Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ASKEP TROPIS INFEKSI MENULAR AKIBAT BAKTERI

(DISENTRI/DIARE)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penanganan Penyakit Daerah
Tropis (PPDT)

Dosen pengampu: Rahmawati Shoufiah,S.ST.,M.Pd

Disusun oleh:

1. Eka Sri Wanda Wardani P07220116091


2. Emil Dwi Rahayu P07220116092
3. Ester Yulan Marcelina P07220116093

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN

KELAS BALIKPAPAN

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,

karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ASKEP

TROPIS INFEKSI MENULAR AKIBAT BAKTERI (DISENTRI/DIARE). Meskipun

masih banyak kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi tugas

ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka

menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ASKEP TROPIS INFEKSI

MENULAR AKIBAT BAKTERI (DISENTRI/DIARE) dan beberapa hal yang

bersangkutan dengan materi tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam

makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami

berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat

dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang

membangun.

Balikpapan, 14 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................................................................. ii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................................................................... 2
C. Sistematika Penulisan ....................................................................................................................... 2
BAB II........................................................................................................................................................... 4
TINJAUAN TEORI ...................................................................................................................................... 4
A. Pengertian Diare/Disentri .................................................................................................................. 4
B. Etiologi.............................................................................................................................................. 4
C. Patofisiologi ...................................................................................................................................... 7
D. Manifestasi Klinis ............................................................................................................................. 8
E. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang .......................................................................................... 8
F. penatalaksanaan pemberian cairan dan monitoring pemberian cairan ............................................ 10
BAB III ....................................................................................................................................................... 11
PEMBAHASAN ASKEP ........................................................................................................................... 11
BAB IV ....................................................................................................................................................... 24
PENUTUP .................................................................................................................................................. 24
A. Kesimpulan ..................................................................................................................................... 24
B. Saran ............................................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................................. iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disentri merupakan tipe diare yang berbahayaa dan seringkali

menyebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain. Penyakit

ini dapat disebabkan oleh bakteri (disentri basiler) dan amoeba (disentri amoeba).

Di Amerika serikat, insiden disentri amoeba mencapai 1-5% sedangkan

disentri basiler dilaporkan kurang dari 500.000 kasus tiap tahunnya. Sedangkan

kejadian disentri amoeba di Indonesia sampai saat ini masih belum ada, akan

tetapi untuk disentri basiler dilaporkan 5 % dari 3848 orang penderita diare berat

menderita disentri basiler.

Kebanyakan kuman penyebab disentri basiler ditemukan di negara

berkembang dengan kesehatan lingkungan yang masih kurang. Disentri amoeba

hampir menyebar di seluruh dunia terutama di negara yang berkembang yang

berada di daerah tropis. Hal ini dikarenakan faktor kepadatan penduduk, hygiene

individu, sanitasi lingkungan dan keadaan sosial ekonomi serta cultural yang

menunjang. Spesies Entamoeba menyerang 10 % populasi di dunia. Prevalensi

yang tinggi mencapai 50 % di Asia, Afrika, dan Amerika selatan. Sedangkan

pada Shigella di Amerika serikat menyerang 150.000 kasus dan di negara-negara

yang berkembang Shigella flexeneri dan S. dysentriae menyebabkan 600.000

kematian per tahun.

1
Akibat penting dari disentri adalah penurunan berat badan, anoreksia dan

kerusakan usus karena bakteri invasive. Beberapa komplikasi lain juga dapat

terjadi. Penyebab utama disentri akut adalah Shigella, penyebab lain adalah

Campylobacter jejuni, E.coli enteroinvasive, salmonella dan entamuba

histolytica. Aeromonas juga diketahui sebagai bakteri penyebab diare disentri.

Dalam satu studi pasien diare dengan aeromonas positif, gejala klinis yang

muncul 30 % diare berdarah muntah-muntah, dan 31 % demam.

B. Tujuan Penulisan

A. Untuk mengetahui pengertian dari disentri/diare.

B. Untuk mengetahui etiologi dari disentri/diare.

C. Untuk mengetahui patofisiologi dari disentri/diare.

D. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari disentri/diare.

E. Untuk mengetahui komplikasi dan pemeriksaan penunjang dari disentri/diare.

F. Untuk mengetahui penatalaksanaan pemberian cairan dan monitoring

pemberian cairan.

G. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus

disentri/diare.

C. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini, yaitu :

2
Bab I pendahululuan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan serta

sistematika penulisan

Bab II Tinjauan teori terdiri dari pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi

klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan pemberian cairan

dan monitoring pemberian cairan dan asuhan keperawatan pada pasien dengan

kasus disentri/diare.

Bab III Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Diare/Disentri

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah
cair(setengah padat, kandungan air tinja lebih banyak daripada biasanya lebih dari 200
gram atau 200 ml/24 jam.
Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya yamh disertai dengan darah dan
sering kali menyebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain.
Penyakit ii dapat disebabkan oleh bakteri (disentri basiler) dan amoeba(disentri amoeba).
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan
tukak terbatas di kolon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma
disentri,yakni:

1. Sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus


2. Berak-berak,dan
3. Tinja mengandung darah dan lendir

Adanya darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri
tersebuut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya. Penyakit ini seringkali terjadi
karena kebersihan tidak terjaga,baik karena kebersihan diri atau individu maupun kebersihan
masyarakat dan lingkungan.

B. Etiologi

1. Bakteri (disentri basiler)

a. shigella,penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60 % kasus


isentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan
mengancan jiwa disebabkan oleh shigella.

4
b. Escherichia Coli Enteroinvasif (EIEC)
c. Salmonella
d. Campylobacter Jejuni,terutama pada bayi

2. Amoeba(Disentri Amoeba),disebabkan Entamoeba hystolitiva,lebih sering


pada ank usia > 5 tahun.

Cara penularan :
Shigelloides terdapat di mana-rnana tapi yang terbanyak terdapat di
negara dengan tingkat kesehatan perorangan yang sangat buruk.Manusia sendiri
merupakan surnber penularan dan hospes alami dari penyakit ini, yang cara
penularannya adalah secara oro- faeca. Disentri basiler ini umumnya terjadi
ditempat-tempat dimana sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan rendah
seperti di penjara, tempat penitipan anak, panti asuhan, rumah sakit jiwa dan
pada tempat pengungsi yang padat.Transmisi Disentri basiler Penyebarannya
dapat terjadi melalui kontaminasi makanan atau minuman dengan kontak
langsung atau melalui vector, misalnya lalat. Namun factor utama dari disentri
basiler ini adalah melalui tangan yang tidak dicuci sehabis buang air besar.
Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul
nyeri perut, demam, dan tinja encer. Tinja yang encer tersebut berhubungan
dengan kerja eksotoksin dalam usus halus5. Secara klasik, Shigellosis timbul
dengan gejala adanya nyeri abdomen, demam, BAB berdarah, dan feses
berlendir. Gejala awal terdiri dari demam, nyeri abdomen, dan diare cair tanpa
darah, kemudian feses berdarah setelah 3 – 5 hari kemudian. Lamanya gejala
rata-rata pada orang dewasa adalah 7 hari, pada kasus yang lebih parah menetap
selama 3 – 4 minggu. Shigellosis kronis dapat menyerupai kolitis ulseratif, dan
status karier kronis dapat terjadi.
Setelah timbul gejala,sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi
meliputi ileum dan kolon, maka jumlah tinja meningkat, tinja kurang encer tapi
sering mengandung lendir dan darah. Tiap gerakan usus disertai dengan

5
“mengedan” dan tenesmus (spasmus rektum), yang menyebabkan nyeri perut
bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari pada
lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan orang tua,
kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan
kematian.Kebanyakan orang pada penyembuhan mengeluarkan kuman disentri
untuk waktu yang singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa
kuman usus menahun dan dapat mengalami serangan penyakit berulang-ulang.
Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang membentuk antibodi terhadap
Shigella dalam darahnya, tetapi antibodi ini tidak melindungi terhadap reinfeksi.

6
C. Patofisiologi

Masuk saluran
Peradangan lokal pada Kuman membentuk Invasi Shigella E.Coli
pencernaan dan
dinding usus endotoksin
berkembang biak di usus
Membantu mukosa
Pathogen penyebab usus, menyebabkan
Disentri amoeba ulkus
idiopatik
Disentri basiler Toksik toksin bakteri
dikeluarkan Reaksi peradangan Pembengkakan mukosa
usus

Toksin merusak mukosa


usus Terjadi perubahan transport Mukosa usus menjadi Lumen
aktif iritasi menyempit

