Anda di halaman 1dari 22

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA RESUME BIMBINGAN KONSELING

KELOMPOK 3

Dosen pengampu : Drs. Rasimin M.Pd

Affan YusraS.Pd,M.Pd

Nama anggota : Atma Winata Junior Tarigan

NIM : A1C116039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2017
I. LAYANAN PENEMPATAN DAN PENYALURAN
A. Deskripsi Umum
Dalam menjalani kehidupan dan perkembangannya, setiap saat individu berada dalam
kondisi diri tertentu dan menghadapi serta berinteraksi dengan kondisi lingkungannya. Kondisi
diri meliputi berbagai potensi dan keadaan aktual yang ada pada diri sendiri, sedangkan kondisi
lingkungan mengandung berbagai kemungkinan yang dapat memberikan dampak positif
ataupun negatif, tergantung pada penyikapan, penanganan, dan pemanfaatannya. Potensi diri
individu baik yang mengacu kepada pancadaya (daya cipta, daya rasa, daya karsa, daya karya,
dan daya takwa) maupun mengacu kepada kemampuan intelektual, bakat dan minat, serta
kecenderungan pribadi perlu dikembangkan secara optimal. Kondisi jasmaniah harus
mendapatkan
perhatian sepenuhnya agar berada dalam kondisi kebugaran yang tinggi sehingga secara
sinergik mendukung pengembangan potensi individu Pengembangan potensi dalam sinerginya
dengan kondisi organisme-fungsional jasmaniah memerlukan kondisi lingkungan yang
memadai, dalam rangka pengembangan KES yang berkelanjutan
Namun kondisi yang benar-benar sesuai kadang-kadang tercedera. Kondisi mismatch
atau kurang serasi atau kurang mendukung justru yang sering dijumpai dan menimbulkan
masalah. Misalnya: anak-anak yang pintar berada dalam lingkungan yang kurang menantang
dan merangsang perkembangan kecerdasannya; anak-anak yang berbakat tidak memperoleh
kesempatan dan suasana yang memadai untuk pengembangan bakatnya; individu yang
mengalami kesulitan jasmaniah tertentu nendapatkan kondisi yang justru memperparah
dampak kondisi yang kurang menguntungkan itu; dan sebagainya. Kondisi seperti ini
memperlihatkan gejala KES-T yang perlu diwaspadai dan mendapatkan perhatian penuh.
Berbagai kondisi mismatch antara kondisi diri individu dan lingkungannya secara amat potensial
menimbulkan masalah yang mendatangkan hambatan dan kerugian yang secara berantai dapat
semakin besar. Layanan Penempatan dan Penyaluran (PP) membantu individu atau klien untuk
dapat terhindar (fungsi pencegahan) dari dan tidak mengalami mismatch yang dimaksudkan itu.
Individu dengan potensi dan kondisi diri tertentu ditempatkan pada lingkungan yang lebih
serasi agar potensi yang ada dapat berkembang secara optimal. Di samping itu, layanan ini
berusaha mengurangi sampai seminimal mungkin dampak lingkungan dan bahkan
mengupayakan dukungan yang lebih besar dan optimal terhadap pengembangan potensi
individu di sacu sisi sedangkan di sisi lain memberikan kesempatan dan ruang sebesar-besarnya
bagi pengembangan potensi yang dimaksud (fungsi pengembangan). Di tempat dan kondisi
yang cocok, diharapkan potensi individu tersalurkan dan berkembang secara optimalSelain
fungsi pencegahan dan pengenbangan sebagaimana dimaksudkan di atas, layanan PP juga
dapat di gunakan untuk menangani dampak mismatch yang terjadi sebagaimana dikemukakan
terdahulu. Dengan layanan PP mereka yang dirugikan atau mismatch tertentu dapat
dikembalikan ke arah pengembangan yang lebih tepat

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum layanan PP adalah diperolehnya "tempat" yang sesuainbagi individu untuk
pengembangan potensi dirinya. "Tempat" yang dimaksudkan itu adalah kondisi lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-emosional. Lebih luas lagi seperti lingkungan
akademik
lingkungan sosial, lingkungan budaya, yang secara langsung berpengaruh positif terhadap
kehidupan dan perkembangan individu, mengacu pada KES berkelanjutan.
Subjek layanan PP diharapkan dapat mandiri dalam penempatan dar penyaluran dirinya
sendiri. Kemandirian tersebut ditunjang oleh kemampua pengendalian diri untuk
terhindarkannya hal-hal yang tidak dikehendaki dalam kaitannya dengan penempatan dan
penyaluran diri tersebut
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus layanan PP dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang diemban
oleh layanan ini, yaitu:
a. Fungsi pemahaman, terkait dengan dipahaminya potensi dan kondisi diri individu, serta
kondisi lingkungan yang ada sekarang dan kondisi lingkungan yang dikehendaki
b. Fungsi pencegahan, terka dengan dampak positif layanan yang dapat mencegah semakin
parahnya masalah, hambatan dan kerugian yang dapat dialami individu atau sasaran layanan
apabila ia dibiarkan dalam kondisi lingkungan yang sekarang ada. Jika layanan PP tidak
dilaksanakan, artinya individu atau sasaran layanan dibiarkan berada dalam keadaan mismatch
antara potensi dan/atau kondisi dirinya dengan kondisi lingkungannya akibatnya ia akan
semakin menderita. Mismatch akan berlarut dan kondisi KES-T akan berkelanjutan atau
mungkin semakin parah
c. Fungsi pengentasan, secara langsung terkait dengan fungsi pencegahan. Pertama-tama
layanan PP hendak mengatasi masalah (KES-T) individu atau sasaran layanan melalui upaya
menempackannya pada kondisi lingkungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan klien. Apabila
upaya ini berhasil, fungsi pencegahan akan terangkatkan
d. Fungsi pengembangan dan pemeliharaan, secara langsung menjadi buah dari penyaluran
dalam layanan PP Dengan kondisi lingkungan baru yang lebih sesuai, potensi individu atau klien
menjadi terkembangkan dan terpelihara dari hal-hal yang menghambat dan merugikan, dalam
rangka pengembangan KES berkelanjutan
e. Fungsi advokasi, mempunyai kaitan yang tidak langsung dengan fungsi- fungsi lainnya dalam
layanan PP. Dengan fungsi pengentasan dan pencegahan, secara tidak langsung layanan PP
menghindarkan individu atau klien dari keteraniayaan diri dari hak-haknya (dalam kondisi KES-
T) Lebih jauh, apabila layanan PP berhasil memandirikan, sasaran layanatn itu sendiri akan
mampu mempertahankan diri dan membela hak-haknya dalam kondisi KES.

