Anda di halaman 1dari 7

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN UNTUK IDENTIFIKASI KEBERADAAN

ERUPSI LATERAL DENGAN METODE GEOMAGNETIK PADA DAERAH


TLOGOWATU, KECAMATAN KEMALANG,
KABUPATEN KLATEN, PROVINSI JAWA TENGAH

Fauzia Rizky, Muhamad Bagus Haekal,Widodo Putra

Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”


Yogyakarta Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta
Widodoputra1995@gmail.com

INTISARI

Metode geomagnetic adalah salah satu dari metode yang dipakai dalam geofisika
yang mempunyai konsep dasar dari Hukum Coloumb. Hasil yang didapat dengan
menggunakan metode geomagnetic adalah nilai intensitas kemagnetan di setiap titik
pengukuran. Nilai kemagnetan dibawah permukaan selain dipengaruhi oleh mineral yang
dikandungnya, faktor suhu serta tekanan pula mempengaruhi nilai kemagnetan. Karena
terjadi adanya proses demagnetisasi karena suhu dan tekanan tersebut.
Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi bawah permukaan yang berada
di daerah Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Penelitian dilalukan pada tanggal 5-8 Mei 2016 dengan menggunakan metode
geomagnetik. Alat yang digunakan pada penelitian kali ini adalah PPM seriG-857.
Pengambilan data di lapangan menggunakan metode base rover. Hasil yang didapatkan
dari alat adalah nilai intensitas kemagnetetan di setiap titik pengukuran. Software yang
digunakan dalam pengolahan data metode ini adalah Microsoft Excel, Geosoft Oasis
Montaj, Surfer 10, MATLAB, Gravblox, Bloxer, danRockwork.
Berdasar dari hasil pengolahan data didapatkan visualisasi bawah permukaan
yang dibuat dengan pemodelan 2D yaitu peta TMI, peta RTP, dan peta upward
continuation yang menunjukkan adanya struktur sesar sebagai rekahan untuk terjadi
proses erupsi secara lateral atau biasa disebut dengan “flank”. Berdasar analisa FFT dapat
diketahui nilai kedalaman anomali yang digunakan dalam pemodelan 3D yang
menunjukan keberadaan jalur sesar dengan arah N 0300 E sebagai rekahan flank tersebut.
Kemudian didapatkan pula nilai anomali magnetik yang berkisar antara 694,6 nT hingga
-863,4 nT, dengan litologi daerah penelitian yaitu batutuff, batupasir laharik, dan
batulempung.

