Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Referat
Agustus 2018

SKRINING PERKEMBANGAN ANAK

OLEH :
ANISAH MAHMUDAH
C014172125

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi
sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan
dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan
usianya.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berjalan bersamaan, saling


berkaitan dan sulit dipisahkan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisis anak dalam hal
panjang, tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Panjang/tinggi badan merupakan indikator
pertumbuhan linear. Berat badan berkaitan dengan status gizi dan hidrasi, karena itu dapat
berubah. Pertumbuhan lingkar kepala berkaitan dengan pertumbuhan otak yang berhubungan
dengan perkembangan anak. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan fungsi individu
antara lain dalam bidang motorik kasar dan komunikasi, bahasa, intelektual, emosi dan sosial.1

Sesuai dengan proses tumbuh kembang, pemantauan perlu dilakukan sejak awal yaitu
sewaktu dalam kandungan sampai dewasa. Tumbuh kembang perlu dipantau agar setiap
penyimpangan tumbuh kembang dapat dideteksi dan diintervensi sedini mungkin, agar anak
mencapai tumbuh kembang optimal sesual potensi genetiknya. Dengan pemantauan yang baik
akan dapat dideteksi adanya penyimpangan secara dini sehingga tindakan koreksi yang
dilakukan akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Dengan kata lain bila penyimpangan
terjadi pada usia dini dan dideteksi sedini mungkin, maka tindakan koreksi akan memberikan
hasil yang memuaskan, sedangkan bila penyimpangan terjadi pada usia dini tetapi baru dideteksi
pada usia yang lebih lanjut, hasil koreksi akan kurang memuaskan. Upaya untuk membantu agar
anak tumbuh kembang secara optimal dengan cara deteksi adanya penyimpangan dan intervensi
dini perlu dilaksanakan oleh semua pihak sejak mulai dari tingkat keluarga, petugas kesehatan
mulai dari kader kesehatan sampai dokter spesialis, dan di semua tingkat pelayanan kesehatan
mulai dari tingkat dasar sampai pelayanan yang lebih spesialistis.2

Deteksi dini adalah upaya penyaringan yang dilaksanakan untuk menemukan


penyimpangan kelainan tumbuh kembang secara dini dan mengetahui serta mengenal faktor-
faktor risiko terjadinya kelainan tumbuh kembang tersebut. Deteksi dini gangguan tumbuh
kembang balita dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis rutin, skrining
perkembangan dan pemeriksaan lanjutan. Keluhan orangtua mengenai penyimpangan
perkembangan anaknya perlu ditindaklanjuti karena sebagian terbukti benar. Penting pula
menanyakan faktor-faktor risiko di lingkungan mikro (ibu), mini (lingkungan keluarga dan
tempat tinggal), meso (lingkungan tetangga, polusi, budaya, pelayanan kesehatan dan
pendidikan) dan makro (kebijakan program) yang dapat mengganggu tumbuh kembang balita
atau dapat dioptimalkan untuk mengatasi gangguan tersebut. Pemeriksaan fisis rutin meliputi
pengukuran tinggi dan berat badan, bentuk dan ukuran lingkar kepala, kelainan organ-organ lain
dan pemeriksaan neurologis dasar.2,3