C. Komponen
1. Konselor
Konselor sebagai pelaksana layanan PP adalah ahli pelnyanan konseling yang sangat peduli
terhadap optimalisasi perkembangan individu demi kebahagiaan kehidupannya. Konselor
memerhatikan dengan cetmat kondisi lingkungan dalam kaitannya dengan perkembangan dan
kehidupan individu. Layanan PP merupakan wahana bagi konselor untuk mengupayakan
lingkungan dan kondisi yang lebih kondusif bagi pengembangan dan kehidupan individu, sesuai
dengan hak-hak pribadi dan hak-hak kehidupannya.
2. Subjek Layanan dan Masalahnya
Subjek layanan PP adalah siapa saja yang memerlukan kondisi lingkungan dan kondisi
yang lebih sesuai dengan kebutuhan kehidupan dannperkembangannya, baik di sekolah, di
rumah, dalam organisasi, lingkungan kerja, lembaga seni dan budaya, dunia keilmuan, dan lain
sebagainya. Semuanya itu bersangkut-paut dengan hak-hak pribadi dan kehidupan individu.
Untuk ini kondisi dua sisi, yaitu sisi diri sendiri (subjek sasaran layanan) dan sisi lingkungan
(yang menjadi arah penempatan-penyaluran) perlu mendapa perhatian, yang unsur-unsurnya
sebagai berikut
a. Potensi dan kondisi diri subjek layanarn
1) Potensi inteligensi, bakat, minat, dan kecenderungan pribadi
2) Kondisi psikofisik, seperti terlalu banyak bergerak, cepat lelah, alergi terhadap kondisi
lingkungan tertentu
3) Kemampuan berkomunikasi dan kondisi hubungan sosial
4) Kemampuan pancaindra.
5) Kondisi fisik, seperti jenis kelamin, ukuran badan, keadaan jasmaniah lainnya
b. Kondisi lingkungan:
1)Kondisi fisik, (geologi, geografi, dan lingkungan) kelengkapan (sarana dan prasarana), serta
tata letak dan susunannya
2) Kondisi udara dan cahaya
3) Kondisi hubungan sosio-emosional, nilai, moral, dan budaya
4) Kondisi dinamis suasana kerja dan cara-cara bertingkah laku
5) Kondisi statis, seperti aturan dan pembatasan-pembatasan
Kedua sisi tersebut (sisi diri dan sisi lingkungan) dilihat kesesuaiannya. Apabila terjadi
mismatch, diupayakan adanya lingkungan dan kondisi yang lebih sesuai. Layanan PP perlu
diselenggarakan agar terjadi kesusaian seperti itu.
c. Materi Layanan
Masalah subjek sasaran layanan di atas dikonkretkan menjadi materi layanan yang
secara langsung ataupun tidak langsung dapat memandirikan klien dan menjadikannya mampu
mengendalikan diri dengan warna P3 NKC. Semuanya itu terarah pada PERPOSTUR dengan
AKURS-nya. Terkait dengan materi umum tersebut, dalam layanan PP konselor menempatkan
lima hal pokok berikut menjadi perhatian utama:
1) Mengkaji potensi dan kondisi diri subjek sasaran layanan
2) Mengkaji kondisi lingkungan, dimulai dari lingkungan yang paling dekat, mengacu kepada
arah penempatan/penyaluran subjek layanan
3) Mengkaji kesesuaian antara potensi dan kondisi diri subjek dengan kondisi yang tersedia atau
yang ada, serta mengidentifikasi per- masalahan yang secara dinamis berkembang pada diri
subjek
4)Mengkaji kondisi dan prospek lingkungan yang ada atau baru atau yang mungkin "ditempati"
subjek.
5)Menempatkan subjek ke lingkungan baru

Setelah konselor mengkaji perlunya subjek ditempatkan/disalurkan atau hal-hal yang


