Anda di halaman 1dari 24

GAMBARAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA CAKUPAN WILAYAH

PUSKESMAS PLUS WATUBANGGA

PERIODE JULI – NOVEMBER 2017

Oleh:

dr. Ayu Andira Sainal

Pendamping:

dr. Hj. Armayanti, S.Ked

PROGRAM DOKTER INTERNSIP

PPSDM KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIKINDONESIA DAN KOMITE


INTERNSHIP

DOKTER INDONESIA

2017
GAMBARAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA CAKUPAN WILAYAH PUSKESMAS
PLUS WATUBANGGA

PERIODE JULI – NOVEMBER 2017

disusun oleh:

dr. Ayu Andira Sainal

Telah disetuji oleh Pembimbing Laporan Mini Projek Program Dokter Internship

Dokter Indonesia pada periode September 2017 – Januari 2017

Pembimbing

dr. Hj. Armayanti, S.Ked

NIP. 1966 1223200012 2 002


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat dan rahmatNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Mini Project ini. Adapun judul Mini Project ini adalah “Gambaran
kejadian dispepsia pada cakupan wilayah puskesmas plus watubangga periode Juli – november
2017”.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penulisan Mini Project ini tidak lepas
dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan
ucapan terimakasih kepada:

1. dr. Hj. Armayanti, S.Ked selaku dokter pendamping sekaligus kepala Puskesmas
Watubangga.
2. Rekan Sejawat dokter Internsip
3. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan mini project ini

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa mini project ini tidak sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan masukan demi perbaikan selanjutnya. Penulis berharap agar
mini project ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

Watubangga, November 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................................................... i

Halaman Pengesahan ............................................................................................................... ii

Kata Pengantar ........................................................................................................................ iii

Daftar Isi.................................................................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 2

1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................. 3

2.1 Definisi ..................................................................................................................... 8

2.2 Etiologi ..................................................................................................................... 8

2.3 Klasifikasi menurut etiologi ..................................................................................... 8

2.4 Gejala Klinis ........................................................................................................... 10

2.5 Diagnostik ............................................................................................................... 10

2.6 penatalaksanaan ...................................................................................................... 11

2.7 pencegahan ............................................................................................................. 13

2.8 prognosis ................................................................................................................. 14

4
BAB III METODE PENELITIAN......................................................................................... 17

3.1 Desain Penelitian .................................................................................................... 17

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................. 17

3.3 Populasi dan Sampel ............................................................................................... 17

3.4 Manejemen Data ..................................................................................................... 17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... 18

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ...................................................................... 18

4.2 Hasil dan Pembahasan ............................................................................................ 22

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan ................................................................................................................. 24

5.2 Saran ....................................................................................................................... 24

5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluhan dispepsia merupakan keadaan klinis yang sering dijumpai dalam
praktek praktis sehari-hari. Diperkirakan hamper 30% kasus pada praktek
umum dan 60% praktek gastroenterologis merupakan kasus dispepsia. Istilah
dispepsia mulai gencar dikemukakan sejak akhir tahun 80-an yang
menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari
nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat
kenyang, rasa penuh di perut, sendawa, regurgitasi dan dan rasa panas yang
menjalar di dada. Sindrom atau keluhan ini dapat disebabkan atau didasari oleh
berbagai penyakit tentunya termasuk pula penyakit lambung, yang diasumsikan
oleh orang awam seperti penyakit maag/lambung, Penyakit hepatitis,
pancreatitis kronik, kolesistitis kronik) merupakan penyakit tersering setelah
penyakit yang melibatkan gangguan patologis pada tukak peptic dan gastritis.
Beberapa penyakit di luar system gastrointestinal dapat pula bermanifestasi
dalam bentuk sindrom dispepsia, seperti gangguan infark miokard, penyakit
tiroid, obat-obat dan sebagainya.1
Dispepsia merupakan keluhan umum yang dalam waktu tertentu dapat
dialami oleh seseorang. Berdasarkan penelitian pada populasi umum
didapatkan bahwa 15-30% orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam
beberapa hari. Dari data di Negara barat di dapatkan prevalensinya berkisar 7-
41% tapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis. Belum ada data
epidemiologi di Indonesia.1
Gejala yang esensial adalah selalu adanya komponen dari nyeri atau
gangguan abdomen bagian atas. Untuk membedakannya dari ICS (Irritable
Colon Syndrome) dikatakan bahwa dispepsia meliputi gejala-gejala yang
berpredominasi pada abdomen bagian atas. Sejak pemakaian istilah dispepsia
hingga sekarang banyak timbul bermacam-macam batasan mengenai
dispepsia.1

