Anda di halaman 1dari 14

Penggunaan Media Pembelajaran pada Perkembangan Kognitif Anak pada

Mata Pelajaran MATEMATIKA Materi Menghitung Luas Permukaan Bangun


Ruang

LAPORAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
Bidang Studi

Fajrinn Eprillia

NIM. 1600015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

KAMPUS SUMEDANG
LAPORAN TUGAS AKHIR
PERMASALAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG
DIALAMI SISWA SEKOLAH DASAR

ABSTRAK

Belajar dapat dikatakan mempelajari suatu hal yang bersifat baru. Belajar berarti dari
yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa dan lain sebagainya.
Belajar dapat dilakukan oleh siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Pada pembelajaran mata pelajaran matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang
diajarkan di SD bertujan untuk melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif
dan konsisten. Anak diharapkan terampil menerapkannyya dalam kehidupan sehari-hari,
tetapi kenyataan dilapangan anak-anak banyak mengalami kesulitan terutama kemampuan
menghitung luas permukaan bangun ruang. Terjadinya pembelajaran kurang efektif karena
dalam pembelajaran tidak menggunakan media yang konkret untuk siswa. Agar kemampuan
menghitung luas di SD dapat ditingkatkan maka dapat memanfaatkan sumber belajar sekitar
siswa yang berupa benda-benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam
memecahkan masalah, hal itulah sebagai cara untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di
SDN CIMUJA.

Kata kunci : konkrit, minat belajar, pembelajaran matematika


A. Pendahuluan
Belajar merupakan kebutuhan setiap orang baik anak-anak maupun orang
dewasa. Pada tahap anak-anak belajar tidak bisa selamanya dikatakan belajar
karena pada dasarnya anak-anak masih bermain. Dalam pembelajaran
matematika, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan
peserta didik mulai dari sekolah dasar. Pembekalan dasar Matematika
dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis,
analitis, sistematis, kreatif dan kemampuan bekerja sama. Matematika masih
dipandang sebagai salah satu bidang studi yang tidak disenangi atau bahkan
paling dibenci, masih melekat pada kebanyakan siswa yang mempelajarinya.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suattu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan batuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan, kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan
kepeercayaan diri peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
membentuk peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat
berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang
mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai notasi yang berbeda. Dalam
konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan
menguasai pelajararan sehingga mencapai suatu objek yang ditentukan (aspek
kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta
keterampilan (aspek psikomotor) peserta didik. Pengajaran memberi kesan
sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pengajaran
juga mensyaratkan adanya interaksi antara guru dan peserta didik.
Dalam suatu pembelajaran tidak semua pembelajaran selalu berhasil, namun