menjadi masalah subjek layanan, termasuk kelima kajian di atas, tidaklah konselor serta merta
"memindahkan" subjek sasaran layanan itu ke lingkungan baru. Pertama-tama, konselor justru
mengkaji kemungkinan "mengubah" diri subjek tersebut dan/atau mengubah/ memperbaiki
lingkungan sekitarnya. Apabila antara subjek dan lingkungan yang ditempati sekarang saling
dapat "disesuaikan", maka layanan PP dengan "memindahkan" subjek ke lingkungan lain
agaknya tidak perlu
dilakukan. Dalam kondisi yang seperti ini, penanganan terhadap subjek yang dimaksud untuk
mengatasi permasalahannya perlu dilakukan melalui layanan Konseling Perorangan, Bimbingan
Kelompok, dan/atau Konseling Kelompok (sebelum layanan PP dilakukan). Apabila antara
melaiui ketiga layanan yang disebut terakhir ini masalah subjek juga belum teratasi, layanan PP
agaknya perlu diselenggarakan sebagai layanan tindak lanjut. Di samping arah layanan PP uncuk
mengentaskan masalah klien seperti digambarkan di atas, layanan PP di sekolah misalnya
digunakan dalam rangka penjurusan siswa. Dalam ha ini materi layanan PP tidak sekadar
mengacu pada permasalahan siswa, melainkan pada ke arah mana potensi siswa paling tepat
disalurkan, yang semuanya secara kental dikaitkan dengan kriteria P3-NKC
D. Asas dan Dinamika Kegiatan
1. Asas Kegiatan
Penyelenggaraan layanan PP relatif sangat terbuka dan sering kali mengikutsertakan
pihak-pihak di luar konselor dan diri subjek layanan. Dalam hal ini, asas kesukarelaan dan
keterbukaan subjek layanan sangat penting. Posisi subjek layanan untuk mengambil kepucusan
sendiri harus mendapatkan penguatan. Setelah itu asas kekinian dan asas kegiatan merupakan
jaminan bagi kelancaran dan suksesnya layanan PP, dengan PERPOSTUR yang tepat. Asas
kerahasiaan diterapkan untuk hal-hal yang bersifat pribadi, khususnya untuk kondisi pribadli
yang tidak boleh dan tidak layak diketahui pihak lain. Asas kerahasiaan harus dijamin oleh
konselor
2. Dinamika Kegiatan: BMB3
Penempatan subjek sasaran layanan dalam kondisi yang sesuai memerlukan
pertimbangan yang sangat cermat, dari pihak sasaran layanan sendiri dan konselor, serta pihak
lain yang terkait. Dalam hal itu strategi BMB3 perlu ditampilkan dalam setiap tahap layanan.
Materi dan arah penempatan penyaluran yang tepat memerlukan mekanisme BMB3 secara
konsisten

E. Data, Diagnosis, Prognosis, dan PERPOSTUR


1. Data dan Permasalahannya
Konselor yang berkehendak menjalankan tugas keprofesionalan layanan Penempatan
dan Penyaluran (PP) memulai kegiatannya dengan diaktifkannya dinamika BMB3 terkait dengan
sejumlah dataal. Data itu, sebagaimana data awal untuk layanan ORIN dan INFO berupa
informasi aktual/factual yang diperoleh melalui observasi, media sosial, sumber bacaan,
dokumen surat, laporan atau berita/omongan baik langsung maupun tidak langsung hasil
penggunaan instrumen (seperti instrumen AUM: Alat Ungkap Masalah) angket ataupun
wawancara, hal-hal yang dikemukakan oleh (calon) sasaran layanan. Data dapat terkait dengan
kondisi KES dan/atau KES-T (calon) peserta layanan. Telah diproyeksikan terhadap hal-hal baru
yang akan/sedang/harus atau perlu dihadapi oleh (calon) sasaran pelayanan
Data awal tersebut juga ada dua jenis, yaitu
a. Data lapangan, yaitu objek-objek dan/atau informasi yang perlu diakses dan didalami unsur-
unsurnya oleh sasaran layanan. Objek-objek dan informasi ini dapat dilihat pada Lampiran I.C
tentang Materi Layanan Penempatan dan Penyaluran
b. Data sasaran layanan, yaitu subjek-subjek (individual, kelompok, klasikal) yang perlu
mendapackan layanan PP Data ini terkait dengan masalah-masalah yang sedang dan/atau
bekemungkinan dialami oleh subjek sasaran layanan yang dimaksudkan. Diperoleh konselor
melalui analisis berbagai data yang sudah ada atau hsil instrumentasi/teknik pengumpulan data
dan/atau cara lain seperti analisis himpunan data observasi, wawancara, laporan, dan dari
sumber data lainnya Hasil pengaitan dan analisis kedua jenis data (a dan b) di atas
menghasilkan masalah layanan yang akan ditangani melalui layanan PP Masalah layanan ini
dikaitkan dengan kondisi KES dan/atau KES-T sasaran layanan yang akan ditangani oleh
konselor secara individual, kelompok, dan/atau klasikal.
2. Diagnosis dan Prognosis
Masalah Layanan di atas merupakan Onjek Praktik Spesifik (OPS) layanan yang secara
langsung dan segera akan konselor wujudkan menjadi kegiatan nyata dalam bentuk layanan PP.
Landasan dan arah layanan tersebut diperoleh dari dua aktivitas berikut : (a) diagnosis, dan (b)
prognosis. Hasil diagnosis dan prognosis ini menjadi alasan formal mengapa layanan PP itu
perlu atau bahkan dilaksanakan.
3. PERPOSTUR
Hasil diagnosis-prognosis menegskan mengapa layanan PP perlu dilaksanakan. Kondisi
tersebut perlu diiringi oleh pertanyaan yang sangat penting didasarkan pada hasil analisis
kebutuhan yang perlu diperoleh/dicapai sasaran layanan, yaitu:

Hal-hal apa (yang baru) sebagai hasil belajar yang perlu diperoleh/dikuasi oleh
sasaran layanan sebagai hasil layanan Penempatan dan Penyaluran?

Seperti untuk layanan ORIN dan INFO, jawaban terhadap pertanyaan diatas adalah :
PERPOSTUR, yang berarti : perilaku positif terstruktur dengan unsur-unsur AKURS-nya.
PERPOSTUR layanan PP juga dikonsepkan sebagai berikut :
Dia atau mereka (sasaran layanan) perlu bisa melakukan apa berkenaan dengan
arah penempatan dan penyaluran serta manfaat yang mereka peroleh dari apa
yang dia/mereka lakukan itu, terkait dengan kondisi KES/KES-T yang terkandung
dalam masalah layanan PP yang telah didiagnosis dan diprognosis sebelumnya?

