Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN AKHIR PBL

Skenario 5

Disusun oleh :

Panelis : Kandida Eva Shangrila Guling


Anggota : - Nikolaus Namsa
-Rocky Matius Tenggara
-Janetta Chien Tinambunan
-Juliati
-Laeticia Naibaho
-Maria Berlianna F
-Maria P.O Guntur
-Maria Titin Inya Ede
-Kuncoro Anang Prasudi

STIKES BETHESDA YAKKUM


YOGYAKARTA
2014
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat.
Sehingga saya dan kelompok dapat menyelesaikan penyusunan laporan akhir PBL skenario 3
ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga laporan ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun menambah ilmu bagi saudara
sekalian , sehingga ilmu konsep komunikasi, komunikasi terapeutik, komunikasi pada
berbagai tingkat usia dank lien dengan gangguan, komunikasi dalam konteks
keanekaragaman budaya, trend dan issue sehingga dapat berguna bagi semua para pembaca.
Harapan saya dan kelompok semoga laporan ini membantu menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
laporan ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Laporan ini saya dan kelompok akui masih banyak kekurangan karena pengalaman
yang saya dan kelompok miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan laporan ini.
MAPING

1. KONSEP KOMUNIKASI

A B C D E

 Definisi  Metode  Faktor  Komunikasi  Hubungan


 Fungsi  Model Pendukung Efektif antara
 Tipe  Faktor
 Jenis manusia.
 Manfaat Penghambat
 Komponen
 Proses
 Lambang
 Tingkat

2. KOMUNIKASI TERAPEUTIK

A B C

 Definisi  Cara menjadi  Panduan


 Fungsi terapeutik Interaksi
 Manfaat
 Prinsip antara perawat
 Teknik dengan klien
 Tahap

3. KOMUNIKASI PADA BERBAGAI TINGKAT USIA DANK LIEN DENGAN GANGGUAN

A B

 Komunikasi pada klien  Komunikasi


anak, dewasa, lanjut pada klien
usia. kebutuhan
khusus

4. KOMUNIKASI DALAM KONTEKS KEANEKARAGAMAN BUDAYA

A B C D E

 Dimensi  Hubungan  Unsur –  Peranan  Dimensi


persepsi
Komunikasi timbal balik unsure persepsi
antar antara kebudaya dalam
budaya komunikasi an. komunitas
dengan antar
kebudayaan budaya.

5. Trend dan Issue

A B C

 Trend dan Issue  Pemahaman  Anggota Interdisiplin


yang terjadi dalam Kolaborasi
pelayanan
keperawatan.

1. KONSEP KOMUNIKASI
A. 1 Definisi
 Lu Verne Wolf : Komunikasi merupakan proses timbale balik dan suatu pengalaman
dimana mengirim dan menerima pesan berpartisipasi secara simulafan.
 Jhon R.Schemerhom : komunikasi dapat diartikan sebagai proses antara pribadi
dalam mengirim dan menerima symbol-simbol yang berarti bagi kepentingan
mereka.
 Bargess : Komunikasi yaitu proses penyampaian informasi,makna dan pemahaman
dari pengirim pesan kepada penerima pesan
 Orang : Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang orang
lain memberitahukan atau mengubah sikap.
 Komunikasi : Merupakan suatu proses penyampaian informasi antar individu atau
kelompok, baik secara verbal maupun nonverbal yang dapat menimbulkan respon
timbal balik antara pengirim dan penerima.

A.1 Fungsi

Fungsi Komunikasi antara lain :

1. Sosialisasi
2. Motivasi
3. Perdebatan dan Diskusi
4. Pendidikan
5. Hiburan

A.1 Tipe
a) Pelaksanaan

Dalam komunikasi dibagi menjadi komunikasi formal dan informal


- Komunikasi formal adalah komunikasi yang terjadi antara bawahan atasan
dalam lingkup pekerjaan yang secara hirarkisberbeda.
- Komunikasi informal adalah komunikasi yang dalam pelaksanaannya tidak
mengenal hiarki dan komunikasi informal tidak ada sangsinya.

b) Bentuknya
Menurut bentuk komunikasi dibagi menjadi komunikasi verbal dan komunikasi non verbal
- Komunikasi verbal adalah komunikasi yang mempergunakan lambang bahasa
dalam penyampaian pesan kepada.
- Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang mempengaruhi lambang
bukan bahasa, dapat berwujud gambar, isyarat. Komunikasi verbal dibagi
menjadi dua yaitu komunikasi verbal tulis dan lisan.

c) Umpan Balik
Berdasarkan umpan balik yang didapat , komunikasi dibagi menjadi 2 yaitu
komunikasi satu arah dan dua arah.
- Komunikasi satu arah, maksudnya komunikator tidak memberi kesempatan
kepada komunikan tidak memberi untuk meminta penjelasan, pembenaran
dll. Komunikasi satu arah hanya menjamin penyampaian pesan.
- Komunikasi dua arah, mempunyai sistem umpan balik yang menekat.
Komunikasi ini menjamin bahwa informasi jelas, dan terbuka untuk pertanyaan
yang belum jelas.

A.1 Jenis

Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas


hubungan antara manusia atau kelompok. Jenis komunikasi terdiri dari komunikasi verbal
dengan kata-kata dan komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh

 Komunikasi Verbal, mencakup aspek-aspek berupa ;


a) Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan
disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi
penting dalam berkomunikasi.
b) Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan
bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c) Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan
akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d) Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989),
memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan
stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat
bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e) Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan
jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f) Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena
berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya
dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang
disampaikan.
 Komunikasi Non Verbal.
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non
verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.Yang termasuk komunikasi non verbal :
a) Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah
cerminan suasana emosi seseorang.
b) Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan
kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan
menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar
mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain
untuk mengobservasi yang lainnya
c) Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat
spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang
sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan
melalui sentuhan.
d) Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak
memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan
emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e) Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan
perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila
dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis
atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f) Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat
sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau
mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress
bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stres

A. 1 Manfaat
a) Informasi.
pengumpulan, penyimpanan, penyebaran berita, gambar, fakta, pesan, opini agar
dapat dimengerti orang lain dan dapat beraksi secara jelas.
b) Sosialisasi.
Dengan komunikasi sesuatu yang ingin disampakan dapat disebarkan ke masyarakat
luas.
c) Motivasi
Proses komunikasi yang dilakukan secara persuasive dan argumentative dapat
berfungsi sebagai penggerak semangat, pendorong bagi seseorang untuk melakukan
sesuatu yang diinginkan komunikator.
d) Pendidikan
Proses pengalihan IPTEK untuk perkembangan intelektual, watak dan keterampilan
dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik dan efektif, Memajukan kehidupan.
e) Hiburan.
Dunia entertainmen telah banyak muncul dari produk komunikasi. Misal : lawak,
menyanyi, drama, sastra,seni dan lain - lain.
f) Integrasi.
Dengan berkomunikasi dapat mempengaruhi seseorang dalam bersikap, berperilaku
dan berpola pikir serta sebagai sarana untuk menghargai dan memahami pandangan
orang lain.

