Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN kontak lewat inhalasi pada saat penderita

Latar Belakang batuk merupakan proses penulrannya.


American Lung Association, melaporkan Batuk darah merupakan salah satu
bahwa hingga tahun 1936 pneumonia gejala pada Pneumonia, namun menjadi
menjadi penyebab kematian nomor satu di penyulit apabila batuk darah menjadi
Amerika. Di Indonesia, pneumonia profuse (Eddy JB,2005). Penanganan batuk
penyebab kematian ketiga setelah darah profuse di tempat pelayanan kesehatan
kardiovaskuler dan tuberculosis dalam hal ini Rumah Sakit merupakan jenis
(Misnadiarly,2008). Berdasarkan laporan pertolongan kegawat daruratan klinik yang
kabupaten/kota tahun 2011 di Jawa Timur cukup sering dijumpai, sehingga sebagai
terdapat 75.699 kasus pneumonia dan ujung tombak dokter umum hendaknya
dengan jumlah kematian 6 orang (Dinkes memahami dan mengerti hal hal yang perlu
Jatim, 2012). di lakukan pada pertolongan batuk darah
Pneumonia adalah peradangan yang pada umumnya dan batuk darah profuse
mengenai parenkim paru, distal dari pada khususnya.
bronkiolus terminalis yang mencakup
Rumusan Masalah
bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan Bagaimana penatalaksanaan Pneumonia
gangguan pertukaran gas setempat. Di dengan penyulit batuk darah profuse ?
Negara berkembang termasuk Indonesia
Tujuan Penelitian
penyebab pneumonia yang paling sering
Tujuan Umum
ditemukan adalah disebabkan oleh bakteri,
Mengetahui penatalaksanaan Pneumonia
sedangkan di negara maju disebabkan oleh
dengan penyulit batuk darah profuse ?
Mycoplasma Pneumon.
Tujuan Khusus
Tuberkulosis adalah infeksi kronis
1. Mempelajari gejala klinis Pneumonia
pada parenkhim paru disebabkan oleh
dengan penyulit batuk darah profuse
kuman Mycobacterium Tuberculosis yang
2. Mempelajari pemeriksaan fisik
ditandai dengan “Trias TB”, yaitu: batuk
3. Pneumonia dengan penyulit batuk
lama (> 2 minggu), napsu makan menurun
darah profuse
sehingga berat badan turun serta demam
4. Mempelajari pemeriksaan penunjang
ringan / keluar keringat malam, dimana
Pneumonia dengan penyulit batuk spesialis paru adalah dokter yang memiliki
darah profuse gelar dalam bidang tertentu yang dihadapi
5. Mempelajari penatalaksanaan adalah masalah perijinan pengambilan data
Pneumonia dengan penyulit batuk ke rumah sakit yaitu pada poli paru dan
darah profuse dokter spesialis parus

