Anda di halaman 1dari 6

Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas ISSN 2087-3557

Vol. 16, No. 2, Oktober 2014

MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI LAYANAN


BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK MODELING

Ita Roshita
SMP 2 Wonopringgo Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah

Abstrak
Kedisiplinan berpakaian siswa kelas VIIIB di SMP 2 Wonopringgo dari hasil pengamatan
terdapat 6 siswa yang termasuk kategori rendah. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui
apakah kedisiplinan berpakaian siswa dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok
dengan modeling dan untuk mengetahui hasil layanan bimbingan kelompok dengan teknik
modeling. Subyek penelitian berjumlah 6 siswa dengan metode pengumpulan datanya
menggunakan wawancara, angket, dan observasi yang selanjutnya akan dianalisis menggunakan
analisis “Interactive model” yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian
pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling dapat meningkatkan
kedisiplinan berpakaian siswa dengan skor rata-rata 3,6.
© 2014 Didaktikum

Kata Kunci: Kedisiplinan Berpakaian, Layanan Bimbingan Kelompok, Teknik Modeling

PENDAHULUAN

Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai
peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya, dan setiap siswa juga dituntut supaya bisa
berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang ada disekolah. Kepatuhan dan ketaatan siswa
terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut dengan disiplin
siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib dan berbagai ketentuan lainnya yang bertujuan mengatur
perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara
perilaku siswa agar tidak menyimpang dari aturan dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku
yang sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.
Pelaksanaan Kedisiplinan oleh siswa SMP 2 Wonopringgo Kabupaten Pekalongan masih
belum sesuai dengan harapan terutama kedisiplinan siswa dalam berpakaian masih jauh dari
pengertian Disiplin dalam kamus Bimbingan dan konseling yang ditulis oleh Thantawy R (dalam
Yulita Rintyastini dan Suzy Yulia Charlotte S, 2005), Disiplin lebih ditekankan pada siswa di
sekolah melalui ketaatan atau kepatuhan siswa kepada peraturan / tata tertib di sekolah.
Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang
diberikan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil mulai dari 5 sampai dengan 12
peserta didik. Pelaksanaan bimbingan kelompok ini membantu peserta didik agar dapat merespon
kebutuhan dan minatnya. Dalam bimbingan kelompok konselor menggunakan dinamika kelompok
yang ada dalam kelompok untuk mencapai tujuan (Sugiyo, 2011).
Perry dan Furukawa (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996) mendefinisikan modeling sebagai
proses belajar melalui observasi dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok, sebagai
model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai
bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan. Teknik modeling ini
adalah suatu komponen dari suatu strategi dimana konselor menyediakan demonstrasi tentang
tingkah laku yang menjadi tujuan. Model dapat berupa model sesungguhnya (langsung) dan dapat
pula secara simbolis. Model sesungguhnya adalah orang, yaitu konselor, guru, atau teman sebaya.
Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kedisiplinan berpakaian
siswa di sekolah pernah dilaksanakan namun belum memperoleh hasil yang maksimal, dimana dari
hasil pengamatan diperoleh hasil terdapat 6 siswa kelas VIIIB SMP 2 Wonopringgo yang masih
tergolong kriteria rendah kedisiplinan berpakaiannya. Untuk itu, perlu dilakukan suatu penelitian
dengan melakukan inovasi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini,
menggunakan teknik modeling untuk meningkatkan kedisiplinan berpakaian siswa.
Rumusan penelitian ini yaitu Apakah kedisiplinan berpakaian siswa dapat ditingkatkan
melalui kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling? Apakah
hasil layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling dapat meningkatkan
kedisiplinan berpakaian siswa? Sedangkan tujuan dalam penelitian ini mengetahui apakah hasil
layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling dapat meningkatkan
kedisiplinan berpakaian siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Prosedur penelitian
tindakan kelas menurut Suharsimi Arikunto (2009) model bagan penelitian tindakan secara garis
besar terdapat 4 tahapan yang lazim dilalui yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan,
dan (4) Refleksi.
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai
dengan Maret 2013 bertempat di SMP 2 Wonopringgo Kabupaten Pekalongan dengan subjek
penelitian yaitu 6 siswa kelas VIIIB. Metode pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi,
angket, dan observasi yang selanjutnya dilakukan triangulasi teknik dimana untuk menggali
kebenaran informai tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif model Miles and
Huberman dengan langkah-langkahnya meliputi pengumpulan data, reduksi data, menafsirkan data
dan menyimpulkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan pada kondisi awal pelaksanaan layanan bimbingan kelompok sebelum
menggunakan teknik modeling menunjukkan bahwa terdapat 6 siswa dari 23 siswa kelas VIIIB yang
tergolong rendah disiplin berpakaiannya, hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.1 Hasil Observasi Kedisiplinan Berpakaian Siswa pada Kondisi Awal
No Disiplin Berpakaian Skor (%) Siswa
1. Disiplin berpakaian 74% 17
2. Tidak disiplin berpakaian 26% 6
Rata-rata Skor (%) 100% 23

