Anda di halaman 1dari 7

TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA

“ PROSES PEMBAKARAN BATUBARA “

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

ANGGOTA : 1. Agus Irawan Saputra (061640411588)


2. Anggun Pratiwi (061640411589)
3. Ayu Dwi Harliyani (061640411590)
4. Bairuni himantandra (061640411591)
5. Elbi Zalita Ramadani B (061640411593)
6. Fathul Wahab (061640411594)
7. Febry Veronica (061640411595)
8. Heri Yansyah (061640411596)

KELAS : 3EGB

INSTRUKTUR : Ir. Fatria,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017-2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batubara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunan


yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik, produksi baja, pembuatan
semen dan proses industri lainnya serta sebagai bahan bakar cair.

Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan
sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, batuan organik yang terutama
terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada masa sekarang ini telah banyak terdapat
industri penambangan batubara dan industri pemanfaatan batubara, seperti yang telah
dijelaskan diatas bahwa salah satu pemanfaatan batubara adalah untuk membangkit tenaga
listrik. Pembangkit ini dilakukan dengan cara pembakaran batubara dengan berbagai
teknologi pembakaran batubara. Karena pentingnya teknologi pembakaran batubara dengan
cara-cara pembakarannya oleh karena itu penulis membuat makalah yang berjudul
“Teknologi Pembakaran Batubara”. Dengan adanya makalah ini penulis mengharapkan agar
makalah ini dapat menjadi acuan referensi yang dapat bermanfaat bagi pembaca.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara-cara pembakaran batubara?
2. Bagaimana cara memanfaatkan batubara sebagai sumber energi?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan cara- cara pembakaran batubara
2. Mahasiswa dapat menjelaskan klasifikasi dari cara-cara pembakaran
barubara
3. Mahasiswa mengetahui pemanfaatan batubara sebagai sumber energi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teknologi Pembakaran Batubara


Proses pembakaran batubara akan berlangsung dengan baik jika tersedia udara dalam
jumlah yang cukup. Proses pembakaran dimulai dari terjadinya oksidasi pada fase uap dan
penyalaan volatile matter (zat terbang) yang terlepas dari batubara yang selanjutnya
menyebabkan menyalanya residu bahan padat (residual char). Tahap penyalaan volatile
matter menyebabkan kestabilan flame (nyala) dan temperatur sehingga residu padat bisa
menyala, sementara pada penyalaan residu padat terjadi mekanisme reaksi-reaksi yang
kompleks yang selanjutnya menghasilkan panas pembakaran.
Pembakaran batubara dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Pembakaran dalam Unggun Tetap
2. Pulverized Coal Combustion

2.1.1 Pembakaran dalam Unggun Tetap


Ada tiga pola dasar pengumpanan batubara dan udara yang telah dikembangkan:

- Overfeed
Pada pola pengumpanan overfeed, aliran batubara dan udara saling berlawanan
(countercurrent). Bahan bakar diumpankan dari atas unggun (bed) dan mengalir ke bawah
sambil dikonsumsi, sementara udara mengalir dari atas melewati lapisan abu, kokas dan
batubara baru. Batubara baru yang telah diumpankan dipanaskan lewat kontak dengan
batubara yang sudah terbakar yang ada dibawahnya dan juga oleh gas-gas pembakaran yang
mengalir berlawanan arah. Produk-produk sisa pembakaran yang dihasilkan selanjutnya turun
ke bawah sampai berbatasan dengan grate dan secara periodik produk sisa pembakaran ini
dikeluarkan dengan cara dumping, shaking dan vibrating dari grate atau pada beberapa stoker
dengan cara grate berjalan secara kontinyu.

- Underfeed
Pada pola pengumpanan underfeed, aliran batubara dan udara terjadi secara paralel
dan biasanya mengalir ke atas. Volatille matter, air, dan udara pembakaran mengalir melalui
lapisan bahan bakar yang terbakar. Tipe ini menghasilkan lebih sedikit asap selama
pengumpanan dan pengoperasian beban yang rendah.