Untuk bisa mewujudkan perilaku yang terkandung didalam PERPOSTUR layanan PP itu,
unsur-unsur AKURS-nya harus menjadi jelas sejak awalnya oleh konselor. Dalam layanan PP
unsur acuan lebih kompleks dibanding layanan ORIN maupun INFO, karena layanan PP dapat
menyangkut pihak-pihak diluar sunjek layan yang lebih berkewenangan, yaitu pihak-pihak
terkait dengan tempat atau kondisi lama yang’ditinggalkan’ atau kondisi baru yang akan
ditempati oleh subjek layanan. Untuk itu PERPOSTUR yang dikonsepkan tentulah menyangkut
juga unsur-unsur acuan (dan juga kompetensi serta usaha) terkait kondisiu ‘lama’ dan ‘baru’
yang dimaksudkan itu. Selanjutnya PERPOSTUR yang kompleks itu merupakan target khusus
spesifik tujuan dan capaian layanan PP dalam dua dimensinya, yaitu: sebagai konsep awal dan
hasil layanan yang dibinakan oleh konselor dan dicapai oleh peserta layanan PP.
Kondisi PERPOSTUR itu pertama-tama dirumuskan oleh konselor sebagai hasil kajian
diagnosis-prognosis masalah layanan PP, dan kedua sebagai hasil pembinaan konselor terhadap
sasaran layanan.PERPOSTUR dengan unsur-unsur layanan AKURS-nya kemudian menjadi objek
laiseg,laijapen, dan laijapang.

II. LAYANAN PENGUASAAN KONTEN


A. DESKRIPSI
Dalam perkembangan dan kehidupannya setiap individu perlu menguasai berbagai
kemampuan ataupun kompetensi.Dengan kemampuan atau kompetensi itulah individu hidup dan
berkembang.Banyak atau bahkan sebagian besar dari kemampuan atau kompetensi itu harus
dipelajari.Dalam kegiatan belajar individu yang bersangkutan menjalani proes pembelajaran
dengan mengaktifkan diri sendiri dan/atau dengan bantuan individu lain, yaitu mengaktifkan
dinamika kehidupan ber-BMB3.
Layanan penguasaan konten merupakan layanan dalam Bimbingan dan Konseling yang
bertujuan agar individu dapat menguasai aspek-aspek konten tertentu secara
tersinergikan.Layanan Penguasaan Konten (PKO) merupakan layanan bantuan kepada individu
(sendiri-sendiri ataupun dalam kelompok atau kalsikal) untuk menguasai kemampuan atau
kompetensi tertentu.Layanan PKO membantu individu menguasai aspek-aspek konten tersebut
secara terintegrasikan.Dengan penguasaan konten, individu diharapkan mampu memiliki sesuatu
yang berguna untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari serta mengatasi masalah-masalah yang
dialaminya terkait dengan konten yang dimaksud.
Layanan penguasaan konten adalah layanan bantuan kepada individu (sendiri-sendiri ataupun
dalam kelompok) untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan
belajar.Isi dari layanan penguasaan konten adalah layanan penguasaan konten mencakup bidang-
bidang yang dapat dikembangkan oleh siswa melalui layanan penguasaan konten agar
terwujudnya perkembangan pada individu dan mampu menguasai materi-materi di dalam
perkembangan bidang tersebut, bidang-bidang yang dapat dikembangkan.Dengan layanan
penguasaan konten, diharapkan individu mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi
masalah–masalah yang dialaminya, dan melalui layanan penguasaan konten juga mampu
membantu individu menguasai aspek-aspek konten tersebut secara optimal.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum layanan PKO ialah dikuasainya suatu konten tertentu.Penguasaan konten ini
perlu bagi individu atau klien untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan
penilaian dan sikap, menguasai cara-cara atau kebiasaan tertentu untuk memenuhi kebutuhannya
dan mengatasi masalah-masalahnya.Dengan penguasaan konten yang dimaksud itu individu yang
bersangkutan lebih mampu menjalani kehidupan secara efektif (kehidupan efektif sehari-hari
atau KES).
Dengan penguasaan konten yang baru subjek sasaran layanan lebih mampu mandiri dalam
mengimplementasikan konten-konten baru tersebut.Pengendalian diri menyertai kemandirian,
sehingga implementasi konten-konten bar berlangsung secara sukses.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus layanan PKO dapat dilihat pertama dari kepentingan individu atau klien
memelajarinya, dan kedua dari isi konten itu sendiri.tujuan khusus layanan PKO terkait dengan
fungsi-fungsi konseling :
a. Fungsi pemahaman, menyangkut konten-konten yang isinya merupakan berbagai hal
yang perlu dikuasai. Dalam hal ini seluruh aspek konten (yaitu fakta, data, konsep,
proses, hukum, dan aturan, nilai, dan bahkan aspek yang menyangkut persepsi, afeksi,
sikap, dan tindakan) memerlukan pemahaman yang memadai. Konselor dan klien perlu
menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi focus layanan PKO.
b. Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan PKO apabila kontennya memang
terarah kepada terhindarkannya individu atau klien dari mengalami masalah tertentu (atau
kehidupan afektif sehari-hari yang terganggu-KEST-T).
c. Fungsi pengentasanakan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang
untuk mengatasi masalah (KES-T) yang sedang dialami klien).
d. Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan
disatu sisi dan sisi lain memelihara potensi individu atau sasaran layanan. Pembelajaran
dalam layanan PKO dapat mengemban fungsi pengembangan dan pemeliharaan potensi
klien.
e. Penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri
terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya. Dengan demikian, layanan PKO
dapat mendukung fungsi advokasi.
Dalam menyelenggarakan layanan PKO konselor perlu menekankan secara jelas dan spesifik
fungsi-fungsi konseling mana yang menjadi arah layanannya dengan konten khusus yang
menjadi focus kegiatannya. Penekanan atas fungsi itulah, sesuai dengan isi konten yang
dimaksud, akan dicapai tujuan khusus layanan PKO.
C. KOMPONEN
1. Konselor
Konselor adalah tenaga ahli pelayanan konseling, penyelenggaraan layanan PKO dengan
menggunakan berbagai modus dan media layanannya.Konselor menguasai konten yang menjadi
isi layanan PKO yang diselenggarakannya.
a. Sasaran Layanan
Konselor menyelenggarakan layanan PKO terhadap seorang atau sejumlah individu yang
memerlukan penguasaan atas konten yang menjadi isi layanan.Individu penerima layanan
PKO dapat merupakan peserta didik, klien yang secra khusus memerlukan bantuan demi
pemenuhan tuntutan perkembangan dan/atau kehidupannya.
b. Materi Layanan
Konten merupakan isi layanan PKO, yaitu satu materi yang menjadi pokok bahasan atau
materi latihan yang dikembangkan oleh konselor dan diikuti atau dijalani oleh individu
peserta layanan, yang secara langsung terkait dengan nilai-nilai P3-NKC. Konten PKO dapat
diangkat dari bidang-bidang pelayanan konseling, yaitu :
1. Pengembangan kehidupan pribadi
2. Pengembangan kemampuan hubungan sosial
3. Pengembangan kegiatan belajar
4. Pengembangan dan perencanaan karier serta kehidupan berpekerjaan
5. Pengembangan kehidupan berkeluarga
6. Pengembangan kehidupan bermasyarakat/berkewarganegaraan
7. Pengembangan kehidupan beragama.
Konten dalam layanan PKO itu sangat bervariasi, baik dalam bentuk materi maupun
acuannya. Acuan yang dimaksud itu dapat terkait dengan tugas-tugas perkembangan peserta
didik, kegiatan dan hasil belajar siswa, nilai dan moral karakter-cerdas serta tata karma
pergaulan, peracuan dan disiplin sekolah, bakat, minat, dan arah karier, ibadah keagamaan,
kehidupan dalam keluarga dan berkeluarga, dan secara khusus permasalahan individu atau
klien.