6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian ini, permasalahan yang akan dibahas
dalam penelitian ini adalah bagaimanakah jumlah kunjungan pasien dispepsia
pada cakupan wilayah Puskesmas Watubangga periode Juli – November 2017.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit dispepsia dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui jumlah kunjungan penderita dispepsia menurut usia di
PKM PLUS Watubangga
b. Mengetahui jumlah kunjungan penderita dispepsia menurut jenis
kelamin di PKM PLUS Watubangga

C. Manfaat
1. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan
penelitian tentang penyakit dispepsia.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Menjadi dasar untuk perbaikan derajat kesehatan masyarakat dalam hal
pencegahan dan penanganan kasus dispepsia.
3. Bagi Masyarakat
Menjadi sarana untuk perbaikan di masa depan pada pelayanan kesehatan,
terutama pada masalah dispepsia.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Dispepsia adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri
atau rasa tidak nyaman diepigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuhatau
cepat kenyang, dan sering bersendawa. Dispepsia dapat disebabkan oleh
kelainan organik (misalnya tukak peptik, gastritis, kolesistitis, dan lainnya),
bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. maupun
yang bersifat nonorganik/fungsional/ dispepsia non ulkus, bila tidak jelas
penyebabnya.1.2,3
B. Etiologi
Terdapat beberapa penyebab dari dispepsia sebagai berikut
- Gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna; tukak gaster atau
duodenum, gastritis, tumor, infeksi Helicobacter pylori.
- Obat – obatan seperti anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa
antibiotic, digitalis, teofilin dan sebagainya.
- Penyakit pada hati, pankreas, system bilier, hepatitis, pancreatitis,
kolesistetis kronik. Penyakit sistemik: diabetes mellitus, penyakit tiroid,
penyakit jantung koroner.
- Bersifat fungsional, yaitu dispepsia yang terdapat pada kasus yang tidak
terbukti adanya kelainan atau gangguan organic atau structural biokimia,
yaitu dispepsia fungsional atau dispepsia non ulkus.1
C. Klasifikasi menurut etiologi
1. Organik
a. Obat-obatan
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS), Antibiotik
(makrolides, metronidazole), Besi, KCl, Digitalis, Estrogen, Etanol
(alkohol), Kortikosteroid, Levodopa, Niacin, Gemfibrozil, Narkotik,
Quinidine, Theophiline.4-6

8
b. Idiosinkrasi makanan (intoleransi makanan)
- Alergi susu sapi, putih telur, kacang, makanan laut, beberapa jenis
produk kedelai dan beberapa jenis buah-buahan
- Non-alergi
 Produk alam : laktosa, sucrosa, galactosa, gluten, kafein.
 Bahan kimia : monosodium glutamate (vetsin), asam benzoat,
nitrit, nitrat.
Perlu diingat beberapa intoleransi makanan diakibatkan oleh
penyakit dasarnya, misalnya pada penyakit pankreas dan empedu
tidak bisa mentoleransi makanan berlemak, jeruk dengan pH yang
relatif rendah sering memprovokasi gejala pada pasien ulkus peptikum
atau esophagitis.6
c. Kelainan structural
- Penyakit oesophagus
 Refluks gastroesofageal dengan atau tanpa hernia
 Akhalasia
 Obstruksi esophagus
- Penyakit gaster dan duodenum
 Gastritis erosif dan hemorhagik; sering disebabkan oleh
OAINS dan sakit keras (stres fisik) seperti luka bakar, sepsis,
pembedahan, trauma, shock
 Ulkus gaster dan duodenum
 Karsinoma gaster
2. Idiopatik atau Dispepsia Non Ulkus
Dispepsia fungsional ditandai keluhan terjadi kronis, tanpa
ditemukan adanya gangguan struktural atau organik atau metabolik tetapi
merupakan kelainan fungsi dari saluran makanan. Termasuk ini adalah
dispepsia dismotilitas, yaitu adanya gangguan motilitas diantaranya;
waktu pengosongan lambung yang lambat, abnormalitas kontraktil,
abnormalitas mioelektrik lambung, refluks gastroduodenal. Penderita
dengan dispepsia fungsional biasanya sensitif terhadap produksi asam

