Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

American Lung Association, melaporkan bahwa hingga tahun 1936

pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Di Indonesia,

pneumonia penyebab kematian ketiga setelah kardiovaskuler dan tuberculosis

(Misnadiarly,2008). Berdasarkan laporan kabupaten/kota tahun 2011 di Jawa

Timur terdapat 75.699 kasus pneumonia dan dengan jumlah kematian 6 orang

(Dinkes Jatim, 2012).

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari

bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta

menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.

Di Negara berkembang termasuk Indonesia penyebab pneumonia yang paling

sering ditemukan adalah disebabkan oleh bakteri, sedangkan di negara maju

disebabkan oleh Mycoplasma Pneumonia (PDPI,2012)

Batuk darah merupakan salah satu gejala pada Pneumonia, namun

menjadi penyulit apabila batuk darah menjadi profuse (Eddy JB,2005).

Penanganan batuk darah profuse di tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini

Rumah Sakit merupakan jenis pertolongan kegawat daruratan klinik yang cukup

sering dijumpai, sehingga sebagai ujung tombak dokter umum hendaknya

memahami dan mengerti hal hal yang perlu di lakukan pada pertolongan batuk

darah pada umumnya dan batuk darah profuse pada khususnya.

1
B.Rumusan Masalah

Bagaimana penatalaksanaan Pneumonia dengan penyulit batuk darah profuse ?

C. Tujuan Penelitian

1.Tujuan Umum

Mengetahui penatalaksanaan Pneumonia dengan penyulit batuk darah profuse ?

2. Tujuan Khusus

a). Mempelajari gejala klinis Pneumonia dengan penyulit batuk darah profuse

b). Mempelajari pemeriksaan fisik Pneumonia dengan penyulit batuk darah

profuse

c). Mempelajari pemeriksaan penunjang Pneumonia dengan penyulit batuk darah

profuse

d). Mempelajari penatalaksanaan Pneumonia dengan penyulit batuk darah profuse

C. Manfaat Penelitian

1. Memberi pengalaman pada mahasiswa dalam membuat karya tulis berupa

Laporan Kasus.

2. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang penatalaksanaan Pneumonia

dengan penyulit batuk darah profuse

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PNEUMONIA

1. Definisi Pneumonia

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari

bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta

menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan gas (Dahlan,2006 ). Pada

Pneumonia dijumpai sel sel inflamasi dalam alveoli samapai parenkhim paru,

berakibat alveoli mengalami penurunan kemampuan menyerap oksigen yang

berefek penurunan kemampuan imunitas tubuh yang berefek terjadinya

penyebaran infeksi ke seluruh tubuh yang dikenal dengan sepsis yang menjadi

penyebab kematian pada pneumonia (Misnadiarly,2008).

2. Klasifikasi Pneumonia

Pneumonia, maka pneumonia diklasifikasikan berdasarkan kuman penyebab dan

ciri radiologis yaitu Tipical Pneumonia dan Atipikal Pneumoniai (Spicer,WJ,2003).

Klasifikasi berdasarkan faktor lingkungan yaitu Community Acquired Pneumonia,

Nosocomial Pneumonia/ Hospital Aquired Pneumonia (HAP), Aspiration

Pneumonia dan Ventilator Associated Pneumonia (VAP)( Hazinski, Thomas A.

2003)

a. Klasifikasi Pneumonia berdasarkan kuman penyebab dan ciri radiologis

1). Tipical Pneumonia, dengan gambaran radiologi berupa opasitas pada lobus

atau lobularis ( sering disebut sebagai Pneumonia Lobar (Spicer,WJ,2003). Tipical

3
Pneumonia ini disebabkan oleh Str. Pneumonia , pneumonia jenis ini kadang disebut sebagai

Bacterial Pneumonia (Dahlan , 2006).

2).Atipikal Pneumonia, dengan gambaran radiologi berupa infiltrat paru yang bersifat

bilateral dan difus. Secara terperinci di bagi atas (Spicer,WJ,2003):

a). Broncho-pneumonia: diffuse patchy, menyebar sepanjang paru-paru.

b). Interstisial: menyerang interstisium

c). Necrotising: cavitation dan penghancuran dari parenkim, membentuk abses-abses

(Spicer, 2008).

Atipikal Pneumonia ini disebabkan oleh H. influenza, S. aureus dan bakteri gram

negatif memberikan sindromklinik yang identik dengan pneumonia oleh Str. Pneumoniae,

dan bakteri lain danvirus dapat menimbulkan gambaran yang sama dengan pneumonia oleh

M.pneumoniae. Sebaliknya Chlamydia pneumoniae atau Legionella spp. dan virus dapat

memberikan gambaran pneumonia yang bervariasi luas karena itu istilah tersebut tidak lagi

dipergunakan , pneumonia jenis ini kadang disebut sebagai Non bacterial Pneumonia (Dahlan

2006).

b. Klasifikasi Pneumonia berdasarkan faktor lingkungan

1).Community Acquired Pneumonia (Cap), adalah pneumonia yang terjadi

infeksi diluar rumah sakit, seperti rumah jompo atau Home care. Jenis Pneumonia

ini bisa bersifat bakterial atau viral. Infeksi bakterial terjadi dalam dua pola

morfologik yang sering tumpang tindih (Bronkopneumonia serta Pneumonia

Lobaris) dan disebabkan oleh berbagai mikroorganisme gram positif atau gram

negative. Bergantung pada virulensi bakteri dan resistensi hospes,

mikroorganisme yang sama dapat menyebabkan bronkopneumonia, pneumonia

4
lobaris atau suatu keadaan yang berada diantara kedua pneumonia ini.

Mikroorganisme yang sering dijumpai pada Community Acquired Pneumonia

antara lain:

a). Streptococcus pneumonia atau pneumococcus merupakan mikroorganisme

yang paling sering ditemukan; diplokokus gram positif berbentuk lanset di dalam

neutrophil.

b). Haemophilus influenza merupakan bakteri pleomorfik, gram negative,

berkapsul (enam serotip) atau tidak berkapsul (tidak bisa ditentukan tipenya);

mikroorganisme ini menyebabkan infeksi saluran nafas bawah dan meningitis

yang bisa membawa kematian pada anak-anak dan merupakan penyebab umum

pneumonia pada orang dewasa.

c). Moraxella catarrhalis menyebabkan pneumonia bacterial, khususnya pada

manula; infeksi ini memperberat COPD dan merupakan penyebab umum otitis

media pada anak-anak.

d). Staphylococcus aureus pneumonie sering menjadi komplikasi penyakit virus

dan merupakan infeksi pada para pemakai obat intravena; infeksi oleh

mikroorganisme ini mengakibatkan abses dan empiema.

e). Klebsiella pneumonie merupakan penyebab paling umum pneumonia gram

negatif; infeksi ini mengenai orang-orang yang keadaan umumnya buruk,

khususnya pecandu alkohol kronik.

f). Pseudomonas aeruginosa sering ditemukan pada pasien kistik fibrosis dan

neutropenia.

5
g). Legionella pneumophilia menyebar lewat aerosol; infeksi oleh

mikroorganisme ini menyebabkan pneumonia yang berat pada pasien dengan

gangguan imunitas.

2). NOSOCOMIAL PNEUMONIA/ HOSPITAL AQUIRED PNEUMONIA

(HAP), adalah Pneumonia yang didapat selama (batasan yang sering dipakai

perawatan > 3 hari) di rumah sakit. Mikroorganisme yang sering dijumpai pada

pasien dengan penyakit dasar yang berat atau dengan pemakaian alat yang

invasive, dan merupakan komplikasi serius yang bisa membawa kematian.

Mikroorganisme yang sering dijumpai pada Nosocomial Pneumonia adalah:

kuman bukan multi drug resistance (MDR) misalnya S.pneumoniae, H.

Influenzae, Methicillin Sensitive Staphylococcus aureus (MSSA) dan kuman

MDR misalnya Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella

pneumoniae, Acinetobacter spp dan Gram positif seperti Methicillin Resistance

Staphylococcus aureus (MRSA). Pneumonia nosokomial yang disebabkan jamur,

kuman anaerob dan virus jarang terjadi (Hendrickson,2005).

3). Ventilator Associated Pneumonia (VAP), adalah Pneumonia yang terjadi

setelah 48-72 jam intubasi tracheal atau menggunakan ventilasi mekanik di ICU

( Hazinski, Thomas A. 2003)

4). Aspiration PneumoniaPneumonia Aspirasi terjadi pada pasien-pasien yang

keadaan umumnya sangat buruk atau yang tidak sadarkan diri; keadaan ini

sebagian mengakibatkan pneumonia kimia (asam lambung) dan sebagian lagi

pneumonia bacterial (campuran dengan flora oral).

3. PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS PNEUMONIA

6
Aspirasi mikroorganisme yang mengkolonisasi sekresi orofarinks

merupakan rute infeksi yang paling sering. Rute inokulasi lain meliputi inhalasi,

penyebaran infeksi melalui darah (hematogen) dari area infeksi yang jauh, dan

penyebaran langsung dari tempat penularan infeksi. Jalan napas atas merupakan

garis pertahanan pertama terhadap infeksi, tetapi, pembersihan mikroorganisme

oleh air liur, ekspulsi mukosiliar, dan sekresi IgA dapat terhambat oleh berbagai

penyakit, penurunan imun, merokok, dan intubasi endotrakeal.

Pertahanan jalan napas bawah meliputi batuk, reflex muntah, ekspulsi

mukosiliar, surfaktan, fagositosis makrofag dan polimorfonukleosit (PMN), dan

imunitas selular dan humoral. Pertahanan ini dapat dihambat oleh penurunan

kesadaran, merokok, produksi mucus yang abnormal (mis., kistik fibrosis atau

bronchitis kronis), penurunan imun, intubasi dan tirah baring

berkepanjangan.Makrofag alveolar merupakan pertahanan primer terhadap invasi

saluran pernapaan bawah dan setiap hari membersihkan jalan napas dari

mikroorganisme yang teraspirasi tanpa menyebabkan inflamasi yang bermakna.

Virulensi mikroorganisme terlalu besar, maka makrofag akan merekrut

PMN dan memulai rangkaian inflamasi dengan pelepasan berbagai sitokin

termasuk leukotriene, factor nekrosis tumor (TNF), interleukin, radikal oksigen ,

dan protease.Inflamasi tersebut menyebabkan pengisian alveolus mengalami

ketidakcocokan ventilasi/perfusi dan hipoksemia. Terjadi apoptosis sel-sel paru

yang meluas, ini membantu membasmi mikroorganisme intrasel seperti

tuberkolosis atau klamidia, tetapi juga turut andil dalam proses patologis

kerusakan paru.

7
Infeksi dan inflamasi dapat tetap terlokalisirdi paru atau dapat

menyebabkan bacteremia yang mengakibatkan meningitis atau endocarditis

sindrom respons inflamasi sistemik dan/ atau sepsis. Faktor virulensi dan berbagai

mikroorganisme dapat mempengaruhi patofisiologi dan perjalan klinis penyakit.

Streptococcus pneumonia (pneumococcus) merupakan contoh yang sangat tepat

(Steinert Don MA,2009)

4. Faktor Resiko Pneumonia

Individu yang memiliki kecenderungan terjadi Pneumonia antara lain:

a). Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah

- Penderita HIV/AIDS

- Penderita penyakit kronis, seperti sakit jantung, diabetes mellitus

- Orang yang pernah atau rutin menjalani kemoterapi

b). Perokok dan peminum alcohol. Perokok berat dapat mengalami iritasi pada

saluran pernapasan (bronchial) yang akhirnya menimbulkan sekresi mucus

(riak/dahak). Apabila riak/dahak mengandung bakteri, maka dapat menyebabkan

pneumonia. Alcohol berdampak buruk terhadap sel darah putih sehingga daya

tahan tubuh dalam melawan suatu infeksi menjadi lemah.

c).Pasien yang berada di ruang perawatan intensif (ICU/ICCU). Pasien yang

dilakukan tindakan ventilator (alat bantu napas) endotracheal tube sanagta

berisiko terkena pneumonia. Di saat mereka batuk akan mengeluarkan tekanan

balik isi lambung (perut) kea rah kerongkongan. Bila hal itu mengandung bakteri

dan berpindah ke rongga napas (ventilator). Ia sangat berpotensi terkena

pneumonia.

8
d).Menghirup udara yang tercemar polusi zat kimia. Risiko tinggi yang dihadapi

para petani apabila menyemprotkan tanaman dengan zat kimia tanpa memakai

masker adalah terjadinya iritasi dan menimbulkan peradangan paru-paru, dan

selanjutnya rentan menderita penyakit pneumonia.

e).Pasien yang lama berbaring. Pasien yang mengalami operasi besar biasanya

bermasalah dengan hal mobilisasi. Orang dengan kondisi semacam ini memiliki

resiko tinggi terkena penyakit pneumonia. Pasalnya, saat tidur berbaring statis

sangat mungkin riak berkumpul di rongga paru-paru dan menjadi media

berkembangnya bakteri (Torres A,et all,2013)

5. Diagnosis Pneumonia

a). Tanda dan Gejala Klinis

Tanda-tanda Pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur,

mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya

penyakit.Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri

tenggorokan. Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan

cepat (takipnea), tarikan otot rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi

kebiruan (sianosis).

b). Pemeriksaan Fisik

Pada penderita Pneumonia hasil pemeriksaan fisik antara lain:

1). Keadaan Umum : Bisa terlihat kelelahan atau sesak

2). Kesadaran : Bisa sampai somnosent

3). Tanda-Tanda vital : TD bisa normal atau hipotensi

Nadi meningkat,

9
Suhu meningkat

4). Kepala : Tidak ada kelainan

5). Mata : Konjungtiva bisa anemis

6). Hidung : Jika sesak akan terlihat napas cuping hidung

7).Paru :

- Inspeksi : Pengembangan paru berat, tidak simetris jika

hanya satu sisi paru, ada pengunaan otot bantu

nafas dan retraksi.

-Palpasi : Pengembangan paru tidak sama pada area

konsolidasi, femitus suara pada daerah konsolidasi

meningkat

-Perkusi : Bunyi redup pada area konsolidasi

-Auskultasi : Bunyi nafas meningkat kadang terdengar

ronkhi basah kasar dan wheezing lokal

8). Jantung : Jika tidak ada kelainan pada jantung

9). Ekstermitas : Pada ekstremitas bisa telihat sianosis, edema

tungkai atau clubbing finger

c). Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis Pneumonia sebagai berikut:

1).Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count)

Leukositosis biasanya timbul, meskipun nilai pemeriksaan

darah putih (white blood count –WBC) rendah pada infeksi

virus. Pada penderita pneumonia umumnya, jumlah leukosit

10
(sel darah putih ) dapat melebihi batas normal yaitu

10.000/mikroliter (Christie, 2004)

2).Pemeriksaan Radiologis

Pada pemeriksaan radiologis ini memberi gambaran bervariasi yaitu:

a).Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia

b).Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris

c).Gambaran bronkopneumonia difus atau infiltrat insertitialis pada

Pneumonia stafilokok.

d).Pemeriksaan sputum

3).Pemeriksaan mikrobiologis berupa pemeriksaan sputum smear dan

sputum kultur gram. Spesimen pemeriksaan ini berasal dari usap

tenggorok, sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau

aspirasi paru (Said, 2008).

6. Penatalaksanaan Pneumonia

Penatalaksanaan Pneumonia diberikan berdasarkan etiologi dan uji

resistensi, akan tetapi, karena hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi

secepatnya maka biasanya diberikan (Navdeep K. Brar,2011)

- Penisilin 50.000 u/kg BB/hari ditambah dengan kloramfenikol

50-70 mg/kg BB/hari atau diberikan antibiotik yang

mempunyai spectrum luas seperti ampisilin. Pengobatan ini

diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.

11
- Pemberian oksigen dan cairan intravena biasanya diperlukan

campuran glukosa 5 % dan NACL 0,9 % dalam perbandingan

3:1

- Pada umumnya pasien pneumonia sering jatuh dalam keadaan

asidosis metabolic akibat intake kurang dan hipoksia, maka

koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri.

7. Komplikasi Pneumonia

Pemberian terapi yang adekuat dapat mencegah timbulnya

komplikasi. Komplikasi pneumonia anak yaitu empiema torasis

(komplikasi tersering pada pneumonia bakteri), perikarditis purulenta,

miokarditis, pneumothoraks, atau infeksi ekstrapulmuner seperti

meningitis purulenta. Untuk pasien dewasa, pada umumnya terjadi

beberapa komplikasi seperti berikut (Bidwell Jacob L,2005):

a). Effusi Pleura

Pada pneumonia, infeksi parenkim paru akan menyebabkan

aktivasi makrofag alveolar yang akan mengeluarkan sitokin inflamasi yang

merangsang peningkatan permeabilitas vascular. Permeabilitas vascular

yang meningkat menyebabkan cairan kaya protein keluar dari vascular

menuju interstisial sehingga dapat menyebabkan effuse pleura eksudat.

b). Empiema

Empiema adalah akumulasi pus dan jaringan nekrotik di rongga

pleura. Empiema dapat terjadi apabila infeksi di parenkim paru menyebar

hingga ke rongga pleura. Pembentukan empiema dapat dibagi menjadi tiga

12
tahap yaitu tahap eksudatif, fibropurulent, dan organizational. Pada tahap

eksudatif terjadi akumulasi cairan di rongga pleura yang disebabkan oleh

inflamasi dan peningkatan permeabilitas di pleura visceral. Tahap

fibropurulent dimulai dengan invasi bakteri di rongga pleura dan ditandai

dengan deposisi fibrin pada membrane pleura visceral dan parietal serta

pembentukan septa fibrin, lokulasi, dan adhesi. Aktivitas metabolic yang

tinggi menyebabkan rendahnya konsentrasi glukosa dan penurunan kadar

pH, dan lisis neutrophil menyebabkan peningkatan kadar LDH.

c). Abses Paru

Abses paru adalah nekrosis jaringan pulmoner dan pembentukan

kavitas yang berisi debris nekrotik atau cairan yang disebabkan infeksi

bakteri.

