Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500
gram atau kurang dari 20 minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus
spontan. Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan.
Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Frekuensi abortus
sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan.

Insidensi abortus sulit ditentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat mengalami
abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil, tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya
dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang). Terlebih lagi insidensi abortus
kriminalis, sangat sulit ditentukan karena biasanya tidak dilaporkan. Angka kejadian abortus
dilaporkan oleh rumah sakit sebagai rasio dari jumlah abortus terhadap jumlah kelahiran
hidup.

Sulit untuk mendapatkan data tentang abortus di Indonesia. Paling sedikit ada dua
sebabnya. Yang pertama, abortus dilakukan secara sembunyi. Yang kedua, bila timbul
komplikasi hanya dilaporkan komplikasinya saja, tidak abortusnya. Budi Utomo dkk
memperhitungkan angka abortus spontan menurut WHO (15-20 per 100 kehamilan),
menyimpulkan bahwa kira-kira separuh dari abortus tersebut adalah provokatus. Knight
menyatakan bahwa abortus provokatus terjadi pada kira-kira 40% dari seluruh abortus, meskipun
angka tersebut sebenarnya bervariasi.Di perkotaan abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-
28% oleh bidan/ perawat, 19-25% oleh dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di
pedesaan abortus dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-26% oleh bidan/perawat, 31-47% oleh
dukun dan 17-22% dilakukan sendiri.

Abortus kriminalis adalah tindakan pengguguran yang sengaja dilakukan untuk


kepentingan si pelaku, orang hamil dan yang membantu tanpa adanya indikasi terapeutik. Secara
hukum tindakan ini melanggar ketentuan yang berlaku. Abortus kriminal dapat dilakukan oleh
wanita itu sendiri atau dengan bantuan orang lain (dokter, bidan, perawat, dukun beranak dan
lain-lain). Terdapat berbagai metode yang sering dipergunakan dalam abortus provokatus
kriminalis yang perlu diketahui.

Berdasarkan survey cara abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah
berturut-turut: kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas prostaglandin / suntikan (4%).
Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional
(33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 15-50% kematian ibu disebabkan oleh
abortus. Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian.
Kematian dapat berlangsung dengan cepat, hal mana disebabkan oleh karena terjadinya syok
vagal (kematian secara refleks akibat perangsangan pada daerah rahim dan genitalia pada
umumnya), pendarahan hebat dan terjadinya emboli udara (udara masuk ke dalam pembuluh
balik dari luka-luka pada daerah rahim menuju jantung dan menyumbat pembuluh nadi paru-
paru).

Pemeriksaan forensik pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah
mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan usaha penghentian kehamilan, pemeriksaan
toksikologi, pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik, terhadap jaringan dan janin yang mati
serta menentukan cara pengguguran yang dilakukan serta sudah berapa lama melahirkan.
Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta
interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang
trampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih, maka
komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-tanda
abortus kriminal.

Abortus atas indikasi medik diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 75,76, dan 77. Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang
berkaitan dengan aborsi provokatus kriminalis yaitu pasal 299, 346,347,348, 349 KUHP.
Seseorang yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau mematikan
kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal pada KUHP (aborsi
kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi keselamatan ibu yang dapat
dipertanggungjwabkan secara medis (aborsi medicinalis atau aborsi therapeuticus), tidaklah
dapat dihukum walaupun pada kenyataan dokter dapat melakukan aborsi medicinalis, itu
diperiksa oleh penyidik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan di pengadilan.

Ekshumasi berasal dari bahasa Latin yaitu Ex yang berarti keluar dan Humus yang berarti
tanah. Ekshumasi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan atas dasar undang-undang dalam
rangka pembuktian suatu tindakan pidana dengan menggali kembali jenazah yang sudah
dikuburkan dan berdasarkan izin dari keluarga korban.

Sebab kematian tidak dapat ditentukan hanya dari pemeriksaan luar saja. Sehingga perlu
dilakukan autopsi atau bedah mayat untuk mengetahui penyebab kematian seseorang dimana
sebelumnya pihak penyidik wajib memberitahukan kepada pihak keluarga korban bahwa
prosedur itu harus dilakukan untuk kepentingan peradilan. Mengenai hal ini diatur dalam
KUHAP pasal 134 ayat ( 1 ), KUHAP pasal 134 ayat ( 2 ). Jika jenazah yang akan diautopsi
telah dikuburkan maka perlu dilakukan ekshumasi atau penggalian kubur. Tentang ekshumasi
atau penggalian kubur ini diatur dalam KUHAP pasal 135, KUHAP pasal 136.

Pada kasus praktik aborsi yang terjadi magelang,,Ekshumasi dilakukan karena tertangkapnya
tersangka pelaku aborsi dan untuk mengumpulkan bukti-bukti tindakan aborsi tersebut. Dalam
hal ini, ekshumasi dilakukan untuk menentukan berapa banyak janin yang telah diaborsi oleh
tersangka, akan tetapi ekshumasi ini tidak dapat mengidentifikasi dan menentukan siapa saja
yang telah melakukan aborsi. Beberapa hal yang ditemukan selama ekshumasi pada kasus ini
cukup bervariasi. polisi berhasil menemukan 20 kantong janin yang dikubur di halaman belakang
rumahnya, tetapi belum bisa memastikan berapa jumlah bayi yang dikubur. Benda benda yang
ditemukan berupa tulang belulang mulai batok kepala, tulang tangan, tulang kaki, dan ada yang
sudah hancur, ada pula yang masih utuh.