ada hal yang sering mengakibatkan kegagalan ataupun menjadi gangguan. Seperti
ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran dan
pengajaran, baik itu faktor internal maupun eksternal. Begitu pula dalam belajar
matematika, banyak siswa yang mengalami banyak kegagalan dalam meencapai
tujuan belajar. Siswa yang mengalami kegagalan dalam pembelajaran Matematika
sering mengatakan bahwa matematika itu sulit dipelajari. Banyak kendala yang
sering dialami peserta didik dalam pembelajaran matematika di sekolah. Banyak
siswa yang memiliki kesulitan dalam memecahkan soal.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu
sama lain. Belajar menunjukan kepada apa yang harus dilakukan seseorang
sebagai penerima pelajaran (siswa), sedangkan mengajar menunjukan kepada apa
yang harus dilakukkan oleh seorang guru yang manjadi pengajar. Jadi belajar
mengajar suatu proses interaksi antara guru dan siswa pada saat proses
pengajaran. Proses penggajaran akan berhasil, selain di tentukan oleh kemampuan
guru dalam menentukan metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran juga
ditentukan oleh minat belajar siswa. salah satu Belajar sangat erat kaitannya
dengan pengetahuan atau yang biasa disebut kognitif. Perkembangan kognitif
anak berbeda-beda tergantung usia anak. Bahkan ketika usia mereka sama pun
perkembangan kognitif anak masih berbeda pula. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor seperti tingkat kecerdasan, cara belajar, faktor lingkungan dan
lain-lain. Ada beberapa periode perkembangan kognitif yang terbagi-bagi
berdasarkan usia anak. Karena perkembangan kognitif yang berbeda inilah kita
sebagai calon guru harus bisa pintar-pintar menyampaikan materi pelajaran.
Sebagai calon guru, kita semestinya mengetahui bahwa tidak semua materi
yang diberikan kepada siswa akan mudah dan langsung diserap oleh siswa.
Apalagi dalam mata pelajaran IPA banyak istilah-istilah dan konsep-konsep IPA
yang tidak cukup disampaikan oleh guru ketika menjelaskan di depan kelas
karena konsep tersebut cukup rumit untuk anak sekolah dasar. Oleh karena itu
selain harus menggunakan model dan pendekatan tertentu saat mengajar, seorang
guru juga harus mengetahui perkembangan psikologi siswa itu sendiri.
Pada tahap perkembangan kognitif ada satu periode yang disebut Periode
Operasional Konkrit. Periode ini dimulai saat anak berumur 7-11 tahun. Umur 7-
11 tahun berarti anak sudah memasuki usia sekolah dasar. Pada periode ini anak
perlu belajar dari sesuatu yang bersifat konkrit. Nah disinilah perannya media
pembelajaran. Media pembelajaran berfungsi sebagai pesan atau perantara dari
guru ke peserta didik dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Apalagi dalam
mata pelajaran IPA, media sangat diperlukan. Banyak konsep-konsep IPA yang
tidak dimengerti oleh anak bisa tersampaikan mealui media pembelajaran. Oleh
karena itu sebagai calon guru menyadari pentingnya penggunaan media
pembelajaran pada perkembangan kognitif anak pada mata pelajaran IPA adalah
alasan saya memilih judul “Penggunaan Media Pembelajaran pada Perkembangan
Kognitif Anak pada Mata Pelajaran IPA Materi Perubahan Wujud Benda” untuk
mini research yang sedang saya kaji.