A.1 Komponen
a) Encorder / Sender / Komunika
Seseorang yg punya inisiatif menyampaikan pesan kepada orang lain.
b) Message / Berita / Pesan
Informasi yang disampaikan oleh pengirim pesan diubah menjadi lambang - lambang
( Verbal , non verbal ).
c) Chanel / Media / Saluran.
Cara yang digunakan untuk sampaikan pesan : pendengaran, penglihatan, peraba,
perasa, penciuman. Contoh: melalui chanels penglihatan perawat bisa melihat air
mata pada mata pasien. Alat teknologi: radio, TV, majalah .
d) Decorder /Receiver / Komunikan
Seseorang yang menerima pesan dari komunikator mengiterpretasikan / ditafsirkan
kemudian mengambil keputusan bagaimana berespon.
e) Lingkungan.
Rangsangan yang memotivasi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Bisa : benda, emosi, situasi, pengalaman, ide- ide.
f) Umpan balik / feed back.
Proses lanjutan dari pesan yang diterima. Merupakan pesan yang dikembalikan oleh
penerima kepada pengirim pesan. Umpan balik bisa berupa verbal, non verbal
(anggukan kepala, ekspresi wajah bingung/ paham/ tanda kebosanan (menguap) .

A.1 Proses
1. KOMUNIKATOR
Mengembangkan ide yang ingin disampaikan. Mengkode ide dalam bentuk
lambang (Verbal atau Non verbal), Menyampaikan pesan melalui saluran
komunikasi tertentu.Menunggu umpan balik untuk ketahui keberhasilan komunikasi.
2. KOMUNIKAN
Menerima lambang - lambang dari komunukator, Membaca lambang-
lambang, Menggunakan pesan yang telah disampaikan, Memberikan umpan balik
kepada komunikator.
A.1 Lambang

1.Kata – kata.

Untuk menunjukkan pengertian - pengertian yang tidak nyata dan tidak jelas.

2.Tindakan.

Ditunjukkan dengan berbicara lebih keras, dari pada kata-kata.

3.Gambar.

4.Angka.

Dipergunakan untuk memperlihatkan data-data statistik. Agar lambang dapat dimengerti


dengan efektif maka perlu adanya perhatian. Kebanyakan komunikasi dilaksanakan dengan
lisan, sehingga komunikan harus mempergunakan pendengaran dengan baik.

A.1 Tingkat

Menurut Jane (1994), mengemukakan komunikasi dibagi 4 tingkat yaitu :

1. KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

Adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, dimana individu berdialog
dengan dirinya sendiri. Contoh:” Perawat melihat seorang pasien dan berpikir : dia kelihatan
sangat tidak nyaman, saya akan memberikan posisi yang nyaman untuknya”.

2. KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Adalah komunikasi yang terjadi diantara dua orang atau dalam kelompok Kecil,
Terjadi kontak langsung dalam percakapan. Dapat berlangsung melalui tatap muka atau
melalui telepun atau radio. Disebut komunikasi dua arah karena terjadi timbal balik antara
komunikator dan komunikan. Melibatkan komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi
ini digunakan dalam kehidupan social misalnya menyelesaikan masalah, bertukar pikiran,
membuat keputusan. Juga banyak digunakan dalam keperawatan. Misal : mengambil darah,
memasang infus, pengkajian .
3. Komunikasi massa

Menguasai posisi dimana harus berdiri, kapan harus mendekat, kapan harus menjauh,
membuat posisi didepan, ditengah atau belakang.Hal yang harus di perhatikan adalah Volume
suara, Bahasa tubuh dan Motivasi.

4. KOMUNIKASI PUBLIK

Komunikasi dengan kelompok besar (lebih 10-12 orang ).Misal : Penyuluhan pada
sekelompok pasien pemberian arahan pada mahasiswa . Komunikator perlu mengetahui :
latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pengalaman komunikan sehingga komunikator
bisa memilih untuk menyampaikan pesan dengan tepat.

Ciri-ciri komunikasi publik:

 Cara penyampaian pesan berlangsung kontinyu.


 Dapat didefinisikan siapa pembicaranya dan siapa pendengarnya.
 Interaksi antara sumber dan penerima terbatas.
 Tanggapan baliknya juga terbatas.
 Sumber sering kali tidak bisa mengidentifikasi satu persatu pendengarnya.
 Pesan yang disampaikan sudah dipersiapkan sejak awal.
 Pesan yang disampaikan terbatas pada segmen tertentu.

B.1 Metode
Komunikasi yang dilaksaanakan pada umumnya mempunyai maksud dan
tujuan yang diharapkan , hal ini terkait dengan metode yang digunakan. Ada tiga
metode komunikasi yang sering digunakan untuk berkomunikasi , antara lain:

1) Komunikasi informative

Adalah metode komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi


secara umum.Sifat metode ini adalah memberikan keterangan atau pemberitahuan
yang bersifat informative dan edukatif.

2) Komunikasi persuasf

Adalah metode komunikasi yang bersifat membujuk secara halus agar


komunikaan atau sasaran menjadi yakin dan mau mengikuti apa yang diinginkan
komunikator.
3) Komunikasi instruktif atau koersif

Metode komunikasi yang berupa perintah untuk melakukan suatu tugas atau
pekerjaan. Biasanya hal ini terjadi antara bos dengan anak buah, dokter dengan
perawat dll.