9
lambung yaitu kenaikan asam lambung. Kelainan psikis, stress dan faktor
lingkungan juga dapat menimbulkan dispepsia fungsional.12 Kelainan non
organik saluran cerna:
o Gastralgia
o Dispepsia karena asam lambung
o Dispepsia flatulen
o Dispepsia alergik
o Dispepsia essensial
o Pseudoobstruksi intestinal kronik
o Kelainan susunan saraf pusat (CVD, epilepsi).
o Psikogen : Histeria, psikosomatik
D. Gejala klinis
Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, serta dapat
akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya. Pembagian akut dan
kronik berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai
dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa
penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan
bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun,
mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).7
E. Diagnostik
Dispepsia melalui gejala saja tidak dapat membedakan antara dispepsia
fungsional dan dispepsia organik. Diagnosis dispepsia fungsional adalah
diagnosis yang telah ditetapkan, dimana pertama sekali penyebab kelainan
organik atau struktural harus disingkirkan melalui pemeriksaan. Pemeriksaan
yang pertama dan banyak membantu adalah pemeriksaan endoskopi. Oleh
karena dengan pemeriksaan ini dapat terlihat kelainan di oesophagus, lambung
dan duodenum. Diikuti dengan USG (Ultrasonography) dapat mengungkapkan
kelainan pada saluran bilier, hepar, pankreas, dan penyebab lain yang dapat
memberikan perubahan anatomis. Pemeriksaan hematologi dan kimia darah
akan dapat mengungkapkan penyebab dispepsia seperti diabetes, penyakit

10
tyroid dan gangguan saluran bilier. Pada karsinoma saluran pencernaan perlu
diperiksa pertanda tumor.1,7
Kriteria Diagnostik Dispepsia Fungsional berdasarkan Kriteria Rome III
yaitu:
1. Berasa terganggu setelah makan
2. Cepat kenyang
3. Nyeri epigastrik
4. Panas/ rasa terbakar di epigastrik
Terbukti tidak ada penyakit struktural termasuk endoskopi proksimal
yang dapat menjelaskan penyebab terjadinya gejala klinis tersebut. Kriteria
haruslah terjadi dalam masa 3 bulan terakhir dengan onset gejala klinis
sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum diagnosis.8
F. Penatalaksanaan
Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter pylori
1996, ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia, yang dibedakan bagi sentra
kesehatan dengan tenaga ahli (gastroenterolog atau internis) yang disertai
fasilitas endoskopi dengan penatalaksanaan dispepsia di masyarakat.
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:
1. Antasid
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandungi Na
bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid
jangan terus- menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk mengurangi rasa
nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat
sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar
akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2. Sering
digunakan adalah gabungan Aluminium hidroksida dan magnesium
hidroksida.Aluminum hidroksida boleh menyebabkan konstipasi dan
penurunan fosfat; magnesium hidroksida bisa menyebabkan BAB encer.
Antacid yang sering digunakan adalah seperti Mylanta, Maalox,
merupakan kombinasi Aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida.

11
Magnesium kontraindikasi kepada pasien gagal ginjal kronik karena bisa
menyebabkan hipermagnesemia, dan aluminium bisa menyebabkan
kronik neurotoksik pada pasien tersebut.9
2. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia
organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan
antagonis reseptor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan
famotidin.6,9
3. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI).
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium
akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk
golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol. Waktu
paruh PPI adalah 18 jam; jadi, bisa dimakan antara 2 dan 5 hari supaya
sekresi asid gastrik kembali kepada ukuran normal. Supaya terjadi
penghasilan maksimal, digunakan sebelum makan yaitu sebelum sarapan
pagi kecuali omeprazol.9
4. Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil
(PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung
oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin
endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan
produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta
membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan
protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas. Toksik daripada obat
ini jarang, bisa menyebabkan konstipasi (2–3%). Kontraindikasi pada
pasien gagal ginjal kronik. Dosis standard adalah 1 g per hari.9
Terapi Dispepsia Fungsional :
1. Farmakologis
Pengobatan jangka lama jarang diperlukan kecuali pada kasus-kasus
berat. (regular medication) mungkin perlu pengobatan jangka pendek
waktu ada keluhan. (on demand medication)

