Anda di halaman 1dari 31

AMNIOINFUSI

Pada kehamilan normal, cairan amnion memberikan ruang bagi janin untuk
tumbuh, bergerak, dan berkembang. Tanpa cairan amnion, uterus akan berkontraksi dan
menekan janin. Jika terjadi pengurangan volume cairan amnion pada awal kehamilan,
janin akan mengalami berbagai kelainan seperti gangguan perkembangan anggota
gerak, cacat dinding perut, dan sindroma Potter , suatu sindrom dengan gambaran wajah
berupa kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung yang lebar,
telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang.

Pada pertengahan usia kehamilan, cairan amnion menjadi sangat penting bagi
perkembangan paru janin. Tidak cukupnya cairan amnion pada pertengahan usia
kehamilan akan menyebabkan terjadinya hipoplasia paru yang dapat menyebabkan
kematian.

Selain itu cairan ini juga mempunyai peran protektif pada janin, cairan ini
mengandung agen-agen anti bakteria dan bekerja menghambat pertumbuhan bakteri
yang memiliki potensi patogen. .Selama proses persalinan dan kelahiran cairan amnion
terus bertindak sebagai medium protektif pada janin untuk memantau dilatasi servik.
Selain itu cairan amnion juga berperan sebagai sarana komunikasi antara janin dan ibu.
Kematangan dan kesiapan janin untuk lahir dapat diketahui dari hormon urin janin yang
diekskresikan ke dalam cairan amnion.
Cairan amnion juga dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk melihat
adanya kelainan-kelainan pada proses pertumbuhan dan perkembangan janin dengan
melakukan kultur sel. Jadi cairan amnion memegang peranan yang cukup penting dalam
proses kehamilan dan persalinan.

FISIOLOGI CAIRAN AMNION

Amnion manusia pertama kali dapat diidentifikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-
8 perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion,
berkembang menjadi sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal mudigah.

1
Karena semakin membesar, amnion secara bertahap menekan mudigah yang sedang
tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga amnion.

Gambar 1. Kantung amnion pada hari ke-10 ditampakkan pada gambar sebelah
kiri dan di sebelah kanan merupakan kantung amnion pada hari ke-
12 yang selanjutnya akan tumbuh menekan mudigah dikutip dari
Cunningham

Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya
campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel
epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar
800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu
rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml.
Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi dibandingkan dengan
janin sendiri.
Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran
tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian
besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.
Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh
kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin
mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam
memproduksi cairan amnion.
Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari
urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan
radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan
amnion.
2
Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal,
akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada janin,
seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion.

A. Fungsi Cairan Amnion

Cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan


perkembangan janin selama kehamilan. Pada awal embryogenesis, amnion merupakan
perpanjangan dari matriks ekstraseluler dan di sana terjadi difusi dua arah antara janin
dan cairan amnion. Pada usia kehamilan 8 minggu, terbentuk uretra dan ginjal janin
mulai memproduksi urin. Selanjutnya janin mulai bisa menelan. Eksresi dari urin,
sistem pernafasan, sistem digestivus, tali pusat dan permukaan plasenta menjadi sumber
dari cairan amnion. Telah diketahui bahwa cairan amnion berfungsi sebagai kantong
pelindung di sekitar janin yang memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh
meratakan tekanan uterus pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma
termal.

Cairan amnion juga berperan dalam sistem imun bawaan karena memiliki peptid
antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan fungi patogen tertentu. Cairan amnion
adalah 98% air dan elektrolit, protein , peptide, hormon, karbohidrat, dan lipid. Pada
beberapa penelitian, komponen-komponen cairan amnion ditemukan memiliki fungsi
sebagai biomarker potensial bagi abnormalitas-abnormalitas dalam kehamilan.
Beberapa tahun belakangan, sejumlah protein dan peptide pada cairan amnion diketahui
sebagai faktor pertumbuhan atau sitokin, dimana kadarnya akan berubah-ubah sesuai
dengan usia kehamilan. Cairan amnion juga diduga memiliki potensi dalam
pengembangan medikasi stem cell.

B. Volume Cairan Amnion

Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara
umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia kehamilan dan
meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang kemudian
akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap setelah usia kehamilan 33
minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari 50 ml pada saat usia kehamilan
12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan gestasi dan 1000 – 1500 ml pada saat
3
aterm. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion hanya 100 sampai 200 ml atau
kurang.

Brace dan Wolf menganalisa semua pengukuran yang dipublikasikan pada 12


penelitian dengan 705 pengukuran cairan amnion secara individual. Variasi terbesar
terdapat pada usia kehamilan 32-33 minggu. Pada saat ini, batas normalnya adalah 400
– 2100 ml1,2,3,4.

Gambar 2. Grafik yang menunjukkan perubahan volume cairan amnion sesuai


dengan penambahan usia gestasi
dikutip dari Gilbert

C. Pengukuran Cairan Amnion


Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan amnion,
dengan teknik single pocket ,dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA), dan secara
subjektif pemeriksa.
Pemeriksaan dengan metode single pocket pertama kali diperkenalkan oleh
Manning dan Platt pada tahun 1981 sebagai bagian dari pemeriksaan biofisik, dimana
2ccm dianggap sebagai batas minimal dan 8 cm dianggap sebagai polihidramnion.
Metode single pocket telah dibandingkan dengan AFI menggunakan
amniosintesis sebagai gold standar. Tiga penelitian telah menunjukkan bahwa metode
pengukuran cairan ketuban dengan teknik Indeks Cairan Amnion (ICA) memiliki
korelasi yang lemah dengan volume amnion sebenarnya (R2 dari 0.55, 0.30 dan 0.24)
dan dua dari tiga penelitian ini menunjukkan bahwa teknik single pocket memiliki
kemampuan yang lebih baik.
4
Kelebihan cairan amnion seperti polihidramnion, tidak mempengaruhi fetus
secara langsung, namun dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Secara garis besar,
kekurangan cairan amnion dapat berefek negatif terhadap perkembangan paru-paru dan
tungkai janin, dimana keduanya memerlukan cairan amnion untuk berkembang.

