Anda di halaman 1dari 18

ANALISA TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN

NO. 490/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel MENGENAI PEMBATALAN PUTUSAN


ARBITERASE NO.3226/X/ARB-BANI/2009

Oleh:
Iman Huda Pradana

1. Identitas Perkara
Nomor Perkara :
Jenis Perkara : Gugatan Perdata
Issu Kunci : Arbiterase
Majelis Hakim : SUDARWIN, S.H., M.H. (Hakim Ketua)
IDA BAGUS DWIYANTARA (Hakim Anggota)
AMINAL UMAM, S.H., M.H (Hakim Anggota)
Para Pihak : PT. ANGKASA PURA I (Penggugat)
BADAN ARBITERASE NASIONAL INDONESIA (BANI) (Tergugat)
PT. HUTAMA KARYA (PERSERO) ( Turut Tergugat)

2. Fakta Hukum yang relevan dan signifikan yang dimuat dalam putusan
Fakta hukum telah terjadi hubungan hukum (rechtsbetrekking) diantara para pihak
bersengketa yaitu PT. Hutama Karya (Persero) dengan PT. Angkasa Pura I (Persero)
didasarkan pada Kontrak No. 37/SPP/PL.10/2007-DU tanggal 14 Desember 20017 tentang
Pembuatan Runway dan Fasilitas Penunjangnya di Bandar udara Internasional Lombok
(“Surat Perjanjian Pemborongan”). Adapun kronologis permasalahan hukum atau duduk
perkara yang terjadi adalah sebagai beirkut:
1. Bahwa PT. Angkasa Pura I adalah pihak pemberi pekerjaan pembangunan Bandar
Udara Internasional Lombok. Kemudian Penggugat membuat dan menandatangani
Surat Perjanjian Pemborongan dengan PT. Hutama Karya.
2. Bahwa Penggugat pada tanggal 5 Oktober 2009 telah diajukan Permohonan Arbiterase
oleh Turut Tergugat terhadap Penggugat melalui Badan Arbiterase Nasional Indonesia
(BANI) terkait Pekerjaan berdasarkan Surat Perjanjian Pemborongan.
3. Bahwa pada prinsipnya dalam permohonan arbiterase tersebut, Turut Tergugat
mengajukan permohonan terhadap hal-hal sebagai berikut:

Menghukum dan memerintahkan Penggugat (dahulu sebagai Termohon Arbiterase)


untuk sekaligus dan seketika melakukan pembayaran kepada Turut Tergugat (dahulu
sebagai Pemohon Arbiterase) sebesar Rp. 41.503.875.318,- sebagai akibat dari adanya
kenaikan harga BBM, percepatan pekerjaan, pekerjaan cross drain dan pekerjaan
dewatering dalam pekerjaan pembuatan Runway dan Fasilitas Penunjangnya di Bandar
Udara Internasional Lombok;

4. Bahwa terhadap Perkara No. 326/X/ARB-BANI/2009 tersebut telah dikeluarkan putusan


oleh Tergugat/BANI dengan putusan No. 326/X/ARB-BANI/2009 tanggal 24 Mei 2010
yang pada pokoknya memutuskan hal-hal sebagai berikut:
Mengabulkan sebagian permohonan Turut Tergugat (dahulu sebagai Pemohon
Arbiterase) dan menghukum Penggugat (dahulu sebagai Termohon Arbiterase)
membayar kepada Turut Tergugat sebesar Rp. 20.000.000.000,- (dua puluh miliar
rupiah).

5. Bahwa ternyata setelah dikeluarkannya Putusa dari Tergugat, ditemukan adanya


dokumen yang bersifat menentukan yang tidak pernah diungkap oleh Turut Tergugat
dalam proses pemeriksaan arbiterase terkait perkara a quo, yang mana dokumen
tersebut diyakini dapat mempengaruhi pertimbangan Tergugat dalam memberikan
Putusan.

Adapun bukti baru yang bersifat menentukan tersebut berupa Surat Perjanjian
Pemborongan antara Turut Tergugat dengan PT. Metropolitan Aulia Mix (“PT. MAM”)
(sebagai sub kontraktor) tentang Pekerjaan Aspal-Bandara Internasional Lombok No.
PROD.IV/TR.1936/SPP.13/08 tanggal 6 Oktober 2008, selanjutnya disebut “Kontrak PT
HK dan PT MAM”

Bahwa kemudian PT HK dan PT MAM membuat kontrak pekerjaan tanpa


sepengetahuan Penggugat dan dibuat setelah adanya kenaikan BBM pada tanggal 6
Oktober 2008 sedangkan Turut Tergugat menyampaikan bahwa kenaikan BBM terjadi
pada tanggal 23 Mei 2008. Sehingga nilai dalam Kontrak PT. HK dan PT. MAM masih di
bawah harga satuan yang telah diperjanjikan dalam Kontrak PT. HK dan PT. MAM.

Bahwa akibat hal tersebut, maka terdapat selisih harga satuan. Oleh karena itu,
pengajuan eskalasi akibat adanya kenaikan BBM tersebut kepada Turut Tergugat
sebagaimana diputuskan dalam Putusan BANI No. 326/X/ARB-BANI/2009 sangat tidak
beralasan dan terlalu mengada-ada.

6. Bahwa selain itu Penggugat menyatakan keberatan terhadap Putusan No. 326/X/ARB-
BANI/2009.

3. Masalah Hukum Yang Dimuat Dalam Putusan

1. Bahwa pada tanggal 5 Oktober 2009, telah diajukan Permohonan Arbitrase oleh Turut
Tergugat terhadap Penggugat melalui Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)
terkait pekerjaan berdasarkan Kontrak antara Penggugat dengan Turut Tergugat No.
37/SPP/PL.10/2007-DU tanggal 14 Desember 2007 tentang Pembuatan Runway dan
Fasilitas Penunjangnya di Bandar udara Internasional Lombok, yang kemudian tercatat
dengan Perkara No. 326/X/ARB-BANI/2009.