Kata Kunci : Metode Geomagnetik, PPM, 3D, flank

1. PENDAHULUAN
Metode geomagnetik adalah salah satu metode geofisika yang memanfaatkan sifat
kemagnetan batuan. Kegiatan eksplorasi geofisika menggunakan metode magnetik
meliputi eksplorasi minyak bumi, geothermal, dan identifikasi struktur bawah permukaan.
Kegiatan akuisisi data magnetik didasarkan pada perbedaan sifat kemagnetan batuan yang
disebabkan karena adanya perbedaan komposisi mineral penyusun btuan tersebut.
Flank adalah jalur migrasi magma yang berasal dari magma chamber utama yang
menjadikan daerah sekitar memiliki nilai intensitas kemagnetan dengan nilai kecil dan
negatif. Nilai intensitas kemagnetan kecil dan negatif tersebut disebabkan karena pada
daerah tersebut merupakan daerah yang terdiri dari komposisi material yang telah
melewati Suhu Curie yang bergantung dari jenis mineral penyusunnya.
Penelitian ini dilakukan atas dasar adanya pengukuran magnetik secara regional
pada daerah gunung Merapi, kemudian ditemukan anomali magnet yang bernilai rendah
pada daerah Tlogowatu, Kec. Kemalang, Kab. Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Kemudian
dilakukan penelitian pada area tersebut untuk mengetahui secara detail anomali tersebut.
DASAR TEORI
2.1. Metode Magnetik
Geomagnetic Method (metode
magnetik) merupakan salah satu metode 2.7. Medan Magnet Bumi
geofisika yang sering digunakan sebagai Medan magnet bumi terdiri dari
survei pendahuluan pada eksplorasi 3 bagian :
batuan mineral diantaranya mineral 1. Medan magnet utama (main field)
emas. Akurasi pengukuran metode Medan magnet utama dapat
magnetik ini relatif tinggi dan didefinisikan sebagai medan rata-rata
pengoperasian di lapangan relatif hasil pengukuran dalam jangka
sederhana,mudah dan cepat. Eksplorasi waktu yang cukup lama mencakup
menggunakan metode magnetik, pada daerah dengan luas lebih dari 106
dasarnya terdiri atas tiga tahap : akuisisi km2.
data lapangan, processing, interpretasi. 2. Medan magnet luar (external field)
Metode ini didasarkan pada Pengaruh medan magnet luar
perbedaan tingkat magnetisasi suatu berasal dari pengaruh luar bumi yang
batuan yang diinduksi oleh medan merupakan hasil ionisasi di atmosfer
magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai yang ditimbulkan oleh sinar
akibat adanya perbedaan sifat ultraviolet dari matahari. Karena
kemagnetan suatu material. Kemampuan sumber medan luar ini berhubungan
untuk termagnetisasi tergantung dari dengan arus listrik yang mengalir
suseptibilitas magnetik masing-masing dalam lapisan terionisasi di atmosfer,
batuan. Harga suseptibilitas ini sangat maka perubahan medan ini terhadap
penting di dalam pencarian benda waktu jauh lebih cepat.
anomali karena sifat yang khas untuk 3. Medan magnet anomali
setiap jenis mineral atau mineral logam. Medan magnet anomali sering
Harganya akan semakin besar bila juga disebut medan magnet lokal
jumlah kandungan mineral magnetik (crustal field). Medan magnet ini
pada batuan semakin banyak. dihasilkan oleh batuan yang
mengandung mineral bermagnet
2.5. Intensitas Magnetik
Benda magnet dapat dipandang seperti magnetite ( Fe 7 S 8 ),
sebagai sekumpulan dari sejumlah titanomagnetite( Fe 2Ti O4 ) dan lain-
momen-momen magnetik. Bila benda lain yang berada di kerak bumi.
magnetik tersebut diletakkan dalam
medan luar, benda tersebut menjadi
2.11. Filtering
termagnetisasi karena induksi. Oleh
2.11.1. Reduce to Pole
karena itu intensitas kemagnetan I Dalam akuisisi dat magnetic
adalah tingkat kemampuan dapat dilakukan dengan beberapa cara
menyearahnya momen-momen magnetik
yaitu secara looping, base rover, atau
dalam medan magnet luar, atau gradient vertikal. Perbedaan dalam
didefinisikan sebagai momen magnet beberapa cara tersebut hanya di
persatuan volume : tekankan dalam penggunaan instrument
I=M/V (2.4) dalam pengukuran.
Secara praktis magnetisasi Pengukuran secara satu alat
akibat induksi ini kebanyakan merupakan suatu konsep pengukuran
meluruskan dipole-dipole material geomagnetik dengan memanfaatkan
magnet, sehingga sering disebut sebagai suatu titik base yang digunakan sebagai
polarisasi magnet. Bila besarnya konstan titik acuan dan pengukuran awal hingga
dan arahnya sama, maka dikatakan terakhir akan kembali pada titik tersebut
benda termagnetisasi secara uniform.
(looping). Konsep satu alat / looping yang ditimbulkan oleh benda-benda
sebenarnya pengukuran yang kurang pada dekat permukaan. Di samping itu,
akurat dibandingkan pengukuran secara melakukan kontinuasi ke atas juga dapat
base-rover, dikarenakan pengukuran mengurangi efek dari sumber anomali
secara looping hanya memperhitungkan dangkal (efek residual). Anomali
