Anda di halaman 1dari 55

ASUHAN KEPERAWATAN CKD ( CHORONIC KIDNEY DISIASE )

PADA Tn. A DI RUANG FLAMBOYAN B RS dr. KANUDJOSO


DJATIWIBOWO BALIKPAPAN TAHUN 2018

Dosen Pembimbing: Sandra Ekha Dirgantara, S.ST

Disusun oleh :

Fanny Fatmawaty

NIM. P07220116095

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2018

0
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan

karunia-Nya sehingga laporan yang membahas tentang “KEPERAWATAN CKD (

CHRONIC KIDNEY DISIASE ) PADA Tn. A DI RUANG FLAMBOYAN B RS dr.

KANUDJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN TAHUN 2018” dapat selesai tepat pada

waktunya.

Terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses

penyusunan laporan ini, baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna karena

keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun

dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya laporan yang lebih baik lagi.

Balikpapan, 14 Mei 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 3
B. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 6
C. Manfaat Penulisan .......................................................................................................... 7
BAB II........................................................................................................................................ 8
TINJAUAN TEORITIS ............................................................................................................. 8
1. Pengertian ....................................................................................................................... 8
2. Etilogi .............................................................................................................................. 9
3. Patofisiologi .................................................................................................................... 9
D. Manifestasi Klinik ......................................................................................................... 11
1. Ginjal dan gastrointestinal ................................................................................................ 11
E. Diagnosa Keperawatan ................................................................................................. 13
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, retensi cairan,
dan natrium. .......................................................................................................................... 13
F. Fokus Intervensi ............................................................................................................ 14
BAB III .................................................................................................................................... 22
TINJAUAN KASUS ................................................................................................................ 22
BAB IV .................................................................................................................................... 59
PEMBAHASAN KASUS ........................................................................................................ 59
BAB V ..................................................................................................................................... 62
PENUTUP................................................................................................................................ 62
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 62
B. Saran ............................................................................................................................. 62
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 63

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

CKD (Chronic Kidney Disease) merupakan program terapi yang bersifat

progresif

dan irreversibel gangguan fungsi ginjal ini terjadi ketika tubuh ginjal untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga

menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah. Kerusakan ginjal ini

menyebabkan masalah dalam kemampuan dan kekuatan tubuh yang menyebabkan

aktivitas

terganggu,tubuh jadi mudah lemah, lemas (Brunner & Suddarth, 2005). Berdasarkan

National Kidney Foundation (NKF) tahun 2002, CKD terjadi apabila Glomerolus

filtration

rate (GFR) kurang dari 60 ml/min/1,73 selama 3 bulan atau lebih.

CKD (Chronic Kidney Disease) disebabkan oleh berbagai penyakit. Penyebab

CKD

antara lain penyakit infeksi, penyakit peradangan, penyakit vaskular hipertensif,

gangguan

jaringan ikat, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik, nefropati toksik,

nefropati ostruktif (Price dan Wilson 2008)

Hemodialisa adalah prosedur pembersihan darah melalui suatu ginjal buatan dan

dibantu pelaksanaannya oleh semacam mesin. Hemodialisa sebagai terapi yang dapat

meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia. Hemodialisa merupakan periode

3
pengobatan yang sudah dipakai secara luas dan rutin dalam program penanggulangan

gagal

ginjal akut maupun gagal ginjal kronik. (Brunner & Suddarth, 2008)

Bagi penderita CKD, hemodialisa akan mencegah kematian. Namun demikian,

hemodialisa tidak menyebuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu

mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan

dampak dari CKD serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien. Pasien CKD harus

menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya (biasanya 1-2 kali seminggu selama kurang

lebih 3-4 jam perkali terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui operasi

pencangkokan yang berhasil (Brunner & Suddarth, 2008)

Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia WHO (2013) secara global lebih

dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Di Amerika serikat setiap

tahun selalu mengalami peningkatan 2,1% dan pada tahun 2011 lebih dari 380.000 orang

penderita

penyakit ginjal kronis menjalani hemodialisis regular

(United States Renal Data System,2011).

Sedangkan di Indonesia berdasarkan data dari Indonesian Renal Registry (2013)

pada tahun 2011 tercatat sebanyak 15.353 pasien baru gagal ginjal yang menjalani

hemodialisis, meningkat pada tahun 2012 sebanyak 19.621 pasien baru yang menjalani

hemodialisis. Angka yang cukup tinggi untuk penderita gagal ginjal secara keseluruhan

di

Indonesia baru 20 persen yang dapat ditangani, artinya ada 80% pasien tidak tersentuh

pengobatan sama sekali (Susalit, 2012)

Ketergantungan pada mesin dialisis seumur hidup mengakibatkan terjadinya

fatigue
4
yang mempengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari. Selain itu kadar oksigen rendah

karena

anemia akan menyebabkan tubuh mengalami kelelahan yang ekstrem dan akan memaksa

jantung bekerja keras untuk mensuplai oksigen yang dibutuhkan, oleh karena itu

penatalaksanaan fatigue yang tepat yaitu terapi komplementer berupa teknik relaksasi.

Menurut Utami (2006) ada empat tipe relaksasi yaitu relaksasi otot (progressive muscle

relaxation), pernafasan (diaphragmatic breathing), meditasi (attention focussing

exercises)

dan relaksasi perilaku (behavior relaxation training). Teknik relaksasi yang dapat

dilakukan pada pasien kelelahan selama menjalani hemodialisa adalah teknik relaksasi

otot

progresif, karena relaksasi progresif merupakan teknik merelaksasikan otot dalam pada

pagian tubuh tertentu.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka penulis tertarik untuk

melakukan Analisis Praktik Klinik Keperawatan pada pasien CKD (Chronic Kidney

Disease) di Flamboyan B RS dr.Kanujoso Djatiwobowo Balikpapan .

5
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

Dalam penulisan laporan ini diharapkan pembaca dapat melaksanakan penanganan

keperawatan dasar pada pasien yang menderita penyakit CKD (Chronic Kidney Disease)

sesuai dengan teori yang didapat dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan

serta mendapatkan pengalaman yang nyata dalam menangani kasus keperawatan secara

langsung.