2. Bahwa pada prinsipnya, dalam permohonan arbitrase tersebut, Turut Tergugat


mengajukan permohonan terhadap hal-hal sebagai berikut:
Menghukum dan memerintahkan Penggugat (dahulu sebagai Termohon Arbitrase)
untuk sekaligus dan seketika melakukan pembayaran kepada Turut Tergugat (dahulu
sebagai Pemohon Arbitrase) sebesar Rp. 41.503.875.318,- sebagai akibat dari adanya
kenaikan harga BBM, percepatan pekerjaan, pekerjaan cross drain dan pekerjaan
dewatering dalam pekerjaan pembuatan Runway dan Fasilitas Penunjangnya di
Bandar udara Internasional Lombok, dengan uraian sebagai berikut :

- Kenaikan BBM Rp. 29.770.317.159,-

- Percepatan Pekerjaan Rp. 9.974.195.159,-


- Pekerjaan Cross Drain Rp. 64.087.000,-
- Pekerjaan Dewatering selama 132 hari Rp. 1.695.276.000,- +
Rp. 41.503.875.318,-

3. Bahwa terhadap Perkara No. 326/X/ARB-BANI/2009 tersebut telah dikeluarkan


putusan oleh Tergugat/BANI dengan Putusan No. 326/X/ARB-BANI/2009 tanggal 24
Mei 2010, yang pada pokoknya memutuskan hal-hal sebagai berikut :

Mengabulkan sebagian permohonan Turut Tergugat (dahulu sebagai Pemohon


Arbitrase) dan menghukum Penggugat (dahulu sebagai Termohon Arbitrase)
membayar kepada Turut Tergugat sebesar Rp. 20.000.000.000,- (dua puluh milyar
rupiah) belum termasuk pajak, dengan rincian sebagai berikut :
1) Penyesuaian harga karena kenaikan BBM : Rp. 15.000.000.000,-
2) Penyesuaian harga akibat percepatan pekerjaan : Rp. 4.000.000.000,-
3) Penyesuaian harga Cross Drain dan Dewatering
selama 132 had : Rp. 1.000.000.000,-
: Rp. 20.000.000.000,-
PPN 10 % : Rp. 2.000.000.000,-
Jumlah : Rp. 22.000.000.000,-

4. Bahwa selain itu Penggugat menyatakan keberatan terhadap Putusan No. 326/X/ ARB-
BANI/2009 tanggal 24 Mei 2010, mengingat Tergugat cenderung kurang cermat dalam
mempertimbangkan dalil-dalil Penggugat sebagai dasar pertimbangan dalarn
Putusannya, sehingga putusan menjadi tidak fair.

Adapun keberatan-keberatan Penggugat terhadap Putusan Tergugat No. 326/X/ ARB-


BANI/2009 tanggal 24 Mei 2010, dapat kami jelaskan sebagai berikut :
a. Mengenai Penyesuaian Harga karena Kenaikan BBM

Penerapan Asas Kepatutan dalam Pertimbangan Putusan mengakibatkan Nilai


yang diputuskan menjadi sangat relatif.

Dalam Putusannya, Tergugat menggunakan pertimbangan berdasarkan Pasal 1339


KUHPerdata terkait dengan asas kepatutan, sebagai berikut : "Bahwa
Surat Perjanjian Pemborongan No. 37/SPP/PL.10/2007-DU tanggal 14 Desember
2007 tidak mengatur dengan jelas mengenai pernilaian dan perhitungan tentang
dampak dari terjadinya peristiwa perubahan peraturan perundang-undangan yang
merupakan kebijaksanaan Pemerintah, namun Tergugat berpendapat adalah wajar
dampak riil akibat dari kebijaksanaan tersebut dipertimbangkan, berdasarkan
ketentuan Pasal 1339 KUHPerdata, yaitu bahwa perjanjian tidak hanya mengikat
untuk hal-hal yang tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala, sesuatu
yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, dan kebiasaan atau
undang-undang."
Terhadap pertimbangan Tergugat tersebut, Penggugat menyatakan keberatan
dengan alasan sebagai berikut :

1) Dalam memberikan Putusan, Tergugat mengesampingkan asas kontraktual


sebagaimana diatur pada Pasal 1338 KUHPerdata dan Pasal 15 butir 2 Rules
and Procedures BANI. Ketentuan pada Pasal 15 butir 2 Rules and Procedures
BANI mengatur bahwa dalam menerapkan hukum yang berlaku, Tergugat atau
khususnya majelis arbitrase harus mempertimbangkan ketentuan-ketentuan
dalam perjanjian serta praktek dan kebiasaan yang relevan dalam kegiatan
bisnis yang bersangkutan. Namun dalam pertimbangannya, Tergugat justru telah
tidak mempertimbangkan ketentuan-ketentuan dalam Surat Perjanjian
Pemborongan No. 37/SPP/PL.10/2007-DU tanggal 14 Desember 2007.

2) Terhadap penerapan asas kepatutan dalam Putusan BANI tersebut tidak ada
ukuran yang pasti (sangat relative), sehingga nilai yang diputuskan BANI yang
menjadi kewajiban Penggugat hanya dinilai dari sisi kewajaran menurut Majelis
Arbiter saja dan tidak mempertimbangkan keberatan- keberatan dari Penggugat.

Selain itu dalam Putusannya, Tergugat juga berpendapat dalam pertimbangannya


bahwa dengan terbitnya surat tanggal 20 Oktober 2008 (Bukti P-11), maka
Penggugat pada dasarnya bersedia memberikan penyesuaian harga karena
kenaikan BBM dan Penggugat tidak menolak untuk diterapkannya perhitungan
eskalasi.
Terhadap pertimbangan Tergugat tersebut, perlu kami jelaskan bahwa terhadap
surat tanggal 20 Oktober 2008 (Bukti P-11) telah dikeluarkan Surat Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) No.SP-1100/D502/2009
tanggal 3 September 2009 perihal Laporan hasil Pendampingan dan Monitoring
Pembangunan Runway Tahap I Proyek Pembangunan Bandara Internasional
Lombok (Bukti T-5) dengan pokok-pokok hasil pendampingan sebagai berikut :

1) Nilai kontrak pembangunan runway sebesar Rp. 154.000.000.000,- dengan


realisasi fisik kontrak sebesar 100 % dan realisasi keuangan sebesar 84%.

2) Sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 3 ayat (2) SPP Nomor
: 37/SPP/PL.10/2007-DU, bahwa kontrak yang ada bersifat lumpsum dan fixed
price, sehubungan dengan hal tersebut, BPKP tidak dapat
menghitung/menetapkan jumlah pengajuan tambahan biaya penyesuaian harga,
biaya percepatan dan biaya cross drain dan Dewatering kolam penampung.