8. Penyulit Pneumonia

Infeksi adalah penyebab paling umum dari hemoptisis, kurang lebih 60-70

persen dari kasus infeksi menyebabkan peradangan mukosa yang dangkal dan

edema yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah superfisial. Dalam

study retrospektif inap dan rawat jalan hemoptisis di Amerika Serikat, bronkitis

disebabkan 26 persen kasus, pneumonia menyebabkan 10 persen, dan tuberkulosis

menyumbang 8 persen. Bakteri invasif (misalnya, Staphylococcus aureus,

Pseudomonas aeruginosa) atau jamur (misalnya, spesies Aspergillus)

adalah penyebab infeksi yang paling sering hemoptisis. Virus seperti influenza

sering menyebabkan hemoptisis (Bidwell Jacob L,2005). Batuk darah sebenarnya

13
merupakan gejala yang menyertai pneumonia, namun batuk darah menjadi

penyulit apabila batuk darah berjumlah banyak / profuse.

B.BATUK DARAH (HEMOPTISIS)

1. Definisi Hemoptisis

Haemoptisis adalah dahak yang bercampur darah yang dikeluarkan saat

batuk yang berasal dari saluran pernafasan bagian bawah (glotis ke arah distal).

Definisi lain Hemoptisis adalah setiap proses yang mengakibatkan terganggunya

kontinuitas aliran pembuluh darah paru-paru dapat mengakibatkan perdarahan.

Batuk darah merupakan bagian dari tanda dan gejala pneumonia, namun batuk

darah akan menjadi penyulit apabila terjadi dalam jumlah ( lebih dari 200cc/ hari

atau profuse). Batuk darah pada pneumonia terjadi akibat ulserasi mukosa

bronkhus, gangguan pembekuan darah, peningkatan permeabilitas dinding

pembuluh darah dan akibat hipervaskularisasi pada parenkhim paru (Lordan

JL,2003).

2.Perbedaan Haemoptisis dan Hematemesis

Dalam penanganan batuk darah (haemoptisis) diperlukan ketepatan dasn

kecepatan , khususnya pada batuk darah yang massive /profuse, maka hendaknya

dapat membedakan antara batuk darah dan muntah darah, agar tidak melakukan

kesalahan dalam penanganan. Dibawah ini terdapat perbedaan antara batuk darah

dan muntah darah.

14
Hemoptysis Hematemesis

History History
Absence of nausea and vomiting Preserence of nausea and vomiting
Lung disease Gastric or hepatic of disease
Asphyxia possible Asphyxia unusual
Sputum examination Sputum examination
Frothy Rarely frothy
Liquid or clotted appearance Coffe ground appearance
Bright red or pink Brown to black
Laboratory Laboratory
Alkaline pH Acidic pH
Mixed with macrophages and neutrophils Mixed with food particles

Tab.II.B.1.Dikutip dari: Bidwell Jacob L,2005.Haemoptysis: Diagnosis and management,


American Family Phisician.vol.72,no.7

3.Klasifikasi Batuk darah

Klasifikasi batuk darah dapat dipandang dari dua sudut yaitu: berdasarkan

volume darah yang dikeluarkan dan berdasarkan frekwensi batuk darah

(Lordan,JL, 2003)

a). Berdasarkan volume darah yang dikeluarkan:

- Derajat 1 ( blood streak)

- Derajat 2 (1-30 cc/24 jam)

- Derajat 3 ( > 30-150 cc /24 jam)

- Derajat 4 (> 150-500 cc /24 jam)

- Derajat 5 /Massive (> 500 cc/24 jam)

b). Berdasarkan frekwensi terjadinya Batuk darah:

- Single haemoptisis (interval kejadian haemopts < 7 hari )

- Repetaed haemoptisis (interval kejadian haemopts > 7 hari )

15
4. Diferential Diagnosis Haemoptisis

Berdasarkan asal darah yang dibatukkan atau atau berdasarkna sumber

perdarahannya, maka perlu diketahui tentang differential diagnosis pada batuk

darah.

Differential Diagnosis of Hemoptysis


Source other than the lower Pulmonary parenchymal source Primary vascular source
Respiratory tract Lung abscess Arteriovenous malformation
Upperairway (nasopharyngeal) Pneumonia Pulmonary embolism
Gastrointestinal bleeding Tuberculosis Elevated pulmonary venous
Tracheobronchial source Mycetoma pressure (mitral stenosis)
Neoplasm(bronchogenic carcinoma, Goodpasture’s syndrome Pulmonary artery rupture secondary
endobronchial metastatic tumor, Idiopathicpulmonary hemosiderosis to balloon-tip pulmonary artery
Kaposi’s sarcoma, bronchial carcinoid) Wegener’s granulomatosis catheter manipulation
Bronchitis (acute or chronic) Lupus pneumonitis Misscellaneous and rare causes
Bronchiectasis Long contusion Pumonary endometriosis
Broncholithiasis Systemic coagulopathy or use of
Airway trauma anticoagulants or thrombolytic
Foreign body agents
Tab.II.B.2.Dikutip dari: Bidwell Jacob L,2005.Haemoptysis:Diagnosis and management,
American Family Phisician.vol.72,no.

5.Penanganan Batuk Darah

Tujuan penanganan pasien dengan hemoptisis non massive atau

hemoptisis massive adalah sama yaitu: menghentikan perdarahan, mencegah

aspirasi dan mengobati penyebab yang mendasari. Penanganan pada haemoptisis

massive lebih diutamakan pada penanganan kegawat daruratannya. Haemoptisis

massive, merupakan kondisi yang berpotensi serius, maka lakukan evaluasi

Airway-Breath-Circulation (ABC) yaitu: bebaskan saluran napas, periksa fungsi

pernapasan dan periksa fungsi sirkulasi (Bidwell Jacob.L.dkk,2005)

Mencegah aspirasi dengan cara: Posisi tredelendurg, bebaskan jln. napas

dan miring ke posisi paru yang sakit agar tidak terjadi aspirasi ke paru yang sehat

dan membuat pembuluh darah paru sehat terjepit, shg perdarahan cepat teratasi /

16
berhenti, pasang infuse, penghisapan darah dan pengambilan bekuan yang

dijumpai. Cegah kehilangan banyak darah (Eksanguination) dengan cara:

menghentikan sumber perdarahan, memberi obat Koagulansia, fresh-frozen

plasma dan tranfusi faktor pembekuan /platelet transfusions, FOB (suction darah

dan cari lokasi perdarahan), Rigid bronchoscopy (penghisapan darah yang

menggumpal an mudah),Endobrachial tamponade (balon kateter tamponade) dan

Embolization (pada a. Bronkialis),Cauterization,Laser photocoagulation dan

Reseksi paru (Lordan,JL, 2003)

Bahaya utama batuk darah adalah terjadi penyumbatan trakea dan saluran

nafas, sehingga timbul sufokasi yang sering fatal. Penderita tidak nampak anemis

tetapi sianosis, hal ini sering terjadi pada batuk darah masif (600-1000 cc/24 jam).

Karena saluran nafas tersumbat, maka paru bagian distal akan kolaps dan terjadi

atelektasis. Pneumonia aspirasi merupakan salah satu penyulit yang terjadi karena

darah terhisap kebagian paru yang sehat Akibat kehilangan banyak darah sampai

syok hipovolemi dan Anemia (Lordan,JL, 2003)

17
BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

Demam
Gejala
Batuk
Sesak klinis
Nyeri dada
Batuk Darah

Gerakan paru sakit Inspeksi


tertinggal

Fremitus raba asimetri Pemeriksaan


Palpasi
Fremitus suara meningkat
Fisik
Redup Perkusi

Bronchovesikuler Auskultasi

Konsolidasi infiltrat Foto dada

Darah lengkap
Pemeriksaan
SGOT SGPT Darah
penunjang
Bun Screat
Faal Haemostasis

Sputum smear gram Sputum


Sputum Kultur gram

Posisi trendelenburg
Bebaskan jalan
Kegawatan
napas
Haemoptisis Profuse
Pemberian Cairan Penanganan
Oksigenasi
Koagulansia Konservative
Pneumonia
Antibiotika
Antitusif

18
Penjelasan Kerangka Konseptual:

Gejala klinis pada pneumonia antara lain: Demam, malaise, batuk

berdahak, sesak napas dan nyeri dada merupakan gejala umum yang dijumpai

pada Pneumonia, sedangkan batuk darah merupakan bagian dari gejala tambahan

yang kadang dijumpai pada Pneumonia.