1. Tujuan Khusus

a. Mampu melaksanakan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang secara

lengkap dengan benar dan tepat

b. Mampu menganalisa masalah berdasarkan data atau informasi yang telah diperoleh

melalui anamnesa dan pemeriksaan yang dilakukan.

c. Mampu melaksanakan asuhan secara komprehensif sesuai dengan perencanaan

yang telah disusun

d. Mampu membuat pendokumentasian menggunakan SOAP

e. Mampu melakukan evaluasi dari prosedur pemeriksaan yang dilakukan

2. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus

Pengambilan kasus pada hari Senin tanggal 15 Mei 2017 Di Ruang

Flamboyan B Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo

6
C. Manfaat Penulisan
Penulis membagi penulisan asuhan keperawatan ini menjadi 5 bab, yang terdiri dari :

BAB I : PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

Terdiri dari pengertian, anatomi fisiologi, klasifikasi Kejang demam

etiologi, patofisiologi, pathway, tanda dan gejala, pemeriksaan

penunjang, penatalaksanaan medis, komplikasi dan teori asuhan

keperawatan

BAB III : TINJAUAN KASUS

Terdiri pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan,

tindakan, dan evaluasi

BAB IV : PEMBAHASAN KASUS

Terdiri pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan,

tindakan, dan evaluasi

BaB V : PENUTUP

Terdiri dari kesimpulan dan saran

7
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. Pengertian

Chronic Kidney Disease (CKD) adalah proses kerusakan ginjal selama rentang

waktu lebih dari tiga bulan. Chronic Kidney Disease (CKD) dapat menimbulkan

simtoma, yaitu laju filtrasi glomerular berada di bawah 60 ml/men/1.73 m2, atau

diatas nilai tersebut yang disertai dengan kelainan sedimen urine. Selain itu, adanya

batu ginjal juga dapat menjadi indikasi Chronic Kidney Disease pada penderita

kelainan bawaan, seperti hioeroksaluria dan sistinuria (Muhammad, 2012 h. 16 ).

Chronic Kidney Disease gejalanya muncul secara bertahap biasanya tidak

menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga penurunan fungsi ginjal tersebut sering

tidak dirasakan, tahu-tahu sudah pada tahapan yang parah yang sulit di obati. Chronic

Kidney Disease sama dengan hipertensi, penyakit ikutan yang berkaitan, termasuk

silent kiler, yaitu penyakit mematikan yang tidak menunjukan gejala peringatan

sebelumnya, sebagaimana umumnya yang terjadi pada penyakit berbahaya lainnya

(Syamsir & Iwan, 2007).

Dua pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Chronic Kidney

Disease adalah suatu penyakit yang terjadi akibat kerusakan kedua ginjal yang

bersifat progresif dan irreversible, sebagai penyakit yang timbul secara perlahan dan

sifatnya menahun, dan sebagai kelainan pada urine atau darah atau kelainan

morfologi, yang berlangsung lebih dari 3 bulan atau bila didapatkan Laju Filtrasi

Glomelurus (LGF) < 60 ml/menit.

8
2. Etilogi

Menurut Muhammad Muhammad, 2012 yang menyebabkan Chronic Kidney

Disease (CKD) adalah kehilangan fungsi ginjalnya secara bertahap, kerusakan sudah

terjadi selama lebih dari 3 (tiga) bulan. Selain itu, hasil pemeriksaan juga menunjukan

adanya kelainan struktur atau fungsi ginjal. Kondisi tersebut disebabkan oleh :

Penyakit glomerular kronis, Infeksi kronis, Kelainan kongenital, Penyakit vaskuler,

Obstruksi saluran kemih, Penyakit kolagen, Obat-obatan nefrotoksis.

Selain hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada banyak faktor

penyakit gagal ginjal. Beberapa penyebab penyakit Chronic Kidney Disease (CKD)

adalah : Tekanan darah tinggi (hipertensi), Penyumbatan saluran kemih, Kelainan

ginjal, misalnya penyakit ginjal polikistik, Diabetes Militus (kencing manis), Kelainan

autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik, Penyakit pembuluh darah, Bekuan

darah pada ginjal, Cidera pada jaringan ginjal dan sel-sel.

3. Patofisiologi

Patofisiologi Chronic Kidney Disease (CKD) tergantung pada penyebab yang

mendasarinya. Pengurangan massa ginjal mengakibatkan hipertrofi struktural dan

fungsional nefron yang masih tersisa (surviving nephrons) sebagai upaya kompensasi,

yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan faktor-faktor

pertumbuhan (growth factor). Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi, yang

diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi

ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa nefron

sklerosis yang masih tersisa. Proses ini kemudian diikuti dengan penurunan fungsi

nefron yang progresif. Adanya peningkatan aktivitas aksis renin-angiotensin-

9
aldosteron internal, ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi,

sklerosis, dan progresifitas tersebut. aktivitas jangka panjang renin-angiotensin-

aldosteron, sebagian diperantarai oleh faktor pertumbuhan seperti transforming

growth factor β (TGF-β). Beberapa hal yang juga dianggap berperan terhadap

terjadinya progresifitas Chronic Kidney Disease (CKD) adalah albuminuria,

hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia. Terdapat variabilitas interindividual untuk

terjadinya sklerosis dan fibrosis glomerulus maupun tubulointerstitial (Kemenkes RI,

2010).

Pada stadium paling dini Chronic Kidney Disease (CKD), terjadi kehilangan

daya cadang ginjal (renal reserve), pada keadaan ini basal Laju Filtrasi Glomelurus

(LFG) masih normal atau sudah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti,

akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif ditandai dengan peningkatan

kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada Laju Filtrasi Glomelurus (LFG) sebesar

60%, penderita masih belum merasakan keluhan (asimtomatik), tapi sudah terjadi

peningkatan kadar urea dan kreatinin serum (normal kadar kreatinin serum 0,5-1,5

mg/dl dan ureum 20-40 mg/dl) (Kemenkes RI, 2010).

Sampai pada Laju Filtrasi Glomelurus (LFG) sebesar 30%, mulai terjadi

keluhan pada klien seperti, nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang dan

penurunan berat badan. Sampai pada Laju Filtrasi Glomelurus (LFG) dibawah 30%,

klien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata seperti anemia, peningkatan

tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah dan

lain sebagainya. Klien juga mudah terjadi infeksi saluran napas, maupun infeksi

saluran cerna. Juga akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau

hipervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada

LFG dibawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius dan klien
10
sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain

dialisis atau transplantasi ginjal (Kemenkes RI, 2010).

D. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) dikarenakan

gangguan yang bersifat sistemik. Ginjal sebagai organ koordinasi dalam peran

sirkulasi yang banyak sehingga kerusakan kronis secara fisiologis ginjal akan

mengakibatkan gangguan keseimbangan sirkulasi dan vasomotor. Berikut adalah

tanda dan gejala yang ditunjukan oleh Chronic Kidney Disease (CKD):

1. Ginjal dan gastrointestinal

Sebagai akibat dari hiponatremi maka timbul hipotensi, mulut kering,

penurunan turgor kulit, kelemahan, fatique, dan mual. Kemudian terjadi penurunan

kesadaran (somnolen) dan nyeri kepala yang hebat, dampak dari peningkatan

kalium adalah peningkatan iritabilitas otot dan akhirnya otot mengalami

kelemahan. Kelebihan cairan yang tidak terkompensasi akan mengakibatkan

asidosis metabolik. Tanda paling khas adalah terjadinya penurunan urine output

dengan sedimentasi yang tinggi.

2. Kardiovaskuler

Biasanya terjadi hipertensi, aritmia, kardiomyopati, uremic percarditis, effusi

perikardial (kemungkinan bisa terjadi tamponade jantung), gagal jantung, edema

periordital dan edema perifer.