Kapasitas usus menurun


Sekresi cairan dan elektroit Peristaltic
meningkat meningkat
Fungsi absorb cairan dan Malabsorbsi nutrisi:
elektrolit menurun nutrisi inadekuat
Isi rongga meningkat Rasa tidak nyaman di
perut
Keletihan
Merangsang perisaltik
Gangguan rasa
nyaman
Diare disertai darah
Resiko
ketidakseimbangan Ketidakseimbangan Bengkak pecah
elektrolit nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
disentri
Perdarahan kolon
Peradangan pada mukosa
usus

Agregasi makrofak &


Mempengaruhi sel point
pengeluaran mediator
pada hipotalamus
kimia

hipertermi Suhu tubuh meningkat

7
D. Manifestasi Klinis

1. Disentri basiler

a) Diare mendadak yang disertai daran an lendir dalam tinja. Pada


disentri shigellosis,pada permulaan sakit bisa terdapat diare encer
tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah
permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
b) Panas tinggi (39,5- 40 ),kehilangan toksik
c) Muntah muntah
d) Anoreksia
e) Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB
f) Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan
sepsis(kejang,sakit kepala,letargi,kaku kuduk,halusinasi)

2. Disentri Amoeba

a) Diare disertai darah dan lendir dalam tinja


b) Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (<
10x/hari)
c) Sakit perut hebat(kolik) gejala konstitusional biasanya tidak ada
(panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus).

E. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang


Beberapa komplikasi yang terjadi dari penyakit disentri adalah:

1. Mengalami kejang
Komplikasi yang terjadi adalah kejang. Jika berlangsung lama atau berlangsung dengan
berulang, maka cobalah untuk memberikan antikonvulsi dengan cara pemberian
daizepan intravena atau juga penggunaan diazepan rectal

8
2. Sindrom hemolitik-uremik
Jika pemeriksaan dari lab tidak bisa dilakukan maka kemungkinan terjadinya sindrom
hemolitik-uremik pada pasien yang lebih mudah mengalami memar, pucat, serta
kesadaran yang menurun atau juga tidak ada output urin (urin yang keluar).

3. Hipokalemi
Biasanya komplikasi ini masih bisa dicegah dengan memberikan zat oralit atau juga
memberikan asupan nutrisi yang mengandung kalium, misalnya adalah seperti pisang,
air kelapa, dan juga sayuran yang warnanya hijau.

4. Prolaps pada anus


Dengan sedikit menekan kembali prolaps atau tonjolan yang keluar pada rektum dengan
menggunakan sarung tangan bedah atau juga menggunakan kain basah. Atau Anda bisa
menyiapkan cairan yang hangat yang berasal dari magnesium sulfat dan mengompres
dengan menggunakan larutan ini untuk membantu mengurangi terjadinya prolaps
dengan cara mengurangi edema itu.

5. Demam tinggi
Komplikasi yang terjadi salah satunya adalah demam tinggi. Jika anak Anda mengalami
deam tinggi kurang lebih adalah 39 derajat celcius atau kurang lebih 102,2 farenheit
yang akan membuat anak menjadi sulit untuk diberikan obat seperti parasetamol.

Pemeriksaan penunjang

1. pemeriksaan tinja
2. benzidin test

9
3. biakan tinja

F. penatalaksanaan pemberian cairan dan monitoring pemberian cairan


Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat dehidrasinya dan
keadaan umum.
a. Pemberian cairan Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan
per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCl dan glukosa,
formula lengkap sering disebut : oralit.
b. Cairan parontenal
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan
kebutuhan pasien, tetapi kesemuanya itu tergantungan tersedianya cairan setemp
at. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL) diberikan tergantung berat / ringan
dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai dengan umur
dan BB-nya.- Belum ada dehidrasi Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas
tiap defekasi.- Dehidrasi ringan1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral
selanjutnya : 125 ml / kg BB / hari- Dehidrasi sedang1 jam pertama : 5 – 100 ml
/ kg BB per oral (sonde) selanjutnya 125 ml / kg BB / hari-
Dehidrasi beratTergantung pada umur dan BB pasien.
Monitoring pemberian cairan
Cara I:
- Jika ada rasa haus dan tidak ada tandatanda klinis dehidrasi lain, kehilangan
cairan kira-kira 2% dari berat badan saat itu.
- Jika disertai mulut kering, oliguria, defi sit cairan sekitar 6% dari berat badan
saat itu.
- Jika ada tanda-tanda di atas disertai kelemahan fisik yang jelas, perubahan
mental seperti bingung atau delirium, maka defi sit cairan sekitar 7 -14% atau
sekitar 3,5-7 liter pada orang dewasa dengan berat badan 50 kg.
Cara II:
Jika penderita dapat ditimbang tiap hari, maka kehilangan berat badan 4 kg pada
fase akut sama dengan defisit air sebanyak 4 liter
10
BAB III
PEMBAHASAN ASKEP