Pemeriksaan fisik pada Pneumonia dijumpai : Inspeksi: pengembangan

paru tidak simetris pada sisi paru yang sakit, ada pengunaan dan retraksi otot

bantu nafas. Pada Palpasi: pengembangan paru tertinggal pada area konsolidasi,

fremitus raba pada daerah konsolidasi meningkat. Pada Perkusi: bunyi redup pada

area konsolidasi, sedangkan pada Auskultasi: bunyi nafas berkurang, bisa

terdengar wheezing dan ronchi pada daerah konsolidasi.

Pemeriksaan penunjang pada Pneumonia antara lain: Foto thoraks/ chest x

ray, sputum smear dan kultur, darah lengkap. Pada penatalaksanaan dibagi atas

penangan kegawat daruratan pada haemoptisis profuse dan penanganan

konservative pada pneumonia pada umumnya. Untuk penangan kegawat daruratan

pada haemoptisis profuse dilakukan pemberian cairan, membebaskan jalan napas

serta mengurangi perdarahan dengan pemberian koagulansia (transamin).

Sedangkan untuk penanganan konservative dengan antibiotika broad spectrum,

terapi simptomatik dengan pemberian Oksigenasi, anti tusive (codein), Antipiretik

(parasetamol).

19
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis rancangan penelitian ini adalah penelitian observasional yaitu

melakukan pengamatan terhadap subjek dari waktu ke waktu dengan pendekatan

cross sectional.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Muhamadiyah Gresik. Waktu

penelitian: 1. Pembuatan Proposal : April 2014

2. Pengumpulan Data : April 2014

3. Analis Data : Desember 2014

C. Sampel Penelitian

1). Besar Sampel Penelitian

Sampel yang diteliti adalah seorang pasien yang telah didiagnose sebagai

Pneumonia dengan penyulit batuk darah

2). Kriteria Inklusi

a). Seorang pasien yang telah didiagnose sebagai Pneumonia dengan penyulit

batuk darah yang datang ke UGD dan menjalani rawat inap di Ruang Rawat

Inap Dewasa Umum (RDU) Rumah Sakit Muhamadiyah Gresik.

b).Pasien Pneumonia dengan penyulit batuk darah yang diambil ditangani

langsung oleh dokter spesialis paru (dokter yang memiliki gelar dalam

bidang paru)

c). Mendapat ijin pengambilan sampel dari Direktur Rumah Sakit

20
Muhamadiyah Gresik

3). Kriteria Eksklusi

Pasien menolak menanda tangani “inform concent”

D. Prosedur dan Tekhnik Pengambilan Sampel

Pasien yang dipilih dalam penelitian ini diambil secara nonprobability

sampling dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel

dengan pertimbangan tertentu (sugiyono, 1999). Adapun pertimbangan tertentu

yang dihadapi adalah masalah perijinan pengambilan data pasien ke menjalani

rawat inap di Ruang Rawat Inap Dewasa Umum (RDU) yang didiagnose sebagai

Pneumonia dengan penyulit batuk darah di Rumah Sakit Muhamadiyah Gresik.

E.Variabel Penelitian

1). Gejala klinis

2). Pemeriksaan Fisik

3). Pemeriksaan Penunjang

4). Pengobatan kegawatan dan Konservative

F. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat ukur


1 Pneumonia Peradangan yang mengenai parenkim paru, distal Anamnesa
dari bronkiolus terminalis yang mencakup Pemeriksan Fisik
bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta Foto thoraks
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat
2 Batuk darah Ekspektorasi darah akibat pecahnya pembuluh Anamnesa
darah pada saluran napas atau parenkhim paru
3 Batuk darah Batuk darah dengan jumlah darah yang di Anamnesa
Profuse keluarkan lebih dari 200cc/ hari

21
G. Prosedur Penelitian

Pengurusan surat perijinan penelitian laporan kasus


ke ruang rawat inap RS yang bersangkutan

Mendapat ijin melakukan penelitian


laporan kasus

Pengumpulan data

Data dari Data dari Data dari


pasien pemeriksaan Pemeriksaan
(anamnesis) fisik penunjang

Data diolah menggunakan tabel isian

Analisis data

Gejala Pemeriksaan Pemeriksaan


klinis fisik penunjang

Penanganan Pneumonia
dengan penyulit batuk darah

22
H. Instrumen Penelitian

1). Alat

Tabel isian untuk Pencatatan dan Pengelolaan Data yang berupa

Anamnesa, pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan penunjang

2). Bahan

Data Primer: Pasien Pneumonia dengan penyulit batuk darah

Data Sekunder: Rekam medis pasien Pneumonia dengan penyulit batuk

darah

23
BAB V

HASIL

A.KASUS

1.Anamnesa

a. Identitas Penderita

Seorang pasien NN.V,berusia 16 tahun, agama: Islam, alamat: Jl. Sindujoyo

XVI/40 Gresik, pekerjaan: Pelajar SMA, pendidikan terakhir: SMP, datang ke

Unit Gawat Darurat (UGD) RS Muhammadiyah Gresik, pada hari jumat 4 April

2014 pukul 21.45 WIB,dengan keluhan utama batuk darah.

b.Keluhan Utama: Batuk darah

c.Riwayat Penyakit Sekarang

Penderita mengeluh batuk darah sejak satu hari sebelum datang ke UGD RS

Muhammadiyah Gresik, warna darah merah segar berbuih, volume 2 sdm (30cc)

terjadi berkali kali (total 200 cc/hari), darah makin banyak dikeluarkan, bila

penderita batuk makin keras, terasa panas didada. Batuk lama kurang lebih 1

minggu sebelum Masuk Rumah Sakit (MRS). Badan terasa panas (mriang) sejak 3

hari sebelum MRS.

d.Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat minum Obat Anti TB (OAT) atau obat asma ( disangkal), tidak pernah di

rawat di Rumah Sakit sebelumnya dan Tidak ada riwayat Darah Tinggi atau

Kencing Manis

24
e.Riwayat Penyakit Keluarga

Ibu penderita menderita TB paru saat ini dalam pengobatan. Tidak ada riwayat

Darah Tinggi atau Kencing Manis dalam keluarga

f.Riwayat Sosial

Penderita tidak merokok dan tidak pernah minum alkohol

2.Pemeriksaan Fisik (Jumat, 4 April 2014, pukul 21.45 WIB)

Penderita datang ke UGD dengan kesan umum lemah dan agak gelisah serta

nampak sedikit bercak darah dibajunya, tekanan darah: 110/70 mmHG, nadi:

88/mt, respiratory rate (RR): 20/mt dan suhu tubuh: 37,80C. BB: 50 Kg, TB: 162

Cm. Kepala Leher: dijumpai anemis, tidak dijumpai icterus, tidak dijumpai

sianosis, tidak dijumpai dyspnea, tidak dijumpai peningkatan JVP dan

pembesaran kelenjar. Pada regio thoraks dijumpai hal berikut:

Inspeksi:Gerakkan napas simetri, bentuk dada: normal dan tidak ditemukan

kolateral ; Palpasi: fremitus raba : simetri; fremitus suara: sedikit menurun pada

lapangan paru ICS enam midclaviculae lapangan paru bawah depan kanan;

Perkusi: sedikit redup pada lapangan paru ICS enam midclaviculae apangan paru

bawah depan kanan dan Auskultasi: Bronkho vesikuler pada lapangan paru ICS

enam midclaviculae lapangan paru bawah depan kanan , serta dijumpai suara

tambahan berupa ronkhi basah kasar pada lapangan paru pada ICS enam

midclaviculae apangan paru bawah depan kanan.

Jantung: S1-S2 tunggal, Murmur dan Ekstra sistolik: tidak dijumpai. Abdomen:

Hepar/Lien: tak teraba, Meteorismus (-), Bising Usus (+). Ekstremitas: Edema

25
tungkai atau lengan tidak dijumpai, jari tabuh dan pembesaran kelenjar tidak

ditemukan.