B.1 Model

a. Teori transaksi (model pertukaran sosial)

HAM berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu yaitu apakah masing


-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika
merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa
rugi maka hubungan itu akan terganggu, putus, atau bahkan berubah menjadi
permusuhan.

b. Teori peran

Pergaulan sosial sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat yang
mengatur apa dan bagaimana peran tiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario
itu sudah “tertulis” seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus
bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga
sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak,
mantu, mertua dan seterusnya. Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario,
maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh
oleh penonton dan ditegur sutradara. Dalam hal ini masyarakatlah sebagi penonton
dan sekaligus sutradara kehidupan.

c. Teori permainan

Klasifikasi manusia terbagi menjadi tiga yaitu anak-anak, dewasa dan orang
tua. Masing-masing individu mempunyai sifat yang khas. Anak-anak itu manja, tidak
mengerti tanggung jawab. Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan
tanggungjawabnya. Adapun orang tua, ia lebih dapat memahami dan memaklumi
kesalahan orang lain. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil menangis
terguling-guling ketika minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan heran jika ada
orang tua yang masih kekanak-kanakan. Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh
bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang
semestinya ditunjukkan. Jika tidak maka suasana pasti runyam. Demikian juga
hubungan antara pusat dan daerah, antara atasan dan bawahan. Aparat Pemerintah
mestilah bersikap dewasa, Presiden dan Ketua MPR mestilah jadi orang tua.

C.1 Faktor Pendukung


1. Latar belakang budaya

Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui
kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator
dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.

2. Ikatan kelompok atau group

Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara


mengamati pesan.

3. Harapan

Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan


sesuai dengan yang diharapkan

4. Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam


menyikapi isi pesan yang disampaikan.

5. Situasi

Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.

C.2 Faktor Penghambat

Secara umum hambatan yang terjadi selama komunikasi adalah sebagai


berikut:

 Kurangnya penggunaan sumber komunikasi yang tepat

 Kurang pencernaan dalam berkomunikasi

 Penampilan,sikap,dan kecakapan yang kurang tepat selama berkomunikasi


 Kuramg pengetahuan

 Perbedaan harapan

 Kondisi fisik dan mental yang kurang baik

 Pesan yang kurang jelas

 Prasangka yang buruk

 Transmisi /media yang kurang baik

 Penilaian yang premature

 Tidak ada kepercayaan

 Ada ancaman

 Perbedaan status ,pengetahuan dan bahasa.

 Distorsi(kesalahan informasi)

D.1 Komunikasi Efektif

1. Respect
Sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang disampaikan.
2. Empathy

o Kemampuan menempatkan diri pada kondisi atau situasi yang dihadapi


oleh orang lain.

o Prasyarat empathy:kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti


terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.

3. Audible.

o Pesan yang kita sampaikan dpt diterima oleh penerima pesan.

o Dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik

4. Clarity
Kejelasan dari pesan itu sendiri shg tidak menimbulkan multi interpretasi atau
berbagai penafsiran yang berlainan.
5. Humble
Sikap rendah hati

 Syarat Agar Komunikasi menjadi Efektif, Arita Murwani 2009

1. Bila menggunakan lambang komunikasi kata-kata, maka:

2. Menciptakan suasana yang menguntungkan.

3. menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.

4. pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.

5. Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.

6. Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihak komunikan.

7. Bila menggunakan lambang gerakan atau bahasa tubuh harus sesuai dan tidak berlebihan.

8. Bila menggunakan lambang gambar atau angka harus jelas dan benar.

E.1 Hubungan Antara Manusia

Ada dua pengertian hubungan antar manusia, yakni hubungan antar manusia
dalam arti luas dan hubungan antar manusia dalam arti sempit:

a. Hubungan antar manusia dalam arti luas

Hubungan antar manusia dalam arti luas adalah interaksi antara seseorang
dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi,
hubungan manusiawi dilakukan dimana saja; bisa dilakukan dirumah, dijalan, didalam
kendaraan umum (misal bis atau angkutan kota) dan sebagainya.

b. Hubungan antar manusia dalam arti sempit

Hubungan antar manusia dalam arti sempit adalah juga interaksi antara
seseorang dengan orang lain. Akan tetapi, interaksi disini hanyalah dalam situasi kerja
dan dalam organisasi kerja (work organization)
2. Komunikasi Terapeutik
A.1 Definisi

Komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat menggunakan


pendekatan terencana mempelajari klien.

A.2 Fungsi
1. Kesadaran diri
2. Klarifikasi nilai
3. Eksplorasi nilai
4. Kemampuan untuk menjadi model peran
5. Motivasi altristik
6. Rasa tanggung jawab dan etik

A.3 Manfaat
1. Untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antar perawat dan pasien
melalui hubungan perawat dan pasien
2. mengidentifikasi
3. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang
dilakukan oleh perawat

A.4 Prinsip

Dalam konsep komunikasi teraputik menekankan pentingnya “Relationship” dalam


membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung. Komunikasi terapeutik adalah
ketrampilan untuk membantu mengatasi stress yang menghambat psikologikal dan belajar
bagaimana berhubungan efektif dengan orang lain.

Untuk mengetahui apakah komunikasi yang dilakukan tersebut bersifat terapaeutik atau tidak,
maka dapat dilihat apakah komunikasi tersebut seuai dengan prinsip-prinsip berikut ini:

A. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti memahami dirinya sendiri serta
nilai yang dianut.
B. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling
menghargai

C. Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien


D. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental

E. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi


untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga tumbuh makin
matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi

F. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui
dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasiln maupun frustasi

G. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan


konsistensinya

H. Memahami betul arti simpati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati
yang bukan tindakan terapeutik.

I. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik

J. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang
lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan
sehat fisik, mental, sosial, spiritual dan gaya hidup

K. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan yang dianggap mengganggu

L. Perawat harus enciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang


tanpa rasa takut

M. Altruisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.

N. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin keputusan berdasarkan
prinsip kesejahtraan manusia

O. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap dirinya atas
tindakan yang dikaukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

