Anda di halaman 1dari 24

Tugas : Ekologi Kesehatan

Dosen : Sumiaty ,SKM.,M.Kes

966dxxxxxccccdxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxcccccccccccccccccccccccccccccc

OLEH :

KELOMPOK IX

 DEWI DEBBY FEBRIANI 141 209 0445


 ANDI JULIANA Z. 141 209 0401
 DIAN ANGREANI 141 209 0476
 BESSE SAIKA NIRMALASARI 141 209 0440
 JUWITA SAMSUL 141 209 0442
 HUSDIATI 141 209 0394
 RADETA MUSTIKA ROSALIA 141 209 0437

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

TAHUN

1
2011

KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan
rahmat-Nya sehingga tugas makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan
oleh dosen pembina.

Penyusunan makalah ini, melibatkan berbagai pihak, oleh karena itu sepatutnya penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen pengasuh mata kuliah Ekologi Gizi yaitu Ibu
Sumiaty,SKM.,M.Kesyang telah membekali ilmupengetahuan dan memberi bimbingan sehingga
tugas ini dapat terwujud.

Meskipun dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak
namun penulis menyadari bahwa makalah ini, sangat jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu,
dengan rendah hati, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak.Atas kritikan
dan saran pembaca, penulis mengucapkan terima kasih.

Sesungguhnya menyusun makalah seperti ini, memiliki banyak manfaat bagi


penulis.Diantaranya penulis membiasakan diri menelaah berbagai kepustakaan dan melatih diri
mengemukakan gagasan secara ilmiah serta memahami isi makalah secara optimal.

Semoga makalah ini, ada manfaatnya bagi pembaca.Amin !

Makassar, 26 Mei 2011

Kelompok 9

(Penulis)

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 4

A. LATAR BELAKANG ............................................................................................... 4

B. RUMUSAN MASALAH........................................................................................... 5

C. TUJUAN .................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 6

A. DEFENISI ANEMIA GIZI ...................................................................................... 6

B. PEMBAGIAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN ............................................... 13

C. ETIOLOGI ANEMIA PADA KEHAMILAN ........................................................ 16

D. GEJALA KLINIS ..................................................................................................... 16

E. DERAJAT ANEMIA ................................................................................................ 16

F. DAMPAK ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA KEHAMILAN ............... 17

G. PENCEGAHAN ANEMIA ...................................................................................... 17

H. PENGOBATAN ANEMIA ....................................................................................... 22

BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 23

A. KESIMPULAN ......................................................................................................... 23

B. SARAN ....................................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 24

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anemia gizi besi pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia dimana angka kematian ibu hamil masih cukup tinggi.Penyebab
utama anemia ini adalah kekurangan zat besi.Selama kehamilan terjadi peningkatan
kebutuhan zat besi hampir tiga kali lipat untuk pertumbuhan janin dan keperluan ibu
hamil (Depkes RI, 1999).Konsekuensi anemia pada ibu hamil dapat membawa pengaruh
buruk baik terhadap kesehatan ibu maupun janinnya, keadaan ini dapat meningkatkan
morbiditas maupun mortalitas ibu dan anak.

Anemia akibat kekurangan gizi dan vitamin sertamineral lainnya masih perlu
mendapat perhatian. Anemia gizi besi di masyarakat atau dikenal dengan kurang darah
merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia, yang dapat diderita oleh seluruh
kelompok umur mulai bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa, dan lanjut usia.
Tetapi anemia yang memprehatinkan adalah anemia yang terjadi pada ibu hamil dan
balita karena merupakan kelompok yang memiliki masa emas sekaligus masa
kritis.Maksudnya ibu yang mengandung sangat memerlukan mineral, protein, dan juga
asam folat.Balita juga memiliki masa tumbuh yang besar, termasuk tumbuh kembang
otaknya yang sangat membutuhkan asupan tersebut. Apabila pada masa kehamilan
seorang ibu dan balita kekurangan mineral, protein, dan juga asam folat, seorang anak
akan memiliki resiko mendapatkan kerusakan otak permanen, akan berakibat buruk pada
proses perkembangan otaknya karena sulit untuk di pulihkan. Pertumbuhan otak yang
cepat adalah mulai janin dalam kandungan hingga usia 2 tahun atau yang dikenal dengan
masa keemasan memiliki masa pertumbuhan sel-sel otaknya mencapai 80 %, dan 20 %
setelah usia 2 tahun. Oleh karena itu, ibu-ibu yang melahirkan sangat dianjurkan
menyusui anaknya3.
Anemia kekurangan zat besi sebenarnya tidak perlu terjadi bila makanansehari-
hari cukup mengandung zat besi.Namun sumber makanan kaya besi umumnya terdapat

