Anda di halaman 1dari 48

REFERAT

PSIKOFARMAKA

PEMBIMBING :
dr. Witri Antariksa SpKJ

DISUSUN OLEH :
Rizkya Farhan Katresna Amin
1102014233

Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
Periode 02 Juli 2018 – 04 Agustus 2018
I.ANTIDEPRESAN

Depresi merupakan gangguan psikiatri yang banyak ditemukan, terjadi


pada sekitar 14 juta orang dewasa di Amerika Serikat setiap tahunnya. Prevalensi
depresi di Amerika Serikat diperkirakan sebesar 16 % pada orang dewasa (21%
wanita, 13% pria), atau lebih dari 32 juta orang. Gejala utama depresi yaitu afek
depresif, kehilangan minat dan kegembiraan serta berkurangnya energi yang
menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas. Sedangkan
Gejala lainnya berupa konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan
kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, dan
pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan terganggu.
Ppdgj. Gejala-gejala depresi adalah perasaan kesedihan yang berlebihan, putus asa,
dan keputusasaan, serta ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas seperti biasa,
perubahan pola tidur dan nafsu makan, kehilangan energi, dan pikiran untuk bunuh
diri.
Obat Anti depresi adalah kelompok obat-obat yang heterogen dengan efek
utama dan terpenting adalah untuk mengendalikan gejala depresi. Hipotesis
terjadinya gejala depresi disebabkan oleh rendahnya kadar neurotransmiter
serotonin dineuron pasca sinaps. Etiologi depresi dari segi organobiologik
disebabkan oleh defisiensi kadar Amin Biogenik tubuh, yaitu Norepinephrin,
dopamine dan Serotonin pada celah sinaps neuron di SSP (sistem limbik) sehingga
aktivitas reseptor serotonin menurun. Mekanisme kerja obat anti-depresi klasik
adalah menghambat “reuptake- aminergic neurotransmitter” dan menghambat
penghancuran oleh enzim aminergic neurotransmitter atau dengan kata lain,
mencegah transportasi serotonin, norepinephrine dan dopamine. Dengan begitu,
aktivitas reseptor serotonin akan meningkat.
Golongan obat anti-depresan terdiri atas :
1. Trisiklik Antidepressants (TCA)  Amitriptiline, Clomipramine, Tianeptine
2. Tetracyclik Antidepressants  Maprotiline, Mianserin
3. MAO-I (Monoamine Oxidase Inhibitor)  Moclobemide
4. Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor  Sertraline, Fluoxentine, Citalopram
5. SNRI (Seritonin Norepineprin Reuptake Inhiibitor)  Venlafaxine,
Desvenlafaxine,Duloxetine
6. Melatonergik agonist (MT1&MT2 Reseptor) dan 5-HT2C antagonist 
Agomelatine
7. Anti Depresi “ATYPICAL”  Tradozone, Mirtazapine

Secara umum anti depresan bekerja di sistem neurotransmiter serotonin dengan


cara meningkatkan jumlah serotonin di neuron pasca sinaps. Golongan trisiklik dan
tetrasiklik bersifat serotogenik dengan menghambat ambilan kembali
neurotransmiter yang telah dilepaskan dari neuron prasinaps ke celah sinaps, dan
ambilan tersebut bersifat tidak selektif. SSRI bekerja dengan cara yang sama tetapi
dengan hambatan yang bersifat selektif hanya pada neurotransmiter serotonin
(5HT2). Kelompok MAOI bekerja di presinaps dengan cara menghambat enzim
monoaminase yang memecah atau memetabolisme serotonin sehingga jumlah
serotonin yang dilepaskan ke celah sinaps bertambah dan dengan demikian yang
diteruskan ke celah pasca sinaps juga akan bertambah. Kelompok SNRI selain
bekerja dengan menghambat ambilan kembali serotonin juga menghambat ambilan
kembali neurotransmiter norepineprin, sehingga kadar serotonin dan norepineprin
pasca sinap meningkat.
Untuk penggunaan pada sindrom depresi ringan dan sedang yang datang berobat
jalan pada fasilitas pelayanan kesehatan umum, pemilihan obat anti depresi
sebaiknya mengikuti urutan (step care) :
1. Step 1 = Golongan SSRI
2. Step 2 = Golongan Trisiklik
3. Step 3 = Golongan Tetrasiklik, Atypical, dan atau MAO-I
Pertama-tama menggunakan golongan SSRI yang efek sampingnya sangat
minimal, spektrum anti depresi luas, dan gejala putus obat sangat minimal. Bila
telah diberikan dosis yang adekuat dengan waktu sekitar 3 bulan tidak efektif dapat
beralih ke pilihan yang kedua yaitu golongan trisiklik, spektrum andi depresinya
juga luas, tetapi efek sampingnya relatif lebih berat. Jika pilihan kedua belum
berhasil dapat beralih ke spektrum anti depresinya yang lebih sempit dan efek
samping lebih ringan dibanding trisiklik, ynag teringan adalah golongan MAOI
reversible.
Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :
1. Onset efek primer : sekitar 2-4 minggu
2. Onset efek sekunder : sekitar 12-24 jam
3. Waktu paruh : 12-48 jam (pemberian 1-2x/hari)

Terdapat 5 proses dalam pengaturan dosis :


1. Initiating dosage (test dose) : untuk mencapai dosis anjuran selama 1
minggu, misalnya Amitriptilin 25 mg/hari = hari 1 dan 2, 50mg/hari = hari
3 dan 4, 100mg/hari = hari 5 dan 6.
2. Titrating dosage (Optimal dose) : mulai dosis anjuran sampai mencapai
dosis efektif (dosis optimal). mulai dari hari ke 7, dosis awal ditingkatkan
hingga hari ke 14 (mencapai dosis efektif)
3. Stabilizing dosage (stabilization dose) : dosis optimal yang dipertahankan
selama 2-3 bulan.
4. Maintaining dosage (maintenance dose) : selama 3-6 bulan, memberikan
dosis sebesar ½ dosis optimal.
5. Tapering dosage (tapering dose) : menurunkan dosis optimal setiap minggu
selama satu bulan.

Dengan demikian obat anti depresi dapat diberhentikan total. Jika


kemudian sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan
seterusnya.

A. TRICYCLIC ANTIDEPRESSANTS

 Mekanisme Kerja :
Menghambat ambilan kembali (Reuptake) serotonin dan norepinephrin
neurotransmitter di otak, sehingga kadar norepinefrin dan serotonin meningkat.
TCA juga menghambat reseptor serotonik, adrrenergik, histamin dan muskarinik.
TCA meningkatkan pikiran, memperbaiki kewaspadaan mental, meningkatkan
aktivitas fisik dan mengurangi angka kesakitan depresi utama sampai 50-70%
pasien.
 Macam-macam obat :
AMITRIPTILIN (Amitriptyline, Trilin)
- Dosis lazim : 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis maksimum
150- 300 mg/ hari.
- Kontra Indikasi : penderita koma, diskrasia darah, gangguan depresif
sumsum tulang, kerusakan hati, penggunaan bersama dengan MAO.
- Interaksi Obat : bersama guanetidin meniadakan efek antihipertensi,
bersama depresan SSP seperti alkohol, barbiturate, hipnotik atau analgetik
opiate mempotensiasi efek gangguan depresif SSP termasuk gangguan
depresif saluran napas, bersama reserpin meniadakan efek antihipertensi.
- Perhatian : ganguan kardiovaskular, kanker payudara, fungsi ginjal
menurun, glakuoma, kecenderungan untuk bunuh diri, kehamilan, menyusui
dan epilepsi.
IMIPRAMIN (Tofranil)
- Dosis Anjuran : 25- 50 mg/hari. Depresi sehari 1-6 tablet, enuresis nokturna
sehari 1-2 tablet, ½ -1 jam sebelum tidur untuk 5 tahun keatas.
- Indikasi : Depresi disebebkan berbagai sebab dan simptomatologi, enuresis
nokturna.
- Kontra Indikasi : Infark miokard akut
- Interaksi Obat : anti hipertensi, obat simpatomimetik, alkohol, obat penekan
SSP
- Perhatian : kombinasi dengan MAO, gangguan kardiovaskular, hipotensi,
gangguan untuk mengemudi, ibu hamil dan menyusui
KLOMIPRAMIN (Anafranil)
- Dosis lazim : 10 mg dapat ditingkatkan sampai dengan maksimum dosis 250
mg sehari.
- Kontra Indikasi : Infark miokard, pemberian bersamaan dengan MAO,
gagal jantung,kerusakan hati yang berat, glaukoma sudut sempit.
- Interaksi Obat : dapat menurunkan efek antihipertensi penghambat neuro
adrenergik, dapat meningkatkan efek kardiovaskular dari noradrenalin atau
adrenalin, meningkatkan aktivitas dari obat penekan SSP, alkohol.
- Perhatian : terapi bersama dengan preparat tiroid, konstipasi kronik,
kombinasi dengan beberapa obat antihipertensi, simpatomimetik, penekan
SSP, anti kolinergik, penghambat reseptor serotonin selektif, antikoagulan,
simetidin. Monitoring hitung darah dan fungsi hati, gangguan untuk
mengemudi.
TIANEPTIN (Stablon)
- Dosis lazim : 12,5 mg
- Indikasi obat : Episode depresi mayor
- Kontra indikasi : Anak 15 tahun, bersama dengan MAOI, harus ada jarak 2
minggu. Antara penghentian MAOI dengan mulai terapi tianeptin,
diperlukan penghentian 24 jam bila akan diganti dengan terapi MAOI.
 Cara menggunakan obat :
D.
D. Awal D. Max
No Nama Pemeliharaan Sediaan Obat
(/d) (/d)
(/d)

