Anda di halaman 1dari 33

BAB I

DEMAM

A. TEORI TENTANG PENYAKIT

1. Masalah Kesehatan/Definisi

Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu

tubuh secara abnormal.

Febris/ demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkardian yang

normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak

dalam hipotalamus anterior (Isselbacher, 1999).

Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 380 C atau

lebih.Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,80C.Sedangkan bila

suhu tubuh lebih dari 400C disebut demam tinggi (hiperpireksia)(Julia, 2000).

Demam adalah kenaikan suhu tubuh karena adanya perubahan pusat

termoregulasi hipotalamus (Berhman, 1999). Seseorang mengalami demam bila

suhu tubuhnya diatas 37,8ºC (suhu oral atau aksila) atau suhu rektal (Donna L.

Wong, 2003).
2. Gangguan Pemenuhan Dasar (Dikaitkan Dengan Patofisiologi, Insiden, Dan

Prognosa Penyakit)

Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan nama

pirogen. Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi

dua yaitu pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh pasien.

Contoh dari pirogen eksogen adalah produk mikroorganisme seperti toksin atau

mikroorganisme seutuhnya. Salah satu pirogen eksogen klasik adalah

endotoksin lipopolisakarida yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Jenis

lain dari pirogen adalah pirogen endogen yang merupakan pirogen yang berasal

dari dalam tubuh pasien. Contoh dari pirogen endogen antara lain IL-1, IL-6,

TNF-α, dan IFN. Sumber dari pirogen endogen ini pada umumnya adalah

monosit, neutrofil, dan limfosit walaupun sel lain juga dapat mengeluarkan

pirogen endogen jika terstimulasi (Dinarello & Gelfand, 2005).

Limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin,

mediator inflamasi, atau reaksi imun. Sel-sel darah putih tersebut akan

mengeluarkan zat kimia yang dikenal dengan pirogen endogen (il-1, il-6, tnf-α,

dan ifn). Pirogen eksogen dan pirogen endogen akan merangsang endotelium

hipotalamus untuk membentuk prostaglandin (dinarello & gelfand, 2005).

Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan meningkatkan patokan termostat

di pusat termoregulasi hipotalamus. Hipotalamus akan menganggap suhu

sekarang lebih rendah dari suhu patokan yang baru sehingga ini memicu
mekanisme-mekanisme untuk meningkatkan panas antara lain menggigil,

vasokonstriksi kulit dan mekanisme volunter seperti memakai selimut.

Sehingga akan terjadi peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan

panas yang pada akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang

baru tersebut (sherwood, 2001).

Demam memiliki tiga fase yaitu: fase kedinginan, fase demam, dan fase

kemerahan. Fase pertama yaitu fase kedinginan merupakan fase peningkatan

suhu tubuh yang ditandai dengan vasokonstriksi pembuluh darah dan

peningkatan aktivitas otot yang berusaha untuk memproduksi panas sehingga

tubuh akan merasa kedinginan dan menggigil. Fase kedua yaitu fase demam

merupakan fase keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas di

titik patokan suhu yang sudah meningkat. Fase ketiga yaitu fase kemerahan

merupakan fase penurunan suhu yang ditandai dengan vasodilatasi pembuluh

darah dan berkeringat yang berusaha untuk menghilangkan panas sehingga

tubuh akan berwarna kemerahan (dalal & zhukovsky, 2006).


3. Masalah Yang Ditimbulkan

1. Masalah Keperawatan

a. Resiko kekurangan volume cairan

b. Hipertermi

2. Masalah Kolaborasi

a. Kejang Demam

Jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada anak

usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan

umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak

membahayan otak.

b. Dehidrasi

Demam peningkatan penguapan cairan tubuh.

4. Pemeriksaan Diagnostik

1. Laboratorium : pemeriksaan darah rutin, kultur urin dan kultur darah


2. Hemato : CRP (C. reaktif protein) : meningkat
3. SGOT/SGPT : memberi petunjuk mengenai fungsi sel hati.
4. Lumbal fungsi.
5. Terapi

1. Secara Fisik

Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-

6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau

mengigau.Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau


apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang

terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak

mampu mencapai otak. Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat

rusaknya sel-sel otak. Dalam keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat

terjadi berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu.

a. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan

b. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan

c. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke

otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.

d. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak –banyaknyaMinuman

yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan),

air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap

akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.

e. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang

f. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk

menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh

dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk

menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena

justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat

keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi

(keracunan).
g. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-

suam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar

terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar

cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur

suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di

samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah

tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat

pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas

dari tubuh.