4
pada protein hewani seperti; hati, ikan dan daging yang harganya relatif mahal dan belum
sepenuhnya terjangkau oleh kebanyakanmasyarakat di Indonesia.
Terdapat sumber makanan nabati yang kaya besi, seperti daun
singkong,kangkung, dan sayuran berwarna hijau lainnya, namun zat besi dalam makanan
tersebut lebih sulit penyerapannya.Dibutuhkan porsi yang besar dari sumber nabati untuk
mencukupi kebutuhan zat besi dalam sehari, dan jumlah porsi tidak mungkin
terkonsumsi. Dalam kondisi kebutuhan akan zat besi tidak terpenuhi dari makanan
tersebut apabila berlanjut akan menimbulkan terjadinya anemia kekurangan zat besi.
Anemia kekurangan zat besi dapat diatasi dengan cara memberikansuplemen zat
gizi besi secara oral maupun suntikan dengan dosis 60 – 180 mg/hari sampai keadaan
normal. Pencegahan anemia kekurangan gizi dapat dilakukan dengan mengkonsumsi
bahan makanan sumber utama zat besi seperti daging dan sayuran sesuai kecukupan gizi
yang dianjurkan.
Mengingat dampak anemia luas, khususnya dapat menurunkan kualitas
sumberdaya manusia, maka diperlukan upaya-upaya untuk mencegah dan menanggulangi
masalah anemia.Prevalensi Anemia Gizi Balita di Indonesia masih cukup tinggi. Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia pada tahun 1992 menemukan prevalensi
anemia gizi sebesar 56,6% dan pada tahun 1995 sebesar 40,5% 6.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana perbandingan anemia gizi yang terjadi pada ibu hamil?
2. Apa yang menjadi penyebab anemia gizi pada ibu hamil?
3. Bagaimana cara mencegah terjadinya anemia gizi pada ibu hamil?
C. TUJUAN
Untuk mengetahui perbandingan anemia gizi, factor-faktor penyebab, serta cara
mencegah terjadinya anemia gizi pada ibu hamil.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFENISI ANEMIA GIZI


Anemia gizi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang
diperlukan dalam pembentukan serta produksi sel-sel darah merah, baik kualitas maupun
kuantitasnya.Anemia pada wanitatidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi
hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau
masa nifas. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal
kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita
sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers
for disease control (1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari
11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua
(Suheimi, 2007).
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi
dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang
ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum
(Serum Iron = SI) dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron
Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta
ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara
lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi
diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti
pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit.

Adapun hasil data yang telah diperoleh dari Dinkes Sulsel yaitu :

6
Data sekunder Anemia Gizi pada Ibu hamil

No Nama kabupaten Hemoglobin < 8 gr %


Tahun 2009 Tahun 2010
1. Selayar 78 87
2. Bulukumba 127 124
3. Bantaeng 11 67
4. Jenneponto 301 90
5. Takalar 130 47
6. Gowa 102 27
7. Sinjai 56 17
8. Maros 47 71
9. Pangkep 41 73
10. Barru 129 61
11. Bone 83 32
12. Soppeng 16 13
13. Wajo 87 187
14 Sidrap 30 40
15. Pinrang 125 128
16. Enrekang 59 38
17. Luwu 13 97
18. Tator 27 172
19. Toraja Utara 5 34
20. Luwu utara 0 14
21. Luwu timur 33 18
22. Makassar 129 144
23. Pare-pare 13 5
24. Palopo 28 13

Sumber : Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan

7
Dari data di atas dapat dilihat bahwa anemia gizi pada ibu hamil di kabupaten
Wajo dari tahun ke tahun terjadi peningkatan.Hal ini di sebabkan karena kehilangan
darah pada waktu pendarahan, kerusakan sel darah merah, dan Produksi sel darah merah
tidak cukup banyak.Perdarahan dapat terjadi eksternal maupun internal.Perdarahan
mendadak dan banyak, disebut perdarahan eksternal, misalnya pada waktu
kecelakaan.Perdarahan dapat pula terjadi karena racun, obat-obatan atau racun binatang
yang menyebabkan penekanan terhadap pembuatan sel-sel darah merah.Selain dari
penyebab tersebut, masih ada factor yang dapat memicu terjadinya anemia gizi pada ibu
hamil seperti :