3.Pemeriksaan Penunjang (Jumat, 4 April 2014, pukul 21.45 WIB)

a). Darah Rutin : Hemoglobin: 8,8 g/dl, Lekosit: 18.200 /UL, trombosit

284.000/UL,

b). Kimia Klinik: GDA: 97mg/dl, SGOT: 20 IU/L,SGPT:21 IU/L, BUN: 8,5

mg/dl, S Creat: 0,8 mg/dl, Kalium: 3,93 mmol/L, Natrium:139,43mmol/L,

Chlorida:11,98mmol/L

c). Foto Thoraks: Posisi foto PA, inspirasi maksimal, kedua sinus costo

phrenicus nampak infiltrate pada para cardial kiri, CTR < 50% (Konsolidasi

paracardial kiri)

B. Daftar masalah :

1). Batuk darah sejak 1 hari yll (+ 200cc / hari)

2). Batuk lama (1 minggu)

3). Panas badan / mriang sejak 3 hari yll

4). Riwayat keluarga: Ibu penderita menderita TB paru dalam pengobatan

26
5). Anemia

6).Tanda konsolidasi pada pemeriksan fisik paru

7).Hemoglobin: 8,8 g/dl

8).Lekosit: 18.200 /UL

9).Konsolidari paracardial kiri pada gambaran radiologi

C.Analisa yang dikembangkan berdasarkan data dari daftar masalah:

No Masalah Planning Dx Planning Tx Planning Mo


1 Batuk Darah: Faal Hemostasis Adona 3x1 ampul IV Vital sign
Ass: Haemoptisis Transamin 3x1 ampul IV Batuk darah
Codein 3x10 mg PO

2. Hb: 8,8 g/dl Smear darah tepi Transfusi PRC Vital sign
Ass: Anemis Faal Haemostais 2 kolf/hari s/d HB> 10% HB

3 Batuk Smear Sputum gram Levofloxacin500mg-0-0 IV Vital sign


Panas badan Kultur Sputum gram Paracetamol 3x500mg IV Klinis
t:37,80C,leko:18.200/ UL
Ro:Konsoldasi
Ass: Pneumonia

4 Batuk lama Smear Sputum Tergantung Vital sign


Kontak TB (+) BTA SPS hasil sputum BTA Klinis
Ass: Susp. TB

27
D. Squence Of Even (SOE) Pneumonia dengan Haemoptisis

Bakteri gram +/-

v
v
Saluran napas
s/d alveoli- intertitial

Sitokine IL-6 Demam


v
v
Reaksi inflamasi

Meningkatkan
Bradikinin
Merangsang receptor Iritasi pembuluh darah
batuk pada bronkhus sepanjang saluran napas
s/d alveoli- intertitial
Keras Nyeri dada
Batuk Pembuluh darah sepanjang
saluran napas robek

Haemoptisis

E. Perkembangan Penderita

1. Penanganan Pasien hari pertama pada hari Jumat , 4 April 2014, jam

21.45 WIB di Ruang Rawat Inap Dewasa RS Muhammadiyah Gresik

a).Subjective

- Batuk Darah (200 cc/hari)

- Panas Badan

- Riwayat Kontak TB (+)

b). Objective

- Kesan Umum : lemah dan agak gelisah

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

28
* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 37,80C

* Respirasi Rate : 20/mt

-Pemeriksan Fisik:

Inspeksi:Gerakkan napas simetri, bentuk dada: normal dan tidak

ditemukan kolateral ; Palpasi : fremitus raba : simetri; fremitus suara:

sedikit menurun pada lapangan paru ICS enam midclaviculae lapangan

paru bawah depan kanan; Perkusi: sedikit redup pada lapangan paru ICS

enam midclaviculae apangan paru bawah depan kanan dan Auskultasi:

Bronkho vesikuler pada lapangan paru ICS enam midclaviculae lapangan

paru bawah depan kanan , serta dijumpai suara tambahan berupa ronkhi

basah kasar pada lapangan paru pada ICS enam midclaviculae lapangan

paru bawah depan kanan

- Hasil laboratorium:

* Darah Rutin : HB: 8,8 g/dl, Lekosit: 20.200 /UL,

Trom:284.000/UL,

* Kimia Klinik: GDA: 97mg/dl, SGOT: 20 IU/L,SGPT:21 IU/L,

BUN: 8,5 mg/dl, S Creat: 0,8 mg/dl, Kalium: 3,93 mmol/L,

Natrium:139,43mmol/L, Chlorida:11,98mmol/L

* Faal Hemostasis: PPT: 8,9 dan APTT: 32,1

* Foto thoraks PA: Konsolidasi paracardial kiri

c). Assesment

29
* Haemoptisis Profuse

* Anemia

* Pneumonia lobus inferior kiri

d). Planning

- Planning Diagnose :

Smear darah tepi

- Planning Terapi :

Posisi trendelenburg-Bebaskan jalan napas- miring ke sisi sakit

Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

Tranfusi PRC 2 kolf/hari sampai HB > 10 grm%

Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

Adona 3 x 1 ampul IV

Transamin 3 x 1 ampul IV

Novalgin 3 x 1 ampul IV

Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring:

Vital sign, Batuk darah dan cek HB post tranfusi 2 kolf

- Planing Edukasi :

Bila batuk keluar darah jangan ditahan atau ditelan, biarkan keluarkan

dan ditampung pada bengok di samping penderita.

Posisi trendelenburg miring kesisi sakit (sisi kiri).

Nasehat cara penularan Pneumonia lewat udara (titik ludah penderita

yang terhirup oleh orang lain didekatnya).

30
Makan teratur dan bergizi.s

2). Penanganan Pasien hari kedua pada hari sabtu, 5 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (100 cc/hari)

- Panas Badan

b). Objective

- Kesan Umum : lemah dan lebih tenang

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 37,8 0C

* Respirasi Rate : 20/mt

-Pemeriksan Fisik:

Keadaan dalam Pemeriksaan Fisik penderita sama dengan pemeriksaan

fisik pada hari jumat, 4 April 2014

-Hasil laboratorium: tidak ada

c). Assesment

* Haemoptisis (berkurang)

* Anemia (sedang tranfusi)

* Pneumonia inferior kiri

d). Planning

- Planing Diagnose :

31
Tunggu hasil Sputum BTA, Sputum Gram dan

Kultur Sputum Gram (+ tes epekaan terhadap antibiotika)

Cek HB (Post tranfusi 2 kolf)

- Planing Terapi :

- Posisi trendelenburg-bebaskan jalan napas- miring ke sisi sakit (kiri)

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign, Batuk darah dan HB (Post tranfusi)

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

jumat, 4 April 2014

3). Penanganan Pasien hari ketiga pada minggu, 6 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (15-30 cc/ hari)

- Panas Badan

b). Objective

- Kesan Umum : lemah dan agak gelisah

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

32
* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 37,50 C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

Keadaan dalam Pemeriksaan Fisik penderita sama dengan pemeriksaan

fisik pada hari sabtu, 5 April 2014

- Hasil laboratorium:

Sputum BTA -/-/- , Sputum Gram: gram positip cocuss

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

* Pneumonia inferior kiri

d). Planning

- Planing Diagnose :

tunggu hasil Sputum BTA, Sputum Gram dan Kultur Sputum Gram

- Planing Terapi :

- Posisi trendelenburg-bebaskan jalan napas- miring ke sisi sakit (kiri)

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

33
- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Sabtu, 5 April 2014

4). Penanganan Pasien hari keempat, senen 7 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (15-30 cc/ hari)

- Panas Badan

b). Objective

- Kesan Umum : lemah dan agak gelisah

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 38,20C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

Keadaan dalam Pemeriksaan Fisik penderita sama dengan pemeriksaan

fisik pada hari minggu, 6 April 2014

- Hasil laboratorium:

HB: 11,5 gr%, Leko: 13.300 sel/cm3, Trombo: 269.000 sel/cm3

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

34
* Pneumonia inferior kiri

d). Planning

- Planing Diagnose : tunggu hasil Sputum BTA (SPS)

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Senen, 7 April 2014

4). Penanganan Pasien hari ke lima, selasa 8 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (Blood Streak)

- Panas Badan

b). Objective

- Kesan Umum : cukup baik

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

35
* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 380C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

- Hasil laboratorium: tidak ada

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

* Pneumonia inferior kiri

d). Planning

- Planing Diagnose : Pemeriksaan Darah Lengkap

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

36
- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Selasa, 8 April 2014

5). Penanganan Pasien hari ke enam, rabu 9 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (Blood Streak)

b). Objective

- Kesan Umum : nampak lebih segar

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 37,20C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