2. Obat-obatan Antipiretik

Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu

di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan

prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set

point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana

diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi pengeluaran

panas tidak ada lagi. Petunjuk pemberian antipiretik:

a. Bayi 6 – 12 bulan : ½ – 1 sendok the sirup parasetamol

b. Anak 1 – 6 tahun : ¼ – ½ parasetamol 500 mg atau 1 – 1 ½ sendokteh

sirup parasetamol

c. Anak 6 – 12 tahun : ½ 1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok the

sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air

atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan

sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya. Pemberian obat

antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan demam dan

sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan

kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada

anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan

antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda

dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek

pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui

pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim

cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para -aminofenol yang

bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan

saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam

maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya

dosis ini dapat d itoleransi dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat

menyebabkan intoksikasi dan kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara

per oral maupun rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga

bekerja meneka n pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik,

analgetik dan antiinflamasi.Efek samping yang timbul berupa mual, perut

kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin.Efek

samping hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan anemia


aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila

dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10

mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan

pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n

antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia

aplast ik dan perdara han saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali

tiap 6 -8 jam dan tidak dianjurkan unt uk anak kurang dari 6

bulan.Pemberiannya secara per oral, intramuskular atau intravena. Asam

mefenamat suatu obat gol ongan fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat

dibandingkan sebagai antipiretik.Efek sampingnya berupa dispepsia dan

anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis.

Pemberiannya secara per oral dan tidak boleh diberikan anak usia kurang

dari 6 bulan.

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

1. Identitas :

a. Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa

Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar

b. Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar

2. Keluhan Utama

Orang yang menderita observasi febris biasanya mengeluh suhu badannya

naik (panas), keluar banyak keringat, batuk-batuk dan tidak nafsu makan.
3. Riwayat penyakit sekarang

Pada umumnya didapatkan peningkatan suhu tubuh di atas 37,50C (N 36,5

– 37,5 C) atau ada masalah psikologis ( rasa takut dan cemas terhadap

penyakitnya)

4. Riwayat penyakit dahulu

Umumnya dikaitkan dengan riwayat medis yang berhubungan dengan

penyakit febris.

5. Riwayat penyakit keluarga

Dalam susunan keluarga adalah riwayat penyakit febris yang pernah diderita

atau penyakit turunan dan menular yang pernag diderita atau anggota

keluarga.

6. Pengkajian

a. Pola-Pola Fungsi Kesehatan

1) Pola persepsi dan tata laksan hidup sehat

Umumnya pada pola ini penderita penyakit febris mengalami

perubahan dalam perawat dirinya yang diakibatkan oleh penyakitnya

2) Pola nutrisi dan metabolisme

Umumnya terjadi penurunan nafsu makan atau tidak.

3) Pola eliminasi

Pada pola ini bisa terjadi perubahan karena asupan yang kurang

sehingg klien tidak bisa BAB / BAK secara normal.

4) Pola istirahat tidur


Pada pola ini tidur kx biasanya mengalami gangguan karena adanya

rasa tidak nyaman dengan meningkatnya suhu

5) Pola aktifitas dan latihan

Aktivitas kx bergantung karena biasanya klien lemah karena

kurangnya asupan serta meningkatnya suhu.

6) Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa cemas dengan keadaan suhu tubuhnya yang meningkat

dan ketakutan sehingga mengalami perubahan metabolisme (ex :

mencret)

7) Pola sensori dan kognitif

Tidak terjadi gangguan pada pola ini dan biasanya hanya sebagian kx

yang dapat mengetahuinya.

b. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum

Kesadaran (baik, gelisah, apatis / koma), badan lemahm frekuensi

pernafasan tinggi, suhu badan meningkat dan nadi meningkat

2) Kepala dan leher

Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak

Kulit, rambut, kuku

Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.

3) Mata

Umumnya mulai terlihat cekung atau tidak.


4) Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut

Bentuk, kebersihan, fungsi indranya adanya gangguan atau tidak.

5) Thorak dan abdomen

Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri dan ada

peningkatan bising usus.

6) Sistem respirasi

Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam.

7) Sistem kardiovaskuler

Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya meningkat

8) Sistem musculoskeletal

Terjadi gangguan apa tidak.