Selain itu, perlu kami jelaskan pula bahwa sampai dengan Putusan dikeluarkan
oleh Tergugat, tidak terdapat keputusan pemerintah dalam bentuk apapun yang
dapat digunakan Penggugat sebagai dasar untuk menghitung eskalasi.
Perhitungan eskalasi senilai Rp. 29.770.317.159,- (dua puluh sembilan milyar tujuh
ratus tujuh puluh juta tiga ratus tujuh belas ribu seratus lima puluh sembilan rupiah)
hanya dilakukan oleh Turut Tergugat sendiri dalam permohonan arbitrasenya,
sedangkan terhadap permohonan tersebut Tergugat telah mengabulkan sebagian
permohonan Turut Tergugat senilai Rp. 15.000.000.000,- (Lima belas milyar rupiah)
dengan dasar pertimbangan yang lemah dan tidak jelas, sehingga putusan
Tergugat menjadi tidak fair bagi Penggugat.

Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka Penggugat menyatakan


menolak terhadap Putusan Tergugat yang telah mengabulkan sebagian
permohonan Turut Tergugat untuk pembayaran penyesuaian harga akibat kenaikan
BBM sebesar Rp. 15.000.000.000,- (Lima belas milyar rupiah), belum termasuk
pajak PPN.
b. Mengenai Penyesuaian Harga Akibat Percepatan Pekerjaan
1) Pembayaran Uang Muka

Sebagaimana telah Penggugat uraikan dalam jawaban Penggugat (dahulu


Termohon) khususnya pada Romawi I halaman 3 dan 4, bahwa guna membantu
kebutuhan biaya percepatan pekerjaan Turut Tergugat, Penggugat telah
memberikan uang muka kepada Turut Tergugat sebesar Rp. 30.800.000.000,-
(Tiga puluh milyar delapan ratus juta rupiah). Sehingga dengan pemberian uang
muka tersebut, Penggugat telah membantu cash flow Turut Tergugat dalam
melaksanakan percepatan pekerjaan. Hal tersebut juga merupakan bentuk
solusi yang diberikan Penggugat kepada Turut Tergugat dalam melaksanakan
percepatan pekerjaan. Oleh karena itu, permohonan Turut Tergugat untuk
membayar biaya percepatan sebesar Rp. 9.974.195.159,- (Sembilan milyar
sembilan ratus tujuh puluh empat juta seratus sembilan puluh lima ribu seratus
lima puluh sembilan rupiah) sebagaimana dituangkan dalam Permohonan
Arbitrase, sudah tidak relevan lagi dan sudah seharusnya ditolak atau setidak-
tidaknya dinyatakan tidak diterima.

Selain itu, dengan adanya pemberian uang muka dari Penggugat kepada Turut
Tergugat sebesar Rp. 30.800.000.000,- (Tiga puluh milyar delapan ratus juta
rupiah), maka dari sisi pengelolaan dana, pihak Penggugat telah mengalami
opportunity loss sebesar Rp. 3.602.941.222,- (Tiga milyar enam ratus dua juta
sembilan ratus empat puluh satu ribu dua ratus dua puluh dua rupiah) (vide
Bukti T-12), demikian sebaliknya Turut Tergugat telah menikmati dan
memanfaatkan besaran opportunity loss yang diderita oleh Penggugat akibat
dari pemberian Uang Muka dari Penggugat kepada Turut Tergugat. Namun
demikian, demi kelancaran pelaksanaan percepatan pekerjaan, maka pihak
Penggugat tetap melaksanakan pemberian uang muka tersebut sebagaimana
arahan Menteri Negara BUMN pada Rapat tanggal 12 juni 2008 perihal
pemberian uang muka. Berdasarkan segala hal yang diuraikan di atas, maka
pemberian uang muka dari Penggugat kepada Turut Tergugat sangat relevan
dalam membantu memenuhi kebutuhan biaya operasional Turut Tergugat
apabila muncul dalam melaksanakan percepatan pekerjaan.

2) Pelaksanaan Pekerjaan di Musim Hujan

Dalam hal ini Turut Tergugat berpendapat bahwa akibat Percepatan Pekerjaan
waktu pelaksanaan pekerjaan pada musim kering (dry season) harus
diselesaikan pada musim hujan, Tergugat dalam pertimbangannya berpendapat
seharusnya Turut Tergugat sudah dapat mengetahui pada saat permintaan
percepatan tanggal 4 juni 2008 pelaksanaan pekerjaan akan berada pada
musim hujan, sehingga pembebanan biaya akibat in-efisiensi produktifitas alat
selama 100 hari keseluruhan kepada Penggugat adalah kurang wajar.

Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka Penggugat menyatakan


menolak terhadap Putusan Tergugat yang telah mengabulkan sebagian
permohonan Turut Tergugat untuk pembayaran penyesuaian harga percepatan
pekerjaan sebesar Rp. 4.000.000.000,- (empat milyar rupiah), belum termasuk
pajak PPN.

c. Mengenai Pekerjaan Cross Drain dan Dewatering

1) Munculnya pekerjaan cross drain dan dewatering ini tidak terlepas dari
pemilihan Metode Kerja yang dipergunakan oleh Pemohon untuk melaksanakan
pekerjaan dalam perkara a quo. Hal ini mengingat dari Metode Kerja inilah akan
dapat dihitung unit price yang nantinya akan diajukan oleh Pemohon kepada
Termohon sebagai penawaran.

2) Dengan adanya Penjelasan (Aanwijzing) Pekerjaan yang kemudian dilanjutkan


dengan peninjauan lapangan pada saat proses pelelangan pekerjaan perkara a
quo, maka Turut Tergugat telah memiliki kesempatan untuk melakukan
pemilihan Metode Kerja yang paling tepat yang dapat ditawarkan kepada
Penggugat untuk melaksanakan pekerjaan.
3) Apabila Metode Kerja yang digunakan Turut Tergugat sudah tepat, maka
pekerjaan Cross drain dan Dewatering ini seharusnya sudah dapat
diperhitungkan dalam penawaran. Dalam hal pekerjaan Cross drain dan
Dewatering diperhitungkan dalam penawaran, maka hitungannya akan masuk
pada Bil of Quantity pekerjaan khususnya pada item Pekerjaan Tanah. Namun
berdasarkan Rincian Daftar Kuantitas dalam Bil of Quantity Pekerjaan Turut
Tergugat khususnya pada butir 1 (satu) tentang Pekerjaan Tanah, tidak terdapat
perhitungan mengenai pekerjaan Dewatering dan Cross Drain tersebut.

