Anda di halaman 1dari 24

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang dipakai adalah studi deskriptif menggunakan

metode survei. Dilakukan pemeriksaan langsung pada rongga mulut anak usia 2-5

tahun untuk melihat ada tidaknya nursing caries dan wawancara kepada ibunya,

untuk mengetahui bagaimana kebiasaan pemberian susu pada anaknya.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah ibu-ibu beserta anak 2-5 tahunnya

pengunjung BKIA Kecamatan Medan Denai. Di Kecematan Medan Denai terdapat

empat puskesmas: Puskesmas Tegal Sari, Puskesmas Medan Denai, Puskesmas

Binjei dan Puskesmas Plus Bromo. Sampel merupakan pengunjung di BKIA keempat

puskesmas tersebut. Perhitungan besar sampel dilakukan dengan hasil taksiran akhir

diharapkan 10 point persen dan confidence level 95%, serta proporsi anak yang

menderita nursing caries adalah 37%. Hasil perhitungan besar sampel minimum:

Perkiraan proporsi anak yang menderita nursing caries = 37%

Confidience level = 95%

Absolute precision = 10 point persen

n = Z2 1-α P (1-P) / d2

Universitas Sumatera Utara


Maka :

N = 1,962. 0,37 (1-0,37) / 0,12

= 3,8416. 0,2331 / 0,01

= 89,54

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa sampel minimum yang diperlukan

adalah berjumlah 90 orang. Pada penelitian ini besar sampel yang digunakan

berjumlah 140 orang, lebih besar dari sampel minimum yang diperlukan hal ini

dilakukan dengan harapan makin besarnya sampel yang diambil maka akan makin

tinggi taraf representativeness sampelnya.

3.3 Variabel Penelitian

Pada penelitian ini terdapat beberapa variabel, yaitu:

1. Umur :

- 2 tahun

- 3 tahun

- 4 tahun

- 5 tahun

2. Nursing caries :

- tipe I

- tipe II

- tipe III

- tipe IV

Universitas Sumatera Utara


3. Jenis susu :

- ASI

- Susu Botol

- Kombinasi ASI + susu botol

4. Lama Pemberian :

- Hingga umur 6-11 bulan

- Hingga umur 1-2 tahun

- Hingga umur lebih dari 2 tahun

5. Frekuensi Pemberian :

- ≤ 3 kali

- 4-6 kali

- 7-9 kali

- > 9 kali

6. Posisi anak ketika meminum susu :

- Tidur

- Duduk

- Tidur + duduk

7. Pemberian makanan tambahan melalui botol pada anak

8. Kebiasaan pembersihan gigi oleh ibu pada anak

3.4 Definisi Operasional

1. Umur merupakan usia anak yang dihitung sampai ulang tahun terakhirnya,

yang terdiri atas 2, 3, 4, dan 5 tahun.

Universitas Sumatera Utara


2. Nursing caries merupakan karies pada gigi sulung yang dijumpai pada

permukaan gigi anterior rahang atas, yang dimulai dengan perubahan warna enamel

berupa bercak putih (white spot) pada permukaan gigi yang dilihat secara visual dan

hingga gigi berlubang yang dilihat dengan bantuan sonde dan kaca mulut, yang

terjadi karena pemberian susu yang salah, terdiri atas:

- Tipe I : Dijumpai satu atau dua gigi anterior rahang atas menderita

karies.

- Tipe II : Dijumpai lebih dari dua gigi anterior rahang atas menderita

karies.

- Tipe III : Dijumpai satu atau lebih gigi anterior rahang atas menderita

karies dan satu atau lebih gigi molar juga telah terkena karies.

- Tipe IV : Dijumpai satu atau dua gigi dengan pulpa terbuka atau karies

telah terlihat pada satu atau lebih gigi anterior rahang bawah.

3. Jenis susu yang diberikan pada anak sebagai asupan nutrisi anak, terbagi

atas: ASI adalah susu yang dikomsumsi oleh anak yang diperolehnya dengan cara

menghisap puting susu ibunya, susu melalui botol-dot adalah segala jenis susu yang

dikonsumsi anak melalui botol dot, dan kombinasi ASI + susu melalui botol-dot

adalah apabila anak mendapatkan susu sebagai asupan nutrisi berasal dari puting susu

ibunya dan juga susu yang diberikan melalui botol dot.

