Anda di halaman 1dari 57

MEKANISME SISTEM PELUMASAN DAN TROUBLE SHOOTING PADA MESIN TOYOTA KIJANG SERI 5K

Tugas Akhir
Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Diploma III Untuk Mencapai Gelar Ahli
Madya

Disusun Oleh : Nama NIM Program Studi Jurusan : Jony Suprihastomo : 5250303028 :
Teknik Mesin D3 : Teknik Mesin

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006


HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini telah dipertahankan dihadapan sidang penguji Tugas Akhir
Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : Sabtu : 26 Agustus
2006

Pembimbing :

Drs. M. Burhan R.W, M.Pd NIP. 131764025

Penguji II :

Penguji I :

Drs. Murdani, M.Pd NIP. 130894848

Drs. M. Burhan R.W, M.Pd NIP. 131764025

Ketua Jurusan,

Ketua Program Studi,

Drs. Pramono NIP. 131474226

Drs. Wirawan S, M.T NIP. 131876223

Dekan,

Prof. Dr. Soesanto NIP. 130875753 ii


ABSTRAK Jony Suprihastomo. 2006. Mekanisme dan Trouble shooting Sistem Pelumas pada
Toyota Kijang Seri 5K. Tugas Akhir. Teknik Mesin DIII. Fakultas Teknik. Universitas
Negeri Semarang. Pelumasan pada motor sangat dibutuhkan, karena tanpa pelumasan
mesin dan komponen-komponennya akan mengalami gesekan secara langsung, sehingga
menimbulkan panas dan mengakibatkan kerusakan berupa keausan yang akhirnya umur
mesin dan komponen-komponennya tidak tahan lama. Permasalahan yang menjadi fokus
pembahasan pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K adalah tentang fungsi minyak
pelumas, komponen-komponen pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K serta
analisis gangguan yang terjadi dan cara mengatasi gangguan tersebut. Tujuan dari
pembahasan sistem pelumasan ini adalah dapat membantu meningkatkan pemahaman
pengguna kendaraan pada umumnya tentang sistem pelumasan yang digunakan pada mesin
Toyota Kijang Seri 5K, dapat memperbaiki jika terjadi kerusakan pada sistem
pelumasan, dan dapat membantu dalam hal menganalisa gangguan dan cara mengatasinya.
Komponen-komponen sistem pelumasann Toyota Kijang Seri 5K terdiri dari karter, oil
strainer, pompa minyak pelumas, oil filter, dan alat pengukur tekanan minyak
pelumas. Cara kerja sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K adalah sistem pelumasan
tekan yang memanfaatkan pompa minyak pelumas untuk mensirkulasikan minyak pelumas
ke seluruh bagian-bagian mesin yang membutuhkan. Gangguan-gangguan yang sering
terjadi pada sistem pelumasan adalah tidak terdapat aliran minyak pelumas sama
sekali pada sistem pelumasan, dan jumlah aliran minyak pelumas kurang. Analisis
gangguan diperlukan untuk mengetahui kerusakan yang terjadi pada sistem pelumasan
Toyota Kijang Seri 5K sehingga mampu mengatasi gangguan-gangguan tersebut. Usaha
yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kerugian akibat kerusakan
komponen mesin adalah dengan merawat dan memeriksa kondisi mesin secara berkala.
Untuk itu perlu diperhatikan dalam melakukan perawatan pada sistem pelumasan yang
antara lain usahakan untuk selalu mengontrol volume minyak pelumas dalam karter,
supaya jumlah minyak pelumas tidak berkurang atau di bawah batas minimal, dan
menggunakan minyak pelumas yang berkualitas baik agar minyak pelumas tidak cepat
rusak dan kotor yang dapat mengganggu kerja dari komponen-komponen sistem pelumasan
dan mempercepat keausan pada bagian-bagian mesin yang bergesekan.

iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: 1. Kesempatan itu hanya datang sekali, selanjutnya kesempatan itu harus
dicari. 2. Kesuksesan belajar itu bukan karena kecerdasaan, akan tetapi kerena
besarnya kemauan dan kesungguhan hati. 3. Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negara
tetangga.

PERSEMBAHAN: 1. Ibu dan Bapak tercinta 2. Adikku tersayang

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatakan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
taufik serta hidayahnya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan laporan Proyek Akhir yang berjudul Analisis Gangguan dan
Cara Mengatasi Pada Sistem Pelumas Toyota Kijang Seri 5K. Selama penyusunan laporan
Proyek Akhir ini penulis mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari dosen pembimbing
dan berbagai pihak yang terkait, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan
terima kasih yang sebesarbesarnya kepada yang terhormat: 1. Bapak Drs. Pramono
sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang yang telah
memberikan persetujuan dalam pengambilan Proyek Akhir. 2. Bapak Drs. Burhan, M.Pd
sebagai dosen pembimbing yang dengan penuh ketelitian dan petunjuknya telah
membantu penulis dalam menyelesaikan Proyek Akhir. 3. Rekan-rekan mahasiswa dan
semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian laporan Proyek Akhir ini
baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Harapan penulis semoga
segala bantuan dan amal baik yang telah diberikan mendapatkan balasan yang setimpal
dari Allah SWT dan semoga laporan ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi
penulis dan pembaca pada umumnya.

Semarang, Juni 2006

Penulis

v
DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN
JUDUL .............................................................................
........ HALAMAN
PENGESAHAN........................................................................
ABSTRAK ...........................................................................
........................... HALAMAN MOTTO DAN
PERSEMBAHAN .......................................... KATA
PENGANTAR .........................................................................
.......... DAFTAR
ISI ...............................................................................
................... DAFTAR
TABEL .............................................................................
............ DAFTAR
GAMBAR ............................................................................
......... DAFTAR
LAMPIRAN ..........................................................................
....... BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Masalah ............................................................. B.
Permasalahan ......................................................................
....... C.
Tujuan ............................................................................
............ D.
Manfaat ...........................................................................
........... E. Sistematika Penulisan Proyek
Akhir .......................................... 1 3 3 4 4 i ii iii iv v vi viii ix
x

BAB II. SISTEM PELUMASAN TOYOTA KIJANG SERI 5K A. Minyak


Pelumas .........................................................................
1. Sifat-sifat dasar minyak pelumas ......................................... 2.
Klasifikasi minyak pelumas ................................................. 3.
Aditif minyak pelumas ........................................................ 5 7
9 11

vi
4. Penggunaan minyak pelumas ............................................... B.
Macam-Macam Sistem Pelumasan ............................................ 1. Sistem
pelumasan basah........................................................ a. Sistem
pelumasan percik ................................................ b. Sistem
pelumasan tekan ................................................. c. Sistem
pelumasan kombinasi ......................................... 2. Sistem pelumasan
kering ...................................................... C. Sistem Pelumasan
Toyota Kijang Seri 5K ................................. D. Analisis Gangguan dan
Cara Mengatasi Sistem Pelumasan Toyota Kijang Seri
5K ............................................................... 1. Gangguan-
gangguan pada sistem pelumasan a. Tidak terdapat aliran minyak pelumas sama sekali
pada sistem pelumasan ................................................... b. Jumlah
aliran minyak pelumas kurang............................ 2. Pemeriksaan Sistem
Pelumasan Toyota Kijang Seri 5K ......

12 13 13 14 16 26 28 28

31

32 32 33

BAB III. PENUTUP A.


Simpulan ..........................................................................
.......... B.
Saran .............................................................................
.............. DATAR
PUSTAKA ...........................................................................
............ 40 41 42

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan sistem pelumasan tekan ................... Tabel


2. Kelebihan dan kekurangan sistem pelumasan percik .................. Tabel 3.
Kelebihan dan kekurangan sistem pelumasan kombinasi............

27 27 28

viii
DAFTAR GAMBAR

Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12.
Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16. Tabel 17. Tabel 18. Tabel 19. Tabel 20.
Tabel 21. Tabel 22. Tabel 23. Tabel 24.

Sistem pelumasan basah..........................................................