- Crossfeed
Pola pengumpanan crossfeed merupakan pola pengumpanan udara dan bahan bakar
yang banyak diterapkan. Dalam hal ini batubara sebagai bahan bakar bergerak secara
horizontal, sementara udara bergerak dari bawah ke atas dengan sudut yang tepat. Pola
pembakaran ini terdiri dari stoker uang dilengkapi dengan hopper untuk tempat
pengumpanan, chain grate, travelling grate dan vibrating, reciprocating atau oscilating grate.

2.1.2 Pulverized Coal Combustion (pembakaran batu bara


serbuk)
Secara praktis, batubara diumpankan bersama sebagian udara pembakaran. Udara
yang dimasukkan di bagi dua yaitu udara primer dan udara sekunder. Udara primer
dimasukkan bersama-sama dengan batubara sementara udara sekunder dimasukkan secara
terpisah dari udara primer melewati dua pipa konsentrik ke dalam boiler atau tanur. Pada
umunya udara primer bersama batubara dimasukkan lewat pipa ditengah, sementara udara
sekunder dimasukkan
lewat annulus. Metode pembakaran pulverized coal hampir tidak tergantung pada
karakteristik
batubara. Secara umum hampir semua batubara dapat digunakan dengan sistem ini dengan
sistem yang tepat.

- Dry Bottom Firing


Operasi unit abu kering lebih sederhana dan lebih fleksibel terhadap perubahan
jumlah dan sifat-sifat batubara dibandingkan dengan unit wet bottom firing. Kerugian utama
unit dry bottom firing ini adalah karena ukuranya lebih besar (sehingga lebih mahal) dan
sekitar 80-90% abu.
Pembakaran Batubara Pulverized
a. Vertikel firing
b. Tangential firing
c. Opposed inclined firing
d. Horizontal firing
Harus dikeluarkan dari boiler dan presipitaor hopper dalam bentuk debu yang sangat halus

-Wet Bottom Firing


Unit wet bottom firing ini dikembangkan untuk mengatasi masalah penanganan debu
dengan cara membuat abu lebih berat, berbentuk granular dan tinggal dalam tanur lebih
banyak dibandingkan dalam unit abu kering. Dalam unit web bottom ini aliran leburan abu
yang mengalir dari tanur disemprot dengan air pendingin sehingga terbentuk produk dengan
ukuran yang diinginkan. Sekitar 80% abu bisa tinggal dalam tanur untuk beberapa unit desain
tertentu.

Dibandingkan dengan dry bottom firing, unit wet bottom firing mempunyai kerugian-
kerugian seperti kurang fleksibel terhadap pemilihan batubara, lebih banyak terjadi fouling
dan korosi eksternal, pembentukan NOx Yang lebih tinggi dan uap yang diperoleh lebih
sedikit.

- Slurry Firing
Pembakaran dalam bentuk slurry bertujuan agar bahan bakar lebih mudah
ditransportasikan, disimpan dan digunakan dibandingkan dalam bentuk padat. Bahan bakar
dalam bentuk slurry ini diantaranya coal-water mixtures(CWM) dan coal-oil Mixtures
(COM).

 Coal- Water Mixture(CWM)


CWM merupakan campuran antara batubara berukuran halus dan air dengan
perbandingan tertentu serta dengan penambahan aditif tertentu untuk menjaga kestabilan
fluida agar batubara tidak dapat mengendap. Tujuan utama CWM adalah agar dapat
ditransportasikan dengan pipa-pipa sehingga lebih murah biaya transportasinya dibandingkan
biaya transportasi batubara dalam keadaan padat. Yang perlu diperhatikan dalam CWM ini
adalah dalam masalah penyimpanan yang membutuhkan tempat khusus, kestabilan fluida
dalam waktu tertentu, masalah dewatering baik secara termal maupun mekanik, dan masalah
keberhasilan dalam pembakaran.