Gambar 3. Pengukuran cairan amnion berdasarkan empat kuadran


dikutip dari Gilbert

D. Distribusi Cairan Amnion


1. Urin Janin
Sumber utama cairan amnion adalah urin janin. Ginjal janin mulai memproduksi urin
sebelum akhir trimester pertama, dan terus berproduksi sampai kehamilan aterm.
Wladimirof dan Campbell mengukur volume produksi urin janin secara 3 dimensi setiap
15 menit sekali, dan melaporkan bahwa produksi urin janin adalah sekitar 230 ml / hari
sampai usia kehamilan 36 minggu, yang akan meningkat sampai 655 ml/hari pada
kehamilan aterm.
Rabinowitz dan kawan-kawan, dengan menggunakan teknik yang sama dengan
yang dilakukan Wladimirof dan Campbell, namun dengan cara setiap 2 sampai 5 menit,
dan menemukan volume produksi urin janin sebesar 1224 ml/hari. Pada tabel
menunjukkan rata-rata volume produksi urin per hari yang didapatkan dari beberapa
penelitian. Jadi, produksi urin janin rata-rata adalah sekitar 1000-1200 ml/ hari pada
kehamilan aterm.

5
2. Cairan Paru
Cairan paru janin memiliki peran yang penting dalam pembentukan cairan amnion. Pada
penelitian dengan menggunakan domba, didapatkan bahwa paru-paru janin
memproduksi cairan sampai sekitar 400 ml/hari, dimana 50% dari produksi tersebut
ditelan kembali dan 50% lagi dikeluarkan melalui mulut. Meskipun pengukuran secara
langsung ke manusia tidak pernah dilakukan, namun data ini memiliki nilai yang
representratif bagi manusia. Pada kehamilan normal, janin bernafas dengan gerakan
inspirasi dan ekspirasi, atau gerakan masuk dan keluar melalui trakea, paru-paru dan
mulut. Jadi jelas bahwa paru-paru janin juga berperan dalam pembentukan cairan
amnion.
3. Gerakan menelan
Pada manusia, janin menelan pada awal usia kehamilan. Pada janin domba, proses
menelan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya usia kehamilan. Sherman
dan teman-teman melaporkan bahwa janin domba menelan secara bertahap dengan
volume sekitar 100-300 ml/kg/hari.
Banyak teknik berbeda yang dicoba untuk mengukur rata-rata volume cairan
amnion yang ditelan dengan menggunakan hewan, namun pada manusia, pengukuran
yang tepat sangat sulit untuk dilakukan. Pritchard meneliti proses menelan pada janin
dengan menginjeksi kromium aktif pada kompartemen amniotik, dan menemukan rata-
rata menelan janin adalah 72 sampai 262 ml/kg/hari.
Abramovich menginjeksi emas koloidal pada kompartemen amniotik dan
menemukan bahwa volume menelan janin meningkat seiring dengan bertambahnya usia
kehamilan. Penelitian seperti ini tidak dapat lagi dilakukan pada masa sekarang ini
karena faktor etik, namun dari penelitian di atas jelas bahwa kemampuan janin menelan
tidak menghilangkan seluruh volume cairan amnion dari produksi urin dan paru-paru
janin, karena itu, harus ada mekanisme serupa dalam mengurangi volume cairan
amnion.

6
Gambar 4. Distribusi cairan amnion pada kehamilan
Dikutip dari Gilbert

4. Absorpsi Intramembran
Satu penghalang utama dalam memahami regulasi cairan amnion adalah
ketidaksesuaian antara produksi cairan amnion oleh ginjal dan paru janin, dengan
konsumsinya oleh proses menelan. Jika dihitung selisih antara produksi dan konsumsi
cairan amnion, didapatkan selisih sekitar 500-750 ml/hari, yang tentu saja ini akan
menyebabkan polihidramnion. Namun setelah dilakukan beberapa penelitian, akhirnya
terjawab, bahwa sekitar 200-500 ml cairan amnion diabsorpsi melalui intramembran.
Gambar menunjukkan distribusi cairan amnion pada fetus. Dengan ditemukan adanya
absorbsi intramembran ini, tampak jelas bahwa terdapat keseimbangan yang nyata
antara produksi dan konsumsi cairan amnion pada kehamilan normal.

E. Kandungan Cairan Amnion


Pada awal kehamilan, cairan amnion adalah suatu ultrafiltrat plasma ibu. Pada
awal trimester kedua, cairan ini terdiri dari cairan ekstrasel yang berdifusi melalui kulit
janin sehingga mencerminkan komposisi plasma janin. Namun setelah 20 minggu,
kornifikasi kulit janin menghambat difusi ini dan cairan amnion terutama terdiri dari
urin janin.
Urin janin mengandung lebih banyak urea, kreatinin, dan asam urat
dibandingkan plasma. Selain itu juga mengandung sel janin yang mengalami
deskuamasi, verniks, lanugo dan berbagai sekresi. Karena zat-zat ini bersifat hipotonik,
maka seiring bertambahnya usia gestasi, osmolalitas cairan amnion berkurang. Cairan

7
paru memberi kontribusi kecil terhadap volume amnion secara keseluruhan dan cairan
yang tersaring melalui plasenta berperan membentuk sisanya. 98% cairan amnion
adalah air dan sisanya adalah elektrolit, protein, peptid, karbohidrat, lipid, dan hormon.
Terdapat sekitar 38 komponen biokimia dalam cairan amnion, di antaranya
adalah protein total, albumin, globulin, alkalin aminotransferase, aspartat
aminotransferase, alkalin fosfatase, γ-transpeptidase, kolinesterase, kreatinin kinase,
isoenzim keratin kinase, dehidrogenase laktat, dehidrogenase hidroksibutirat, amilase,
glukosa, kolesterol, trigliserida, High Density Lipoprotein (HDL), low-density
lipoprotein (LDL), very-low-density lipoprotein (VLDL), apoprotein A1 dan B,
lipoprotein, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek, sodium, potassium, klorid,
kalsium, fosfat, magnesium, bikarbonat, urea, kreatinin, anion gap , urea, dan
osmolalitas.
Faktor pertumbuhan epidermis (epidermal growth factor, EGF) dan factor
pertumbuhan mirip EGF, misalnya transforming growth factor-α, terdapat di cairan
amnion. Ingesti cairan amnion ke dalam paru dan saluran cerna mungkin meningkatkan
pertumbuhan dan diferensiasi jaringan-jaringan ini melalui gerakan inspirasi dan
menelan cairan amnion.
Beberapa penanda (tumor marker) juga terdapat di cairan amnion termasuk α-
fetoprotein (AFP), antigen karsinoembrionik (CEA), feritin, antigen kanker 125 (CA-
125), dan 199 (CA-199).

AMNIOINFUSI
Amnioinfusi merupakan suatu prosedur melakukan infusi larutan NaCl fisiologis
atau Ringer laktat ke dalam kavum uteri untuk menambah volume cairan amnion.
Tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat berkurangnya
volume cairan amnion, seperti deselearasi variabel berat dan sindroma aspirasi
mekonium dalam persalinan. Tindakan amnioinfusi cukup efektif, aman, mudah
dikerjakan, dan biayanya murah.