3. Respiratory system

Biasanya terjadi edema pulmonal, nyeri pleura, friction rub dan efusi pleura,

crackles, sputum yang kental, uremic pleuritis, uremic lung, dan sesak nafas.
11
4. Gastrointestinal

Biasanya menunjukan adanya inflamasi dan ulserasi pada mukosa

gastrointestinal karena stomatitis, ulserasi dan perdarahan gusi, dan kemungkinan

juga disertai parotitis, esofagus, gastritis, ulseratif duodenal, lesi pada usus

halus/usus besar, colitis, dan pankreatitis. Kejadian sekunder biasanya mengikuti

seperti anoreksia, neusea, dan vomiting.

5. Integumen

Kulit pucat, kekuning-kuningan, kecoklatan, kering dan ada sclap. Selain itu,

biasanya juga menunjukan adanya purpura, akimoses, petechiae, dan timbunan

urea pada kulit.

6. Neurologis

Biasanya ditunjukan dengan adanya neuropathy perifer, nyeri, gatal pada

lengan dan kaki. Selain itu juga adanya kram pada otot dan refleks kedutan, daya

memori menurun, apatis, rasa kantuk meningkat, iritabilitas, pusing, koma, dan

kejang. Dari hasil EEG menunjukan adanya perubahan metabolik encephalopathy.

7. Endokrin

Bisa terjadi infertilitas dan penururna libido, amenorea dan gangguan siklus

menstruasi pada wanita, impoten, penurunan sekriesi sperma, peningkatan sekresi

aldosteron, dan kerusakan metabolisme karbohidrat.

8. Hematokoitik

Terjadi anemia, penurunan waktu hidup sel darah merah, trombositopenia

(dampak dari dialysis), dan kerusakan platelet. Biasanya masalah yang serius pada

sistem hematologi ditunjukan dengan adanya perubahan (purpura, ekimoses,

petechiae).

9. Muskuloskeletal
12
Nyeri pada sendi dan tulang, demineralisasi tulang, fraktur patologis, dan

kalsifikasi (otak, mata, gusi, sendi, miokard) (Eko dan Andi 2014, h 198).

E. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang bisa muncul pada klien dengan Chronic Kidney Disease

(CKD) adalah (NANDA I 2012-2014) :

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, retensi

cairan, dan natrium.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan haemoglobin, keletihan,

kelemahan fisik.

3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uretra.

4. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin.

5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan.

7. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan retensi CO2.

8. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring dalam

jangka waktu yang lama, edema, dan penurunan perfusi jaringan.

9. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi oleh karenafaktor

biologis, psikologis, ekonomi.

13
F. Fokus Intervensi
Berikut ini adalah intervensi yang dirumuskan untuk mengatasi masalah keperawatan

pada klien dengan Chronic Kidney Disease (CKD) (NANDA 1 2012-2014) :

1. Kelebihan Volume Cairan yang berhubungan dengan gangguan mekanisme

pengaturan, asupan cairan yang berlebih, asupan natrium yang berlebih.

Nursing Outcome Classification (NOC)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.... x 24 jam diharapkan haluaran

urin normal, natrium dalam batas normal.

Kriteria hasil :

a. Kelebihan volume cairan dapat dikurangi

b. Tidak terjadi oedema

c. Keseimbangan cairan tidak akan terganggu

Nursing Interventions Classification (NIC)

Aktivitas keperawatan :

a. Tentukan derajat dan lokasi oedema

Rasional : dapat mengetahui seberapa berat oedema

b. Kaji ektremitas dan bagian tubuh yang oedema

Rasional : dapat menentukan bagian tubuh yang terdapat oedeme

c. Pantau intake dan output cairan

Rasional : pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena adanya penurunan

perfusi ginjal. Posisi terlentang membantu diuresis, sehingga pengeluaran urine

dapat ditingkatkan selama tirah baring

d. Timbang berat badan secara teratur

Rasional : dapat mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan

14
2.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen,

kelemahan umum, immobilitas.

Nursing Outcome Classification (NOC)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.... x 24 jam diharapkan mampu

melakukan aktivitas sendiri.

Ktiteria Hasil :

a. Berpartisipasi pada aktivitas yang di inginkan

b. Mampu melakukan perawatan diri sendiri

c. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat di ukur

Nursing Interventions Calssification (NIC)

Aktivitas keperawatan :

1. Periksa tanda-tanda vital setelah beraktivitas

Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas, karena efek obat

(vasodilatasi) dan perpindahan cairan (diuretik)

2. Catat kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, dispnea, berkeringat dan

pucat. Rasional : atau ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume

darah sekuncup selama aktivitas dapat mnyebabkan peningkatan frekuensi jantung

dan kebutuhan oksigen, juga peningkatan rasa kelelahan dan kelemahan.

3. Evaluasi peningkatan aktivitas

Rasional : dapat menunjukan peningkatan dekompensasi jantung dari pada

kelebihan aktivitas.

4. Kaji faktor yang menyebabkan keletihan

15
Rasional : dapat mengetahui penyebab keletihan

5. Kaji faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan cairan

Rasioanal : dapat mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan kelebihan

cairan dan dapat mengetahui takaran asupan yang dapat di berikan.

6. Anjurkan aktivitas ringan sambil istirahat

Rasional : dapat mengetahui tingkat aktifitas yang dapat di lakukakan klien.

7. Anjurkan kepada keluarga untuk memandikan klien

Rasional : dapat mempertahankan kebersihan pada klien

8. Kolaborasi pemberian therapy antibiotik sesuai indikasi

9. Periksa laboratorium darah sesuai indikasi.

Rasional : dapat mengetahuin hasil laboratorium sehingga dapat di berikan

tindakan lanjut

3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien, ketidakmampuan untuk

mencerna makanan, ketidakmampuan menelan makanan, faktor psikologis.

Nursing Outcome Classification (NOC)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.... x 24 jam diharapkan nutrisi

terpenuhi.

Kriteria hasil :

a. Intake makanan per oral (spontan/ naso feeding) adekuat.

b. Intake cairan (per oral/ parenteral) adekuat.

c. Nutrisi parental adekuat.

16
d. Menyatakan nafsu makan baik.

e. Menyiapkan makanan dengan baik.

f. Menyantap makanan dengan maksimal dan mengunyahnya dengan baik.

g. Menghabiskan porsi makanan tanpa adanya gangguan.

h. Tidak ada gangguan selama proses makan (mual/muntah).

i. Berat badan ideal.

j. Masa otot triceps, biseps dan subskapularis memadai.

k. Lemak pada panggul (wanita) memadai.

l. Lemak di leher (pria) memadai.

m. Lingkar kepala memadai dalam standar normal (anak).

n. Proporsi antara tinggi badan dan berat badan normal (anak).

Nursing Interventions Calssification (NIC)

Aktivitas keperawatan :

1. Kaji status nutrisi klien dan kemampuan pemenuhan nutrisi klien.

Rasional : memvalidasi dan menepatkan drajat masalah untuk menetapkan

pilihan intervensi yang tepat.

2. Identifikasi klien tentang riwayat alergi makanan dan kaji makanan kesukaan

klien.

Rasional : mengetahui asupan makanan yang dapat menyebabkan alergi

3. Instruksikan kepada klien tentang cara pemenuhan kebutuhan nutrisi yang

optimal (misalnya dengan pelaksanaan diet sesuai anjuran).