Pada tanggal 22 Juni 2010, pukul 11.30 WIB Ny. S datang ke UGD dengan
keluhan diare selama 2 hari. Klien berumur 50 th dan mengatakan sudah diare selama 2
hari. BAB encer berlendir dengan frekuensi 4-5 kali setiap harinya. Menurut hasil
observasi perawat badan klien panas, warna dan bau feses khas. Setelah ditanya kembali
klien mengatakan sebelumnya makan makanan pedas.Berdasarkan pemeriksaan fisik
didapatkan tanda-tanda vital :
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 78 x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37,5 C
Keadaan umum : Lemah
Mukosa bibir kering

PENGKAJIAN DATA KEPERAWATAN

No. Register : 2012


Ruang : anggrek 1
Tgl/ jam MRS : 22 juni 2010, jam 11.30 WIB
Tgl pengkajian : 23 juni 2010
Dignosa medis : Gastroenteritis

I. IDENTITAS
a. Biodata Klien
Nama : Ny.S
Jenis kelamin : Perempuan

11
Umur : 50 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Gadung 1

b. Penanggung Jawab
Nama : Tn.A
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
hubungan dengan klien : Anak klien
alamat : Gadung 1

II. RIWAYAT KESEHATAN

a. Keluhan Utama
Klien menyatakan diare 2 hari.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien menyatakan sudah diare ± 2 hari yang lalu sejak tanggal 20 juni 2010. Klien BAB
encer,dengan frekuensi 4-5x setiap harinya ( ± 500cc),warna dan bau khas feses. Klien
menyatakan sebelumnya mengkonsumsi makanan pedas. Klien juga mengatakan
badannya panas.

12
c. Riwayat Penyakit dahulu
Klien mengatakan sebelumnya Klien tidak pernah sakit seperti ini. Klien juga tidak
pernah MRS sebelumnya.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami DM, Hipertensi, dan
penyakit menurun lainnya.

III. POLA AKTIVITAS SEHARI – HARI

No Pola Aktivitas Di Rumah Di RS


1. Nutrisi
- Makan - 3x/ hari dengan porsi - 3x/ hari dengan porsi sedang (± 4
sedang (± 8 sendok makan) sendok makan) bubur merah
Nasi, lauk, sayur

- Air putih ± 7 gelas/ hari (± - air putih ± 7 gelas / hari (± 1500


- Minum 1500 cc) cc )

- 1 – 2x / hari, dengan
2. Pola Eliminasi konsisten lunak dan - 4 – 5x / hari, dengan konsisten
- BAB berwarna kuning cair

- 6 – 7x / hari ( ± 1400 cc)


berwarna kuning jernih
- 6 – 7x / hari (± 1400 cc)

13
- BAK - Klien biasanya bekerja berwarna kuning jernih
sebagai ibu rumah tangga
dan waktu senggang
biasanya digunakan klien - Klien hanya menghabiskan
untuk berkumpul bersama waktunya di tempat tidur
3. Aktivitas Fisik keluarganya

- Klien tidur ± 10 jam / hari


menggunakan kasur, bantal,
guling, dengan penerangan
terang

- Klien tidur ± 12 jam / hari


- 2x / hari menggunakan kasur dengan
peneranga terang
- 3x/ minggu
4. Istirahat Tidur - 2x / hari
- 2x / hari

- 1 x / hari
(Belum sejak MRS)
- 1x / hari
5. Personal Hygiene - 1x / hari
- Mandi - 1x / hari

- Keramas
- Gosok Gigi

14
- Ganti Pakaian

IV. DATA PSIKOSOSIAL


a. Status Emosi
Klien tampak tenang saat dilakukan pengkajian

b. Konsep Diri
- Body image
Klien menerima penyakitnya dengan ikhlas dan menganggapnya sebagai cobaan dari
Tuhan
- Self Ideal
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang agar dapat beraktivitas seperti
biasa dan dapat berkumpul dengan keluarganya kembali.
- Self Esteem
Klien mengatakan diperlakukan dengan baik oleh dokter dan perawat
- Role Performance
Klien di rumahnya berperan sebagai ibu rumah tangga
- Self Identify
Klien adalah seorang ibu dengan tiga orang anak dan seorang istri dari seorang
suami

c. Interaksi Sosial
Klien sangat kooperatif saat dilakukan pengkajian.
d. Spiritual
Klien beragama Islam.