Sistem pelumasan percik .........................................................
Sistem pelumasan tekan .........................................................
Bagan sistem pelumas tekan....................................................
Pompa
oli................................................................................
. Pompa minyak pelumas tipe internar gear ............................. Pompa
minyak pelumas tipe eksternal gear............................ Pompa minyak pelumas
model trochoid ................................. Alat pengatur tekanan minyak
pelumas .................................. Penyaringan
langsung ............................................................. Penyaringan
sebagian .............................................................. Tiga cara
penyaringan minyak pelumas.................................. Sistem pelumasan
kombinasi .................................................. Sistem pelumasan
kering......................................................... Pengaliran minyak
pelumas .................................................... Bagan aliran minyak
pelumas ................................................. Pengukuran panjang pegas
tekan ........................................... Mengukur jarak (gap) ujung ring
torak .................................. Mengukur diameter batang
katup ........................................... Pengukuran diameter lubang
penghantar katup ..................... Pemasangan saringan minyak
pelumas ..................................

14 14 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 28 29 30 35 37 38 38 39

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Trouble shooting pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K ....43
Lampiran 2. Servis berkala pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K .........44
Lampiran 3. Foto-foto Tugas
Akhir .......................................................................45
Lampiran 3. Surat tugas
pembimbing ....................................................................47
Lampiran 4. Surat tugas
penguji ...........................................................................
.48

x
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kemajuan teknologi industri saat ini sangatlah pesat. Hal ini
ditandai dengan berbagai macam munculnya mesin-mesin kendaraan bermotor dengan
konstruksi yang canggih, bobot lebih ringan, lebih irit bahan bakarnya serta
mempunyai daya yang besar. Dalam perencanaannya seorang perancang sudah dapat
memperkirakan kemampuan dari komponen-komponen kendaraan

bermotor, sehingga umur mesin akan dapat tahan lama. Faktor yang harus diperhatikan
untuk menjaga agar umur mesin dapat tahan lebih lama adalah sistem pelumasan yang
bekerja pada mesin tersebut. Minyak pelumas merupakan campuran hidrokarbon dan
ditambah zat-zat kimia terpilih tertentu yang disebut aditif. Minyak pelumas sangat
besar pengaruhnya terhadap dua benda yang saling bergesekan supaya dua benda yang
bergesekan itu tidak cepat rusak. Untuk itu perlu adanya pengaman yaitu zat antara
atau film yang bertugas mencegah singgungan langsung. Desain mesin yang kian
canggih menuntut minyak pelumas lebih baik, efisisen, awet, handal, bersih tidak
meninggalkan endapan dan kerak apalagi merusak mesin. Panjang pendeknya umur mesin
dan peralatan dapat ditentukan oleh baik buruknya pelumasan. Pelumasan yang benar
meliputi penggunaan minyak pelumas secara benar, di samping waktu yang tepat pula.
Minyak pelumas dapat dikatakan sebagai pelumas yang baik yaitu minyak pelumas tidak
hanya dapat

1
2

membuat lapisan yang tipis tetapi harus mempunyai sifat-sifat yang khusus antara
lain sifat tahan terhadap temperatur tinggi, viskositas yang memadai, sifat perapat
dan sifat pendingin. Pelumasan mesin pada prinsipnya bertujuan untuk menghindarkan
terjadinya keausan. Oleh karena itu, minyak pelumas yang digunakan harus sesuai
dengan jumlah atau kebutuhan, jenis mesin, dan beban yang harus didukung oleh
minyak pelumas itu sendiri. Pelumasan yang baik ditandai dengan sedikitnya
kerusakan komponen-komponen mesin maupun tenaga yang dihasilkan mesin. Mengingat
pentingnya pelumasan pada mesin terutama pada mesin Toyota Kijang Seri 5K, maka
perlu adanya pengontrol pada aliran sistem pelumasan. Mobil Toyota Kijang Seri 5K
menggunakan mesin empat silinder dengan tipe OHV (Over Head Valve) yaitu mesin
dengan letak katup di kepala silinder, sedangkan penggerak katup adalah poros nok
yang berada di silinder blok dan untuk menggerakkan katup harus menggunakan
pushrod. Mengingat panjang langkah torak dan perletakan katupnya, maka jarak antara
bagian bawah mesin dengan bagian atas mesin cukup jauh serta komponen mesin yang
bergesekan hampir merata diseluruh bagian mesin dan itu memerlukan pelumasan yang
baik. Jenis minyak pelumas pada mobil ada beberapa macam yang antara lain minyak
pelumas untuk transmisi, gardan, dan mesin. Fokus pembahasan pada laporan ini hanya
dibatasi pada minyak pelumas untuk mesin. Minyak pelumas merupakan suatu media
perantara yang berfungsi untuk mencegah agar dua benda atau komponen jangan sampai
bersentuhan secara langsung dan untuk menyalurkannya diperlukan sistem pelumasan.
3

B. Permasalahan Berdasarkan dari keadaan yang digambarkan dalam urutan di atas,


maka permasalahan pelumasan dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana sistem
pelumasan Toyota Kijang Seri 5K 2. Komponen-komponen apa saja yang bekerja pada
sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K. 3. Gangguan-gangguan apa saja yang terjadi
pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K. 4. Bagaimana cara melakukan
pemeriksaan dan cara mengatasi gangguangangguan yang terjadi pada sistem pelumasan
Toyota Kijang Seri 5K.

C. Tujuan Adapun tujuan dari laporan Proyek Akhir dengan judul ”Mekanisme dan
Trouble shooting Sistem Pelumas Pada Toyota Kijang Seri 5K” adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sistem pelumasan yang digunakan pada mesin Toyota Kijang Seri
5K. 2. Untuk mengetahui komponen-komponen yang terdapat pada sistem

pelumasan Toyota Kijang Seri 5K. 3. Untuk mengetahui gangguan-gangguan yang terjadi
pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K. 4. Untuk mengetahui cara mengatasi
gangguan-gangguan yang terjadi pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K.
4

D. Manfaat Berdasarkan uraian pada Sistem Pelumasan Toyota Kijang Seri 5K, maka
dapat diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut: 1. Dapat dijadikan masukan dan
informasi bagi masyarakat tentang pentingnya pelumasan pada mesin. 2. Sebagai bahan
masukan pada rekan-rekan mahasiswa yang berminat mempelajari dan mengembangkan
pelumasan pada berbagai macam mesin. 3. Setelah mengetahui dan memahami pelumasan
pada mesin diharapkan dapat menerapkannya pada perawatan kendaraan bermotor,
sehingga umur pemakaiannya lebih lama.

E. Sistematika Penulisan Penulisan laporan Proyek Akhir ini di susun menjadi


beberapa bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I. Pendahuluan yang
berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan proyek
akhir. BAB II. Sistem pelumasan toyota kijang seri 5k menjelaskan tentang minyak
pelumas, macam-macam sistem pelumasan toyota kijang seri 5k dan analisis gangguan
dan cara mengatasi sistem pelumasan toyota kijang seri 5k. BAB III. Penutup yang
berisi Simpulan dan Saran.
BAB II SISTEM PELUMASAN TOYOTA KIJANG SERI 5K

A. Minyak Pelumas Apabila dua buah benda padat atau logam bergerak saling
bergesekan, maka selalu ada gaya gesek. Gesekan ini akan berakibat buruk, karena
akan menimbulkan panas yang berlebihan dan keausan pada kedua logam tersebut.
Permukaan logam yang bersinggungan jika dilihat dengan alat pembesar akan terlihat
bahwa permukaan itu penuh dengan tonjolan. Adanya gesekan puncak-puncak tonjolan
itu akan bertabrakan dan patah sehingga membentuk tonjolan-tonjolan baru (New Step
II, 1998. 16). Apabila dua benda yang bergesekan tidak ada zat antara, maka kedua
permukaan benda tersebut akan timbul panas dan terjadi kerusakan atau keausan pada
kedua logam yang bergesekan. Sebaiknya diantara kedua benda itu diperlukan zat
antara yaitu minyak pelumas yang mampu mengurangi gesekan dan panas yang timbul.
Pelumasan pada mesin mempunyai tujuan utama untuk mencegah kontak langsung antara
dua permukaan logam yang bergesekan, karena itu minyak pelumas yang digunakan harus
sesuai dengan jumlah atau kebutuhan, jenis mesin, dan beban yang harus didukung
oleh minyak pelumas itu sendiri. Sifat minyak pelumas yang menentukan tebal jenis
film ini adalah viskositas. Viskositas adalah ukuran tahanan yang dialami manakala
suatu lapisan cairan bergerak relatif terhadap lapisan berikutnya. Semakin kental
minyak