variasi harian dari suatu daerah residual diperoleh dengan menghitung
berdasarkan dua titik saja. Yaitu titik selisih antara nilai intensitas magnetik
base dan titik looping. Dimana selisih terhadap anomali regional.
intensitas medan magnet pada awal
pengukuran dengan intnsitas medan 2.12. Analisa Spektrum Fast Fourier
magnet pengukuran terakhir adalah Transform
sebagai koreksi variasi harian. Transformasi Fourier cepat
Sedangkan pada saat pengukran (Fast Fourier Transform, biasa disingkat
berlangsung terjadi perubahan kondisi FFT) adalah suatu algoritma untuk
matahari. Pengukuran looping biasa menghitung transformasi Fourier diskrit
jarang dilakukan karena tingkat akurasi (DFT) dengan cepat dan efisien.
datanya agak kurang baik dibandingkan Transformasi Fourier Cepat diterapkan
pengukuran secara base-rover yang dalam beragam bidang, mulai dari
,menghitung variasi harian setiap pengolahan sinyal digital, memecahkan
beberapa jam sekali karena perubahan persamaan diferensial parsial, dan untuk
kondisi yang berbeda dari matahari. algoritma untuk mengalikan bilangan
Berikut ini merupakan contoh konsep bulat besar. Teknik Fast Fourier
pengukuran secara looping. Transform digunakan untuk
mengekstrak komponen-komponen data
2.11.2. Pemisahan Anomali Regional pada domain spektral atau frekuensi,
dan Lokal dimana pada domain spasial ataupun
Upward continuation (kontinuasi domain waktu komponen-komponen
ke atas) merupakan langkah pengubahan tersebut tidak dapat terlihat secara
data medan potensial yang diukur pada eksplisit.
suatu level permukaan menjadi data
yang seolah-olah diukur pada level 1.14. Pemodelan 3D
permukaan yang lebih atas. Metode ini Pemodelan adalah membentuk
digunakan karena dapat suatu benda-benda atau obyek. Membuat
mentransformasi medan potensial yang dan mendesain obyek tersebut sehingga
diukur pada suatu permukaan sehingga terlihat seperti hidup. Sesuai dengan
medan potensial di tempat lain di atas obyek dan basisnya, proses ini secara
permukaan pengukuran cerderung keseluruhan dikerjakan di komputer.
menonjolkan anomali yang disebabkan Melalui konsep dan proses desain,
oleh sumber yang dalam (efek regional) keseluruhan obyek bisa diperlihatkan
dengan menghilangkan atau secara 3 dimensi, sehingga banyak yang
mengabaikan anomali yang disebabkan menyebut hasil ini sebagai pemodelan 3
oleh sumber yang dangkal (efek dimensi (3D modelling) (Nalwan, 1998).
residual). Metode ini dilakukan untuk Ada beberapa aspek yang harus
mendapatkan hasil berupa anomali dipertimbangkan bila membangun
regional yang lebih representatif. model obyek, kesemuanya memberi
Anomali regional yang lebih kontribusi pada kualitas hasil akhir. Hal-
representatif akan menghasilkan anomali hal tersebut meliputi metoda untuk
lokal (residual) yang baik sehingga pada mendapatkan atau membuat data yang
tahap interpretasi dapat dihasilkan hasil mendeskripsikan obyek, tujuan dari
baik pula. Kontinuasi ke atas juga model, tingkat kerumitan, perhitungan
merupakan salah satu metode yang biaya, kesesuaian dan enyamanan, serta
sering digunakan sebagai filter, berguna kemudahan manipulasi model. Proses
untuk menghilangkan bising (noise) pemodelan 3D membutuhkan
perancangan yang dibagi dengan Dalam penelitian kali ini, ada
beberapa tahapan untuk dua tipe PPM yang digunakan, yaitu
pembentukannya. Seperti obyek apa PPM yang digunakan sebagai base
yang ingin dibentuk sebagai obyek dan PPM seri G-857 Magnetometer
dasar, metoda pemodelan obyek 3D, yang digunakan sebagai rover. Ada
pencahayaan dan animasi gerakan obyek beberapa bagian dalam PPM, yaitu
sesuai dengan urutan proses yang akan tiang, baterai PPM, kabel
dilakukan. penghubung, sensor, magnetometer,
dan sensor kabel sinyal.
2. METODOLOGI PENELITIAN 2. GPS
GPS digunakan untuk
mengetahui letak setiap titik
pengukuran di daerah penelitian.
Letak titik tersebut berdasarkan nilai
koordinat dan ketinggian yang
dihitung dari permukaan laut.
3. Tabel Data
Tabel data digunakan untuk
mencatat hasil dari pembacaan alat
berupa intensitas magnetik serta
Gambar 1. Desain Survei koordinat X, Y, dan elevasi di setiap
titik pengambilan data.
Penelitian dilakukan pada 4. Kompas
tanggal 5 Mei hingga 8 Mei 2016 yang Kompas berguna untuk
berlokasi di Daerah Tlogowatu, mengetahui strike dari line yang
Kecamatan Kemalang, Kabupaten didesain di daerah pengamatan.
Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi Kompas juga berfungsi untuk
pengukuran memiliki luasan area 1,5 x mengarahkan sensor ke arah utara
1,5 kilometer yang terbagi menjadi 15 sebenarnya.
lintasan dengan jarak antar lintasan
sejauh 100 meter. Diagram Alir Penelitian