15
V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum : Lemah

b. Kesadaran : Composmentis

c. TTV : - TD : 110/70 mmHg - N : 78x/ menit


- RR : 20x/ menit - Suhu : 37,5 º C

d. Kepala
- Ekspresi Wajah : Tenang
- Rambut : Rambut beruban, persebaran merata, berminyak.
- Wajah : Simetris, tidak ada luka
- Mata : Sklera putih, Konjungtiva merah muda, dapat membuka mata secara
spontan
- Hidung : Tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada Secret.
- Mulut : Tidak ada sariawan, simetris, mukosa kering
- Telinga : Simetris, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik
-Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembengkakan vena
jugularis
e. Thorax
- Inspeksi : Simetris, tidak ada benjolan dan luka
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada dada
- Perkusi : Suara paru sonor, suara jantung dullnes
- Auskultasi : Tidak ada bunyi tambahan, irama jantung teratur

f. Abdomen
- Inspeksi : Bentuk perut datar
- Auskultasi : Bising usus 14x / menit
- Perkusi : Suara hipertimpani

16
- Palpasi : Tidak ada pembesaran hepar

g. Ekstermitas
- Atas : Jari lengkap, terpasang infus RA : D5 pada tangan kanan, tonus otot 5 I 5
- Bawah : Jari lengkap, tonus otot 5I5

h. Genetalia : Tidak dikaji

VI. DATA PENUNJANG


- HB : 11,56
- Leukosit : 6100
- Trombosit : 154.000
- PCU : 36
- Widal : TO : -
TH : -
VII. TERAPI
- Infus RA : D5 30 TMP
- Injeksi Cefotaxime 3 x 1
- Sanmol 3 x 1
- Plantasit syrup 3 x 1
- Luminal 2x1 / 2

VIII. DATA SENJANG


DS : - klien mengatakan diare 2 hari
- klien mengatakan BAB klien encer dengan frekuensi 4 – 5 x / hari
- klien mengatakan feses berbau dab berwarna khas feses
- klien mengatakan sebelumnya mengkonsumsi makanan pedas
- klien mengatakan badannya panas

17
DO : - Keluhan utama Lemah
- Suhu : 37,5 º C - TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 78 x / menit - RR : 20 x /menit
- Konsistensi feses cair
- Mukosa bibir kering
- Suara perut hipertimpani

18
ANALISA DATA

Nama : Ny.S
Dx. Medis : Gastroenteritis

NO DATA PENYEBAB MASALAH


1.
Ds: - Klien mengatakan diare 2 hari Kehilangan cairan sekunder Ketidak seimbangan cairan
- Klien mengatakan saat BAB feses akibat diare. dan elektrolit.
klien encer dan berlendir.
- Klien mengatakan BAB 4-5X
dalam sehari.
- Klien mengatakan mengonsumsi
makanan pedas sebelumnya.

Do: - Keluhan utama lemah


- Konsistensi fases cair dan berlendir
- Mukosa bibir kering
- Suara perut hipertimpani
- Tugor kulit menurun
Ds: - Klien mengatakan badan panas
Do: - Keluhan utama lemah
-S : 37,5 OC
- N : 78 X/menit
2. - TD : 110/70 mmHg Proses infeksi penyakit Peningkatan suhu tubuh
- RR : 20 X/menit

19
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama : Ny.S
Dx. Medis : Gastrointeritis

No DIAGNOSA MEDIS

1. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan


sekunder.

2. Hipertermi brerhubungan dengan proses infeksi penyakit.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Ny.S
Dx.Medis : Gastroenteritis

No DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1. Pantau tanda dan gejala 1.Penurunan volume cairan
cairan dan elektrolit tindakan dehidrasi. dan elektrolit
berhubungan dengan keperawatan dalam menyebabkan dehidrasi
kehilangan cairan waktu 1X24 jam jaringan.

20
sekunder. diharapkan : 2. Pantau input dan output. 2.Dehidrasi dapat
- TTV dalam batas meningkatkan laju filtasi
normal 3. Bina hubungan saling glomerulus.
- Tidak ada tanda- percaya. 3.Mempermudah melakukan
tanda dehidrasi intervensi selanjutnya.
- Frekuensi BAB 4. Pemberian cairan 4.Pemberian cairan secara
1X / hari parenteral sesuai dengan cepat dapat sebagai
umur. penganti cairan yang
hilang.
5. Kolaborasi dengan dokter 5.Menentukan pemberian
dalam pemberian obat. obat secara tepat.