Pada tahun 1976, Gabbe dkk.(1) pertama kali melaporkan tindakan amnio infusi
pada kera rhesus yang hamil. Dalam percobaannya, janin kera memperlihatkan
gambaran deselerasi variabel menyusul pengeluaran cairan amnion dari kavum uteri;
dan gambaran deselerasi variabel menghilang setelah kavum uteri diisi kembali dengan
8
cairan. Penelitian pada manusia baru dilaporkan pada tahun 1983 oleh Miyazaki dan
(2),
Taylor yang menyatakan bahwa tindakan amnio-infusi dapat menghilangkan
gambaran deselerasi variabel yang timbul akibat oligohidramnion.

Ruptur membran dini menempatkan bayi pada resiko kompresi tali pusat dan
amnionitis. Amnioinfusi bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kompresi tali pusat
dengan menambahkan cairan ke dalam kavum uteri. Terlalu sedikit penelitian yang
menunjukkan bahwa amnioinfusi bermanfaat untuk bayi, yang kehamilannya
mengalami ruptur membran dini. Membran yang mengelilingi bayi dan cairan dalam
uterus biasanya ruptur selama persalinan. Jika terjadi ruptur membran dini (sebelum
usia kehamilan 37 minggu) bayi mempunyai resiko tinggi untuk mengalami infeksi.
Kemungkinan terjadinya kompresi tali pusat juga lebih tinggi, yang dapat mengurangi
aliran nutrisi dan oksigen dari ibu ke bayi. Cairan tambahan dapat dimasukkan melalui
serviks ibu atau perut ibu ke dalam uterus, inilah yang disebut amnioinfusi, yang
menyebabkan cairan yang mengelilingi bayi bertambah.

Pierce dan kawan-kawan melakukan meta-analisis terhadap 13 penelitian dengan


1924 wanita yang dibagi secara acak untuk mendapat amnioinfus atau tanpa terapi.
Mereka mendapatkan penuruan bermakna hasil yang merugikan: mekonium di bawah
tali pusat (odds ratio, OR 0,18), sindrom aspirasi mekonium (OR 0,30), asidemia
neonatus (OR 0,42), dan angka seksio sesarea (0,74). Wenstrom dan kawan-kawan
(1995) mensurvei departemen-departemen obstetri di fakultas kedokteran dan
melaporkan bahwa amnioinfusi digunakan secara luas dengan penyulit yang relatif
sedikit. 1,12,14

Keuntungan yang diperoleh dari amnioinfusi :

– Mengatasi keadaan fetal distress selama persalinan


– Menurunkan angka operasi seksio sesarea akibat fetal distress.
– Juga menurunkan kejadian Sindroma Aspirasi Mekonium pada air
ketuban yang keruh
– Mengurangi jumlah hari rawat inap di rumah sakit setelah persalinan.
Indeks cairan ketuban perlu diketahui untuk memprediksi keberhasilan tindakan

amnioinfusi dalam mengatasi fetal distress selama persalinan. Rata-rata Indeks

9
Cairan Ketuban sebelum amnioinfusi adalah 6,2 ± 3,3 cm. Angka

keberhasilannya dapat mencapai 76%.

INDIKASI
Amnioinfusi terutama ditujukan untuk mengurangi kejadian deselerasi variabel
akibat kompresi tali pusat, dan mencegah terjadinya aspirasi mekonium yang kental
selama persalinan. Amnioinfusi dilakukan pada deselerasi variabel yang berat dan
berulang, yang tidak menghilang dengan tindakan konvensional (perubahan posisi ibu
dan pemberian oksigen).

Indikasi lain adalah untuk mencegah terjadinya oligohidramnion. Ada juga


peneliti yang melakukan amnioinfusi untuk mempermudah tindakan versi luar pada
presentasi bokong (3), meskipun tindakan ini tidak populer.

1. Deselerasi variabel
Deselerasi variabel merupakan perubahan periodik denyut jantung janin yang
paling sering dijumpai selama persalinan. Perubahan denyut jantung janin tersebut
terjadi sebagai respons terhadap berkurangnya aliran darah di dalam tali pusat.
Deselerasi variabel merupakan refleks vagal yang disebabkam oleh kompresi tali
pusat yang terjadi akibat lilitan tali pusat di leher janin, terjepitnya tali pusat oleh
bagian ekstremitas janin, atau tali pusat yang terjepit di antara badan janin dan
dinding uterus.
Gambaran spesifik dari deselerasi variabel berupa penurunan denyut jantung
janin, akibat kontraksi, yang gambarannya bervariasi dalam hal bentuk maupun
hubungan saat terjadinya deselerasi dengan kontraksi uterus.

Berdasarkan besar dan lamanya penurunan denyut jantung janin, yang terjadi,
maka deselerasi variabel dibedakan atas 3 jenis, yaitu (4):

1. Deselerasi variabel derajat ringan, bila penurunan denyut jantung janin,


mencapai 80 dpm. dan lamanya kurang dari 30 detik.
2. Deselerasi variabel derajat sedang, bila penurunan denyut jantung janin,
mencapai 70-80 dpm., dan lamanya antara 30-60 detik.

10
3. Deselerasi variabel derajat berat, bila penurunan denyut jantung janin, sampai di
bawah 70 dpm., dan lamanya lebih dari 60 detik.
Di samping itu dikenal juga pembagian deselerasi variabel berdasarkan gambaran
yang sifatnya tidak membahayakan (benign) dan yang membahayakan janin
(ominous) (5).

Tanda-tanda deselerasi variabel yang tidak membahayakan janin:

1. Deselerasi timbul dan menghilang dengan cepat.


2. Variabilitas denyut jantung janin, normal.
3. Terdapat “bahu” deselerasi (akselerasi pradeselerasi dan akselerasi pasca-
deselerasi).

Tanda-tanda deselerasi variabel yang membahayakan janin:

1. Timbulnya deselerasi lebih lambat dari saat terjadinya kontraksi.


2. Menghilangnya deselerasi berlangsung lambat.
3. Variabilitas denyut jantung janin, abnormal (berkurang atau melebihi
variabilitas denyut jantung janin normal).
4. Takhikardia.
5. Tidak terdapat “bahu” deselerasi.
6. Deselerasi semakin bertambah berat.
Deselerasi variabel yang ringan dan tidak berulang biasanya tidak
membahayakan janin. Tetapi selama masa persalinan, mungkin saja deselerasi
variabel yang semula ringan akan menjadi berat.

Bila aliran darah di dalam tali pusat berkurang cukup banyak, akan terjadi deselerasi
variabel derajat sedang atau berat, atau deselerasi variabel dengan tanda-tanda
berbahaya.