4) Mengingat pekerjaan Cross Drain dan Dewatering tersebut tidak termasuk


dalam ruang lingkup pekerjaan dan tidak termasuk pula sebagai hal yang
diperhitungkan dalam Bil of Quantity pekerjaan perkara a quo, maka sudah
seharusnya pihak Turut Tergugat terlebih dahulu harus mengajukan
permohonan ijin kepada Penggugat untuk melaksanakannya. Namun
berdasarkan bukti P-15, P-16, P-17 dan P-18, Turut Tergugat baru mengajukan
biaya pembuatan Cross drain dan Dewatering kepada Penggugat masing-
masing pada tanggal 28 Januari 2009 dan 27 Februari 2009, yaitu pada saat
setelah pekerjaan Cross Drain dan Dewatering selesai dilaksanakan. Fakta ini
diakui pula oleh pihak Turut Tergugat dalam Replik Turut Tergugat yaitu pada
huruf C butir 7 mengenai permohonan pembayaran penyesuaian harga karena
pekerjaan Cross Drain dan Dewatering.

5) Berdasarkan hal-hal tersebut, sudah sewajarnya apabila Penggugat keberatan


untuk melakukan pembayaran biaya pekerjaan Cross Drain dan Dewatering
sebagaimana dimohonkan Turut Tergugat, mengingat pada prinsipnya
Penggugat belum memberikan persetujuan untuk pelaksanaannya, sehingga
belum ada kesepakatan antara para pihak yang dapat digunakan sebagai dasar
untuk melaksanakan pekerjaan Cross Drain dan Dewatering tersebut. Sehingga
dalam perkara ini, tidak tepat apabila Penggugat diharuskan untuk melakukan
pembayaran biaya pekerjaan Cross Drain dan Dewatering.
Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka Penggugat menyatakan
menolak terhadap Putusan Tergugat yang telah mengabulkan sebagian
permohonan Turut Tergugat untuk pembayaran pekerjaan cross drain dan
dewatering sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), belum termasuk pajak
PPN.

Berdasarkan segala apa yang diuraikan di atas, Penggugat memohon dengan hormat
kepada Majelis Hakim untuk memutuskan :

1. Membatalkan Putusan BANI No. 326/X/ARB-BANI/2009 untuk seluruhnya atau


setidak-tidaknya menyatakan putusan BANI tersebut tidak mempunyai kekuatan
hukum untuk dilaksanakan ;

2. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya dan pengeluaran atas pelaksanaan


permohonan pembatalan Putusan Arbitrase ini termasuk namun tidak terbatas pada
biaya-biaya administrasinya, dan biaya-biaya hukum lainnya, sesuai ketentuan yang
berlaku.

Bahwa kemudian Majelis hakim dalam pertimbangan hukumnya sehingga memutuskan dengan
amar putusannya sebagai berikut:

MENGADILI

DALAM EKSEPSI

- Menolak eksepsi dari Tergugat untuk seluruhnya ; ------------------------------

DALAM POKOK PERKARA

- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya ; ---------------------------------


- Menghukum Penggugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang
hingga kini diperhitungkan sebesar Rp. 581.000,- (lima ratus delapan puluh satu ribu
rupiah) ; ----------------------------------------------

4. Berbagai Peraturan Perundang-Undangan, yurisprudensi, atau doktrin


Berbagai peraturan yang digunakan acuan dalam putusan ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa;
2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua
dengan Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2009;
4. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata);
5. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD);
6. Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Umum dan Perdata Khusus, Buku II
Edisi 2007;
7. Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 237 K/SIP/1968 tanggal 20 Juli 1968;
8. Putusan Mahkamah Agung R.I No.1260 K/SIP/1980 tanggal 31 Maret 1982;
9. Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 01/ Banding/Wasit/2002 tanggal 20 September
2001;
10. Putusan Mahkamah Agung R.I No. 67 K/Sip/1972 tanggal 13 Agustus 1972;
11. Doktrin hukum1
12. Doktrin hukum2
13. Doktrin hukum3

5. Penerapan peraturan perundang-undangan, yurisprudensi atau doktrin


Sebagaimana peraturan perundang-undangan, yurisprudensi dan doktrin yang telah
disebutkan di atas, maka dapat dilihat penerapannya, majelis hakim dalam memutuskan
perkara No. 490/Pdt.G /2010/PN.Jkt.Sel., menyatakan pertimbangan hukum sebagai berikut:
- Bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak memiliki kewenangan untuk
memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo berdasakan kompetensi
relatif karena suatu upaya pernbatalan putusan arbitrase harus diajukan
secara tertulis kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi
tempat tinggal Termohon dalam proses pemeriksaan arbitrase, dan dalam
proses pemeriksaan perkara No. 326/X/ARB-BANI/2009 di BANI, para pihak
yang berperkara adalah PT. Hutama Karya (Persero) selaku pihak Pemohon
dan PT. Angkasa

Pura I (Persero) selaku Termohon, yang berkedudukan di Kota Baru Bandar


Kemayoran Blok B-12 Kaveling No. 2, Jakarta Pusat. Dengan demikian yang
berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini adalah Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat ;
- Bahwa upaya hukum Pembatalan Putusan Arbitrase harus diajukan dalam
bentuk permohonan sehingga gugatan pembatalan yang diajukan oleh
Penggugat tidak berdasar hukum karena secara tegas telah diatur dalam
Pasal 70 UU No. 30/1999 tentang Arbitrase yang menyatakan terhadap
putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan.
Oleh karena itu pengajuan gugatan yang diajukan oleh Penggugat untuk
meminta pembatalan putusan arbitrase bertentang dengan Pasal 70 UU No.
30 Tahun 1999 tentang Arbitrase ;