4. Lama pemberian susu merupakan banyaknya waktu yang dihabiskan

selama memberikan susu kepada anaknya dari pertama anak diberikan susu sampai

penghentian pemberian susu, dibagi menjadi: hingga umur 6-11 bulan, 1-2 tahun, dan

Universitas Sumatera Utara


lebih dari 2 tahun. Pemberian yang salah adalah bila susu diberikan kepada anak

hingga anak berumur lebih dari 2 tahun.

5. Frekuensi pemberian merupakan berapa kali ibu memberikan susu pada

anak dalam satu hari, dibagi menjadi: ≤ 3 kali, 4-6 kali, 7-9 kali, dan > 9 kali dalam

satu hari. Pemberian yang salah adalah bila susu diberikan kepada anak hingga lebih

dari 9 kali.

6. Posisi anak ketika meminum susu merupakan hal yang sedang dilakukan

anak saat meminum susu, terdiri dari : tidur, duduk dan kombinasi keduanya.

Pemberian yang salah adalah bila susu diberikan ketika anak dalam posisi tidur.

7. Pemberian makanan tambahan melalui botol merupakan segala jenis

makanan atau minuman yang diberikan pada anak sebagai tambahan dari susu yang

dikonsumsi anak dimana makanan atau minuman tersebut diberikan dengan botol dot.

8. Pembersihan gigi merupakan cara yang dilakukan yang bertujuan untuk

menyingkirkan kotoran di permukaan gigi anak, mencakup: kebiasaan pembersihan

gigi setelah anak meminum susu, umur dimana gigi anak mulai dibersihkan,

kebiasaan ibu membantu membersihkan gigi anak.

3.5 Cara Pengambilan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan:

1. Pemeriksaan klinis pada anak

Dilakukan pemeriksaan klinis pada anak anak usia 2-5 tahun untuk melihat

ada tidaknya nursing caries yang terjadi untuk mengetahui prevalensi dari karies

botol. Kemudian mengelompokkan kriteria nursing caries yang terjadi kedalam

Universitas Sumatera Utara


empat tingkat perluasannya, dan selanjutnya dilihat pola nursing caries yang terjadi

disetiap permukaan gigi.

Pemeriksaan dilakukan pada keadaan penerangan sinar matahari atau pada

cahaya yang baik dengan bantuan alat berupa kaca mulut dan sonde half moon.

2. Wawancara dilakukan pada ibunya, dilakukan untuk mengetahui

bagaimana kebiasaan pemberian ASI, pengganti ASI (PASI) dan kombinasi ASI +

PASI kepada pada anak mengenai bagaimana lamanya, frekuensi, dan posisi anak

ketika meminum susu. Selain itu, untuk mengetahui ada tidaknya pembersihan gigi

yang dilakukan pada anaknya setelah minum susu.

3.6 Pengolahan Data dan Analisa Data

Pengolahan data dilakukan secara manual dan tabulasi dengan menggunakan

kartu koding dan disajikan dalam bentuk tabel.

Universitas Sumatera Utara


BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Responden

4.1.1 Karakteristik Anak 2-5 Tahun

Berdasarkan kelompok umur pada anak umur 2-5 tahun di BKIA Kecamatan

Medan Denai yang diteliti, 32,14% anak berumur 5 tahun. Berdasarkan urutan anak

dalam keluarga kebanyakan adalah anak pertama yaitu 35% (Tabel 1).