Gambar 2. Peralatan dan Perlengkapan

Peralatan dan perlengkapan di


atas akan dijeaskan menurut fungsinya
seperti berikut ini.
1. PPM
Instrumen ini berfungsi untuk
mencatat intensitas yang berada di Gambar 3. Diagram Alir Penelitian
daerah penelitian, baik pada
pengukuran di base maupun pada Pembahasan dari diagram alir
pengukuran setiap titik. penelitian di atas adalah:
 Studi pendahuluan berupa informasi
geologi daerah penelitian berkaitan
target yang akan dicapai dan kutub sehingga belum menggambarkan
pembuatan desain survei pengukuran. keadaaan yang sebenarnya.
 Pengukuran dilakukan sesuai desain Peta di atas memiliki rentang
survei yang dibuat dengan jumlah nilai positif 694,6 nT hingga negatif
lintasan dan titik pengukuran yang 863,4 nT. Pada peta RTP ini dibagi pula
telah ditentukan. menjadi tiga macam nilai intensitas
 Dari akusisi data akan mendapatkan kemagnetan yaitu tinggi, sedang, dan
data pengukuran, data pengukuran rendah. Pada nilai intensitas kemagnetan
kemudian di lakukan perhitungan tinggi didapatkan rentang nilai antara
agar didapatkan nilai variasi harian 694,6 nT hingga 2,2 nT yang memiliki
pada titik-titik pengukuran. nilai positif yang ditunjukkan oleh
 Nilai variasi harian tersebut warna merah muda hingga oranye pada
kemudian dibuat menjadi Peta RTP, peta RTP di atas. Sedangkan pada
Peta Upward Regional dengan daerah dengan nilai intensitas
menggunakan Software Geosoft kemagnetan sedang, pada peta di atas
Oasis Montaj. Grafik FFT ditunjukkan dengan warna oranye
didapatkan dari pengolahan kekuningan hingga hijau kekuningan
menggunakan Matlab dan Pemodelan yang memberikan informasi nilai
3D didapatkan dari pengolahan intensitas kemagnetan sebesar negatif 24
menggunakan software Gravblox, nT hingga negatif 205 nT. Kemudian
Bloxer, dan Rockwork. pada daerah dengan nilai intesitas
 Dari Peta RTP, Peta Upward magnetik rendah ditunjukkan pada
Regional, Grafik FFT dan pemodelan daerah yang bewarna hijau hingga biru
dilakukan interpretasi serta di tarik yang bernilai negatif 205 nT hingga
kesimpulan negatif 863,4 nT.
 selesai Berdasar nilai intensitas
kemagnetan pada daerah tersebut dan
3. PEMBAHASAN disesuaikan pula dengan keadaan
4.4. Peta RTP geologi daerah tersebut dimana lokasi
penelitian berada pada fasies gunung api
distal, maka pada daerah tersebut yang
memiliki nilai intensitas kemagnetan
tinggi yang ditunjukan pada peta dengan
warna merah muda dapat
diinterpretasikan berupa tuff yang
merupakan batuan piroklastik yang
berasal dari hasil material vulkanik yang
merupakan material jatuhan. Tuff
memiliki nilai kemagnetan yang tinggi
disebabkan oleh adanya mineral biotit
yang termasuk kedalam medium
paramagnetik. Nilai tinggi tersebut
relatif terhadap lingkungan sekitarnya.
Kemudian pada nilai anomali
yang sedang, ditandai dengan warna
Gambar 8. Peta RTP hijau dapat diinterpretasikan pada
bagian tersebut merupakan batupasir
Peta RTP merupakan hasil filter laharik, hasil dari erupsi pada gunung
reduce to pole (RTP) dengan tujuan Merapi yang tertransportasi hingga
untuk membuat hasil peta menjadi sampai lokasi penelitian. Pada lokasi
monopol atau satu kutub. Karena ada penelitian terdapat singkapan batupasir
awalnya peta yang dihasilkan berupa laharik tersebut yang sangat tebal,
peta yang masih dipengaruhi oleh dua
hingga menjadi litologi yang batuan terhadap blok batuan lainnya
mendominasi pada lokasi penelitian. yang disebabkan oleh adanya tekanan.
Pada nilai anomali rendah dapat Tekanan tersebutlah yang menyebabkan
diinterpretasika nahwa pada bagian adanya demagnetisasi.Sesar pada
tersebut merupakan batulempung. metode magnetik ditunjukan oleh
Batulempung yang memiliki kandungan adanya perubahan nilai anomali secara
kuarsa yang melimpah menyebabkan drastis. Hal tersebut ditunjukan pada
nilai anomali magnet yang muncul peta upward continuation disebelah
rendah. Kemudian pada fasies gunung barat. Sehingga dapat diinterpretasikan
api distal, batulempung dapat ditemukan bahwa adanya sesar berarah N 0300 E
karena transportasi yang terjadi sudah pada bagian barat peta.Kenampakan
mulai relatif jauh dari sumber. sesar setelah dilakukan proses filtering
upward continuation menunjukan bahwa
sesar tersebut merupakan sesar regional.

