yang tergigit maka
produksi getah bening dapat berkurang sehingga menghambat
penyebaran bisa sebelum korban mendapat ditangani secara lebih
baik di rumah sakit

3.2. Saran
Segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.
Informasikan kepada dokter mengenai penyakit yang diderita
pasien seperti asma dan alergi pada obat – obatan tertentu, atau
pemberian antivenom sebelumnya. Ini penting agar dokter dapat
memperkirakan kemungkinan adanya reaksi dari pemberian
antivenom selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar


Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih
bahasa oleh Agung Waluyo. Jakarta: EGC.
Sudoyo A. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.