1. Asupan zat besi dalam makanan


Macam bahan makanan yang banyak mengandung zat besi dapat dilihat pada
Tabel 2.Hati adalah bahan makanan yang paling banyak mengandung zat besi.Daging
juga banyak mengandung zat besi.Dari bahan makanan yang berasak dari tumbuh-
tumbuhan, maka kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah, kacang panjang
koro, buncis serta sayuran hijau daun mengandung banyak zat besi.
Selain dari pada banyaknya zat besi yang tersedia didalam makanan, juga perlu
diperhatikan Faktor-faktor lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi, antara lain
macam-macam bahan makanan itu sendiri.Zat besi yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan, jumlah yang dapat diabsorpsi hanya sekitar 1-6 %, sedangkan zat besi
yang berasal dari hewani 7-22 %.Didalam campuran susunan makanan, adanya bahan
makanan hewani dapat meninggikan absorpsi zat besi yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan.Faktor ini mempunyai arti penting dalam menghitung jumlah zat besi yang
dikonsumsi oleh masyarakat yang tak mampu, yang jarang mengkonsumsi bahan
makanan hewani. (Husaini, 1989)
Tabel 2. Zat Besi Dalam Bahan Makanan

No. Bahan Makanan Zat Besi (mg/100 g)


1. Hati 6,0 sampai 14,0

2. Dafing Sapi 2,0 sampai 4,3

8
3. Ikan 0,5 sampai 1,0

4. Telur Ayam 2,0 sampai 3,0

5. Kacang-kacangan 1,9 sampai 14,0

6. Tepung Gandung 1,5 sampai 7,0

7. Sayuran Hijau Daun 0,4 sampai 18,0

8. Umbi-umbian 0,3 sampai 2,0

9. Buah-buahan 0,2 Sampai 4,0

10. Beras 0,5 sampai 0,8

11. Susu Sapi 0,1 sampai 0,4

Sumber : Davidson, dkk, 1973 dalamHusaini, 1989

Zat besi didalam bahan makanan dapat berbentuk hem yaitu berikatan dengan
protein atau dalam bentuk nonhem yaitu senyawa besi organic yang kompleks.
Ketersediaan zat besi untuk tubuh kita dapat dibedakan antara hem dan nonhem ini.
Zat besi hem berasal dari hemoglobin dan mioglobin yang hanya terdapat dalam
bahan makanan hewani, yang dapat diabsorpsi secara langsung dalam bentuk
kompleks zar besi phorphyrin (“iron phorphyrin kompleks”). Jumlah zat besi hem
yang diabsorpsi lebih tinggi daripada nonhem. Untuk seseorang yang cadangan zat
besi dalam tubuhnya rendah, zat besi hem ini dapat diabsorpsi lebih dari 35 %,
sedangkan buat orang yang simpanan zat besinya cukup banyak (lebih dari 500 gram)
maka absorpsi zat besi hem ini hanya kurang lebih 25 %. Dari hasil analisa bahan
makanan didapatkan bahwa sebanyak 30 – 40 % zat besi didalam hati dan ikan, serta
50-60 % zat besi dalam daging sapi, kambing, dan ayam adalah dalam bentuk hem.
(Cook, dkkdalamHusaini, 1989).

9
Zat besi nonhem pada umumnya terdapat didalam bahan makanan yang
umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-
kacangan, buah-buahan dan serealia, dan dalam jumlah yang sedikit daging, ikan dan
telur. Zat besi nonhem didalam bentuk kompleks inorganic Fe3+ dipecah pada waktu
percernaan berlangsung dan sebagian dirubah dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih siap
diabsorpsi. Konversi Fe3+ menjadi Fe2+ dipermudah oleh adanya faktor endogenus
seperti HCl dalam cairan sekresi gastric, komponen zat gizi yang berasal dari
makanan seperti vitamin C, atau daging, atau ikan.

Zat gizi yang telah dikenal luas dan sangat berperanan dalam meningkatkan
absorpsi zat besi adalah vitamin C. Vitamin C dapat meningkatkan absorpsi zat besi
nonhem sampai empat kali lipat.Vitamin C dengan zat besi mempunyai senyawa
ascorbat besi kompleks yang larut dan mudah diabsorpsi, karena itu sayur-sayuran
segar dan buah-buahan yang mengandung banyak vitamin C baik dimakan untuk
mencegah anemia .
Selain faktor yang meningkatkan absorpsi zat besi seperti yang telah
disebutkan, ada pula faktor yang menghambat absorpsi zat besi.Faktor-faktor yang
menghambat itu adalah tannin dalam the, phosvitin dalam kuning telur, protein
kedelai, phytat, fosfat, kalsium, dan serat dalam bahan makanan (Monsen and
CookdalamHusaini, 1989).Zat-zat gizi ini dengan zat besi membentuk senyawa yang
tak larut dalam air, sehingga lebih sulit diabsorpsi. Seseorang yang banyak makan
nasi, tetapi kurang makan sayur-sayuran serta buah-buahan dan lauk-pauk, akan dapat
menjadi anemia walaupun zat besi yang dikonsumsi dari makanan sehari-hari cukup
banyak. Kecukupan konsumsi zat besi Nasional yang dianjurkan untuk anak balita
berumur 1-3 tahun adalah 8 mg, sedangkan untuk anak balita berumur 4-6 tahun
adalah 9 mg (Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 2003)
2. Pengetahuan
Tan (1979) mengatakan bahwa pola konsumsi pangan sangat dipengaruhi oleh
adat istiadat setempat, termasuk didalamnya pengetahuan mengenai pangan, sikap
terhadap pangan dan kebiasaan makan. Semakin sering suatu bahan pangan