Setelah diberikan
tindakan 1.Bina hubungan salin 1.Mempermudah melakukan
Hipertermi keperawatan dalam percaya. intervensi selanjutnya.
2. brerhubungan dengan waktu 1X24 jam 2.Membantu menurunkan
proses infeksi diharapkan : 2. Berikan kompres pada suhu tubuh klien.
penyakit. - Suhu tubuh normal klien. 3.Membantu mengurangi
- Keluhan utama penguapan pada tubuh.
kembali normal 3.Anjurkan klien untuk
- Demam klien memakai baju tipis dan 4.Menganti cairan yang
turun dapat menyerap keringat. hilang.

4.Anjurkan klien minum


sedikit tapi sering. 5.Menentukan pemberian
obat secara tepat.
5.Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat.

21
IMPLEMENTASI DAN CATATAN PERKEMBANGAN
No Tgl/jam Implementasi Tgl/jam Evaluasi ttd
dx
1. 22/06/10 1. Memantau TTV 23/06/10
S : Klien mengatakan
09.00 2. Memantau intake dan output 08.00 diare dan panas
dengan memperhatikan tetesan O : Keluhan utama
infus dan BAB, BAK klien hilang, diare
3. Membina hubungan saling berkurang 3-
percaya dengan klien 4x/hari, panas, T =
4. Memberikan cairan parentera 120/70 mmHg, S =
dengan memasang infus pada 37 C
klien. A : Masalah teratasi
5. Mengkolaborasikan dengan sebagian
dokter. P : lanjutkan intervensi
1-5

1. Membina hubungan
saling percaya antara
perawat dengan klien.

2. 22/06/10 2. Memberikan kompres 24/06/10


S : Klien mengatakan
11.00 pada klien. 08.00 diare sudah jarang
dan klien sudah
3. Membantu menggati
tidak panas
pakaian klien
O : keluhan utama
hilang, diare cair
tapi berampas,
4. Memberi klien minum frekuensi 1-2 x/hari,

5. Mengkolaborasikan panas hilang,


T=120/80 mmHg,

22
dengan dokter S=36,5 C
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan

23
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit disentri merupakan peradangan pada usus besar. Gejala penyakit ini
ditandai dengan sakit perut dan buang air besar encer secara terus-menerus
(diare) yang bercampur lendir, nanah, dan darah. 1. Berdasarkan penyebabnya
disentri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu disentri amuba dan disentri basiler.
Disentri amuba disebabkan oleh infeksi parasit Entamoeba histolytica dan
disentri basiler disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella.
2. Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang
sudah terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat
merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri
dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang
dihinggapi.
3. Pencagahan yang harus dilakukan : Dengan mencegah kontaminasi makanan
dan air, sayur yang dicuci dengan air hangat, pemakaian tablet yang
mengeluarkan yodium di dalam air minum (klor dalam bentuk halazon tak
efektif) merupakan cara yang berguna.
4. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
5. Mengendalikan vector dan binatang pengerat.

B. Saran
Adapun saran penulis kepada para pembaca adalah hendaknya menjaga
kontaminasi makanan dan air, sayur yang dicuci dengan air hangat,membiasakan
hidup dengan menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti
menjaga kebersihan perorangan dengan selalu mencuci tangan memakai sabun
setelah memegang sesuatu dan selalu menjaga kebersihan lingkungan.

24
DAFTAR PUSTAKA

- Lynda Juall Carpenito R.N., M.S.N., Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1999
- Mi Ja Kim, Gertrude K. McFarland, Audrey M. McLane, Diagnosa Keperawatan, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1994
- Marilynn E/ Doengoes, Rencana Asuhan Keperawatan,Edisi 3, Buku Kedokteran EGC,Jakarta,
1999
- Potter & Perry, Fundamental Keperawatan, Edisi 4, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005
- Blogspot.2011.epidomiologi
http://epidemiologiunsri.blogspot.co.id/2011/11/disentri.html(diakses pada tanggal 14 Februari
2018 pukul 11.20 WITA)
- Blogspot.2015. contoh kasus askep disentri
http://qurotul-ayun.blogspot.co.id/2015/04/contoh-kasus-asuhan-keperawatan-dengan_89.html
http://www.academia.edu/22667726/askep_disentri(diakses pada tanggal 14 Februari 2018 pukul
09:12 WITA

iii