A.5 Teknik
1. mempokuskan pada klien namun direncanakan dan dipimpin oleh seorang profesional
2. mengembangkan hubungan interpersonal antara klien dan perawat
3. penyampaian secara rahasia
4. mewaspadai keinginan untuk berbagi informasi yang didapat dari klien selama
pemaparan
5. kemampuan dan komitmen yang tulus dari perawat.
A.6 Tahap
1. INTERAKSI SOSIAL adalah usaha pertama dalam berkomunikasi dengan klien
umumnya meliputi interaksi sosial yang singkat.
2. PERAWAT DAN METODE KOMUNIKASI EFEKTIF adalah perawat menggunakan
kemampuan komunikasi ketika menerapkan hubungan terapeotik

B.1 Cara Menjadi Terapeutik


1. Mempokuskan pada klien
2. Mengembangkan hubungan interfesonal
3. Memperhatikan pada berbagai interaksi
4. Penyampaian secara rahasia dan tidak menyebarkan menjadi gosip ,
bertanggung jawab
5. Perawat mampu mewaspadai
6. Kemampuan dan komitmen yang tulus

 5 sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat
memfasilitasi komunikasi yang terapeotik, menurut EGAN yaitu:

1. Berhadapan arti nya dari posisi ini adalah “saya siap untuk anda”
2. Mempertahankan kontak mata . kontak mata pada level yang sama berarti
menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi
3. Membungkuk kearah klien posisi ini menunjukan keingginan untuk
mengatakan atau mendengarkan sesuatu
4. Mempertahankan sikap terbuka , tidak melipat kaki atau tangan menunjukan
keterbukaan untuk berkomunikasi
5. Tetap rileks tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan
relaksasi dalam dalam memberi respons kepada klien

C.1 Panduan Interaksi antara Perawat dengan Klien

a. Fase Prainteraksi

Prainteraksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi


dengan klien.

b. Fase perkenalan/Orientasi
Perkenalan merupakan kegiatan yang anda lakukan saat pertama kali bertemu
dengan klien.

c. Fase kerja

Fase kerja merupakan inti hubungan perawatan klien yang terkait erat dengan
pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai.

d. Fase terminasi

Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dan klien.


Terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir.

3. Komunikasi Pada Berbagai Tingkat Usia dan Klien


dengan Gangguan
A.1 Komunikasi pada Klien Anak, Dewasa, Lanjut Usia

 Komunikasi pada Bayi


1) Banyak menggunakan komunikasi non verbal unt menyatakan kebutuhan (mis:
tersenyum puas; menangis sakit)
2) Usahakan memenuhi kebutuhan bayi secepat mungkin.
3) Berbicaralah dengan suara yang lembut, sentuhan dan belaian, ciuman, mendekap,
menggendong, atau dengan gerakan (seperti mengayun memberi kenyamanan / senang
4) Rangsang taktil (sentuhan) sangat kuat maknanya bagi bayi unt meningkatkan rasa
aman, melindungi bayi dan kedekatan hubungan.

5) Respon bayi thd komunikasi: ditunjukkan secara nonverbal misal: tersenyum,


menggerakkan badan, tangan dan kaki
6) Bayi lebih 6 bln: kadang terjadi stranger anxiety (cemas pada orang asing) saat
berkomunikasi jangan langsung ingin menggendong atau memangkunya, tetap lakukan
pendekatan lebih dahulu dengan mainan yang dipegangnya atau berbicara dgn ibunya.
7) Berkomunikasilah dengan bermain (cilukba, mainan berbunyi) jika bayi menerima.

Tujuan Komunikasi Dengan Bayi


1) Memberi rasa aman kepada bayi
2) Memenuhi kebutuhan bayi akan kasih sayang
3) Melatih bayi mengembangkan kemampuan bicara, mendengar, dan menerima
rangsangan

 Berkomunikasi dengan Balita (usia 1-2 th)


1) Panggil anak sesuai yang digunakan anak tersebut bagi dirinya.
2) Gunakan pesan yang pendek dan jelas, suara lembut
3) Pelajari dan gunakan kata-kata yang dipakai anak untuk ke kamar mandi, mandi, makan.
4) Perilaku protes yang dilakukan anak (seperti tantrum/mengamuk) dapat digunakan untuk
mengatasi tekanan/stres pada anak.

 Komunikasi pada Masa Prasekolah (Usia 3-5/6 th)


1) Pada masa ini anak mulai mandiri dan mengembangkan keterampilan dirinya untuk
berinteraksi dengan orang lain.
2) Anak yang lebih kecil belum fasih berbicara (ucapan dan perbendaharaan kata belum
memadai sepenuhnya)
3) Anak masih egosentris percakapan tentang dirinya.
4) Berpikir kongkrit:
o bicara apa adanya (jujur)
o bila perlu ijinkan untuk menyentuh, memegang, memeriksa barang yg akan berhubungan
dengan mereka.
5) Bahasa sederhana belum lancar mengungkapkan perasaan / keinginan komunikasi non
verbal
6) Takut kesakitan karena ketdiktahuannya jelaskan apa yang akan dilakukan
o jelaskan apa yg akan dilakukan
o jelaskan bagaimana rasanya
o penjelasan sederhana
7) Sebagian anak mengalami stranger anxiety yang menjadi barier/penghambat dalam
komunikasi.
8) Posisi yang baik pada saat berbicara pada anak adalah: jongkok, duduk di kursi kecil,
atau berlutut pandangan mata sejajar dgn anak
9) Berikan pujian atas apa yang telah dicapainya
10) Orang tua atau perawat harus konsisten dalam berkomunikasi (verbal / nonverbal) sesuai
situasi saat itu (misal tidak tertawa saat anak mengalami kesakitan karena tindakan tertentu)

Tujuan komunikasi pada masa prasekolah


1) Melatih keterampilan penggunaan pancaindra
2) Meningkatkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor
3) Sebagai bentuk pembelajaran dan permainan dalam melakukan hubungan dengan
orang lain.
4) Mengembangkan konsep diri

 Komunikasi pada anak Sekolah (6-12 th)


1) Berfikir fungsional arah pertanyaan: mengapa, bagaimana, untuk apa sesuatu
dilakukan.
2) diperlukan:
• penjelasan yang sederhana disertai alasan
• berikan kesempatan untuk bertanya
• bila perlu beri kesempatan untuk mencoba melakukannya.
3) Gunakan beberapa kosa kata anak dalam penjelasan.
4) Buatlah gambar untuk mendemonstrasikan prosedur/anatomi

5) Hargai privasi anak. Mungkin ada topik pembicaraan yang tidak ingin didiskusikan.