Gambaran frekuensi denyut jantung janin, basal dan ada-tidaknya akselerasi


harus diperhatikan dalam penanganan deselerasi variabel. Bila frekuensi dan
variabilitas denyut jantung janin, tetap baik dan stabil, atau hanya berubah sedikit,
maka penanganan dilakukan secara konservartip, misalnya dengan merubah posisi
ibu dan pemberian oksigen untuk menghilangkan kompresi pada tali pusat dan
memperbaiki oksigenasi janin. Bila tindakan tersebut tidak menghilangkan
11
deselerasi variabel, maka perlu dilakukan amnioinfusi untuk mengurangi tindakan
operatif.

Pada keadaan deselerasi variabel yang berat dan menetap, keadaan janin akan
semakin memburuk. Bila keadaan ini tidak dapat dikoreksi, maka tindakan
pengakhiran persalinan harus segera dilakukan.

Amnioinfusi cukup efektif dalam mencegah atau memperbaiki deselerasi


variabel. Manfaatnya yang paling menonjol adalah dalam menurunkan angka
tindakan seksio sesarea yang dilakukan atas indikasi gambaran denyut jantung
(5)
janin, yang membahayakan janin . Amnioinfusi juga dapat menurunkan angka
persalinan per vaginam dengan tindakan (ekstraksi cunam atau vakum), mengurangi
kejadian nilai Apgar rendah, dan mengurangi kejadian endometritis (6).

Suatu penelitian terhadap 66 wanita, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan


yang signifikan antara dilakukan amnioinfusi dengan tanpa amnioinfusi. Pada grup
yang mendapat amnioinfusi, jumlah bayi dengan denyut jantung yang mengalami
deselerasi variabel berat per jam selama kala I persalinan berkurang. Hasil ini
selaras dengan penemuan pada review cochrane tentang amnioinfusi yang dapat
mengurangi kompresi tali pusat.(7)

2. Mekonium yang kental dalam cairan amnion


Dikeluarkannya mekonium ke dalam cairan amnion akan menimbulkan risiko
sindroma aspirasi mekonium. Sindroma aspirasi mekonium terjadi pada sekitar 1.8-
18 % bayi yang dilahirkan dengan amnion bercampur mekonium. Angka mordibitas
dan mortalitas perinatal akan meningkat (8). Sekitar 2 % dari total kematian perinatal
disebabkan oleh sindroma aspirasi mekonium (9).
Aspirasi mekonium umumnya terjadi intrauterin, meskipuin mungkin juga
terjadi pada waktu bayi dilahirkan dan bernafas pertama kali. Pada keadaan
oligohidramnion dan kompresi tali pusat, aspirasi mekonium terjadi akibat hipoksia
dan hiperkapnia pada janin. Keadaan ini akan merangsang janin melakukan gerakan
bafas (gasping)(8).

Resiko aspirasi mekonium cukup tinggi pada janin dengan mekonium yang
kental, terutama bila janin mengalami hipoksia. Mekonium yang encer tidak
menyebabkan terjadinya sindroma aspirasi mekonium dan tidak menambah
12
mortalitas perinatal. Upaya untuk mengencerkan mekonium yang kental akan
mengurangi kejadian sindroma aspirasi mekonium (10,11).

Mekonium yang kental biasanya terjadi pada keadaan oligohidramnion, oleh


karena mekonium tidak diencerkan oleh cairan amnion. Secara teoritis, amnioinfusi
akan menambah volume cairan amnion yang sedikit, melindungi tali pusay dari
kompresi, dan mengencerkan serta mengeluarkan mekonium yang terhisap oleh
janin mengalami hipoksia atau asfiksia (12).

Banyak penelitian membuktikan bahwa amnioinfusi dapat mengurangi


kekentalan mekonium melarutkan mekonium yang melekat di bagian bawah pita
suara, mengurangi kejadian sindroma aspirasi mekonium, dan mengurangi
penggunaan alat ventilasi pada neonatus (13).

Suatu sistematik review menyatakan bahwa kegunaan amnioinfusi untuk cairan


amnion yang bercampur mekonium mungkin menguntungkan. Amnioinfusi
menurunkan resiko sindrom aspirasi mekonium, seksio sesarea, dan angka
kesakitan neonatus. Hasil penelitian menunjukkan kegunaan amnioinfusi pada
wanita dengan cairan amnion yang bercampur mekonium. Penelitian ini
menunjukkan bahwa pengurangan sindrom aspirasi mekonium dapat mengurangi
kematian perinatal pada grup ibu-ibu yang mendapat amnioinfusi. Efek amnioinfusi
pada penularan HIV secara vertikal tidak diketahui.(14)

Hasil amnioinfusi intrapartum untuk mencegah morbiditas janin akibat air


ketuban tercemar mekonium sering berkaitan dengan oligohidramnion masih belum
jelas.

Sebuah uji coba internasional secara acak, yang didanai oleh Institut Kesehatan
Kanada Research (CIHR), telah mengungkapkan bahwa amnioinfusion, infus salin
ke dalam rahim, tidak mengurangi risiko sindrom aspirasi mekonium (MAS),
seperti sebelumnya diyakini.

Penelitian, yang dipimpin oleh Dr William Fraser dari Departemen Obstetri dan
Gynaecolgy dari Université de Montréal dan Ibu-Anak Pusat Kesehatan terkait
dengan Rumah Sakit Ste-Justine, ini diterbitkan dalam edisi terbaru New England
Journal of Medicine .