5
6

pelumas maka semakin besar tahanan internal atas gerak. Ada tiga faktor yang
mempengaruhi viskositas yaitu komposisi, suhu dan tekanan. Viskositas semakin
menurun bila suhu meningkat, itulah sebabnya minyak pelumas diukur pada suhu
standar tertentu. Tekanan juga dapat menentukan viskositas minyak pelumas, pada
kondisi beban berat, minyak pelumas dapat berviskositas amat tinggi misalnya pada
roda gigi cincin piston, dan sebagainya. Penyaluran minyak pelumas ke bagian yang
bergesekan pada sebuah mesin diperlukan sistem pelumasan yang sesuai dengan
konstruksi dan kekuatan mesin serta mampu memberikan pelumasan secara terus menerus
ke bagianbagian mesin yang memerlukan, sehingga dapat melindungi bagian mesin
terhadap kerusakan karena gesekan, panas dan karat. Umumnya sistem pelumasan yang
digunakan pada mesin-mesin otomotif adalah sistem pelumasan percik, sistem
pelumasan tekan, dan sistem pelumasan kombinasi yang merupakan gabungan dari sistem
pelumasan percik dan sistem pelumasan tekan. Agar mesin tetap mempunyai kemampuan
yang tinggi dan awet, maka diperlukan sebuah sistem pelumasan yang mampu
mendistribusikan minyak pelumas ke bagian mesin-mesin yang cukup jauh secara baik
dan terus-menerus selama mesin dihidupkan. Ketiga sistem pelumasan itu semuanya
termasuk dalam kelompok sistem pelumasan basah yang mempunyai keistimewaan sendiri-
sendiri. Biasanya penerapan sistem pelumasan ini disesuaikan dengan konstruksi
mesin yang ada, misalnya pada mesin Toyota Kijang Seri 5K. Sistem pelumasan yang
digunakan adalah sistem pelumasan tekan, tetapi untuk melumasi bagian tertentu
7

menggunakan putaran poros engkol untuk memercikan minyak pelumas ke bagian dinding
silinder, torak, ring torak, pena torak, dan nok pada poros nok. Sistem pelumasan
pada sebuah mesin adalah siklus pendistribusian minyak pelumas dengan cara tertentu
yang bekerja terus menerus selama mesin hidup, agar bagian mesin dapat terhindar
dari kerusakan karena gesekan. Sebuah sistem pelumasan yang baik untuk mesin harus
memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: a. Mampu menyalurkan minyak pelumas
secara merata ke semua bagian mesin yang bergesekan sesuai dengan kebutuhan. b.
Mempunyai konstruksi yang sederhana dengan komponen-komponen yang tidak mudah rusak
dan mudah perawatannya. c. Mampu memberikan minyak pelumas dalam jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan ke bagian mesin berputar rendah, sedang sampai dengan putaran
tinggi dengan baik. 1. Sifat-Sifat Dasar Minyak Pelumas Berbagai jenis minyak
pelumas disarankan pemakaiannya oleh beberapa pabrik mesin atau peralatan. Menurut
Warso (1984 : 23-24) minyak pelumas apa yang harus digunakan pada mesin-mesin
tertentu harus selalu disesuaikan dengan kebutuhan mesin yang ada, untuk itu perlu
diperhatikan sifat-sifat minyak pelumas dalam pemakaiannya antara lain: a).
Viscosity adalah nilai kekentalan dari bahan minyak pelumas tersebut yang
menggambarkan sifat mengalirnya minyak pelumas pada temperatur tertentu.
8

b). Flash and fire point: Flash point adalah temperatur di mana uap minyak pelumas
akan terbakar bila diberi percikan api, tetapi tidak terus terbakar. Sedangkan Fire
point adalah temperatur di mana uap minyak pelumas akan langsung terbakar begitu
sekali menyala. c). Gravity adalah berat jenis minyak pelumas tersebut pada kondisi
tertentu. d). Pour point adalah temperatur di mana minyak pelumas tersebut tidak
dapat tumpah pada suatu test tertentu. e). Carbon residue adalah jumlah prosentase
karbon yang mengendap apabila minyak pelumas diuapkan pada suatu test khusus. Sifat
ini banyak menentukan jenis minyak pelumas yang digunakan untuk motor-motor bakar.
f). Emulsification dan demulsibility: Khususnya menentukan sifat menganalisa minyak
pelumas dengan air. Di mana sifat ini perlu diperhatikan terhadap minyak pelumas
yang kemungkinan bersentuhan dengan air selalu ada seperti untuk turbin air, pompa
dan sebagainya. g). Viscosity index adalah menunjukan kemampuan suatu jenis minyak
pelumas terhadap suatu perubahan temperatur. Minyak pelumas harus dapat beroperasi
secara optimum, di mana viscositas tidak akan menyulitkan engine starting dan juga
tidak menimbulkan kesukaran operasi. Setiap minyak pelumas mempunyai batas
kemampuan di mana pada batas kemampuan tersebut mesin yang dilumasi dapat distart
dengan mudah pada waktu dingin dan dapat beroperasi dengan baik pada waktu
temperatur kerjanya. Batas kemampuan ini disebut viscosity index dan dengan adanya
viscosity index ini dapat dilihat sampai di mana perubahan temperatur terhadap
9

kestabilan minyak pelumas semakin besar viscosity index semakin baik pula
kestabilan minyak pelumas tersebut. 2. Klasifikasi Minyak Pelumas Hal-hal paling
populer yang perlu untuk diketahui dari minyak pelumas adalah SAE (Sosiety Of
Automative Engineering) yang menyatakan nilai dari kekentalan minyak pelumas di
mana semakin tinggi angka SAE minyak pelumas maka kekentalannya akan semakin baik
dan API (American Petroleum Institute) yang menyatakan berat jenis dari minyak
pelumas. Sedangkan untuk menentukan derajat kekentalan mana yang digunakan haruslah
diketahui faktor-faktor sebagai berikut: a). Besar clearance yang dapat di tempati
oleh minyak pelumas. b). Besar beban yang harus didukung oleh minyak pelumas. c).
Temperatur operasi. d). Luas bidang gesek. e). Kecepatan gerakan. Berdasarkan
faktor-faktor tersebut di atas maka ada dua jenis minyak pelumas yaitu single grade
oil dan multi grade oil. Single grade oil adalah minyak pelumas yang memiliki satu
sifat kekentalan saja karena derajat kekentalannya terpengaruh oleh temperatur,
maka tidak cocok untuk semua musim. Multi grade oil adalah minyak pelumas yang
memiliki sifat ganda karena derajat kekentalannya tidak terpengaruh oleh
temperatur, maka cocok untuk semua mesin atau disebut minyak pelumas untuk semua
musim (all season oil).
10

Menurut New Step II (1998: 17) bahwa biasanya untuk jenis minyak pelumas multi
grade oil menggunakan kode W di belakangnya. Kode W ini kependekan dari winter
(musim dingin), berarti minyak pelumas tersebut telah mengalami uji test pada musim
dingin dan memiliki sifat kekentalan SAE 10 dan SAE 30, contoh: SAE 10W-30 dan SAE
30. Huruf W pada nomor 10W menunjukkan derajat viskositas pada 17,8 °C yang cocok
pada viskositas mesin untuk start pada keadaan dingin. Nomor yang tidak menggunakan
W menunjukkan derajat viskositas pada 98,9 °C. Jadi SAE 10W-30 adalah yang termasuk
standar 10W pada 17,8 °C dan 98,9 °C termasuk standar SAE 30. Sedangkan Single
Grade Oil adalah pengukuran viskositas minyak pelumas pada temperatur 98,9 °C yaitu
pada temperatur kerja mesin contoh: SAE 30, SAE 40. Minyak pelumas yang digunakan
pada Toyota Kijang Seri 5K adalah Mesran SAE 20 W-50 API SERVICE SF/CC. Minyak
pelumas ini adalah jenis minyak pelumas hasil pabrik pengolahan minyak pelumas.
Minyak pelumas ini cocok untuk mesin-mesin kendaraan karena mengandung bahan-bahan
kimia yang dapat dipergunakan dalam segala macam temperatur dan mesin kendaraan
bermotor dan memberikan pelumasan yang memuaskan. Bahan dasar minyak pelumas adalah
campuran hidrokarbon ditambah zatzat kimia tertentu yang disebut aditif. Minyak
pelumas merupakan minyak mineral yang termasuk bagian berat komponen minyak bumi
dan diperoleh dari hasil distilasi minyak mentah. Jenis senyawa yang terdapat dalam
minyak mentah antara lain parafin, naften, dan bensenoid. Minyak mentah itu dapat
diklasifikasikan sebagai parafinik, naftenik, atau bensenoid tergantung dari
11

