Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang
Sejak menaiknya harga minyak mentah dunia maupun harga gas alam sebagai
sumber bahan bakar, seluruh upaya dilakukan untuk mencari dan mengembangkan
alternatif sumber daya energi untuk mengurangi ketergantungan akan kedua jenis bahan
bakar tersebut. Beberapa bahan bakar alternatif yang memiliki potensi besar
diantaranya biofuel, geotermal, batubara dan lain-lain. Hal yang sama pun dilakukan
oleh industri-industri yang berbahan baku gas alam seperti pabrik pupuk.
Cadangan batubara Indonesia yang terpantau sampai dengan tahun 2002 adalah
sekitar 50 miliar ton [Direktorat Investasi Sumberdaya Mineral, 2002]. Cadangan
terbanyak terdapat di Sumatra Selatan, yaitu sekitar 40% cadangan batubara Indonesia
(Tabel I.1).
Tabel I.1. Cadangan batubara Indonesia sampai dengan tahun 2002
Lokasi 2002
Aceh 780.60
Sumatra Utara 19.97
Riau 1,699.48
Jambi 1,525.46
Sumatra Barat 611.26
Sumatra Selatan 20,024.81
Bengkulu 172.37
Lampung 106.95
Kalimantan Barat 564.72
Kalimantan Tengah 1,493.81
Kalimantan Selatan 8,962.86
Kalimantan Timur 14,353.92
Jawa 14.65
Sulawesi Selatan 118.11
Papua 141.14
Total 50,590.11

Batubara selain dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif juga dapat
digunakan sebagai bahan baku industri kimia. Melalui proses gasifikasi, batubara dapat
dikonversi menjadi gas produser yang komposisinya terdiri atas terdiri atas H2, CO,
CH4, CO2 dan lain-lainnya. Komposisi gas produser ini mirip dengan komposisi gas
sintesis yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar gas, bahan baku gas H2,
bahan baku amonia, metanol dan oxo-alkohol.
Saat ini seluruh industri pupuk di Indonesia menggunakan gas alam sebagai
bahan baku, namun harga gas alam saat ini kian meningkat seiring dengan harganya
sebagai bahan bakar gas. Dengan naiknya harga gas alam ditambah lagi dengan
keterbatasan cadangan gas alam, industri pupuk mulai mengalami kesulitan pasokan gas
alam dengan harga yang kompetitif. Oleh karena itu, pemanfaatan batubara sebagai
pengganti gas alam di pabrik pupuk merupakan sebuah topik yang menarik untuk dikaji
lebih lanjut.

1. 2 Rumusan Masalah
Pemanfaatan batubara di pabrik pupuk dapat dilakukan dengan berbagai
konfigurasi baik fungsinya sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku. Dalam hal
ini batubara bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar saja atau lebih lanjut sebagai bahan
baku ammonia. Pemanfaatan batubara sebagai bahan baku tentu saja akan
menguntungkan jika tidak terdapat pasokan gas alam dengan harga yang kompetitif.
Namun pihak penggunaan batubara sebagai bahan baku ammonia memerlukan proses
yang cukup panjang dan rumit yang membutuhkan investasi yang cukup besar.
Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pun dapat dilakukan melalui dua laternatif
melalui pembakaran langsung atau melalui proses gasifikasi terlebih dahulu.
Beberapa konfigurasi sederhana namun cukup mewakili pemanfaatan batubara
secara keseluruhan dikaji pada studi ini. Hal–hal penting yang akan dikaji pada
penelitian ini meliputi akan konsumsi bahan baku, beberapa kajian teknis, aspek
ekonomi dari penggunaan batubara sebagai bahan baku industri pupuk dan ulasan
singkat mengenai dampak lingkungan dari pengolahan batubara.