12
2. Psikoterapi
 Reassurance
 Edukasi mengenai penyakitnya
3. Perubahan diit dan gaya hidup
 Dianjurkan makan dalam porsi yang lebih kecil tetapi lebih sering.
 Makanan tinggi lemak dihindarkan
Pengobatan terhadap dispepsia fungsional adalah bersifat terapi
simptomatik. Pasien dengan dispepsia fungsional lebih dominan gejala dan
keluhan seperti nyeri pada abdomen bagian atas (ulcer - like) bisa diobati
dengan PPI (Proton Pump Inhibitors). Pasien dengan keluhan yang tidak jelas
di bagian abdomen atas di mana yang gagal dengan pengobatan PPI, bisa
diobati dengan tricyclic antidepressants, walaupun data yang menyokong
masih kurang.10
Pasien dengan keluhan dismotility – like symptom bisa diobati dengan
sama ada dengan acid suppressive therapy, prokinetic agents, atau 5-HT1
agonists. Metoclopramide dan domperidone menunjukkan antara obat placebo
dalam pengobatan dispepsia fungsional.10
G. Pencegahan
Makan secara benar. Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama
makanan yang pedas, asam, gorengan atau berlemak. Yang sama pentingnya
dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana
cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan
lakukan dengan santai.
Hindari alkohol. Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis
lapisan mukosa dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan
pendarahan.
Jangan merokok. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung
lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok.
Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda penyembuhan
lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung. Tetapi,
untuk dapat berhenti merokok tidaklah mudah, terutama bagi perokok berat.

13
Konsultasikan dengan dokter mengenai metode yang dapat membantu untuk
berhenti merokok.
Lakukan olah raga secara teratur. Aerobik dapat meningkatkan kecepatan
pernapasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga
membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.
Kendalikan stress. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan
stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya
permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan
melambatkan kecepatan pencernaan. Karena stress bagi sebagian orang tidak
dapat dihindari, maka kuncinya adalah mengendalikannya secara effektif
dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan
relaksasi yang cukup.
Ganti obat penghilang nyeri. Jika dimungkinkan, hindari penggunaan
OAINS, obat-obat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan
akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan
penghilang nyeri yang mengandung acetaminophen. Ikuti rekomendasi
dokter.4-7, 11, 12
H. Prognosis
Statistik menunjukkan sebanyak 20% pasien dispepsia mempunyai ulkus
peptikum, 20% mengidap Irritable Bowel Syndrome, kurang daripada 1%
pasien terkena kanker, dan dispepsia fungsional dan dispepsia non ulkus adalah
5-40%.13
Terkadang dispepsia dapat menjadi tanda dari masalah serius, contohnya
penyakit ulkus lambung yang parah. Tak jarang, dispepsia disebabkan karena
kanker lambung, sehingga harus diatasi dengan serius. Ada beberapa hal
penting yang harus diperhatikan bila terdapat salah satu dari tanda ini, yaitu:
Usia 50 tahun ke atas, kehilangan berat badan tanpa disengaja, kesulitan
menelan, terkadang mual-muntah, buang air besar tidak lancar dan merasa
penuh di daerah perut

14
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kategorik
dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Waktu dan tempat penelitian ini dilakukan pada bulan Desember


tahun 2017 di Puskesmas Kecamatan Watubangga.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini ialah seluruh data kasus dispepsia yang
tercatat pada Puskesmas Watubangga. Metode sampling yang digunakan
pada penelitian ini ialah total sampling, yaitu dengan mengambil seluruh
data sekunder yang ada.

3.4 Manajemen Data

Data sekunder yang sudah didapatkan akan direkapitulasi, dirapikan,


dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel.