6) Sangat memperhatikan keutuhan tubuh takut terluka perlu pendekatan shg anak dapat
mengungkapkan perasaannya kecemasannya turun.

7) Anak dengan kecemasan tinggi dapat dialihkan dgn:

a. Berbicara

b. menghadirkan orang dekat kecemasan turun dapat menerima pendapat orang lain.

8) Anak usia sekolnah yag lebih besar mampu berpikir kongkrit dapat berkomunikasi
lebih baik.

 Komunikasi pada Usia Remaja


1) Masa ini adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa anak-anak menuju dewasa.
2) Pola pikir dan tingkah laku merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa
3) Bahasa dan kultur tersendiri bahasa gaul ( istilah tertentu: nyokap, bokap )

4) Peer group / kelompok sebaya yang utama lebih terbuka pada orang lain dapat orang
tua / keluarga

5) Komunikasi dengan remaja:

• memberi perhatian
• mendengarkan ungkapan remaja
• menghargai dan terbuka terhadap pendapat yang disampaikan
• hindari menghakimi / mengkritik dengan tajam
6) Hargai keberadaan identitas diri dan harga dirinya
7) Tunjukkan ekspresi wajah yang bersahabat dengannya
8) Jangan memotong pembicaraan saat anak sedang mengekspresikan pikiran dan
perasaannya

9) Hormati privasinya

10) Beri dukungan pada apa yang telah dicapainya secara positif dengan memberikan
penguatan positif (pujian ).

11) Komunikasi yang baik diperlukan:

12) Kepercayaan sebagai dasar untuk berkomunikasi yang dibentuk dengan:


• meluangkan waktu bersama
• dorong agar berani mengungkapkan ide / pikiran / perasaan
• hargai, hormati pendpt / pikirannya
• toleransi terhadap perbedaan ide / pikiran
• pujian untuk hal yang baik
• hormati privasinaya
• berikan contoh yang baik
Hal yang harus diperhatikan saat berkomunikasi dgn anak:

 Rasa aman dan nyaman anak ( perawat – pasien )


 Hindari tindakan tiba-tiba yang dapat menyebabkan ketakutan (suara keras, ketawa
keras, mata melotot, dan sebagaiannya)

 Kontak mata sejajar


 Berbicara dengann jelas, suara lembut, tdk tergesa-gesa

 Bahasa sederhana

 Gunakan teknik komunikasi yg sesuai

 Kejujuran

 Komunikasi pada masa Dewasa


1) Kematangan fisik, mental dan sosial mencapai optimal
2) Mempunyai sikap, pengetahuan, dan keterampilan yg sudah lama menetap dlm dirinya
sulit unt dirubah perilakunya.
3) Hargai sudut pandang pasien.
4) Hindari panggilan yg merendahkan spt “nenek”, “sayang” selalu mulai secara formal
(Tn, Ny, Nn, Bpk, Ibu).

Suasana komunikasi pd orang dewasa:


1) Hormat menghormati menghormati pendapat pribadinya
2) Saling menghargai pendapat, pikiran, perasaan, gagasan, sistem nilaiyg dianut.
3) Saling percaya memprcayai bahwa yg disampaikan/didengar itu benar
4) Saling terbuka terbuka unt mendengarkan orang lain.

Materi Komunikasi pd orang dewasa


1. Pekerjaan dan tugas : pembagian tugas, deskripsi kerja, dan transaksi kerja
2. Kegiatan kerumah tanggaan: pembagian tugas dalam keluarga, pendidikan anak,
pemenuhan kegiatan sosial ekonomi
3. Kegiatan profesional: pembagian kerja, transaksi
4. Kegiatan sosial: hubungan sosial, peran dan tugas social
Komunikasi pada Lansia
1) Kemampuan komunikasi pada lansia dpt mengalami penurunan akibat penurunan
berbagai fungsi sistem organ (penglihatan, pendengaran, wicara dan persepsi), perubahan
psikis/emosi, interaksi sosial & spiritual perlu pendekatan & teknik khusus dlm
berkomunikasi.
2) Perubahan emosi sering nampak berupa reaksi penolakan thd kondisi yg terjadi.
Gejala penolakan yang terjadi:
3) Tdk percaya thd diagnosa, gejala, p’kembangan & keterangan yg diberikan tenaga
kesehatan
4) Mengubah keterangan yg diberikan shg diterima keliru
5) Menolak membicarakan perawatan di RS
6) Menolak iut serta dalam perawatan dirinya, khususnya tindakan yang melibatkan
dirinya
7) Menolak nasehat (istirahat baring, berganti posisi tidur untuk kenyamanan dirinya)
Pendekatan dalam komunikasi dengan lansia
8) Pendekatan fisik mencari informasi tentang kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian
yang dialami, perubahan fisik / organ tubuh, tingkat kesehatan yg masih bisa dicapai dan
dikembangkan.
9) Pendekatan psikologis mengarah pd perubahan perilaku. Dalam pendekatan ini
perawat berperan sebagai: konselor, advokat, suporter, interpreter, sahabat dekat klien
10) Pendekatan sosial diskusi, tukar pikiran, berceritera, bermain, kegiatan kelompok
agar klien dapat berinteraksi dgn sesama klien / petugas
11) Pendekatan spiritual memberikan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan;
efektif bagi klien dengan latar belakang keagamaan yg baik.

 Teknik komunikasi pd lansia


1) Teknik asertif sikap yang dapat menerima, peduli, sabar untuk mendengarkan dan
memperhatikan ketika pasangan sedang berbicara komunikasi dapat dimengerti
2) Responsif perawat segera bereaksi secara aktif ketika ada perubahan sikap /
kebiasaan klien dengan menanyakan / klarifikasi tentang perubahan tersebut.
3) Klarifikasi mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari 1 kali
agar maksud pembicaraan dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh lansia / klien.
4) Sabar dan iklas perawat bersikap sabar dan iklas menghadapi perubahan klien
lansia sehingga tercipta komunikasi yang terapeutik.