13
"Dr Fraser dan rekan-rekannya telah membuat kontribusi yang sangat penting
untuk pengetahuan kita tentang kemungkinan pencegahan MAS, kondisi paru-paru
yang jarang tapi sangat serius untuk neonatus," kata Dr Michael Kramer, Direktur
Ilmiah CIHR Institut Pembangunan Manusia, Anak Kesehatan dan Pemuda.
"Metode studi ketat dan ruang lingkup internasional ini percobaan acak (56 lokasi
studi di 13 negara) memberikan bukti yang sangat kuat terhadap penggunaan
amnioinfusion, dan hasilnya cenderung memiliki dampak yang besar pada praktek
kelahiran di seluruh dunia."
Sindrom aspirasi mekonium (juga disebut sebagai aspirasi mekonium) terjadi
ketika bayi yang baru lahir menghirup campuran cairan mekonium dan ketuban
selama persalinan. Mekonium adalah bahan yang mengisi saluran usus janin selama
kehamilan dan terbentuk dari cairan ketuban tertelan dan sel usus mati. Meskipun
steril, terhirup mekonium sangat mengiritasi paru-paru bila bayi bernapas pertama
kali. Hal ini dapat menyebabkan penyumbatan parsial atau lengkap dari saluran
napas bayi saat menghembuskan napas, sehingga sulit untuk bernapas.
Mekonium mengubah cairan ketuban, mengurangi aktivitas antibakteri dan
selanjutnya meningkatkan risiko infeksi bakteri perinatal. Aspirasi menginduksi 3
efek paru utama, yaitu obstruksi jalan napas, disfungsi surfaktan dan pneumonitis
kimia. Mekonium bercampur dengan cairan ketuban terjadi dalam 7 hingga 22%
dari persalinan. Di mana saja dari 2% atau lebih dari sepertiga dari persalian, MAS
dapat terjadi.
Salah satu teknik yang digunakan untuk mengurangi risiko adalah
amnioinfusion. Teknik ini melibatkan memasukkan saline, melalui penyisipan
kateter pada servik uterus, ke dalam rongga amnion wanita yang menunjukkan
mekonium berat. Amnioinfusion dimaksudkan untuk mengurangi risiko MAS
dengan mengencerkan mekonium.
Wanita yang memenuhi syarat untuk uji coba secara acak, setelah membran janin
pecah dan tebal, buram, mekonium bernoda (warna kehijauan) cairan ketuban
diidentifikasi. Dalam percobaan ini, amnioinfusi tidak efektif dalam mengurangi
risiko sindrom aspirasi mekonium.
"Amnioinfusion telah digunakan dalam pencegahan sindrom aspirasi mekonium,
atau MAS, selama 15 tahun terakhir. Sebelum penelitian kami, informasi tentang
efektivitas intervensi didasarkan pada penelitian kecil yang dilakukan di pusat-

14
pusat tunggal," kata Dr Fraser . "Penelitian kami adalah penelitian besar pertama
yang memiliki ukuran sampel cukup untuk menjawab pertanyaan, apakah teknik ini
efektif untuk mencegah MAS Kami menunjukkan bahwa itu tidak efektif dalam
konteks ini.

TEHNIK AMNIOINFUSI (8)

Amnioinfusi dapat dilakukan dengan cara transbdominal atau transervikal


(transvaginal). Pada cara transabdominal, amnioinfusi dilakukan dengan bimbingan
ultrasonografi (USG). Amnioinfusi transervikal lebih dipilih untuk wanita yang sedang
dalam persalinan karena tidak memerlukan panduan ultrasound dan kateter yang
digunakan bisa dipakai ulang.(6)

Cairan NaCl fisiologis atau Ringer laktat dimasukkan melalui jarum spinal yang
ditusukkan ke dalam kantung amnion yang terlihat dengan ultrasonografi. Pada cara
transservikal, cairan dimasukkan melalui kateter yang dipasang ke dalam kavum uteri
melalui serviks uteri. Lebih dipilih ringer laktat daripada NaCl 0,9 % karena NaCl 0,9
% kemungkinan bisa menyebabkan perubahan komsentrasi elektrolit fetus. Walau
bagaimanapun, untuk mendapatkan konsentrasi elektrolit dalam batas normal dapat
dipilih NaCl 0,9 % sebagai alternatif.(8)

Selama tindakan amnioinfusi, denyut jantung janin dimonitor terus dengan alat
kardiotokografi (KTG) untuk melihat perubahan pada denyut jantung janin.

Mula-mula dimasukkan 250 ml bolus cairan NaCI atau Ringer laktat selama 20-
30 menit. Kemudian dilanjutkan dengan infus 10-20 ml/jam sebanyak 600 ml. Jumlah
tetesan infusi disesuaikan dengan perubahan pada gambaran KTG. Apabila deselerasi
variabel menghilang, infusi dilanjutkan sampai 250 ml, kemudian tindakan dihentikan,
kecuali bila deselerasi variabel timbul kembali. Jumlah maksimal cairan yang
dimasukkan adalah 800-1000 ml. Apabila setelah 800-1000 ml cairan yang dimasukkan
tidak menghilangkan deselerasi variabel, maka tindakan dianggap gagal.

Banyak protokol yang berbeda-beda dari berbagai institusi dan tidak ada
protokol yang telah terbukti menjadi protokol terbaik. Suatu survei dari bagian Obstetri
mengungkapkan bahwa mereka menggunakan metoda berikut : (1) bolus cairan ( 50 -
15
1000 mL) yang diikuti oleh pemasukan cairan secara konstan, (2) bolus serial ( 200 -
1000 mL diatur tiap 20 menit sampai empat jam), dan (3) pemasukan cairan secara
konstan ( 15 - 2250 mL/hour). Suatu percobaan menemukan bahwa pemasukan cairan
secara terus menerus dan bertahap sama efektifnya.(6)

Selama amnioinfusi dilakukan monitoring denyut jantung janin, dan tonus


uterus. Bila tonus meningkat, infusi dihentikan sementara sampai tonus kembali normal
dalam waktu 5 menit. Bila tonus uterus terus meningkat sampai 15-30 mm/Hg di atas
tonus basal, maka tindakan harus dihentikan.

Selama tindakan amnioinfusi seringkali terjadi kebocoran cairan dari kavum


uteri.

KONTRAINDIKASI (7)

Terdapat beberapa kontraindikasi untuk tindakan amnioinfusi, antara lain :


1. Amnionitis
2. Polihidramnion
3. Uterus hipertonik
4. Kehamilan kembar
5. Kelainan kongenital janin
6. Kelainan uterus
7. Gawat janin yang berat
8. Malpresentasi janin
9. pH darah janin <7.20
10. Plasenta previa atau solusi plasenta.

KOMPLIKASI(7,15)

Dalam review dari suatu akademik departemen di Amerika Serikat di mana 220
amnioinfusi yang dilakukan per tahun, 49 pusat melaporkan komplikasi jelas termasuk
hypertonia rahim, denyut kelainan jantung janin, amnionitis, ruptur pada jaringan parut
bekas sectio sesarea, menginduksi terjadinya persalinan, polihidramnion iatrogenik dan

16
kegagalan jantung atau pernafasan ibu. Kematian dua ibu diduga telah dikaitkan dengan
emboli cairan ketuban telah dilaporkan.

Dari pusat - pusat yang menanggapi survei tentang amnoinfusi, setidaknya 26 %


melaporkan adanya suatu komplikasi. Komplikasi yang paling banyak
adalah hipertonus uterus (14%), diikuti oleh denyut jantung janin yang abnormal (9%).

Kejadian amnionitis dalam hubungannya dengan amnioinfusion tidak jelas.


Dua uji coba terkontrol secara acak menunjukkan adanya hubungan antara
amnioinfusion dan tingkat infeksi yang tinggi pada ibu. Suatu studi retrospektif telah
mengkonfirmasi hubungan itu. Diketahui bahwa amnioinfusi mencuci cairan ketuban,
yang memiliki sifat bakteriolitik. Tindka ini mungkin menjelaskan peningkatan kejadian
infeksi. Namun amnioinfusi juga mencuci bakteri dan membersihkan amnion dan janin,
yang dapat menurunkan mirniditas infeksi.