17
Rasioanal : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat

4. Hitung kebutuhan kalori klien setiap hari dan sediakan aneka ragam makanan

kesukaan klien.

Rasional : untuk menambah selera makan klien.

5. Anjurkan klien/ keluarga untuk membantu klien melakukan perawatan rongga

mulut (sikat gigi) sebelum makan untuk meningkatkan kenyamanan.

Rasional : untuk menjaga kebersihan rongga mulut sehingga terjaga

kebersihananya.

6. Sajikan makanan dengan menarik dan suhu hangat.

Rasional : untuk meningkatkan selera makan.

7. Kerusakan integritas kulit yang berhubingan dengan perubahan status cairan,

perubahan turgor, kondisi ketidakseimbangan nutrisi, penurunan sirkulasi.

Nursing Outcome Classification (NOC)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama... x 24 jam diharapkan

kerusakan integritas kulit dapat teratasi.

Kriteria hasil:

1. Suhu permukaan normal.

2. Sensasi perifer, elastisitas, status hidrasi, kelembaban, tekstur, perfusi

jaringan, pertumbuhan rambut kulit dan integritas kulit dalam kondisi baik.

3. Tidak ada pigmentasi abnormal, lesi, lesi pada membran mukosa, jaringan

parut, kanker, eritema, nekrosis, abrasio dan penebalan kulit.

4. Aliran darah pada akses hemodialisis (shunt) lancar.

5. Warna kulit sekitar akses tidak ada kemerahan (rubor).

6. Suhu disekitar akses tidak ada peningkatan (kalor).

7. Tidak ada bunyi bruit dan thrill pada akses.


18
8. Pulsasi perifer distal adekuat.

9. Tidak ada pembekuan darah (emboli) disekitar akses.

10. Tidak ada perdarahan dan hematoma.

11. Tidak ada edema dan nyeri.

Nursing Interventions Classification (NIC)

Aktivitas keperawatan:

1. Monitoring posisi kateter dialysis

Rasional: meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan

2. Monitoring kondisi akses dialisis (kemerahan, edema, demam, perdarahan,

hematoma dan penurunan sensasi rasa).

Rasional: kulit berisiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilisasi fisik, dan

gangguan status nutrisi

3. Gunakan teknik sterilisasi tinggi saat memasang kateter dialisis dan merawat

kulit sekitar.

Rasional : untuk menghindari resiko tinggi penyebab infeksi.

4. Berikan Gel pada saat memasukan kateter dialisis dan ulangi pemberian

setiap 72 jam.

Rasional : sebagai pelumas saat memasang kateter.

5. Ajari klien tentang cara perawatan akses dialisis.

Rasional : untuk mengajarkan teknik perawatan mandiri

5. Defisiensi pengetahuan yang berhubungan dengan keterbatasan kognitif,

salah interpretasi informasi, kurang pajanan, kurang dapat mengingat, tidak

familier dengan sumber informasi

Nursing Outcome Classification (NOC)

19
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama... x 24 jam diharapkan klien

mengerti tentang penyakitnya.

Kriteria hasil:

1. Mampu menjelaskan faktor penyebab penyakit dan proses penyakit.

2. Mampu menyebutkan tanda dan gejala penyakitnya.

3. Mampu mejelaskan strategi untuk mencegah komplikasi.

4. Mampu menjelaskan strategi untuk menyeimbangkan aktifitas dan istirahat.

5. Mampu menjelaskan strategi dalam mengatasi nyeri.

6. Mampu melaksanakan terapi medis dengan benar (minum obat).

7. Mampu menjelaskan efek farmakologis pengobatan dan efek samping

terapeutik.

8. Mengikuti perintah diet sesuai anjuran.

9. Mampu melakukan tindakan tindakan kegawatan dini jika terjadi serangan

penyakitnya.

10. Mampu menjelaskan strategi dalam mencegah mual muntah.

Nursing Interventions Classification (NIC)

Aktivitas keperawatan

1. Nilai tingkat pengetahuan klien mengenai proses penyakitnya.

Rasional : untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien

2. Terangkan kepada klien tentang proses terjadinya penyakit pada dirinya

dengan bahasa yang mudah dimengerti.

20
Rasional : untuk memberikan pengetahuan pada klien tentang penyakitnya.

3. Evaluasi tingkat pengetahuan klien dengan menanyakan kembali seputar

penyakitnya. Rasional : untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien

4. Sediakan informasi yang adekuat untuk akses pengetahuan klien.

Rasional : untuk penambahan informasi

5. Diskusikan dengan klien terkait dengan terapi yang akan diberikan.

Rasional : infoconsen pada klien

6. Dorong klien untuk memberikan pendapat atau keputusan pada setiap

tindakan.

Rasional : untuk memastikan kesediaan klien.

21
BAB III

TINJAUAN KASUS

FORMAT PENGKAJIAN

DATA KEPERAWATAN

BIODATA KLIEN

Nama : Tn.A

Jenis Kelamin : Laki – Laki

Umur : 58 Tahun

Status Perkawinan : Menikah

Pekerjaan : Ikut Orang Mebel

Agama : Budha

Pendidikan Terakhir : SLTA

Alamat : Bangun Reksa Blok No 39 RT 36 Batu Ampar

No.hp 0853467XXXX

Diagnosa Medis : Dyspepsia Sydrome + CKD On HD

No Register : 52.04.XX

MRS/Tgl Pengkajian : 14 Mei 2018 / 14 Mei 2018

I. Riwayat Kesehatan Klien


1. Keluhan Utama
Pasien Mengatakan Mual

22
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien Tiba di RSKD dengan keluhan Mual dan Muntah,pasien merasakan sesak
pasien masuk Ugd pukul 16.30.setelah di UGD pasien di pindahkan ke ruangan
rawan inap flamboyant B pukul 18.30 pasien masuk ke ruangan B dengan TTV TD :
200 / 100 , N : 93 T : 36,5 RR : 25. Pasien merasa lemas

3. Riwayat kesehatan dahulu


Klien mengatakan memiliki Sakit Ginjal Selama 2 tahun

4. Riwayat kesehatan keluarga


Klien mengatakan keluarga tidak ada mengidap penyakit Hipertensi dan diabetes
mellitus.