B. Temuan dan Pembahasan


1. Temuan Penelitian
Muhamad Farid Miftah yang akrab dipanggil Farid adalah seorang
anak berumur 10 tahun kelas 3 SD. Farid bersekolah di SD Negeri 1
Cipeujeuh Wetan Kecamatan Lemahabang Kabupaten Sumedang. Di sekolah
ini Farid adalah murid pindahan ketika di kelas 2. Dahulu Farid bersekolah di
SDN 4 Karang Mekar Kecamatan Karang Sembung yang terletak dekat
dengan rumah neneknya. Namun setelah, ayahnya dipindah tugaskan Farid
dan keluarganya pindah rumah agar tidak terlalu jauh dari tempat ayahnya
bekerja dan otomatis sekolahnya pun ikut pindah. Sekarang Farid tinggal di
BTN Sindang Indah Desa Asem Kecamatan Lemahabang dia mempunyai
seorang adik. Ibunya ibu rumah tangga biasa dan ayahnya bekerja sebagai
supervisor PT. BAF Financy Cabang Cirebon.
Farid yang sekarang duduk di kelas 3 menyukai pelajaran IPA
alasannya pelajaran IPA menarik dan dari IPA dia bisa menemukan hal baru,
selain itu menurutnya IPA adalah pelajaran yang nyata karena semuanya ada
di lingkungan sekitarnya. Tema yang sekarang sedang dipelajari yaitu Tema 3
Perubahan di Alam dengan subtema Perubahan wujud. Ketika ditanya
bagaimana cara guru menerangkannya Farid menjawab “cuma disuruh nulis
aja habis itu ngisi LKS”. Ketika ditanya mengerti atau tidak dengan yang
diterangkan oleh guru dengan polosnya Farid menjawab “tidak”. Ini artinya
konsep pembelajaran kurang bermakna dan berkesan bagi anak. Ditambah
lagi Farid adalah gaya belajar yang visual, ia lebih suka melihat bendanya
secara langsung yang nantinya akan terus ia ingat. Bukan hanya sekedar
dibayang-bayangkan atau diimajinasikan semata.
2. Pembahasan
Anak-anak merupakan individu yang sangat peka akan hal baru.
Menurut mereka segala hal yang ada di lingkungan adalah hal baru yang bisa
mereka pelajari. Alam sekitar bagi mereka adalah hal yang menarik untuk
dipelajari, dari alam sekitar banyak hal-hal baru yang bisa dilihat, diraba,
didengar dan dirasakan. Terlebih lagi di sekolah mereka terdapat mata
pelajaran yang berkaitan dengan alam yaitu mata pelajaran IPA. Tentunya
bukan hal yang mudah bagi anak-anak dalam menerima hal baru. Proses
berfikir anak yang dipengaruhi oleh perkembangan kognitif adalah salah satu
faktornya. Proses berfikir mereka masih sederhana dan bersifat konkrit. Di
sekolah mereka berharap bisa menemukan dan mempelajari hal baru dengan
guru mereka. Namun apa jadinya jika guru yang mereka harapkan dapat
membawa hal baru malah menyulitkan bagi mereka dan akhirnya tujuan
pembelajaran tidak tercapai dengan maksimal.
Hal inilah yang dialami oleh Farid. Farid tidak mengerti dengan apa
yang diajarkan oleh gurunya. Karena gurunya hanya menyuruh Farid dan
anak-anak lainnya menulis kemudian mengisi LKS. Gurunya tidak pernah
membawa alat-alat atau media apapun ketika mengajar. Materi yang sedang
diajarkannya saat tentang perubahan wujud benda. Padahal materi yang
sedang diajarkan membutuhkan media pembelajaran yang sederhana, mudah
dibuat dan digunakan. Anak-anak seusia Farid membutuhkan objek belajar
yang bersifat konkrit karena perkembangan kognitif mereka yang baru
mencapai tahap operasional konkrit.
Menurut Teori Perkembangan Kognitif yang dikembangkan oleh Jean
Piaget, seorang psikologi Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teori ini
menjelaskan banyak konsep utama dalam lapangan perkembangan psikologi
perkembangan dan berpengaruh terhadap konsep kecerdasan. Menurut teori
perkembangan kognitif, anak membangun kemampuan kognitifnya melalui
tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Proses
perkembangan seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan
lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut seorang akan memperolah skema.
Dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan
maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Piaget membagi skema yang
digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama
yaitu:
a. Periode Sensorimotor (0-2 tahun)
b. Periode Praoperasional (2-7 tahun)
c. Periode Operasional Konkrit (7-11 tahun)
d. Periode Operasional Formal (11 tahun sampai dewasa)
Namun yang akan dibahas pada kajian kali ini yaitu hanya periode
operasional konkrit. Pada periode ini, anak sudah cukup matang untuk
menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat
itu. Pada anak sudah memilikii kemampuan konservasi, klasifikasi, seriasi dan
konsep angka. Proses berpikir anak pada tahap ini berpusat pada peristiwa-
peristiwa konkrit yang terlihat oleh anak. Anak dapat menyelesaikan masalah
yang melibatkan operasi yang kompleks asalkan konkrit dan tidak abstrak.
Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda
dan peristiwa-peristiwa yang konkrit. Dalam tahap ini, anak telah hilang
kecenderungan terhadap animism dan artificialisme. Animisme menurut tahap
perkembangan kognitif adalah anggapan anak bahwa semua benda itu hidup
seperti dirinya. Artificialism adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu di
lingkungan itu mempunyai jiwa seperti manusia Egosentrisnya berkurang dan
kemampuannya dalam tugas-tugas konservasi menjadi lebih baik. Sifat
egosentris disini maksudnya anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang
orang lain. Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada
tahap operasional kongkrit masih mengalami kesulitan besar dalam
menyelesaikan tugas-tugas logika.
Proses-proses penting selama tahapan ini meliputi:
a. Pengurutan. Merupakan kemampuan untuk mengurutkan objek menurut
ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.
b. Klasifikasi. Merupakan kemampuan untuk memberi nama dan
mengidentifikasi serangkaian benda menurut, tampilannya, ukurannya,
atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda
dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.
c. Decentering. Anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu
permasalahan untuk bisa memecahkannya.
d. Reversibility. Anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda
dapat diubah, kemudian dikembalikan ke keadaan awal.
e. Konservasi. Memahami bahwa kuantitas, panjang atau jumlah-jumlah
benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari
objek atau benda-benda tersebut.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pada periode operasional
konkrit ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan
peristiwa-peristiwa yang konkrit. Proses berpikir anak berpusat pada
peristiwa-peristiwa konkrit yang terlihat oleh anak. Anak dapat menyelesaikan
masalah yang melibatkan operasi yang kompleks asalkan konkrit, tidak
abstrak dan bukan lagi hal yang bersifat imajinasi. Sebagai jembatan pada
tahap perkembangan kognitif inilah dalam kegiatan pembelajaran anak
membutuhkan sebuah media.
Kata “media” berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak dari kata
“medium”. Secara bahasa kata tersebut berarti perantara atau pengantar.
National Education Asociation (NEA) (dalam Rudi Susilana & Cepi
Riyana, 2009, hlm. 6) memberikan batasan bahwa “media merupakan
sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk
teknologi perangkat kerasnya”.
Kegiatan belajar mengajar pada hakikatnya merupakan proses
komunikasi. Dalam proses komunikasi ini, guru berperan sebagai
komunikator yang akan menyampaikan pesan/bahan ajar kepada siswa
sebagai penerima pesan. Agar pesan/bahan ajar yang disampaikan guru dapat
diterima oleh siswa maka diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media
pembelajaran.
Atep Sujana (2016, hlm. 120) mengemukakan bahwa “media
pembelajaran merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan
pesan/materi pembelajaran kepada siswa baik berupa benda mati maupun
benda hidup yang dapat mempermudah siswa dalam memahami isi pesan
(materi pelajaran) yang disampaikan oleh guru”.