Beberapa kejadian lain yang dikaitkan dengan amnioinfusi, kasus prolaps tali
pusat telah dilaporkan. Komplikasi amnioinfusi lainnya yang jarang dilaporkan
termasuk salah satunya kasus gangguan jaringan parut rahim dan kasus polihidramnion
iatrogenik dan meningkatnya tekanan intrauterin selama amnioinfusi, yang
menyebabkan janin mengalami bradikardia. Lima kasus emboli cairan amnion telah
dilaporkan dalam suatu literature medis. Semua dikaitkan dengan faktor-faktor risiko
yang dilaporkan sebelumnya untuk emboli cairan ketuban.

Laporan - laporan ini telah menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan


amnioinfusi. Dalam sebuah survei terhadap semua rumah sakit pendidikan untuk
menentukan bagaimana, kapan dan apa hasil amnioinfusi yang dilakukan di Amerika
Serikat, ditemukan bahwa baik metode yang digunakan atau jumlah infus dilakukan
tampaknya secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi . Meskipun survei tidak
menunjukkan manfaat dari berbagai protokol yang digunakan, hal itu menunjukkan
bahwa semua relatif aman. Kenyataan bahwa jumlah rata-rata per tahun amnioinfusi
yang dilakukan adalah serupa antara pusat yang melakukan dan pusat yang tidak
melaporkan komplikasi menunjukkan bahwa komplikasi umumnya jarang atau,
mungkin, bahwa kejadian komplikasi berkurang sesuai dengan meningkatkannya
pengalaman dokter.

17
KEPUSTAKAAN
1. Gebbe SG, et al. Umbilical cord compression associated with amniotomy:
Laboratory observation. Am J Obstet Gynecol 1976;126: 353-5
2. Miyazaki FS, Taylor NA. Saline amnioinfusion for relief of varible or prolonged
diecelerations. A preliminary report. Am J Obstet Gynecol 1983;146: 670-8
3. Hofmeyr Gj. External cephalic version facilitation for breech prensentation at term
(Cochrane revlew). In: The Cochrane Library. Issue 1, 1999. Oxford: Update
software
4. American Academy of Family Physicians. ALSO Course Syllabus, Kansas City,
1977
5. Hofmeyr GJ, et al. Amnioinfusi, Eur J Obstet Gynaecol Reprod etiol 1996; 64; 159-
65
6. Weismiller DG. Transcervical amnioinfusion. American Family Physicians.
February 1,1998
7. Hofmeyr Gj. Amnioinfusion for Preterm Rupture of Membrane (Cochrane revlew).
In: The Cochrane Library. Issue 1, 1998. Oxford: Update software.
8. Roque H, Gillen-Goldstein J, Funai EF. Amnioinfusion Technique. UpToDate
Marketting Professional. February 8, 2011.
9. Davis RO, et al. Fetal meconium aspiration syndrome accuming despite airway
management considered appropriate. Am J Obstet Gynecol 1985;151: 731-6
10. Usta IM, et al. The impact of a policy of amnioninfusion for meconium-stained
amniotic fluid. Obstet Gynecol 1995;85: 237-41
11. Macri CJ, et al. Prophylactic amnioinfusion improves outcome of pregnancy
complicated by thick meconium and oligohydramnios. Am J Obstet Gynecol 1992;
167: 117-21
12. Rossi EM, et al. Meconium aspiration syndrome: Intrapartum and neonatal
attributes, Am J Obstet Gynecol 1989; 161: 1106-10
13. Dye T, et. Amnioinfusion and the intrauterine prevention of meconium aspiration.
Am J Obstet Gynecol 1994; 171:1601-5
14. M, Boulvain. Amnioinfusion for meconium stained amniotic fluid. RHL the WHO
Reproductive Health Library. Geneva ; 2002.
15. Family Practice.com. Amnioinfusion.

18
LAPORAN KASUS

A. Anamnese

Ny. M, 38 tahun, G4P3A0, Karo, Kristen, SMA, IRT i/d Tn.S, 40 tahun, Karo, Kristen,
wiraswasta, merupakan pasien rawat bersama dengan bagian cardiologi dengan
diagnosis Gravida + CHF Fc I-II ec ASD

KU : Sesak Nafas
T : Hal ini dialami os sejak 3 bulan ini, nafas semakin memberat sejak 1 minggu
yang lalu, riwayat mules-mules mau melahirkan (-), riwayat keluar lendir darah
(-), riwayat keluar air dari kemaluan (-). BAB (+) N, BAK (+) N.
RPT : Penyakit Jantung (+) Riwayat Persalinan

RPO : ? 1. ♀, aterm, PSP, bidan, rumah, BB ?, 15 tahun, sehat


HPHT: 13-10-2011 2. ♀, aterm, PSP, bidan, rumah, BB ?, 13 tahun, sehat

TTP : 20-7-2011 3. ♂, aterm, PSP, bidan, rumah, BB ?, 4 tahun, sehat

ANC : Bidan 1x 4. Hamil ini

B. Pemeriksaan Umum

Status Present
Sensorium : Compus mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 110/70 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 100 x/i Ikterus : (-)
Respiratory Rate : 30 x/i Dyspnea : (+)
Temperartur : 36,7ºC Oedem : (-)

Status Lokalisata
Kepala : Mata : Palpebra inferior : Anemis (-)
Cor : SN 1 (N), SN 2 fixed spilts, Gallop (-).
Pulmo : SP : vesikuler

19
ST : (-)
Hepar : dalam batas normal
Lien : dalam batas normal
Status Obstetri
Abdomen : Membesar asimetris
TFU : ½ bpx - pusat (25 cm)
Tegang : Kiri
Terbawah : Kepala
Gerak : (+)
His : (-)
DJJ : 144 x/i
EBW : 1800-2000 gram

VT : Tidak dilakukan pemeriksaan

USG TAS :
 Janin Tunggal, presentasi kepala, anak hidup
 FM (+), FHR (+) 144x/i
 Plasenta fundal
 BPD 80 mm (32 W 3 D)
 FL 60 mm (30 W 5 D)
 AFI 6,5 cm
Kesan : IUP (30-32 mg) + PK + AH

Hasil laboratorium 23/05/2011

Darah Rutin

Hb : 14.2 gr/dl
Ht : 41.7 %
Leukosit : 6.870/mm3
Trombosit : 167.000/mm3

Faal Hati
Bilirubin total : 0.69 mg/dl ( N : <1)
20
Bilirubin direct : 0.23 mg/dl ( N: < 0.25)
Alkalin Fosfatase : 111 U/L (N : Pr 35-104)
SGOT : 10 U/L (N: <31)
SGPT : 12 U/L ( N : 32)