II. Pola Aktivitas Sehari - hari


A. Pola Tidur/Istirahat
1. Waktu tidur
Dirumah : klien mengatakan tidur pukul 21.00

Di rumah sakit : klien mengatakan tidur sekitar pukul 23.00

2. Waktu bangun
Dirumah : Klien mengatakan bangun jam 06.00

Di rumah sakit : Klien mengatakan bangun jam 04.00

Hal - hal yang mempermudah tidur :

Lingkungan yang nyaman

3. Hal - hal yang mempermudah bangun


Mual

4. Masalah tidur
Tidak ada

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

23
B. Pola Eliminasi
1. B.A.B
Dirumah : Pasien Mengatakan BAB 1 kali sehari

Di rumah sakit : Pasien Mengatakan BAB 1 kali sehari

Masalah BAB : Tidak ada masalah BAB

2. B.A.K
Dirumah : 2-3x sehari(warna urine kuning muda)

Di rumah sakit : 3 - 4 x sehari(warna kuning muda jumlah kurang lebih 500cc


setiap buang air kecil)

Masalah BAK : Tidak ada masalah

3. Upaya klien untuk mengatasinya : Tidak ada

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

C. Pola Makan dan Minum


1. Jumlah dan jenis makanan :
Dirumah : 3x sehari kurang lebih 1 piring( nasi , lauk ,dan sayur)

Di rumah sakit : 3x sehari makan 1 piring ( bubur lauk dan sayur buah)

2. Waktu pemberian makanan :


Dirumah :klien mengatakan makan pada pukul 06.00 12.00 18.00

Di rumah sakit :klien mengatakan makan pada pukul 06.00 12.00 18.00

3. Jumlah dan jenis cairan/minum :


Dirumah : kurang lebih 500ml/hari

Di rumah sakit : kurang lebih 500ml/hari

24
Waktu pemberian cairan :

Dirumah : Klien mengatakan minum jika haus dan makan

Di rumah sakit : Klien mengatakan minum jika haus dan makan

4. Pantangan/alergi : tidak ada alergi


5. Masalah makan dan minum :
a. Kesulitan mengunyah : Tidak ada
b. Kesulitan menelan : Tidak ada
c. Mual dan Muntah : mual (+)
d. Tak dapat makan sendiri : pasien dapat sendiri
6. Upaya klien mengatasi masalah
Tidak Ada

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah

D. Personal Hygiene
1. Pemeliharaan badan
Dirumah : Klien mengatakan mandi 2x sehari

Di rumah sakit : Klien mengatakan mandi 2x sehari

2. Pemeliharaan gigi dan mulut


Dirumah : Klien mengatakan membersihkan gigi 2x sehari

Di rumah sakit : Klien mengatakan membersihkan gigi 2x sehari

3. Pemeliharaan kuku
Dirumah : Pasien mengatakkan potong kuku jika kukunya panjang

Di rumah sakit : Pasien mengatakkan potong kuku jika kukunya panjang

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

25
III. Data Psikososial
A. Pola Komunikasi
Klien dapat menceritakan dan memberitahu keluhan dan masalah yang dihadapi (
baik dan kooperatif)

B. Orang Yang Paling Dekat Dengan Pasien


Klien mengatakan sangat dekat dengan Istri dan Anaknya

C. Rekreasi/Hobby dan Penggunaan Waktu Senggang


Menonton TV

D. Dampak Dirawat Di Rumah Sakit


Tidak ada

E. Interaksi Sosial
Pasien mengenal nama pasien yang lain

F. Keluarga yang dapat dihubungi


Kakak pasien

Masalah keperawatan : Tidak Ada Masalah

IV. Pemeriksaan Fisik


A. Kesan umum/Keadaan umum :
Ku: sedang Gcs: G4M6V5

B. Tanda - tanda vital


Suhu tubuh : 36,5°C Nadi : 93x/menit

26
Tekanan darah : 200 / 100 mmHg Pernafasan : 25x/menit

Tinggi Badan : 160 cm Berat Badan saat di rs : 59,5 kg

Berat Badan dirumah : 60 kg

IMT = TB = 160 cm = 1,60 m

BB = 44 kg

Rumus = 59,5 : (1,60x1,60)

= 59,5: 2,56

= 23,24 ( Baik )

C. Pemeriksaan kepala dan leher


a. Kepala dan Rambut
1. Bentuk kepala :oval
Tulang kepala :Tidak ada benjolan

Kulit kepala :Baik bersih

2. Rambut
Penyebaran :Merata

Warna :Hitam keputihan

Kelainan lain :Tidak ada kelainan

3. Wajah
Struktur wajah :Oval

Warna kulit : Sawo matang

Kelainan lain :Tidak ada

b. Mata
1. Kelengkapan dan Kesimetrisan : Lengkap dan simetris
2. Kelopak mata/palepebra : Kelopak mata baik /tidak ada oedema

27
3. Kornea mata : tidak ada kelainan
4. Konjungtiva dan sclera : tampak anemis / tidak ada ikterik
5. Pupil dan iris : Tidak ada kelainan normal adanya isokor
6. Ketajaman penglihatan/visus : 1 : 60
7. Tekanan bola mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
8. Kelainan lain : Tidak ada
c. Hidung
1. Cuping hidung :Tidak ada lesi
2. Lubang hidung :bersih
3. Tulang hidung dan septum nasi :simetris dan septum nasi tidak ada retak
d. Telinga
1. Bentuk telinga :Panjang namun tidak begitu lebar
Ukuran telinga :Sedang

Ketegangan telinga :Elastis

2. Lubang telinga :Bersih tidak ada serumen

3. Ketajaman pendengaran :Tidak dilakukan pemeriksaan


Test Weber :

Test Rinne : Tidak dilakukan pemeriksaan

Test Swabach :

e. Mulut dan faring


1. Keadaan bibir :kering
2. Keadaan gusi dan gigi :gusi baik gigi lengkap
3. Keadaan lidah : bersih
4. Palatum/langit - langit :tidak ada lesi
5. Orifaring : tidak ada pembengkakan
f. Leher
1. Posisi trachea : Normal pada posisinya
2. Tiroid : Tidak ada pembesaran
3. Suara : tidak ada suara tambahan

28
4. Kelenjar lympe : Tidak dilakukan pemeriksaan
5. Vena jugularis : Tidak teraba vena jugularis
6. Denyut nadi karotis : denyut nadi teraba kuat

Masalah keperawatan :Hipovolemi

D. Pemeriksaan payudara dan ketiak


a. Ukuran dan bentuk payudara : Tidak dilakukan pemeriksaan
b. Warna payudara dan aerola :Tidak dilakukan pemeriksaan
c. Kelainan - kelainan lain :Tidak ada kelainan
d. Axilla dan clavikula :Tidak dilakukan pemeriksaan

Masalah keperawatan :Tidak ada masalah Keperawatan

E. Pemeriksaan thorak/dada/tulang punggung


1. Pemeriksaan paru - paru
a. Inspeksi Thorak
1. Bentuk Thorak :Normal tidak ada kelainan
2. Penggunaan otot bantu pernafasan : ada penggunaan otot pernafasan
b. Palpasi
Vokal premitus :Tidak ada kelainan ,getaran kanan kiri sama

c. Perkusi : sonor
d. Auskultasi
1. Suara nafas :suara nafas vesikuler semua lapang dada
2. Suara ucapan :suara ucapan jelas
3. Suara nafas tambahan : Tidak ada suara nafas tambahan
2. Pemeriksaan jantung :
a. Inspeksi dan palpasi :
Ictus cordis tidak bergeser dan tidak tampak adanya pembesaran jantung

b. Perkusi batas jantung :

29
 Basic jantung :nada perkusi sonor
 Pinggang jantung :nada perkusi dari sonor menjadi sonor memendek
 Apeks jantung :nada perkusi dari sonor menjadi sonor memendek
c. Auskultasi
- Bunyi jantung I :S1 Normal tunggal Lup