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa disiplin berpakaian pada kondisi awal melalui
pengamatan saat pelaksanaan layanan bimbingan kelompok sebelum menggunakan teknik modeling
memperoleh hasil bahwa siswa kelas VIIIB yang disiplin berpakaian sebanyak 74% dan yang tidak
disiplin berpakaian sebanyak 26%, artinya terdapat 17 siswa yang disiplin berpakaiannya baik,
sedangkan 6 siswa masih rendah disiplin berpakaiannya.

MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN


TEKNIK MODELING 47
Ita Roshita
Hasil angket siswa tentang disiplin berpakaian kelas VIIIB juga menunjukkan terdapat 6 siswa
dari 23 siswa yang mempunyai disiplin berpakaian yang rendah dengan skor rata-rata dibawah 3,0.

Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Tindakan pada siklus I direncanakan selama dua kali pertemuan. Pertemuan dilakukan di
ruang BK SMP 2 Wonopringgo. Pertemuan pertama untuk menyusun jadwal pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok dengan teknik modeling, menentukan tempat untuk pelaksanaan tindakan,
menyiapkan satuan layanan bimbingan kelompok, menyiapkan seluruh bahan, tugas rumah dan
memberikan pre test. Pertemuan kedua melaksanakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik
home modeling.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I diantaranya:
a. Peneliti menjelaskan tujuan dan tata cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan teknik
modeling. Tujuan teknik modeling yaitu agar siswa terdorong untuk meniru atau mencontoh
tokoh bisa berupa nyata maupun gambar yang dapat merangsang siswa untuk disiplin
berpakaian. Tata caranya dengan cara pemimpin kelompok sendiri berpakaian rapi dan sopan
serta membawakan gambar contoh siswa yang berpakaian rapi dan sopan.
b. Mengelompokkan siswa yang akan dijadikan obyek penelitian yaitu dikelompokkan menjadi 1
kelompok dari 6 siswa.
c. Subyek melaksanakan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan tahapan layanan
bimbingan kelompok yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan, tahap
penyimpulan dan tahap penutupan.
d. Pemimpin kelompok memberikan contoh model siswa yang berpakaian rapi dan sopan sesuai
aturan sekolah.
3. Observer
Observer melakukan pengamatan yaitu observer mengamati siswa dari antusias mengikuti
penjelasan dari peneliti, siswa giat mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan teknik
modeling, namun masih terdapat 3 siswa yang belum merespon akan kegiatan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik modeling, sehingga perlu dilaksanakan siklus II.
4. Refleksi
Berdasar hasil pengamatan, catatan peneliti dan observasi pengamat diperoleh sebagai
berikut:
a. Keberhasilan peneliti, yaitu: peneliti mampu mengelola kelompok, teknik yang digunakan
mampu meningkatkan respond an kepekaan disiplin berpakaian dalam mengikuti layanan
bimbingan kelompok, waktu sesuai perencanaan, dan siswa gembira melaksanakan layanan
bimbingan kelompok.
b. Hambatan yang dihadapi peneliti, yaitu: masih ada 3 siswa yang belum merespon dan antusias
mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling.
c. Rencana perbaikan, peneliti merencanakan kembali layanan bimbingan kelompok dengan
teknik modeling. Agar siswa lebih santai dan menyenangkan maka pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok dilaksanakan dengan cara mencari model atau contoh siswa atau guru
yang termasuk disiplin berpakaiannya serta berikan kesan positif apa saja dari disiplin
berpakaian tadi kemudian di diskusikan.
d. Perubahan disiplin berpakaian siswa dari kondisi awal dan setelah siklus I berdasar
pengamatan observer saat siswa melaksanakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik
modeling meningkat dari rata-rata 2,0 menjadi 2,8. Persentase disiplin berpakaian kondisi awal
dan siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Dinamika: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas


48
Vol. 16. No. 2. (2014)
Tabel 4.2 Hasil Disiplin Berpakaian Siswa (Kondisi Awal & Siklus I)
Kondisi Awal Siklus I
Skor Kategori
Frekuensi % Frekuensi %
0–2 Rendah 6 100 3 50
>2 – 4 Sedang 0 0 3 50
>4 – 6 Tinggi 0 0 0 0
Jumlah 6 100 6 100

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa kondisi awal sebelum menggunakan teknik
modeling, terdapat 6 siswa (100%) dengan kategori rendah, 0 siswa (0%) kategori sedang dan tidak
ada siswa yang memiliki disiplin berpakaian tinggi. Setelah diberi tindakan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik modeling menjadi 0 siswa (0%) tinggi, 3 siswa (50%) sedang dan 3 siswa
(50%) rendah. Pada siklus I telah terjadi peningkatan disiplin berpakaian yaitu dari 2,0 menjadi 2,8,
namum belum mencapai indikator penelitian yaitu 3,0. Dengan demikian perlu dilakukan tindakan
siklus II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pula dalam grafik sebagai berikut:

100
100
90
80
70
60 50 50
Tinggi
50
40 Sedang
30 Rendah
20
6
10 0 0 0 0 0 3 3 0
0
Frekuensi % Frekuensi %
Kondisi Awal Siklus I

Grafik 4.1 Hasil Kedisiplinan Berpakaian Siswa (Kondisi Awal dan Siklus I)

Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Pertemuan siklus II direncanakan 2 kali pertemuan di ruang BK SMP 2 Wonopringgo.
Rencana tindakan pada siklus II pada dasarnya sama dengan siklus I, hanya terdapat perbedaan
yaitu pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dari sekedar memberi contoh gambar siswa yang
disiplin berpakaian dirubah dengan cara anggota mencari model atau contoh siswa atau guru yang
termasuk disiplin berpakaian serta berikan kesan positif apa saja dari disiplin berpakaian tadi
kemudian di diskusikan dan tidak terdapat pre test.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II merupakan realisasi dari rencana yang sudah disusun
dan dapat dilakukan dengan baik sesuai rencana, seperti halnya: peneliti menjelaskan tujuan dan
tata cara pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling, mengelompokkan
siswa yang akan dijadikan kelompok, anggota melaksanakan layanan bimbingan kelompok dengan

MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN


TEKNIK MODELING 49
Ita Roshita
teknik modeling, observer melakukan pengamatan. Di dalam hasil dari pengamatan jika pada siklus
I masih dijumpai anak yang kurang merespon dalam kegiatan, sedangkan pada siklus II ini sudah
tidak ada. Dari hasil pengamatan siswa, siswa sudah senang dan merespon dalam kegiatan layanan
bimbingan kelompok secara keseluruhan.
3. Observasi
Observer melakukan pengamatan terhadap peserta penelitian yang rendah disiplin
berpakaiannya.
4. Refleksi
Dari hasil observasi oleh pengamat dan catatan peneliti diperoleh hal-hal sebagai berikut:
a. Keberhasilan peneliti, yaitu: pada siklus II peneliti mampu mendorong siswa agar
meningkatkan disiplin berpakaian, pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dirubah dari
sekedar memberi contoh gambar siswa yang disiplin berpakaian dirubah dengan cara anggota
mencari model atau contoh siswa atau guru yang termasuk disiplin berpakaian serta berikan
kesan positif apa saja dari disiplin berpakaian tadi kemudian di diskusikan, waktu pelaksanaan
optimal, semua siswa terlihat merespon dalam kegiatan, dan semua siswa senang mengikuti
kegiatan.
b. Hambatan yang dihadapi, yaitu: disiplin berpakaian siswa perlu dipantau setiap waktu agar
stabil dan terus meningkat.
c. Perubahan disiplin berpakaian setelah siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3 Hasil Disiplin Berpakaian Siswa (Siklus I dan Siklus II)
Siklus I Siklus II
Skor Kategori
Frekuensi % Frekuensi %
0–2 Rendah 3 50 0 0
>2 – 4 Sedang 3 50 4 66.67
>4 – 6 Tinggi 0 0 2 33.33
Jumlah 6 100 6 100

Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa rata-rata disiplin berpakaian siswa setelah
siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus I sebesar 2,8 dan pada siklus II menjadi 3,6. Tabel
siklus I sebanyak 3 siswa (50%) rendah, 3 siswa (50%) sedang dan 0 siswa (0%) tinggi. Sedangkan
pada siklus II sebanyak 0 siswa (0%) rendah, 4 siswa (66.67%) sedang dan 2 siswa (33.33%) tinggi.
Dengan mengacu pada indikator penelitian 3,0 rata-rata disiplin berpakaian sudah mencapai
indikator dengan hasil siklus II yaitu 3,6. Untuk lebih lanjutnya dapat dilihat pada grafik berikut:

Dinamika: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas


50
Vol. 16. No. 2. (2014)
66.67
70

60
50 50
50

40 33.33 Tinggi
30 Sedang

20 Rendah

10
0
3 3
0 2 4 0 0
0
Frekuensi % Frekuensi %
Siklus I Siklus II

Grafik 4.2 Hasil Disiplin Berpakaian Siswa (Siklus I dan Siklus II)

SIMPULAN

Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling dapat meningkatkan


disiplin berpakaian siswa. Dari penelitian siklus I, terdapat 3 siswa yang rendah disiplin
berpakaiannya, 3 siswa yang sedang dan 0 siswa yang tinggi serta memperoleh rata-rata 2,8. Dari
hasil pengamatan ini masih belum meningkatkan disiplin berpakaian siswa secara signifikan. Maka
pada pelaksanaan siklus II diadakan beberapa perubahan yaitu dari sekedar memberi contoh gambar
siswa yang disiplin berpakaian dirubah dengan cara anggota mencari model atau contoh siswa atau
guru yang termasuk disiplin berpakaian serta berikan kesan positif apa saja dari disiplin berpakaian
tadi kemudian di diskusikan.
Dari berbagai perubahan tersebut, pada siklus II dari hasil pengamatan terdapat peningkatan
yang sangat signifikan yaitu siswa yang disiplin berpakaiannya rendah menjadi 0 siswa, yang sedang
menjadi 4 siswa dan yang tinggi menjadi 2 siswa serta memperoleh rata-rata nilai yaitu 3,6.

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Soli; Manrihu, Thayeb. (1996). Tehnik Dan Laboratorium Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Peneitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sugiyo. 2011. Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya
Yulita dkk. 2005. Bimbingan dan Konseling di SMP. Jakarta: Erlangga

MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN


TEKNIK MODELING 51
Ita Roshita