9) Sistem pernafasan

Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang tertinggal / gerakan nafas dan

biasanya kesadarannya gelisah, apatis atau koma

2. Diagnosa Keperawatan

1. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum

sekunder

2. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko demam

3. Perencanaan Tindakan Keperawatan

1. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum

sekunder Tujuan/Kriteria Hasil:


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien

a. Suhu tubuh pasien Suhu tubuh normal (36 – 37 0c).

b. Pasien bebas dari demam

c. Pasien tidak kejang

Rencana tindakan:

a. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan) setiap 3 jam

b. Anjurkan kompres hangat

c. Anjurkan penggunaan pakaian tipis menyerap keringat

d. Kolaborasi pemberian obat antipiretik

2. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko demam.

Tujuan/kriteria hasil:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien:

a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, Bj urine

normal, HT normal

b. Tidak ada tanfda dehidrasi

c. Elastisitas turgor kulit baik

Rencana tindakan:

a. Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan

b. Catat secara akurat intake dan output

c. Kaji dan catat tanda-tanda vital serta gejala kekurangan cairan


d. Kaji dan catat penegtahuan serta partisipasi keluarga dalam monitoring

intake dan output serta dalam mengenali tanda dan gejala kekuarangan

volume cairan.
BAB II

DIARE

A. TEORI TENTANG PENYAKIT

1. Masalah Kesehatan/Definisi

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah

defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam

tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan

suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan

dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang

terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer

atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak

normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat

disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya

proses inflamasi pada lambung atau usus


2. Gangguan Pemenuhan Dasar (Dikaitkan Dengan Patofisiologi, Insiden, Dan

Prognosa Penyakit)
Menurut hasil Riskesdas tahun 2013, insiden penyakit diare pada balita adalah 10,2%, CFR Kejadian Luar Biasa
(KLB) diare di Indonesia pada tahun 2011 adalah 0,29% meningkat menjadi 2,06% di tahun 2012 lalu mengalami
penurunan di tahun 2013 menjadi 1,08%. Di Sumatera Utara, CFR diare untuk tahun 2012 adalah 1,22% ,
sedangkan di tahun 2013 meningkat menjadi 11,76%. Proporsi kasus diare yang ditangani di Sumatera Utara
adalah 41,34%, sedangkan sisanya 58,66% tidak mendapatkan penanganan

PENYEBAB

infeksi makanan psikologi

Berkembang diusus Toksik tak dapat diserap


ansietas

Hipersekresi air &


elektrolit Malabsorbsi KH,
Hiperperistaltik lemak, protein

Isi usus Penyerapan makannan ↑ tekanan osmotik

Pergeseran air & elektrolit ke


usus

DIARE

Frekuensi BAB ↑ Distensi abdomen

Hilang cairan & elektrolit berlebihan Kerusakan integritas kulit perianal Mual, muntah

Nafsu makan menurun


Gangguan keseimbangan cairan & elektrolit
Asidosis metabolik
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
Dehidrasi sesak

Gangguan pertukaran gas

Kekurangan volume Resiko syok


cairan hipovolemi
3. Masalah Yang Ditimbulkan

1. Masalah Keperawatan

a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

b. Resiko kekurangan volume cairan

2. Masalah Kolaborasi

a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

b. Renjatan hipovolemik.

c. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah,

bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).

d. Hipoglikemia.

e. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase

karena kerusakan vili mukosa, usus halus.

f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

g. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita

juga mengalami kelaparan.

4. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan tinja

a) Makroskopis dan mikroskopis

b) PH dan kadar gula dalam tinja

c) Bila perlu diadakan uji bakteri

2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan

menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.


3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

5. Terapi

a. Medis

Dasar pengobatan diare adalah:

Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah

pemberiannya.

1) Cairan per oral

Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral

berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk

diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90

mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-

sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit,

sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak

lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.

2) Cairan parentral

Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian

sebagai berikut:

Untuk anak umur 1 bln -2 tahun berat badan 3-10 kg

a) 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set

berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20

tetes).
b) 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset

berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20

tetes).

c) 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit

Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg

a) 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts

atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

b) Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg

c) 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts

atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

d) 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts

atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

e) 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.

Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg

a) Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24

jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½

%.

b) Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit

(1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).

Untuk bayi berat badan lahir rendah

Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian

glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).


b. Pengobatan dietetik

1) Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat

badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:

2) Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak

tak jenuh

3) Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)

4) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan

misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang

berantai sedang atau tak jenuh.

c. Obat-obatan

Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang

mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.