D. ASAS DAN DINAMIKA KEGIATAN


1. Asas Kegiatan
Layanan PKO pada umumnya bersifat terbuka.Asas yang paling diutamakan adalah asas
kegiatan.Asas kegiatan ini dilandasi oleh asas kesukarelaan dan keterbukaan dari peserta
layanan. Dengan ketiga asas tersebut proses layanan akan berjalan lancer degan keterlibatan
penuh peserta layanan.
2. Dinamika Kegiatan : BMB3
Penguasaan konten dibina dan nantinya (pasca layanan( dilaksanakan oleh sasaran layanan.
Dalam pembinaan penguasaan konten melalui proses layanan dinamika BMB3 benar-benar
dibangkitkan pada diri sasaran layanan oleh konselor. Untuk itu diperlukan berbagai contoh dan
latihan agar dinamika layanan BMB3 benar-benar teraktifkan pada diri sasaran layanan.
E. DATA, DIAGNOSIS, PROGNOSIS, DAN PERPOSTUR
1. Data dan Permasalahannya
Khusus untuk layanan PKO data yang dimaksudkan tersebut dapat dikaitkan atau
diproyeksikan terhadap hal-hal baru yang harus atau perlu dikuasai oleh (calon) sasaran
pelayanan.
Dengan demikian data awal yang menjadi titik tolak konselor dalam mempersiapkan kinerja
untuk setiap kali layanan PKO ada dua jenis, yaitu:
a. Data lapangan, yaitu kemampuan yang perlu dikuasai oleh sasaran layanan yang
dibinakan terhadap sasaran layanan.
b. Data sasaran layanan, yaitu subjek-subjek (individual, kelompok, klasikal) yang
perlu mendapatkan layanan PKO.
Hasil pengaitan dan analisis kedua jenis data di atas menghaasilkan masalah layanan yang
akan ditangani melalui layanan PKO.
2. Diagnosis dan Prognosis
Agar kegiatan layanan nyata mendapatkan landasan dan arah yang lebih tepat dan akurat,
konselor diharapkan melaksanakan dua aktivitas berikut :
a. Kajian diagnosis, yaitu analisis tentang latar belakang dan sebab-sebab
terjadinya/timbulnya masalah atau hal-hal yang dipermasalahkan sehingga menjadi
masalah layanan yang perlu ditangani.
b. Kajian prognosis, yaitu analisis tentang (perkiraan) apa yang dapat terjadi kalau masalah
yang didiagnosis itu tidak ditangani dan kemampuan (konten) yang dimaksudakan
dibinakan melalui pelayanan yang tepat..
Hasil kajian diagnosis dan prognosis tersebut merupakan landasan sekaligus pertimbangan
mendasar mengapa layanan PKO yang dimaksudkan itu perlu atau bahkan harus dilaksanakan.

3. PERPOSTUR
Apabila hasil diagnosis/prognosis merupakan landasan dan pertimbangan mendasar dan
factual objektif sehingga timbul penegasan bahwa layanan PKO perlu dilaksanakan maka
kondisi tersebut perlu diiringi oleh pertanyaan yang sangat penting, didasarkan pada hasil
analisis kebutuhan yang perlu diperoleh/dicapai sasaran layanan, yaitu :

Kemampuan (konten) apa (yang baru) sebagai hasil


belajar yang perlu diperoleh/dikuasai oleh sasaran
layanan sebagai hasil layanan PKO ?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah PERPOSTUR, yang berarti :perilaku posiif
terstruktur dengan unsur-unsur AKURS-nya sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Terkait
dengan PERPOSTUR itu konselor perlu menyadari perilaku apa yang perlu diperbuat oleh
sasaran layanan dalam rangka mencapai kondisi KES dan atau mengatasi kondisi KES-T
sebagaimana terkandung dalam masalah layanan. Untuk itu perlu dikonsepkan :