- Bahwa salah satu syarat diajukannya permohonanan pembatalan putusan


arbitrase diatur dalam Pasal 71 UU No. 30 Tahun 1999, yang pada pokoknya
mengatur tentang tenggang waktu mengajukan upaya hukum pembatalan
putusan arbitrase yaitu paling lama 30 hari terhitung sejak hari dan
pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri. Namun
Penggugat baru mengajukan gugatan pembatalan putusan arbitrase ini
tanggal 16 Juni 2010, sedangkan Penggugat baru mengajukan upaya hukum
pada tanggal 22 Juli 2010 ;

1 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2005, hlm.527
2 Munir Fuady, S.H., M.H., LL.M., Arbitrase Nasional Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2000, hlm. 106
3 Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama, Aneka Hukum Arbiterase, Bandung PT. Citra Aditya Bakti, 1996, hlm 28.
Menimbang, bahwa atas alasan eksepsi dari Tergugat tersebut, Penggugat
telah menyangkal dengan mendalilkan yang pada pokoknya bahwa gugatan telah
tepat diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai tempat wilayah hukum
Tergugat, dan upaya hukum diajukan dalam bentuk gugatan karena ada sengketa
antara Penggugat dengan Tergugat, dan gugatan tersebut didaftarkan setelah lewat
26 hari kerja sejak pendaftaran pada tanggal 16 Juni 2010 ;

Menimbang, bahwa mengenai alasan eksepsi dari Tergugat, Majelis Hakim


akan mempertimbangkannya sebagai berikut ;

Menimbang, bahwa sesuai dengan Pasal 134 HIR dan Pasal 136 HIR dan
sesuai praktek peradilan, eksepsi wajib diputus dalam putusan sela apabila
menyangkut kewenangan mengadili dari pengadilan negeri yaitu baik mengenai
kewenangan mengadili secara absolut atau kewenangan mengadili secara relatif,
apabila eksepsi dari Tergugat sudah mengenai materi pokok perkara, oleh karena
sudah diperlukan adanya pembuktian, maka eksepsi dari Tergugat tidak diputuskan
secara tersendiri melainkan akan dipertimbangkan dan diputus bersamaan dengan
putusan akhir ;

Menimbang, bahwa memperhatikan surat gugatan Penggugat pada dasarnya


adalah memohon pembatalan Putusan BANI No. No. 326/X/ARB-BANI/2009 tanggal
24 Mei 2010 dengan alasan ada bukti baru yang bersifat menentukan yang
disembunyikan oleh pihak lawan ;

Menimbang, bahwa Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase pada


pokoknya berbunyi sebagai berikut :

"Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan


apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan
dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu ;

b. Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang


disembunyikan oleh pihak lawan ; atau

c. Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh satu-satu pihak
dalam pemeriksaan sengketa ;”

Menimbang, bahwa memperhatikan syarat-syarat yang diperkenankan


arbitrase, Majelis melihat dan berpendapat bahwa ketiga alasan yang
diperkenankan oleh undang- undang tersebut kesemuanya mengandung unsure
sengketa diantara para pihak karena memuat kepentingan yang berbeda dari para
pihak berperkara ;

Menimbang, bahwa karena di dalam alasan-alasan yang diperkenankan oleh


undang-undang tersebut mengandung unsur sengketa, maka pemeriksaan
perkaranya harus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum acara yang berlaku
yakni dengan mengacu kepada ketentuan dalam HIR ;

Menimbang, bahwa tentang domisili hukum diatur dalam Pasal 118 HIR yang
pada pokoknya bahwa gugatan harus diajukan kepada alamat Tergugat in casu
Badan Arbitrase Nasional yang berkedudukan di Wahana Graha lantai 2, Jalan
Mampang Prapatan No. 2, Jakarta Selatan. Sehingga pengajuan gugatan oleh
Penggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah sudah tepat ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas maka eksepsi tentang
kompetensi relatif harus dinyatakan tidak beralasan hukum dan ditolak ;

Menimbang, bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan di atas bahwa


alasan- alasan yang diberikan oleh Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase kesemuanya mengandung unsur sengketa karena menyangkut
kepentingan pihak lain yang sudah barang tentu berbeda dengan kepentingan
Penggugat ;

Menimbang, bahwa selain itu dalam Pasal 60 UU No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Disebutkan putusan arbitrase itu
bersifat "final" yakni sebagai putusan pertama dan terakhir, dan mempunyai
kekuatan hukum tetap serta langsung mengikat (binding) bagi para pihak. Sebagai
putusan yang bersifat final, maka dengan demikian terhadap putusan arbitrase
tersebut tidak dapat diajukan upaya hukum seperti perlawanan, banding kasasi atau
peninjauan kembali. Namun, karena beberapa hal dimungkinkan pembatalan
putusan arbitrase sebagaimana diatur dalam pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas selain terdapat unsur


sengketa dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999, ternyata pula sesuai ketentuan
Pasal 60 putusan arbitrase merupakan putusan final sehingga tidak dapat diajukan
permohonan, banding, kasasi ataupun Peninjauan kembali, maka sudah barang
tentu permohonan pembatalan yang dimaksudkan dalam pasal 70 UU No. 30 tahun
1999 adalah dengan mengajukan gugatan yang sudah tentu lain yang mempunyai
kepentingan atas putusan tersebut untuk mempertahankan haknya ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas maka pengajuan
gugatan yang diajukan oleh Penggugat menurut hemat Majelis Hakim adalah sudah
tepat dan tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase. Dengan demikian eksepsi mengenai hal tersebut haruslah
ditolak ;
Menimbang, bahwa dalam Pasal 71 UU No. 30 Tahun 1999 diatur tentang
waktu untuk mengajukan upaya pembatalan putusan arbitrase yakni 30 hari sejak
putusan arbitrase tersebut didaftarkan di Pengadilan Negeri setempat;
Menimbang, bahwa memperhatikan ketentuan Pasal 71 UU No. 30 Tahun
1999, ternyata undang-undang tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut
tentang waktu 30 hari tersebut demikian pula dalam penjelasannya. Namun
demikian telah menjadi lazim bahwa perhitungan hari didasarkan pada perhitungan
kalender hari kerja ;