10
dikonsumsi dan semakin berat pangan tersebut dimakan, maka semakin besar peluang
pangan tersebut tergolong dalam pola konsumsi pangan individu atau masyarakat.
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap perilaku dalam
memilih makanan yang akan berdampak pada asupan gizinya. Hal ini menunjukkan
bahwa pengetahuan sangat penting peranannya dalam menentukan asupan makanan.
Dengan adanya pengetahuan tentang gizi, masyarakat akan tahun bagaimana
menyimpan dan menggunakan pangan. Memperbaiki konsumsi pangan merupakan
salah satu bantuan terpenting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu
penghidupan (Suhardjo, 1986).
3. Pendidikan
Menurut Hidayat (1980), tingkat pendidikan akan mempengaruhi konsumsi
pangan melalui cara pemilihan bahan makanan. Orang yang berpendidikan lebih
tinggi cenderung memilih makanan yang lebih baik dalam kuantitas dan kualitas
dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah.Makin tinggi
pendidikan orang tua, makin baik status gizi anaknya (Soekirman, 1985). Anak-anak
dari ibu yang mempunyai latar belakang pendidikan yang lebih tinggi akan mendapat
kesempatan hidup serta tumbuh lebih baik. Hal ini disebabkan karena keterbukaan
mereka untuk menerima perubahan atau hal-hal yang baru untuk pemeriksaan
kesehatan anaknya (Emelia, 1985 dalam Ginting, M, 1997).
Faktor pendidikan mengakibatkan perubahan perilaku dan mempunyai pengaruh
terhadap penerimaan inovasi baru, dalam hal ini perilaku makan yang sesuai dengan
anjuran gizi (Pranadji, 1988)
4. Pendapatan
Peningkatan pendapatan rumah tangga terutama bagi kelompok rumah tangga
miskin dapat meningkatkan status gizi, karena peningkatan pendapatan tersebut
memungkinkan mereka mampu membeli pangan berkualitas dan berkuantitas yang
lebih baik.Keadaan ekonomi merupakan factor yang penting dalam menentukan
jumlah dan macam barang atau pangan yang tersedia dalam rumah tangga.Bagi
Negara berkembang pendapatan adalah factor penentu yang penting terhadap status
gizi.

11
Menurut Mosley dan Lincoln (1985), pendapatan rumah tangga akan
mempengaruhi sikap keluarga dalam memilih barang-barang konsumsi. Pendapatan
menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain. Semakin tinggi pendapatan
maka cendrung pengeluaran total dan pengeluaran pangan semakin tinggi
(Hardinsyah & Suhardjo, 1987).
Rendahnya pendapatan (keadaan miskin) merupakan salah satu sebab rendahnya
konsumsi pangan dan gizi serta buruknya status gizi. Kurang gizi akan mengurangi
daya tahan tubuh terhadap penyakit, menurunkan produktivitas kerja dan pendapatan.
Akhirnya masalah pendapatan rendah, kurang konsumsi, kurang gizi dan rendahnya
mutu hidup membentuk siklus yang berbahaya (Hardinsyah & Suhardjo, 1987)
5. Frekuensi Makan
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja.Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu
pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sector yang terkait.
Pola asuh merupakan suatu sistem atau tata cara seorang ibu dalam memenuhi
kebutuhan terutama memberi makan dan merawat anak dengan baik. Menurut
Nasedul dalam Sudarmiati (2006) semua orang tua harus memberikan hak untuk
bertumbuh. Semua anak harus memperoleh yang terbaik agar dapat tumbuh secara
penuh, tumbuh sesuai dengan apa yang mungkin dicapainya, bertumbuh sesuai
dengan kemampuan tubuhnya.
Salah satu factor yang paling penting untuk meningkatkan status gizi adalah
konsumsi makanan.Semakin baik konsumsi atau asupan zat gizi maka semakin besar
kemungkinan terhindar dari status gizi yang kurang atau buruk, baik dari segi jumlah
maupun dari segi frekuensi makanan yang dikonsumsi.
Frekuensi makan pada keluarga di Indonesia umumnya adalah tiga kali dalam
sehari. Hal ini terkait dengan masalah fisiologis, artinya hampir semua zat gizi itu di
metabolisme dalam tubuh selama kurang lebih dari 4 jam. Untuk itu maka dianjurkan
frekuensi makan yang baik adalah berpatokan dengan limit waktu metabolisme itu.
6. Jenis Bahan Makanan