proporsi terbesar yang ada dalam minyak mentah tersebut. Mengenai kestabilan
masing-masing kelompok senyawa dalam minyak mentah adalah sebagai berikut: a).
Parafin adalah hidrokarbon yang paling stabil pada temperatur rendah. b).
Kestabilan naften tidak berbeda jauh dari kestabilan parafin. c). Bensenoid kurang
stabil bila dibandingkan dengan parafin dan naften. 3. Aditif Minyak Pelumas Agar
minyak pelumas dapat digunakan pada kendaraan dengan baik dan dapat mencegah
kerusakan-kerusakan pada bagian-bagian yang bergesekan, maka diperlukan suatu
aditif yang bercampur dengan minyak pelumas. Aditif yang ditambahkan ke dalam
minyak pelumas mempunyai bermacam-macam tujuan dan peranan yang sebagian besar
untuk memperbaiki kualitas minyak pelumas yang berasal dari alam dan dari proses
pengolahan. Aditif-aditif yang dewasa ini diperdagangkan adalah sebagai berikut:
a). Detergen adalah aditif minyak pelumas yang mempunyai kemampuan untuk
menghindari atau mengurangi timbulnya deposit dari ruang bakar maupun dari bagian
mesin lainnya di mana mesin beroperasi pada suhu tinggi. b). Dispersan adalah
aditif yang mampu menghalangi timbulnya lumpur dan menghalangi terbentuknya deposit
pada suhu rendah. c). Pelindung korosi adalah bahan aditif untuk melindungi
komponen metal nonferro yang mudah terkena korosi pada mesin terutama bantalan yang
perlu bertahan terhadap kontaminasi asam dari minyak pelumas.
12

d). Penurun titik tuang adalah aditif minyak pelumas yang sangat baik menunjukkan
keefektifannya sebagai penurun titik tuang dan yang banyak digunakan adalah polimer
organik dan beberapa substan monomer tetrasilikat. e). Anti oksidan adalah aditif
minyak pelumas yang berfungsi mengurangi oksidasi minyak pelumas dan bahan kimia
yang digunakan adalah suffides dan sulfarides. f). Extreme pessure adalah aditif
minyak pelumas untuk mencegah kerusakan akibat sentuhan logam dengan logam dan
bahan kimia yang digunakan adalah persenyawaan sulfur atau halogen. g). Anti busa
adalah aditif minyak pelumas untuk mencegah munculnya buih pada oli akibat putaran
mesin tinggi. h). Anti beku atau anti freeze adalah aditif minyak pelumas untuk
mencegah minyak pelumas tidak membeku pada temperatur yang rendah, aditif ini tidak
berlaku di negara-negara beriklim tropis. 4. Penggunaan Minyak Pelumas Minyak
pelumas terdiri dari berbagai macam jenis penggunaannya, karena itu masing-masing
minyak pelumas tersebut mempunyai fungsi dan sifat-sifat tertentu untuk memberikan
fungsi pelumasan secara optimal. Minyak pelumas tersebut digunakan pada mesin atau
peralatan sebagai berikut: a). Minyak Pelumas Mesin Minyak pelumas mesin digunakan
untuk melumasi bagian mesin yang bergerak satu sama lain dalam mesin itu sendiri,
misalnya pada motor bensin pelumasan dimulai dari pompa oli melalui penyaring oli
ke piston, mekanisme
13

katup, bantalan poros bumbungan, bantalan poros engkol, dan bantalan batang piston.
b). Minyak Pelumas Transmisi Minyak pelumas pada transmisi diperlukan minyak
pelumas yang mempunyai viskositas yang cukup tinggi karena menerima beban berat.
Fungsi dari minyak pelumas transmisi adalah bekerja akibat perpindahan panas,
melumasi gigi, clutch dan bekerja sebagai minyak penggerak dari mekanisme otomatis
yang menggerakkan mekanisme transmisi.

B. Macam-Macam Pelumasan Sistem pelumasan yang biasa dikenal ada dua macam yaitu
sistem pelumasan kering dan sistem pelumasan basah. 1. Sistem Pelumasan Basah (wet
pump system) Sistem pelumasan basah adalah suatu sistem pelumasan yang

menggunakan tangki oli pada bak engkol sehingga ruang bak engkol selalu basah. Pada
pelumasan ini proses pelumasannya lebih sempurna, karena dalam tangki oli selalu
basah oleh oli dan pada bak engkol selalu terkena oli sehingga proses kerja mesin
lebih baik. Kebanyakan mobil menggunakan sistem ini karena sistem ini dianggap
lebih baik proses pelumasannya.
14

Gambar 1. Sistem Pelumasan Basah Pada sistem pelumasan basah terbagi menjadi tiga
buah sistem pelumasan yaitu sistem pelumasan percik sistem pelumasan tekan, sistem
pelumasan kombinasi. a. Sistem Pelumasan Percik Sistem pelumasan percik minyak
pelumas ditampung pada karter, dipercikkan ke bagian mesin yang bergerak dengan
sebuah alat yang disebut oil spoon atau sendok oli. Oil spoon adalah alat pemercik
minyak pelumas yang berbentuk tuas seperti sendok yang terdapat pada bagian bawah
batang torak.

Gambar 2. Sistem Pelumasan Percik


15

Keterangan: 1. Kepala silinder 2. Silinder blok 3. Batang torak 4. Poros engkol 5.


Oil spoon 6. Karter

Mesin dengan konstruksi karter yang dangkal atau permukaan minyak pelumas di dalam
karter cukup dekat dengan poros engkol, maka apabila mesin dihidupkan dan poros
engkol berputar ujung dan oil spoon akan menyentuh permukaan minyak pelumas dalam
karter dan memercikan minyak pelumas tersebut ke bagian mesin di atasnya misalnya
dinding silinder, unit torak, Crankshaft journal dan crankpin pada poros engkol
serta poros nok kemudian minyak pelumas tersebut akan kembali ke karter. Mesin
dengan konstruksi karter yang dalam atau permukaan minyak pelumas dalam karter agak
jauh dengan poros engkol, maka harus ada penampung minyak pelumas berbentuk seperti
cawan yang ditempatkan di dekat poros engkol agar oil spoon dapat memercikan minyak
pelumas tersebut. Sistem pelumasan percik mempunyai konstruksi yang sangat
sederhana, minyak pelumas yang dipercikan cukup memadai untuk melumasi bagian poros
nok dan dinding silinder, tetapi sistem pelumasan semacam ini kurang baik untuk
memberikan pelumasan ke bagian poros engkol dan pena engkol beserta bantalannya
karena minyak pelumas yang dipercikan sulit masuk ke celah yang sempit dan jumlah
maupun arah dari percikan itu tidak stabil serta pada waktu mesin menerima beban
berat jumlah minyak pelumas yang diberikan tidak mencukupi sehingga mesin cepat aus
dan rusak.
16

b. Sistem Pelumasan Tekan 1). Cara Kerja Sistem pelumasan tekan minyak pelumas
didistribusikan ke bagian-bagian yang memerlukan dengan cara ditekan oleh pompa
minyak pelumas dengan tekanan tertentu. Minyak pelumas di dalam karter akan dihisap
oleh pompa melalui saringan pelumas dan disalurkan ke bagian-bagian yang memerlukan
antara lain poros engkol, poros nok, rocker arm. Untuk pelumasan dinding silinder
dan roda gigi pada poros engkol, poros nok, dan rantai penghubungnya dilakukan
dengan cara disemprot dengan nosel.