 Coal-Oil Mixtures(COM)
COM merupakan campuranantara batubarahalus dan minyak dengan perbandingan
tertentu. COM tidak terlalu menimbulkan masalah menyangkut keberhasilan dalam
pembakaran, dibandingkan CWM.

- Tanur Cyclone
Pengembangan metoda pembakaran pulverized coal diantaranya adalah dengan
menginjeksikan udara dan batubara secara tangensial dan dengan kecepatan tinggi kedalam
tanur cyclone horizontal silindris, kemudian membakar batubara tersebut bergerak mengikuti
bentuk spiral. Dibawah kondisi aerodinamis yang tepat, tanur ini bisa menghasilkan panas
mencapai 500.000 Btu/jam ft3 ruang pembakaran (bandingkan dengan sistem dry bottom
yang hanya menghasilkan panas paling tinggi 150.000 dan system 6 slag-tap yang
menghasilkan panas 400.000 Btu). Karena temperatur nyala api yang tinggi (3000 F) maka
dihasilkan sekitar 90% abu sebagai abu lebur (molten slag) yang cenderung menempel pada
dinding tanur dengan lengket sehingga masih menyisahkan partikel-partikel batubara yang
terbakar.

- Fluidized-Bed Combustion
Dalam pembakaran fluidized-bed, ukuran partikel cukup kecil sehingga bisa
diapungkan oleh aliran udara pembakaran yang bergerak dari baah keatas. Partikel
selanjutnya bergerak keatas dan kebawah secara mengelompok. Gerakan vertikal yang bolak-
balik ini menghasilkan pencampuran yang baik dan distribusi partikel yang merata sehingga
partikel-partikel tersebut ‘teraduk’ dengan baik. Temperatur beg dikendalikan dengan
mengatur kedalaman bed, dengan menambah atau tidak penukar panas(heat exchanger), clan
dengan penggunaan ballast (bahan inert) dalam bed. Fluidized bed mempunyai banyak
alternatif dalam memecahkan masalah-masalah diatas, sebagai contoh, apakah sistem
dijalankan dengan bed agak panas atau agak dingin.
Pressurized Fluidized-bed Combustion. Pada pembakaran jenis ini tekanan
pembakaran dinaikkan dan ukuran ruang pembakaran jenis ini tekanan pembakaran bisa lebih
diperkecil sehingga menurunkan biaya investasi. Juga, pada tekanan pembakaran di atas 4-6
atm, turbin gas dapat dijalankan oleh gas pembakaran untuk menekan udara pembakaran dan
menghailkan daya listrik hasilnya dapat meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan listrik.

- Pengendalian Polusi
Pada umumnya polutan yang ada di udara berasal dari sumber pembakaran dalam
sekitar 90% dan polutan ini berasal dari hanya lima jenis emisi yaitu gas karbon monoksida,
hidrokarbon, partikulat, nitric oxida dan sulfur oksida. Emisi yang berasal dari batubara
disebabkan oleh abu, nitrogen clan sulfur.
Abu yang dihasilkan oleh pembakaran batubara akan mencemari atmosfir jika terlepas
bersama gas pembakaran dan dapat mencemari air tanah atau sumber-sumber air jika
dikeluarkan dari gas dan dibuang di tempat pembuangan. Lagipula, meskipun terdapat tekni-
teknik penangkapan abu yang sangat efektif, masih ada sebagian kecil abu yang terlepas. Abu
yang terlepas ini umumnya berupa partikel-partikel halus yang sulit dilepaskan dari gas-gas
pebakaran sehingga sangat berpengaruh pada kesehatan.
Batubara juga mengandung sulfur yang terkonversikan menjadi sulfur oksida SO2
selama pembakaran. Sulfur dalam batubara dapat sebagai ikatan organik dan anorganik.
Sulfur anorgaik lebih mudah dihilangkan (dengan proses pencucian dsb). Oksida nitrogen NO
dan NO2 (NO2 merupakan sumber pencemaran nomer tiga yang terdapat dalam pembakaran
batubara.
NO terbentuk dari senyawa nitrogen dalam batubara dan dari nitrogen dalam udara
pembakaran Emisi dapat dikendalikan dengan salah satu atau lebih dari ke tiga cara berikut
ini:

- Penghilangan substansi yang menyebabkan pencemaran dari bahan bakar


(contoh : de-ashing dan gasifikasi).
- Modifikasi variabel-variabel yang mengendalikan proses pembakaran itu sendiri.
- Penghilangan substansi yang tidak diinginkan dari effluent.
10 Batubara merupakan salah satu sumber energi terpenting dalam Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pada PLTU, batubara berperan sebagai sumber energi untuk
mendidihkan air sehingga dihasilkan uap air untuk menggerakan turbin. Misalnya pada PLTU
Suralaya ( Banten ) yang menyupalai listrik untuk wilayah Jawa – Bali.

- Sumber Energi Industri


Beberapa industri – industri menggunakan batubara sebagai sumber energi baik untuk
tenaga penggerak mesin maupun sebagaisumber energi panas untuk pengolahan bahan baku,
seperti pada industry semen.

- Bahan bakar rumah tangga


Batubara yang digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga disebut briket. Di
negara-negara Korea, Cina dan Eropa, briket batubara sebagai bahan bakar untuk rumah
tangga sudah sangat populer, baik untuk keperluan masak maupun untuk pemanas ruangan.
Batubara umumnya apabila dibakar secara langsung akan berasap dan berbau. Ini berasal dari
zat terbang atau volatile matter dan belerang yang tidak terbakar secara sempurna. Untuk
menghindari masalah tersebut sebelum di briket, batubara dikarbonisasi atau di arangkan
dahulu dengan proses sebagai berikut : batubara dipanaskan tanpa oksigen, zat terbang yang
berupa ter, minyak dan gas akan diuapkan sehingga tersisa arang batubara (semilokas).
Proses karbonisasi ini hanya sebagaian saja, dan masih disisakan sedikit zat terbang
untuk memudahkan Proses pembakarannya. Arang batubara yang dihasilkan bersifat rapuh
dan ukurannya tidak seragam, sehingga diperlukan proses penggerusan dan pem-briketan
dengan pemampatan agar diperoleh bentuk yang seragam, kompak dan sifat fisiknya kuat.
BAB III
RINGKASAN
Proses pembakaran batubara akan berlangsung dengan baik jika tersedia udara dalam
jumlah yang cukup. Proses pembakaran dimulai dari terjadinya oksidasi pada fase uap dan
penyalaan volatile matter (zat terbang) yang terlepas dari batubara yang selanjutnya
menyebabkan menyalanya residu bahan padat (residual char).
Pembakaran batubara dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pembakaran dalam
unggun tetap dan pulverized coal combustion. Adapun kegunaan batubara sebagai sumber
energi adalah :

- Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)


Pada PLTU, batubara berperan sebagai sumber energi untuk mendidihkan air
sehingga dihasilkan uap air untuk menggerakan turbin. Misalnya pada PLTU Suralaya (
Banten ) yang menyupalai listrik untuk wilayah Jawa – Bali.

- Sumber Energi Industri


Beberapa industri – industri menggunakan batubara sebagai sumber energi baik
untuk tenaga penggerak mesin maupun sebagaisumber energi panas untuk pengolahan bahan
baku, seperti pada industry semen.

- Bahan bakar rumah tangga


Batubara yang digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga disebut briket. Batubara
umumnya apabila dibakar secara langsung akan berasap dan berbau. Ini berasal dari zat
terbang atau volatile matter dan belerang yang tidak terbakar secara sempurna. Untuk
menghindari masalah tersebut sebelum di briket, batubara dikarbonisasi atau di arangkan
dahulu dengan beberapa proses.