Anda di halaman 1dari 34

ASKEP APENDISITIS ( USUS BUNTU )

Filed Under: Pencernaan — putri_rahza — 5 Comments


February 10, 2010

A. Definisi.a. Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada
sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ).
b. Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ).
c. Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat
sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran
umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh
peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)
B. Etiologi.
Appendicitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor-faktor prediposisi
yang menyertai. Factor tersering yang muncul adalah obtruksi lumen.
1. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena :
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c. Adanya benda asing seperti biji – bijian. Seperti biji Lombok, biji jeruk dll.
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus
3. Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk appendiks
5. Appendik yang terlalu panjang.
6. Messo appendiks yang pendek.
7. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks.
8. Kelainan katup di pangkal appendiks.
C. Klasifikasi
Klasifikasi Apendisitis ada 2 :
a. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh
akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.
b. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan
timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan
pada usia tua.
D. Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan
oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan
intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam
beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang
terinflamasi berisi pus.
E. Manifestasi Klinis
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula
di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah.
Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Gejala
lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan
pergerakan, di perut terasa nyeri.
Tanda dan gejala :
1. Anoreksia biasanya tanda pertama.
2. Nyeri, permulaan nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian menjalar ketempat
appendics yang meradang (parietal). Retrosekal/nyeri punggung/pinggang. Postekal/nyeri
terbuka.
3. Diare, Muntah, demam derajat rendah, kecuali ada perforasi.
F. Penatalaksanaan
Tidak ada penatalaksanaan appendicsitis, sampai pembedahan dapat di lakukan. Cairan intra
vena dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam
sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop.
Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu
menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Pembedahan sering ditunda namun karena
dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. Bila terjadi perforasi
klien memerlukan antibiotik dan drainase.

G. Komplikasi
1. Perforasi dengan pembentukan abses.
2. Peritonitis generalisata
3. Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.
H. Prognosis.

I. Web Of Caution (WOC


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
A. Anamnesa
1. Data demografi.
Nama, Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun, Jenis kelamin, Status
perkawinan, Agama, Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat, Nomor register.
2. Keluhan utama.
Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul
keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di
epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang
menyertai antara lain rasa mual dan muntah, panas.
3. Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang.
4. Riwayat penyakit sekarang

B. Pemeriksaan Fisik.

B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan
dangkal.
B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia.
B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Data psikologis Klien nampak
gelisah.
B4 (Bladder) : -
B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada
bising usus. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator untuk
menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal
dan kadang-kadang terjadi diare
B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk
tegak.
B. Analisis Data
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS : Mual, Muntah
DO : BB ↓, anorexia Infeksi epigastrium

Inflamasi dinding usus

Mual dan muntah Nutrisi kurang dari kebutuhan


2 DS : Pasien mengeluh nyeri, rasa sakit di bag. Perut sebelah kanan bawah.
DO : nyeri tekan titik MC Burney Nyeri
3 DS : Mual, muntah
DO : BB menurun, intake cairan menurun, Volume cairan kurang dari kebutuhan
Hipertermi
Intoleran Aktifitas
Kurang pengetahuan

Data Subyektif
a. Rasa sakit di epigastrium atau daerah periumbilikus kemudian menjalar ke bagian perut bawa
b. Rasa sakit hilang timbul
c. Mual, muntah
d. Diare atau konstipasi
e. Tungkai kanan tidak dapat diluruskan
f. Rewel dan menangis
g. Lemah dan lesu
h. Suhu tubuh meningkat
5. Data Obyektif
a. Nyeri tekan titik MC.Burney
b. Bising usus meningkat, perut kembung
c. Suhu meningkat, nadi cepat
d. Hasil leukosit meningkat 10.000 – 12.000 /ui dan 13.000/ui bila sudah terjadi perforasi

Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap infeksi behubungan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak
adekuatnya pertahanan utama.
2. Volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah.
4. Nyeri berhubungan dengan anatomi ureter yang berdekatan dengan apendiks oleh inflamasi.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi yang ditandai
dengan anxietas.
6. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya
penurunan pergerakan akibat nyeri akut.
Intervensi dan Rasional
1. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak
adekuatnya pertahanan utama.
Tujuan :
Kriteria Hasil : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi atau
inflamasi
No. Intervensi Rasional
1. a. Awasi tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental,
meningkatnya nyeri abdomen.
b. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatn luka aseptic. Berika perawatan paripurna.
c. Lihan insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka, adanya eritema.
d. Beriakn informasi yang tepat dan jujur pada pasien
e. Ambil contoh drainage bila diindikasikan.
f. Berikan antibiotic sesuai indikasi/ a. Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses,
peritonitis.
b. Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
c. Memberikan deteksi dini terjainya proses infeksi, dan atau pengawasan penyembuhan
peritonitis yang telah ada sebelumnya.
d. Penetahuan tenteng kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan
anxietas.
e. Kultur pewarnaan gram dan sensitifias berguna untuk mengidentifikasi organism penyebab
dan pilihan terapi.
f. Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organism (pada innfeksi yang
telah ada sebelumnya) utuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen
2. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual muntah.
Tujuan :
Kriteria Hasil : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membrane
mukosa, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, dan secara individual haluaran urine adekuat.
No. Intervensi Rasional
1. a. Awasi TD dan nadi
b. Lihat membrane mukosa, kaji turgor ulit dan pengisian kapiler
c. Awasi masuk dan haluaran, catat warna urine, konsentrasi, berat jenis.
d. Auskultasi bising usus. Cata kelancaran flatus, gerakan usus.
e. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan oral dimulai dan lanjutkan dengan diet
sesuai toleransi.
f. Pertahankan penghisapan gaster/usus
g. Beriakn cairan IV dan elektrolit a. Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume
intravaskuler.
b. Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
c. Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi cairan.
d. Indikator kembalinya peristaltic, kesiapan untuk pemasukan per oral.
e. Menurunkan muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.
f. Dekompresi usus, meningkatnya istirahat usus, mencegah muntah
g. Peritonium bereaksiterhadap infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat
menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia. Dehidrasi dan dapat terjadi
ketidakseimbangan elektrolit.

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah.
Kriteria Hasil : BB normal,

No. Intervensi Rasional


1. Berikan nutrisi IV Memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
2.

4. Nyeri berhubungan dengan anatomi ureter yang berdekatan dengan apendiks oleh inflamasi.
Tujuan :
Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu tidur/ istirahat dengan tepat.
No. Intervensi Rasional
1. Pertahankan istirahat dengan posisi semi-fowler Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi
dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan
posisi terlentang (supine)
2. Berikan aktivitas hiburan Focus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.
3. Berikan anlgesik sesuai indikasi. Analgesic dapat menghilangkan nyeri yang diderita pasien.
4. Berikan kantong es pada abdomen Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui
penghilangan rasa ujung saraf.

Home » kmb » asuhan keperawatan Appendiksitis

asuhan keperawatan Appendiksitis

Sabtu, 24 Maret 2012 19:01


0digg
A. Pengertian

Appendiksitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab

abdomen akut yang paling sering (Mansjoer, 1999).

Appendiksitis adalah peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing yang berlokasi dekat katub

ileocekal. (Long, 1996 ).

Appendiktomi adalah pemotongan lumen appendiks yang tersumbat oleh fekalit atau yang

lain.( Long, 1996).

Appendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat appendiks yang meradang.(

Adityarini, 1996 ).

Post operasi appendiktomi adalah masa dimana klien telah mengalami operasi pengangkatan

appendik.( Long, 1996 ).

Jadi post op appendiktomi adalah peradangan appendiks yang sudah

membengkak, mengakibatkan nyeri, dan terjadi infeksi dan dilakukan operasi pengangkatan

appendiks.

Post op laparatomi appendiktomi adalah pembedahan perut untuk pemotongan lumen appndiks

yang tersumbat.

B. Etiologi

Appendiksitis disebabkan infeksi pada dinding appendiks oleh mikroorganisme

yang berasal dari :


1. Dalam lumen appendiksitis disebabkan adanya obstruksi oleh : fekalit, benda asing, cacing, tumor,

stenosis, perlengketan, spasme otot sphincter, perbatasan appendiks dan secum, hiperplasi folikel

limfoid.