Menimbang, bahwa dari bukti T-2 berupa Akte Pendaftaran Nomor : 08/
WASIT/2010/PN.JKT.Pusat, diketahui Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia
Nomor : 326/X/ARB-BANI/2009 tanggal 24 Mei 2010, telah didaftarkan di
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada hari Rabu tanggal 16 Juni
2010;

Menimbang, bahwa kemudian dari pemeriksaan dipersidangan, Penggugat


telah mendaftarkan surat gugatannya pada tanggal 22 Juli 2010 ;

Menimbang, bahwa dari kedua fakta di atas yang selanjutnya dihubungan


dengan tenggang waktu 30 hari kerja, maka Majelis berpendapat bahwa Penggugat
telah mendaftarkan surat gugatannya sesuai dengan tenggang waktu yang telah
ditentukan. Dengan demikian eksepsi tentang tenggang waktu haruslah ditolak ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka


beralasan hukum bila eksepsi dari Tergugat dinyatakan tidak beralasan hukum dan
ditolak untuk seluruhnya ;

Dalam Pokok Perkara


Menimbang, bahwa maksud gugatan Penggugat adalah sebagaimana
tersebut

diatas ;

Menimbang, bahwa Penggugat dalam surat gugatannya pada pokoknya


mendalilkan hal-hal sebagai berikut :
- Bahwa setelah dikeluarkannya Putusan dari Tergugat, telah ditemukan
adanya dokumen berupa Surat Perjanjian Pemborongan antara Turut
Tergugat dengan PT. Metropolitan Aulia Mix (sebagai sub kontraktor) tentang
Pekerjaan Aspal- bandara Internasional Lombok No. PROD. IV/TR. 1936/SPP.
13/08, tanggal 6 Oktober 2008. Dimana dokumen tesebut bersifat
menentukan yang tidak pernah diungkap oleh Turut Tergugat dalam proses
pemeriksaan arbitrase terkait perkara aquo yang mana dokumen tersebut
dapat mempengaruhi pertimbangan Tergugat dalam memberikan putusan ;
- Bahwa selain itu Penggugat keberatan pula dalam hal pembayaran yang
harus dilakukan dengan alasan-alasan sebagai berikut :

a. Mengenai penyesuaian harga karena kenaikan BBM.

Karena Tergugat dalam putusannya mempergunakan ketentuan Pasal


1339 KUH Perdata dalam masalah penyesuaian harga karena kenaikan
BBM. Hal mana mengesampingkan asas kontraktual sebagaimana diatur
dalam Pasal 1338 KUH Perdata dan Pasal 15 butir 2 Rules and
Procedures BANI, yang pada pokoknya mengatur bahwa dalam
menerapkan hukum yang berlaku, Tergugat atau Majelis Arbitrase harus
mempertimbangkan ketentuan- ketentuan dalam perjanjian serta praktek
dan kebiasaan yang relevan dalam kegiatan bisnis yang bersangkutan ;

b. Mengenai Penyesuaian harga Akibat percepatan pekerjaan.

Bahwa untuk membantu percepatan pekerjaan, Penggugat telah


memberikan uang muka sebesar Rp. 30.800.000.000,- (tiga puluh milyar
delapan ratus juta rupiah) untuk membantu cas flow Turut Tergugat dalam
melaksanakan percepatan pekerjaan, sehingga permintaan Turut Tergugat
untuk membayar biaya percepatan sebesar Rp. 9.974.195.159 (sembilan
milyar sembilan ratus tujuh puluh empat juta seratus sembilan puluh lima
ribu seratus lima puluh sembilan rupiah) adalah sudah tidak relevan.
Namun Tergugat dalam putusan tetap mengabulkan sebagian permohonan
Turut Tergugat tersebut dan menghukum Penggugat untuk membayar
penyesuaian harga percepatan pekerjaan sebesar Rp. 4.000.000.000,-
(empat milyar rupiah) ;

c. Mengenai Pekerjaan Cross Drain dan Dewatering.

Bahwa Penggugat juga menolak putusan Tergugat yang telah


mengabulkan sebagian permohonan Turut Tergugat untuk pembayaran
pekerjaan cross drain dan dewatering sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu
milyar rupiah) belum termasuk pajak PPN karena Penggugat belum pernah
memberikan persetujaun untuk pelaksanaannya sehingga belum ada
kesepakatan antara para pihak-pihak yang dapat digunakan sebagai dasar
untuk melaksanakan pekerjaan Cross dan Dewatering tersebut ;
Menimbang, bahwa atas dalil-dalil Penggugat tersebut, Tergugat dan Turut
Tergugat telah menyangkalnya sehingga sesuai ketentuan hukum acara, Penggugat
berkewajiban untuk membuktikan dalil gugatannya tersebut ;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil gugatannya, Penggugat telah


mengajukan bukti surat berupa fotocopy yang diberi tanda P-1 sampai P-3 dan 1
orang ahli, yang mana bukti P-3 tidak dapat diperlihatkan aslinya oleh Penggugat,
namun karena bukti tersebut tidak disangkal keberadaannya oleh Tergugat dan
Turut Tergugat maka bukti tersebut tetap akan dipertimbangkan ;

Menimbang, bahwa dipihak lain untuk memperkuat dalil sangkalannya,


Tergugat dan Turut Tergugat pula mengajukan bukti tandingan yang diberi tanda T-1
sampai T-10 sedangkan Turut Tergugat diberi tanda TT-1 sampai TT-12b
sebagaimana tersebut di atas ;

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P-2 = T-2 = TT-1, berupa Salinan


Resmi Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia Nomor : 326/X/ARB-
BANI/2009, tanggal 24 Mei 2009, diketahui bahwa Tergugat telah memeriksa dan
memutus perkara antara PT. Hutama Karya selaku Pemohon (in casu Turut
Tergugat) melawan PT. Angkasa Pura I (Persero) selaku Termohon (in casu
Penggugat) yang telah diputus pada tanggal 24 Mei 2010 dengan amar putusan
sebagaimana tersebut selengkapnya dalam bukti tersebut ;