Gambar 3. Sistem Pelumasan Tekan Keterangan: 1. Aliran minyak pelumas ke kepala


silinder 2. Poros nok 3. Aliran minyak pelumas ke poros nok 4. Aliran minyak
pelumas ke poros engkol 5. Poros engkol 6. Timing sistem 7. Karter
17

Karter

Pelumasan ke poros engkol

Poros engkol

Timing sistem

Pelumasan ke kepala silinder

Poros nok

Pelumasan ke poros nok

Gambar 4. Bagan Sistem Pelumasan Tekan 2). Komponen-Komponen Pada Sistem Pelumasan
Tekan Sistem pelumasan tekan minyak pelumas mampu melumasi bagian-bagian mesin
secara lebih baik sampai ke bagian yang sempit dan rumit, karena pada sistem
pelumasan ini mempunyai komponen atau alat yang bekerja atas dasar putaran mesin
dan komponen-komponennya sebagai berikut: a). Pompa Minyak Pelumas Pompa ini adalah
bagian dari sistem pelumasan yang berfungsi mengalirkan minyak pelumas dengan cara
membuat perbedaan tekanan antara saluran dari bak minyak pelumas dengan saluran
sistem pelumasan. Pompa minyak pelumas ada yang digerakkan oleh nok (cam shaft),
poros engkol, dan timing belt. Pompa minyak pelumas yang digerakkan oleh sumbu nok,
membran yang terdapat dalam pompa minyak pelumas digerakkan dengan bantuan nok
melalui semacam lengan, yang kemudian akan mempompa oli masuk dalam sistem
pelumasan. Pompa oli yang digerakkan oleh poros engkol adalah suatu pompa oli yang
proses kerjanya dibantu dengan putaran poros engkol, jadi membran yang terdapat
pada pompa oli digerakkan dengan bantuan poros engkol. Pompa oli yang digerakkan
digerakkan dengan timing belt adalah suatu pompa oli
18

yang proses kerjanya dibantu dengan perantara timing belt (sabuk) yang dihubungkan
dengan puli, sehingga pompa oli akan bekerja jika puli berputar. Pada prinsipnya
pompa oli mempunyai prinsip yang sama, tetapi yang membedakan antara jenis pompa
oli yang satu dengan yang lainnya adalah sistem yang membantu bekerjanya pompa oli
dalam melakukan tugasnya untuk memompa masuk dalam sistem pelumasan.
1

Gambar 5. Pompa Oli Keterangan: 1. Housing 2. Driven gear Pompa oli dibagi menjadi
dua macam tipe yaitu: (1). Pompa model roda gigi Pompa model roda gigi seperti
terdiri dari gigi penggerak (drive gear) dan gigi yang digerakkan (driven rotor)
akan berputar secara bersamaan untuk menghisap dan memompakan oli keluar. Roda gigi
ini terdapat di dalam pompa oli. Pompa model roda gigi ada dua tipe, yaitu: 3.
Drive gear
19

(a). Pompa oli tipe internal gear Pompa oli model ini roda gigi yang digerakkan
(driven gear) pada pompa oli digerakkan oleh gigi penggerak (drive gear) yang
dihubungkan langsung ke camshaft. Ruang volume dibentuk oleh dua gigi yang berubah-
ubah saat berputar. Oli dihisap ke dalam pompa oli bila volume bertambah, dan akan
ke luar bila volume berkurang. Pompa oli tipe internal gear konstruksinya sederhana
dan kemampuannya dapat diandalkan, karena pompa oli jenis ini pompa oli berhubungan
langsung dengan camshaft yang dihubungkan dengan drive gear yang kemudian akan
menggerakkan driven gear dan drive gear akan berputar bersamaan dalam housing untuk
menghisap atau memompakan oli ke luar.
1

Gambar 6. Pompa Minyak Pelumas Tipe Internal Gear Keterangan: 1. Driven gear 2.
Drive gear (b). Pompa oli tipe external gear
20

Pompa oli ini terdiri dari dua roda gigi, roda gigi penggerak (drive gear)
digerakkan oleh camshaft dan driven gear. Karena ruangan dalam (housing). Inlet dan
saluran keluar (discharge opening), saat roda gigi berputar oli tertekan keluar
dari housing ke saluran ke luar. Pompa oli tipe ini sudah lama digunakan sebab
konstruksinya lebih sederhana.
1

Gambar 7. Pompa Minyak Pelumas Tipe Eksternal Gear Keterangan: 1. Driven gear 2.
Drive gear (2). Pompa oli model trochoid Pompa model trochoid ini dilengkapi dengan
rotor (rotor penggerak dan rotor yang digerakkan), di dalam rumah pompa (pump
body). Bila rotor penggerak berputar, rotor yang digerakkan langsung ikut sama-sama
berputar. Poros rotor tidak satu titik pusat (offset) dengan rotor yang digerakkan.
Oleh karena itu besarnya ruangan dibentuk oleh dua buah rotor yang berputar. Oli
terhisap ke pompa saat ruangan membesar dan oli ditekan ketika ruangan mengecil.
Pompa
21

trochoid bentuknya sederhana dibanding dengan pompa model roda gigi dan lebih dapat
diandalkan, selain itu juga volume oli yang keluar lebih besar untuk setiap kali
berputar. Ini berarti ukuran atau bentuk pompa dapat diperkecil.

Gambar 8. Pompa Minyak Pelumas Model Trochoid Keterangan: 1. Bodi pompa 2. Drive
rotor outer 3. Drive rotor inner 4. Poros penggerak

Pompa minyak pelumas model trochoid ini mempunyai kemampuan yang sama dengan pompa
model roda gigi dan kelebihan pompa ini mempunyai bentuk dan ukuran yang lebih
kecil untuk sejumlah minyak pelumas yang sama sehingga banyak sekali digunakan pada
mobil-mobil sekarang. Toyota Kijang Seri 5K menggunakan pompa minyak pelumas model
trochoid. b). Pengatur tekanan minyak pelumas Alat pengukur tekanan minyak pelumas
menjadi satu unit dengan pompa minyak pelumas. Alat ini berfungsi mengendalikan
jumlah dan tekanan minyak pelumas yang dipompa agar tidak terjadi tekanan yang
berlebihan apabila mesin bekerja pada putaran tinggi. Pengatur tekanan minyak
pelumas ini terdiri dari
22

saluran minyak pelumas yang terletak di saluran output pompa yang disebut dengan
saluran by pass, sebuah katup yang berbentuk bola baja atau berbentuk piston serta
sebuah pegas piston yang menekan piston.

Gambar 9. Alat pengatur tekanan minyak pelumas Keterangan: 1. Aliran pelumas ke


lubang keluar 2. Bodi pompa 3. Lubang keluar 4. Lubang masuk 5. Aliran pelumas dari
lubang masuk 6. Lubang by pass 7. Pegas tekan 8. Katup pengatur tekanan pelumas

Apabila minyak pelumas yang mengalir masih di bawah batas tekanan maksimum, lubang
by pass tertutup oleh katup bola, tetapi bila putaran mesin naik maka jumlah minyak
pelumas yang mengalir bertambah, tekanan akan naik melebihi batas maksimum sehingga
mendorong katup bola melawan pegas akibatnya lubang by pass membuka dan sebagian
minyak pelumas mengalir kembali ke karter. Jumlah miyak pelumas yang mengalir
kembali ke karter tergantung dari besar kecilnya pembukaan lubang by pass saat
katup mendapat tekanan minyak pelumas.
23

c). Saringan Minyak Pelumas Adanya bagian-bagian mesin yang bergesekan maka oli
mesin berangsurangsur kotor bercampur dengan logam, karbon dan endapan Lumpur. Bila
bagianbagian yang bergerak dilumasi oleh oli yang sudah kotor maka akibatnya
komponen-komponen akan menjadi aus. Untuk mencegah hal ini, maka dipasang saringan
oli dalam sistem pelumasan untuk menyaring kotoran dari oli. Pada saringan oli juga
dipasang relief valve. Bila elemen-elemen tersumbat oleh kotoran-kotoran dari oli,
maka akan terjadi perbedaan tekanan antara saluran masuk (inlet) dan saluran keluar
(dis-charge) apabila tekanan telah melebihi dari tekanan yang telah ditentukan atau
melebihi batas maksimum maka katup by pass akan membuka dan menyalurkan oli ke
dalam by pass elemen saringan oli dan oli disalurkan langsung ke bagian mesin yang
bergerak untuk menghindari keausan. Dari cara penyaringan oli sistem pelumas ada
tiga macam, yaitu: (1). Penyaringan secara langsung