- Hasil laboratorium: tidak ada

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

* Pneumonia inferior kiri

37
d). Planning

- Planing Diagnose : tunggu hasil Sputum BTA (SPS) dan Thoraks foto

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Selasa, 8 April 2014

6). Penanganan Pasien hari ke tujuh, kamis 10 April 2014

a).Subjective

- Batuk Darah (Blood Streak)

- b). Objective

- Kesan Umum : nampak lebih segar

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 370C

38
* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

- Hasil laboratorium:

Hemoglobin: 12,5 g/dl, Lekosit: 6.300 /UL, trombos 269.000 /UL

-Hasil Radiologi: Konsolidasi berkurang

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

* Pneumonia inferior kiri

d). Planning

- Planing Diagnose : tunggu hasil Sputum BTA (SPS)

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

39
Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

rabu, 9 April 2014

7). Penanganan Pasien hari ke delapan, jumat,11April 2014

a).Subjective

- Batuk kadang kadang

b). Objective

- Kesan Umum : nampak lebih segar

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

* Suhu : 370C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

- Hasil laboratorium:

Sputum Kultur: Streptococus Haemoliticus dan Enterobacter Sp

c). Assesment

* Haemoptisis minimal

* Pneumonia inferior kiri

40
d). Planning

- Planing Diagnose :

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Kamis, 10 April 2014

8). Penanganan Pasien Hari ke Sembilan, sabtu 12 April 2014

a).Subjective

- Batuk kadang kadang

b). Objective

- Kesan Umum : nampak lebih segar

- Kesadaran : Compos Mentis (CM)

- Vital Sign :

* Tensi : 110/70 mmHG

* Nadi : 88/mt

41
* Suhu : 370C

* Respirasi Rate : 20/mt

- Pemeriksan Fisik:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

- Hasil Foto thoraks:

c). Assesment

* Pneumonia inferior kiri (membaik)

d). Planning

- Planing Diagnose : tunggu hasil Sputum BTA (SPS)

- Planing Terapi :

- Posisi terlentang flat

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Levofloxacin 500 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

42
- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

- Planing Monitoring: Vital sign dan Batuk darah

- Planing Edukasi :

Edukasi yang dilakukan saat ini sama dengan edukasi tanggal pada hari

Jumat, 11 April 2014

F. Resume Perkembangan Perawatan Penderita:

Dari hasil pemeriksaan fisik atau gejala klinis :

Keluhan batuk darah dijumpai berangsur angsur berkurang dan berhenti

Keluhan panas badan berangsur angsur berkurang dan menghilang

Dari hasil Fisik penderita didapatkan bahwa :

Pada Pemeriksaan fisik yang awalnya pada Palpasi dijumpai :

fremitus suara: sedikit menurun pada lapangan paru ICS

enam midclaviculae lapangan paru bawah depan kanan; Perkusi:

sedikit redup pada lapangan paru ICS enam midclaviculae apangan

paru bawah depan kanan dan Auskultasi: Bronkho vesikuler pada

lapangan paru ICS enam midclaviculae lapangan paru bawah

depan kanan , dijumpai Ronkhi basah kasar paru ICS enam

midclaviculae lapangan paru bawah depan kanan .

Pada Pemeriksaan fisik akhir dijumpai:

*Inspeksi : dalam batas normal (dbn)

*Palpasi : dalam batas normal (dbn)

43
*Perkusi : dalam batas normal (dbn)

*Auskultasi : dalam batas normal (dbn)

Hasil foto thoraks hari senen tanggal 20 April (saat kontrol poli paru):

44
BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.Detail Rancangan, Prosedur dan Variabel Penelitian

1). Detail Rancangan

Pengurusan Surat Ijin Penelitian “Laporan Kasus” Ke


Ruang Rawat Inap RS Yang Bersangkutan

Memperoleh ijin melakukan penelitian


“Laporan Kasus”

PENGUMPULAN DATA

Data Data Pemeriksaan Data Penunjang Penanganan


Anamnesa Fisik Diagnose
Pemerksan Fisik

Data Diolah Menggunakan Tabel

ANALISA DATA

45
2). Prosedur Penelitian

Penelitian diawali dengan pengurusan Surat Ijin Penelitian dari Fakultas

Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ke bagian Diklit Rumah

Muhammadiyah Gresik. Setelah mendapat balasan berupa ijin untuk melakukan

penelitianPeneliti segera mengurus ijin ke Kepala Ruangan Rawat Inap . Setelah

mendapat ijin dari Kepala Ruangan Rawat Inap, maka peneliti dapat membuka

Rekam Medik atas nama Nn. V,umur: 16, dirawat di Ruang Rawat Inap dewasa

RDU , sejak 4 April – 12 April 2014.

Selama proses penelitian, Peneliti selalu melakukan kunjungan kepada

pasien didampingi dokter spesialis yang bertanggung jawab terhadap pasien.

Pengumpulan data berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik yang

dilakukan oleh dokter spesialis. Kunjungan ke pasien dilakukan selama 8 hari

berturut turut. Selain dari kunjungan, Peneliti juga mengumpulkan data data dari

Medical Record pasien. Identitas pasien, keluhan pasien, hasil pemeriksaan fisik,

hasil radiologi dan laboratorium, serta terapi yang diterima pasien sejak masuk ke

Ruang Rawat Inap Dewasa RS Muhammadiyah Gresik Tgl 4 April hingga pasien

keluar dari Rumah Sakit tgl 12 April 2014. Selanjutnya dsata data yang sudah

dikumpulkan, kemudian diolah dan disajikan dalam format Tugas Akhir dan

dicantumkan dalam BAB V s/d BAB VI

3). Variabel Penelitian

Pada Penelitian ini yang menjadi variabel adalah pasien bernama: Nn.V,

umur: 16 tahun, jenis kelamin: perempuan, pekerjaan: Pelajar SMA, agama: Islam

Pada penelitian ini data diperoleh dengan hetero/ auto anamnesa, pengamatan dan

46
observasi langsung, pemeriksaan fisik dan menelaah catatan medis dan catatan

keperawatan.

Pasien dibawa oleh keluarganya ke UGD RS Muhammadiyah Gresik pada

jam 21.45 WIB dengan keluhan utama batuk darah disertai panas badan. Pasien

diadiagnose sebagai Pneumonia disertai pemberat Haemoptisis Profus dan dirawat

dirawat inap di Ruang Dewasa Umum (RDU) RS Muhammadiyah Gresik

B.Pembahasan Hasil Penelitian

1). Gejala Klinis

April 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Batuk 200 100 15- 15- Blood Blood Blood Clear Clear
Darah/hr cc cc 30 30 streak streak streak
cc Cc

2). Pemeriksaan Vital Sign

47
3). Hasil Pemeriksaan Fisik

Keterangan 4 - 7 April 2014 8 – 9 April 2014 10 -12 April 2014

Inspeksi Gerak dada Simetri Gerak dada Simetri Gerak dada Simetri
Palpasi Fremitus suara meningkat Fremitus suara Fremitus suara atau
ICS 6 midclav lap paru meningkat fremitus vocal
bawah kanan depan ICS 6 midclav lap sama / simetri
paru bawah kanan
depan
Perkusi Redup Redup Sonor di kedua
ICS 6 midclav lap paru ICS 6 midclav lap lapangan paru
bawah kanan depan paru bawah kanan
depan
Auskultasi Bronkhovesikuler Bronkhovesikuler Vesikuler di kedua
ICS 6 midclav lap paru ICS 6 midclav lap lapangan paru
bawah kanan depan paru bawah kanan Tidak dijumpai
Ronkhi basah kasar pada depan Rnkhi atau
paru kanan dan kiri bawah whwzzing

2). Hasil Pemeriksaan Penunjang

a). Fungsi Hati

Pemeriksaan Fungsi Hati (4 April 2014)

Kimia Klinik diperiksa Hasil Nilai normal


SGOT 20 U/L < 31 U/L
SGPT 21 U/L < 31 U/L

b). Fungsi Ginjal

Pemeriksaan Fungsi Ginjal (4 April 2014)


Kimia Klinik diperiksa Hasil Nilai normal
BUN 8,5 mg/dl 10 – 20 mg/dl
S Creatinin 0,8 mg/dl 0,7 - 1,2 mg/dl

48
c). Analisa Serum elektrolit

Pemeriksaan Elektrolit (4 April 2014)