Skrining perkembangan dapat menggunakan kuesioner atau melakukan pengamatan


langsung pada balita. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) berisi 10 pertanyaan untuk
setiap kelompok umur, yang ditanyakan kepada orangtua oleh paramedis atau dokter. Buku
Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga (Depkes RI) menilai 4 keterampilan balita untuk
setiap kelompok umur, yang dapat dilakukan oleh paramedis atau kader kesehatan. Pediatric
Symptom Checklist (PSC) berisi 35 perilaku anak yang dapat ditanyakan oleh paramedis atau
dokter kepada orangtua. Kuesioner Skrining Perilaku Anak Prasekolah menyerupai PSC tetapi
hanya berisi 30 pertanyaan. Skrining Perkembangan Denver II mempunyai kepekaan yang cukup
baik untuk deteksi gangguan gerak kasar, gerak halus, berbahasa dan personal sosial. Selain itu
secara tidak langsung dapat mendeteksi gangguan penglihatan, koordinasi matatangan,
pendengaran, pemahaman, komunikasi verbal - non verbal, pemecahan masalah dan
kemandirian, namun kurang peka untuk gangguan emosional. Checklist for Autism in Toddlers
(CHAT) adalah salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum autistik (austistic
spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun. Pemeriksaan lanjutan yang
komprehensif sebaiknya melibatkan berbagai profesi dan disiplin keilmuan untuk memastikan
jenis, derajat dan penyebab gangguan, serta merencanakan tindak lanjut yang komprehensif dan
terintegrasi agar anak dapat tumbuh kembang optimal.3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Perkembangan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan fungsi individu antara lain dalam


bidang motorik kasar dan komunikasi, bahasa, intelektual, emosi dan sosial.1

Perkembangan seorang anak spesifik dan berbeda. Perkembangan anak merupakan maturasi
organ tubuh terutama sistem saraf pusat (SSP). Tahapan yang terpenting pada perkembangan
anak adalah pada 3 tahun pertama, karena perkembangan berlangsung dengan pesat dan
menentukan masa depan anak kelak (teori plastisitas).5

2. Skrining Perkembangan

Menurut batasan WHO, skrining adalah prosedur yang relatif cepat, sederhana dan murah
untuk populasi yang asimtomatik tetapi mempunyai risiko tinggi atau dicurigai mempunyai
masalah. Blackman (1992) menganjurkan agar bayi atau anak dengan risiko tinggi (berdasarkan
anamnesis atau pemeriksaan fisik rutin) harus dilakukan skrining perkembangan secara periodik.
Sedangkan bayi atau anak dengan risiko rendah dimulai dengan kuesioner praskrining yang diisi
atau dijawab oleh orangtua. Bila dari kuesioner dicurigai ada gangguan tumbuh kembang
dilanjutkan dengan skrining.4

Skrining perkembangan untuk deteksi dini pada setiap anak penting dilakukan, terutama
pada anak sampai usia 1 tahun agar bila ditemukan kecurigaan penyimpangan perkembangan
dapat segera dilakukan intervensi dini sebelum terjadi kelainan. Dari beberapa sumber
kepustakaan didapatkan bahwa intervensi pada anak dengan kecurigaan penyimpangan
perkembangan sebaiknya dilakukan sebelum usia 3 tahun.5 Ada beberapa jenis alat/cara untuk
melakukan penilaian/skrining perkembangan pada seorang anak, satu di antaranya yang sudah
terbukti menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas baik adalah menggunakan Denver II. Denver II
merupakan salah satu skrining yang telah banyak digunakan oleh profesi kesehatan di dunia
termasuk Indonesia.5
Tidak pada semua anak dapat dilakukan skrining perkembangan karena yang biasa
melakukan adalah dokter anak, dan memerlukan biaya cukup mahal, sementara Departemen
Kesehatan RI mengharapkan pada tahun 2010, 80% anak balita sudah dilakukan skrining
perkembangan agar dapat dilakukan intervensi dini terhadap anak yang dicurigai mengalami
gangguan perkembangan. Depkes RI pada tahun 2005 mengeluarkan revisi buku deteksi dini
tumbuh kembang yang bertujuan identifikasi dini perkembangan anak di tingkat terbawah, yaitu
tingkat kecamatan, berupa kuesioner praskrining perkembangan (KPSP). Metode KPSP ini
bertujuan untuk mengetahui perkembangan seorang anak apakah sesuai dengan usianya ataukah
ditemukan kecurigaan penyimpangan, KPSP dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan ataupun
tenaga non kesehatan yang terlatih.6