Tabel 1. Persentase Distribusi Anak 2-5 Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai
Berdasarkan Karakteristik Anak (n=140)

Karakteristik Anak Jumlah Persentase


Umur (Tahun) :
2 27 19,29
3 29 20,71
4 39 27,86
5 45 32,14
Urutan anak dalam keluarga :
Pertama 49 35,00
Kedua 36 25,71
Ketiga 27 19,29
Diatas Ketiga 28 20,00

4.1.2 Karakteristik Ibu

Berdasarkan kelompok umur pada ibu-ibu yang memiliki anak umur 2-5

tahun, dapat dilihat 42,14% ibu berumur >35 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan

terakhir ibu adalah 40,71% tingkat SLTA/Sederajat (Tabel 2).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2. Persentase Distribusi Ibu Yang Memiliki Anak 2-5 Tahun di BKIA
Kecamatan Medan Denai Berdasarkan Umur dan Pendidikan (n=140)

Karakteristik Ibu Jumlah Persentase


Umur (tahun) :
20-24 7 5,00
25-29 25 17,86
30-34 49 35,00
> 35 59 42,14
Pendidikan :
Tidak Tamat SD/Tidak sekolah 3 2,14
SD 11 7,86
SMP 41 29,29
SMU-D1 57 40,71
D3-S2 28 20,00

4.2 Prevalensi/Tingkat Perluasan Nursing Caries dan Kebiasaan

Pemberian Susu

Dari 140 anak 2-5 tahun, ditemukan prevalensi nursing caries mencapai 75%

(Tabel 3).

Tabel 3. Persentase Distribusi Nursing Caries Pada Anak 2-5 Tahun di BKIA
Kecamatan Medan Denai (n=140)

Nursing caries Jumlah Persentase


Ada 105 75,00
Tidak 35 25,00

Secara keseluruhan nursing caries yang terjadi yaitu tipe I 37,14% dan tipe

IV 35,24%. Bila telah ditemukan nursing caries pada anak 2 tahun, prevalensi

tingkat perluasan yang terjadi yang tertinggi masih pada tipe I (70%), begitu juga

pada anak 3 tahun (36%) dan bila ditemukan nursing caries pada anak 4 tahun,

prevalensi tingkat perluasan yang terjadi tertinggi pada tipe IV (45,83%) begitu juga

pada anak 5 tahun (41,67%) (Tabel 4).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4. Persentase Distribusi Tingkat Perluasan Nursing Caries Berdasarkan Umur
Pada Anak 2-5 Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai.

Umur Nursing Caries Jumlah


(tahun)
Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV
Jlh % Jlh % Jlh 35 Jlh %
2 14 70 3 15 - - 3 15 20
3 9 36 5 20 3 12 8 32 25
4 7 29,17 6 25 - - 11 45,83 24
5 9 25 4 11,11 8 22,22 15 41,67 36
39 37,14 18 17,14 11 10,48 37 35,24 105

Jika dilihat kebiasaan pemberian susu, dijumpai 67,15% anak minum ASI

maupun susu botol hingga berumur lebih dari 2 tahun dan 70% anak memiliki

kebiasaan minum susu sambil tidur (Tabel 5).

Tabel 5. Persentase Distribusi Kebiasaan Pemberian Susu Pada Anak 2-5 Tahun di
BKIA Kecamatan Medan Denai (n=140)

Kebiasaan Pemberian Susu Jumlah %


Jenis Susu :
ASI 65 46,43
Susu Botol 20 14,29
ASI + Susu Botol 55 39,28
Lamanya pemberian air susu :
1-2 tahun 46 32,85
Lebih dari 2 tahun 94 67,15
Frekuensi pemberian dalam satu hari
(kali) :
4-6 56 40
7-9 46 32,86
>9 38 27,14
Posisi anak :
Tidur 98 70
Duduk 16 11,43
Tidur + Duduk 26 18,57

Universitas Sumatera Utara


Pada anak 2 tahun, dijumpai anak yang yang minum susu botol 100% telah

menderita nursing caries, yang minum susu lebih dari 2 tahun 100% menderita

nursing caries, yang minum susu di atas 7 kali sehari 100% menderita nursing caries,

dan yang minum susu kombinasi duduk + tidur juga menderita nursing caries 100%

(Tabel 6).