1 Amitriptiline 75 mg 50 mg 200 mg Tab. 25 mg

Tab. 10, 25, 50 mg


2 Imipramine 75 mg 200-250 mg 200 mg
Caps. 75, 100 mg

Imipramine :
Dimulai dari 75 – 100 mg/hari dalam 2 hari pertama  hari ke-3 menjadi 50
mg/hari  tingkatkan setiap hari hingga mencapai dosis total harian 200-250
mg/hari.
Efek mulai timbul setelah 2-3 minggu. Dosis tersebut dipertahankan beberapa
minggu  perlahan diturunkan hingga 50-100 mg/hari selama 2-6 bulan atau
lebih
 Efek Samping
- Efek antimuskarinik: Penghambatan reseptor asetilkolin menyebabkan
penglihatan kabur, xerostomi (mulut kering), retensi urine, konstipasi dan
memperberat glaukoma dan epilepsi.
- Kardiovaskular: Peningkatan aktivitas katekolamin menyebabkan stimulasi
iantung berlebihan yang dapat membahayakan jika takar lajak dari salah
satu obat dimakan. Perlambatan konduksi atrioventrikular di antara pasien
tua yang depresi perlu mendapat Perhatian. TCA dapat menimbulkan
takikardia, mendatarnya gelombang T, interval QT yang memanjang, dam
depresi segmen ST pada elektrokardiogram. Obat ini dikontraindikasikan
terhadap pasien dengan defek konduksi karena obat ini memperpanjang
waktu konduksi.
- Hipotensi ortostatik: TCA menghambat reseptor a-adrenergik sehingga
terjadi hipotensi ortostatik dan takikardia yang refleks. Pada praktik klinik,
masalah ini sangat penting terutama untuk orang tua.
- Sedasi: Sedasi dapat menonjol, terutama selama beberapa minggu Pertama
Pengobatan. Efek sedasi terjadi karena aktivitas serotonergik, kolinergik,
dan histaminergik. Amitryptiline, trimipramine, dan doxepine merupakan
agen yang paling bersifat sedasi. Sedangkan despiramine serta prtriptyline
yang paling tidak bersifat sedasi.
- Perhatian: Antidepresan trisiklik harus digunakan berhati-hati pada pasien
mania depresi, karena dapat menutupi tingkah maniak. Pemberian pada
pasien usia lanjut dan penderita kondisi medis lain khususnya penderita
jantung juga harus berhati-hati. Usia lanjut sangat sensitif terhadap efek
samping berkaitan dengan interaksi TCA dengan reseptor kolinergik dan
alpha adrenergik sehingga menyebabkan pasien jatuh dan patah tulang.
Antidepresan trisiklik mempunyai indeks terapi yang sempit sehingga
berbahaya bila mengalami overdosis misalnya 5-6 kali dosis maksimal
harian imipramin dapat letal. Pasien depresi yang ingin bunuh diri harus
diberikan obat secara terbatas dan perlu dimonitor.
 Interaksi obat
Interaksi obat Efek interaksi
Alkohol ↑ Kelemahan sikomotorik
Antikolinergik TCA dapat ↑efek antikolinergik
Antipsikotik tipikal CPZ atau haloperidol dapat ↑ level
TCA
TCA juga dapat ↑ level antipsikotik
Barbiturat ↓Level TCA, mungkin ↑ depresi
padda ONS
Simetidin ↑Level TCA, ↑ efek antikolinergik
Klonidin TCA mempunyai efek antagonis anti
hipertonis, dapat menyebabkan krisis
hipotensi. Oleh karena itu hindari
penggunaan bersamaan
Haloperidol ↓ Metabolisme, ↑ level TCA,
↑ dan efek samping TCA
Kontrasepsi oral ↓Metabolisme dan ↑ level
TCA
Fenitoin TCA ↑level phenytoin,
phenytoin dapat↓ level TCA
SSRI ↓Metabolisme TCA, ↑level
TCA dan efeksamping
Amin Dapat berpotensiasi
Simpatomimetik menyebabkan aritmia, hipertensi dan
takikardia bila digunakan bersama
dengan TCA
Malllfenidat ↓Metabolisme TCA, ↑ level
TCA
CPZ ↓Metabolisme TCA, ↑ level
TCA, ↑efek samping antikolinergik,
TCA juga ↑ level OPZ

B. TETRASIKLIK ANTI-DEPRESAN
 Macam obat :
MAPROTILINE (Ludiomil, Sandepril, Tilsan)
- Dosis lazim : 25-75 mg sebagai dosis tunggal atau terbagi tiga, depresi
sedang atau berat sehari 75 mg jika perlu dapar dinaikan sampai 150 mg,
dosis maksimum 150mg/hari.
- Indikasi : Depresi endogenik, psikogenik, somatogenik
- Kontra indikasi : Hipersensitif, epilepsi / pemberian harus dihentikan pada
keracunan akut alkohol, hipnotek, analgetik, atau obat psikotropik,
penderida gangguan fungsi ginjal yang berat dan mania.
- Efek samping : Pusing sakit kepala, kelemahan sementara, sedasi pada
siang hari, perasaan ngantuk, penglihatan kabur, retensi urin.

C. MONOAMINE OXIDASE INHIBITOR (MAOI)-Reversible

Kelompok MAOI bekerja di presinaps dengan cara menghambat enzim


monoaminase yang memecah atau memetabolisme serotonin sehingga jumlah
serotonin yang dilepaskan ke celah sinaps bertambah dan dengan demikian yang
diteruskan ke celah pasca sinaps juga akan bertambah.

- Dosis : Sediaan Tab 150 mg, dosis anjuran 300-600 mg/ hari
- Indikasi : Depresi: Secara umum, MAOI diindikasikan pada penderita
dengan depresi atipikal (eksogen) dan pada beberapa penderita yang tidak
berespon terhadap terapi antidpresif lainnya. MAOI jarang dipakai sebagai
obat pilihan.
- Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma;
gagal jantung kongestif; riwayat penyakit liver atau fungsi liver abnormal;
gangguan ginjal parah; gangguan serebrovaskular; penyakit
kardiovaskular; hipertensi; riwayat sakit kepala; pemberian bersama
dengan MAOI lainnya; senyawa yang terkait dibenzazepin termasuk
antidepresan trisiklik, karbamazepin, dan siklobenzaprin; bupropion;
SRRI; buspiron; simpatomimetik; meperidin; dekstrometorfan; senyawa
anestetik; depresan SSP; antihipertensif; kafein; keju atau makanan lain dengan
kandungan tiramin tinggi.
- Peringatan : Memburuknya gejala klinik serta risiko bunuh diri, krisis
hipertensif pemberian bersamaan antidepresan, pemutusan obat, gangguan
fungsi ginjal, karsinogenesis, lanjut usia, kehamilan menyusui, anak.

D. SELECTIVE SEROTONIN RE-UPTAKE INHIBITOR (SSRI)


SSRI bekerja dengan cara yang sama tetapi dengan hambatan yang bersifat
selektif hanya pada neurotransmiter serotonin (5HT2).
 Macam-macam Obat :
FLUOXETINE (Prozac, Prestin, Oxipres, Noxetine, Lodex, Kalxetin, Foransi,
Deprezac)
- Dosis lazim : 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam
dosis tunggal atau terbagi.
- Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang berat,
penggunaan bersama MAOI
- Interaksi Obat : MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas SSP, anti
depresan, triptofan, karbamazepin, obat yang terkait dengan protein
plasma.
- Perhatian : penderita epilepsi yang terkendali, penderita kerusakan hati dan
ginjal, gagal jantung, jangan mengemudi / menjalankan mesin.
SERTRALINE (Antipres, Deptral, Nudep, Serlof, Sernade, Zoloft, Fatral, Anexin,
Fridep)
- Dosis lazim : 50 mg/hari, maksimum 200 mg/hr dalam 1 minggu,
pemeliharaan. Dosis 150 mg atau lebih tidak boleh diberikan lebih dari 8
minggu.
- Indikasi : Gejala depresi dengan atau tanpa riwayat mania.
- Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap sertralin.
- Interaksi Obat : MAO, Alkohol, Lithium, obat seretogenik.
- Perhatian : pada gangguan hati, terapi elektrokonvulsi, hamil, menyusui,
mengurangi kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin.
- Efek samping : Mulut kering, diare, mual, hambatan ejakulasi,
bertambahnya keringat, dispepsia, insomnia, hipotensi, hipertensi,
takikardia, ataksia, migrain, bronkospasme, dispnea, disuria, periferal
edema.
CITALOPRAM (Cipram)
- Dosis lazim : 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari.
- Kontra indikasi : hipersensitif terhadap obat ini.
- Interaksi Obat : MAO, sumatripan, simetidin.
- Perhatian : kehamilan, menyusui, gangguan mania, kecenderungan bunuh
diri.
FLUVOXAMINE (Luvox)
- Dosis lazim : 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari,
maksimum dosis 300 mg.
- Indikasi : Antidepresan
- Interaksi Obat : warfarin, fenitoin, teofilin, propanolol, litium.
- Perhatian : Tidak untuk digunakan dalam 2 minggu penghentian terapi
MAO, insufiensi hati, tidak direkomendasikan untuk anak dan epilepsi,
hamil
 Cara penggunaan obat :
D. Anti-
D. Max
No Nama D. Awal (/d) Pemeliharaa Koline Sedasi Hipotensi
(/d)
n (/d) rgic

1 Fluoxetine 20 mg - 40 mg +/- +/- +/-

+ 25
2 Sertraline 50 mg 200 mg +/- +/- +/-
mg/mgg
+ 40 mg/d
3 Citalopram 20 mg 40 mg +/- +/- +/-
(after 1 wk)

Fluoxetine (Prozac / nopres / noxetine / deproz)


Sediaan : Caps. 10, 20, 40 mg / Tab. 10, 20, 60 mg / caps. Delayed release 90 mg.
Dosis awal 20 mg/hari diberikan setiap pagi. Apabila efek terapi tidak muncul
setelah pemberian beberapa minggu  tingkatkan hingga 40 mg/hari. Obat ini
hanya perlu diberikan satu kali setiap hari.

Sertralin (Zoloft / Fatral / Fridep / Serlof)


Sediaan : Tab. 25, 50, 100 mg. Dosis awal 50 mg/hari untuk hari pertama.
Tingkatkan 25 mg setiap minggu.
Citalopram
Sediaan : Tab. 10,20,40 mg / oral solute 10mg/5ml. Dosis awal 20 mg/hari.
Tingkatkan hingga maksimal 40 mg/hari. Lebih dari 40 mg/hari meningkatkan
risiko QT Prolongation.
 Efek Samping :
Golongan obat ini kurang memperlihatkan pengaruh terhadap sistem
kolinergik, adrenergik, atau histaminergik  efek samping lebih ringan.
a. GIT  Mual (paling sering), muntah, diare, dan konstipasi
b. Kantuk
c. Disfungsi seksual pada pria dan wanita. (Paling sering ditemukan pada
penggunaan paroxetine)
d. Hyponatremia  pengaruh dari terjadinya SIADH (umumnya pada lansia)
e. Serotonin Syndrome  Agitation, bingung, berkeringat, tremor, dan
takikardi

E. SNRI (Seritonin Norepineprin Reuptake Inhiibitor)


Kelompok SNRI selain bekerja dengan menghambat ambilan kembali serotonin
juga menghambat ambilan kembali neurotransmiter norepineprin, sehingga kadar
serotonin dan norepineprin pasca sinap meningkat.
 Macam-macam obat :
VENALAFAXINE (Efexor)
- Dosis lazim : 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250
mg 1x/hari.
- Kontra Indikasi : penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak <
18 tahun.
- Interaksi Obat : MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.
- Perhatian : riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal
atau sirosis hati, penyakit jantung tidak stabil, monitor tekanan darah
jika penderita mendapat dosis harian > 200 mg.
DULOXETINE (Cymbalta)
- Dosis lazim : 60mg/hari, maksimum sehari 120 mg dalam 2 dosis
terbagi
- Indikasi : gangguan depresi mayor dan nyeri neuropati diabetes
- Kontra indikasi : Gangguan ginjal berat
F. Melatonergik agonist (MT1&MT2 Reseptor) dan 5-HT2C antagonist
AGOMELATINE (Valdosan)
- Dosis Lazim : 25-50 mg (dosis anjuran), 25mg 1x/hari pada saat
menjelang tidur, bila tidak ada perbaikan selama 2 minggu, dosis dapat
ditingkatkan sampai 50 mg / hari.
- Indikasi : Terapi episode depresif mayor pada dewasa
G. ANTI DEPRESI “ATYPICAL”
MIRTAZAPIN (Remeron)
- Dosis lazim : 15-45mg/hari (dosis anjuran), sediaan 30 mg
- Indikasi : Episode depresi mayor
- Kontra indikasi : Hipersensitif
- Efek samping : Peningkatan nafsu makan, penambahan BB,
mengantuk/sedasi selama satu minggu awal pengobatan, sakit kepala,
pusing.