Menimbang, bahwa atas putusan Tergugat tersebut, Penggugat telah


mengajukan permohonan pembatalan putusan Arbitrase dengan alasan telah
ditemukan bukti baru
berupa Surat Perjanjian Pemborongan antara Turut Tergugat dengan PT.
Metropolitan Aulia Mix (sebagai sub kontraktor) tentang Pekerjaan Aspal-bandara
Internasional Lombok No. PROD. IV/TR.1936/ SPP.13/08, tanggal 6 Oktober 2008.
Yang mana bukti tersebut bersifat menentukan dan dapat mempengaruhi
pertimbangan Tergugat dalam memberikan putusan ;
Menimbang, bahwa tentang alasan-alasan permohonan pembatalan putusan
arbitrase diatur dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase yang
selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

"Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan


pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai
berikut :
a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan
dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu ;
b. Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang
disembunyikan oleh pihak lawan ; atau
c. Putusan diambil dari hasii tipu muslihat yang dilakukan oleh satu pihak
dalam pemeriksaan sengketa ;”

Menimbang, bahwa memperhatikan dalil-dalil yang disampaikan oleh


Penggugat, yang selanjutnya dihubungkan dengan ketentuan Pasal 70 UU No. 30
Tahun 1999, dapat ditarik kesimpulan bahwa alasan pengajukan permohonan
pembatalan putusan arbitrase oleh penggugat terdapat pada huruf b, sehingga akan
dipertimbangkan lebih lanjut, apakah dokumen baru yang ditemukan tersebut sesuai
dengan maksud dan isi dari Pasal 70 huruf b dari UU No. 30 tahun 1999 tersebut ;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalilnya tersebut, Penggugat telah


menunjuk bukti P-3 berupa Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Aspal-bandara
Internasional Lombok No. PROD.IV/TR.1936/SPP. 13/08, tanggal 6 Oktober 2008,
diketahui bahwa Turut Tergugat yang diwakili oleh Ir. Budi Prasetyo selaku Wakil
General Manager Wilayah IV dengan Upries Soeprihadi selaku Direktur PT.
Metropolitan Aulia Mix, telah sepakat dan ditandatangani perjanjian pemborongan
pekerjaan aspal-Bandara Internasional Lombok, dengan ruang lingkup pekerjaan
meliputi Pengadaan dan Penghamparan Prime Coat dan Tack Coat serta
Penghamparan AC-WC, AC-BC, ATB dan AC ;
Menimbang, bahwa selanjutnya dari bukti TT-2a Jo TT-2b berupa Surat
Perjanjian Pemborongan Nomor ; 37/SPP/PL.10/2007-DU tertanggal 14 Desember
2007 berikut addendumnya diketahui bahwa antara Penggugat yang diwakili oleh
Bambang Darwoto selaku Direktur Utama dengan Ir. Bambang Biontoro, MM selaku
Kepala Wilayah V mewakili Direksi Turut Tergugat, telah sepakat dan ditandatangani
Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Pembuatan Runaway dan Fasilitas Penunjang
di Bandara Udara Internasional Lombok, dengan ruang lingkup pekerjaan
sebagaimana tersebut dalam pasal 2 dari Perjanjian Pemborongan tersebut ;

Menimbang, bahwa dari kedua perbandingan bukti tersebut di atas diperoleh


fakta hukum sebagai berikut :

- Pihak-pihak yang saling mengikatkan diri dalam Surat Perjanjian


Pemborongan Pekerjaan Aspal-bandara Internasional Lombok No.
PROD.lV/TR.1936/ SPP.13/08, tanggal 6 Oktober 2008 adalah antara Turut
Tergugat dengan PT. Metropolitan Aulia Mix, sedangkan dalam Surat
Perjanjian Pemborongan Nomor: 37/SPP/PL.110/2007-DU tertanggal 14
Desember 2007 berikut addendumnya adalah antara Turut Tergugat dengan
Penggugat ;
- Bahwa ruang lingkup pekerjaan dalam Perjanjian Pemborongan Pekerjaan
Aspal-Bandara Internasional Lombok No. PROD. IV/TR.1936/SPP.11/08
tanggal 6 Oktober 2008, adalah bagian dari ruang lingkup pekerjaan dalam
Perjanjian Pemborongan Nomor : 37/SPP/PL.10/2007-DU tanggal 14
Desember 2007 Pasal 2 huruf (d) dari keseluruhan point ruang lingkup
pekerjaan (dari a sampai k) ;

Menimbang, bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di atas, Majelis


berpendapat bahwa bukti P-3 yang diajukan oleh Penggugat sebagai bukti yang
baru tidak mempunyai hubungan langsung dengan Penggugat selaku pihak yang
berkepentingan karena yang terkait dalam perjanjian pemborongan aspal-Bandara
Internasional Lombok adalah antara Turut Tergugat dengan PT. Metropolitan Aulia
Mix ;

Menimbang, bahwa demikian halnya dalam ruang lingkup pekerjaan ternyata


hanya sebagian kecil dari total keseluruhan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh
Turut Tergugat sebagai pemborong. Sehingga tidak berpengaruh terhadap
perhitungan biaya yang dilakukan oleh Tergugat dalam rangka penjatuhan hukuman
pembayaran kepada Penggugat ;
Menimbang, bahwa oleh karena ternyata bukti P-2 yang diajukan oleh
Penggugat tidak berhubungan langsung dengan Penggugat sendiri serta tidak
mempengaruhi putusan akhir dari Tergugat, maka pengajuan bukti tersebut tidak
sesuai dengan yang dimaksud dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka
beralasan hukum bila dalil Penggugat tentang ditemukannya bukti baru setelah
putusan dijatuhkan, dinyatakan tidak beralasan dan harus ditolak ;

Menimbang, bahwa selanjutnya Penggugat mendalilkan pula bahwa


keberatan atas pembayaran yang harus dilakukan dengan alasan-alasan
sebagaimana terurai di atas namun tanpa disertai bukti pendukung ;

Menimbang, bahwa atas dalil Penggugat tersebut Tergugat dan Turut


Tergugat telah menyangkal dengan mengajukan bukti pendukung yang diberi tanda
T- 2 sampai T-10 sedangkan Turut Tergugat dengan bukti bertanda TT-1, TT-3
sampai TT-12b ;