Tabel 6. Persentase Distribusi Nursing Caries Berdasarkan Kebiasaan Pemberian


Susu Pada Anak 2 Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai (n=27)

Kebiasaan Pemberian Nursing Caries


Susu Ada Tidak Ada Jumlah
Jlh % Jlh %
Jenis Susu :
ASI 12 66,67 8 33,33 18
Susu Botol 6 100 - - 6
ASI + Susu Botol 2 66,67 1 33,33 3
Lamanya pemberian air
susu :
1-2 tahun 6 46,15 7 53,85 13
Lebih dari 2 tahun 14 100 - - 14
Frekuensi pemberian
dalam satu hari (kali) :
4-6 7 50 7 50 14
7-9 3 100 - - 3
>9 10 100 - - 10
Posisi anak :
Tidur 10 58,82 7 41,18 17
Duduk 3 100 - - 3
Tidur + Duduk 7 100 - - 7

Pada anak 3-5 tahun, dijumpai anak yang hanya minum ASI 89,36%

menderita nursing caries, yang minum susu 1- 2 tahun 84,85% menderita nursing

caries, yang minum susu di atas 9 kali sehari 82,14% menderita nursing caries, dan

yang minum susu kombinasi duduk + tidur menderita nursing caries 89,47% (Tabel

7).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 7. Persentase Distribusi Nursing Caries Berdasarkan Kebiasaan Pemberian
Susu Pada Anak 3-5 Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai (n=113)

Kebiasaan Pemberian Nursing Caries


Susu Ada Tidak Ada Jumlah
Jlh % Jlh %
Jenis Susu :
ASI 42 89,36 5 10,64 47
Susu Botol 8 57,14 6 42,86 14
ASI + Susu Botol 35 67,31 17 32,69 52
Lamanya pemberian air
susu :
1-2 tahun 28 84,85 5 15,15 33
Lebih dari 2 tahun 57 71,25 23 28,75 80
Frekuensi pemberian
dalam satu hari (kali) :
4-6 33 78,57 9 21,43 42
7-9 29 67,44 14 32,56 43
>9 23 82,14 5 17,86 28
Posisi anak :
Tidur 68 83,95 13 16,05 81
Duduk - - 13 100 13
Tidur + Duduk 17 89,47 2 10,53 19

Persentase nursing caries berdasarkan jenis susu yang dikaitkan dengan

kebiasaan pemberian susu, ternyata pada anak yang mengkonsumsi ASI yang

menderita nursing caries, 53,70% nursing caries yang terjadi ditemukan pada

pemberian ASI hingga anak berumur lebih dari 2 tahun, 44,44% nursing caries yang

terjadi ditemukan pada frekuensi pemberian lebih dari 9 kali dalam 1 hari, dan

72,22% nursing caries yang terjadi ditemukan pada posisi anak tidur. Pada anak yang

mengkonsumsi susu botol yang menderita nursing caries, 92,86% nursing caries

yang terjadi ditemukan pada pemberian hingga anak berumur lebih dari 2 tahun, 50%

nursing caries yang terjadi ditemukan pada frekuensi 7-9 kali, dan 64,29% nursing

caries yang terjadi dijumpai pada posisi anak tidur. Pada anak yang mengkonsumsi

Universitas Sumatera Utara


ASI + susu botol yang menderita nursing caries, 78.38% nursing caries yang terjadi

pada pemberian hingga anak berumur lebih dari 2 tahun, 56,76% nursing caries yang

terjadi pada frekuensi 4-6 kali, dan 81,08% nursing caries yang terjadi pada posisi

anak tidur (Tabel 8).

Tabel 8. Persentase Distribusi Nursing Caries Berdasarkan Jenis Susu Yang


Dikaitkan Dengan Kebiasaan Pemberian Susu Pada Anak 2-5 Tahun di
BKIA Kecamatan Medan Denai

Kebiasaan Nursing Caries


Pemberian ASI Susu Botol Kombinasi
Susu Jlh % Jlh % Jlh %
Lamanya
pemberian:
6-11 bulan - - - - - -
1-2 tahun 25 46,30 1 7,14 8 21,62
> 2 tahun 29 53,70 13 92,86 29 78,38
Jumlah 54 100 14 100 37 100
Frekuensi
pemberian dalam
satu hari (kali) :
≤3 - - - - - -
4-6 13 24,08 6 42,86 21 56,76
7-9 17 31,48 7 50,00 8 21,62
>9 24 44,44 1 7,14 8 21,62
Jumlah 54 100 14 100 37 100
Posisi anak:
Tidur 39 72,22 9 64,29 30 81,08
Duduk - - 2 14,29 1 2,7
Tidur+ 15 27,78 3 21,42 6 16,22
Duduk
Jumlah 54 100 14 100 37 100