METODE PENELITIAN

1.1. Rancangan Penelitian


Jenis rancangan penelitian ini adalah
4.3. Prosedur dan Tekhnik Pengambilan
penelitian observasional yaitu melakukan
Sampel
pengamatan terhadap subjek dari suatu
waktu ke waktu dengan pendekatan cross Pasien yang dipilih dalam penelitian
sectional. ini diambil secara nonprobability sampling
dengan teknik purposive sampling, yaitu
4.2. Sampel Penelitian
teknik penentuan sampel dengan
- Pasien dewasa positif didiagnosa sebagai pertimbangan tertentu (sugiyono, 1999).
pasien penderita pneumonia dengan penyulit Adapun pertimbangan tertentu yang
batuk darah yang menjalani rawat inap di dihadapi adalah masalah perijinan
ruang rawat inap Penyakit Dalam RS X pengambilan data ke rumah sakit yaitu di
- Pasien pneumonia yang diambil ditangani ruang rawat inap Penyakit Dalam RS X.
langsung oleh dokter spesialis paru. Dokter 4.4. Variabel Penelitian
spesialis adalah dokter yang memiliki gelar Variabel dalam penelitian ini
dalam bidang tertentu yang dihadapi adalah meliputi:
masalah perijinan pengambilan data di 1. Gejala klinis
ruang rawat inap Penyakit Dalam RS X. 2. Penanganan
4.3. Kriteria Inklusi: 2.1.Pemeriksaan Fisik
- Pasien dewasa yang positip menderita 2.2.Pemeriksaan Penunjang
Haemptisis akibat Pneumonia dan TB 2.3.Pengobatan kegawatan dan
diambil dari UGD Penyakit Dalam RS X. Konservative
4.5. Lokasi dan Waktu Penelitian
- Pasien Pneumonia yang diambil dan
ditangani oleh dokter spesialis paru. Dokter
Penelitian ini dilakukan di sebuah rumah Jemursari Surabaya pada hari ………tanggal
sakit di kota Surabaya. Waktu penelitiannya ………….2014 pukul ………...dengan
yaitu: keluhan utama batuk darah, disertai sesak
1. Pembuatan Proposal : napas dan panas badan.
Oktober 2014
5.2. Identitas Penderita
2. Pengumpulan Data :
Oktober 2014 Pengkajian dilakukan pada
3. Analis Data : tanggal………….., dimana data diperoleh
Oktober 2014 dengan cara auto dan allo anamnesa,
4.6. Instrumen Penelitian: pengamatan dan observasi secara langsung,
4.6.1. Alat Penelitian pemeriksan fisik, menelaah catatan medis
Alat yang digunakan untuk dan catatan keperawatan. Data pengkajian
penelitian retrospektif ini adalah table isian didapatkan bahwa pasien yang bernama
untuk mengolah data, yaitu berisikan Tn………, berusia……tahun, beragama
anamnesa, pemeriksaan fisik, dan Islam, beralamat di Jl………Surabaya
pemeriksaan penunjang. dengan pekerjaan sebagai …… .
4.6.2. Bahan Penelitian
Pasien dibawa keluarganya ke Unit
Bahan yang digunakan adalah rekam medis
Gawat Darurat (UGD) RS Islam Jemursari
yang merupakan sumber sekunder. Rekam
Surabaya pada hari ………tanggal
medis pasien didapat di rumah sakit maupun
………….2014 pukul ………...dengan
informasi dari dokter spesialis sehingga
keluhan utama batuk darah
didapat suatu gambaran dan penatalaksanaan
sejak………disertai sesak napas dan panas
penyakit dari pasien
badan. Pasien didiagnose sebagai
HASIL Haemoptisis Profuse akibat Pneumonia,
selanjutnya pasien dirawat di Ruang rawat
5.1. Kasus
inap…..kelas…. RSI Jemursari Surabaya.
Seorang pasien Tn………,
5.3. Hasil Anamnesa Penderita
berusia……tahun, beragama Islam,
beralamat di Jl………Surabaya dengan 5.3.1. Keluhan Utama
pekerjaan sebagai …… . Pasien datang ke
Unit Gawat Darurat (UGD) RS Islam
Keluhan yang membawa pasien f. Mikrobiologi
datang menemui dokter adalah batuk darah
g. Kultur Sputum dengan tes kepekaan
sejak………disertai sesak napas panas
terhadap antibiotika
5.3.2. Riwayat Penyakit Sekarang
5.6. Thoraks PA (hari ………tanggal
5.3.3. Riwayat Penyakit Dahulu ………….2014)

5.3.2. Riwayat Penyakit Keluarga

5.3.2. Riwayat Sosial

5.4. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pasien pada saat masuk


Pulmo:
Rumah RS Islam Jemursari Surabaya pada
Cor: Besar dan Contour normal
hari ………tanggal ………….2014 adalah
Tulang tulang dan soft tissue: normal
sebagai berikut:

a. Keadaan Umum:
b. Pemeriksan Kepala Leher:
5. 7. Daftar Masalah
c. Pemeriksan Dada:
d. Pemeriksan Perut: 5.7.1. Daftar Masalah Sementara
e. Pemeriksan Anggota Gerak:
* Batuk Darah
5.5. Pemeriksaan Laboratorium (hari
* Sesak Napas
………tanggal ………….2014)
*Panas badan
a. Darah lengkap
* Abnormalitas Pemeriksaan Fisik:
b. Fungsi Hati
* Abnormalitas Laboratorium:
c. Fungsi Ginjal
* Abnormalitas Foto Thoraks:
d. Analisa Serum Elektrolit
5.7.2. Daftar masalah Tetap
e. Gula Darah
* Batuk Darah
* Sesak Napas - Haemoglobine (HGB):
- Haematocrite (HCT)
* Panas Badan
- MCV
5.8. Penatalaksanaan Pasien - MCHC
- PLT
Pada Penelitian ini terapi diberikan selama
- MPV
….hari, terhitung mulai
-
hari…..tangal………..., adapun terapi yang
diberikan, sebagai berikut: Dari hasil pemeriksaan klinis atau gejala
yang di keluhkan penderita, dijumpai:
. Hasil Perawatan Pasien
- Keluhan batuk darah
Setelah pasien menjalani terapi
dijumpai berangsur angsur
selama ……..hari, terhitung mulai masuk
berkurang atau berhenti
pada harai…..tgl……….sampai dengan
- Keluhan sesak napas
pada hari…..tgl……, pasien kondisinya
dijumpai berangsur angsur
berangsur angsur membaik. Batuk darah
berkurang atau menghilang
yang profuse berangsur angsur berhenti,
- Keluhan panas badan
sesak napas dan panas baan secara bersaman
berangsur angsur berkurang
dapat itasi dengan baik. Adapun data
atau menghilang
terakhir dari hasil cek darah lengkap pasien
(pada hari…….tanggal……) adalah sebagai Dari hasil Fisik penderita didapatkan bahwa
berikut: ………………

a. Darah lengkap - Pemeriksaan fisik yang


- Whole Blood Concentrte awalnya Asimetri kanan
(WBC): tertinggal, redup di kanan
- Neutrophil atas dan ausltasi terdengan
- Lymfosit bronkhovesikuler pada
- Monosit bagian paru kanan atas
- Eosinophil
Dari hasil laboratorium didapatkan bahwa
- Basophil
………………
- Red Blood Cell (RBC):
Darah lengkap  lekositnya berkurang dan Pemeriksaan fisik paru yang di
menjadi normal (dari …… menjadi …..) peroleh pada pasien Pneumonia dan TB,
adalah:
Fungsi liver : SGOT :
 Inspeksi : Pengembangan paru
berat, tidak simetris jika
SGPT :
Hanya satu sisi paru,
 …….
ada
Fungsi ginjal : BUN : pengun
 ……… aan
otot
S.Creat :
bantu
 ……..
nafas
Elektrolit :K: dan
 …….. retraksi
.
Na:
Palpasi : Pengembangan paru
 ……..
tidak sama pada area konsolidasi, Fremitus
Cl : Raba
 …….. pada daerah
konsolidasi Meningkat
A. Pembahasan Hasil Penelitian
Perkusi : Bunyi redup pada
1. Pembahasan Hasil Pemeriksaan
area konsolidasi
Fisik
Auskultasi : Bunyi nafas
Gejala klinis saluran pernapasan berkurang, bisa terdengar wheezing
bawah berupa batuk darah, batuk lama,
eksprektorasia sputum,sesak napas kadang 2. Pembahasan Hasil Pemeriksaan
disertai gejala penyerta lain seperti panas Penunjang
badan, nyeri dada, penurunan napsu makan a). Darah Lengkap
dan berat badan

Pemeriksan Darah
Sel yang diperiksa Hasil Kimia Nilai
Hasilnormal
Nlai
WBC Klinik
4.00-11.00 normal
diperiksa
2.00 -
Neutrophil BUN
Limfosit S
Monosit Creatinin
Eosinophil

Basophil
d). Analisa Serum elektrolit
RBC

HGB Pemeriksaan Elektrolit


HCT Kimia Hasil Nlai
MCV Klinik normal
MCH diperiksa
MCHC Natrium
RDW Kalium
PLT Chloride
MPV