II.ANTIPSIKOTIK

Neuroleptik bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronis. Ciri


terpenting obat neuroleptik ialah :
 Berefek anti psikosis, yaitu berguna untuk mengatasi agresivitas,
hiper aktivitas dan labilitas emosional pada pasien psikosis.
 Dosis besar tidak menyebabkan koma yang dalam ataupun
anesthesia.
 Dapat menimbulkan gejala ekstra piramidal yang reversible atau
ireversibel.
 Tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan
psikis atau fisik.
Obat-obat neuroleptika juga disebut tranquilizer mayor, obat anti psikotik
atau obat anti skizofren, karena terutama digunakan dalam pengobatan skizofrenia
tetapi juga efektif untuk psikotik lain, seperti keadaan manik atau delirium. Obat-
obat anti psikotik ini terbagi atas dua golongan besar, yaitu :

I. Obat anti psikotik tipikal


1. Phenothiazine
 Rantai aliphatic : CHLORPROMAZINE
LEVOMEPROMAZINE
 Rantai piperazine : PERPHENAZINE
TRIFLUOPERAZINE
FLUPHENAZINE
 Rantai piperidine : THIORIDAZINE
2. Butyrophenone : HALOPERIDOL
3. diphenyl-butyl-piperidine : PIMOZIDE
II. obat anti psikotik atipikal
1. Benzamide : SULPIRIDE
2. Dibenzodiazepine CLOZAPINE
OLANZAPINE
QUETIAPINE
3. Benzisoxazole : RISPERIDON

Obat-obat neuroleptika tipikal (tradisional) adalah inhibitor kompetitif pada


berbagai reseptor, tetapi efek anti psikotiknya mencerminkan penghambatan
kompetitif dari reseptor dopamin. Obat-obat ini berbeda dalam potensinya tetapi
tidak ada satu obatpun yang secara klinik lebih efektif dari yang lain. Sedangkan
obat-obat neuroleptika atipikal yang lebih baru, disamping berafinitas terhadap
‘Dopamine D2 Receptors’ juga terhadap ‘Serotonin 5 HT2 Receptors’.
Obat neuroleptika bukan untuk pengobatan kuratif dan tidak menghilangkan
gangguan pemikiran yang fundamental, tetapi sering memungkinkan pasien
psikotik berfungsi dalam lingkungan yang suportif.
II. FARMAKOKINETIK

Obat-obat anti psikotik dapat diserap pada pemberian peroral, dan dapat
memasuki sistem saraf pusat dan jaringan tubuh yang lain karena obat anti psikotik
adalah lipid-soluble. Kebanyakan obat-obatan antipsikotik bisa diserap tapi tidak
seluruhnya. Obat-obatan ini juga mengalami first-pass metabolism yang signifikan.
Oleh karena itu, dosis oral chlorpromazine and thioridazine mempunyai availability
sistemik 25 – 35%. Haloperidol dimetabolisme lebih sedikit, dengan availability
sistemik rata-rata 65%. Kebanyakan obat antipsikotik bergabung secara intensif
dengan protein plasma (92 – 99%) sewaktu distribusi dalam dalam darah. Volume
distribusi obat-obatan ini juga besar, biasanya lebih dari 7L/kg.
Obat-obatan ini memerlukan metabolisme oleh hati sebelum eliminasi dan
mempunyai waktu paruh yang lama dalam plasma sehingga memungkinkan once-
daily dosing. Walaupun setengah metabolit tetap aktif, seperti 7-
hydroxychloropromazine dan reduced haloperidol, metabolit dianggap tidak
penting dalam efek kerja obat tersebut. Terdapat satu pengecualian, yaitu
mesoridazine, yang merupakan metabolit utama thioridazin, lebih poten dari
senyawa induk dan merupakan kontributor utama efek obat tersebut. Sediaan dalam
bentuk parenteral untuk beberapa agen, seperti fluphenazine, thioridazine dan
haloperidol, bisa dipakai untuk terapi inisial yang cepat.
Sangat sedikit obat-obatan psikotik yang diekskresi tanpa perubahan. Obat-
obatan tersebut hampir dimetabolisme seluruhnya ke substansi yang lebih polar.
Waktu paruh eliminasi (ditentukan oleh clearance metabolic) bervariasi, bisa dari
10 sampai 24 jam.

III. MEKANISME KERJA


Secara umum, terdapat beberapa hipotesis tentang cara kerja antipsikotik,
yang dapat digolongkan berdasarkan jalur reseptor dopamin atau reseptor non-
dopamine.
Hipotesis dopamin untuk penyakit psikotik mengatakan bahwa kelainan
tersebut disebabkan oleh peningkatan berlebihan yang relatif dalam aktifitas
fungsional neurotransmiter dopamin dalam traktus tertentu dalam otak. Hipotesis
ini berlandaskan observasi berikut:
 Sebagian besar obat antipsikotik memblok reseptor postsinaps pada SSP,
terutama pada sistem mesolimbik-frontal.
 Penggunaan obat yang meningkatkan aktivitas dopamin, seperti levodopa
(prekursor dopamin), amfetamin (merangsang sekresi dopamin), apomorfin
(agonis langsung reseptor dopamin) dapat memperburuk skizofrenia
ataupun menyebabkan psikosis de novo pada pasien.
 Pemeriksaan dengan positron emission tomography (PET) menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan reseptor dopamin pada pasien skizofrenia (baik
yang menjalani terapi ataupun tidak) bila dibandingkan dengan orang yang
tidak menderita skizofrenia.
 Pada pasien skizofrenia yang terapinya berhasil, telah ditemukan perubahan
jumlah homovallinic acid (HVA) yang merupakan metabolit dopamin, pada
cairan serebrospinal, plasma, dan urin.
 Telah ditemukan peningkatan densitas reseptor dopamin dalam region
tertentu di otak penderita skizofren yang tidak diobati. Pada pasien sindroma
Tourette, tic klinis lebih jelas jika jumlah reseptor D2 kaudatus meningkat.
Hipotesis dopamin untuk penyakit skizofren tidak sepenuhnya memuaskan
karena obat-obatan antipsikotik hanya sebagian yang efektif pada kebanyakan
pasien dan obat-obatan tertentu yang efektif mempunyai afinitas yang jauh lebih
tinggi untuk reseptor-reseptor selain reseptor D2.
Lima reseptor dopamin yang berbeda telah ditemukan, yaitu D1 – D5. Setiap
satu reseptor dopamin adalah berpasangan dengan protein G dan mempunyai tujuh
domain transmembran. Reseptor D2, ditemukan dalam kaudatus-putamen, nukleus
accumbens, kortek serebral dan hipotalamus, berpasangan secara negatif kepada
adenyl cyclase. Efek terapi relatif untuk kebanyakan obat-obatan antipsikotik lama
mempunyai korelasi dengan afinitas mereka terhadap reseptor D2. Akan tetapi,
terdapat korelasi dengan hambatan reseptor D2 dan disfungsi ekstrapiramidal.
Beberapa antipsikotik yang lebih baru mempunyai afinitas yang lebih tinggi
terhadap reseptor-reseptor selain reseptor D2. Contohnya, tindakan menghambat
alfa-adrenoseptor mempunyai korelasi baik dengan efek antipsikotik kebanyakan
obat baru ini. Inhibisi reseptor serotonin (S) juga merupakan cara kerja obat-obatan
antipsikotik baru ini. Clozapin, satu obat yang mempunyai tindakan menghambat
reseptor D1, D4, 5-HT2, muskarinik dan alfa-adrenergik yang signifikan,
mempunyai afinitas yang rendah terhadap reseptor D2. Kebanyakan obat-obatan
atipikal yang baru (seperti olanzapin, quetiapin, resperidon dan serindole)
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor 5-HT2A, walaupun obat-obat
tersebut juga bisa berinteraksi dengan reseptor D2 atau reseptor lainnya.
Kebanyakan obat atipikal ini menyebabkan disfungsi ekstrapiramidal yang kurang
kalau dibandingkan dengan obat-obatan standar.

IV. EFEK KERJA


Penghambatan reseptor dopamin adalah efek utama yang berhubungan
dengan keuntungan terapi obat-obatan antipsikotik lama. Terdapat beberapa jalur
utama dopamin diotak, antara lain :
1. Jalur dopamin nigrostriatal
Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra menuju ganglia basalis. Fungsi
jalur nigrostriatal adalah untuk mengontrol pergerakan. Bila jalur ini diblok,
akan terjadi kelainan pergerakan seperti pada Parkinson yang disebut
extrapyramidal reaction (EPR). Gejala yang terjadi antara lain akhatisia,
dystonia (terutama pada wajah dan leher), rigiditas, dan akinesia atau
bradikinesia.
2. Jalur dopamin mesolimbik
Jalur ini berasal dari batang otak dan berakhir pada area limbic. Jalur
dopamin mesolimbik terlibat dalam berbagai perilaku, seperti sensasi
menyenangkan, euphoria yang terjadi karena penyalahgunaan zat, dan jika jalur
ini hiperaktif dapat menyebabkan delusi dan halusinasi. Jalur ini terlibat dalam
timbulnya gejala positif psikosis.
3. Jalur dopamin mesokortikal
Jalur ini berproyeksi dari midbrain ventral tegmental area menuju korteks
limbic. Selain itu jalur ini juga berhubungan dengan jalur dopamine
mesolimbik. Jalur ini selain mempunyai peranan dalam memfasilitasi gejala
positif dan negative psikosis, juga berperan pada neuroleptic induced deficit
syndrome yang mempunyai gejala pada emosi dan sistem kognitif.
4. Jalur dopamin tuberoinfundibular
Jalur ini berasal dari hypothalamus dan berakhir pada hipofise bagian
anterior. Jalur ini bertanggung jawab untuk mengontrol sekresi prolaktin,
sehingga kalau diblok dapat terjadi galactorrhea.
Tindakan-tindakan penghambatan relatif pada reseptor oleh obat-obatan
antipsikotik terdapat pada tabel berikut.