12
Menurut Daftar Komposisi Bahan Makanan yang dikeluarkan oleh Direktorat
Gizi Departemen Kesehatan RI, ada 11 golongan bahan makanan.Berdasarkan
penggolongan ini kemudian dapat dianalisa konsumsi zat gizi yang diasup oleh
seseorang.
Setiap bahan makanan mempunyai susunan kimia yang berbeda-beda dan
mengandung zat gizi yang bervariasi pula baik jenis maupun jumlahnya.Baik secara
sadar maupun tidak sadar manusia mengkonsumsi makanan untuk kelangsungan
hidupnya. Dengan demikian jelas bahwa tubuh manusia memerlukan zat gizi atau zat
makanan, untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari, untuk
memelihara proses tubuh dan untuk tumbuh dan berkembang khususnya bagi yang
masih dalam pertumbuhan (Suhardjo, 1992).
Berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh dapat digolongkan kedalam enam macam
yaitu (1) karbohidrat, (2) protein, (3) lemak, (4) vitamin, (5) mineral dan (6)
air.Sementara itu energi yang diperlukan tubuh dapat diperoleh dari hasil pembakaran
karbohidrat, protein dan lemak di dalam tubuh.Di alam ini terdapat berbagai jenis
bahan makanan baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut pangan nabati
maupun yang berasal dari hewan yang dikenal sebagai pangan hewani (Suhardjo,
1992).
Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam, maka timbul
ketidakseimbangan antara masukan zat-zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat
dan produktif. Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beraneka ragam,
kekurangan zat gizi jenis makanan lain diperoleh sehungga masukan zat-zat gizi
menjadi seimbang. Jadi, untuk mencapai masukan zat-zat gizi yang seimbang tidak
mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari
aneka ragam bahan makanan (Khumaidi, 1994).
B. PEMBAGIAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN
1. Anemia defisiensi besi
Terjadi sekitar 62,3 % pada kehamilan. Merupakan anemia yang paling sering
dijumpaipada kehamilan.Hal ini disebabkan oleh kurang masuknya unsure besi dan
makanan, karena gangguan resorpsi, ganguan penggunaan atau karena terlampaui
banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.Keperluan besi

13
bertambah dalam kehamilan terutama pada trimester terakhir. Keperluan zat besi
untuk wanita tidak hamil 12 mg, wanita hamil 17 mg dan wanita menyusui 17 mg.

Tanda dan gejala:


 Memiliki rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis,rata, dan mudah patah
 Lidah tampak pucat, licin dan mengkilat, berwarna merah daging, stomatitis
angularis, pecah-pecah disertai kemerahan dan nyeri sudut mulut
Ciri-ciri anemia defisiensi besi
 mikrositosis
 hipokromasia
 anemia ringan tidak selalu menimbulkan ciri khas bahkan banyak yang bersifat
normositer dan normokrom
 kadar besi serum rendah
 daya ikat besi serum meningkat
 protoporfirin meningkat
 tidak dtemukan hemosiderin dalam sumsum tulang.
2. Anemia megaloblastik
Terjadi pada sekitar 29 % pada kehamilan.disebabkan oleh defisiensi asam folat,
jarang sekali karena defisensi vitamin B12. Hal itu erat hubungannya dengan
defisensi makanan.
Gejala-gejalanya:
 Malnutrisi
 Glositis berat(Lidah meradang, nyeri)
 Diare
 Kehilangan nafsu makan
Ciri-ciri anemia megaloblastik
 megaloblast
 promegaloblast dalam darah atau sumsum tulang
 anemia makrositer dan hipokrom dijumpai bila anemianya sudah berat. Hal itu
disebabkan oleh defisiensi asam folat sering berdampingan ndenagn defisiensi
besi dalam kehamilan