2. Perluasan peradangan organ-organ sekitarnya, misal: adnexitis, limfaditis

(E.Colli, Stapilococcus, kuman-kuman yang sering ditemukan).

C. Gambaran Klinik

Pada appendiksitis tanda dan gejala yang muncul adalah nyeri atau perasaan tidak enak pada

epigastrium, umbilikus kemudian di regio iliaka kanan diikuti oleh anoreksia, nausea, dan muntah.

Gejala-gejala ini umumnya berlangsung lebih dari 1

atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kuadran kanan bawah dan mungkin terdapat

nyeri tekan disekitar titik Mc Burney, kemudian diikuti dengan timbulnya spasme otot, nyeri lepas,

rigiditas dan distensi lokal.

Pada appendiksitis biasanya ditemukan tanda Rovsing, psoas, dan obsturator positif. Selain itu

juga terdapat demam ringan, leukositosis moderat dan konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare,

mual dan muntah (Sylvia A, 1995)

Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun

dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan dengan pemeriksaan

seksama akan ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah

dapat membantu menentukan lokasi nyeri (Mansjoer, 2000).


D. Patofisiologi

Appendiksitis merupakan suatu peradangan appendiks yang mengenai semua lapisan dinding

organ tersebut. Appendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan


lumen appendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, cacing, tumor,

striktur karena fibrosis akibat peradangan dari neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan

mukus yang diproduksi mukosa appendiks menjadi terbendung. Makin lama mukus tersebut makin

banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai

keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intraluminal. Tekanan yang

meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis

bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi appendiksitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri

epigastrium.

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat sehingga menyebabkan

obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding

appendiks. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritonium setempat sehingga

menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah .

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti

dengan gangren. Stadium ini disebut stadium gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah,

akan terjadi appendiksitis perforasi.

Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan

akan bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat

appendikularis. Peradangan appendiks tersebut

dapat menjadi abses atau

menghilang (Mansjoer, 2000).

E. Pathway
F. Pemeriksaan Penunjang

Akan terjadi leukositosis ringan (10.000-20.000/ml ) dengan peningkatan jumlah neutrofil.


Pemeriksaan urine juga perlu dilakukan untuk membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan
saluran kemih.

Pada kasus akut tidak diperbolehkan melakukan barium enema, sedangkan pada

appendiksitis kronis tindakan ini dibenarkan. Pemeriksaan USG dilakukan bila terjadi infiltrat

appendikularis (Mansjoer, 2000).


G. Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah :

1. Perforasi

Rasa sakit yang bertambah, demam tinggi, rasa yang menyebar dan jumlah leukosit yang tinggi

merupakan tanda kemungkinan terjadinya perforasi.

2. Peritonitis

Peritonitis merupakan salah satu akibat perforasi.

3. Abses appendiks

Teraba suatu massa lunak di kuadran kanan bawah atau nanah di daerah pelvis dan berkembang

menjadi rongga yang berisi nanah.

4. Pileflebitis ( tromboflebitis septik vena portal)

Mengakibatkan demam tinggi, panas dingin, menggigil dan ikterus.

H. Penatalaksanaan Medis

1. Sebelum operasi a. observasi

Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendiksitis seringkali masih belum
jelas. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan

dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

b. Intubasi bila perlu


c. Antibiotik

2. Operasi appendiktomi

3. Pasca operasi

Dilakukan observasi TTV untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia,

atau gangguan pernapasan. Baringkan pasien dalam posisi fowler.

I. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan

a. Pre Operasi

1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan efek sekunder terhadap peradangan appendiks

(Carpenito, 1998).

Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan a. Kriteria hasil:

1) Pasien mengungkapkan hilangnya nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan

2) Pasien menyampaikan bahwa orang lain memvalidasi adanya nyeri b. Intervensi :

1) Kaji terhadap faktor yang menurunkan toleransi nyeri

2) Kurangi atau hilangkan faktor yang meningkatkan pengalaman nyeri

3) Kolaborasi dengan individu untuk menjelaskan metode apa yang dapat digunakan untuk menurunkan
intensitas nyeri

4) Kolaborasi dengan individu untuk memulai tindakan mengurangi nyeri secara non-invasif yang cocok

5) Berikan analgesik untuk menurunkan rasa nyeri yang optimal


6) Kaji respon terhadap tindakan penurunan rasa sakit

7) Ajarkan kepada individu dan keluarga tentang tindakan untuk

mengurangi rasa nyeri secara non-invasif (relaksasi, distraksi dan masase)

2. Ansietas atau kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian pre dan post

operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan (Barbara Engram, 1999)

a. Tujuan : Mendemonstrasikan hilang dari ansietas. b. Kriteria hasil:

1) Pasien mengungkapkan pemahaman tentang kejadian pre dan post operasi.