4.3 Prevalensi Nursing Caries Menurut Permukaan Gigi

Dijumpai nursing caries di rahang atas pada permukaan mesial lebih dari

75% menyerang gigi insisivus sentralis, pada permukaan labial lebih dari 50%

menyerang gigi insisivus sentalis, pada seluruh permukaan gigi insisivus lateralis

Universitas Sumatera Utara


umumnya terkena nursing caries sekitar 26-50%, kecuali permukaan labial insisivus

lateralis kanan menderita karies lebih dari 50%, pada gigi kaninus, molar satu dan

molar dua pada umumnya dijumpai nursing caries pada seluruh permukaannya

kurang dari 25%, di rahang bawah pada seluruh permukaan gigi terserang karies

kurang dari 25% kecuali permukan palatal gigi kaninus, dimana permukaan tersebut

bebas dari karies (Tabel 9-10 dan gambar 7)

Keterangan gambar:

= karies 76% - 100%

= karies 51% - 75%

= karies 26% - 50%

= karies <25%

= bebas karies

Gambar 7. Gambaran nursing caries menurut permukaan gigi.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 9. Prevalensi Nursing Caries Menurut Permukaan Gigi Rahang Atas
Pada Anak 2-5 Tahun Yang Mempunyai Nursing Caries di BKIA
Kecamatan Medan Denai (n=105)

Elemen Nursing Caries


gigi Oklusal Mesial Distal Labial/Bukal Palatal
Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada
Ada Ada Ada
Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh %

V 17 16 88 84 4 4 101 96 4 4 101 96 4 4 101 96 4 4 101 96

IV 20 19 85 81 5 5 100 95 5 5 100 95 4 4 101 96 4 4 101 96

III 16 15 89 85 8 8 97 92 20 19 85 81 4 4 101 96

II 50 48 55 52 43 41 62 59 54 51 51 49 33 31 72 69

I 83 79 22 21 48 45 57 55 75 71 30 29 33 31 72 69

I 83 79 22 21 49 47 56 53 70 67 35 33 27 29 78 71

II 51 49 54 51 37 35 68 65 45 43 60 57 27 29 78 71

III 13 12 92 88 5 5 100 95 20 19 85 81 13 12 92 88

IV 17 16 88 84 5 5 100 95 3 3 102 97 5 5 100 95 15 5 100 95

V 17 16 88 84 5 5 100 95 4 4 101 96 5 5 100 95 5 5 100 95

Universitas Sumatera Utara


Tabel 10. Prevalensi Nursing Caries Menurut Permukaan Gigi Rahang Bawah
Pada Anak 2-5 Tahun Yang Mempunyai Nursing Caries di BKIA
Kecamatan Medan Denai (n=105)

Elemen Nursing Caries


gigi Oklusal Mesial Distal Labial/Bukal Palatal
Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada
Ada Ada Ada
Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % Jlh %

V 17 16 88 84 9 9 96 91 8 8 97 92 4 4 101 96 4 4 101 96

IV 29 28 76 72 7 7 98 93 8 8 97 92 4 4 101 96 4 4 101 96

III 8 8 97 92 3 3 102 97 5 5 100 95 0 0 105 100

II 8 8 97 92 5 5 100 95 13 12 92 88 3 3 102 97

I 13 12 92 88 8 8 97 92 13 12 92 88 3 3 102 97

I 13 12 92 88 8 8 97 92 8 8 97 92 3 3 102 97

II 12 11 93 89 5 5 100 95 9 8 96 91 3 3 102 97

III 5 5 100 95 3 3 102 97 4 4 101 96 0 0 105 100

IV 33 31 72 69 8 8 97 94 4 4 101 96 5 5 100 95 4 4 101 96

V 24 23 81 77 5 5 100 95 9 9 96 91 5 5 100 95 5 5 100 95

Universitas Sumatera Utara


4.4 Kebiasaan Pemberian Makanan/Minuman Melalui Botol

Berdasarkan pemberian makanan dan minuman tambahan melalui botol

27,85% anak-anak 2-5 tahun diberikan makanan dan minuman tambahan melalui

botol (Tabel 11).