Menimbang, bahwa memperhatikan dalil-dalil Penggugat tersebut yang


selanjutnya dihubungkan dengan Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
yang mengatur tentang alasan-alasan permohonan Pengajuan Pembatatan Putusan
Arbitrase, ternyata dalil-dalil yang disampaikan oleh Penggugat tersebut tidak
termasuk dalam ruang lingkup Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999. Dengan demikian
terhadap dalil Penggugat tersebut haruslah dikesampingkan. Demikian halnya
dengan bukti-bukti dari Tergugat dan Turut Tergugat mengenai hal tersebut ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas maka beralasan
hukum bila dalil Penggugat tentang keberatan atas penghukuman pembayaran
dinyatakan tidak beralasan hukum dan ditolak ;

Menimbang, bahwa oleh karena ternyata seluruh dalil-dalil dari Penggugat


tidak beralasan hukum maka patut dan adil bila gugatan Penggugat dinyatakan
ditolak seluruhnya ;
Mengingat, Pasal 70 dan Pasal 71 No. 30 Tahun 1999, pasal-pasal dalam
HIR, Undang-undang dan hukum yang berlaku ;

6. Kesimpulan Majelis Hakim


Majelis hakim menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya dan menghukum Penggugat
untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara tersebut sebesar Rp. 581.000,- (lima ratus
delapan puluh satu ribu rupiah)
Serta Majelis hakim juga menolak eksepsi yang disampaikan Tergugat untuk seluruhnya.

7. Opini Atas Putusan


Arbitrase adalah sebuah lembaga penyelesaian sengketa di luar peradilan formal. Hukum
memberikan kekuatan yang sama untuk putusan badan arbitrase sebagaimana hukum
memberikan kekuatan yang sama pada putusan pengadilan tingkat akhir, dan keputusan
dapat dijalankan atau dieksekusi atas perintah Kepala Pengadilan Negeri.4
Putusan Arbitrase itu bersifat final dan binding. Itu berarti, putusan arbitrase tidak bisa
dibanding dan/atau dikasasi. Meskipun demikian, masih ada upaya (hukum) yang dapat
dilakukan oleh para pihak yang berselisih, yaitu upaya permohonan pembatalan terhadap
putusan arbitrase tersebut.5
Yurisdiksi arbitrase muncul ketika ada kalusul mengenai pilihan yusisdiksi atau pilihan forum
di dalam perjanjian, yang menyebutkan bahwa arbitrase merupakan badan penyelesaian
sengketa yang dipilih oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa yang timbul diantara
mereka. Klausul tersebut disebut sebagai klausul arbitrase. Dengan adanya klausul arbitrase
di dalam perjanjian, arbitrase akan memiliki kompetensi absolut. Hal ini sesuai dengan yang
dinyatakan dalam pasal 11 ayat 1 Undang-undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa6 yaitu bahwa adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis
meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat
yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan Negeri.

Legitimasi penyelesaian sengketa melalui arbiterase ini adalah bahwa perjanjian berlaku
sebagai undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya dan bahwa hukum perjanjian
menganut sistem terbuka (open system). Namun meskipun begitu, para pihak tetap juga

4 R. Subekti, Aneka Perjanjian, Cetakan kesepuluh, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,1995, hal. 182.
5 Joni Emirzon, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2001, hal. 115.
6 Undang-undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa UU No. 30 Tahun 1999. LN No.
138 Tahun 1999. Selanjutnya disebut UU Arbitrase dan APS
harus memperhatikan pada kebijakan dalam suatu negara dimana para pihak membuat
perjanjian. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perubahan keadaan baik
ekonomi berupa inflasi dan deflasi, sehingga dalam menerapkan Perjanjian yang telah
disepakati, tetap memperhatikan perubahan kebijakan yang ada. Oleh karenanya, dalam
setiap perjanjian biasanya dinyatakan tentang force majeur yang salah satunya adalah
perubahan kebijakan atau kondisi politik negara atau pemerintah dalam hal ini adalah
Indonesia. Dalam hal ini kenaikan BBM adalah salah satu perubahan kondisi ekonomi yang
dialami dari kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Perintah pelaksanaan putusan arbitrase oleh ketua Pengadilan Negeri diberikan dalam
waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah permohonan eksekusi didaftarkan
kepada Ketua Pengadilan Negeri. Ketua Pengadilan Negeri, sebelum memberikan perintah
pelaksanaan, diberikan hak untuk memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase
tersebut telah diambil dalam satu proses yang sesuai, di mana :
1. Arbiter atau majelis arbitrase yang memeriksa dan memutuskan perkara telah di angkat
oleh para pihak sesuai dengan kehendak mereka; dan
2. Perkara yang diserahkan untuk diselesaikan oleh arbiter atau majelis arbitrase tersebut
adalah perkara yang menurut hukum yang dapat diselesaikan dengan arbitrase, serta
3. Putusan yang dijatuhkan tersebut tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban
umum.

Mempelajari dari fakta hukum yang ada, sudah jelas bahwa PT. Hutama Karya (Persero)
adalah pihak yang dirugikan oleh PT. Angkasa Pura I, sehingga PT. Hutama Karya (Persero)
meminta ganti rugi atas resiko yang timbul akibat adanya perubahan kebijakan dari
pemerintah dan atas penambahan dan percepatan yang diinginkan oleh PT. Angkasa Pura I
diluar jadwal yang telah disepakati.

Demi mendapatkan hak, kepastian hukum dan rasa keadilan PT. Hutama Karya (Persero) telah
mengajukan permohonan pemeriksaan di Badan Arbiterse Nasional Indonesia (BANI) dengan
nomor perkara 326/X/ARB-BANI/2009 pada tanggal 5 Oktober 2009. Dalam putusan BANI
sudah jelas bahwa kedua belah pihak harus mematuhi sesuai dengan ketentuan Pasal 60 dan
Pasal 61 Undang-Undang RI No.30 Tahun 1999, maka putusan BANI Nomor 326/X/ARB-
BANI/2009 adalah putusan yang bersifat final dan mengikat kepada para pihak.

Dari sini penulis memaparkan analisa atas putusan Pengadilan Negeri No


490./Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel yaitu bahwa putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut
telah mempertimbangkan dan menjatuhkan putusan yang pada intinya menerima putusan BANI
dan menolak dalil gugatan dari Penggugat seluruhnya. Penulis sangat sepakat dengan hasil
putusan Pengadilan Negeri tersebut untuk menguatkan putusan BANI karena adanya alasan-
alasan, fakta-fakta hukum yang dijadikan pertimbangan hukum majelis hakim dalam meutus
perkara a quo.