2) Pasien melaporkan berkurangnya perasaan cemas atau gugup.

3) Ekspresi wajah rileks, kurang bicara. c. Intervensi:

1) Jelaskan apa yang terjadi selama periode pre dan post operasi, termasuk test laboratorium pre

operasi, persiapan kulit, alasan status puasa, obat-

obatan pre operasi, tinggal di ruang pemulihan dan program post operasi.

2) Informasikan pada pasien bahwa obat nyeri tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri.

3) Anjurkan pasien untuk meminta obat nyeri sebelum nyeri menjadi nyeri berat.
4) Ajarkan dan usahakan pasien untuk tarik nafas dalam, berbalik turun dari tempat tidur.

5) Biarkan pasien dan orang terdekat mengungkapkan perasaan tentang pengalaman pembedahan.

6) Tegaskan penjelasan-penjelasan dari dokter.

7) Jika pasien sedang menjalani pengobatan rutin, hubungi dokter untuk menentukan pengobatan yang

harus dihentikan.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peritonitis sekunder terhadap appendiks ruptur (Barbara

Engram, 1998).

a. Tujuan : Mendemonstrasikan tak ada manifestasi peritonitis. b. Kriteria hasil : Tak ada manifestasi

peritonitis

c. Intervensi:

1) Monitor TTV, bising usus, ukuran abdomen, kualitas nyeri.

2) Beritahu dokter dengan segera dan siapkan pembedahan sesuai program bila manifestasi

perforasi terjadi penghentian nyeri tiba- tiba, beberapa menit kemudian nyeri terjadi lagi disertai

distensi abdomen, abdomen kaku, takikardi, takipnea, muntah.

3) Pertahankan puasa, berikan terapi IV sesuai program, siapkan pasien pada pembedahan sesuai program.

4) Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler, pertahankan tempat tidur agak fleksi.

5) Jelaskan bahwa obat nyeri tidak dapat diberikan sampai penyebab nyeri telah terindentifikasi.
6) Hindari pemberian enema.

b. Post Operasi

1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernafasan sekunder terhadap efek

anesthesi (Ulrich, 1990)

a. Tujuan : Klien dapat mempertahankan pola nafas yang efektif. b. Kriteria hasil :

1) Tidak ada sesak nafas

2) Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal

3) AGD dalam batas normal c. Fokus Intervensi :

1) Kaji tanda dan gejala ketidakefektifan pola nafas

2) Monitor AGD abnormal

3) Lakukan tindakan untuk memperbaiki pola nafas

4) Atur posisi semi fowler

5) Lakukan penghisapan lendir jika diperlukan

6) Kolaborasi untuk pemberian O2

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan (Doengoes,


1999)

a. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang b. Kriteria Hasil:

1) Klien menyatakan bahwa nyeri berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan

2) Skala nyeri 3-5


3) Ekspresi wajah tenang dan rileks

4) Klien dapat istirahat dengan tenang c. Fokus Intervensi :

1) Observasi nyeri, catat lokasi, karakteristik dan beratnya (skala 0-10), selidiki dan laporkan perubahan

nyeri dengan tepat.

2) Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler.

3) Dorong ambulasi diri.

4) Alihkan perhatian klien untuk mengurangi rasa nyeri.

5) Kolaborasi tentang : Pemberian analgesik dan pemberian kompres es pada abdomen.