Dia atau mereka (sasaran layanan) perlu bisa


melakukan apa yang terkait dengan kondisi KES/KES-
T yang terkandung dalam masalah layanan PKO yang
telah didiagnosis dan diprognosis sebelumnya?
Untuk bisa mewujudkan kemampuan (konten) yang terkandung di dalam PERPOSTUR itu,
oleh sasaran layanan harus menjadi jelas hal-hal sebagai berikut:
a. Materi atau objek atau kondisi yang menjadi acuan untuk terlaksanakannya perilaku
yang dimaksud (unsur A)
b. Kompetensi yang perlu dikuasai untuk mengakses materi/objek/kondisi yang menjadi
acuan di atas (unsur K)
c. Bagaimana dan kapan implementsi kompetensi terhadap materi/objek/kondisi yang
menjadi acuan itu dilaksanakan dalam bentuk kegiatan nyata yang diusahakan secara
langsung (unsurU)
d. Bagaimana perasaan yang tumbuh dan berkembang pada diri subjek sasaran layanan
terkait dengan unsur-unsur A, K, U yang terkait dengan konten itu; perasaan yang
tumbuh/berkembang hendaklah perasaan positi (unsur R)
e. Bagaimana kesungguhan dalam ketersediakannya dan terwujudkannya unsur-unsur
A, K, U, dan R itu serta berkembangnya kesungguhan pada diri sasaran layanan
(unsur S)`
PERPOSTUR yang secara khusus/spesifik berupa kemampuan actual/factual yang
berdimensi dua, yaitu : a) PERPOSTUR yang dirumuskan sebagai konsep awal tujuan dan arah
layanan PKO, b) PERPOSTUR hasil layanan yang dibinakan oleh konselor dan dicapai oleh
sasaran layanan melalui kegiatan layanan PKO.
Kedua dimensi PERPOSTUR itu diwujudkan, pertama sebagai konsep yang mengarahkan
kegiatan nyata layanan, dan kedua sebagai hasil pembinaan melalu layanan PKO yang
diselenggarakan oleh konselor.PERPOSTUR dengan unsur-unsur AKURS-nya yang menjadi
hasil layanan itulah yang menjadi objek penilaian laiseg, laijapen, dan laijapang.
F. PENDEKATAN UNSUR KEGIATAN LAYANAN
1. Pendekatan
Layanan PKO pada umumnya diselenggarakan melalui proses pembelajaran secara langsung
(bersifat direktif) dalam tatap muka,dengan format klasikal,kelompok atau individual.
Penyelenggara layanan (konselor)secara aktf menyajikan bahan,memberikan
contoh,merangsang ,mendorong dan menggerakkan (para) peserta untuk berpartisipasi aktif
mengikuti dan menjalani materi kegiatan layanan dengan materi nyata.Dalam hal ini konselor
menegakkan secara penuh dua pilar dalam proses pembelajaran,yaitu: kewibawaan(high-touch)
dan kewiyataan(high-tech).
2. Format dan Penahapan
Layanan PKO pada umumnya diselenggarakan dalam format klasikal dengan
menerapkan tahapan 5-an/5-in sepenuhnya.Tahapan pengantaran dilaksanakan untuk
memberikan arah berkenaan dengan apa dan untuk apa serta capaian yang hendaknya diperoleh
para peserta layanan.Tahapan pengantaran segera diikuti dengan tahapan penjajakan dan
penafsiran. Tahapan pengartian mengarahkan sasaran layanan benar-benar memahami mereka
kuasai dan laksanakan sebagai hasil PKO.Untuk itu, mereka juga perlu mengetahui apa yang
sudah dan belum merek kuasai terkait dengan tujuan layanan PKO itu,yang terungkapkan
melalui tahapan penajajakan.Apa yang sudah dan belum diketahui /dilaksanakan oleh sasaran
layanan itu dibahas dan didalami melalui tahapan penafsiran,untuk selanjutnya menjadi
substansi dasar bagi pembinaan apa-apa yang seharusnya dikuasai oleh sasaran layanan.
Pembinaan tersebut terfokus pada penguasaan konten yang menjadi tujuan layanan
PKO.Materi penguasaan konten itulah yang menjadi substansi PERPOSTUR dengan AKURS-
nya yang kualitas capainya diungkapkan melalui tahapan penilaian.
3. Teknik
a. Pengusaan Konten Oleh Konselor
Pertama-tama konselor menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang akan menjadi
isi layanan.Makin kuat penguasaan konten ini oleh konselor akan semkin meningkatkan
kewibawaan konselor dimata peserta layanan.Untuk memperkuat penguasaan konten,
pemanfaatan berbagai sumber oleh konselor sangat diharapkan.Suatu konten tidak hanya
dapat dibangun berdasarkan sumber-sumber yang canggih.Materi konten dapat dibangun
dengan memanfaatkan kondisi dan berbagai hal yang ada dilingkungan sekitar.Dalam kaitan
ini,hal yang paling penting adalah daya improvisasi konselor dalam membangun konten
yang dinamis dan kaya.
b. Pendekatan Konten
Setelah konten dikuasai,konselor membawa konten tersebut kearena layanan
PKO.Berbagai teknik dapat dilakukan,yaitu:
1) Penyajian. Konselor menyajikan materi pokok konten,setelah para peserta disiapkan
sebagaimana mestinya.
2) Tanya jawab dan diskusi. Konselor mendorong partisipasi aktif dan langsung para
peserta melalui dinamika BMB3,kegiatan ini dapat berupa:
a. diskusi kelompok
b. penguasaan dan latihan terbatas survey lapangan atau studi kepustakaan
c. percobaan ( termasuk kegiatan laboratorium,bengkel dan studio)
d. latihan tindakan(dalam rangka pengubahan tingkah laku)
e. refleksi BMB3,terfokus pada PERPOSTUR dengan AKURS-nya.