15
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

4.1.1 Profil Komunitas Umum

Puskesmas Plus Watubangga adalah salah satu puskesmas perawatan


di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka yang berkedudukan di
Kecamatan Watubangga dengan jarak tempuh ±60 KM ke arah selatan dari
ibu kota kabupaten kolaka. Puskesmas ini dibangun pada tahun 1991 di atas
tanah seluas 1200 m² dengan luas bangunan 305 m² dan mengalami renovasi
pada tahun 1992. Lalu pada tahun 2007 mengalami penambahan bangunan
yaitu bangunan pelayanan PONED.

Dalam mengaplikasikan pemberian pelayanan kesehatan kepada


masyarakat, Puskesmas Plus Watubangga telah menetapkan Visi dan Misi
sebagai berikut:

Visi : Mewujudkan lingkungan sehat melalui pelayanan prima


bermutu dan terjangkau oleh masyarakat

Misi : - Meningkatkan PHBS Masyarakat

 Menciptakan suasana yang nyaman di lingkungan puskesmas


 Melaksanakan pelayanan kesehatan gratis kepada anggota dasa
wisma wilayah watubangga

16
4.1.2 Data Geografis

Dilihat dari segi geografis Kec. Watubangga memiliki batas wilayah :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Tanggetada

b. Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Bone

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Toari

d. Sebelah Timur Berbatasan dengan Kec. Polinggona

Kecamatan Watubangga terletak disebelah selatan dari ibu kota


Kabupaten Kolaka, terdiri dari wilayah dataran 30 %, perbukitan 50 % dan
Perairan 20 %6

Gambar 4.1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Plus Watubangga Kecamatan


Watubangga

17
4.1.3 Data Demografik

Wilayah kerja puskesmas Watubangga Secara Administratif terdiri


dari atas 3 (tiga) Kelurahan dan 11 (sebelas) desa dengan jumlah penduduk
dan jarak dengan ibu kota kabupaten serta ibu kota kecamatan maing-
masing adalah sebagai berikut:

Tabel. 4.1 Keadaan Jumlah Penduduk Kecamatan WatubanggaTahun 20176

Jumlah Penduduk Jarak (KM)


No. Nama Kel. / Desa
Jiwa KK Dari Kec. Dari Kab.
1. Kelurahan Watubangga 2.588 563 0 75
2. Kelurahan Tandebura 1.567 449 2 77
3. Kelurahan Wolulu 1.039 262 1,5 76,5
4. DesaSumber Rejeki 659 172 7 82
5. Desa Lamunde 1.237 247 3 78
6. Desa Polenga 1.264 579 5 80
7. Desa Gunungsari 1.107 338 3 78

Jumlah 9.461 2.610


Sumber : Kantor Kecamatan Watubangga Tahun 2017

Masyarakat kecamatan watubangga secara sosial ekonomi adalah


terdiri dari berbagai macam suku bangsa yaitu suku tolaki morene, suku
tolaki mekongga, suku bugis-makassar, suku jawa dan suku bali yang
mayoritas bekerja sebagai petani/pekebun, peternak sapi/kambing dan
nelayan disamping pekerjaan lain seperti wiraswasta, PNS dan TNI/POLRI6

18
4.2 Hasil dan Pembahasan

4.2.1 Angka kejadian dispepsia

Secara keseluruhan pada bulan Juli hingga november 2017 didapatkan


angka kejadian dispepsia pada wilayah Puskesmas Watubangga sebanyak
166 kasus.

4.2.2 Distribusi menurut jenis kelamin

Jenis Kelamin Populasi


Jumlah Presentase
Laki – Laki 66 40 %
Perempuan 100 60 %
Total 166 100%
Secara umum jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian
dispepsia. Hal ini menyebabkan perbandingan antara laki-laki dan
perempuan yang mengalami dispepsia tidak jauh rasionya.

4.2.3 Distribusi menurut kelompok usia

Usia (Tahun) Populasi

Jumlah Presentase (%)


0-17 3 2%
18-35 29 17%
36-55 83 50%
56-70 41 25%
>71 10 6%
TOTAL 166 100%

19
Hasil persebaran kasus dispepsia menurut usia kurang lebih 50%
dialami oleh dewasa. Dimana Berdasarkan penelitian pada populasi umum
dispepsia lebih banyak didapatkan 15-30% pada orang dewasa.