3. Tools Skrining Perkembangan Anak


A. Denver II

Skrining perkembangan yang banyak digunakan oleh profesi kesehatan adalah Denver II,
antara lain karena mempunyai rentang usia yang cukup lebar (mulai bayi baru lahir sampai umur
6 tahun), mencakup semua aspek perkembangan dengan realiability cukup tinggi (interrates
reability = 0.99, test-retest reability = 0.90). Sampai tahun 1990 metode ini telah digunakan lebih
dari 54 negara dan telah dimodifikasi lebih dari 15 negara (Frankenburgh dkk, 1990).7

Denver II merupakan penyempurnaan Denver Developmental Screening test (DDST)


yang diterbitkan pertama kali tahun 1967. Sampai tahun 1990, DDST telah digunakan pada
minimal 54 negara dan telah menskrining lebih dari 50 juta anak. Denver II mencakup usia 0-6
tahun, mencakup 4 bidang perkembangan personal sosial, bahasa, motorik kasar, dan motorik
halus. Denver II terdiri dari 125 butir uji yang disusun dalam 4 sektor fungsi, yaitu:1

- Personal sosial: berhubungan dengan orang lain dan pemenuhan diri sendiri.
- Gerak halus-adaptif: koordinasi mata-tangan, manipulasi objek kecil.
- Bahasa-dengar: mengerti dan menggunakan bahasa.
- Gerak kasar: duduk, berjalan, melompat, dan gerak otot besar keseluruhan.

Uji Denver II memerlukan pelatihan khusus dan waktu pemeriksaan sekitar 15-30 menit.
Batas perkembangan gerak kasar anak1

No Gerak Kasar P75 Denver II P90 Denver II


(Hati-hati) (Terlambat)
1 Tengkurap bolak balik 4,3 bulan 5,4 bulan
2 Ditarik untuk duduk kepala tegak 4,1 bulan 6,2 bulan
3 Duduk tanpa pegangan 6,3 bulan 6,8 bulan
4 Berdiri berpegangan 7,8 bulan 8,5 bulan
5 Berdiri 2 detik 10,9 bulan 11,6 bulan
6 Berdiri sendiri 12,5 bulan 13,7 bulan
7 Berjalan lancar 13,6 bulan 14,9 bulan
8 Lari 17,8 bulan 19,9 bulan

Batas perkembangan bahasa anak1

No Bahasa P75 Denver II P90 Denver II


(Hati-hati) (Terlambat)
1 Tertawa 2,5 bulan 3,1 bulan
2 Berteriak, mengoceh 2,8 bulan 4,3 bulan
3 Mama, papa, non spesifik 7,7 bulan 9,1 bulan
4 Memanggil mama, papa 11,0 bulan 13,3 bulan
5 Bicara 2 kata 14,6 bulan 16,5 bulan
6 Bicara 6 kata 18,8 bulan 21,4 bulan
7 Menunjuk 2 gambar 20,9 bulan 23,6 bulan
8 Menyebut 1 warna 3,3 tahun 3,7 tahun

Batas perkembangan personal sosial anak1

No Personal Sosial P75 Denver II P90 Denver II


(Hati-hati) (Terlambat)
1 Tersenyum 1,2 bulan 1,5 bulan
2 Mengamati tangan 3,1 bulan 4,0 bulan
3 Memasukkan makanan/ kue ke mulut 5,9 bulan 6,5 bulan
4 Bertepuk tangan 9,2 bulan 11,4 bulan
5 Melambaikan tangan (da-da) 9,2 bulan 14,0 bulan
6 Minum dari cangkir 15,2 bulan 17,1 bulan
7 Menggunakan sendok garpu 17,5 bulan 19,9 bulan
8 Menyebut nama teman 2,8 tahun 3,1 tahun

Batas perkembangan gerak halus anak1

No Gerak Halus P75 Denver II P90 Denver II


(Hati-hati) (Terlambat)
1 Mengikuti ke garis tengah 1,7 1,3
2 Tangan bersentuhan 2,9 4,0
3 Memegang icik-icik (rattle) 3,7 3,9
4 Meraih 5,2 5,6
5 Memegang dengan ibu jari dan jari 9,2 10,2
6 Memasukkan kubus ke cangkir 12,4 13,8
7 Mencoret-coret 14,8 16,3
8 Menyusun 2 kubus 17,1 20,6

Skor Penilaian8

Skor dari tiap uji coba ditulis pada kotak segi empat.