- Bunyi jantung II :S2 Normal tunggal Dup

- Bunyi jantung tambahan :Tidak ada bunyi jantung tambahan

- Bising/murmur : tidak ada

- Frekuensi denyut jantung :93 x/menit

Masalah keperawatan :Pola Nafas Tidakefektif

F. Pemeriksaan abdomen
1. Inspeksi
- Bentuk abdomen :Normal

- Benjolan/masa :Tidak ada masa atau benjolan

- Bayangan pembuluh darah :Normal

2. Auskultasi
- Bising/peristaltik usus :Normal 5x/menit

3. Palpasi
- Nyeri tekan :Tidak ada Nyeri tekan

- benjolan/masa : Tidak ada benjolan / masa

- Hepar :Tidak ada teraba

- Lien :Tidak ada teraba

Titik Mc. Berney :Tidak ada nyeri tekan

4. Perkusi

30
- Suara abdomen :Suara perkusi tympani

- Pemeriksaan asites :Tidak ada asites

Masalah keperawatan : Tidak Ada masalah Keperawatan

G. Pemeriksaan kelamin dan sekitarnya


1. Genetalia
- Pubis :

- Meatus uretra : Tidak dilakukan pemeriksaan

- Kelainan lain :

2. Anus
- Lubang anus :

- Kelainan pada anus : Tidak dilakukan pemeriksaan

- Perineum :

Masalah keperawatan :Tidak Ada Masalah

H. Pemeriksaan Muskuloskeletal (ekstermitas)


1. Kesimetrisan otot :Simetris
2. Pemeriksaan oedema :Tidak ada Oedema

5 5

31
3. Kekakuan otot : 5 5

4. Kelainan pada punggung dan ekstremitas dan kuku :


Tidak ada kelainan pada punggung dan ekstermitas di kuku

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah Keperawatan

I. Pemeriksaan Integumen
1. Kebersihan :Bersih
2. Kehangatan : Akral Dingin
3. Warna :Pucat
4. Turgor : ± 3Menit
5. Tekstur :Halus
6. Kelembaban : Kering
7. Kelainan pada kulit/lesi :Tidak ada kelainan

Masalah keperawatan :Perfusi Perifer Tidak Efektif

J. Pemeriksaan Neurologis
1. Tingkat kesadaran :Composmetis

32
2. Tanda rangsangan otak (meningeal sign)
Baik nilai GCS(E4V6M5)

3. Pemeriksaan saraf otak (NI - XII)


N1-Olfaktorius :Klien dapat memejamkan mata dan dapat membedakan bau

N2-Optikus: Klien dapat melihat dengan jelas

N3-Okulomotoris: Adanya reflek pupil dapat menggerakan bola mata

N4-Trochelaris: Dapat menggerakan mata kebawah dan kedalam

N5-Trigeminus: Klien dapat mengunyah dan menggerakan rahang

N6-Abdosen: Adanya reflek pupil gerakan bola mata

N7-Facialis: Bisa senyum dan menutup bola mata dengan tahanan

N8-Vestibulococlearis: Klien dapat mendengar dengan baik\

N9-Glosofarigeus: Klien dapat membedakan rasa manis dan asam

N10-Vagus: Klien dapat menelan ludah

N11-Acessoris: Klien dapat menggerakan bahu

N12-Hypoglosus: Klien dapat menjulurkan lidah

4. Fungsi motorik
Baik

5. Fungsi sensorik
Penglihatan Pendengaran Penciuman Pengecapan Perabaan baik

6. Reflek
a. Reflek fisiologis : normal
b. Reflek patofisiologis : tidak ada kelainan reflek patofisiologis

V. Pemeriksaan Status Mental


1. Kondisi emosi/perasaan
33
Klien cukup kooperatif menceritakan keadaan sekitarnya

2. Orientasi
Orientasi waktu dan tempat sangat baik

3. Proses pikir (ingatan, atensi, keputusan, perhitungan)


Pasien dapat mengigat masa lalu,pasien ingin cepat Sembuh dan pulang

4. Motivasi
Inging Cepat Sembuh

5. Persepsi
Perpsi klien Ingin pulang dari rumah sakit

6. Bahasa (pola komunikasi)


Bahasa Indonesia

Masalah keperawatan :Tidak ada Masalah

VI. Pemeriksaan Penunjang


Diagnosa Medis :Dy spepsia Sydrome + CKD on HD

1. Laboratorium (tanggal) :14 mei 2018


Hemoglobin : 8,6 RDW – CW :16,1 Kalium : 5.0

Leukosit : 7.34 Basofil : 0,3 GDS : 149

Eritrosit :3,0 Easofil : 0,1

Hematokrit :25,4 Neutrofil : 87,6

Trombosit : 162 Limfosit : 10,1

MCV : 84,7 Monosit : 1,9

MCH : 28,7 Kalsium : 1,07

MCHC : 33.9 Natrium : 133

2. Rontgen (tanggal) :-
34
3. EGC (tanggal) :(-)
4. USG (tanggal) :(-)
5. Lain - lain : EKG QT Prolongation, Left Atrial Enlogement
High Voltage ( Left Vetryete ) Clockwise Retatio

VII.Penatalaksanaan Terapi
1. Transfusi PRC 200ml durate HD = Pasien Anemia
2. Adlatoros 1 x 30 mg = Obat Hipertensi
3. Candesaftan 1 x 16 mg = Menurunkan tekanan darah
4. Omeprazole Inj 1 x 40 IV = Menurunkan kadar asam lambung
5. Ondancentron Inj 3 x 4 mg IV = Jika Muntah
6. Sucralfat sirup 3 x CI = Mengobati Tukak pada usus halus
7. Hemopo 3000 unite , durate HD = Obat Anemia Untuk CKD

35
VII. Data Fokus

1. Data subjektif
a) Pasien mengatakan lemas
b) Pasien mengatakan Sesak
c) Pasien mengatakan Mual dan muntah

2. Data Objektif
a) klien tampak lemas
b) kesadaran CM
c) Akral dingin
d) Turgor Kulit Menurun
e) TD : 200 / 100
f) N : 93
g) S : 36,5
h) RR : 25
i) HB : 8,6
j) Pasien tampak sesak
k) Tampak otot bantu nafas
l) Terpasang nasal kanula 3 Lpm
m) Pasien tampak Mual dan muntah
n) Membran Mukosa kering

Balikpapan,14 Mei 2018

Mahasiswa

36
ANALISA DATA
Nama Pasien : Tn. A Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 58 tahun Ruangan : Flamboyan B

No. Data (DO & DS) Masalah Penyebab


1. DS : Perfusi Perifer Tidak Perlemahan aliran
Pasien Mengatakkan Lemas Efektif darah ke seluruh tubuh
DO :
1. Pasien Tampak Lemas
2. Kesadaran CM
3. Akral Dingin
4. Turgor Kulit Menurun
5. TTV
a. TD : 200 / 100
b. Suhu : 36,5
c. Nadi : 93
d. RR : 25

2. DS :
1. Ibu pasien mengatakan Pola nafas tidak efektif Depresi pusat nafas
dia sesak
DO :
1. Pasien Tampak sesak
2. Tampak otot bantu nafas
3. Terpasang nasal kanula
3 lpm
4. TTV
a. TD : 200 / 100
b. Suhu : 36,5
c. Nadi : 93
d. RR : 25