Hambatan komunikasi pada lansia


Lansia bersikap:
1) Agresif ditandai dgn perilaku:
o berusaha mengontrol & mendominasi lawan bicara

o meremehka orang lain


o mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
o menonjolkan diri sendiri
o mempermalukan orang lain di depan umum, baik dengan kata-kata atau tindakan.
2) Nonasertif dgn tanda-tanda:

 menarik diri bila diajak bicara


 merasa tidak sebaik orang lain (rendah diri)

 merasa tdk berdaya

 tidak berani mengungkapkan keyakinannya

 membiarkan orang lain membuat keputusan unt dirinya

 pasif

 mengikuti kehendak orang lain

 mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dgn orang lain.

Mengatasi hambatan sehingga komunikasi efektif


1) Mulai komunikasi dengan mengecek pendengaran klien
2) Keraskan suara bila perlu
3) Dapatkan perhatian dari klien sebelum berbicara. Pandanglah klien sehingga klien
dapat melihat gerakan mulut perawat
4) Atur lingkungan yang kondusif, kurangi gangguan visual dan auditory, pastikan
pencahayaan cukup
5) Jika komunikasi macet, jangan anggap bahwa klien tidak kooperatif
6) Bertindaklah sebagai partner yang memfasiltasi klien untuk mengungkapkan
perasaannya
7) Berbicara pelan dan jelas, kalimat pendek, bahasa sederhana
8) Bantu kata-kata dengan isyarat visual
9) Serasikan bahasa tubuh dengan pembicaraan berita yg menggembirakan diiringi
senyuman, tertawa secukupnya, dan sebagainnya.
10) Berilah kesempatan klien untuk bertanya
11) Jika klien salah, jangan menegur secara langsung
12) Jadilah pendengar yang baik
13) Arahkan suatu topik pada suatu saat
14) Ikutkan keluarga (yang menunggu) untuk berpartisipasi

B.1 Komunikasi pada Klien Kebutuhan Khusus

 KLIEN DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ, misal


kornea, lensa mata, kekeruhan humor vitreus, maupun kerusakan kornea, serta
kerusakan saraf penghantar impuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi antara
lain dialami klien dengan kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus
hingga dapat menyebabkan kebutaan, baik persial maupun total.

Akibat kerusakan visual, kemampuan menangkap rangsang ketika


berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan. Oleh karena itu,
komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan
karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi yang
dapat ditransfer melalui indra yang lain. Sebagai contoh, ketika melakukan orientasi
ruang perawatan, klien harus mendapat keterangan yang memvisualisasi kondisi
ruang rawat secara lisan, misalnya, dengan menerangkan letak meja dan kursi,
menerangkan berapa langkah posisi tempat tidur dari pintu, letak kamar mandi, dan
sebagainya.

Teknik - teknik yang perlu diperhatikan :

a. Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami kebutaan parsial
atau sampaikan secara verbal keberadaan atau kehadiran perawat ketika Anda berada di
dekatnya.
b. Identifikasi diri Anda dengan menyebutkan nama dan peran Anda.
c. Berbicara dengan menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak
memungkinkannya menerima pesan non verbal secara visual. Nada suara Anda memegang
peranan besar dan bermakna bagi klien.
d. Terangkan alasan Anda menyentuh atau mengucapkan kata kata sebelum melakukan
sentuhan pada klien.
e. Ketika Anda akan meninggalkan ruangan atau hendak memutus komunikasi /
pembicaraan, informasikan kepadanya.
f. Orientasikan klien pada suara suara yang terdengar di sekitarnya.
g. Orientasikan klien pada lingkungannya bila klien di pindah ke lingkungan yang asing
baginya
 KLIEN DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

Gangguan pendengaran dapat terjadi berupa penurunan pendengaran hingga


tuli. Bentuk tuli yang selama ini dikenal ialah tuli perspektif dan tuli konduktif. Tuli
perspektif adalah tuli yang terjadi akibat kerusakan sistem saraf, sedangkan tuli
konduktif terjadi akibat kerusakan struktur penghantar rangsang suaraPada klien
dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah
media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain,
tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat
penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap
dan gerakan Anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

Berikut adalah teknik teknik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan
gangguan pendengaran :

a. Orientasikan kehadiran diri Anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di
depan klien.
b. Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk
memudahkan klien membaca gerak bibir Anda.
c. Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan klien dan pertahankan sikap tubuh dan
mimik wajah yang lazim.
d. Jangan melakukan pembicaraan ketika Anda sedang mengunyah sesuatu ( misalnya
makanan atau permen karet )
e. Gunakan bahasa pantomim bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
f. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila Anda bisa dan diperlukan.
g. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam
bentuk tulisan atau gambar ( simbol ).
 KLIEN DENGAN GANGGUAN WICARA

Gangguan wicara dapat terjadi akibat kerusakan organ lingual, kerusakan pita
suara, ataupun gangguan persarafan. Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan
wicara memerlukan kesabaran supaya pesan dapat dikirim dan ditangkap dengan
benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya telah belajar berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa isyarat atau menggunakan tulisan atau gambar.

Pada saat berkomunikasi dengan klien gangguan wicara, hal - hal berikut perlu di
perhatikan:

a. Perawat benar - benar dapat memperhatikan mimik dan gerak bibir klien.
b. Usahakan memperjelas hal yang disampaikan dengan mengulang kembali kata kata yang
diucapkan klien.
c. Mengendalikan pembicaraan supaya tidak membahas terlalu banyak topik.
d. Mengendalikan pembicaraan sehingga menjadi lebih rileks dan pelan.
e. Memperhatikan setiap detail komunikasi sehingga pesan dapat diterima dengan baik.
f. Apabila perlu, gunakan bahasa tulisan dan simbol.
g. Apabila memungkinkan, hadirkan orang yang terbiasa berkomunikasi lisan dengan klien
untuk menjadi mediator komunikasi.
 KLIEN YANG TIDAK SADAR

Ketidaksadaran mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik klien mengalami


penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima klien dan klien
tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut.