2 3 4

Gambar 10. Penyaringan Langsung


24

Keterangan: 1. Katup pengatur tekanan 2. Katup pembebas 3. Saringan 4. Pompa minyak

Sistem ini oli yang mengalir akan mengalir ke bagian-bagian mesin yang akan
dilumasi benar-benar bersih karena sudah melewati saringan oli karena dari oil pan
oli dipompa dari pompa oli kemudian masuk ke saringan oli, apabila tekanannya
melebihi 3.0 kg/cm2 pada putaran 3000 rpm maka akan dikembalikan ke oil pan melalui
katup pengatur tekanan. Dalam pompa oli mengalir ke saringan pompa oli, di dalam
saringan tersebut oli disaring, setelah disaring oli akan mengalir melewati katup
pembebas dan masuk ke dalam bagian-bagian mesin. (2). Penyaringan sebagian Sistem
penyaringan sebagian ini oli yang mengalir melalui pompa oli diteruskan ke sebagian
sistem pelumasan untuk melumasi bagian-bagian mesin yang perlu dilumasi dan
sebagian lagi diteruskan saringan oli untuk disaring. Jadi pada pelumasan ini yang
mengalir ke bagian mesin belum bersih, karena oli yang mengalir langsung dari pompa
oli ke sistem pelumasan tanpa melalui proses penyaringan terlebih dahulu.

Gambar 11. Penyaringan Sebagian


25

(3). Penyaringan kombinasi, langsung dan sebagian Pada sistem ini, oli yang dipompa
oleh pompa oli sebagian disalurkan ke bagian yang akan dilumasi melalui saringan
dan sebagian lagi akan dialirkan ke saringan oli lainnya yang selanjutnya
diteruskan ke bak oli. Jadi pada sistem ini menggunakan dua saringan oli di mana
saringan yang satu untuk menyaring oli yang digunakan untuk pelumasan dan yang satu
lagi untuk menyaring oli yang ada pada bak oli. Screen Filter Karter a. Penyaringan
Langsung Bagian Mesin Karter Screen filter Pompa Oli Oil Filter b. Penyaringan
Sebagian Oil Filter Karter Screen Filter Pompa Oli Oil Filter c. Penyaringan
Kombinasi Langsung dan Sebagian Gambar 12. Tiga Cara Penyaringan Minyak Pelumas
Karter Bagian Mesin Karter Pompa Oli Oil Filter Bagian Mesin
26

c. Sistem Pelumasan Kombinasi Sistem pelumasan kombinasi adalah gabungan antara


sistem pelumasan percik dan sistem pelumasan tekan. Mesin dengan konstruksi karter
dangkal minyak pelumas dapat dipercikan dari karter ke bagian dinding silinder,
unit torak, batang torak dan poros nok dan untuk pelumasan poros engkol dengan
sistem pelumas dipercikkan dengan pompa ke sebuah penampung semacam cawan yang
letaknya berdekatan dengan poros engkol.

Gambar 13. Sistem Pelumasan Kombinasi Katerangan: 1. Alat ukur tekanan pelumas 2.
Pipa aliran pelumas ke alat ukur 3. Pipa aliran pelumas ke bantalan utama 4. Pompa
pelumas model roda gigi 5. Saluran keluar 6. Saluran masuk 7. Lubang pembuangan 8.
Pipa filter pelumas 9. Oil spoon 10. Cawan 11. Kran batas atas 12. Kran batas bawah
27

Pada dasarnya komponen-komponen pada sistem pelumasan kombinasi juga merupakan


gabungan dari komponen kedua sistem pelumasan sebelumnya yaitu oil spoon, cawan,
filter minyak pelumas dan pompa minyak pelumas pada sistem pelumasan kombinasi juga
dilengkapi dengan alat ukur tekanan minyak pelumas yang berfungsi sebagai penunjuk
tekanan minyak pelumas pada waktu mesin hidup. Tabel 1. Kelebihan dan Kekurangan
Sistem Pelumasan Tekan No 1. KELEBIHAN KEKURANGAN Aliran minyak pelumas dapat
berjalan Jika salah satu bantalan rusak teratur maka terganggu 2. Pelumasan dapat
diatur dengan baik Jika saringan rusak maka pelumasan akan

dengan jalan membuat alur-alur pada minyak pelumas yang mengalir metal dudukannya
akan tidak tersaring sehingga kotor

Tabel 2. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pelumasan Percik No 1. KELEBIHAN


Perlengkapan sederhana KEKURANGAN Pelumasan tidak sesuai dengan jumlah berputarnya
motor 2. Pada sumbu engkolnya tidak Pembagian minyak pelumas tidak sama banyaknya
pada masingmasing bagian tertentu

mendapat lubang pengaliran minyak


28

Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pelumasan Kombinasi No 1. KELEBIHAN


KEKURANGAN Sistem pelumasan kombinasi ini lebih Digunakan pada mesin-mesin sempurna
daripada sistem pelumasan stasioner tekan dan sistem pelumasan percik 2. Komponen-
komponen mesin akan Jarang digunakan pada mesin-

mendapatkan pelumasan yang sempurna mesin mobil sehingga umurnya akan lebih lama

2. Sistem pelumasan kering (dry pump system) Sistem pelumasan kering adalah suatu
sistem pelumasan di mana pada tangki minyak pelumas di tempatkan di ruang mesin
sehingga ruang karter selalu kering. Sistem pelumasan ini minyak pelumas mengalir
dari bak minyak pelumas yang berada di luar mesin, kemudian mengalir ke bagian-
bagian yang perlu dilumasi dengan perantara pompa minyak pelumas.

Gambar 14. Sistem Pelumasan Kering

C. Sistem Pelumasan Toyota Kijang Seri 5K Sistem pelumasan yang digunakan pada
mesin Toyota Kijang Seri 5K adalah pelumasan tekan dengan tipe pendistribusian
minyak pelumas secara penuh
29

(full force seri) dilakukan oleh sebuah pompa pelumas jenis trochoid ke bagian yang
membutuhkan antara lain poros engkol, poros nok, dan rocker arm kemudian kembali ke
karter melalui unit katup, push rod, tappet, dan nok pada poros nok. Waktu mesin
hidup poros engkol berputar, minyak pelumas yang keluar dari celah antara batang
torak dengan crank arm akan memercik dan melumasi unit torak, dinding silinder dan
batang torak, sedangkan untuk melumasi rantai penggerak poros nok, minyak pelumas
mengalir melalui tensioner atau pengatur ketegangan rantai.

Gambar 15. Pengaliran Minyak Pelumas Keterangan: 1. Baut pengikat rocker arm 2.
Poros engkol 3. Screen filter 4. Poros nok 5. Filter Pelumas 6. Pompa Pelumas 7.
Karter
30

Camshaft Drive Gear Valve Livter & Valve Stems Piston and Cylinder Connecting rod
Camshaft Journal Cylinder Head Cam

Crankshaft

Oil Filter

Relief Valve

Relief Valve

Oil Pump

Oil Strainer

Oil Pan Gambar 16. Bagan Aliran Minyak Pelumas Gambar di atas menunjukkan bahwa
minyak pelumas yang ditampung dalam karter dihisap oleh pompa minyak pelumas
kemudian ditekan ke arah filter minyak pelumas dengan tekanan yang stabil. Dalam
filter minyak pelumas ini, minyak pelumas disaring dari semua kotoran, kemudian
dialirkan ketiga arah
31

yaitu satu bagian mengalirkan minyak pelumas ke unit poros engkol, batang torak dan
unit torak serta dinding silinder. Satu bagian mengalirkan minyak pelumas ke poros
nok, rocker arm kemudian kembali ke karter sambil melumasi unit katup, push rod,
tappet dan nok pada poros nok, sedangkan satu bagian lagi melumasi timing chain
melalui lubang yang terdapat pada alat pengatur ketegangan rantai. Pompa minyak
pelumas tersebut digerakkan oleh poros pompa minyak pelumas yang dihubungkan dengan
poros distributor. Sedangkan poros distributor itu digerakkan oleh roda gigi pada
poros nok. Pengambilan sumber putaran dari poros nok menghasilkan putaran pompa
minyak pelumas lebih lambat setengahnya dibanding bila mengambil sumber gerak putar
dari poros engkol. Dengan demikian umur unit pompa minyak pelumas akan lebih
panjang, tetapi ukuran pompa minyak pelumas harus lebih besar agar diperoleh output
yang sama besarnya.