37
3. DS: Hipetermi Mual dan muntah
1. pasien mengatakan
mual dan muntah

DO:
1. Pasien tampak muntah
dan mual
2. Turgor kulit munurun
3. Pasien tampak
membrane mukosa
kering
4. TTV
a. TD : 200 / 100
b. Suhu : 36,5
c. Nadi : 93
d. RR : 25

38
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tanggal ditemukan Tanggal Teratasi
1. Perfusi perifer tidak efektif 14 Mei 2018 15 Mei 2018

2 14 Mei 2018 15 Mei 2018


Pola nafas tidak efektif

3. Hipovolemia 14 Mei 2018 15 Mei 2018

39
PERENCANAAN
Nama Pasien : An.A Jenis Kelamin : Laki - Laki

Umur : 2,5 Tahun Ruangan : Flamboyan C

40
No. Har/Tgl/Jam Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasionalisasi
Keperawatan
1. Senin, 14 Perfusi Perifer Tujuan : Setelah dilakukan 1.1 memonitor
Mei 2018 tidak efektif tindakan keperawatan adanya daerah
selama tertentu yang
2 x 24 jam diharapkan
hanya
sirkulasi darah kembali
normal dan hilang dengan 1.2 memonitor
kriteria hasil : adanya paretese
1. Tekanan systole dan 1.3 gunakan sarung
diastole dalam rentang tangan untuk
yang di harapkan proteksi
1. TD : 130 – 150 , 80 1.4 menitor
-90 kemampuan BAB
2. Nadi : 70 – 80 1.5 kolaborasi
3. Suhu 36,5 – Analgetik
37 ,5
4. Respirasi : 16 – 20
5. Dapat
berkomunikasi
dengan jells

2. Senin, 14 Pola nafas tidak Tujuan : Setelah dilakukan


2.1 Kaji frekuensi /
Mei 2018 efektif tindakan keperawatan 2
x24 jam pasien diharapkan kedalaman pernapasan
Nafas kembali kembali dan gerakan dada
normal dengan kriteria 2.2 Monitor respirasi
hasil : dan status O2
1. Menunjukkn jalan 2.3 Beri posisi yang
nafas yang paten nyaman untuk
2. Tanda – tanda vital
memaksimalkan
dalam rentang
normal ventilasi
 TD : 130 – 150 , 2.4 Ajarkan pada
80 -90 keluarga tentang
 Nadi : 70 – 80 tindakan yang
 Suhu 36,5 – mempermudah upaya
37,5 pernafasan
 Respirasi : 16 – 1.5 Kolaborasi dalam
20 pemberian terapi yang
tepat
3. Senin, 14 Hipovolemia Tujuan : setelah dilakukan 3.1 Memonitor status
juli 2018 tindakan keperawatan dehidrasi
selama 2x24 jam
diharapkan kebutuhan 3.2 Memonitor
cairan terpenuhi tanda – tanda Vital
Kriteria Hasil:
1. Tidak ada tanda
3.3 monitor nutrisi
dehidrasi
2. Elastisitas tugor
3.4 Dorong masukan
kulit baik
oral
3. Membran mukosa
lembab
3.5 Kolaborasi dng
dokter

PELAKSANAAN TINDAKAN
51
Nama Pasien : An. A Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 2,5 bulan Ruangan : Flamboyan C

No Hari/Tgl/Jam Tindakan Keperawatan Evaluasi Paraf


1. Senin 3.2 memonitor tanda – DS: klien mengatakan
14 Mei 2018 tanda Vital anaknya bersedia
18.30 DO:
TTV :
 TD :200 / 100
 N : 93 x/menit
 S : 36,50C
 R : 25 x/menit

2 18.40 1.1 memonitor adanya


DS :
daerah tertentu yang
pasien mengatakan
hanya peka
bersedia

DO:
 Pasien tampak
peka seluruh
tubuh
3 18.50 1.2 memonitor adanya
paretese DS:
 Pasien
mengatakan
bersedia
DO
 Pasien tampak
tidak ada
paretese

4 18.55 1.4 memotor DS:


kemampuan BAB  Pasien
mengatakan
dapat BAB 1
kali sehari
DO
52
 Pasien tampak
baik

19.00 2.1 Auskultasi suara DS:


5
nafas,catat adanya suara  Pasien
tambah mengatakan
bersedia
DO
 Pasien tampak
tidak ada suara
tambahan
 Pasien tampak
sesak
 RR : 25

19.30 2.3 Memonitor Aliran


DS:
Oksigen
 Pasien
mengatakan
bersedia
DO
 Pasien tampak
aliran oksigen
lancar
 Pasien lancar
 RR : 25

14 mei 2018 2.4 pertahankan posisi DS:


pasien  Pasien
19.40
mengatakan
bersedia
DO
 Pasien tampak
53
posisi semi
fowler

19.50 3.1 memonitor status DS:


dehidrasi  Pasien
mengatakan
bersedia
DO
 Pasien tampak
lemas
 Mukosa bibir
kering
 Turgor kulit
menurun

20.00 3.3 Memonitor Nutrisi


DS:
 Pasien
mengatakan
makan 3 x 1
sehari
DO
 Pasien tampak
makan 3 x 1
sehari

EVALUASI
(CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN)
Nama Pasien : An.a

Umur : 2,5 Tahun

Jenis Kelamin :Laki - laki

Ruangan : Flamboyan C

54
NO Hari/Tgl DX.Kep Evaluasi (SOAP)

1. Senin,07 Perfusi perifer tidak S : 1.ibu pasien mengatakkan lemas


Mei 2018 efektif
O:
1. Pasien tampak lemas
2. Kesadaran CM
3. Akral dingin
4. Turgor kulit menurun
5. HB 8,6

A : masalah sebagia teratasi

P : Lanjutkan intervensi

2. Senin,14 Pola nafas tidak efektif S:


Mei 2018
1. pasien mengatakan sesak
O:
1. Pasien tampak sesak
2. Pasien terpasang nasal kanula
3. Tampak menggunakan otot bantu
nafas

A : masalah sebagian teratasi

P : Lanjutkan intervensi

3. Senin,14 Hipovolemi S:
Mei 2018
3. Pasien menggatakan mual dan

55
muntah

O:

1. Pasien tampak mual dan muntah


2. Mukosa bibir pasien tampak kering
3. Pasien tampk lemas

A : masalah hipovolemi sabagian teratasi

P : Lanjutkan intervensi

1. Senin,07 Perfusi perifer tidak S : 1.pasien mengatakkan lemas berkurang


Mei 2018 efektif

O:

1. Pasien tampak lemas


2. Kesadaran CM
3. Akral dingin
4. Turgor kulit menurun
HB 8,6

56
A : masalah sebagia teratasi

P : intervensi dihentikan pasien KRS

2. Senin,14 Pola nafas tidak efektif S:


Mei 2018
1. pasien mengatakan sesak
O:

1. Pasien tidak tampak sesak


2. Tidak Tampak menggunakan otot bantu
nafas
3. RR 20 x / menit

A : masalah teratasi

P : intervensi di henikan

3. Senin,14 Hipovolemi S:
Mei 2018
Pasien menggatakan masih mual dan tidak
muntah

O:

1. Pasien tampak masihmual dan tidak


muntah
2. Pasien tampk lemas berkurang

A : masalah abagian teratasi

P : intervensi di hentikah pasien KRS

57
58
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Dalam bab ini penulis membahas tentang keterkaitan dan kesenjangan antara landasan

teori dengan pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan Dyspepsia Sydrome + CKD

On HD di ruang Flamboyan B Rumah Sakit Umum Daerah dr. Kanudjoso Djatiwibowo

Balikpapan.