6. Kebutuhan Cairan

Tubuh dalam keadaan normal terdiri dari 60 % air dan 40 % zat padat seperti

protein, lemak dan mineral. Pada anak pemasukan dan pengeluaran harus

seimbang, bila terganmggu harus dilakukan koreksi mungkin dengan cairan

parentral, secara matematis keseimbangan cairan pada anak dapat di gambarkan

sebagai berikut :

Kebutuhan Cairan/Kg BB/24


Umur Berat Badan Total/24 jam
jam

3 hari 3.0 250-300 80-100


10 hari 3.2 400-500 125-150

3 bulan 5.4 750-850 140-160

6bulan 7.3 950-1100 130-155

9 bulan 8.6 1100-1250 125-165

1 tahun 9.5 1150-1300 120-135

2 tahun 11.8 1350-1500 115-125

4 tahun 16.2 1600-1800 100-1100

6 tahun 20.0 1800-2000 90-100

10 tahun 28.7 2000-2500 70-85

14 tahun 45.0 2000-2700 50-60

18 tahun 54.0 2200-2700 40-50

Whaley and Wong (1997), Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil 1998),

Suharyono, Aswitha, Halimun (1998) dan Bagian Ilmu Kesehatan anak FK UI

(1988), menyatakan bahwa jumlah cairan yang hilang menurut derajat

dehidrasi pada anak di bawah 2 tahun adalah sebagai berikut :

Derajat Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah

Ringan 50 100 25 175

Sedang 75 100 25 200

Berat 125 100 25 250


Keterangan :

PWL : Previous Water loss (ml/kg BB)

NWL : Normal Water losses (ml/kg BB)

CWL : Concomitant Water losses (ml/kg BB)

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Hidrasi

- Turgor kulit

- Membran mukosa

- Asupan dan haluaran

b. Abdomen

- Nyeri

- Kekauan

- Bising usus

- Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik

- Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik

- Kram

- Tenesmus

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

penurunan intake makanan.

b. Resiko kekurangan volume cairan dengan kehilangan volume cairan aktif


c. Perencanaan Tindakan Keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekeunder

terhadap demam.

Tujuan/kriteria hasil:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien

a. Tidak ada tanda malnutrisi

b. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Rencana tindakan:

a. Kaji adanya alergi makanan

b. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

c. Monitor adanya penurunan berat badan

d. Monitor pertumbuhan dan perkembangan anak

e. Monitor kalori dan intake nutrisi

2. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan volume

cairan aktif

Tujuan/kriteria hasil:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien:

a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, Bj urine

normal, HT normal

b. Tidak ada tanfda dehidrasi


c. Elastisitas turgor kulit baik

Rencana tindakan:

a. Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan

b. Catat secara akurat intake dan output

c. Kaji dan catat tanda-tanda vital serta gejala kekurangan cairan

d. Kaji dan catat penegtahuan serta partisipasi keluarga dalam monitoring

intake dan output serta dalam mengenali tanda dan gejala kekuarangan

volume cairan.
BAB III

BATUK PILEK

A. TEORI TENTANG PENYAKIT

1. Masalah Kesehatan/Definisi

Batuk Pilek adalah penyakit saluran pernapasan yang paling sering

mengenai bayi dan anak. ( Ngastiyah, 2005 : 31 )

Batuk Pilek adalah infeksi primer nasofaring yang sering di jumpai pada

bayi dan anak. ( FK UI, 2007 :603 ).

Batuk dan pilek adalah penyakit saluran pernafasan yang paling sering

menyerang bayi dan anak – anak. Bisa pula menyerang orang dewasa tetapi

karakteristik nya berbeda. Pada bayi dan anak serangannya cenderung lebih

berat karena infeksi mencakup daerah sinus paranasal, telinga tengah, dan

nasofaring yang di sertai demam tinggi. Pada orang dewasa, infeksi batuk dan

pilek hanya meliputi daerah yang terbatas serta tidak menimbulkan demam

tinggi ( Azka, alifah Flowerifta. 2009. Jangan Remehkan Batuk Pilek pada

Anak. http ://www. Wordpress.com. 8 Desember 2010.3 Maret 2009 ).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa batuk

pilek adalah penyakit atau infeksi dari saluran pernafasan yang paling sering di

jumpai pada bayi dan anak, dimana batuk pilek dapat menular secara droplets

dan masa inkubasi virusnya sangat pendek yaitu 12 – 72 jam, selain itu

serangan batuk pilek pada bayi dan anak cenderung lebih berat di banding pada
orang dewasa, karena pada bayi dan anak infeksi mencakup daerah sinus

paranasal, telinga tengah, dan nasofaring yang di sertai dengan demam tinggi.