14
3. Anemia hipoplastik
Terjadi pada sekitar 8 % kehamilan.Disebabkan oleh sumsum tulang kurang
mampu membuat sel-sel darah baru.Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan
belum diketahui dengan pasti. Biasanya anemia hipoplstik karena kehamilan, apabila
wanita tsb telah selesai masa nifas akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan
berikutnya biasanya wanita mengalami anemia hipoplastik lagi.
Ciri-ciri
 pada darah tepi terdapat gambaran normositer dan normokrom, tidak ditemukan
ciri-ciri defisiensi besi, asam folat atau vitamin B12.
 Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia eritropoesis yang nyata
4. Anemia hemolitik
Terjadi pada sekitar 0,7 % kehamilan. Disebabkan oleh pengancuran sel darah
merah berlangsung lebih cepat daripada pembuatannya.Wanita dengan anemia
hemolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil maka biasanya anemia menjadi
berat.Sebaliknya mungkin pula kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita
yang sebelumnay tidak menderita anemia. Anemia hemolitk dibagi menjadi 2
golongan besar:
a. disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler seperti thalassaemia, anemia sel sabit,
sferositosis, eliptositosis, dll.
b. disebabkan olehfaktor ekstrakorpuskuler seperti defisiensi G-6 Fosfat
dehidrogenase, leukemia, limfosarkoma, penyakit hati dll.
Gejala proses hemolitik
 anemia
 hemoglobinemia
 hemoglobinuria
 hiperbilirubinuria
 hiperurobilirubinuria
 kadar sterkobilin dalam feses tinggi, dll
Klasifikasi anemia yang lain adalah :
a. Hb 11 gr% : Tidak anemia
b. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

15
c. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
d. Hb < 7 gr% : Anemia berat.
C. ETIOLOGI ANEMIA PADA KEHAMILAN
Etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan, yaitu:
a. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah.
b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma.
c. Kurangnya zat besi dalam makanan.
d. Kebutuhan zat besi meningkat.
e. Gangguan pencernaan dan absorbsi.
D. GEJALA KLINIS
Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi
besisangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit
dasarnyayang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan
gejalapenyakit dasarnya.Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-
kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu,
lemah,lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati
bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan
jelas.
E. DERAJAT ANEMIA
Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil,
didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu
normal (≥11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl).
Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil
adalah sebesar 11.28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl dan tertinggi 14.00
mg/dl.
Kecukupan gizi yang dianjurkan ibu hamil
Zat gizi Tidak Hamil Hamil
Energi (Kal) 1900 ±285
Protein(g) 44 ±12
Vitamin A ( RE) 500 ±200

16
Vitamin C (mg) 30 ±10
Asam volat 150 ±50
(mcg)
Niasin (mg) 8,4 ±1,3
Riboflafin (mg) 1,0 ±0,2
Tiamin (mg) 0,9 ±0,2
Vitamin B12 1,0 ±0,3
(mcg)
Kalsium 500 ±400
Fosfor 450 ±200
Iodium 150 ±25
Besi 25 ±20
Zinc 15 ±5

F. DAMPAK ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA KEHAMILAN


Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh
tidak cukup mendapat pasokan oksigen.Pada wanita hamil, anemia meningkatkan
frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan.Risiko kematian maternal, angka
prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat.Di
samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita
yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat
mentolerir kehilangan darah.
Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan
hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur),
gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan
pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infek¬si dan stress kurang,
produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi,
BBLR, kematian peri¬natal, dan lain-lain)

17
G. PENCEGAHAN ANEMIA
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan
asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh
dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga
dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis,
kacang polong, serta kacang-kacangan.Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat
pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada
makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosis rendah
30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl), sedangkan untuk
ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg 60-
65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensi asam folat dapat diberikan
asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa
juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari.
TIPS PENCEGAHAN DAN PERAWATAN IBU HAMIL DENGAN ANEMIA

Kondisi anemia adalah suatu kondisi yang mudah dikendalikan dan diperbaiki
bila penyebabnya adalah kekurangan nutrisi atau bahan baku pembentukan hemoglobin.
Bila kondisi anemia yang terjadi pada ibu adalah akibat perdarahan, penyakit darah atau
kelainan tubuh lainnya, maka kondisi anemia membutuhkan perhatian lebih lanjut dan
advis dokter.

Berikut ini ada beberapa tips hal yang dapat ibu lakukan untuk menghindari,
mengurangi dan menghadapi kondisi anemia.

1. Tentukan Apakah ibu mengalami Kondisi Anemia atau tidak


a. Ibu dapat mengetahuinya dengan cara memperhatikan petunjuk penting dalam
dirinya. Bila ibu merasa lebih cepat lelah, letih, lesu, tidak bergairah dan mudah
pusing atau pingsan, maka hal ini dapat menjadi tanda kondisi anemia. Untuk
memastikannya ibu dapat melakukan pemeriksaan sederhana berikut ini.