c. Pengunaan media
Untuk memperkuat proes pembelajaran dalam rangka penguasaan konten,konselor dapat
menggunakan berbagai perangkat keras dan perangkat lunak media pembelajaran, meliputi
alat peraga(alat peraga langsung,contoh,replica dan miniature),media tulis dan
grafis,peralatan dan program elektronik(radio dan rekaman,OHP,computer,LCD,dan lain-
lain).Pengunaan media ini akan meningkatkan aplikasi high-tech dalam layanan PKO.
4. Waktu dan Tempat
Layanan PKO dapat diselenggarakan kapan saja dan dimana saja,sesuai dengan kesepakan
konselor dan para pasertanya, serta aspek-aspek konten yang dipelajari.Makin besar paket
konten,makin banyak waktu yang diperlukan.Konselor merencanakan dan mengatur
penggunaan waktu dengan memerhatikan aspek-aspek yang dipelajari dan kondisi peserta.
Tempat penyelenggaraan PKO disesuaikan pula dengan aspek-aspek konten serta kondisi
peserta.Penyelenggaraan konten dengan format klasikal dapat diselenggarakan didalam ruangan
kelas di sekolah,sedangkan format kelompok didalam ruang kelas atau diluar kelas.
5. Keterkaitan
a. Keterkaitan Jenis Layanan Lain
Diantara berbsgsi layanan konseling ,layanan PKO dapat berdiri sendiri.Disamping itu
layanan PKO dapat juga menjadi isi layanan-layanan konseling lainnya.Dalam hal ini
ditekankan perlunya sasaran layanan menguasai suatu konten tertentu terkait dengan
permasalahannya.Dengan demikian,upaya penguasaan konten tertentu dapat diintegrasikan
kedalam layanan orientasi,informasi,penempatan dan penyaluran,konseling
perorangan,bimbingan kelompok,konseling kelompok, konsultasi dan mediasi
b. Keterkaitan Kegiatan Pendukung
1. Aplikasi instrumentasi
Hasil aplikasi instrumentasi dapat dijadikank Konten yang terkait dengan materi
layanan PKO.Skor tessesiogram,hasil AUM umum, dan PTSDL,hasil ulangan dan
ujian,isian angket dan lain-lain ,merupakan data yang mengandung konten actual dan
dinamis,khususnya bagi responden yang menjadi peserta aplikasi instrumentasi yang
dimaksud.Dalam hal ini asas kerahasiaan perlu mendapat perhatian sepenuhnya apabila
aspek konten yang dibicarakan menyangkut pribadi-pribadi tertentu.Penyebutan nama
secara langsung harus dihindari.
2. Himpunan data
Sama dengan hasil aplikasi instrumetasi,data yang tercantum didalam himpunan data
dapat dijadikan konten yang dibawa kedalam layanan PKO.Demikian juga, data dalam
himpunan data dapat menggerakkan konselor untuk menetapkan seseorang untuk
mengikuti/menjalani layanan PKO tertentu.Dalam hal ini,asaSkerahasiaan sangat
ditekankan.
3. Konferensi kasus,kunjungan rumah,dan alih tangan kasus
Ketiga kegiatan pendukung diatas,pada umumnya ditempuh apabila peserta PKO
memerlukan tindak lanjut tertentu.Dari hasil penilaian dapat diidentifikasi peserta mana
yang memerlukan tindak lanjut tertentu.
G. OPERASIONALISASI LAYANAN
Layanan PKO terfokus kepada dikuasinya konten tertentu oleh para peserta yang
memperoleh layanan.Untuk itu layanan ini perlu direncanakan,dilaksanakan,serta dievaluasi
serta tertib dan akurat

.
1. Perencanaan
Setelah konselor menetapkan subjek atau peserta layana PKO, konselor menegaskan konten
apa yang akan dipelajari serta rinci dan kaya oleh peserta layanan,serta menetapkan proses dan
langkah-langkah layanan.
2. Mengorganisasikan unsur-unsur dan sasaran layanan
Pada tahap ini konselor menyiapkan fasilitas layanan, termasuk media dengan perangkat
keras dan lemahnya.Disamping itu disiapkan juga kelengkapan administrasinya
3. Pelaksanaan
Konselor melaksanakan kegiatan layanan melalui dimanfaatkannya seoptimal mungkin
berbagaisarana yang telah disiapkan,melalui proses pembelajran penguasaan konten.Dalam
prosespembelajaran, melalui layanan PKO itu diimplementasikan pilar high-touch dan high-
tech dengan mengaktifkan sasaran layanan ber-BMB3.
4. Penilaian
Penilaian hasil layanan diselenggarakan dalam tiga tahap:
a) penilaian segera,penilaian yang diakadkan segera menjelang diakhirinya kegiatan
layanan PKO.
b) penilaian jangka pendek,penilaian yang diadakan beberapa waktu setelah kegiatan
layanan.
c) penilaian janga panjang,penilaian yang diadksn setelah satu bulan atau lebih pasca
layanan

5. Tindak lanjut dan Laporan


Setelah menetapkan jenis dan arah tindak lanjut, konselor mengomunikasikan rencana tindak
lanjut itu kepada peserta layanan dan pihak-pihak terkait,kemudian melaksanakan rencana
tindak lanjut tersebut.Kegiatan tindak lanjut itu oleh konselor diiringi dengan Penyusunan
laporan pelaksanaan layanan PKO secara lengkap dalam bentuk LAPELPROG dan
menyampaikan laporan itu kepada pihat terkait serta mendokumentasikan laporan layanan
tersebut