2. Gangguan Pemenuhan Dasar (Dikaitkan Dengan Patofisiologi, Insiden, Dan

Prognosa Penyakit)

Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal disaluran nafas.

Infeksi oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri.

Timbul mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi di

rongga hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier dan

fagositosis. Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka bakteri

pathogen dapat melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut Akibatnya

terjadi invasi di daerah-daerah saluran pernafasan atas maupun bawah.

Terdapat banyak mekanisme perlindungan disepanjang saluran nafas

untuk mencegah infeksi. Reflek batuk mengeluarkan benda asing dan

mikroorganisme, serta mengeluarkan mukus yang terakumulasi.

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus

dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan

menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke

atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks

spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan

epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983).

Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk

kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan


menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada

dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang

melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan

gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala

ISPA yang paling menonjol adalah batuk.

Refleks batuk terjadi melalui mekanisme berikut ini:


a. Pada saat inspirasi udara ke paru, epiglotis menutupi glotis, pita suara

tertutup untuk menahan udara inspirasi.

b. Otot-otot ekspirasi termasuk otot-otot abdomen dan interkostalis interna

berkonstraksi dengan kuat karena peningkatan tekanan intraalveolar.

c. Epiglotis dan pita suara tiba-tiba terbuka akibat ekspirasi kuat mendadak.

d. Udara dengan cepat melewati bronkus besar dan trakea (V = 100 mph),

sehingga benda-benda asing terbawa keluar.


4. Masalah Yang Ditimbulkan

1. Masalah Keperawatan

c. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

d. Hipertermi

2. Masalah Kolaborasi

a. Sinusitis Paranasal

b. Penutupan Tuba Eustachii

c. Otitis Media Akut

5. Pemeriksaan Diagnostik

Tes diagnostic menurut Sandra M Nettina (2000) yaitu:


Pemeriksaan darah lengkap yaitu:
a. Hb
Untuk laki-laki dan perempuan harga normalnya berbeda. Hb laki-laki harga
normalnya 14-18 g/dl, sedangkan harga normal. Hb perempuan adalah 12-16
g/dl.
b. Leukosit
Jumlah normalnya antara 5.000-10.000 butir/mm³. Bila kurang,
kemungkinan ada demam tifoid atau bisa juga AIDS. Bila lebih dari harga
normal kemungkinan menderita penyakit infeksi.
Ro foto: Thorax
adalah bagian tubuh manusia yang terletak antara kepala dan abdomen. Dalam
tubuh manusia, thorax adalah bagian tubuh yang tersusun dari tulang dada, ruas
tulang belakang, dan tulang rusuk. Thorax membentang dari leher hingga
diafragma, dan tidak termasuk otot atas. Jantung dan paru-paru berada dalam
rongga thorax, begitu juga banyak pembuluh darah. Organ dalam dilindungi
oleh kurungan tulang rusuk dan tulang dada.
6. Terapi

Batuk pilek tanpa infeksi di beri pengobatan simulatif, misal

ekspektoransia untuk mengatasi batuk, sedative untuk menenangkan pasien dan

anti piretik untuk menurunkan demam obstruksi hidung pada bayi sukar untuk

di obati penghisapan lendir hidung tidak efektif dan sering menimbulkan

bahaya. Cara yang paling mudah untuk pengeluaran sekret adalah dengan

membaringkan bayi tengkurap. Pada anak besar dapat di berikan tetes hidung

larutan efedrin 1 %. Bila ada infeksi sekunder hendaknya di berikan antibiotik.