Kimia Klinik diperiksa Hasil Nlai normal
Natrium 139,43 mmol/L 135 – 148 mmol/L
Kalium 3,93 mmol/L 3,5 – 5,3 mmol/L
Chloride 111,98 mmol/L 98 – 107 mmol/L

d). Faal Hemostasis

Pemeriksaan Faal Hemostasis


Kimia Klinik diperiksa Hasil Nilai normal
PTT(darah) 8,9 (C: 8,4 detik) C +/ - 2
KPTT (serum) 32,1 (C: 25,6 detik) C +/ - 7

f).Mikrobiologi

Pemeriksaan Sputum Smear BTA dan Gram


Kimia Klinik diperiksa Hasil Nilai normal
Smear Gram (6 April2014) Kuman gram positip _
Cocus
Smear BTA (6 April2014) BTA - /- / -
Gram kultur (12 April 2014) Streptococus Beta _
Hemoliticus
Enterobacter Sp

e).Darah Lengkap

Pemeriksaan Darah Lengkap

Sel yang 4 April 2014 7 April 2014 10 April 2014 Harga Normal
diperiksa
HB g% 8,8 11,5 12,5 12-14
Leko /UL 20.200 13.300 6.300 4.000-11.000
Trombo /UL 284.000 269.000 269.000 150.000-450.000
PCV % 37,6 35,2 35,2 35-47

49
g. Foto Thoraks

4 April 2014 11 April 2014 21 April 2014

Perselubungan (pada Perselubungan (pada Perselubungan (pada


paracardial sinitra dan paracardial sinitra dan paracardial sinitra dan
dekstra (konsolidasi) dekstra menipis(konsolidasi) dekstra menghilang

3).Hasil Terapi

Secara keseluruhan, terapi yang diterima pasien dari awal pertama kali

masuk Rumah Sakit sampai dengan pasien keluar dari Rumah Sakit tidak terdapat

perbedaan yang signifikan, artinya saat penderita di rawat di Rumah sakit

berbagai macam obat dengan berbagai fungsi diberikan dalam bentuk parenteral

atau obat injeksi, setelah pasien keluar dari Rumah Sakit, maka berbagai obat

dengan berbagai fungsi tersebut diberikan secara per oral. Rangkaian terapi yang

diberikan antara lain:

- Posisi trendelenburg-Bebaskan jalan napas- miring ke sisi sakit

- Infus Ringer Laktat 1500cc / 24 jam

- Tranfusi PRC 2 Kolf

- O2 : 3-4 liter / menit

50
- Levofloxacin 1 grm-0-0 Drip

- Adona 3 x 1 ampul IV

- Transamin 3 x 1 ampul IV

- Novalgin 3 x 1 ampul IV

- Codein 3 x 10 mg PO

Berbagai penatalaksanan pada pasien baik berupa tindakan fisik maupun tindakan

pemberian obat secara parenteral / Intra Vena maupun Per Oral, adalah sebagai

berikut:

a). Posisi Trendelenburg-Bebaskan jalan napas-Miring ke sisi sakit

Pada penanganan haemoptisis profuse hendak nya pasien diposisikan

Trendelenburg, artinya posisi kepala lebih rendah daripada kaki, dilanjutkan

denga pembebasan jalan napas yang bertujuan mengeluarkan benda asing

(dahak,darah dan kotoran) dalam saluran napas, sehingga jalan napas menjadi

terbuka. Selain jalan napas dibebaskan, penderita diposisikan miring ke sisi paru

yang mengalami infeksi (spesifik/ non spesifik) agar pembuluh darah yang

diduga pecah di lokasi paru yang diduga sebagai sumber perdarahan. Dengan

miring kesisi sakit, maka diharapkan sumber perdarahan atau pembuluh darah

dilokasi dapat ditekan, sehinga perdarahan dapat berhenti.

b). Infus Ringer Laktat

Pada pasien dengan haemoptisis profuse akan terjadi kehilangan cukup banyak

darah dan cairan darah, oleh karena itu pemberian cairan dalam hal ini 1500cc RL

untuk mengatasi atau mencegah hipovolemik sangat dibutuhkan.

c). Oksigen

51
Pada pasien dengan haemoptisis profuse akan terjadi kehilangan cukup banyak

darah, akibat hilang sel darah merah, maka kadar Oksigen yang diikat oleh HB

darah akan berkurang tergantung banyakknya drah yang hilang. Dengan alas an

tersebut, maka oksigen supply dari luar sangat dibutuhkan.

d). Levofloxacin

Antibiotika sangat diperlukan untuk mengatasi infeksi non spesifik ( khususnya

pada bakteri pneumonia). Levofloxacin injeksi, merupakan anibiotika

broadspectrum, sehingga penangan radang paru (Pneumonia) dibutuh antibiotika

broad spectrum yang merupakan pemberian antibiotika secara adjuvant terapi,

sambil menunggu hasil kultur gram dengan bahan sampel dahak.

e). Tranfusi PRC

Mengatasi anemianya dengan memberikan sel darah merah pengganti sebanyak 2

kolf

f). Adona dan Transamin

Adona dan transamin, merupakan koagulansia yang cukup kuat dalam

menggumpalkan atau menghentikan perdarahan. Pemberian koagulansia dobel

bertujuan agar perdarahan cepat dapat dihentikan, walaupun dari pemeriksan Faal

Hemostasis normal

g). Novalgin

Pada Pneumonia dijumpai panas badan, maka secara simptomatik, novalgin

diperlukan unuk mengatasinya, namun pemberiannya dilakukan bila panas pasien

> 380C

h). Antitusive

52
Haemoptisis profuse terjadi akibat eahnya pembuluh darah dalam ogan paru yang

tejadi pada area infeksi atau perlukaan , dimana cara darah dikeluarkan dengan

dibatukkan dan batuk yang berkali kali atau frekwensi makin sering, maka

pembuluh darah akan terus pecah akibat batuk tidak cepat di hentikan atau ditekan

dengan Codein 3 x 10 mg PO

4). Kondisi terahir pasien

Setelah 8 hari dirawat di Rumah sakit, maka selanjutnya diputuskan unuk

melakukan rawat jalan dengan terapi pulang, sebagai berikut:

R// Levofloxacin 500mg-0-0 dan Codein 3 x 10 mg

Kontrol kembali 1 minggu sepulang dari Rumah Sakit dengan evaluasi DL

dan Foto thoraks.

53
BAB VII

KESIMPULAN

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari

bronkhiolus terminalis yang meliputi bronkhiolus respiratorius dan alveoli.

Pneumonia terjadi akibat terisinya alveoli oleh sel sel radang atau sering dikenal

dengan konsolidasi atau pemadatan. Akibat dari proses pemadatan atau

konsolidasi, maka pada pemeriksaan akan dijumpai penyimpangan, berupa

gerakan paru yang mengalami konslidasi akan tertingal, terjadinya peningkatan

fremitus suara, terai keredupan pada area konsolidasi dan peningkatan suara napas

dari vesicular menjadi bronkhovesikuler atau bronchial, juga dijumpai suara

bronkhofoni positip. Namun pada proses konsolidasi yang minimal kadang

penyimpangan pemriksaan fisik tersebut kadang sulit terdeteksi atau dijumpai

penyimpangan pemeriksan hanya pada dua atau kurang dari empat kriteria

pemeriksaan paru. Pada konsolidasi yang minimal mungkin hanya dijumpai

bronkofoni positif atau keredupan di area konsolidasi, sedangkan gerakan atau

fremitus suara kadang terdeteksi masih nampak normal. Pada Pneumonia alveoli

mengalami penurunan dalam menampung oksigen karena kantung alveoli di

penuhi dengan sel sel radang.

Pada penanganan Pneumonia terapi utama adalah antibiotika, namun

pemberian antibiotika pada kasus pneumonia hendaknya sesuai dengan hasil

kultur dengan tes kepekaan terhadap antibotika pada sampel dahak penderita.

Dengan pertimbangan dibutuhkannya waktu menunggu hasil kultur (kurang lebih

54
5-7 hari kuman gram +/- baru tumbuh dan memberi hasil berupa informs

antibiotika terbaik untuk kuman penyebab Pneumnia, maka diputuskan unuk

pemberian antibiotika broad spectrum. Antibiotika broad spectrum yang dipakai

pada keradangan paru antara lain golongan Chephalosporin generasi ketiga

(misalnya: Levofloxacin atau Cyprofloxacin injectie) atau golongan

Chephalosporin keempat (misalnya: Meropenem).

Batuk darah merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus

keradangan paru, batuk darah yang minimal masih dapat diatasi dengan baik,

namun batuk darah yang profuse memerlukan perhatian khusus dalam

penatalaksanaannya dengan alasan besarnya efek samping dari haemoptisis

profuse , diantara nya: syok hipovolemik akibat kehilangan banyak darah,

sufokasi atau tersedaknya darah masuk dalam saluran napas, atau obstruksi pada

saluran napas akibat darah yang menggumpal dalam saluran napasyang akan

berlanjut dengan terjadinya atelectasis yaitu kolapsnya alveoli akibat saluran

napas tersumbat oleh gumpalan darah , akibat dari atelectasis adalah infeksi akan

bertambah luas dan berakhir dengan timbulnya sepsis atau syok septik. Dengan

berbagai alasan tersebut, maka mengapa penderita dengan haemoptisis dengan

penyebab apapun, hendaknya ditangani denga cepat dan tepat , sehingga tidak

menimbulkan keadaan yang lebih buruk, akibat pada atelectasis yang luas

sehingga akibat terjadinya hipoksemia dari ringan sampai berat, bahkan dapat

berakibat terjadinya gagal napas.