Faal Ginjal

Ureum : 16.8 mg/dl ( N : 10-50)


Creatinin : 0.60 mg/dl (N : 0.7-1.4)
Uric Acid : 5.4 mg/dl ( N :2,3-6.0)

Elektrolit

Na : 130 mEq/L
Kalium : 2,6 mEq/L
Klorida : 104 mEq/L

KGD ad Random : 111,9 mg%

Dx : MG + KDR (30-32 mg) + PK + AH + B. Inpartu + CHF Fc I-II ec ASD

Th/ : Bed Rest

O2 2-4 L/i

IVFD RL 10 gtt/i (mikro)

Digoksin 1 x 0,25 mg

Furosemida 1 x 40 mg

KSR 1 x 600 mg

R/ : USG Konfirmasi supervisor

Lapor supervisor Dr. MPL, SpOG  ACC

21
Follow up tanggal 24 Mei 2011
KU : sesak nafas (+)
Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 130/70 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 82 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 24 x/i Dyspnoe : (+)
Temperature : 36,8 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Gerak : (+)
His : (-)
DJJ : 148x/i

Dx : MG + KDR (30-32 mg) + PK + AH + B. Inpartu + CHF Fc I-II ec ASD

Th/ : Bed Rest

O2 2-4 L/i

IVFD RL 10 gtt/i (mikro)

Digoksin 1 x 0,25 mg

Furosemida 1 x 20 mg

KSR 1 x 600 mg

R/ : USG Konfirmasi supervisor

 Hasil USG Supervisor :

USG TAS

22
- Janin Tunggal, Presentasi Kepala, Anak Hidup

- FM (+), FHR (+)

- Plasenta corpus posterior grade II

- BPD 8,30 cm (33 W 0 D)

- HC 27,40 cm (29 W 6 D)

- AC 24,29 cm (29 W 0 D)

- FL 6,34 cm (32 W 5 D)

- AFI 3,2 cm

- EFW 1423

Kesan : Oligohidramnion + IUP (32-33 mg) + PK + AH

Diagnosa : Oligohidramnion + MG + KDR (30-32 mg) + PK + AH + B.Inpartu + CHF Fc


I-II ec ASD

Advice Supv dr MPL, Sp.OG 

R/ : - Amnioinfusion

- Konsul Kardiologi untuk toleransi amnioinfusi

 Jawaban Konsul Kardiologi :

Tidak ada kontraindikasi di bagian kardiologi untuk dilakukan amnioinfusi.

Follow up tanggal 25 Mei 2011


KU : Sesak nafas (+) ↓
Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
23
Tek. Darah : 120/80 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 84 x/i ikterik : (-)
Resp. Rate : 22 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 36,9 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Gerak : (+)
His : (-)
DJJ : 140x/i

Diagnosa : Oligohidramnion + MG + KDR (30-32 mg) + PK + AH + B.Inpartu + CHF Fc


I-II ec ASD

Th/ : Bed Rest

O2 2-4 L/i

IVFD RL 10 gtt/i (mikro)

Digoksin 1 x 0,125 mg

Furosemida 1 x 2e0 mg  aff

KSR 1 x 600 mg

R/ : - USG ulang Supervisor

- Amnioinfusi

- Konsul Kardiologi untuk pendampingan persalinan

 Jawaban Konsul Kardiologi :


Setuju untuk pendampingan persalinan

 Hasil USG ulang Supervisor


USG TAS
24
- Janin Tunggal, Presentasi Kepala, Anak Hidup
- FM (+), FHR (+)
- Plasenta Corpus Posterior grade II
- BPD 8,35 cm (33 W 5 D)
- FL 6,39 cm (33 W 2 D)
- AC 25,30 cm (29 W 4 D)
- HC 29,31 cm (32 W 2 D)
- AFI 3,0 cm
Kesan : Oligohidramnion + MG + KDR (32-33 mg) + PK + AH

Diagnosa : Oligohidramnion + MG + KDR ( 30-32 mg ) + PK + AH + B. Inpartu +


CHF Fc I-II ec ASD

Pada tanggal 25 Mei 2011 pukul 10.00 wib dilakukan Amnioinfusi.


AFI post Amnioinfusi : 10,5 cm

Advice supervisor ruangan 


 IVFD RL 10 gtt/i (mikro)
 Inj Ceftriaxone 2 gr/12 jam  Skin test
 Histolan tab 2 x 1
 Inj dexametasone 15 mg Single dose
 Bila terjadi his pada os, maka berikan tokolitik. Bila his makin meningkat, konsul
kardiologi dan anestesi, os direncanakan diterminasi secara PSP.

Follow up tanggal 26 Mei 2011


Pukul 03.00 wib

KU : Mules-mules sesekali
Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 120/80 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 84 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 20 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 36.8 0C Oedem : (-)
25
Status Lokalis
Gerak : (+)
His : 1 x 10 ”/10’, reguler
DJJ : 140x/i

VT : Cx sacral, Ø 1 cm, eff 50 %, selket (+), Kepala H I, UUK ?


ST : Lendir darah (-), air ketuban (-)

Diagnosa : MG + KDR ( 30-32 mg ) + PK + AH + B. Inpartu + CHF Fc I-II ec ASD

Th/ : - IVFD RL 10 gtt/i (mikro)


- Inj Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam
- Histolan 2 x 1
- Awasi VS, His, DJJ

R/ : Obs Inpartu

Pukul 05.00 wib

KU : Mules-mules mau melahirkan


Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 120/80 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 88 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 20 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 36,8 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Gerak : (+)
His : 3 x 20”/10’, reguler
DJJ : 144x/i

VT : Cx axial, Ø 4 cm, eff 100 %, selket (+), Kepala H I-II, UUK arah jam 9
ST : Lendir darah (+), air ketuban (-)

26
Diagnosa : MG + KDR ( 30-32 mg ) + PK + AH + Inpartu + CHF Fc I-II ec ASD

Th/ : - Awasi VS, His, DJJ


- Evaluasi kemajuan persalinan sesuai partograf

R/ : PSP

Pukul 08.30 wib

KU : Ibu ingin mengedan

Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 120/90 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 90 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 22 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 37,0 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Gerak : (+)
His : 4 x 40”/10’, reguler
DJJ : 148x/i

VT : Cx anterior, Ø lengkap, eff 100 %, selket (-) SRM 0 jam, Kepala H III +, UUK
arah jam 12
ST : Lendir darah (+), air ketuban (+)