Tindakan penghambatan relatif pada reseptor oleh obat-obatan neuroleptik


Obat D2 D4 Alfa1 5- M H1
HT2
Kebanyakan ++ - ++ + + +
phenothiazine
dan
thioxanthene
Thiordazine ++ - ++ + +++ +
Haloperidol +++ - + - - -
Clozapin - ++ ++ ++ ++ +
Molindone ++ - + - + +
Olazapin + - + ++ + +
Quetiapin + - + ++ + +
Risperidon ++ - + ++ + +
Sertindole ++ - + +++ - -

V. INDIKASI PENGGUNAAN
Gejala sasaran antipsikosis (target syndrome) : SINDROM PSIKOSIS, yaitu :
- Hendaya berat dalam kemampuan daya menilai realitas (reality testing
ability), bermanifestasi dalam gejala : kesadaran diri (awareness) yang
terganggu, daya nilai norma sosial (judgement) terganggu, dan insight
terganggu.
- Hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, bermanifestasi dalam gejala :
gangguan asosiasi pikiran (inkoherensi), isi pikiran yang tidak wajar
(waham), gangguan persepsi (halusinasi), gangguan perasaan (tidak sesuai
dengan situasi), dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali (disorganized).
- Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam
gejala : tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin.
Sindroma psikosis dapat terjadi pada :
- Sindrom psikosis fungsional : Skizofrenia, psikosis paranoid,
psikosis afektif, psikosis reaktif
singkat, dll.
- Sindrom psikosis organik : delirium, dementia, intoksikasi alkohol, dll.

VI. PENGGUNAAN OBAT ANTIPSIKOSIS


A. Pengobatan skizofrenia
Antipsikosis merupakan satu-satunya pengobatan efektif untuk skizofrenia.
Tetapi tidak semua pasien responsif dan normalisasi tingkah laku yang komplit
jarang dicapai. Antipsikosis tradisional (tipikal) paling efektif dalam pengobatan
gejala skizofrenia yang positif (delusi, halusinasi, dan gangguan pemikiran). Obat-
obat baru dengan aktifitas penghambat serotonin (atipikal) efektif untuk pasien-
pasien yang resisten dengan obat tradisional, terutama pengobatan dengan gejala
negatif dari skizofrenia (menarik diri, emosi buntu, kemunduran dalam komunikasi
dengan orang lain.
Klorpromazin (CPZ) berefek antipsikosis dan bersifat sedasi. Indikasi
utama fenotiazin adalah skizofrenia, dengan gangguan psikosis. Gejala psikosis
yang dipengaruhi oleh fenotiazin dan antipsikosis lain adalah ketegangan,
hiperaktivitas, combativeness, hostality, halusinasi, delusi akut, susah tidur,
anoreksia, perhatian diri yang buruk, negativisme dan kadang-kadang mengatasi
sifat menarik diri. Sedangkan pengaruh fenotiazin kurang terhadap insight,
judgement, daya ingat dan orientasi.
Butirofenon diantaranya adalah haloperidol berguna untuk menenangkan
keadaan mania penderita psikosis yang karena hal tertentu tidak dapat diberi
fenotiazin. Buirofenon merupakan obat pilihan untuk mengobati sindrom Gilles de
la Tourette, suatu kelainan neurologik yang ditandai dengan kejang otot hebat,
menyeringai (grimacing) dan explosive utterances of foul expletives (koprolalia,
mengeluarkan kata-kata jorok).
Dibenzodiazepin bersifat atipikal, diantaranya klozapin efektif untuk
mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif (iritabilitas)
maupun yang negatif (social disinterest, incompetence, dan personal neatness).
Pemberian antipsikosis sangat memudahkan perawatan pasien. Walaupun
antipsikosis sangat bermanfaat untuk mengatasi gejala psikosis akut, namun
penggunaan antipsikosis saja tidak cukup untuk merawat pasien psikotik.
Perawatan, perlindungan dan dukungan mental-spiritual terhadap pasien sangatlah
penting.

B. Pencegahan mual dan muntah yang hebat


Antipsikosis (umumnya proklorperazin) berguna untuk pengobatan mual
akibat obat. Semua antipsikosis kecuali mesoridazin, molindon, tioridazin, dan
klozapin mempunyai efek antiemetik.
Domperidon diindikasikan untuk mengatasi mual dan muntah, efek obat ini
secara klinis sangat mirip metoklopramid, yaitu mencegah refluks esofagus
berdasarkan efek peningkatan tonus sfingter bagian bawah.

C. Penggunaan lain
Antipsikosis dapat digunakan sebagai tranquilizer untuk mengatur tingkah
laku yang agitatif dan disruptif. CPZ merupakan obat terpilih untuk pengobatan
cegukan yang menetap yang berlangsung berhari-hari dan sangat mengganggu.
Prometazin digunakan untuk pengobatan pruritus karena sifat-sifat
antihistaminnya.
Apabila antipsikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis
yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan
antipsikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis
ekuivalennya, dimana profil efek samping belum tentu sama.
Apabila dalam riwayat penggunaan antipsikosis sebelumnya, jenis
antipsikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek
sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang.

VII. SEDIAAN ANTIPSIKOSIS DAN DOSIS ANJURAN


No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis
Anjuran
1 Chlorpromazine LARGACTIL Tab. 25 mg, 150-600
PROMACTIL 100 mg mg/h
MEPROSETIL Amp.25
ETHIBERNAL mg/ml
2 Haloperidol SERENACE Tab. 0,5 mg, 5-15
1,5&5 mg mg/h
Liq. 2 mg/ml
HALDOL Amp. 5
GOVOTIL mg/ml
LODOMER Tab. 0,5 mg,
HALDOL 2 mg
DECA- Tab. 2 mg, 5 50 mg /
NOAS mg 2-4 minggu
Tab. 2 mg, 5
mg
Amp. 50
mg/ml
3 Perphenazine TRILAFON Tab. 2 mg, 12-24
4&8 mg mg/h
4 Fluphenazine ANATENSOL Tab. 2,5 mg, 10-15
Fluphenazine- MODECATE 5 mg mg/h
decanoate
Vial 25 25 mg /
mg/ml 2-4 minggu
5 Levomepromazine NOZINAN Tab.25 mg 25-50
Amp. 25 mg/h
mg/ml
6 Trifluoperazine STELAZINE Tab. 1 mg, 5 10-15
mg mg/h
7 Thioridazine MELLERIL Tab. 50 mg, 150-600
100 mg mg/h
8 Sulpiride DOGMATIL – Tab. 200 mg 300-600
FORTE Amp. 50 mg/h
mg/ml
9 Pimozide ORAP FORTE Tab. 4 mg 2-4 mg/h
10 Risperidone RISPERDAL Tab. 1,2,3 mg Tab 2-6
NERIPROS Tab. 1,2,3 mg mg/h
NOPRENIA Tab. 1,2,3 mg
PERSIDAL-2 Tab. 2 mg
RIZODAL Tab. 1,2,3 mg
11 Clozapine CLOZARIL Tab. 25 mg, 25-100
100 mg mg/h
12 Quetiapine SEROQUEL Tab. 25 mg, 50-400
100 mg, 200 mg mg/h
13 Olanzapine ZYPREXA Tab. 5 mg, 10 10-20
mg mg/h

VIII. PENGATURAN DOSIS


Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :
- Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2 – 4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2 – 6 jam
- Waktu paruh : 12 – 24 jam (pemberian obat
1-2 x perhari)
- Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak dari efek samping
(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu
kualitas hidup pasien.

Pengobatan dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran


 dinaikkan setiap 2 – 3 hari
 sampai mencapai dosis efektif (mulai timbul peredaan Sindrom Psikosis)
 dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan
 dosis optimal
dipertahankan sekitar 8 – 12 minggu (stabilisasi)
 diturunkan setiap 2 minggu
 dosis maintenance
 dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug holiday 1- 2
hari/minggu
 tappering off (dosis diturunkan tiap 2 – 4 minggu)
 stop

IX. LAMA PEMBERIAN

Untuk pasien dengan serangan Sindrom Psikosis yang ”multi episode”,


terapi pemeliharaan (maintenance) diberikan paling sedikit selama 5 tahun.
Pemberian yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 – 5 kali.
Efek antipsikosis secara relatif berlangsung lama, sampai beberapa hari
setelah dosis terakhir masih mempunyai efek klinis. Sehingga tidak langsung
menimbulkan kekambuhan setelah obat dihentikan, biasanya satu bulan kemudian
baru gejala Sindrom Psikosis kambuh kembali. Hal tersebut disebabkan
metabolisme dan ekskresi obat sangat lambat, metabolit-metabolit masih
mempunyai keaktifan antipsikosis.
Pada umumnya pemberian antipsikosis sebaiknya dipertahankan selama 3
bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk
”Psikosis Reaktif Singkat” penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya gejala
dalam kurun waktu 2 minggu – 2 bulan.
Antipsikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun
diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil
sekali. Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala ”Cholinergic
Rebound”, yaitu : gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing, gemetar, dll.
Keadaan ini akan mereda dengan pemberian ”anticholinergic agent” (injeksi Sulfas
Atropin 0,25 mg (IM), tablet Trihexyphenidyl 3 x 2 mg/h).
Oleh karena itu, pada penggunaan bersama antipsikosis + antiparkinson,
bila sudah tiba waktu penghentian obat, antipsikosis dihentikan lebih dahulu,
kemudian baru menyusul obat antiparkinson yang dihentikan.
Pada penggunaan parenteral, antipsikosis ”long-acting” (Fluphenazine
Decanoate 25 mg/ml atau Haloperidol Decanoas 50 mg/ml, IM, untuk 2 – 4
minggu) sangat berguna untuk pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat
ataupun yang tidak efektif terhadap medikasi oral.
Sebaiknya sebelum penggunaan parenteral diberikan per oral dahulu
beberapa minggu untuk melihat apakah terdapat efek hipersensitivitas.
Dosis mulai dengan ½ ml setiap 2 minggu pada bulan pertama, kemudian
baru ditingkatkan menjadi 1 ml setiap bulan.
Pemberian antipsikosis ”long-acting” hanya untuk terapi stabilisasi dan
pemeliharaan (maintenance therapy) terhadap kasus Skizofrenia. 15-25% kasus
menunjukkan toleransi yang baik terhadap efek samping ekstrapiramidal.