Tabel 11. Persentase Distribusi Makanan/Minuman Tambahan Yang Diberikan


Melalui Botol Pada Anak 2-5 Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai
(n=140)

Memberikan makanan dan Jumlah Persentase


minuman melalui botol
Ya 39 27,85
Tidak 101 72,15

76,93% anak yang diberikan makanan dan minuman tambahan melalui botol

mengkonsumsi air teh manis dan 79,49% sama sekali tidak menambahkan gula pada

minuman atau makanan yang diberikan melalui botol, jika dilihat dari frekuensi

pemberian minuman atau makanan tambahan yang diberikan melalui botol dalam

satu hari 71,79% diberikan kurang dari atau sama dengan 3 kali (Tabel 12).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 12. Persentase Distribusi Kebiasaan Memberikan Makanan/Minuman
Tambahan Yang Diberikan Melalui Botol Pada Anak 2-5 Tahun di
BKIA Kecamatan Medan Denai (n=39)

Kebiasaan memberikan Jumlah Persentase


makanan/minuman melalui botol
Jenisnya :
Sari buah 7 17,95
Air teh manis 30 76,93
Sirup manis 1 2,56
Bubur 1 2,56
Kebiasaan penambahan gula :
Selalu 1 2,56
Kadang-kadang 7 17,95
Tidak 31 79,49
Frekuensi pemberian dalam satu
hari (kali) :
≤3 28 71,79
4-6 8 20,51
7-9 3 7,7
>9 0 0

4.5 Kebiasaan Pembersihan Gigi

Diketahui 65% ibu tidak memiliki kebiasaan membersihkan permukaan gigi

anak setelah anak meninum susu, sebagian besar ibu telah mulai membersihkan gigi

anak setelah anak lebih dari 2 tahun 58,57, 52,14% ibu biasa membantu

membersihkan gigi pada anaknya (Tabel 13).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 13. Persentase Distribusi Kebiasaan Pembersihan Gigi Pada Anak 2-5
Tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai (n=140)

Kebiasaan pembersihkan gigi anak Jumlah Persentase

Setelah anak meminum susu :


Selalu 15 10,71
Kadang-kadang 34 24,29
Tidak 91 65,00
Umur anak ketika gigi mulai dibersihkan :
6-11 bulan 20 14,29
1-2 tahun 38 27,14
>2 tahun 82 58,57
Ibu membantu membersihkan gigi anak :
Selalu 73 52,14
Kadang-kadang 40 28,57
Tidak 27 19,29

Universitas Sumatera Utara


BAB 5

PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan nursing caries yang dilakukan pada anak-anak 2-5 tahun di

BKIA Kecamatan Medan Denai, diperoleh prevalensi nursing caries yang tinggi

yaitu 75%. Tingginya prevalensi nursing caries yang terjadi ini mungkin karena

dalam hal ini white spot telah digolongkan sebagai karies.

Tingginya prevalensi nursing caries yang terjadi ini mungkin juga karena

ditemukannya prevalensi cara pemberian susu yang salah juga cukup tinggi, 67%

anak minum ASI maupun susu botol hingga berumur lebih dari 2 tahun, seharusnya

dilakukan penghentian susu begitu anak mampu minum dari cangkir, dan 70% anak

memiliki kebiasaan minum susu sambil tidur, sehingga kemungkinan anak untuk

tertidur juga besar, yang nantinya akan menyebabkan cairan susu stagnasi cukup lama

didalam rongga mulut dan terjadi penurunan saliva sehingga kesempatan bakteri

untuk memfermentasikan karbohidrat dalam cairan tersebut lebih besar, hal ini

pemicu untuk terjadinya karies.8,13

Tingginya prevalensi nursing caries, mungkin juga dapat didukung oleh

faktor seperti sangat sedikitnya ibu yang mempunyai kebiasaan selalu membersihkan

gigi anaknya setelah anak meminum susu hanya 10% dan bahkan 65% ibu sama

sekali tidak pernah membersihkan gigi anaknya setelah anak meminum susu, padahal

pembersihan rongga mulut sesudah pemberian susu pada anak sangat perlu dilakukan

untuk membantu menyingkirkan subsrat bagi bakteri yang berasal dari susu.