4.2.5 Angka kejadian dispepsia menurut waktu

KEJADIAN DISPEPSIA BERDASARKAN


WAKTU
60

50

40

30

20

10

0
JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER
Series1 32 21 19 43 51

Pada penelitian didapatkan jumlah penderita dispepsia paling tinggi dijumpai pada
bulan november yaitu 51 orang dan yang terendah ialah pada bulan september
yaitu 19 orang. Selebihnya variasi nilai angka kejadian per bulannya secara umum
rentangnya tidak jauh. Hal ini menunjukkan bahwasanya pada setiap waktu kasus
dispepsia memang terjadi.

20
BAB V

PENUTUP

5.1 kesimpulan

1. Angka kunjungan pasien dispepsia di poliklinik Puskesmas Watubangga


periode Juli-November 2017 sebesar 166 kasus.
2. Presentase kejadian dispepsia pada cakupan wilayah Puskesmas
Watubangga periode Juli – November 2017 berdasarkan jenis kelamin
didapatkan laki-laki sebesar 40% dan perempuan sebesar 60%.
3. Kunjungan dispepsia pada cakupan wilayah Puskesmas Watubangga
periode Juli - November 2017 berdasarkan usia paling banyak dialami
oleh rentan usia 36-55 tahun sebesar 50%.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran kejadian dispepsia


pada cakupan wilayah Puskesmas Watubangga periode Juli - November
2017, maka saran yang dapat peneliti sampaikan adalah:

1. Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat lebih meningkatkan pengetahuan tentang
pencegahan, penanganan diabetes mellitus agar terhindar dari komplikasi
yang lebih berat.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan dapat lebih meningkatkan lagi penyuluhan tentang pentingnya
pencegahan dan pola gaya hidup sehat.
3. Bagi Institusi
a. Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat khususnya tentang penanganan dispepsia yang lebih baik
lagi.

21
b. Pendidikan

Diharapkan akan menambah referensi untuk mengembangkan


penelitian lebih lanjut tentang penanganan dispepsia.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Djojoningrat D. Pendekatan klinis penyakit gastrointestinal. Sudoyo AW,


Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu
penyakit dalam, Ed. IV, 2007. Indonesia; Balai Penerbit FKUI. H. 285

2. Jones MP. Evaluation and treatment of dyspepsia. Post Graduate Medical


Journal. 2003;79:25-29.

3. Citra JT. Perbedaan depresi pada pasien dispepsia organik dan fungsional.
Bagian Psikiatri FK USU 2003.

4. Indigestion (Dyspepsia, Upset Stomach). Edition 2010. [Cited at 23 Jan


2016]. Available from: http://www.medicinenet.com/dyspepsia/article.htm.

5. Dyspepsia, What It Is and What to Do About It? Edition 2009. [cited at 23


Jan 2016] Available from:
http://familydoctor.org/online/famdocen/home/common/digestive/disorders/4
74.html.

6. Greenburger NJ. Dyspepsia. The Merck Manuals Online Medical Library.


2008 March. [cited 23 Jan 2016] Available from:
http://www.merck.com/mmpe/sec02/ch007/ch007c.html.

7. Dyspepsia. Edition 2010. [cited 23 Jan 2016]. Available from:


http://www.mayoclinic.org/dyspepsia/.

8. Tack J, Nicholas J, Talley, Camilleri M, Holtmann G, Hu P, et al. Functional


Gastroduadenal. Gastroenterology. 2006;130:1466-1479.

9. Fauci AS, Braunwald, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson LJ et al.
Peptic ulcer disease in Harrison’s Principle of Internal Medicine, 17th ed,
Vol.II.2008. USA: Mc Graw Hill Medical, p.287

10. David JB. Test and Treat or PPI Therapy for Dyspepsia? Journal Watch
Gastroenterology. 2008 April;

11. Talley N, Vakil NB, Moayyedi P. American Gastroenterological Association


technical review: evaluation of dyspepsia. Gastroenterology. 2005;129:1754

12. Delaney BC. 10 Minutes consultation dyspepsia. BMJ. 2001. [cited 23 Jan
2016]. Available from: http://www.bmj.com/cgi/content/full/322/7289/776.

13. Dyspepsia. Edition 2001. [cited 23 Jan 2016]. Available from:


http://mercyweb.org/MICROMEDEX/health_information.

23
24