Anda di halaman 1dari 5

Nama : Vinita Crysentia Narwadan

NIM : 2014017048

AUDIT ATAS SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN : UJI PENGENDALIAN DAN UJI
SUBTANTIF DARI TRANSAKSI

Tujuan Belajar 1

Akun dan klasifikasi dari transaksi pada siklus penjualan dan penagihan. Tujuan
keseluruhan dari audit siklus penjualan dan penagihan adalah mengevaluasi apakah saldo akun
yang diperoleh dari siklus disajikan secara wajar sesuai dengan SAK. Sifat dari akun ini bisa
bervariasi tergantung dari industri dan kliennya.

Dalam siklus penjualan dan penagihan terdapat 5 klasifikasi transaksi yaitu:

1. Penjualan (tunai dan kredit)


2. Penerimaan kas
3. Retur dan pengurangan penjualan
4. Penghapusan piutang tak tertagih
5. Beban piutang tak tertagih

Tujuan Belajar 2

Fungsi Bisnis pada siklus dan catatan dan dokumen yang berkaitan Siklus penjualan dan
penagihan melibatkan keputusan dan proses yang dibutuhkan untuk transfer kepemilikan dari
barang dan jasa kepada pelanggan setelah barang-barang tersebut tersedia untuk dijual.

8 fungsi bisnis dalam siklus penjualan dan penagihan:

1. Memproses pesanan pelanggan


 Pesanan pelanggan : permintaan barang oleh pelanggan yang bisa datang dari
seluruh fasilitas yang ada (telepon, surat, formulir cetak, kiriman elektronik, dll.
 Pesanan penjualan : dokumen untuk mengkomunikasikan perihal deskripsi, jumlah,
dan informasi terkait dengan barang yang dipesan oleh pelanggan. Biasa digunakan untuk
menunjukkan persetujuan kredit dan otorisasi pengiriman.
2. Pemberian kredit
Sebelum barang dikirim, pihak yang diberi kewenangan harus menyetujui kredit bagi
pelanggan yang akan melakukan penjualan secara kredit.
3. Pengiriman barang
Fungsi ini merupakan titik awal siklus dimana perusahaan akan menyerahkan aktiva,
karena sebagian besar perusahaan mengakui penjualan ketika barang telah dikirim.
Dokumen pengiriman : dokumen pengiriman dibuat untuk mengawali pengiriman
barang, yang menunjukkan deskripsi barang dagang, kuantitas yang dikirimkan dan data
yang relevan lainnya.
4. Penagihan pelanggan dan pencatatan penjualan
Merupakan cara untuk memberi informasi kepada pelanggan mengenai jumlah yang akan
ditagih atas barang yang dibelinya, penagihan pelanggan harus dilakukan dengan benar
dan tepat waktu. Aspek paling penting dari penagihan adalah :
 Semua pengiriman telah ditagih (kelengkapan = completeness)
 Tidak ada pengiriman yang ditagih lebih dari satu kali (keterjadiaan =
occurrance)
 Setiap pengiriman ditagih dalam jumlah yang tepat (keakurang = accurancy)
5. Pemprosesan dan pencatatan penerimaan kas
Keempat fungsi transaksi penjualan sangat diperlukan untuk menyerahkan barang ke
tangan pelanggan, menagihnya dengan benar, dan merefleksikan informasi dalam
catatan akuntansi.
6. Pemrosesan dan pencatatan retur dan pengurangan penjualan.
Penjual sering kali menerima retur barang atau memberikan pengurangan harga apabila
pelanggan merasa tidak puas dengan barang yang dibelinya.
7. Penghapusan piutang usaha tak tertagih.
Setelah menyimpulkan bahwa suatu jumlah tertentu tidak dapat ditagih, perusahaan
harus menghapusnya, biasanya hal ini terjadi setelah pelanggan mengajukan
kebangkrutan atau penagihan piutangnya diserahkan kepada agen penagihan.
8. Penyediaan piutang tak tertagih
Karena perusahaan diperkirakan tidak dapat menagih 100% penjualannya, prinsip-
prinsip akuntansi mengharuskan perusahaan untuk mencatat beban piutang tak tertagih
sebesar jumlah yang diperkirakan tidak dapat ditagih.

METODOLOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI PENJUALAN

Dengan menggunakan salah satu pendekatan umum untuk penjualan, auditor


mempelajari bagan arus klien, menyiapkan kuesioner tentang pengendalian internal, dan
melaksanakan pengujian penjualan walkthrough.Auditor menggunakan informasi yang
diperoleh dalam memahami pengendalian internal untuk menilai resiko pengendalian,
terdapat empat langkah yang penting dalam penilaian ini.
1. Auditor memerlukan kerangka kerja untuk menilai risiko pengendalian.
2. Auditor harus mengidentifikasi pengendalian internal utama dan kelemahannya bagi
penjualan.
3. Setelah mengidentifikasi pengendalian dan kelemahannya, auditor lalu
mengaitkannya dengan tujuan.
4. Auditor menilai risiko pengendalian untuk setiap tujuan dengan mengevaluasi
pengendalian dan kelemahannya bagi setiap tujuan.

Setelah auditor mengidentifikasi pengendalian internal utama dan kelemahannya, mereka


mulai menilai risiko pengendalian, untuk audit perusahaan publik, auditor harus melaksanakan
pengujian yang ekstensif atas pengendalian utama dan mengevaluasi dampak kelemahannya
terhadap laporan auditor mengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan. Luas
pengujian pengendalian dalam audit perusahaan non publik tergantung pada keefektifan
pengendalian dan sejauh mana auditor yakin bahwa pengujian itu dapat diandalkan untuk
mengurangi risiko pengendalian.

Untuk setiap pengendalian utama, satu atau lebih pengujian pengendalisan harus
dirancang untuk memverifikasi keefektifannya, dalam sebagian besar audit, relatif mudah
menentukan sifat pengujian pengendalian dari sifat pengendalian tersebut, sebagai contoh,
jika pengendalian internal adalah untuk menandatangani pesanan pelanggan setelah
kreditnya disetujui, pengujian pengendalian adalah untuk memeriksa apakah pesanan
pelanggan telah ditandatangai dengan benar.

Dalam memutuskan pengujian substantif atas transaksi, auditor sering kali


menggunakan beberapa prosedur bagi setiap audit tanpa memandang situasinya, sementara
yang lainnya tergantung pada kelayakan pengendalian dan hasil pengujian pengendalian.

Mencatat penjualan yang terjadi, untuk tujuan ini auditor memperhatikan tiga jenis salah
saji yang mungkin terjadi :

1. Penjualan dimasukkan dalam jurnal sementara pengiriman tidak pernah dilakukan.


2. Penjualan dicatat lebih dari satu kali.
3. Pengiriman dilakukan kepada pelanggan fiktif dan dicatat sebagai penjualan.

Penjualan dicatat dengan akurat, pencatatan yang akurat atas transaksi penjualan harus
memperhatikan hal-hal berikut :

1. Mengirimkan jumlah barang yang dipesan.

 Menagih dengan akurat sebesar jumlah barang yang dikirim.


 Mencatat dengan akurat jumlah yang ditagih dalam catatan akuntansi.
Dalam mengkonversi program audit formal perancangan (design format audit program)
menjadi program audit format kinerja (performance format audit program), prosedur itu akan
digabungkan. Ini akan mencapai hal-hal berikut :

 Mengeliminasi prosedur duplikat


 Memastikan bahwa ketika dokumen tertentu diperiksa, semua prosedur yang akan
dilakukan terhadap dokumen tersebut telah dilakukan pada saat itu.
 Memungkinkan auditor untuk melakukan prosedur dengan cara yang paling efektif,
sebagai contoh, dengan memfooting jurnal dan meriview jurnal untuk pos-pos tidak
biasa terlebih dahulu, auditor akan memperoleh perspektif yang lebih baik dalam
melakukan pengujian yang terinci.