4.5. Peta Upward Regional

4.7. Grafik Analisa FFT

Gambar 11. Analisa Grafik FFT

Warnabirumenunjukkangrafik
regional yang
Gambar 9. Peta Upward Regional mempunyaipersamaangaris y = -54,566x
+ 0,439 danwarnaabu-
Peta di atas merupakan peta abumenunjukkangradik residual yang
hasil filtering peta RTP dengan kenaikan mempunyaipersamaangaris y = -20,134x
interval 100 yang bertujuan untuk -0,8034. Grafik regional
meloloskan frekuensi rendah agar dapat terbuatdaritigatitikdenganmempunyaiest
menggambarkan kenampakan anomali imasikedalamansebesar 364,9 m. Grafik
regional. Kestabilan warna pada peta di residual membentuktrendline yang
atas berhenti pada kenaiakna peta lebihlandaidaripada regional.
upward regional dengan kenaikan sebesr Estimasikedalamanpada residual
400. adalahsebesar 134,6541 m.
Adanya sesar dapat diketahui Nilaiestimasikedalamanpada regional
dengan menggunakan metode magnetik lebihdalamdaripada residual
disebabkan oleh nilai kemagnetan akan karenasudutpandangdari regional
berkurang karena adanya suhu yang lebihdalamdaripada residual.
tinggi atau adanya tekanan. Proses Sehingga dapat disimpulkan
berkurangnya nilai kemagnetan disebut bahwa pada peta upward continuation
dengan demagnetisasi. Sesar 400 ditemukan adanya sesar, berada
merupakan adanya displacement blok pada kedalaman 364,9 m.
pemodelan di atas merupakan warna
4.9. Pemodelan 3D merah pada peta yang diperkirakan
sebagai batu panas yang terpanaskan
karena adanya jalur erupsi yang
merupakan sesar tersebut.
4. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil
dari berbagai pembahasan yang telah
dilakukan adalah:
 Daerah penelitian berada pada
daerah lereng Gunung Merapi
sehingga nilai intensitas
kemagnetan yang didapatkan
bernilai rendah dan negatif. Hal
Gambar 13. Pemodelan 3D ini dikarenakan daerah tersebut
masih dipengaruhi dan dekat
Estimasi kedalaman yang dengan keberadaan sumber
digunakan dalam pemodelan ini adalah panas gunung berapi tersebut.
364 meter yang didapatkan saat analisa  Daerah penelitian
grafik FFT. Peta yang di sayat adalah diinterpretasikan sebagai daerah
peta upward continuation regional 400. yang memiliki struktrur sesar di
Pada hasil pemodelan 3D di atas bagian barat yang menjadi
dapat dijelaskan jika target yang dituj rekahan jalur migrasi panas
adalah target yang memiliki nilai magma.
intenistas kemagneatan rendah.  Nilai anomali pada RTP
kemudian dengan memasukkan berbagai berkisar antara nilai 694,6 nT
parameter serta disesuaikan dengan hingga -863,4 nT.
informasi geologi daerah tersebut, maka  Litologi yang didapatkan adalah
menghasilkan pemodelan 3D seperti di batutuff, batupasir laharik,
atas. batulempung.
Pemodelan 3D memperlihatkan
adanya sesar turun di bagian barat yang
jua dapat terlihat pada peta upward
regional. Dengan pemodelan ini semakin
terlihat keberadaan sesar ersebut. Warna
biru kehijauan dan hijau pada
pemodelan di atas adalah rentang nilai
suseptibilitas batuan pada daerah
tersebut yaitu berada di rentang nilai
antara 0,103 hingga 0,153. Dimana pada
peta, warna biru kehijauan ditunjukka
sebagai warna biru dan warna hijau pada