X. PEMILIHAN SEDIAAN

Pemilihan antipsikosis dapat didasarkan atas struktur kimia serta efek


farmakologi yang menyertai. Mengingat perbedaan antargolongan antipsikosis
lebih nyata daripada perbedaan masing-masing obat dalam golongannya, maka
cukup dipilih salah satu obat dari satu golongan saja. Pedoman terbaik dalam
memilih obat secara individual ialah riwayat respon pasien terhadap obat.
Kecenderungan pengobatan saat ini ialah meninggalkan antipsikosis
berpotensi rendah misalnya CPZ dan tioridazin, kearah penggunaan obat berpotensi
tinggi, misalnya tiotiksen, haloperidol dan flufenazin.
Pedoman pemilihan antipsikosis adalah sebagai berikut :
1. Bila resiko tidak diketahui atau tidak ada komplikasi yang tidak diketahui
sebelumnya, maka pilihan jatuh pada fenotiazin berpotensi tinggi.
2. Bila kepatuhan penderita menggunakan obat tidak terjamin, maka pilihan
jatuh pada flufenazin oral dan kemudian tiap 2 minggu diberikan suntikan
flufenazin enantat atau dekanoat.
3. Bila penderita mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular atau stroke,
sehingga hipotensi merupakan hal yang membahayakan, maka pilihan jatuh
pada fenotiazin piperazin, atau haloperidol.
4. Bila karena alasan usia atau faktor penyakit, terdapat resiko efek samping
ekstrapiramidal yang nyata, maka pilihan jatuh pada tioridazin.
5. Tioridazin tidak boleh digunakan apabila terdapat gangguan ejakulasi.
6. Bila efek sedasi berat perlu dihindari, maka pilihan jatuh pada haloperidol
atau fenotiazin piperazin.
7. Bila penderita memiliki kelainan hepar atau cenderung menderita ikterus,
haloperidol merupakan obat yang paling aman pada stadium awal
pengobatan.

Apabila antipsikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis


yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan
antipsikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis
ekuivalennya, dimana profil efek samping belum tentu sama.
Apabila dalam riwayat penggunaan antipsikosis sebelumnya, jenis
antipsikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek
sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang.
XI. EFEK SAMPING DAN PENANGANAN

1. KLORPROMAZIN DAN DERIVAT FENOTIAZIN


Efek samping
Batas keamanan CPZ cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek samping
umumnya merupakan perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi
mungkin timbul, berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai
eosinofilia dalam darah perifer.
Efek endokrin
CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi, juga menghambat sekresi ACTH.
Hal ini dikaitkan dengan efeknya terhadap hipotalamus.
Semua fenotiazin, kecuali klozapin menimbulkan hiperprolaktinemia lewat
penghambatan efek sentral dopamin.
Kardiovaskular
Dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan :
 Refleks presor yang penting untuk mempertahankan tekanan darah yang
dihambat oleh CPZ.
 Berefek  bloker
 Menimbulkan efek inotropik negatif pada jantung
Toleransi dapat timbul terhadap efek hipotensif CPZ
Neurologik
Dapat menimbulkan gejala ekstra piramidal seperti parkinsonisme pada
dosis berlebihan. Dikenal 6 gejala sindrom neuroleptik yang karakteristik pada
obat ini, empat diantaranya terjadi sewaktu obat diminum, yaitu distonia akut,
akatisia, parkinsonisme dan sindroma neuroleptik malignant, sedangkan dua
gejala lain timbul setelah pengobatan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun,
berupa tremor perioral dan diskinesia tardif.
2. BUTYROPHENONE
Efek samping dan intoksikasi
Menimbulkan reaksi ekstra pyramidal terutama pada pasien usia muda.
Dapat terjadi depresi akibat reversi keadaan mania atau sebagai efek samping.
Leukopenia dan agranulositosis ringan dapat terjadi. Haloperidol sebaiknya
tidak diberikan pada wanita hamil.
Susunan saraf pusat
Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang
mengalami eksitasi, menurunkan ambang rangsang konvulsif, menghambat
sistem dopamin dan hypothalamus, juga menghambat muntah yang ditimbulkan
oleh apomorfin.
Sistem saraf otonom
Dapat menyebabkan pandangan kabur. Obat ini menghambat aktifitas
reseptor  yang disebabkan oleh amin simpatomimetik.
Sistem kardiovaskular dan respirasi
Menyebabkan hipotensi, takikardi, dan dapat menimbulkan potensiasi dengan
obat penghambat respirasi.
Efek endokrin
Menyebabkan galaktore

3. DIBENZODIAZEPIN
Efek samping dan intoksikasi
Agranulositosis merupakan efek samping utama pada pengobatan dengan
klozapin. Gejala ini timbul paling sering 6-18 minggu setelah pemberian obat,
dengan resiko 1,2% pada penggunaan setelah 4 minggu. Penggunaan obat ini
tidak boleh lebih dari 6 minggu kecuali bila terlihat ada perbaikan. Dapat pula
terjadi hipertermia, takikardia, sedasi, pusing kepala, hipersalivasi, kantuk,
letargi, koma, disorientasi, delirium, depresi pernapasan, aritmia dan kejang.

EFEK SAMPING OBAT ANTIPSIKOSIS


OBAT ANTI PSIKOSIS EFEK EFEK EFEK EFEK
EKST ANTI SEDAT HIPOTE
RAPIRA EMETIK IF NSIF
MIDAL
A. DERIVAT FENOTIAZIN
1. Senyawa dimetilaminopropil :
Klorpromazin ++ ++ +++ ++
Promazin ++ ++ ++ +++
Triflupromazin +++ +++ +++ +
2. Senyawa piperidil :
Mepazin ++ ++ +++ ++
Tioridazin + + ++ ++
3. Senyawa piperazin :
Asetofenazin ++ ++ + +
Karfenazin +++ +++ ++ ++
Flufenazin +++ +++ ++ +
Perfenazin +++ +++ + +
Proklorperazin +++ +++ ++ +
Trifluoperazin tiopropazat +++ +++ ++ +
B. NON-FENOTIAZIN
Klorprotiksen ++ ++ +++ ++
C. BUTYROPHENONE
Haloperidol +++ +++ + +

EFEK SAMPING NEUROLOGIK OBAT NEUROLEPTIK

EFEK GAMBARAN WAKTU MEKANISME PENGOBATAN


KLINIS RESIKO
MAKSIMAL
Distonia akut Spasme otot 1-5 hari Belum Dapat diberikan
lidah, wajah, diketahui berbagai
leher, punggung ; pengobatan, obat
dapat menyerupai anti Parkinson
bangkitan ; bukan bersifat diagnostik
histeria dan kuratif
Akatisia Ketidak- 5-60 hari Belum Kurangi dosis
tenangan, diketahui atau ganti obat; obat
motorik, bukan anti Parkinson,
ansietas atau benzodiazepin, atau
agitasi propanolol
Parkinsonisme Bradikinesia, 5-30 hari Antagonisme Obat anti
rigiditas, macam- dengan dopamin Parkinson
macam tremor, menolong
wajah topeng,
suffling gait
Sindroma Katatonik, Berminggu- Ada kontribusi Hentikan
malignan stupor, demam, minggu, dapat antagonisme neuroleptik segera;
tekanan darah bertahan dengan dopamin dantrolene atau
tidak stabil, beberapa hari bromokriptin dapat
mioglobinemia,; setelah obat menolong; obat anti
dapat fatal dihentikan Parkinson lainnya
tidak efektif
Tremor Tremor Setelah Belum Obat
perioral perioral berbulan-bulan diketahui antiparkinson
(sindroma (mungkin sejenis atau bertahun- sering menolong
kelinci) perkinsonisme tahun
yang dating
terlambat)
pengobatan
Diskinesia Diskinesia Setelah Diduga : Sulit dicegah,
tardif mulut-wajah; berbulan-bulan kelebihan efek pengobatan tidak
koreoatetosis atau bertahun- dopamin memuaskan
atau distonia tahun
meluas (memburuk
dengan
penghentian)

Efek samping yang ireversibel seperti tardif diskinesia (gerakan berulang


involunter pada lidah, wajah, mulut/rahang dan anggota gerak dimana saat tidur
gejala menghilang) yang timbul akibat pemakaian jangka panjang dan tidak terkait
dengan besarnya dosis. Bila gejala tersebut timbul maka obat anti psikotik perlahan-
lahan dihentikan, bias dicoba pemberian Reserpine 2,5 mg/h (dopamine depleting
agent). Penggunaan L-dopa dapat memperburuk keadaan. Obat anti psikotik hampir
tidak pernah menimbulkan kematian sebagai akibat overdosis atau keinginan untuk
bunuh diri.

III.ANTI-ANSIETAS

Benzodiazepin

Benzodiazepin yang dianjurkan sebagai anti anxietas ialah:


klordiazepoksid, diazepam, oksazepam, klorazepat, lorazepam, prazepam,
alprazolam dan halozepam. Sedangkan klorazepam dianjurkan untuk pengobatan
panic disorder.3

II.1.1 Mekanisme kerja


Sindrom ansietas disebabkan hiperaktivitas dari system limbic SSP yang
terdiri dari dopaminergic, noradrenergic, serotoninnergic neurons yang
dikendalikan oleh GABA-ergic neurons. Mayoritas neurotransmitter yang
melakukan inhibisi di otak adalah asam amino GABA (gamma-aminobutyric acid
A). Secara selektif reseptor GABA akan membiarkan ion Chlorida masuk ke dalam
sel, sehingga terjadi hiperpolarisasi neuron dam menghambat penglepasan
transmisi neuronal. Efek farmako dinamikderivat benzodiazepine lebih luas dari
pada efek mefprobamat dan barbiturate. Klordiazepoksid tidak saja bekerja pada
sentral, tetapi juga perifer pada susunan saraf kolinergik, adrenergic dan
triptaminergik.3-5
Klordiazepoksid lebih berguna untuk mengatasi sifat agresif hewan coba
(monyet) dari pada pentobarbital, meprobamat dan CPZ. Berbeda dengan CPZ,
klordiazepksid dan diazepam bersifat non selektif dalam menghambat respons
terkondisi. Setelah pemberian oral, klordiazepoksid mencapai kadar tertinggi dalam
8 jam dan tetap tinggi sampai 24 jam. Eksresi benzodiazepine melalui ginjal lambat,
setelah pemberian satu dosis obat ini masih ditemukan dalam urin selama beberapa
hari. Secara umum obat – obat antiansietas ini bekerja di reseptor GABA.
Benzodiazepine menghasilkan efek pengikatan terhadap reseptor GABA tersebut.3

II.1.2 Cara Penggunaan


Pemilihan Obat.4
 Benzodiazepine memiliki rasio terapetik yang tinggi sebagai anti ansietas
dan kurang menimbulkan adiksi dengan toksisitas yang rendah
dibandingkan dengan meprobamate atau fenobarbital.

 Benzodiazepine sebagai “drug of choice” karena memiliki spesifisitas,


potensi dan keamanannya.

 Spectrum klinis benzodiazepine meliputi efek anti ansietas (lorazepam,


clobazam, bromazepam), antikonvulsan, anti insomnia
(nitrazepam/flurazepam), dan premedikasi tingkat operatif (midazolam).