pembersihan dapat dilakukan dengan menggunakan kain kasa, kapas, dan kain

Universitas Sumatera Utara


lembab, serta pemberian air putih setelah meminum susu juga dapat membantu

menyingkirkan sisa-sisa subsrat yang berasal dari susu.30

Hanya sedikit ibu yang sudah mulai membersihkan gigi anaknya begitu gigi

pertama anaknya sudah erupsi (14,29%), hal ini terjadi mungkin karena ibu merasa

anak yang masih terlalu kecil dan giginya belum tumbuh seluruhnya tidak terlalu

penting untuk dilakukan pembersihan gigi. Ini juga mungkin termasuk faktor penting

yang berperan terhadap tingginya prevalensi nursing caries yang terjadi.

Telah ditemukan nursing caries pada anak umur 2 dan 3 tahun, tetapi

prevalensi tingkat perluasaan nursing caries yang tertinggi masih berada pada tipe I

(minimal) yaitu hanya mengenai dua permukaan gigi insisivus atas saja, tetapi pada

anak 4 dan 5 tahun prevalensi tingkat perluasaan nursing caries yang tertinggi telah

berada pada tipe IV (severe), hal ini mungkin terjadi karena semakin lama kebiasaan

pemberian susu yang salah tetap dibiarkan, maka semakin meningkat pula perluasan

karies yang terjadi, yang tadinya nursing caries masih mengenai dua permukaan

tetapi karena tidak ada dilakukan perawatan dan tidak ada perubahan kebiasaan

pemberian susu yang salah maka karies yang terjadi terus meluas.

Prevalensi nursing caries berdasarkan jenis susu, bila dikaitkan dengan

lamanya pemberian air susu, prevalensi nursing caries pada anak yang meminum ASI

dijumpai pada anak yang minum ASI hingga berusia lebih dari dua tahun 53,70% dan

hingga berusia lebih 1-2 tahun 46,30%, terlihat ada kecenderungan meningkatnya

prevalensi nursing caries seiring dengan semakin lamanya anak meminum ASI,

begitu juga pada anak yang minum susu botol dan kombinasi antara keduanya,

terlihat semakin lama anak meminum susu semakin meningkat prevalensi nursing

Universitas Sumatera Utara


caries. Hal ini didukung oleh teori Lawrence A. Kotlow yang menyatakan pada

umumnya sebagian besar penderita nursing caries dijumpai pada anak yang

meminum ASI sampai berusia lebih dari dua atau tiga tahun dan meminum susu

melalui dot hingga waktu yang cukup lama.12,13 Bila dikaitkan dengan frekuensi

pemberian air susu dalam satu hari, prevalensi nursing caries pada anak yang

meminum ASI lebih dari 9 kali sehari sebesar 44,44%, 7-9 kali 31,48% dan 4-6 kali

sehari sebesar 24,08%, terlihat kecenderungan meningkatnya prevalensi nursing

caries seiring dengan seringnya meminum ASI. Hal ini didukung teori yang

menyatakan karies yang dipengaruhi oleh pemberian air susu berhubungan dengan

frekuensi meminum setiap harinya, lama menyusui dan terutama seberapa sering bayi

menyusui pada malam hari.2 Tetapi hasil yang ditemukan pada anak yang minum susu

botol dan kombinasinya tidak sesuai dengan teori diatas, pada susu botol prevalensi

nursing caries lebih banyak ditemukan pada anak yang meminum susu botol dibawah

sembilan kali sehari (92,86%) dari pada yang lebih dari sembilan kali sehari (1,42%),

begitu juga pada kombinasinya, ini terjadi mungkin seberapa seringpun anak minum

susu pada satu hari tetapi jika dia tidak tertidur ketika meminum susu tidak terlalu