18
b. Berdirilah di depan cermin dan tarik kelopak mata bagian bawah. Perhatikan
tingkat warna kemerahan kelopak mata tersebut. Bila pucat atau merah muda
maka kemungkinan anda mengalami anemia.
c. Bandingkan telapak tangan ibu dengan telapak tangan suami atau orang lain yang
dianggap normal. Bila telapak tangan tampak lebih putih atau lebih pucat maka
mungkin anda sedang dalam kondisi anemia.
d. Julurkan dan perhatikan warna lidah anda. Bila tepi lidah anda menjadi lebih
pucat dari warna permukaan dalam pipi maka kondisi anemia mungkin telah
terjadi.
Untuk memastikan kondisi anemia ini, ibu dapat memeriksakan darah untuk
kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah. Bila hemoglobin kurang
dari 10gr% maka sebaiknya ibu segera pergi ke dokter untuk memeriksakan diri.
1. Perbaikan diet/pola makan
Penyebab anemia terbanyak pada ibu hamil adalah diet yang buruk.
Perbaikan pola makan dan kebiasaan makan yang sehat dan baik selama
kehamilan akan membantu ibu untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup
sehingga dapat mencegah dan mengurani kondisi anemia.
2. Konsumsilah bahan kaya protein, zat besi dan Asam folat
Bahan kaya protein dapat diperoleh dari hewan maupun tanaman.Daging,
hati, dan telur adalah sumber protein yang baik bagi tubuh.Hati juga banyak
mengandung zat besi, vitamin A dan berbagai mineral lainnya.Kacang-kacangan,
gandum/beras yang masih ada kulit arinya, beras merah, dan sereal merupakan
bahan tanaman yang kaya protein nabati dan kandungan asam folat atau vitamin B
lainnya. Sayuran hijau, bayam, kangkung, jeruk dan berbagai buah-buahan kaya
akan mineral baik zat besi maupun zat lain yang dibutuhkan tubuh untuk
membentuk sel darah merah dan hemoglobin.
3. Batasi penggunaan antasida
Antasida atau obat maag yang berfungsi menetralkan asam lambung ini
umumnya mengandung mineral, atau logam lain yang dapat menganggu
penyerapan zat besi dalam tubuh. Oleh karena itu batasi penggunaannya dan
gunakan sesuai aturan pemakaian.

19
4. Ikuti saran dokter
Beberapa penyebab kondisi anemia adalah penyakit serius tertentu.Oleh
karena itu jangan meremehkan kondisi anemia yang anda hadapi.Konsultasikan
lebih lanjut kondisi yang anda hadapi dan ikutilah nasehat dokter anda.
Pedoman menu
Berikut ini pedoman untuk menyusun menu bagi ibu hamil:

1. Makan dua kali lebih dari biasanya, bukan hanya dalam jumlah porsi, namun lebih
ditekankan pada mutu zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi.
2. Makanan dapat diberikan 4 - 6 kali waktu makan sesuai dengan kemampuan ibu.
Jangan memaksa untuk menghabiskan makanan yang tersaji jika merasa mual,
pusing, dan ingin muntah.
3. Batasi konsumsi makanan berlemak tinggi dan yang merangsang seperti cabe,
makanan bergas seperti nangka, nanas dan durian, serta yang beralkohol semacam
tape.
4. Usahakan mengkonsumsi makanan dalam komposisi seimbang, dengan susunan yang
meliputi 2 piring nasi @ 250 g, 90 g daging atau ikan, sebutir telur, 60 g kacang-
kacangan, 3 porsi sayur @ 100 g, 2 porsi buah-buahan @ 100 g, segelas susu atau
yoghurt, atau seiris keju sebagai ganti serta 1 sdm minyak atau lemak.
5. Berikan minum 1/2 jam sehabis makan. Perbanyak minum air putih, sari buah seperti
air jeruk, air tomat, sari wortel, air rebusan kacang hijau sebagai pengganti cairan
yang keluar, karena ibu hamil lebih banyak berkeringat dan sering buang air kecil
karena kandung kemih yang terdesak oleh pertumbuhan janin. Penting untuk
menghindari minuman berkafein seperti kopi, coklat, dan soft drink (minuman
ringan) pemicu hipertensi.
6. Hindari konsumsi bahan makanan olahan pabrik yang diberi pengawet dan pewarna
yang dimasukkan ke dalam bahan pangan, karena dapat membahayakan kesehatan
dan pertumbuhan janin, yang sering dihubungkan dengan cacat bawaaan dan kelainan
bayi saat lahir. Waspadai tulisan pada kemasan sepertiamaranth, potassium nitrit,
sodium nitrit, sodium nitrat, formalin, boraks, sianida, rodhamin B, dsb.