Pengaturan Dosis.4
 Efek klinis terlihat bila kadar obat dalam darah telah mencapai “steady
state” dimana dapat dicapai 5-7 hari dengan dosis 2-3 kali sehari. Onset of
action cepat dan langsung memberikan efek.
 Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran) kemudian dinaikkan dosis setiap
3-5 hari sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan 2-3
minggu. Kemudian diturunkan 1/8 x dosis awal setiap 2-4 minggu sehingga
tercapai dosis minimal yang masih efektif (maintenance dose). Bila
kambuh dinaikkan an bila efektif dipertahankan 4-8 minggu kemudian
tapering off.
Lama Pemberian.4
 Pada sindrom ansietas yang disebabkan faktor situasi eksternal, pemberian
obat tidak lebih dari 1-3 bulan.

 Pemberian sewaktu-waktu dapat dilakukan apabila timbul sindrom


anxietas.

 Penghentian selalu secara bertahap (stepwise) agar tidak menimbulkan


gejala lepas obat (withdrawal symptoms)

II.1.3 Efek Samping


Efek samping obat antiansietas dapat berupa :4, 5
 Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor
menurun, kemampuan kognitif melemah)

 Relaksasi otot (rasa lemas, cepat lelah, )

Potensi menimbulkan ketergantungan lebih rendah dari narkotika, oleh karena


“at therapeutic dose they have low re-inforcing properties”. Potensi menimbulkan
ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat dipertahankan
setelah dosis terakhir, berlangsung sangat singkat.4
Penghentian obat secara mendadak akan menimbulkan gejala putus obat
(rebound phenomena) : pasien menjadi irritable, bingung, gelisah, insomnia,
tremor, palpitasi, keringat dingin, konvulsi.4
Hal ini berkaitan dengan penurunan kadar Benzodiazepine dalam plasma.
Untuk obat benzodiazepine dengan paruh waktu pendek lebih cepat dan hebat
gejala putus obatnya dibandingkan dengan obat Benzodiazepine dengan waktu
paruh panjang (misalnya, Clobazam sangat minimal dalam menimbulkan gejala
putus obat). 4
Ketergantungan relatif lebih sering terjadi pada individu dengan riwayat
peminum alkohol (alkoholics), penyalahgunaan obat (drug-abus-ers), atau
“unstable personalities”. Oleh karena itu obat Benzodiazepine tidak dianjurkan
diberikan pada pasien-pasien tersebut. 4
Untuk mengurangi risiko ketergantungan obat, maksimum lama pemberian
3 bulan (100 hari) dalam rentang dosis terapeutik.4
II.1.4 Kontraindikasi
Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepine, glaucoma,
myasthenia gravis, chronic pulmonary insufficiency, chronic renal or hepatic
disease.3
Derivat benzodiazepine sebaiknya jangan diberikan bersama alkohol,
barbiturat atau fenotiazin karena berpotensi menghasilkan efek sedasi dan
penekanan pusat pernapasan, sehingga berisiko timbulnya ―respiratory failure‖
dan depresi yang berlebihan. Pada pasien gangguan pernafasan benzodiazepine
dapat memperberat gejala sesak napas.3
II.1.5 Indikasi dan Sediaan
Derivat benzodiazepine digunakan untuk menimbulkan sedasi,
menghilangkan rasa cemas, dan keaadaanpsikomatik yang ada hubungan dengan
rasa cemas. Selain sebagai anxietas , derivate benzodiazepine digunakan juga
sebgaia hipnotik, antikunvulsi, pelemas otot, dan induksi anastesi umum. Sebagai
antiansietas, klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat
diperlukan, suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2
atau 4 jam pemberian. Dosis diazepam adalah 20-20mg sehari, pemberian suntikan
dapat diulang tiap 3-4 jam.3
Klorazepat diberikan secara oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi.
Klordiazepoksid tersedia sebbagi tablet 5 dan 10 mg.3
Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. Diazepam tersedia sebagai larutan
untuk pemberian rectal pada anak dengan kejang demam.3
II.1.6 Toleransi dan Ketergantungan fisik
Keadaan ini dapat terjadi bila benzodiazepine diberikan dalam dosis tinggi
dan dalam jangka waktu lama. Jadi pemebrian golongan obat ini lebih dari 3 minggu
sebaiknya dihindari. Habituasi dapat terjadi akibat benzodiazepine, namun, karena
waktu paruhnya panjang dan terjadi perubahan menjadi metabolic aktif, gejala
putus obat mungkin tidak akan Nampak selama 1 minggu sesudah penghentian obat
pada pemakainan kronik. Umumnya dengan pemeberian dosis biasanya tidak
terjadi gejala putus obat.3

II.1.7 Sediaan Obat Anti Anxietas Gol. Benzodiazepine :4, 5


1. Diazepam
a. Nama dagang : Diazepam
Sediaan : Tab. 2-5 mg
Dosis anjuran : -
b. Nama dagang : Lovium
Sediaan : Tab. 2-5 mg
Dosis anjuran : oral 2-3 x 2-5 mg/hari
Injeksi 5-10 mg (im/iv)
c. Nama dagang : Mentalium
Sediaan : Tab. 2-5-10 mg
Dosis anjuran : oral 2-3 x 2-5 mg/hari
Injeksi 5-10 mg (im/iv)
d. Nama dagang : Stesolid
Sediaan : Tab. 2-5 mg
Ampul 10 mg/2 cc
Rectal tube 5 mg/2,5 cc ,10 mg/2,5 cc
Dosis anjuran : Rectal tube anak <10 kg/bb = 5 mg
Anak >10 kg/bb = 10 mg
e. Nama dagang : Valdimex
Sediaan : Tab. 5 mg
Ampul 10 mg/2 cc
Dosis anjuran : -
f. Nama dagang : Trazep
Sediaan : Rectal tube 5 mg/2 cc
Dosis anjuran : -
g. Nama dagang : Valium
Sediaan : Tab. 2-5 mg
Ampul 10 mg/ 2 cc
Dosis anjuran : -
2. Chlordiazepoxide
a. Nama dagang : Cetabrium
Sediaan : Tab. 5-10 mg
Dosis anjuran : 2-3 x 5-10 mg/hari
b. Nama dagang : Tensinyl
Sediaan : Cap. 5 mg
Dosis anjuran : -
c. Nama dagang : Librium
Sediaan : Tab. 5-10 mg
Dosis anjuran : -
3. Lorazepam
a. Nama dagang : Ativan
Sediaan : Tab. 0,5 – 1 - 2 mg
Dosis anjuran : 2-3 x 5-10 mg/hari
b. Nama dagang : Renaquil
Sediaan : Tab. 1 mg
Dosis anjuran : -
c. Nama dagang : Merlopam
Sediaan : Tab. 0,5 - 2 mg
Dosis anjuran : -
4. Clobazam
a . Nama dagang : Frisium
Sediaan : Tab. 10 mg
Dosis anjuran : 2-3 x 10 mg/hari
b. Nama dagang : Clobazam
Sediaan : Tab. 10 mg
Dosis anjuran : -
c. Nama dagang : Asabium
Sediaan : Tab. 10 mg
Dosis anjuran : -
d. Nama dagang : Clobium
Sediaan : Tab. 10 mg
Dosis anjuran : -
e. Nama dagang : Proclozam
Sediaan : Tab. 10 mg
Dosis anjuran : -
5. Bromazepam
a. Nama dagang : Lexotan
Sediaan : Tab. 1,5 – 3 – 6 mg
Dosis anjuran : 3 x 1,5 mg/hari

6. Alprazolam
a. Nama dagang : Alprazolam
Sediaan : Tab. 0,25 – 0,5 - 1 mg
Dosis anjuran : 3 x 0,25 - 0,5 mg/hari
b. Nama dagang : Xanax XR
Sediaan : Tab. 0,25 - 1 mg
Dosis anjuran : 1 x 0,5 - 1 mg/hari
c. Nama dagang : Alganax
Sediaan : Tab. 0,25 – 0,5 - 1 mg
Dosis anjuran : 3 x 0,25 - 0,5 mg/hari
d. Nama dagang : Calmlet
Sediaan : Tab. 0,25 – 0,5 – 1 – 2 mg
Dosis anjuran : -
e. Nama dagang : Feprax
Sediaan : Tab. 0,25 – 0,5 - 1 mg
Dosis anjuran : -
f. Nama dagang : Atarax
Sediaan : Tab. 0,5 mg
Dosis anjuran : -
g. Nama dagang : Alviz
Sediaan : Tab. 0,5 - 1 mg
Dosis anjuran : -
h. Nama dagang : Zyprax
Sediaan : Tab. 0,25 – 0,5 – 1 mg
Dosis anjuran : 3 x 0,25 - 0,5 mg/hari

Golongan Non-Benzodiazepine

1 BUSPIRONE
Buspiron (BuSpar) diindikasi utnuk terapi gangguan ansietas, tidak seperti
benzodiazepine dan barbiturat, buspirone tidak memiliki efek sedatif, hipnotik,
relaksan otot, atau antikonvulsan. Buspiron memiliki potensi yang rendah untuk
disalahgunakan dan tidak disertai fenomena purus zat atau hendaya kognitif.5, 6
Mekanisme
Buspirone diabsorbsi dengan baik dari saluran gastrointestinal dan tidak
dipengaruhi asupan makanan. Obat ini mencapai kadar puncak plasma dalam 60
hingga 90 menit setelah pemberian oral. Waktu paruh yang pendek (2 hingga 11
jam) memerlukan dosis 3 kali sehari. Berlawanan dengan benzodiazepine dan
barbiturat yang bekerja pada saluran ion klorida terkait—aminobutyric acid
(GABA), buspirone tidak memiliki efek pada mekanisme reseptor ini. Buspirone
lebih bekerja sebagai agonis atau agonis parsial pada reseptor serotonin 5-HTIA.
Buspirone juga memiliki aktivitas pada reseptor 5-HT2 dan reseptor dopamine tipe
2 (D2), meskipun makna efek pada reseptor ini tidak diketahui. Pada reseptor D2,
obat ini memilikisifat agonis dan antagonis. Fakta bahwa buspirone memerlukan 2
hingga 3 minggu untuk menghasilkan efek terapeutik mengesankan bahwa apapun
efek awalnya, efek terapeutik buspirone dapat meliputi modulasi beberapa
neurotransmitter dan mekanisme intraneuronal.5,6

Efek Samping
Efek samping buspirone yang paling lazim terjadi adalah sakit kepala, mual,
pusing, dan insomnia (jarang). Buspirone tidak disertai dengan sedasi. Beberapa
orang dapat melaporkan adanya perasaan gelisah ringan, meskipun gejala ini dapat
mencerminkan gangguan ansietas yang tidak diterapi secara utuh. Tidak ada
kematian dialporkan akibat over dosis buspirone, dan dosis letal median (LD50)
diperkirakan 160 hingga 550 kali dengan dosis harian yang dianjurkan. Buspirone
harus digunakan dengan hati-hati pada orang dengan gangguan hati dan ginjal,
perempuan hamil, dan ibu yang menyusui. Obat ini dapat digunakan dengan aman
oleh lansia.