D. Analisis Gangguan dan Cara Mengatasi Sistem Pelumasan Toyota Kijang Seri 5K
Sistem pelumasan pada dasarnya adalah sebuah sistem pendistribusian minyak pelumas
ke bagian-bagian mesin secara terus-menerus selama mesin hidup. Gangguan pada
sistem berarti gangguan atau hambatan yang terjadi pada sistem pendistribusian
minyak pelumas tersebut. Gangguan dapat terjadi pada sistem pelumasan sangat
berbahaya terhadap mesin karena dapat menyebabkan mesin rusak. Gangguan yang timbul
pada sistem pelumasan dikarenakan adanya aliran minyak pelumas dan jumlah tekanan
minyak pelumas di bawah ketentuan yang telah ditetapkan, sedangkan untuk
32

melakukan perbaikan dari gangguan tersebut maka perlu dilakukan pemeriksaan


terhadap bagian-bagian mesin dan komponen-komponen sistem pelumasan. 1. Gangguan-
Gangguan Pada Sistem Pelumasan a. Tidak terdapat aliran minyak pelumas sama sekali
pada sistem pelumasan 1). Tanda-tandanya yaitu mesin menjadi cepat panas, mesin
bersuara kasar, tenaga mesin berkurang banyak, lampu indikator minyak pelumas
menyala pada waktu mesin hidup. 2). Kemungkinan kerusakan a). Volume minyak pelumas
dalam karter sangat berkurang sehingga pompa minyak pelumas tidak mampu
menghisapnya. b). Baut cover pada pompa kendor, sehingga sambungan antara cover
dengan bodi pompa menjadi tidak rapat. c). Baut pengikat bodi pompa minyak pelumas
dengan silinder blok kendor, sehingga sambungan antara silinder blok dengan bodi
pompa menjadi tidak rapat. d). Katup by pass tidak dapat menutup atau macet karena
tersumbat oleh kotoran. b. Jumlah aliran minyak pelumas kurang 1). Tanda-tandanya
yaitu mesin cenderung panas, tenaga mesin menurun, suara mesin kasar, lampu
indikator tekanan minyak pelumas menyala pada putaran rendah dan padam pada putaran
tinggi dan banyak bagian-bagian mesin yang ukurannya melebihi limit pemakaian yang
ditentukan. 2). Kemungkinan kerusakan a). Perpak atau paking set pada bodi pompa
telah rusak.
33

b). Lubang masuk pada pompa dan saringan telah rusak. c). Pegas penekan katup by
pass terlalu lemah. d). Inner rotor dan outler rotor dari pompa telah aus. e).
Poros penggerak inner rotor pompa telah rusak atau aus. f). Terjadi kebocoran
minyak pelumas antara filter minyak pelumas dengan silinder blok. g). Terjadi
kebocoran minyak pelumas antara kepala silinder dengan silinder blok. 2.
Pemeriksaan Sistem Pelumasan Toyota Kijang Seri 5K Upaya memperbaiki serta untuk
mengetahui kerusakan yang timbul pada sistem pelumasan yaitu dengan melakukan
pemeriksaan terhadap komponenkomponen sistem pelumasan maupun pada bagian-bagian
mesin lain yang berkaitan dan pemeriksaan tersebut antara lain: a. Pemeriksaan
bagian-bagian pompa minyak pelumas Pemeriksaan bagian-bagian pompa minyak pelumas
meliputi pemeriksaan baut-baut pengikat, paking set dan seal, pemeriksaan inner
rotor dan outer rotor pompa minyak pelumas dan pemeriksaan keausan poros pompa
pelumas. 1). Pemeriksaan kekuatan baut pengikat cover Terdapat tiga buah baut
pengikat cover yang harus dikencangkan. Apabila baut tersebut kendor maka tenaga
hisapan pompa akan menghisap udara melalui celah antara cover dengan bodi pompa
minyak pelumas, sehingga tidak dapat menghisap minyak pelumas melalui saluran masuk
karena yang dipompa adalah udara maka tidak terjadi pemberian minyak pelumas pada
bagian mesin yang memerlukan.
34

2). Pemeriksaan kekuatan baut pengikat bodi pompa Terdapat dua buah baut pengikat
bodi pompa dengan silinder blok, apabila baut tersebut kendor maka hasil pemompaan
minyak pelumas tidak dapat mengalir ke bagian-bagian mesin yang perlu dilumasi,
tetapi sebagian atau bahkan semua hasil pompa akan keluar melalui sambungan antara
bodi pompa dengan silinder blok yang kendor tersebut. 3). Pemeriksaan paking set
maupun oil seal pada unit pompa Perpak atau paking set pada sambungan-sambungan
minyak pelumas harus selalu dalam keadaan baik karena pengaruh panas dan pelumas
paking set yang terbuat dari kertas dan seal perapat sambungan yang terbuat dari
karet perlu penggantian bila sudah keras atau aus. 4). Pemeriksaan inner rotor dan
outer rotor Besar kecilnya output pompa minyak pelumas tergantung juga dari
besarnya kelonggaran bagian-bagian pompa minyak pelumas, misalnya

kelonggaran antara inner rotor dan outer rotor pompa, kelonggaran antar outer
dengan bodi pompa dan kelonggaran rotor dengan cover pompa. Semakin besar
kelonggaran dari komponen-komponen pompa maka semakin kecil output pompa minyak
pelumas tersebut. 5). Pemeriksaan poros pompa minyak pelumas Bersihkan komponen
pompa minyak pelumas kemudian dilakukan pemeriksaan poros pompa minyak pelumas
yaitu ukur poros pompa minyak pelumas dan lubang tempat poros pompa pada silinder
blok dan pada bodi pompa dengan menggunakan alat ukur mistar geser.
35

6). Pemeriksaan katup by pass / katup pengatur tekanan minyak pelumas Pengaruh
panas dan tekanan yang terus-menerus yang diterima akan melemahkan kondisi pegas
tekan pada katup relief, sehingga peas tekan tersebut terlalu lemah maka tekanan
minyak pelumas akan berkurang dari batas yang ditentukan karena sebagian hasil
pemompaan minyak pelumas akan keluar melalui lubang by pass. Kondisi minyak pelumas
yang sudah kotor dapat mengganggu kerja dari unit pengatur tekanan minyak pelumas
ini, karena kotoran-kotoran yang terbawa akan membuat katup relief macet dan lubang
by pass dalam keadaan terbuka terus menerus sehingga alat pengatur tekanan minyak
pelumas ini tidak berfungsi.