Keadaaan tidak sadar dapat terjadi akibat gangguan organik pada otak, trauma
otak yang berat, syok, pingsan, kondisi tidur dan narkose, ataupun gangguan berat
yang terkait dengan penyakit tertentu. Seringkali timbul pertanyaan tentang perlu
tidaknya perawat berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan kesadaran
ini. Bagaimanapun, secara etika penghargaan terhadap nilai nilai kemanusiaan
mengharuskan penerapan komunikasi pada klien dengan gangguan kesadaran.
Pada saat berkomunikasi dengan klien gangguan kesadaran, hal hal berikut perlu
diperhatikan:
a. Berhati - hati ketika melakukan pembicaraan verbal dekat klien karena ada kayakinan
bahwa organ pendengaran merupakan organ terakhir yang mengalami penurunan penerimaan
rangsang pada individu yang tidak sadar dan yang menjadi pertama kali berfungsi pada waktu
sadar. Maka perawat harus berhati - hati tidak mengatakan sesuatu pada klien yang tidak
sadar atau pada jarak pendengaran, hal hal yang tidak akan mereka katakan pada klien yang
sepenuhnya sadar.
b. Ambil asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan kita. Usahakan mengucapkan
kata dengan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan yang kita
sampaikan di dekat klien.
c. Ucapkan kata - kata sebelum menyentuh klien. Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu
bentuk komunikasi yang sangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran
d. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu klien pada
komunikasi yang dilakukan.

 KLIEN BERBAHASA ASING

Melakukan komunikasi dengan klien yang berbahsa asing dapat menimbulkan


gangguan komuniasi di tingkat kognitif, karena ada perberdaan pengetahuan tentang
penguasaan dan perbendaharaan kata serta kultur komunikasi.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan ketika berkomunikasi dengan klien yang
mengguanakan bahasa asing, antara lain :

a. Usahakan mengguanaka penerjemah ( jika memungkinkan ).


b. Usahakan menggunakan kamus untuk menerjemahkan kata – kata.
c. Usahakan berbicara dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan dengan nada suara
normal.
d. Usahakan menggunakan gerakan pantomim untuk membantu melakukan komunikasi.

 KLIEN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN RENDAH ATAU GANGGUAN


KEMATANGAN KOGNITIF.
Berbagai kondisi dapat mengakibatkan gangguan kematang an kognitif, antara
lain akibat penyakit : retardasi mental, syndrome down, ataupun situasi sosial, misal,
pendidikan yang rendah, kebudayaan primitif, dan sebagainya.Dalam berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan kematangan, sebaikanya Anda
memperhatikan prinsip komunikasi bahwa komunikasi dilakukan dengan pendekatan
komunikasi efektif, yaitu mengikuti kaidah sesuai kemampuan audience (capability of
audience) sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih efektif.

Komunikasi dengan klien yang mengalami gangguan kematangan kognitif :

1. Berbicara dalam tema yang jelas dan terbatas.


2. Hindari menggunakan istilah yang membingungkan klien, usahakan menggunakan
kata pengganti yang lebih mudah dimengerti, contoh, atau gambar dan simbol

3. Berbicaralah dengan menggunakan nada yang relatif datar dan pelan.

4. Apabila perlu, lakukan pengulangan dan tanyakan kembali pesan untuk memastikan
kembali maksud pesan sudah diterima.

5. Berhati - hatilah dalam menggunakan teknik komunikasi non verbal karena dapat
menimbulkan interprestasi yang berbeda pada klien.

4. Komunikasi Dalam Konteks Keanekaragaman Budaya


A.1 Dimensi Komunikasi Antar Budaya
Tingkat masyarakt budaya pada partisipan, istilah kebudayaan telah merujuk
pada macam-macam tingkat lingkupan dan kompeksitas dari organisasi
social.umumnya istilah kebudayaan mempunya pengertian budaya amerika,
budaya asia,dll. Contohnya, komunikasi antar individu dan kebudayaan
nasional,yang berbeda. Karena setiap orang ingin mewujudkan satu kebudayaan
yang unik.

Kejutan budaya

Ada beberapa tahap sohck cultur diantaranya :


A. masa bulan madu : yang didengar dan dilihat semua menyenangkanmerasa orang di
sekitarnya ramah dai ia merasa puas.
B. Masa pertarungan : mulai ada masalah, dan ada rasa frustasi yang melanda akan tetapi
masih bisa meyakinkan bahwa itu semua bisa diatasi.
C. Masa ruwet : kadaan menjadi parah bila masalah gagal diatasi
D. Masa penyesuaian diri ; mulai memegami kesulitan dilingkungan baru dan kesulitan
mulai hilang
E. Masa ruwet ulang : sebenarnya sudah memahami masalah yang ada akan tetapi kembali
kepada masa putus asa
F. Masa tidak lama sebelum kembali kedaerah asal : semangat mulai gairah lagi, mengigat
tidak lama lagi kembali, akan tetapi ada perasaan ganda, yaitu ingin cepat pulang, dan masih
ingin tinggal lebih lama karena sudah mulai akrab dengan teman-teman baru.
G. Masa shok : kembali kedaerah asal, akan tetapi merasakan hal yang berbada dari rasa
sebelumnya, sehingga manjadi shok akan tetapi masi itu akan segera hilang seiring
berjalannya waktu.

B.1 Hubungan Timbal Balik Antara Komunikasi dengan


Kebudayaan
Unsur-unsur pokok yang mendasari proses komunikasi antarbudaya adalah konsep-
konsep tentang ‘kebudayaan’ dan ‘komunikasi’. Komunikasi antarbudaya memerlukan suatu
pemahaman tentang konsep-konsep komunikasi dan kebudayaan serta adanya saling
ketergantungan antar keduanya. Saling ketergantungan ini dapat terbukti apabila disadari
bahwa:Pola-pola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu
keompok kebudayaan tertentu; Kesamaan tingkah laku antara satu generasi dengan generasi
berikutnya hanya dimungkinkan melalui digunakannya sarana-sarana komunikasi.
Hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan budaya sebagai
berikut:Kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan
dimiliki bersama. Sedangkan untuk mempelajari dan memilikinya bersama diperlukan
komunikasi, dan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus
dipelajari dan dimiliki bersama.
Untuk lebih mengerti hubungan komunikasi dengan kebudayaan bisa ditinjau dari
sudut pandang perkembangan masyarakat, perkembangan kebudayaan, dan peranan
komunikasi dalam proses perkembangan tersebut. Perkembangan mencerminkan hubungan
terus menerus dan berlangsung dan di mana simbol dan lambang berlangsung dalam proses
resiprokal (timbal-balik) antara orang-orang didalamnya. Kebudayaan sebagai faktor yang
menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi dan interaksi yang terjadi di
dalamnya.
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan
dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh
sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).