- P : Pass/Iewat. Anak melakukan uicoba dengan baik, atau ibu/pengasuh anak memberi
laporan (tepat/dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukannya)
- F : FaiI/gagal. Anak tidak dapat melakukan ujicoba dengan baik atau ibu/pengasuh anak
memberi laporan (tepat) bahwa anak tidak dapat melakukannya dengan baik
- No : No opportunity/tidak ada kesempatan. Anak tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukan uji coba karena ada hambatan. Skor ini hanya boleh dipakai pada ujicoba
dengan tanda R
- R : Refusal/menolak. Anak menolak untuk melakukan ujicoba. Penolakan dapat
dikurangi dengan mengatakan kepada anak “apa yang harus dilakukan”, jika tidak
menanyakan kepada anak apakah dapat melakukannya (ujicoba yang dilaporkan oleh
ibu/pengasuh anak tidak diskor sebagai penolakan).

Interpretasi Penilaian Individual

- Lebih (advanced): Bila seorang anak lewat pada ujicoba yang terletak di kanan garis
umur, dinyatakan perkembangan anak lebih pada ujicoba tersebut.
- Normal: Bila seorang anak gagal atau menolak melakukan ujicoba di sebelah kanan garis
umur
- Caution/peringatan: Bila seorang anak gagal atau menolak ujicoba, garis umur terletak
pada atau antara persentil 75 dan 90 skornya
- Delayed/keterlambatan: Bila seorang anak gagal atau menolak melakukan ujicoba yang
terletak lengkap disebelah kiri garis umur
- Opportunity: tidak ada kesempatan ujicoba yang dilaporkan orangtua

Interpretasi Denver II

Normal

- Bila tidak ada keterlambatan dan atau paling banyak satu caution.
- Lakukan ulangan pada kontrol berikutnya.

Suspek

- Bila didapatkan ≥2 caution dan/atau ≥1 keterlambatan.


- Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu untuk menghilangkan faktor sesaat seperti rasa
takut, keadaan sakit, atau kelelahan.

Tidak dapat diuji


- Bila ada skor menolak pada ≥1 uji coba terletak disebelah kin garis umur atau menolak
pada >1 uji coba yang ditembus garis umur pada daerah 75-90%.

Uji ulang dalam 1-2 minggu

- Bila ulangan hasil pemeriksaan didapatkan suspek atau tidak dapat diuji, maka di
pikirkan untuk dirujuk (referral consideration).

B. KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan)

Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening Developmental


Questionnaire (PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapa dokter spesialis anak,
psikiater anak, neurolog, THT, mata dan lain-lain pada tahun 1986. Kuesioner ini untuk skrining
pendahuluan bayi umur 3 bulan sampai anak umur 6 tahun yang dilakukan oleh orangtua. Setiap
umur tertentu ada 10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan anak, yang harus diisi (atau
dijawab) oleh orangtua dengan ya atau tidak, sehingga hanya membutuhkan waktu 10-15 menit.
Jika jawaban ya sebanyak 6 atau kurang maka anak dicurigai ada gangguan perkembangan dan
perlu dirujuk, atau dilakukan skrining dengan Denver II. Jika jawaban ya sebanyak 7-8, perlu
diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Jika jawaban ya 9-10, anak dianggap tidak ada gangguan,
tetapi pada umur berikutnya sebaiknya dilakukan KPSP lagi.3

C. Pediatric Symptom Checklist (PSC)

Kuesioner ini dipublikasikan oleh Jelllinek dkk (1988) untuk skrining perilaku anak umur
4-16 tahun berupa 35 perilaku anak yang harus dinilai oleh orangtua. Orangtua dapat menjawab
tidak pernah (nilai 0), kadang-kadang (nilai 1), atau sering (nilai 2), sesuai dengan perilaku
anaknya sehari-hari. Jika jumlah nilai seluruhnya lebih dari 28, maka anak perlu dirujuk. Jika
kurang dari 28 tidak perlu dirujuk.