Diagnosa : MG + KDR ( 30-32 mg ) + PK + AH + Kala II + CHF Fc I-II ec ASD

Th/ : Pimpin Persalinan

Tanggal 26-5-2011 pukul 08.45 wib, secara Persalinan pervaginam Lahir Bayi ♂, BB
1400 gr, PB 36 cm, AS 8/9, Anus (+).
27
Hasil laboratorium 2 jam post PSP :
- Hb: 13,8 g%
- Ht : 40,20 %
- L : 12.980/mm3
- Tr : 175.000/mm3

Follow up tanggal 27 Mei 2011


KU : -
Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 120/70 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 82 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 20 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 36.5 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Abdomen : Soepel, Peristaltik (+) Normal
TFU : 2 jari bawah pusat, kontraksi (+) kuat
ASI : (+)
P/V : (-)
Lochia : (+) rubra
BAB : (+) Normal
BAK : (+) Normal

Diagnosa : Post PSP a/i PBK + NH2 + CHF Fc I-II ec ASD

Therapi :
- O2 2-4 L/i (k/p)
- Cefadroxil 2 x 500 mg
- Asam Mefenamat 3 x 500 mg
- Vit B comp 2 x1
- Vit C 2 x 1
28
Follow up tanggal 28 Mei 2011
KU : -
Status Present :
Sensorium : Compos mentis Anemis : (-)
Tek. Darah : 130/80 mmHg Sianosis : (-)
Heart Rate : 84 x/i Ikterik : (-)
Resp. Rate : 20 x/i Dyspnoe : (-)
Temperature : 36.5 0C Oedem : (-)

Status Lokalis
Abdomen : Soepel, Peristaltik (+) Normal
TFU : 2 jari bawah pusat, kontraksi (+) kuat
ASI : (+)
P/V : (-)
Lochia : (+) rubra
BAB : (+) Normal
BAK : (+) Normal

Diagnosa : Post PSP a/i PBK + NH3 + CHF Fc I-II ec ASD

Therapi :

- Cefadroxil 2 x 500 mg
- Asam Mefenamat 3 x 500 mg
- Vit B comp 2 x1
- Vit C 2 x 1

R/ : PBJ

29
ANALISA KASUS

Pada kasus ini didapati ANC yang kurang baik, os hanya melakukan ANC
sebanyak 1x ke bidan. Seharusnya os lebih intens untuk memeriksakan kandungannya
terutama ke dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan mengingat os memiliki penyakit
penyerta dalam kehamilannya yaitu CHF fc I-II. Mengingat os adalah peserta
jamkesmas, maka ketiadaan biaya bukanlah menjadi penghalang dalam ini.

Dari pemeriksaan diatas didapatkan bahwa os mengalami oligohidramnion


dengan AFI 3,2 cm. Berdasarkan teori, penyebab oligohidramnion, bisa dari fetus,
plasenta, ibu, obat-obatan, dan idiopatik. Dari fetus bisa karena kelainan kromosom,
kelainan kongenital, pertumbuhan janin terhambat, kehamilan lewat waktu, pecah
ketuban dini, ataupun kematian janin intrauterine. Kelainan dari plasenta berupa
abruptio plasenta, dan twin-twin transfusi. Dari ibu bisa karena insufisiensi
uteroplasenta, preeklamsi, diabetes. Obat-obatan seperti prostaglandin synthase
inhibitors dan angiotensin-converting enzyme inhibitors. Jika tidak ada salah satu
kelainan diatas maka oligohidramnion disebabkan karena faktor idiopatik.

Pada pasien ini didapati oligohidramnion tanpa disertai keluarnya air dari
kemaluan, dan os didiagnosa CHF Fc I-II ec ASD, CHF pada kehamilan bisa
mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat, dan pertumbuhan janin terhambat dapat
menyebabkan oligohidramnion. Pertumbuhan janin os terhambat dapat dilihat dari hasil
USG TAS, dimana dapati HC/AC > 1, FL/AC > 24 dan AFI < 5 cm, maka bisa
disimpulkan bahwa janin os mengalami pertumbuhan terhambat.

Pada os, beberapa jam setelah dilakukan amnioinfusi, terjadi his dan akhirnya os
melahirkan bayinya dalam kurun waktu < 24 jam post amnioinfusi. Beberapa penulis
telah melaporkan terjadinya kontraksi rahim berlebihan atau terjadinya kemajuan
persalinan luar biasa cepat terkait dengan amnioinfusi. Meskipun hubungan kausal
tidak dapat dianggap, dua kemungkinan mekanisme yang menghubungkan amnioinfusi
dengan peristiwa ini perlu dipertimbangkan. Yang pertama adalah penempatan kateter
amnioinfusi ekstra amnion. Penempatan foley kateter ekstra amnion dan infus larutan
prostaglandin atau salin yang digunakan merupakan metode induksi persalinan.
Mekanisme kerja infus salin ekstra amnion dianggap merangsang produksi
30
prostaglandin endogen, dan kemungkinan yang sama berlaku jika kateter amnioinfusi
secara tidak sengaja ditempatkan di ekstra amnion. Dalam kasus penyerapan infus salin
yang cepat juga dapat menyebabkan overload sirkulasi pada wanita yang rentan.

Kemungkinan kedua adalah bahwa penempatan kateter amnioinfusi yang salah


dapat mengganggu atau merobek membran lapisan ketuban, yang memungkinkan
masuknya cairan ketuban ke sirkulasi pada saat itu. Sebuah hubungan yang mencolok
antara pecah ketuban artificial dan atau penempatan sebuah kateter yang dapat
meningkatkan tekanan intrauterin telah dilaporkan dalam 6 (14%) dari 46 kasus yang
terdaftar sebagai emboli cairan ketuban. Tekanan tinggi akibat amnioinfusion sendiri
telah dilaporkan menjadi faktor risiko untuk emboli cairan ketuban.

Amnioinfusi pada oligohidramnion bisa sebagai profilaksis dan terapeutik.


Menurut Cochrane, dikatakan bahwa amnioinfusi sebagai profilaksis untuk
oligohidramnion bukan merupakan suatu tindakan rutin. Amnioinfusi sebagai
profilaksis tidak bermanfaat daripada amnioinfusi sebagai terapeutik dengan adanya
deselerasi denyut jantung janin.

Persalinan pada os dilakukan tanpa analgesia epidural. Hal ini tidak sesuai
dengan literatur mengenai pemilihan persalinan untuk os dengan CHF fc I-II, dimana
penggunaan teknik analgesia untuk menghilangkan nyeri persalinan sangat dianjurkan
untuk kasus ini. Analgesia yang umum dipakai adalah analgesia epidural.

PERMASALAHAN

1. Apakah diagnosa dan penanganan pada pasien ini sudah tepat ?


2. Apakah amnioinfusi pada pasien ini adalah tindakan yang tepat ?

31