Batuk yang produktif ( pada bronchitis dan Tracheatis ) tidak boleh di berikan

antitusif. Misalnya codein karena dapat menyebabkan depresi pusat nafas batuk

dan pusat muntah penumpukan sekret sehingga dapat menyebabkan

bronkopneumonia.Selain pengobatan tersebut, pada sinusitis terutama yang

kronik dapat di berikan pengobatan dengan penyinaran.( Ngastiyah, 2005 : 33 )

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Keluhan Utama

Keluhan Ibu dengan anak batuk pilek biasanya anak rewel, susah makan, dan

demam.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Anak mengalami batuk pilek sejak.... hari yang lalu, dan obat apa yang telah

di berikan
c. Riwayat Kesehatan yang lalu

Apakah sebelumnya anak pernah menderita sakit seperti ini, berapa lama,

selain itu sakit apa yang pernah di derita anak

d. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini, atau menderita

penyakit lain yang bisa menular, contohnya TBC.

e. Riwayat Imunisasi

Imunisasi yang sudah di peroleh anak serta vaksinasinya. Karena bila anak

belum imunisasi dapat memperburuk kondisi anak bila ada penyakit menular

yang dapat di cegah dengan imunisasi menyerang anak.

f. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan

- Riwayat pertumbuhan : BB sebelum sakit dan Bb sekarang

- Riwayat perkembangan : kapan mulai mengangkat kepala,

tengkurap, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan

g. Pola kebiasaan sehari – hari

- Pola nutrisi

Mengkaji pola nutrisi apakah kualitas dan kuantitas sudah memenuhi

kebutuhannya.

- Pola Eliminasi

Frekuensi BAB dan BAK dalam sehari

- Pola Istirahat
Lama istirahat dalam sehari ( siang dan malam ), ada gangguan atau tidak

( untuk mengetahui kebutuhan istirahat terpenuhi atau tidak ).

- Pola kebersihan

Mandi berapa kali, ganti baju berapa kali.

h. Data psikososial

Untuk mengetahui keadaan psikologi dan sosial dalam keluarga ( bagaimana

hubungan dalam keluarga / antar anggota keluarga serta keadaan

psikologisnya ).

i. Data Obyektif

1) Pemeriksaan umum

- KU : cukup

- Kesadaran : Composmentis

- Nadi : 90 x / menit

- Suhu : 38

2) Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

- Muka : Pucat

- Mata : berair, sklera putih, konjungtiva pucat

- Hidung : keluar cairan encer hingga purulen, pernapasan

cuping hidung

- Mulut : bibir kering, lidah putih

- Dada : terdapat retraksi dada


b. Palpasi

Integumen : turgor kulit kurang, kulit terasa panas

c. Auskultasi

Dada : Ronchi Basah +, batuk +, bersin

d. Perkusi

Perut : Kembung -

3. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi mucus

yang berlebihan.

2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

4. Perencanaan Tindakan Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi mucus

yang berlebihan

Tujuan/kriteria hasil:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien

a. Pasien mempertahankan jalan nafas yang paten

b. Pasien mengeluarakan seksrei dengan adekuat

Rencana tindakan:

a. Kaji fungsi pernafasan (bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman, dan

penggunaan otot bantu pernafasan)

b. Berikan posisi semi telungkup, dan posisi miring


c. Aspirasi (hisap) sekresi dari jalan nafas sesuai kebutuhan, batasi setiap

penghiasapan sampai 5 detik.

d. Kolaborasi pemebrian antibiotik sesuai indikasi

2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

Tujuan/Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam,diharapkan pasien:

a. Suhu tubuh pasien Suhu tubuh normal (36 – 37 0c).

b. Pasien bebas dari demam

c. Pasien tidak kejang

Rencana tindakan:

e. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan) setiap 3 jam

f. Anjurkan kompres hangat

g. Anjurkan penggunaan pakaian tipis menyerap keringat

h. Kolaborasi pemberian obat antipiretik


DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya


baru

Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatik,


Jakarta, EGC

Joane C. Mc. Closkey, Gloria M. Bulechek, 1996, Nursing Interventions


Classification (NIC), Mosby Year-Book, St. Louis

Marion Johnson, dkk, 2000, Nursing Outcome Classifications


(NOC), Mosby Year-Book, St. Louis.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC :


JakartaHerdman,T.Heather. 2015.
Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2015-2017 edisi 10.
EGC, Jakarta

Nursalam. Susilaningrum R. Utami S. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi


Dan Anak (untuk bidan dan perawat). Jakarta : Salemba Medika.

Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa :


Manulang R.F. Jakarta, EGC

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC : Jakarta

Sumijati M.E, dkk. 2000. Asuhan Keperawatan Pada Kasus Penyakit


Yang Lazim Terjadi Pada Anak.PERKANI : Surabaya

Wahidiyat Iskandar. 1995. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. Info Medika :


Jakarta
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Medika
Aesculapius.

Wong.Donna. 2005.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta.

Penerbit Buku Kedokteran (EGC)