Anda di halaman 1dari 3

aspirasi jarum versus insisi dan drainase untuk pengobatan abses peritonsillar

abstract

ini adalah protokol untuk ulasan dan tidak ada abstrak. tujuannya adalah
sebagai berikut
untuk menilai efektifitas dan risiko dari aspirasi jarum dan drainase untuk pengobatan abses
peritonsilar pada orang dewasa (18 tahun keatas)

background

deskripsi

definisi,prevalensi dan etiologi

quinsy, lebih dikenal sebgai abses peritonsilar, adalah salah satu abses
paling umum yang ditangani oleh otolaringologis. Abses peritonsillar adalah
kumpulan pus antara kapsul fibrosa dari tonsil dan otot konstriktor di
bagian atas faring. Abses peritonsillar cenderung unilateral (satu sisi)
dan diyakini berasal dari kelenjar Weber yang terhambat di kutub superior
tonsil atau dari tonsilitis akut( johnson 2005). Di amerika serikat,
insidensi diperkirakan 30 orang dari 100.000 per tahun, dimana angka
kejadiannya sekitar 45.000 per tahun (herzon 1995). Abses Peritonsillar
mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan memiliki biaya sumber daya
yang signifikan. Abses peritonsillar muncul ditandai dengan pembengkakan di
orofaring disertai medialisasi tonsil, sering dikaitkan dengan demam,
disfagia, trismus, otalgia, perubahan suara dan nyeri tenggorokan
ipsilateral. Pemeriksaan fisik biasanya menunjukkan deviasi uvular ke sisi
kontralateral, eksudat tonsil, trismus, dan limfadenopati jugulodigastrik.
Abses Peritonsillar dapat menghasilkan sekuele yang signifikan, termasuk
perluasan ke ruang leher yang lebih dalam dan obstruksi saluran napas.
Kombinasi gejala dan tanda adalah dasar untuk mendiagnosis. Investigasi
diagnostik lebih lanjut umumnya tidak digunakan kecuali abses peritonsillar
datang dengan keterlibatan leher. Dalam keadaan ini tes diagnostik yang
paling umum adalah computed tomography (CT) scan. CT scan dapat secara
akurat mendiagnosis peritonsillar abscess dengan sensitivitas 100% dan
membantu untuk menentukan tingkat penyakit. Ultrasound kurang bermanfaat,
dengan akurasi diagnostik 89% hingga 95% sensitivitas dan 79% hingga 100%
spesifisitas, berdasarkan pada bukti level 3

Deskripsi dan intervensi

Pilihan manajemen
Perawatan biasanya melibatkan drainase abses bersama dengan antibiotik,
tetapi tidak ada kesepakatan tentang teknik optimal untuk drainase awal
abses peritonsillar. Dokter memiliki pilihan antara aspirasi jarum dan
insisi dan drainase. Aspirasi jarum menggunakan jarum besar yang dimasukkan
melalui otot palatoglossus ke dalam abses. Beberapa insersi jarum di lokasi
yang berbeda dapat dilakukan selama satu kali pengobatan. Metode insisi dan
drainase menggunakan pisau bedah yang ditorehkan ke otot palatoglossus dan
memasuki ruang peritonsiler / abses. Ruang peritonsiler kemudian dibuka
secara luas dengan diseksi dengan forsep tumpul untuk meningkatkan drainase
abses. Seorang pasien dengan abses peritonsillar kadang-kadang diobati
dengan kombinasi metode-metode ini.
Mengapa penting untuk dilakukannya tinjauan ini
Sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa 60% dari otolaryngologists akan
menggunakan aspirasi jarum sebagai metode utama mereka untuk membuang abses
peritonsillar. Jika aspirasi jarum gagal, 52% kemudian akan dilakukan
sayatan dan drainase skalpel. Survei juga menunjukkan perbedaan geografis
dalam manajemen peritonsillar absces. Di Singapura, tinjauan retrospektif
menunjukkan bahwa kebanyakan pasien dilakukan sayatan dan drainase skalpel.
Tidak ada konsensus mengenai prosedur drainase terbaik dan setiap metode
memiliki risiko dan manfaat. Aspirasi jarum mungkin kurang menyakitkan,
lebih murah dan secara teknis lebih mudah dilakukan; itu juga bisa
berfungsi ganda sebagai metode diagnostik. Insisi dan drainase yang
mencakup diseksi tumpul secara teoritis mendorong drainase abses yang lebih
efektif dengan membedah melalui penghalang jaringan (septations) yang
membagi rongga keabuan ke dalam micro atau lokulasi. Jalur lebar yang
dihasilkan ke rongga mulut memungkinkan udara masuk ke kedalaman rongga
abses, meningkatkan ketegangan oksigen yang pada gilirannya mengurangi
kelangsungan hidup bakteri anaerob yang terpapar udara. Namun, ini adalah
metode invasif dan telah mengemukakan bahwa dapat berisiko aspirasi purulen
atau cedera insisional terhadap struktur yang mendasari. Metode drainase
yang digunakan dapat dikaitkan dengan berbagai tingkat kekambuhan abses,
nyeri dan perdarahan. Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Johnson dkk
menyimpulkan bahwa aspirasi jarum adalah pengobatan awal yang terbaik,
diikuti oleh insisi dan drainase jika aspirasi jarum gagal. Sejak itu,
studi tambahan tentang hal ini telah dilakukan, sehingga penting untuk
mengevaluasi kembali bukti yang ada. Jika ada prosedur drainase yang
optimal untuk abses peritonsillar, maka harus diangkat secara luas.

Objektif
Untuk menilai efektivitas dan risiko aspirasi jarum versus insisi dan
drainase untuk pengobatan abses peritonsillar pada orang dewasa (18 tahun
atau lebih)

Metode

Kriteria untuk mempertimbangkan studi ini

Jenis penelitian
Percobaan terkontrol acak

Subjek penelitian
Pasien berusia 18 tahun atau lebih dengan diagnosis klinis abses
peritonsillar.