Menurut Capernito & Mayet (2007) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah “Suatu

pernyataan klinik yang disampaikan individu, keluarga, atau masyarakat yang dapat

menggambarkan tentang masalah kesehatan baik secara actual maupun potensial sehingga dapat

menjadi dasar untuk penentuan intervensi yang tepat dalam mencapai tujuan yang telah

ditetapkan seorang perawat”.

Pada teori diagnosa keperawatan menurut Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2016. Asuhan

Keperawatan Praktis Berdasarkan Diagnosa Nanda NIC NOC Edisi Revisi Jilid II. Yogyakarta:

Medi Action Publishing, ditemukan 9 diagnosa keperawatan yaitu Kelebihan volume cairan

berhubungan dengan penurunan haluaran urin, retensi cairan dan natrium, Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan penurunan haemoglobin, keletihan, kelemahan fisik,Nyeri berhubungan

dengan peningkatan kontraksi uretra, Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan

hemoglobin, Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan,Defisiensi pengetahuan

berhubungan dengan kurang pajanan,Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan retensi

CO2, Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring dalam jangka

waktu yang lama, edema, dan penurunan perfusi jaringan,Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna


59
nutrisi oleh karenafaktor biologis, psikologis, ekonomi,Pada aplikasi di dapatkan 3 diagnosa

yaitu Perfusi perifer tidak efektif,pola nafas tidak efektif dan hipovolemi.

Adapun diagnosa yang muncul pada pasien An. A adalah sebagai berikut:

4. Diagnosa I

Perfusi perifer tidak efektif ditemukan pada tinjauan kasus, didalam teori juga ditemukan

diagnosa tersebut. Hasil pengkajian sesuai dengan teori ditemukan data pasien mengatakan

lemas,Pasien Tampak Lemas, Kesadaran CM, Akral Dingin, Turgor Kulit Menurun,TTV

TD : 200 / 100, Suhu : 36,5, Nadi : 93, RR : 25

Pada saat evaluasi 8 jam pertama perawatan, data pasien mengatakan lemas,Pasien

Tampak Lemas, Kesadaran CM, Akral Dingin, Turgor Kulit Menurun,TTV TD : 200 / 100,

Suhu : 36,5, Nadi : 93, RR : 25 HB 86 Berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan pada

perencanaan masalah pasien teratasi sebagian karena pasien masil lemas

Pada evaluasi 8 jam kedua perawatan, data pasien mengatakan lemas berkurang ,Pasien

Tidak Tampak Lemas, Kesadaran CM, Akral Hangat , Berdasarkan kriteria hasil yang

ditetapkan pada perencanaan masalah pasiendi hentikan karena pasien KRS

5. Diagnosa II

Pola nafas tidak efektif ditemukan pada tinjauan kasus, didalam teori tidak ditemukan

diagnosa tersebut terjadi kesenjangan antara teori dan kasus. Hasil pengkajian sesuai dengan

teori ditemukan data pasien bahwa pasien mengatakan anaknya sesak,. Pasien tampak sesak,

, menggunakan otot bantu pernapasan,Terpasang nasal kanula 3lpm, TTV TD : 200 / 100,

Suhu : 36,5, Nadi : 93, RR : 25 .

60
Pada saat evaluasi 8 jam pertama perawatan, pasien mengatakan anaknya sesak,. Pasien

tampak sesak, , menggunakan otot bantu pernapasan,Terpasang nasal kanula 3lpm, TTV TD

: 200 / 100, Suhu : 36,5, Nadi : 93, RR : 25

Pada evaluasi 8 jam kedua perawatan. , pasien mengatakan tidak sesak,. Pasien tidak

tampak sesak, , tidak menggunakan otot bantu pernapasan, RR : 20 Berdasarkan kriteria

hasil yang ditetapkan pada perencanaan di hentikan masalah teratasi.

6. Diagnosa III

Hipovolemi berhubungan dengan mual dan muntah terdapat didalam teori, Hasil

pengkajian ditemukan data pasien pasien mengatakan mual dan muntah, Pasien tampak

muntah dan mual,Turgor kulit munurun, Pasien tampak membrane mukosa kering

Pada evaluasi perawatan hari pertama data pasien pasien mengatakan mual dan muntah,

Pasien tampak muntah dan mual,Turgor kulit munurun, Pasien tampak membrane mukosa

kering

Pada evaluasi perawatan hari kedua orangtua klien mengatakan masih mual dan tidak

muntah, Pasien tampak mual dan tidak muntah,pasien lemas berkurang Berdasarkan kriteria

hasil yang ditetapkan pada perencanaan di hentikan pasien KRS

61
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kasus kelolaan individu pada pasien Tn. A dengan dengan Dyspepsia Sydrome +

CKD On HD , penulis dapat melakukan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian dan

ditemukannya data-data yang dapat mendukung untuk menegakkan 3 diagnosa yaitu

perfusi perifer tidak efektif,pola nafas tidak efektif, ,dan hipovolemi. Penulis dapat

membuat perencanaan sesuai kebutuhan untuk mengatasi masalah pada Tn. A dan

melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan dan SOP serta penulis dapat

mengevaluasi untuk mengetahui perkembangan dan respon dari rencana asuhan

keperawatan yang telah dibuat dengan hasil perfusi perifer tidak efektif , pola nafas tidak

efektif teratasi, dan hipovolemi sebagian teratasi

B. Saran
berolahraga, cukup istirahat, menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang,

menjaga kebersihan agar mencegah timbulnya Dyspepsia Sydrome + CKD On HD .

Penyakit Dyspepsia Sydrome + CKD On HD juga akan lebih mudah dialami oleh

seseorang yang memiliki imun tubuh lemah ataupun memiliki imun tubuh.

62
DAFTAR PUSTAKA

As’adi, Muhammad, 2007, Serba serbi gagal ginjal. Jakarta : PT Gramedia

Depkes RI. 2007. Data Prevalensi Penyakit CKD.

Dinkes Jateng. 2008. Data Prevalensi Penyakit CKD.

Huda, Amin & kusuma Hardi 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan

Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc, Yogyakarta, Mediacton Jogja

Ledak, Adrianus. 2015. Gagal Ginjal Kronik. (online).

(https://www.academia.edu/6150034/Gagal_Ginjal_Kronik). Diakses tanggal 30 juni 2016.

Mubarak & Chayaning, 2008, Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta :EGC

Wilkinson M, Judith, dan Ahern R, Nancy. 2009. Buku saku diagnosa keperawatan.

(Edisi 9). Jakarta : EGC.

http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-pada-gagal-ginjal-

kronik.html dilihat tanggal 14 July 2018.

63

Anda mungkin juga menyukai