Media pembelajaran terdiri dari dua unsur yaitu unsur peralatan atau
unsur keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (massage/software).
Jadi yang perlu digarisbawahi media pembelajaran memerlukan peralatan
untuk menyampaikan pesan tersebut, tetapi bukan peralatannya yang
terpenting melainkan pesan yang akan disampaikannya yang paling penting.
Rudi Susilana & Cepi Riyana (2009, hlm. 10-11) menyebutkan
bahwa media pembelajaran memilki nilai dan manfaat sebagai berikut:
a. Membuat konkrit konsep-konsep yang abstrak. Konsep-konsep yang
dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung
kepada siswa bisa dikonkritkan atau disederhanakan melalui
pemanfaatan media pembelajaran.
b. Menghadirkan objek-objek yang terlalu bahaya atau sukar didapat ke
dalam lingkungan belajar.
c. Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil
d. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat. Dengan
menggunakan teknik gerakan lambat (slow motion) dalam media film
bisa memperlihatkan tentang lintasan peluru, melesatnya anak panah,
atau memperlihatkan suatu ledakan. Demikian juga gerakan-gerakan
yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga
wijaya kusumah dan lain-lain.

Media pembelajaran secara umum dikelompokkan menjadi media audio,


media visual, media audio-visual dan multimedia.
a. Media audio yaitu media yang hanya dapat dirasakan oleh indera
pendengaran dan hanya mampu memanipulasi kemampuan suara semata.
b. Media visual yaitu media yang hanya dapat dirasakan oleh indera
penglihatan.
c. Media audio visual yaitu media yang dapat dirasakan oleh dua indera yaitu
indera pendengaran sekaligus media penglihatan dalam satu proses.
d. Multimedia adalah media yang dapat dirasakan oleh berbagai indera.
Media ini termasuk pengalaman secara langsung bisa melalui komputer
dan internet. Termasuk juga pengalaman berbuat yaitu lingkungan nyata
dan pengalaman pengalaman terlibat seperti permainan, simulasi, dan lain-
lain.
Zainal Aqib (2013, hlm. 52) menyebutkn bahwa jenis dan karakteristik
media pembelajaran yaitu:
a. Media Grafis (simbol-simbol komunikasi visual)
1) Gambar/foto.
2) Sketsa.
3) Diagram.
4) Bagan/Chart.
5) Grafik/Graphs.
6) Kartun.
7) Poster.
8) Peta/Globe.
9) Papan flannel.
10) Papan buletin.
b. Media Audio (dikaitkan dengan indera pendengaran).
1) Radio.
2) Alat perekam pita magnetik.
c. Multimedia (dibantu proyektor LCD), misalnya file program komputer
multimedia.

Semua jenis media pembelajaran cocok digunakan untuk semua mata


pelajaran apapun. Tidak ada pengelompokkan khusus tentang jenis media apa
yang harus digunakan dalam setiap mata pelajaran. Mata pelajaran IPA penuh
dengan konsepan dan istilah-istilah yang terkandung di dalamnya. Konsep-
konsep IPA dan istilah-istilah di dalamnya tidak semua anak bisa
menerimanya dengan mudah dan cepat dimengerti. Agar materi pelajaran IPA
lebih mudah dimengerti oleh anak seorang guru perlu membawa sebuah
media selain itu memudahkan tujuan pembelajaran tercapai. Dalam mini
research ini yang akan dikaji yaitu media visual. Karena media visual
dianggap cocok untuk mata pelajaran IPA dan materi yang berhubungan
dengan mini research yang sedang saya kaji yaitu materi perubahan wujud
benda.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya media visual adalah media
yang hanya dapat dirasakan dan melibatkan indera pendengaran. Dalam media
visual terdapat dua jenis pesan yang dimuat yaitu
a. Pesan verbal
Pesan verbal-visual terdiri atas kata-kata verbal (bahasa verbal) dalam
bentuk tulisan.
b. Nonverbal
Pesan nonverbal-visual adalah pesan yang dituangkan ke dalam simbol-
simbol nonverbal-visual.
Azhar Arsyad (dalam Yudhi Munadi, 2013, hlm. 81) mengemukakan
secara garis besar unsur-unsur yang terdapat pada media visual terdiri
garis, bentuk, warna, dan tekstur.