berpengaruh terhadap terjadinya nursing caries. Bila dikaitkan dengan posisi anak

ketika meminum susu, prevalensi nursing caries pada anak yang meminum ASI,

paling tinggi dijumpai pada anak yang minum sambil tidur sebesar 72,22% dan tidak

ditemukan pada anak yang duduk ketika meminum susu, prevalensi nursing caries

pada anak yang minum susu botol sambil tidur sebesar 64,29% dan yang minum susu

botol sambil duduk sebesar 14,29%, serta pada anak yang minum susu kombinasi

sambil tidur sebesar 81,08% dan yang minum sambil duduk sebesar 2,7%, hal ini

Universitas Sumatera Utara


menggambarkan bahwa anak yang cara minum susu dengan posisi tidur, prevalensi

nursing caries yang terjadi cendurung lebih tinggi, karena jika anak minum susu

sambil tidur kemungkinan anak untuk tertidur lebih besar, bila anak tertidur terjadi

penurunan aktivitas penelanan dan aliran saliva, cairan yang mengandung karbohidrat

akan mengalami stagnasi cukup lama pada permukaan gigi hal ini merupakan pemicu

terhadap terjadinya proses karies.8,13

Pola karies menurut elemen dan permukaan gigi yang terkena nursing caries,

yang paling banyak terserang adalah gigi insisivus sentralis rahang atas pada

permukaan proksimalnya yaitu lebih dari 75%, semakin ke lateral jumlahnya semakin

berkurang sekitar 51%-74%, pada gigi molar satu rahang bawah sekitar 26%-50%,

kemudian diikut i oleh gigi-gigi molar lainnya dan insisivus anterior rahang bawah

yaitu kurang dari 25%. Nursing caries di insisivus sentalis paling banyak terjadi pada

permukaan proksimal bukan pada palatalnya, padahal menurut terjadinya, air susu

tergenang pada palatal gigi. Hal ini terjadi, mungkin karena pada gigi susu permukaan

proksimalnya memiliki kontak bidang berbeda dengan gigi tetap yaitu kontak titik,

sehingga subsrat lebih besar kemungkinannya untuk menumpuk di permukaan

proksimal gigi susu dari pada palatalnya sehingga kesempatan untuk terjadinya karies

lebih dahulu pada bagian proksimal bukan pada bagian palatalnya.

Universitas Sumatera Utara


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Hasil pemeriksaan nursing caries pada anak-anak 2-5 tahun di BKIA

Kecamatan Medan Denai menunjukkan bahwa prevalensi nursing caries sebesar

75%, dengan tingkat perluasan yang terjadi yaitu tipe minimal 37,14%, severe

35,24%, mild 17,14%, dan moderat 10,48%. Prevalensi nursing caries paling tinggi

ditemukan pada anak yang diberikan ASI/susu botol hingga anak berusia lebih dari 2

tahun dan posisi anak meminum susu sambil tidur.

Ibu yang memberikan ASI/susu botol hingga anak berusia lebih dari 2 tahun

adalah 67,15%, 70% anak minum susu sambil tidur, dan 27,14% anak minum susu

lebih dari 9 kali dalam satu hari.

Elemen gigi yang banyak terserang adalah gigi insisivus sentralis rahang atas

dimulai dari permukaan proksimal, bukal, kemudian palatal, dan semakin ke lateral

semakin berkurang.

Sangat sedikit ibu yang memiliki kebiasaan membersihkan gigi anaknya

setelah anak meminum susu dan mulai membersihkan gigi anak begitu gigi pertama

telah erupsi yaitu 10,71%.

6.2 Saran

Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi nursing caries pada anak 2-5

tahun di BKIA Kecamatan Medan Denai cukup tinggi. Oleh karena itu, diharapkan

Universitas Sumatera Utara


tenaga kesehatan di puskesmas melalui BKIA maupun Posyandu, perlu melakukan

penyuluhan tentang cara pemberian susu yang benar serta pembersihan gigi setelah

anak minum susu untuk mencegah terjadinya nursing caries, dan bila sudah dijumpai

nursing caries dianjurkan untuk segera pergi ke dokter gigi.

Universitas Sumatera Utara