3. Kurangnya kebutuhan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah sekunder terhadap efek

anesthesi (Doengoes, 1999).

a. Tujuan : kebutuhan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan dengan adekuat

b. Kriteria hasil :

1) Turgor kulit baik

2) Tanda-tanda vital stabil

3) Pengeluaran urine adekuat


4) Pengisian kapiler refill kurang dari 2 detik

5) Membran mukosa basah c. Fokus intervensi:

1) Monitor tanda-tanda vital

2) Observasi turgor kulit, membran mukosa, dan pengisian kapiler


3) Monitor input dan output, catat warna urine, konsistensi dan berat jenis

4) Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus, gerakan usus

5) Berikan minuman jernih bila pemasukan oral dimulai dan lanjutkan diet sesuai toleransi

6) Lakukan oral hygiene dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir

7) Kolaborasi tentang pemberian cairan intra vena dan elektrolit

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake per oral

(Doengoes, 1999).

a. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi b. Kriteria hasil :

1) Klien mau menghabiskan makanannya

2) Kunjungtiva tidak anemis

3) Berat badan meningkat atau dalam batas normal c. Fokus intervensi:

1) Observasi pola makan klien

2) Kaji faktor-faktor penyebab klien tidak mau makan

3) Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering

4) Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik selera makan pasien
5) Timbang berat badan pasien setiap hari

6) Kolaborasi tentang pemberian roboransia


7) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian diit yang tepat

5. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan peningkatan bakteri sekunder terhadap luka dan insisi

bedah (Doengoes, 1999).

a. Tujuan : Infeksi tidak terjadi.

b. Kriteria hasil : Tidak ditemukan tanda dan gejala infeksi. c. Fokus intervensi :

1) Monitor tanda-tanda vital, perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatnya

nyeri abdomen.

2) Observasi tanda dan gejala infeksi

3) Lihat insisi dan balutan, catat karakteristik drainase luka, dan adanya eritema

4) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka yang aseptik

5) Kolaborasi tentang pemberian antibiotik sesuai indikasi

6) Kolaborasi tentang pemberian irigasi dan drainase bila diindikasikan

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada luka operasi atau ketidaknyamanan (Ulrich,

1990).

a. Tujuan : klien dapat mencapai jumlah tidur yang optimal b. Kriteria hasil :

1) Klien dapat istirahat dengan nyaman


2) Tidak ada tanda-tanda mengantuk, menguap, lingkaran hitam di sekitar mata dan tangan tidak tremor

c. Fokus Intervensi :
1) Kaji tanda dan gejala gangguan tidur

2) Kaji pola istirahat tidur klien

3) Lakukan tindakan untuk meningkatkan tidur:

• Hindari tidur lama sepanjang hari

• Lakukan tindakan untuk mengatasi nyeri atau ketidaknyamanan

• Anjurkan klien untuk melakukan relaksasi sebelum tidur

• Hindari intake minuman tinggi cafein

• Penuhi kebutuhan kenyamanan dan kehangatan pasien

• Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum tidur

4) Pertahankan ketenangan dan kenyamanan lingkungan

7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri, mual dan muntah (Ulrich,

1990).

a. Tujuan : Klien akan mencapai aktivitas fisik maksimal dalam batas yang ditentukan

b. Kriteria hasil : Klien dapat melakukan aktivitas fisik sesuai toleransi c. Fokus intervensi:
1) Lakukan tindakan untuk meningkatkan aktivitas fisik

2) Lakukan tindakan untuk memperbaiki intoleransi aktivitas:

• Pertahankan pembatasan aktivitas sesuai order

• Bantu klien dalam melakukan aktivitas

3) Lakukan tindakan untuk mengurangi nyeri

4) Lakukan tindakan untuk mencegah mual dan muntah

Askep Apendisitis
Definisi Apendisitis

Apendisitis adalah suatu peradangan yang sering terjadi pada appendiks yang merupakan kasus
gawat bedah abdomen yang paling sering terjadi.

Etiologi Apendisitis

Apendisitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat :

1. Hiperplasia dari folikel limfoid


2. Adanya fekalit dalam lumen appendiks

3. Tumor appendiks

4. Adanya benda asing seperti cacing askariasis

5. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.

Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan
mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendisitis. Hal tersebut akan meningkatkan
tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan
pertumbuhan kuman flora pada kolon.

Patofisiologi Apendisitis
Keterangan :
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama
mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat
aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis
akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.

Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan
obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang
timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan
bawah yang disebut apendisitis supuratif akut.

Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks yang diikuti
ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan
terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi.

Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah
appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis.

Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan untuk
terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.

Tanda Dan Gejala Apendisitis

Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual,
muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila dilakukan
tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.
Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada
beratnya infeksi dan lokasi appendiks. Bila appendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan
nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal ; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya
dapat diketahui pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung
appendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekeakuan pada bagian bawah otot
rektum kanan dapat terjadi.

Tand Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara
paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila appendiks telah
ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar ; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitikdan
kondisi klien memburuk.
Komplikasi Apendisitis

Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi appendiks, yang dapat berkembang menjadi
peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah 105 sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak
kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup
demam dengan suhu 37,7o C atau lebih tinggi, nyeri tekan abdomen yang kontinue.

Penatalaksanaan Apendisitis

Pada apendisitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi appendiks. Dalam waktu 48
jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik
dan diberikan makanan yang tidak merangsang peristaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain
diperut kanan bawah.

a. Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk
menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirah baring dan dipuasakan

b. Tindakan operatif ; appendiktomi

c. Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat
tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari
ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.

Asuhan Keperawatan Apendisitis

Pengkajian

a. Identitas klien

b. Riwayat Keperawatan

1. riwayat kesehatan saat ini ; keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah,
peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.

2. Riwayat kesehatan masa lalu


3. pemeriksaan fisik

a. Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena
jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.

b. Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan
tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.

c. Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.

d. Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit
pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.

e. Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.

c. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan
tanda adanya infeksi.

2. Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.

Diagnosa Keperawatan Apendisitis

a. Pre operasi

1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan muntah pre operasi.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.

3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

b. Post operasi

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi.

2. gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berkurang berhubungan dengan anorexia, mual.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah. Kurang pengetahuan tentang
perawatan dan penyakit berhubungan dengan kurang informasi.

Perencanaan

1. Persiapan umum operasi


Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi :

a. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi
rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).

b. Mengukur tanda-tanda vital.

c. Mengukur berat badan dan tinggi badan.

d. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).

e. Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi

Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :

a. Persiapan kulit

kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak
integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.

Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur
operasi.

b. Persiapan saluran cerna

persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :

1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.

2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.

3. Mencegah infeksi faeses saat operasi.

Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :

1. Puasa dan pembatasan makan dan minum.

2. Pemberian enema jika perlu.

3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.

4. Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 – 10 jam sebelum
operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi
sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
c. Persiapan untuk anastesi

Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan
pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi
yang akan digunakan selama operasi.

d. Meningkatkan istirahat dan tidur

Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga
mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.

3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-
obatan pre operasi :

1. Mencatat tanda-tanda vital

2. Cek gelang identitas klien

3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik

4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus

5. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir

6. Anjurkan klien untuk buang air kecil

7. Perawatan mulut jika perlu

8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala

9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.

4. Interpesi pre operasi

1. Obsevasi tanda-tanda vital

2. Kaji intake dan output cairan

3. Auskultasi bising usus

4. Kaji status nyeri : skala, lokasi, karakteristik

5. Ajarkan tehnik relaksasi

6. Beri cairan intervena


7. kaji tingkat ansietas

8. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan

5. Intervensi post operasi

1. Observasi tanda-tanda vital

2. Kaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi

3. Kaji keadaan luka

4. Anjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk.

5. Kaji status nutrisi

6. Auskultasi bising usus

7. Beri informasi perawatan luka dan penyakitnya.

Evaluasi

a. Gangguan rasa nyaman teratasi

b. Tidak terjadi infeksi

c. Gangguan nutrisi teratasi

d. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya

e. Tidak terjadi penurunan berat badan

f. Tanda-tanda vital dalam batas normal


8. Defisit knowledge berhubungan dengan salah interprestasi informasi

(Doengoes, 1999).

a. Tujuan : Klien mengetahui proses penyakit, pengobatan dan potensial komplikasi

b. Kriteria hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam program pengobatan c. Fokus intervensi:

1) Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi, seperti mengangkat berat, olah raga, seks, latihan

dan menyetir

2) Diskusikan perawatan luka, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi dan

kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan atau pengikat

3) Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, misalnya peningkatan nyeri, edema atau

eritema luka, adanya drainase dan demam