I. 3 Tujuan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah pengkajian berbagai konfigurasi proses
pemanfaatan batubara di pabrik pupuk sebagai pengganti gas alam untuk mengetahui
keunggulan satu konfigurasi terhadap konfigurasi lainnya dipandang dari sudut
kebutuhan bahan dan kelayakan ekonomi

2
I. 4 Ruang Lingkup Permasalahan
Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar dapat dilakukan melalui dua proses
utama yakni melalui pembakaran langsung, atau melalui konversi menjadi gas produser
terlebih dahulu via gasifikasi. Secara umum terdapat tiga masalah utama yang akan
dikaji pada penelitian ini, yaitu a) pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar melalui
pembakaran, b) pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar melalui gasifikasi dan c)
pemanfaatan batubara sebagai bahan baku melalui gasifikasi.
Pemanfaatan batubara melalui proses gasifikasi memerlukan sebuah tahapan
tambahan yakni pembersihan gas produser. Gas produser iini akan melewati tahapan
selanjutnya yakni upgrading untuk meningkatkan kualitasnya sebagai gas sintesis yang
akan digunakan sebagai bahan baku amonia. Sebelum digunakan pada unit gasifier
maupun tungku batubara juga melewati tahap persiapan terlebih dahulu diantaranya
pencucian, penggilingan dan pengangkutan. Namun tahapan ini tidak dibahas secara
teknis dalam penelitian ini namun ikut dipertimbangkan dalam penghitungan evaluasi
ekonomi.
Terdapat tiga unit utama di pabrik pupuk pengguna gas alam sebagai sumber
bahan bakar yaitu turbin gas, package boiler dan WHB. Unit –unit ini yang akan diganti
bahan bakarnya dengan gas produser dari hasil gasifikasi batubara. Sebenarnya terdapat
satu unit lagi yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku yakni, unit primary
reformer. Namun substitusi gas alam dengan gas produser di unit ini tidak layak secara
teknis karena perbedaan karakteristik pembakaran gas alam dan gas produser.
Penghitungan neraca massa dan energi dilakukan untuk masing –masing
konfigurasi mulai dari pembakaran batubara, gasifikasi batubara, hingga pembangkitan
steam, pembangkitan listrik dan pembuatan gas sintesisi berbahan baku batubara
dilakukan menggunakan simulator proses. Begitu pula proses pemanfaatan gas alam
konvensional disimulasi dengan simulator proses untuk memvalidasi model yang
selanjutnya akan digunakan sebagai pembanding model lainnya. Penghitungan neraca
massa steam juga dilakukan untuk melihat produksi – konsumsi steam untuk setiap
model sekaligus melihat modifikasi–modifikasi yang harus dilakukan pada steam
system.

3
Studi kelayakan ekonomi dilakukan dengan melakukan perhitungan terhadap
beberapa parameter yang sering dijadikan acuan dalam mengukur kelayakan suatu
proyek, diantaranya ROI, NPV, IRR dan PBP.
Penelitian dimulai dengan melakukan pengumpulan data yang diperlukan dalam
simulasi. Data-data yang diperlukan diantaranya hasil analisis proksimat dan ultimat
dari batubara, kondisi aliran masuk dan kondisi operasi masing-masing unit yang
terlibat. Data-data tersebut diperoleh baik melalui penelusuran literatur dan data neraca
massa PT PUSRI.
Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk melakukan simulasi proses.
Simulasi dilakukan menggunakan simulator Aspen Plus 11.1. Model yang dibangun
dalam simulasi disusun untuk dapat mendekati kondisi prosessebenarnya. Hal ini
dilakukan agar hasil simulasi dapat mewakili proses sebenarnya dan memberikan
fenomena yang sesuai dengan kondisi nyata. Neraca massa dan energi hasil simulasi ini
kemudian digunakan untuk menghitung konsumsi bahan baku dan neraca massa steam
serta mealakukan kajian teknis lainnya. Batasan lingkup simulasi proses yang akan
dilakukan dapat dilihat pada Gambar I. 1. dari gambar terllihat bahwa rangkaian
pemroses yang akan dibandingkan hanya sampai dengan produksi gas sintesis.

Gambar I. 1. Lingkup kajian proses pembuatan gas sintesis di pabrik pupuk dan
pemanfaatan batubara sebagai bahan baku pengganti gas alam

4
Studi kelayakan ekonomi dilakukan dengan bantuan neraca massa dan energi
hasil simulasi ditambah dengan berbagai asumsi–asumsi teknis yang diperlukan pada
penghitungan investasi dan besaran–besaran lain yang telah disebutkan sebelumnya.
Selain itu juga kan dilakukan analisis sensitivitas dari masing–masing mode untuk
melihat pengaruh beberapa parameter utama terhadap proyek. Parameter–parameter
tersebut diantaranya, investasi, harga jual produk, harga bahan baku dan kapasitas
produksi.