C.1 Unsur – Unsur Kebudayaan


a) Sistem keyakinan, nilai dan sikap
b) Pandangan hidup tenteng dunia
c) Organisasi Sosial

D.1 Peranan Persepsi Dalam Komunitas Antar Budaya

Presepsi adalah proses internal yang dilalui individu dalam menseleksi dan mengatur
stimulus yang datang dari luar.

Proses presepsi melibatkan 3 aspek :

1. Struktur
Jika kita menutup mata, memalingkan muka lalu membuat mata kita akan melihat
lingkungan yang terstruktur dan terorganisaskan
2. Stabilitas
Dunia realitas yang berstruktur tadi mempunyai kelanggangan , dalam arti tidak selalu
berubah – ubah.
3. Makna
Makna berkembang dari pelajaran dan pengalaman kita di massa lalu, dan dalam
keajaiban yang ada tujuannnya.

E.1 Dimensi Persepsi


1. Dimensi presepsi secara fisik
Dimensi ini menggambarkan perolehan kita akan informasi tentang dunia luar.
2. Dimensi presepsi secara psikologi
Dibandingkan dengan penangganan stimulus secara fisik, keadaan individu.

5. Trend dan Issue


A.1 Trend dan Issue yang Terjadi dalam Pelayanan Keperawatan

Kini dengan kemajuan teknologi komunikasi maka lahir teknologi multimedia yang
mengakibatkan semakin cepat penyebaran informasi, termasuk informasi kesehatan. Sebagai
contoh, kini berkembang Health e Communication dimana komunikasi tentang kesehatan
dapat disebarluaskan melalui interne, sebagai contoh :
 Health e Communication adalah suatu jaringan elektronik (internet) yang dibangun
oleh Health Communication Parnership (HCP) dan The Communication Initiative.
Jaringan ini berbasis untuk melayani dan mengomentari kelompok luas berjaringan
world web wide group para praktisi komunikasi kesehatan yang berminat untuk
memberikan masukan penting dalam tahapan komunikasi kesehatan HCP.
 Jaringan HCP yang berkaitan dengan lima institusi itu bersama-sama mengenai tujuan
memperkuat kesehatan masyarakat melalui strategi komunikasi.

 The Communication Initiative (The CI) adalah mitra untuk mengembangkan


organisasi yang bertujuan untuk mendukung perluasan bagi objektivitas dan
intervensi skala komunikasi bagi pengembangan internasional yang positif.

 Kemampuan Teknologi ternyata telah membawa akibat hadirnya saluran yang unik
dimana komunitas kesehatan dapat dilakukan dengan baik.

 Beberapa aplikasi yang mengintegrasikan fungsi-fungsi komunikasi kesehtaan


tersebut belum termasuk aplikasi modul atau aplikasi modul atau teknologi
infrastruktur pembagi informasi kesehtan, seperti :

1. Jaringan informasi kesehatan melalui internet > health web site

2. Kelompok diskusi kesehatan > online chat group

3. Kelompok pengakses berita pelayanan kesehatan > list service and news group

4. Warnet > stan alone kiosks

5. Aplikasi CD room kesehatan, dll.

 Health e Communication melayani sunber informasi untuk para praktisi komunikasi


kesehatan yang dirancang dalam suatu perencanaan, studi kasus, model perencanaan,
penelitian dan evaluasi dokumentasi.

 Berkembang luas peluang untuk aplikasi komunikasi kesehatan yang meliputi :

1. telehealth

2. interactive health communication

3. consumer interactive health communication

4. tele medicine
 Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh) adalah penggunaan
teknologi komunikasi dalam keperawatan untuk memenuhi keperawatan kepada klien.

 Aplikasi dan keuntungan telenursing :

1. efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan.

2. dengan sumber daya minimal dapat meningkatkan cakupan dan jangkauan


pelayanan keperawatan tanpa batas geografis.

3. telenursing dapat mengurangi jumlah kunjungan.

4. dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis.

5. dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan.

 Seputar isu aspek legal, peraturan, etik dan kerahasiaan atau privasi pasien dalam
kaitan telenursing dan informasi kesehatan.

B.1 Pemahaman Kolaborasi


Pemahaman mengenai prinsip kolaborasi dapat menjadi kurang berdasar jika hanya
dipandang dari hasilnya saja. Pembahasan bagaimana proses kolaborasi itu terjadi justru
menjadi point penting yang harus disikapi. Bagaimana masing-masing profesi memandang
arti kolaborasi harus dipahami oleh kedua belah pihak sehingga dapat diperoleh persepsi yang
sama.

Sejak awal perawat dididik mengenal perannya dan berinteraksi dengan pasien.
Praktik keperawatan menggabungkan teori dan penelitian perawatan dalam praktek rumah
sakit dan praktik pelayanan kesehatan masyarakat. Para pelajar bekerja di unit perawatan
pasien bersama staf perawatan untuk belajar merawat, menjalankan prosedur dan
menginternalisasi peran.
Kolaborasi merupakan proses komples yang membutuhkan sharing pengetahuan yang
direncanakan yang disengaja, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien.
Kadangkala itu terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga professional kesehatan.
Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik
bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek
profesional keperawatan, dengan pemgawasan dan supervise sebagai pemberi petunjuk
pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu Negara
dimana pelayanan diberikan. Perawat dan Dokter merencanakan dan mempraktekan bersama
sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan
berbagi nilai-nilai dan pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi
terhadap perawatan individu, keluarga, dan masyarakat.

C.1 Anggota Interdisiplin


Merupakan kelompok profesional yang mempunyai aturan dan tujuan utama yang jelas
dan berbeda aka fungsi.baik jika terjadi adanya konstitusi dari anggota tim dalam
memberikan pelayanan kesehatan terbaik.

 anggota interdisiplin

-pasien

-perawat

-Dokter

-Fisioterapi

-Pekerja sosial

-Ahli Gizi

-Manager

-Apoteker