e). Faal Hemostasis

b). Fungsi Hati


Pemeriksaan Faal Hemostasis
Pemeriksaan Fungsi Hati Kimia Hasil Nlai

Kimia Hasil Nlai Klinik normal

Klinik normal diperiksa

diperiksa PTT

SGOT KPTT

SGPT f).Mikrobiologi

Pemeriksaan Sputum Smear


c). Fungsi Ginjal BTA dan Gram
Kimia Hasil Nlai
Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Klinik normal
diperiksa - Posisi trendelenburg-
BTA /Zn Bebaskan jalan napas- Miring
sewaktu ke sisi sakit
BTA /Zn - Infus Ringer Laktat 1500cc /
pagi 24 jam
BTA /Zn - O2 : 3-4 liter / menit
sewaktu - Levofloxacin 1 grm-0-0 Drip
Gram - Adona 3 x 1 ampul (drip)
smear - Transamin 3 x 1 ampul IV
Gram - Novalgin 3 x 1 ampul IV

kultur - Rifampisin 0-0-450mg


- Ethambuthol 0-0-750mg
- Isoniasid 0-0-400mg
g).Foto Thoraks PA
- Pirazinamid 0-0-1000mg
- Codein 3 x 10 mg PO

3.Pembahasan Hasil Terapi Berbagai penatalaksanan pada pasien baik


berupa tindakan fisik maupun tindakan
Secara keseluruhan, terapi yang diterima
pemberian obat secara parenteral / Intra
pasien dari awal pertama kali masuk Rumah
Vena maupun Per Oral, adalah sebagai
Sakit dan memperoleh terapi sampai pasien
berikut:
keluar dari Rumah Sakit tidak terdapat
perbedaan yang signifikan, artinya saat a). Posisi Trendelenburg-Bebaskan jalan
penderita di rawat di Rumah sakit berbagai napas-Miring ke sisi sakit
macam obat dengan berbagai fungsi
Pada penanganan haemoptisis
diberikan dalam bentuk parenteral atau obat
profuse hendak nya pasien diposisikan
injeksi, setelah pasien keluar dari Rumah
Trendelenburg, artinya posisi kepala lebih
Sakit maka beragai obat engan berbagai
rendah daripada kaki, dilanjutkan denga
fungsi tersebut diberikan secara per oral.
pembebasan jalan napas yang bertujuan
Rangkaian terapi yang diberikan antara lain:
mengeluarkan benda asing (dahak,darah dan
kotoran) dalam saluran napas, sehingga jalan
napas menjadi terbuka. Selain jalan napas
dibebaskan, penderita diposisikan miring ke injeksi, merupakan anibiotika
sisi paru yang mengalami infeksi (spesifik/ broadspectrum, sehingga penangan radang
non spesifik) agar pembuluh darah yang paru (Pneumonia) dibutuh antibiotika broad
diduga pecah di lokasi paru yang diduga spectrum yang merupakan pemberian
sebagai sumber perdarahan. Dengan miring antibiotika secara adjuvant terapi, sambil
kesisi sakit, maka diharapkan sumber menunggu hasil kultur gram dengan bahan
perdarahan atau pembuluh darah dilokasi sampel dahak.
dapat ditekan, sehinga perdarahan dapat
e). Adona 3 x 1 ampul (drip) dan
berhenti.
Transamin 3 x 1 ampul IV
b). Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

Pada pasien dengan haemoptisis profuse


Adona dan transamin, merupakan
akan terjadi kehilangan cukup banyak darah
koagulansia yang cukup kuat dalam
dan cairan darah, oleh karena itu pemberian
menggumpalkan atau menghentikan
cairan dalam hal ini 1500cc RL untuk
perdarahan. Pemberian koagulansia dobel
mengatasi atau mencegah hipovolemik
bertujuan agar perdarahan cepat dapat
sangat dibutuhkan.
dihentikan
c). Oksigen : 3-4 liter / menit
f). Novalgin 3 x 1 ampul IV
Pada pasien dengan haemoptisis profuse
Pada Pneumonia dijumpai panas badan,
akan terjadi kehilangan cukup banyak darah,
maka secara simptomatik, novalgin
akibat hilang sel darah merah, maka kadar
diperlukan unuk mengatasinya, namun
Oksigen yang diikat oleh HB darah akan
pemberiannya dilakukan bila panas pasien >
berkurang tergantung banyakknya drah yang
380C
hilang. Dengan alas an tersebut, maka
oksigen supply dari luar sangat dibutuhkan. g). Obat Anti Tuberkulosa