Penatalaksanaan yang diterima pasien saat pasien pertama kali masuk

Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik adalah Haemoptisis ad causa Susp

55
Pneumonia. Selama dirawat di ruang rawat inap, pasien mendapat terapi unuk

menangani batuk darahnya disamping penanganan terhadap penyakit dasarnya

yaitu Peumonia. Pada saat pasien keluar dari Rumah Sakit mendapat switc terapi

dari antibiotika bentuk injeksi menjadi antibiotika bentk oral. Berdasarkan

pengalaman peneliti yang terjun langsung dalam penelitian ini, penatalakssanaan

yang dilakukan oleh pihak RS Muhammadiyah Gresik sudah sesuai dengan

prosedur. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penatalaksanaan yang

dilakukan di RS Muhammadiyah Gresik maupun penatalaksanaan RS

Muhammadiyah Gresik dengan teori yang peneliti jabarkan pada BAB II. Bahkan

Peneliti mendapat pengalaman dengan dibawah pengawasan dokter spesialis yang

berkompeten dalam penanganan Batuk darah pada Pneumonia. Selama penelitian

tentu penulis mengalami beberapa kesulitan dalam hal penyesuaian waktu visite

dengan dokter spesialis yang merawat pasien agar dapat melakukan visite

bersama. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi teman sejawat yang

membutuhkan informasi bagaimana menangani penderita dengan Batuk darah

pada Pneumonia.

56
DAFTAR PUSTAKA

Bidwell Jacob L,2005.Haemoptysis:Diagnosis and management, American Family


Phisician.vol.72,no.7

Christie, Asih dan Niluh Gede Y, 2004. Keperawatan Medikal Bedah : Klien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : EGC

Dahlan, Zul. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 2. Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta.

Dinkes Jatim. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2010, Pemerintah
Provinsi Jawa Timur Dinas Kesehatan, Surabaya.

Eddy JB,2005. Management Haemoptisis in The Emergency Department. Clinical


Review article. Page 53-59

Hazinski, Thomas A. 2003. Typical and Atypical Pneumonias. In: Rudolph et al (editor).
Rudolph’s Pediatrics, 21st edition. McGraw-Hill. New York. chapter 23.11

Jan Thompson, 2008. A Practical Guide to Clinical Medicine, A comprehensive


physical examination and clinical education site for medical students
and other health care professionals Program Representative, UCSD
School of Medicine Center, San Diego, California 92093-0611.

Lordan JL,2003. The Pulmonary Phisician In Pulmonary Care, Clinical Review.


Illustrative Case 7: Assesment and Management Massive Haemoptysis. Thorax;58:
814-819

McIntosh, Kenneth. 2002. Current Concepts: Community-Acquired Pneumonia


.Available from http://www.nejm.org (Accessed 11th September 2012).

Misnadiarly. 2008. Pneumonia, Penyakit Infeksi Saluran Napas,Edisi 1. Pustaka Obor


Populer. Jakarta.

Navdeep K. Brar,2011. Management of community-acquired Pneumonia.A


Review and Update. Ther Adv Resp Dis. 2011;5(1):61-78.

Spicer,WJ,2003. Clinical Microbiology and Infectious Diseases: An Illustrated


Colour Text. McGraw-Hill. New York. Chapter 125-127

Steinert Don MA, RRT,MT,CRS, 2009. Pathophisiology and Laboratory


Identification of Pneumonia.Clinical Laboratory of Medicine. Focus
Journal jan/Feb,p:20-46

Torres A,et all, 2013. Risk factors for community-acquired pneumonia in adults in
Europe: a literature review. Thorax;68:1057-1065.

57
Lampiran 1

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan dibawah ini saya:

Nama : Nasrullah Noor Indrajanu

NPM : 10700319

Program Studi: Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas

Wijaya Kusuma Surabaya. Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa Tugas

Akhir yang saya tulis dengan judul: “Penanganan Pasien Pneumonia

dengan penyulit batuk darah profuse” adalah benar benar hasil karya saya,

bukan merupakan pengambil alihan tuliasn atau pikiran orang lain yang

saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya. Apabila dikemudian hari dapat

dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya

bersedia menerima atas sanksi perbuatan tersebut

Surabaya, 18 20

Desember 2014

Yang membuat pernyataan,

(Nasrulah Noor Indrajanu)


NPM: 10700319

58
Lampiran 2

LEMBAR PENJELASAN KEPADA SUBYEK PENELITIAN

Kepada Yth,

AssWrWb,

Perkenalkan nama saya Nasrulah Noor Indrajanu, mahasiswa Program

Studi Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma

Surabaya, bersama ini memohon kesediaan Bapak / Ibu untuk berpartisipasi dalam

penelitian saya yang berjudul “Penanganan Pasien Pneumonia dengan penyulit

batuk darah profuse”

Dengan tujuan: Mengetahui bagaimana cara penanganan batuk darah pada

pasien Pneumonia dan TB paru . Dalam penelitian ini akan dilakukan

pengumpulan data berupa Anamnesa (tanya jawab seputar penyakit bapak/ibu

alami saat ini ) yang dilakukan oleh Peneliti sendiri serta pemeriksaan fisik dasar

yang dilakukan dengan pendampingan doter spesialis yang menangani penyakit

bapak/ibu saat ini.

Selain dengan melakukan Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik, saya juga

berharap bapak/ibu mengijinkan saya untuk diijinkan melihat data Rekam Medis

berupa hasil pemeriksaan laboratorium. Adapun hasil yang diinginkan oleh

peneliti adalah: Darah lengkap, Kimia Klinik, Faal Hemostasis, serum elektrolit,

Smear Sputum da kultur sputum. Peneliti juga ingin melihat hasil Foto thoraks

bapak/ibu. Data yang kami peroleh akan saya cantumkan dalam laporan hasil

penelitian saya nanti.

59
Penelitian berlangsung sekitar 1 minggu atau menyesuaikan kondisi

bapak/ibu saat di rawat inap. Peneliti akan berkunjung setiap hardapat memantau

perkembangan kesehatan bapak/ibu dan memantau terapi yang diberikan oleh

dokter spesialis yang merawat bapak/ibu setiap hari.

Saya sangat berharap kesediaan bapak/ibu untuk berpartisipasi dalam

penelitian ini. Penelitian ini bersifat sukarela dan idak akan memberikan dampak

yang membahayakan . Semua informasi yang diperoleh akan dirahasiakan dan

hanya digunakan dalam penelitian ini. Bila data bapak/ibu di publikasikan, maka

kerahasiaannya akan tetap terjaga.

Jika bapak/ibu bersedia, Surat Pernyataan Kesediaan menjadi subyek

penelitian mohon kesediaannya unuk di tanda tangani. Perlu bapak.ibu ketahui

bahwa Surat Pernyataan Kesediaan tidak mengikat dan bapak/ibu berhak

mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja bapak/ibu menghendaki atau

bapak/ibu merasakan adanya hal hal yang merugikan bapak/ibu. Semoga

keterangan diatas dapat dimengerti dan atas kesediaan bapak/ibu unk

berpartisipasi dalam Penelitian ini , saya ucapan banyak terima kasih.

Surabaya,

Peneliti,

(Nasrullah Noor Indrajanu)

NPM: 10700319

60
LEMBAR PERSETUJUAN UNTUK MENJADI SUBYEK PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

Setelah membaca semua keterangan tentang penelitian dan hak hak saya

sebagai subyek penelitian yang berjudul : “Penanganan Pasien Pneumonia dengan

penyulit batuk darah profuse”

Dengan sadar dan tanpa paksaan bersedia berpartisipasi dalam penelitian

untuk diteliti leh peneliti Nasrullah Noor Indrajanu, NPM: 10700319, Program

Studi: Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma

Surabaya, dengan catatan apabila suatu ketika merasa dirugikan dalam bentuk

apapun, berhak membatalkan persetujuan ini.

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nn. Vidia Ismi Aulia

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 16 tahun

Alamat : Jl. Sindujoyo XVI / 40 Surabaya

Tlp/HP : 085648604894

Saksi: :

Gresik,

61
1. …………………………… (tanda tangan) Tanda

tangan

…………………………… (nama terang)

2. …………………………… (tanda tangan)

…………………………… (nama terang) (Vidia Ismi

Aulia)

62