Gambar 17. Pengukuran Panjang Pegas Tekan Keterangan: 1. Pegas tekan 2. Mistar
geser b. Pemeriksaan sambungan pada bagian-bagian mesin Volume minyak pelumas di
dalam karter dapat berkurang selama mesin dihidupkan, karena terdapat kebocoran-
kebocoran pada sambungan bagian-bagian mesin, oleh karena itu perlu dilakukan
pemeriksaan terhadap kondisi sambungan
36

bagian-bagian mesin agar tidak terjadi kebocoran minyak pelumas. Adapun bagian-
bagian yang perlu dilakukan pemeriksaan adalah: 1). Pemeriksaan permukaan bagian
atas silinder blok dan permukaan bagian bawah kepala silinder serta kekuatan baut
pengikatnya Pengaruh korosi dan temperatur mesin dapat membuat permukaan bagian
atas silinder blok dan permukaan bagian bawah kepala silinder akan terjadi
kerusakkan yang akan mengakibatkan saluran minyak pelumas pada kepala silinder dan
silinder blok tidak rapat, sehingga terjadi kebocoran minyak pelumas. Oleh karena
itu, perlu dilakukan pemeriksaan kerataan permukaan silinder blok dan kerataan
permukaan kepala silinder. Selain ketidakrataan permukaan kebocoran juga dapat
timbul dari pengencangan baut pengikat kepala silinder yang tidak merata. 2).
Pemeriksaan kelonggaran antara ring torak dengan dinding silinder Gesekan antara
ring torak dengan dinding silinder menimbulkan keausan pada dinding silinder dan
pada ring torak tersebut. Apabila keausan tersebut bertambah besar, maka jarak
ujung ring torak semakin besar pula dan bila jarak ujung ring torak tersebut telah
melebihi limit pemakaian maka ring torak harus diganti dan dinding silindernya
harus diperbaiki, karena terjadi kebocoran minyak pelumas melalui dinding silinder
dan ring torak yang aus. Kebocoran ini mengakibatkan minyak pelumas masuk ke dalam
ruang bakar dan akan terbakar, dalam waktu yang lama volume minyak pelumas ini akan
berkurang.
37

Gambar 18. Mengukur Jarak (gap) Ujung Ring Torak Keterangan: 1. Dinding silinder 2.
Torak 3. Ring torak 4. Gap / jarak ujung ring torak

Pengukuran jarak ujung ring torak tersebut dilakukan dengan cara memasukkan ring
torak ke dalam lubang silinder bagian bawah. Tekan ring torak dengan torak agar
diperoleh sudut yang tepat dengan dinding silinder kemudian ukur jarak ujung ring
torak dengan menggunakan feeler gauge. Bila diperoleh ukuran gap yang melebihi
limit pemakaian maka perlu dilakukan penggantian ring torak. Geser ring torak
sampai pada dinding silinder yang paling besar keausannya kemudian ukur jarak ujung
ring torak bila hasil pengukuran kedua lebih besar dari pengukuran yang pertama
menandakan bahwa dinding silinder juga telah aus dan perlu dilakukan perbaikan. 3).
Pemeriksaan kelonggaran antara batang katup dengan valve guide Kelonggaran antara
batang katup dengan lubang penghantar katup (valve guide) perlu dilakukan
pemeriksaan, karena bila kelonggaran tersebut terlalu besar maka minyak pelumas
akan terhisap masuk ke dalam ruang bakar melalui kelonggaran tersebut pada waktu
langkah hisap. Jika minyak pelumas masuk ke
38

dalam ruang bakar akan mengakibatkan minyak pelumas terbakar. Dalam jangka waktu
yang lama volume minyak pelumas akan berkurang.

Gambar 19. Mengukur Diameter Batang Katup Keterangan: 1. Batang katup 2. Mikrometer

Gambar 20. Pengukuran Diameter Lubang Penghantar Katup Keterangan: 1. Kepala


silinder 2. Diameter lubang valve guide 3. Penghantar katup Untuk memperoleh hasil
yang baik perlu dilakukan penggantian katup bila diameter batang katup telah
mencapai batas atau limit pemakaian atau bila
39

kelonggaran antara batang katup dengan valve guide telah mencapai batas limit
pemakaian. 4). Pemeriksaan pemasangan saringan minyak pelumas Pemasangan saringan
minyak pelumas pada silinder blok apabila kurang kuat akan mengakibatkan terjadinya
kebocoran minyak pelumas melalui sambungan antara saringan minyak pelumas harus
dengan silinder blok maka pada waktu pemasangan saringan minyak pelumas harus
dikencangkan dengan menggunakan special tool.

Gambar 21. Pemasangan Saringan Minyak Pelumas Keterangan: 1. Saringan minyak


pelumas 2. Kunci pelepas saringan minyak pelumas (special tool)
BAB III PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut : 1. Fungsi minyak pelumas antara lain mengurangi terjadinya gesekan,
sebagai pendingin atau membuang panas, membersihkan dari kotoran-kotoran,
mengurangi keausan yang berlebihan, dan mencegah terjadinya korosi. 2. Komponen-
komponen pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri 5K adalah karter, oil strainer,
pompa, oil filter, dan alat pengatur tekanan. 3. Gangguan-gangguan yang sering
terjadi antara lain tidak terdapat aliran minyak pelumas sama sekali pada sistem
pelumasan, jumlah aliran minyak pelumas kurang atau tekanan minyak pelumas tidak
memenuhi batas yang ditentukan, dan kekurangan minyak pelumas pada karter. 4. Cara
mengatasi gangguan-gangguan tersebut dengan menganalisa

kemungkinan kerusakan sehinggga dapat mengatasi gangguan-gangguan yang terjadi


dengan sebaik-baiknya.

B. Saran Adapun saran penulis yang ingin sampaikan antara lain: 1. Pengecekkan
volume minyak pelumas dalam karter sangat penting dilakukan karena jumlah minyak
pelumas yang kurang dari batas yang ditentukan akan

40
41

berakibat fatal terhadap mesin. 2. komponen-komponen pada sistem pelumasan


memerlukan perawatan sesuai batas waktu yang telah ditentukan, misalnya penggantian
oil filter harus dilakukan ketika batas waktu pemakainnya telah habis (12.500 KM),
karena elemen filternya telah tersumbat oleh kotoran sehingga sudah tidak dapat
lagi menjalankan fungsinya untuk menyaring kotoran. 3. Penggantian minyak pelumas
harus dilakukan secara teratur sesuai jangka waktu tertentu (jika penggunaannya
dalam 2.500 KM atau dalam jangka waktu 3 bulan ) pada API service SF. 4. Untuk
mengatasi gangguan-gangguan yang terjadi pada sistem pelumasan Toyota Kijang Seri
5K harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. New Step II Training Manual. Jakarta: PT. Toyota Astra Motor Anonim.
1985. Dasar-dasar Automobil. Jakarta: PT. Toyota Astra Motor Anonim. 1981. Pedoman
Reparasi Mesin Seri K. Jakarta: PT. Toyota Astra Motor Anton L. 1983. Minyak
Pelumas. Jakarta: PT. Gramedia Wiwoho, Warso. 1984. Bahan Bakar dan Pelumas.
Jakarta: PT. Pradya Paramita

42
43

Lampiran 1 TROUBLE SHOOTING PADA SISTEM PELUMASAN TOYOTA KIJANG SERI 5K

NO NAMA 1. Filter

TROUBLE SERVICE dengan Elemen penyaring Mengganti sobek atau sudah usang filter
yang baru • Mengganti oli secara berkala • Mengganti ring torak yang sudah aus
Memeriksa apakah pemasangannya sudah pas atau miring Mengencangkan bautnya yang
kendor

2.

Oli mesin cepat kotor • Penggantian oli terlambat • Gas bocor ke karter Oli mesin
cepat habis

3.

Sumbat karter bocor

Perpak mesin bocor 4.

Tekanan oli turun Oli tercampur air atau Memeriksa saat mesin hidup kemungkinan
kompresi bensin bocor ke karter akibat silinder atau ring torak aus Oli mesin cepat
encer • Oli tercampur bensin • Oli tercampur air Memeriksa kemungkinan ring torak
aus atau terjadi kesalahan pemasangan Menambahkan oli sampai pada batas yang
ditentukan Memeriksa kemungkinan saringan oli tidak terawat Mengganti dengan pompa
oli yang baru

5.

6.

Tekanan oli tidak naik meskipun mesin hidup

Volume oli kurang

Saringan oli tersumbat atau rusak Pompa oli rusak karena terjadi keausan pada gigi
pompa atau roda gigi penggerak slip
44

Lampiran 2 SERVIS BERKALA PADA SISTEM PELUMASAN TOYOTA KIJANG SERI 5K

Pompa Oli Tekanan oli saat putaran idle Tekanan oli saat putaran 3000 rpm lebih
dari 0.35 kg/cm2 (5.0 psi, 34 kPa) lebih dari 3.0 kg/cm2 (42.7 psi, 294 kPa)

Filter Oil Penggantian filter oli Volume minyak pelumas 12500 KM 3,5 Liter

Minyak Pelumas Penggantian minyak pelumas Volume minyak pelumas 2500 KM 3,0 Liter
45

Lampiran 3

Pandangan Samping Kanan

Pandangan Samping Kiri

Pandangan Belakang
46

Pandangan Depan

Oil Filter