d). Levofloxacin 1 grm-0-0 Drip Bila melihat dari anamnesa pasien


didiagnose dokter berdasar: Hasil anamnesa,
Antibiotika sangat diperlukan untuk
pemeriksaan fisik dan laboratorium
mengatasi infeksi non spesifik ( khususnya
penunjang, maka didiagnose Haemoptisis
pada bakteri pneumonia). Levofloxacin
pada pasien Pneumonia denga TB paru
diberikan terapi antibiotika broad spectrum Isoniasid 0-0-400mg
juga diberikan Obat anti Tuberkulosa.
Pirazinamid 0-0-1000mg
Sesuai kriteria WHO tentang TB paru, maka
pasien ini mendapat terapi OAT, sebagai Codein 3 x 10 mg
berikut:
Kontrol kembali 1 minggu sepulang
- Rifampisin 0-0-450mg dari Rumah Sakit engan valuasi DL
dan Foto thoraks
- Ethambuthol 0-0-750mg

- Isoniasid 0-0-400mg

- Pirazinamid 0-0-1000mg

h). Antitusive

Haemoptisis profuse terjadi akibat eahnya


pembuluh darah dalam ogan paru yang
tejadi pada area infeksi atau perlukaan ,
dimana cara darah dikeluarkan dengan
dibatukkan dan batuk yang berkali kali atau
frekwensi makin sering, maka pembuluh
darah akan terus pecah akibat batuk tidak BAB VII
cepat di hentikan atau ditekan dengan
KESIMPULAN
Codein 3 x 10 mg PO
Pneumonia adalah peradangan yang
3. Kondisi terahir pasien
mengenai parenkim paru, distal dari
Setelah……hari dirawat di Rumah
bronkhiolus terminalis yang meliputi
sakit, maka selanjutnya diputuskan
bronkhiolus respiratorius dan alveoli, serta
unuk melakukan rawat jalan dengan
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
terapi pulang, sebagai berikut:
ganguan gas setempat. Alveoli mengalami
R// Levofloxacin 500mg-0-0
penurunan dalam menampung oksigen
Rifampisin 0-0-450mg karena kantung alveoli di penuhi dengan sel
sel radang. Tuberkulosis merupakan infeksi
Ethambuthol 0-0-750mg
kronis pada parenkhim paru yang menular prosedur. Tidak terdapat perbedaan yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium signifikan antara penatalaksanaan yang
Tuberculosis yang ditandai dengan “Trias dilakukan di RSI maupun penatalaksanaan
TB”, yaitu: batuk lama (> 2 minggu), napsu RS Jemursari dengan teori yang peneliti
makan menurun sehingga berat badan turun jabarkan pada BAB II. Bahkan Peneliti
serta demam ringan / keluar keringat malam mendapat pengalaman dengan dibawah
,………….. pengawasan dokter spesialis yang
berkompeten dalam penanganan Batuk
Subyek penelitian ini adalah:
darah, Pneumonia dan TB Paru. Selama
Tn…………..umur….alamat……..pekerjaa
penelitian tentu penulis mengalami beberapa
n……. Penderita datang ke UGD RSI
kesulitan dalam hal penyesuaian waktu
Jemursari pada
visite dengan dokter spesialis yang merawat
hari……tanggal……..pukul………….denga
pasien agar dapat melakukan visite bersama.
n keluhan batuk darah disertai demam dan
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi
sesak napas………… Dari hasil
teman sejawat yang membutuhkan informasi
pemeriksaan fisik maupun laboratorium,
bagaimana menangani penderita dengan
pemeriksaan fisik saBGA ( La.
Batuk darah, Pneumonia dan TB Paru.
Penatalaksanaan yang diterima
pasien saat pasien pertama kali masuk
Rumah Sakit Islam Jemursri adalah
Haemoptisis ad causa Susp Pneumonia dan
TB paru. Selama dirawat di ruang rawai
inap, pasien mendapat terapi unuk menangai
batuk darahnya, Pneumonia dan TB nya.
Pada saat keluar dari Rumah Sakit mendapat
terapi antibiotika unt TB nya selama 1
minggu, selajutnya control poli paru.

Berdasarkan pengalaman peneliti


yang terjun langsung dalam penelitian ini,
penatalakssanaan yang dilakukan oleh pihak
RSI Jemursari sudah sesuai dengan