Interaksi Obat
Pemberian buspirone dan haloperidol (haldol) bersamaan mengakibatkan
meningkatnya konsentrasi haloperidol di dalam darah. Buspirone sebaiknya tidak
digunakan dengan monoamine oxidase inhibitor (MAOI) utnuk menghindari
episode hipertensif, dan diantara penghentian penggunaan MAOI dengan
dimulainya terapi buspirone harus terdapat periode pembersihan selama 2 minggu.
Erythromycin, itraconazole, nefazodone dan jus anggur dapat meningkatkan
konsentrasi buspirone di dalam plasma.5

2 HYDROXYZINE
Hydroxyzine adalah antihistamin tua, awalnya disetujui untuk penggunaan
klinis oleh FDA pada tahun 1956. Obat ini memiliki sifat anxiolytic di samping
sifat antihistamin dan juga berlisensi untuk pengobatan kecemasan dan ketegangan.
Obat juga digunakan sebagai obat penenang sebelum anestesi atau untuk
menginduksi sedasi setelah anestesi. Obat ini telah terbukti sama efektifnya dengan
benzodiazepin dalam pengobatan gangguan kecemasan umum, sedangkan memiliki
sedikit efek samping.

Sediaan Obat Anti Ansietas Gol. Non-Benzodiazepine:


1. Sulpiride
a. Nama dagang : Dogmatil
Sediaan : Cap. 50 mg
2. Buspirone
a. Nama dagang : Buspar
Sediaan : Cap. 10 mg
Dosis anjuran : 2-3 x 10 mg/hari
b. Nama dagang : Tran-Q
Sediaan : Cap. 10 mg
Dosis anjuran : -
c. Nama dagang : Xiety
Sediaan : Cap. 10 mg
Dosis anjuran : -
3. Hydroxyzine
a. Nama dagang : Iterax
Sediaan : Caplet 25 mg
Dosis anjuran : 3 x 25 mg/hari

IV.MOOD STABILITATOR
Mood stabilizer adalah kelompok obat yang divergen, dikenal berkhasiat
terutama untuk mempertahankan stabilitas suasana perasaan, terutama mencegah
munculnya kondisi manik pada gangguan afektif bipolar. Kelompok obat ini
dikatakan efektif untuk mania akut tetapi kurang efektif untuk depresi.
Klasifikasi umum:
1. Garam lithium
Lithium carbonat: priadel, theralith
2. Lain-lain:
Karbamazepine: tegretol
Asam valproat: valproic acid, depakene
Natrium divalproate: depakote
Secara umum terapi dengan Lithium dimulai dengan dosis terbagi, mulai dari
dosis 2-3 kali 300 mg per hari dan kadar plasma stabil dicapai dalam 4-5 hari.
Setelah pasien cukup stabil, dosis tunggal sering kali lebih disukai. Bila fungsi
ginjal normal, dosis total perhari bisa mencapai 1200-18800 mg lithium yang akan
menghasilkan konsentrasi lithium dalam plasma berkisar 0,8-1,2 mEq/L. Dosis
pemeliharaan berkisar di tingkat kadar plasma 0,6-1 mEq/L yang dapat dicapai
dengan pemberian 900-1200 mg/hari.
Efek samping Lithium:
- Efek neurologik:
o Ringan, nontoxic: disforia, tidak spontan, perlambatan waktu
reaksi, kesulitan memori.
o Tremor: postural, kadang-kadang efek ekstrapiramidal.
o Toxic: tremor, disartria, ataxia, iritabilitas neuromuskular, kejang-
kejang, koma, kematian.
o Lain-lain: neuropati perifer, peningkatan tekanan intrakranial
ringan, hipertensi, myasthenia gravis like syndrome, penurunan
ambang kejang.
- Endocrine:
o Thyroid: goiter, hipotiroid, exopthalmus, hipertiroidism.
o Parathyroid: hipertiroidism, adenoma.
- Kardiovaskular:
o Benign T-wave changes, sinus node dysfunction
- Renal:
o Concentrating defect, perubahan morfologis, poliuria (diabetes
insipidus), penurunan GFR, sindroma nefrotik, asidosis renal
tubular.
- Kulit:
o Jerawat, rambut rontok, psoriasis, rash
- Saluran cerna:
o Penurunan nafsu makan, mual, muntah, diare.
- Lain-lain:
o Perubahan metabolisme karbohidrat, peningkatan berat badan,
retensi air.

Cara Kerja
Dikatakan bahwa Lithium memiliki efek akut dan kronis dalam pelepasan
serotonin dan norepinefrin di neuron terminal SSP. Dalam konsentrasi tinggi
berefek juga dalam pompa ion transpor membran. Secara teoritis dihipotesiskan 3
cara kerja lithium, yaitu hipotesis Inositol Depletion, Regulasi wnt Pathway dan
Synthase Kinase 3beta, serta regulasi Lithium terhadap Adenyl Cyclase. Walaupun
cara kerjanya tidak dapat dijelaskan dengan tepat, tetapi ditemukan bahwa Lithium
sangat bermanfaat dalam pengobatan Gangguan Afektif.
Indikasi utama pemakaian Lithium adalah untuk gangguan afektif bipolar
khususnya episode amnik, dengan dosis efektif kadar obat dalam plasma mencapai
1,5 mEq/L dapat berakibat toksik terhadap ginjal. Efek samping yang dapat terjadi
adalah:
1. Tremor halus
2. Diare & muntah-muntah
3. Rasa lelah & vertigo
4. Ataksia & tremor kasar
5. Penurunan kesadaran
6. Konvulsi
7. Oliguria bahkan dapat terjadi anuria
8. Edem