D. Checklist for Autism in Toddlers (CHAT)


American Academic of Pediatrics (AAP) sejak 2001 merekomendasikan CHAT sebagai
salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum autistik (autistic spectrum
disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun, di samping PDDST (pervasive developmental
disorder screening test) yang diisi oleh orangtua. CHAT dikembangkan di Inggris dan telah
dipublikasikan oleh Cohen dkk,. sejak tahun 1992 serta telah digunakan untuk skrining lebih dari
16.000 balita. Walaupun sensitivitasnya kurang, AAP menganjurkan dokter menggunakan salah
satu alat skrining tersebut. Bila dicurigai ada risiko autis atau gangguan perkembangan lain maka
dapat dirujuk untuk penilaian komprehensif dan diagnostik.9
BAB III

KESIMPULAN

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berjalan bersamaan, saling


berkaitan dan sulit dipisahkan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisis anak dalam hal
panjang, tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Panjang/tinggi badan merupakan indikator
pertumbuhan linear. Berat badan berkaitan dengan status gizi dan hidrasi, karena itu dapat
berubah. Pertumbuhan lingkar kepala berkaitan dengan pertumbuhan otak yang berhubungan
dengan perkembangan anak. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan fungsi individu
antara lain dalam bidang motorik kasar dan komunikasi, bahasa, intelektual, emosi dan sosial.

Tumbuh kembang perlu dipantau agar setiap penyimpangan tumbuh kembang dapat
dideteksi dan diintervensi sedini mungkin, agar anak mencapai tumbuh kembang optimal sesual
potensi genetiknya. Dengan pemantauan yang baik akan dapat dideteksi adanya penyimpangan
secara dini sehingga tindakan koreksi yang dilakukan akan mendapatkan hasil yang lebih
memuaskan. Dengan kata lain bila penyimpangan terjadi pada usia dini dan dideteksi sedini
mungkin, maka tindakan koreksi akan memberikan hasil yang memuaskan, sedangkan bila
penyimpangan terjadi pada usia dini tetapi baru dideteksi pada usia yang lebih lanjut, hasil
koreksi akan kurang memuaskan. Upaya untuk membantu agar anak tumbuh kembang secara
optimal dengan cara deteksi adanya penyimpangan dan intervensi dini perlu dilaksanakan oleh
semua pihak sejak mulai dari tingkat keluarga, petugas kesehatan mulai dari kader kesehatan
sampai dokter spesialis, dan di semua tingkat pelayanan kesehatan mulai dari tingkat dasar
sampai pelayanan yang lebih spesialistis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Makassar.
2016.
2. Ismail D. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak. 2013.
3. Soedjatmiko. Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita. Sari Pediatri, Vol. 3, No.
3, Desember 2001.
4. Blackman JA. Developmental screening: infants, toddlers, and preschoolers. Dalam:
Levine dkk, penyunting. Developmental behavioral pediatrics; edisi-2. Tokyo. Saunders,
1992.
5. Frankerburg WK, Doddss JB. The Denver II: a major revision and restandardization of
the Denver developmental screening test Denver II technical manual. 1992.
6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kuesioner praskrining perkembangan.
Dalam: Rusmil K, Hernawati I, Fadlyana E, Dhamayanti M, Dashriati, Herniyati.
7. Kadi F et al. Kesetaraan Hasil Skrining Risiko Penyimpangan Perkembangan Menurut
Cara Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14
Bulan dengan Berat Lahir Rendah. IKA Unpad. Bandung. 2008.
8. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis. 2009.
9. Committee on Children with Disabilities American Academy of Pediatrics. Technical
report: The Pediatrician’s role in the diagnosis and management of austistic spectrum
disorder in children.