III. STRATEGI DAN PENDEKATAN YANG ADA DALAM LAYANAN BK


Nurihsan (2003: 23-27) mengutarakan bahwa dilihat dari jenis pendekatan dalam
melaksanakan proses layanan, maka bimbingan dan konseling itu dibagi menjadi 4 pendekatan
yaitu: (1) pendekatan krisis; (2) pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; dan (4)
pendekatan perkembangan.

a. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu
yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi krisis atau
masalah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis ini, konselor menunggu konseli
yang datang, selanjutnya mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang
dirasakan konseli. Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikoanalisis, yaitu
aliran yang berfokus pada pengaruh masa lampau sebagai suatu hal yang menentukan
bagi berfungsinya kepribadian pada masa kini.
Terkait dengan pendekatan krisis ini, Suryana dan Suryadi (2012) mengusulkan
untuk strategi yang digunakan dalam pendekatan krisis. Strategi yang digunakan dalam
pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara “pasti” dapat mengatasi krisis itu.
Contoh: Seorang peserta didik datang mengadu kepada guru sambil menangis karena
didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Guru yang menggunakan pendekatan
krisis akan meminta peserta didik tersebut untuk membicarakan penyelesaian masalahnya
dengan teman yang mendorongnya ke lantai. Bahkan mungkin guru tersebut memanggil
teman peserta didik tersebut untuk datang ke ruang guru untuk membicarakan
penyelesaian masalah tersebut sampai tuntas.
b. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu
yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-
kesulitan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini konselor memfokuskan
pendekatan pada kelemahan-kelemahan individu yang selanjutnya berupaya untuk
memperbaikinya.Pendekatan remedial ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi
behavioristik, yang menekankan perilaku individu di sini dan saat ini. Perilaku saat ini
dipengaruhi olehsuasana lingkungan pada saat ini pula. Oleh sebab itu, untuk
memperbaiki perilaku individu perlu ditata lingkungan yang mendukung perbaikan
perilaku tersebut.
Terkait dengan pendekatan krisis ini, Suryana dan Suryadi (2012) mengusulkan
untuk strategi yang digunakan dalam pendekatan remedial. Strategi yang digunakan,
seperti mengajarkan kepada peserta didik keterampilan tertentu seperti keterampilan
belajar (membaca, merangkum, menyimak, dll), keterampilan sosial dan sejenisnya yang
belum dimiliki peserta didik sebelumnya. Dalam contoh kasus diatas, dengan
menggunakan pendekatan remedial, guru dapat mengambil tindakan mengajarkan
keterampilan berdamai sehingga peserta didik tadi memiliki keterampilan untuk
mengatasi masalah–masalah hubungan antar pribadi (interpersonal). Keterampilan
berdamai adalah keterampilan yang selama ini belum dimiliki kedua peserta didik
tersebut dan merupakan kelemahan yang bisa memunculkan masalah itu.
c. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk
mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba mencegah jangan sampai
terjadi masalah tersebut pada individu. Konselor berupaya untuk mengajarkan
pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
Suryana dan Suryadi (2012) juga mengusulkan strategi dalam pendekatan ini.
Strategi yang dapat digunakan dalam pendekatan ini yaitu termasuk mengajar dan
memberikan informasi. Dalam contoh kasus di atas, jika guru menggunakan pendekatan
preventif dia akan mengajari peserta didik nya secara klasikal untuk bersikap toleran dan
memahamiorang lain sehingga dapat mencegah munculnya perilaku agresif, tanpa
menunggu munculnya krisis terlebih dahulu.
d. Pendekatan Perkembangan
Bimbingan dan konseling yang berkembang saat ini adalah bimbingan dan
konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif, pengembangan,
dan outreach. Edukatif, karena titik berat kepedulian bimbingan dan konseling terletak
pada pencegahan dan pengembangan, bukan pada korektif atau terapeutik, walaupun hal
itu tetap ada dalam kepedulian bimbingan dan konseling perkembangan. Pengembangan,
karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling adalah perkembangan optimal dan
strategi upaya pokoknya ialah memberikan kemudahan perkembangan bagi individu
melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach, karena target populasi
layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu bermasalah dan
dilakukan secara individual tetapi meliputi ragam dimensi (masalah, target intervensi,
setting, metode, lama waktu layanan) dalam rentang yang cukup lebar. Teknikyang
digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran,
pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling (Muro dan Kottman,
1995:5).
Suryana dan Suryadi (2012) mengusulkan bahwa strategi yang dapat digunakan
dalam pendekatan ini seperti mengajar, tukar informasi, bermain peran, melatih, tutorial,
dan konseling. Dalam contoh tersebut, jika guru menggunakan pendekatan
perkembangan, guru tersebut sebaiknya menangani peserta didik tadi sejak tahun-tahun
pertama masuk sekolah, mengajari dan menyediakan pengalaman belajar bagi murid itu
yang dapat mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadiyang diperlukan untuk
melakukan interaksi yang efektif dengan orang lain. Oleh karena itu, dalam pendekatan
perkembangan, keterampilan dan pengalaman belajar yang menjadi kebutuhan peserta
didik akan dirumuskan ke dalam suatu kurikulum bimbingan atau dirumuskan sebagai
layanan dasar umum.
DAFTAR PUSTAKA

Narti, Sri. 2014. Model Bimbingan Kelompok Berbasis Ajaran Islam untuk Meningkatkan Konsep Diri
Siswa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurihsan, Achmad Juntika. 2006. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung:
PT Rafika Aditama.

Prayitno.2004.Layanan Bimbingan Kelompok Konseling Kelompok : Fakultas Ilmu Pendidikan


Universitas Negeri Padang.

Willis S. Sofyan. 2007. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Winkel, W.S. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.