LITHIUM
Lithium (askalith, lithobid, lithonate) adalah terapi jangka pendek, jangka
panjang, dan terapi profilaktik yang paling lazim digunakan untuk gangguan bipolar
1. Obat ini juga digunakan sebagai obat tambahan di dalam terapi gangguan
depresif berat, gangguan skizo afektif, skizofrenia yang resisten terapi, anoreksia
nervosa, dan bulimia nervosa serta untuk mengendalikan agresi kronis pada anak
maupun dewasa.
Kerja Farmakologis
Setelah konsumsi, lithium diabsorpsi seutuhnya oleh saluran
gastrointestinal. Puncak kadar serum dalam 1 hingga 1,5 jam untuk sediaan standar
dan 4 hingga 4,5 jam untuk sediaan lepas terkendali. Lithium tidak terikat dengan
protein plasma, tidak dimetabolisme, dan didistribusikan dengan tidak sama di
seluruh air tubuh. Lithium tidak melintasi sawar darah otak dengan cepat, suatu
fakta yang mungkin menjelaskan mengapa overdosis biasanya tidak menjadi
masalah dan mengapa intoksikasi lithium membutuhkan waktu yang lama untuk
benar-benar pulih. Waktu paruh lithium biasanya 20 jam dan ekuilibrium dicapai
setelah 5 hingga 7 jam setelah asupan regular. Lithium hampir seluruhnya di
eliminasi oleh ginjal. Karena lithium diabsorpsi oleh tubulus proksimal, bersihan
lithium kira-kira seperlima bersihan kreatinin. Pembersihan lithium oleh ginjal
menurun pada insufisiensi ginjal (lazim pada orang yang berusia lebih tua) dan pada
puerperium serta meningkat selam kehamilan. Lithium diekskresi di dalam ASI dan
dalam jumlah yang tidak signifikan di feses serta keringat. Mekanisme kerja
terapeutik lithium masih belum pasti. Kemiripan ion lithium dengan ion natrium,
kaium, kalsium, dan magnesium mungkin terkait dengan efek terapeutiknya.
Efek Pada Organ dan Sistem Spesifik
Lithium paling sering mempengaruhi tiroid, jantung, ginjal, dan sistem
hematopoietik. Lithium menghambat pelepasan hormon tiroid dari tiroid dan dapat
menimbulkan hipotiroidisme atau struma; yaitu gangguan yang lebih sering
mengenai perempuan dibandingkan laki-laki. Lithium juga menggangu fungsi
nodus sinus yang menimbulkan blokade jantung pada orang yang rentan. Lithium
mengurangi kemampuan ginjal untuk memekatkan urine. Meskipun efek ini
biasanya secara klinis tidak signifikan, hal ini tidak selalu reversibel setelah
menghentikan penggunaan lithium. Fibrosis interstitial nonspesifik patologis
dilaporkan karena ada temua postmortem pada sejumlah orang yan pernah di terapi
lama dengan lithium, tetapi hal ini merupakan hasil yang tidak biasa. Efek utama
lithium pada sistem hematopoietik adalah peningkatan produksi leukosit yan secara
klinis tidak signifikan.
Indikasi Terapeutik
Gangguan Bipolar 1
Episode manik
Kira-kira 80% pasien manik berespons terhadap terapi lithium, meskipun
respons lithium sendiri dapat memerlukan waktu 1 hingga 3 minggu terapi pada
konsentrasi terapeutik, karena keterlambatan respons terhadap terapi dengan
lithium, benzodiazepine (clonazepam dan lorazepam) atau antipsikotik digunakan
1 hingga 3 minggu pertama untuk mendapatkan pemulihan mania segera. Prediktor
respons yang buruk terhadap lithium pada terapi episode manik mencakupp episode
campuran dan episode manik disforik, siklus cepat, dan gangguan terkait zat yang
juga terjadi bersamaan. Lithium efektif sebagai profilaksis jangka panjang untuk
episode manik dan depresif pada kira-kira 70-80% orang dengan gangguan bipolar
1.
Episode depresif
Lithium efektif di dalam terapi gangguan depresif berat dan depresi yang
terkait gangguan bipolar 1. Karena antidepresan dapat mencetuskan mania pada
orang dengan gangguan bipolar, monoterapi dengan lithium adalah terapi yang
ideal untuk mania dan depresi pada orang dengan gangguan bipolar. Lithium juga
dapat diresepkan dengan antidepresan sebagai rumatan jangka panjang orang
dengan gangguan bipolar. Obat trisiklik dan tetrasiklik dianggap lebih besar
kemungkinannya untuk mencetuskan mania berat dibandingkan bupropion atau
SSRI. Penguatan terapi lithium dengan valproat atau karbamazepin biasanya
ditolerensi dengan baik, dengan sedikit resiko tercetusnya mania.
Skizofrenia
Gejala pada seperlima hingga setengah dari semua pasien dengan
skizofrenia jauh berkurang jika lithium diberikan bersamaan dengan obat
antipsikotik. Keuntungan terapeutik lithium tidak berhubungan dengan ada atau
tidaknya gejala afektif pada pasien ini. Sejumlah pasien skizofrenia yang tidak
dapat mengkonsumsi obat antipsikotik bisa mendapatkan keuntungan dari terapi
dengan lithium saja. Ledakan agresif intermiten pada beberapa pasien dengan
skizofrenia juga dapat dikurangi dengan terapi lithium.
Gangguan Skizoafektif dan Skizofrenia
Di antara orang-orang dengan gangguan skizoafektif, mereka dengan gejala
mood yang dominan lebih cenderung memberikan sespons terhadap lithium
dibandingkan mereka dengan gejala psikotik yang dominan. Antagonis serotonin-
dopamin (SDA) dan antagonis reseptor dopamin adalah terapi pilihan untuk orang
dengan gangguan skizoafektif, sedangkan lithium merupakan agen tambahan yang
berguna, terutama untuk orang yang gejalanya resisten terhadap terapi dengan SDA
dan antagonis reseptor dopamin. Meskipun demikian, penambahan lithium pada
terapi SDA atau antagonis respetor dopamin dapat efektif pada orang dengan
gangguan skizoafektif, bahkan saat tidak adanya komponen gangguan mood yang
menonjol.
Agresi
Lithium telah digunakan untuk terapi ledakan agresif pada pasien degan
skizofrenia, penghuni penjara, anak-anak dengan gangguan tingkah laku dan pasien
retardasi mental. Lebih sedikit sukses dilaporkan di dalam terapi agresivitas akibat
trauma kepala dan epilepsi. Obat lain untuk terapi agresi mencakup antikonvulsan,
antagonis resptor ß-adrenergik, dan antipsikotik. Terapi pasien agresif memerlukan
pendekatan yang fleksibel di dalam penggunaan obat ini bersamaan dengan strategi
terapi perilaku dan psikososial.
Rumatan
Terapi rumatan dengan lithium secara nyata menurunkan frekuensi,
keparahan, dan lama episode manik serta depresif pada orang dengan gangguan
bipolar 1. Lithium memberikan profilaksis yang relatif lebih efektif untuk mania
dibandingkan untuk depresi serta strategi antidepresan tambahan dapat diperlukan
baik secara intermiten atau terus-menerus. Rumatan lithium hampir selalu
diindikasikan setelah episode kedua depresi atau mania gangguan bipolar 1 dan
harus dipertimbangkan setelah episode pertama untuk remaja atau untuk orang-
orang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bipolar 1. Orang lain yang
mendapatkan keuntungan dari rumatan lithium adalah mereka yang memiliki sistem
dukungan yang buruk, meliki resiko tinggi bunuh diri, awitan episode pertama yang
mendadak, tidak memiliki faktor pencetus utnuk episode pertama, atau mengalami
episode mania. Studi klinis menunjukkan bahwa lithium menurunkan insiden
bunuh duru pada pasien gangguan bipolar 1 enam hingga tujuh kali lipat. Lithium
juga merupakan terapi yang efektif untuk orang dengan gangguan siklotimik berat.
Memulai terapi rumatan setelah episode manik yang pertama dianggap
bijaksana berdasarkan pada beberapa pengamatan. Pertama, setiap episode mania
meningkatkan resiko terjadinya episode berikutnya. Kedua, di antara orang-orang
yang responsif terhadap lithium, kekambuhan 30 kali lebih besar kemungkinannya
setelah lithium dihentikan. Ketiga, laporan kasus menggambarkan orang yang
awalnya berespons lagi terhadap lithium, berhenti menggunakannya, dan kemudian
mengalami kekambuhan tetapi pada episode berikutnya tidak berespons lagi
terhadap lithium. Terapi rumatan lithium yang berkelanjutan sering disertai dengan
meningkatnya efektivitas serta menurunnya mortilitas. Dengan demikian, suatu
episode depresi atau mania yang terjadi setelah rumatan lithium dengan waktu yang
relatif singkat tidak selalu menunjukkan kegagalan terapi. Meskipun demikian,
terapi lithium saja dapat mulai kehilangan efektivitasnya setelah beberapa tahun
penggunan yang berhasil. Jika hal ini terjadi, terapi tambahan dengan antikonvulsan
dapat berguna.
Dosis rumatan lithium sering dapat disesuaikan untuk mendapatkan
konsentrasi plasma yang lebih rendah dari yang diperlukan untuk terapi mania akut.
Jika penggunaan lithium akan dihentikan, dosis harus diturunkan bertahap secara
perlahan. Penghentian terapi lithium secara mendadak disertai dengan
meningkatnya resiko kekambuhan episode manik dan depresif.
Perhatian dan Efek Samping
Efek samping terapi lithium yang paling lazim adalah meningkatnya rasa
haus, poliuria, gangguan lambung, berat badan bertambah, tremor, lelah, dan
hendaya kognitif ringan. Gangguan lambung dapat mencakup mual, muntah, dan
diare serta sering diredakan dengan membagi lagi dosis, memberikan lithium
bersamaan dengan makanan, atau mengganti dengan berbagai sediaan lithium lain.,
bertambahnya berat badan serta edema tidak mungkin diterapi kecuali dengan
mendorong pasien untuk mengurangi makan dan cukup olahraga. Tremor terutama
mengenai jari kadang-kadang dapat memburuk pada kadar puncak obat. Gangguan
ini dapat dikurangi dengan membagi lagi dosis. Efek samping neurologis yang
jarang mencakup gejala parkinson ringan, ataksia, dan disartria. Pasien dengan
gangguan otak memiliki resiko mengalami neurotoksisitas. Lithium dapat
memperburuk penyakit parkinson. Lithium harus digunakan dengan hati-hati pada
pasien diabetik karena dapat mencetuskan bangkitan atau memperburuk gangguan
bangkitan. Pasien yang mengalami dehidrasi, lemah, atau memiliki penyakit medis
rentan terhadap efek samping dan toksisitas. Leukositoasis merupakan efek
samping yang lazim terhadap terapi lithium.
Interaksi Obat
Lithium telah berhasil digunakan bersama dengan antagonis reseptor
dopamin selama beberapa tahun. Meskipun demikian, pemberian bersamaan
antagonis reseptor dopamin dosis tinggi denga lithium dapat mengakibatkan
peningkatan sinergis gejala efek samping neurologis yang dicetuskan lithium.
Interaksi ini dapat terjadi dengan penggunaan antagonis reseptor dopamin apapun.
Pemberian lithium dan antikonvulsan bersamaan dapat meningkatkan
konsentrasi lithium dan memperberat efek samping neurologis yang dicetuskan
lithium. Meskipun demikian, jika digunakan dengan bijaksana, pemberian lithium
dan antikonvulsan bersamaan dapat memberikan keuntungan terapeutik pada
beberapa orang. Terapi kombinasi harus dimulai dengan dosis yang sedikit lebih
kecil dari biasanya, dan dosis harus ditingkatkan secara bertahap. Perubahan dari
satu terapi mania ke terapi lain harus dilakukan dengan hati-hati, dengan sesedikit
mungkin tumpang tindih waktu di antara obat-obat tersebut.
Sebagian besar diuretik dapat meningkatkan konsentrasi lithium, ketika
terapi dengan diuretik tersebut dihentikan, klinisi mungkin perlu meningkatkan
dosis lithium harian seseorang. Diuretik loop dan osmotik, inhibitor carbonate
anhydrase, dan zanthine dapat mengurangi konsentrasi lithium di bawah
konsentrasi terapeutik. ACE inhibitors dapat menyebabkan peningkatan
konsentrasi lithium, sedangkan inhibitor reseptor angiotensin II losartan dan
irbesartan tidak mengubah konsentrasi lithium. Suatu kisaran luas obat anti-
inflamasi nonsteroid dapat menurunkan bersihan lithium sehinggan meningkatkan
kensentrasi lithium.
Pemberian lithium dan quetiapine secara bersamaan dapat menimbulkan
somnolen tetapi dapat ditoleransi dengan dengan baik. Pemberian lithium dan
inhibitor saluran kalsium secara bersamaan harus dihindari karena potensi
neurotoksisitas yang fatal. Pemberian lithium dengan ziprasidone secara bersamaan
dapat sedikit meningkatkan insiden tremor.
Seseorang yang mengkonsumsi lithium dan akan menjalani terapi
elektrokonvulsi harus menghentikan konsumsi lithium 2 hari sebelum mulai terapi
untuk mengurangi resiko delirium akibat pemberian dua terapi ini secara
bersamaan.
Penghentian Obat
Penggunaan lithium dihentikan jika tidak efektif atau tidak di toleransi.
Pasien dapat menghentikan obat untuk alasan lain, seperti hilangnya kreativitas
yang ia rasakan ataupun yang sebenarnya, merasa telah sembuh, atau tidak suka
merasa dikendalikan oleh obat. Setelah suatu periode stabilitas dengan terapi
rumatan, suatu percobaan untuk menghentikan lithium dapat dipertimbangkan,
meskipun resiko kekambuhan juga cukup besar (terutama jika terdapat beberapa
episode sebelumnya), dan ada laporan kegagalan berespons terhadap lithium ketika
terapi dimulai kembali. Penghentian harus dilakukan bertahap selama beberapa
minggu, karena semakin mendadak penghentian obat, semakin besar kemungkinan
terjadi kekambuhan dini depresi atau mania. Mengajari pasien dan orang lain yang
signifikan untuk mengenali tanda-tanda dini kekambuhan merupakan bagian
penting proses penghentian obat.
Edukasi Obat
Orang yang mengkonsumsi lithium harus diberi nasihat bahwa perubahan
kandungan garam dan air tubuh dapat mempengaruhi jumlah lithium yang
diekskresi sehingga mengakibatkan konsentrasi lithium meningkat atau berkurang.
Asupan natrium berlebihan menurunkan konsentrasi lithium. Sebaliknya, terlalu
sedikit natrium dapat menyebabkan konsentrasi lithium yang berpotensi toksik.
Berkurangnya cairan tubuh dapat menyebabkan dehidrasi dan intoksikasi lithium.
DAFTAR PUSTAKA

Arozal, W. and Gan, S. (2012). Psikotropik. In: Gan, S., Nafrialdi, RS., and
Elysabeth. Farmakologi dan Terapi UI. 5th ed. Jakarta: Departemen Farmakologi
FKUI. 161-178.

Baldwin, DS. and Tiwari, N. (2016). Anxiolytic and Hypnotic Drugs. In:
Anderson, IM. and Mcallister, Rh. Fundamentals of Clinical Psychopharmacology.
4th ed. Broken Sound Parkway: Taylor & Francis Group. 125-140.

Elvira, SD. and Hadisukanto, G. (2017). Buku Ajar Psikiatri . 3rd ed. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI. 228-303.

Maslim, R. (2014). Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. 4th ed. Jakarta: FK


Unika Atma Jaya. 26-61.

Stahl, SM. (2013). Stahl's Essential Psychopharmacology. 4th ed. New York:
Cambridge University Press. 284-388.