Proses komunikasi mencakup pengiriman pesan dari sistem saraf


seseorang ke sistem saraf orang lain, dengan maksud untuk menghasilkan
makna yang serupa dengan ada yang di dalam pikiran si pengirim. Pesan
verbal melakukan hal tersebut melalui kata-kata, yang merupakan unsur dasar
bahasa, dan kata-kata sudah jelas merupakan simbol verbal. “Kata” hanya
mempunyai “makna” setelah ia diasosiasikan dengan “referen/rujukan”.
Setiap simbol verbal memiliki tingkatan, mulai dari yang sederhana hingga
yang paling rumit. Bila simbol-simbol kata verbal tersebut hanya merujuk
pada benda, maka masalah komunikasi menjadi sederhana. Namun bila
simbol verbal merujuk pada peristiwa, sifat sesuatu, tindakan, hubungan,
konsep dan lain-lain maka masalah komunikasi jadi bertambah rumit dan pada
tingkat tertentu bisa terjadi komunikasi yang tidak efektif.
Untuk menghindari komunikasi yang tidak efektif dalam proses
pembelajaran hendaknya guru disamping mengetahui karakteristik simbol
(bahasa) verbal juga dapat membantu siswa pada pemahaman kata-kata verbal
dengan cara menunjukkan referennya, yakni menghadirkan simbol-simbol
nonverbal dalam proses pembelajaran diantaranya seperti gambar, grafik,
diagram, bagan dan peta yang dituangkan dalam berbagai penyalur pesan
visual (media visual) secara variatif.
Karakteristik media visual terdiri dari:
a. Pesan visual. Seperti gambar, grafik, diagram, bagan, dan peta.
b. Penyalur pesan Visual Verbal-Nonverbal-Grafis. Seperti buku dan modul,
komik, majalah dan jurnal, poster, dan papan visual.
c. Benda asli dan benda tiruan.
Pada materi perubahan wujud benda guru bisa menggunakan media visual
berupa benda asli. Benda-benda asli yang dipilih untuk pengajaran sebaiknya
dibedakan berdasarkan tujuan benda tersebut digunakan. Perubahan wujud
benda terlebih dahulu siswa belajar tentang benda padat, benda cair dan benda
gas serta sifat-sifat yang masing-masing dimiliki oleh benda tersebut
kemudian perubahan wujud benda seperti membeku, mencair, menyublim,
menguap, dan mengembun. Ketika proses pembelajaran guru bisa membawa
benda berwujud padat seperti balok kayu, benda berwujud cair seperti air di
dalam botol, dan benda berwujud gas seperti balon yang terisi angin. Untuk
mengetahui sifat-sifatnya bisa dengan melakukan beberapa percobaan. Misal
untuk mengetahui sifat benda cair. Berikut ini salah satu percobaan yang
tercantum di dalam Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013.
Percobaan Untuk Mengetahui Sifat Benda Cair
Alat dan bahan yang diperlukan
a. Air dan minyak
b. Ember
c. Gelas
d. Kantong plastik
Langkah-langkah percobaan
a. Tuanglah air ke dalam ember, gelas dan kantong plastik
b. Lakukan hal yang sama pada minyak
c. Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
Pada percobaan ini air dan minyak berfungsi sebagai media yang
berwujud konkrit berupa benda cair. Kemudian gelas, ember dan kantong
plastik sebagai media untuk mengetahui sifat benda cair. Semua media-media
yang ada merupakan media visual berupa benda asli dan bersifat konkrit.
C. Simpulan
Menurut Teori Perkembangan Kognitif periode operasional konkrit
dimulai pada umur 7-11 tahun. Periode operasional konkrit merupakan
periode dimana anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda
dan peristiwa-peristiwa yang konkrit. Ini artinya anak yang dalam rentang
umur itu sudah memasuki dunia sekolah. Mereka sudah mulai belajar secara
terstruktur. Sebagai jembatan pada tahap perkembangan kognitif inilah dalam
kegiatan pembelajaran anak membutuhkan sebuah media. Konsep-konsep
dalam mata pelajaran IPA yang sulit mereka cerna bisa mereka pahami
dengan menggunakan media pembelajaran yang ada di sekitar mereka atau
disediakan oleh guru. Penggunaan media bisa menjawab kesulitan anak dalam
memahami materi yang mereka terima.
Pada materi perubahan wujud benda guru menggunakan media visual
sebagai penyampai materi yang ingin disampaikan. Media visual adalah
media yang hanya dapat dirasakan dan melibatkan indera pendengaran. Media
visual yang digunakan pada materi perubahan wujud benda berupa benda asli
yang ada di sekitar lingkungan anak. Dengan menggunakan media visual
berupa benda asli anak menjadi paham dan mengerti tentang materi perubahan
wujud benda yang membahas sifat-sifat wujud benda padat, cair, dan gas serta
perubahan wujud benda seperti mencair, membeku, menyublim, menguap dan
mengembun. Karena media visual terlihat nyata atau konkrit di mata mereka
sehingga mereka mudah mengingatnya

D. Daftar Pustaka
Aqib, Z. (2013). Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual
(Inovatif). Bandung : PENERBIT YRAMA WIDYA.
Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Untuk SD/MI Kelas III. Jakarta :
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015.
Ibda, F. (2015). Perkembangan Kognitif : Teori Jean Piaget. Intelektualita, 3 (1),
hlm. 33-34.
Munadi, Yudhi. (2013). Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta
Selatan : REFERENSI GP Press Group
Sujana, Atep. (2016). Pendidikan IPA Di SD. Bandung : Nurani

Susilana, Rudi & Cepi Riyana. (2009). MEDIA PEMBELAJARAN: Hakikat,


Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung : CV.
WACANA PRIMA