20
7. Hindari makanan berkalori tinggi dan banyak mengandung gula serta lemak namun
rendah kandungan zat gizi, makanan siap saji, makanan kecil, coklat, karena akan
mengakibatkan mual dan muntah.
8. Bagi ibu yang hamil muda, konsumsilah makanan dalam bentuk kering, porsi kecil
dan frekuensi sering, misalnya biskuit marie dan jenis-jenis biskuit yang lain, karena
biasanya mereka tidak berselera makan.
9. Hindari konsumsi makanan laut dan daging yang pengolahannya tidak sempurna
karena besar risikonya tercemar kuman dan bakteri yang membahayakan. Untuk
menghindarinya, masaklah makanan sampai matang benar, dan cuci makanan untuk
menjaga kebersihan, terutama buah dan sayuran sampai bersih sebelum dikonsumsi.
10. Tetap beraktivitas dan bergerak, misalnya dengan jalan santai di pagi hari.

Zat-zat gizi penting


Zat-zat gizi yang perlu mendapat perhatian dalam konsumsi ibu hamil adalah
sebagai berikut:
1. Sumber tenaga, digunakan untuk tumbuh kembang janin dan proses perubahan
biologis yang terjadi dalam tubuh yang meliputi, pembentukan sel- sel baru,
pemberian makanan dari ibu ke bayi melalui plasenta, serta pembentukan enzim dan
hormon penunjang pertumbuhan janin. Kekurangan energi dalam asupan makanan
yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari
ibu hamil yaitu sekitar 11 - 14 kg. Kekurangan itu akan diambil dari persediaan
protein yang dipecah menjadi energi.
2. Protein, diperlukan sebagai pembentuk jaringan baru janin. Kekurangan asupan
protein dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin, keguguran, bayi lahir dengan
berat badan kurang, serta tidak optimalnya pertumbuhan jaringan tubuh dan jaringan
pembentuk otak.
3. Vitamin, dibutuhkan untuk memperlancar proses biologis yang berlangsung dalam
tubuh ibu dan janin. Misalnya, vitamin A diperlukan untuk pertumbuhan, vitamin B1
dan B2 sebagai penghasil energi, vitamin B6 sebagai pengatur pemakaian protein
tubuh, vitamin B12 membantu kelancaran pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin

21
C membantu penyerapan zat besi guna mencegah anemia, dan vitamin D untuk
membantu penyerapan kalsium.
4. Mineral, antara lain :
a. Kalsium, digunakan untuk menunjang pembentukan tulang dan gigi serta
persendian janin. Jika ibu hamil kekurangan kalsium, maka kebutuhan kalsium
akan diambilkan dari cadangan kalsium pada tulang ibu. Ini akan mengakibatkan
tulang keropos atau osteoporosis. Untuk itu, si ibu perlu mengkonsumsi susu,
telur, keju, kacang-kacangan, atau tablet kalsium yang dapat diperoleh saat
periksa ke Puskesmas atau klinik.
b. Zat besi, erat berkaitan dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sebagai
adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, yang disebabkan oleh :
 Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin.
 Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
 Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita, sehingga
tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan
darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya.
Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya
karena pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai
persediaan bulan pertama sesudah lahir.Penanganannya, pertama, menggunakan terapi
obat dengan memberikan tablet zat besi (ferosulfat) 30 - 60 mg per hari, tergantung pada
berat ringannya anemia. Kedua, terapi diet dengan meningkatkan konsumsi bahan
makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau.
H. PENGOBATAN ANEMIA
Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian
besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet
besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya
cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk
menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih
besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan
sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini
adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya

22
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan data sekunder anemia gizi pada ibu hamil khusus kabupaten wajo
yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah penderita sesuai
data mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Hal ini disebabkan karena kehilangan
darah pada waktu pendarahan, kerusakan sel darah merah, dan Produksi sel darah merah
tidak cukup banyak.
B. SARAN
1. Bagi Dinas Kesehatan
Dalam melaksanakan program pencegahan anemia, khususnya anemia gizi
besi pada ibu hamil, faktor interaksi petugas kesehatan dan pengetahuan ibu hamil
untuk mendapatkan perhatian, mengingat interaksi petugas kesehatan dan
pengetahuan ibu pengaruhnya sangat tinggi terhadap praktek ibu hamil dalam
pencegahan anemia gizi besi ibu hamil di Kabupaten Wajo.
2. Bagi Petugas Kesehatan
 Petugas kesehatan perlu mengadakan penyuluhan tentang anemia gizi pada ibu
hamil dengan tujuan untuk menambah pengetahuan ibu hamil mengenai anemia
gizi.
 Meningkatkan mutu pelayanan di Posyandu, karena kunjungan di posyandu cukup
tinggi

23
DAFTAR PUSTAKA

 file:///H:/materi%20anemia%20gizi/anemia-ibu-hamil.html
 file:///H:/materi%20anemia%20gizi/anemia-gizi_5345.html
 file:///H:/materi%20anemia%20gizi/Anemia%20Gizi%20%C2%AB%20Caroline
%E2%80%99s%20Weblog.htm

24