RETUR DAN PENGURANGAN PENJUALAN

Tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan metode yang digunakan klien
untuk mengendalikan salah saji pada intinya sama seperti untuk memroses memo kredit
yang telah digambarkan bagi penjualan, dengan dua perbedaan. Perbedaan yang pertama adalah
materialitas.Dalam banyak hal, retur dan pengurangan penjualan sangat tidak material
sehingga auditor dapat mengabaikannya. Perbedaan yang kedua adalah penekanan pada
tujuan keterjadian. Untuk retur dan pengurangan penjualan, umumnya auditor menekankan
pada pengujian transaksi yang tercatat untuk mengungkapkan setiap pencurian kas dari
penagihan piutang usaha yang ditutupi oleh retur atau pengurangan penjualan fiktif.

METODOLOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI PENERIMAAN KAS

Auditor menggunakan metodologi yang sama untuk merancang pengujian


pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi penerimaan kas seperti yang digunakan
untuk penjualan. Prosedur audit untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi penerimaan kas dikembangkan dengan kerangka kerja yang sama seperti yang
digunakan untuk penjualan, tetapi tujuan khususnya diterapkan bagi penerimaan kas.

Berdasarkan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi, auditor mengikuti proses
berikut ini:

 Menetukan pengendalian internal utama untuk setiap tujuan audit.


 Merancang pengujian pengendalian bagi setiap pengendalian yang digunakan untuk
mendukung pengurangan risiko pengendalian.
 Merancang pengujian substantif atas transaksi untuk menguji salah saji moneter bagi
setiap tujuan.
Bagian penting dari tanggung jawab auditor ketika mengaudit penerimaan kas adalah
mengidentifikasi defisiensi pengendalian internal yang meningkatkan kemungkinan terjadinya
kecurangan. Jenis penggelapan kas yang paling sulit dideteksi oleh auditor adalah ketika hal
tersebut terjadi sebelum kas dicatat di jurnal penerimaan kas atau listing kas lainnya.
Prosedur audit yang bermanfaat untuk menguji apakah semua penerimaan kas yang dicatat
telah disetorkan dalam akun atau rekening bank adalah bukti penerimaan kas(proof of cash
receipts). Lapping piutang usaha (lapping of account receivable) adalah penundaan ayat
jurnal penagihan piutang usaha untuk menutupi kekurangan kas yang ada. Hal ini bisa dicegah
dengan cara pemisahan tugas dan kebijakan cuti wajib bagi karyawan yang menangani kas
sekaligus memasukkan penerimaan kas ke dalam sistem.

PENGUJIAN AUDIT UNTUK MENGHAPUS PIUTANG TAK TERTAGIH

Verifikasi untuk hal ini hanya memerlukan waktu singkat.Yaitu auditor memeriksa
persetujuan oleh orang yang tepat, kemudian untuk sampel yang dihapus, biasanya auditor juga
memeriksa korespondensi dalam file klien yang menyatakan ketidaktertagihannya. Pada
beberapa kasus juga perlu memeriksa laporan kredit. Jika ayat jurnal umum sudah benar,
akan ditelusuri ke file induk piutang untuk menguji apakah penghapusan telah dicatat dengan
benar. Pengendalian yang lain adalah:

1. Penyusunan neraca saldo umur piutang usaha periodik untuk review dan tindak lanjut
oleh personil manajemen yang tepat
2. Kebijakan menghapus piutang tak tertagih apabila sudah tidak mungkin lagi untuk
ditagih.

Pengaruh yang paling signifikan dari hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif
atas transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan adakah terhadap konfirmasi piutang usaha.
Jenis konfirmasi, ukuran sampel dan penetapan waktu pengujian juga terpengaruh atas
pengujian ini.