Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA

ACARA VI
PEMAHAMAN FENOMENA LITOSFER DAN PEDOSFER

Disusun oleh:

Nama : Mulyadi Alwi


NIM : 17/408919/GE/08462
Hari, Tanggal : Selasa, 24 Oktober 2017
Waktu : 07.00 – 09.00
Asisten : Fitri Riswari
Khansa Sitrostatufana Arsy An Nisa

LABORATORIUM ANALISIS DATA WILAYAH


JURUSAN SIG & PW
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
TAHUN 2017
ACARA VI
PEMAHAMAN FENOMENA LITOSFER DAN PEDOSFER

I. TUJUAN
Tujuan praktikum pemahaman fenomena litosfer dan pedosfer adalah :
1. Memahami kondisi fisiografi makro Indonesia.
2. Memahami material penyusun litosfer dan pedosfer serta persebarannya di
pulau-pulau besar Indonesia.

II. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan praktikum pemahaman fenomena litosfer dan pedosfer
adalah :
1. Alat tulis dan pensil warna
2. Data kondisi fisiografi makro pulau besar di Indonesia (website)
3. Data jenis dan nama batuan di Indonesia (website)
4. Data jenis tanah dan sebarannya di Indonesia (website)
5. Peta Indonesia unit provinsi

III. TINJAUAN PUSTAKA


Kondisi lempeng dan geologi Indonesia
Ilmu geologi didasarkan kepada studi terhadap batuan. Diawali
dengan mengetahui bagaimana batuan itu terbentuk, terubah, hingga
bagaimana batuan itu sekarang menempati bagian dari pegunungan , dataran-
dataran dibenua hingga di dalam cekungan dibawah laut. Batuan adalah
material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang
terkonsolidasi maupun yan tidak terkonsolidasi merupakan penyusun utama
kerak bumi serta terbentuk sebagai hasil proses alam. Batuan dapat dibedakan
menjadi 3, yaitu: batuan beku, sebagai hasil proses pembekuan atau kristalisasi
magma; batuan sedimen, sebagai hasil proses sedimentasi; dan batuan
metamorf, sebagai hasil proses metamorfisme (Warmada dan Titisari, 2004).
Batuan beku atau igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis
batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan
atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebaia batuan intrusif
(plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif(vulkanik).
Magma dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah
ada, baik dari mantel ataupun kerak bumi. Lebih dari 700 tipe batuan beku
telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan
kerak bumi (Noor, 2009).
Sedimen merupakan bahan atau partikel yang terdapat di permukaan
bumi (di darat maupun dilautan), yang telah mengalami proses pengangkutan
(transportasi) dari satu tempat ke tempat lainnya. Air dan angin merupakan
agen pengangkut yang utama. Ilmu yang mempelajari batuan sedimen disebut
dengan sedimentologi (Munir, 1996). Batuan sedimen terbentuk dari
konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi
pengendapan oleh air, angin, es, dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau
tanah longsor.
Kata metamorfosa berasal dari bahasa Yunani, yaitu metamorphism
dimana “meta” artinya berubah dan “morph” artinya bentuk. Dengan
demikian pengertian metamorfosa merujuk pada perubahan dari kelompok
mineral dan tekstur batuan yang terjadi dalam suatu batuan yang mengalami
tekanan dn temperatur yang berbeda dengan tekanan dan temperatur sat
batuan tersebut pertama kalinya terbentuk (Munir, 1996).
Profil fisiografi makro Indonesia
Indonesia kaya akan potensi sumber daya alam maupun batuan, salah
satunya adalah tanahnya. Tanah merupakan suatu benda alam yang
menempati lapisan kulit bumi yang teratas dan terdiri atas butir tanah, air,
udara, sisa tumbuhan-tumbuhan dan hewan, yang merupakan tempat
tumbuhnya tanaman. Pengertian tanah menurut Sitanala Arsyad (1989) dalam
Endarto (2009) adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas
komponen-komponen padat, cair, dan gas yangmempunyai sifat serta
perilaku yang dinamis. Jenis tanah di Indonesia sangat beragam tergantung
dari proses pembentukannya. Jenis-jenis tanah yang terdapat di Indonesia
adalah adosol, regosol, aluvial, gambut, terarosa. Andosol merupakan hasil
pelapukan dari abu vulkanis, sehingga banyak ditemui di Jawa bagian tengah,
Sumatera bagian barat, dan beberapa daerah yang terdapat gunung berapi.
Tanah aluvial merupakan tanah hasil erosi dan banyak dijumpai di dataran
rendah seperti di pulau Jawa, pesisir barat Sumatera dan Sulawesi. Tanah
gambut merupakan hasil pembusukan bahan-bahan organik di daerah yang
selalu tergenang air, sebagian besar terdapat di pesisir timur Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tanah Terarosa merupakan tanah hasil
pelapukan batuan kapur, banyak ditemukan di Jawa bagian selatan sebelah
timur yaitu di Pegunungan Seribu.
Topografi makro di Indonesia sangat beragam. Pulau Sumatera terdiri
dari dua bagian yaitu bagian timur dan barat. Bagian barat pula Sumatera
memiliki topografi berbukit sedangkan bagian timur landai. Pulau Jawa dapat
dibagi menjadi dua zona yaitu zona utara dan selatan, bagian utara pulau Jawa
relatif landai sedangkan bagian tengah dan selatan memiliki topografi
bergunung dan berbukit. Pulau Kalimantan sebagian besar mempunyai
topografi landai, sedangkan Sulawesi mempunyai topografi berbukit dan
bergunung. Pulau Papua dapat dibagi dua zona yaitu zona utara-selatan dan
tengah. Zona tengah Papua memiliki topografiberbukit dan brgunung karena
terdapat Pegunungan Jayawijaya.
Proses pembentukan tanah
Tanah merupakan hasil dari pelapukan batuan yang terjadi secara
alami. Syarat utama terbentuknya tanah ada dua yaitu: (1) tersedianya bahan
asal atau batuan induk, (2) adanya faktor-faktor yang mempengaruhi bahan
induk (Jenny, 1941 dalam Sartohadi 2014). Proses pembentukan tanah diawali
dengan batuan yang berinteraksi langsung dengan atmosfer dan hidrosfer
sehingga memicu terjadinya pelapuka kimiawi. Batu yang lunak akan terus
terjadi pelapukan, setelah itu tumbuhan perintis mulai tumbuh dan akarnya
membentuk rekahan sehingga terjadi pelapukan biologis. Akhirnya batuan
lapuk berubah menjadi tanah yang relatif subur.
Litosfer merupakan lapisan kulit bumi. Bentuk muka bumi terbentuk
oleh tenaga geologi yang terdiri atas tenaga endogen dan eksogen. Tenaga
endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi meliputi tektonisme &
vukanisme. Tektonisme yaitu tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan
pergeseran lempeng/batuan bumi. Vulkanisme yaitu aktivitas magma dari
dapur magma ke permukaan bumi. Tenaga eksogen yaitu tenaga yang berasal
dari luar bumi meliputi pelapukan/pengikisan dan pengendapan. Pelapukan
adalah peristiwa pengahncuran partikel-partikel batuan, terdiri dari 3 yaitu
pelapukan mekanik, organik, dan kimiawi. Pengendapan/sedimentasi yaitu
peristiwa pengendapan material batuan oleh air, angin, dan gletser.
Pegendapan berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya: Aquatis, Marine,
Aeolis, Glasial. Sedangkan berdasarkan tempat pengendapannya: Fluvial,
Limnis, Terestris.
Proses pembentukan tanah terdiri dari pelapukan (fisik, kimia,
maupun biologi) dan perkembangan (pembentukan horizon tanah). Proses
pembentukan tanah dipengaruhi oleh : (1) Batuan induk dan bahan organik;
(2) iklim (curah hujan, temperatur); (3) Organisme (tumbuh-tumbuhan dan
hewan); (4) Relief: relief yang miring/terjal sulit dlam pembentukan tanah
dibanding pada daerah yang datar karena tanah miring akan terus terkikis dan
tanah datar mengendap; (5) waktu: semakin lama waktu yang dibutuhkan
maka semakin tebal tanah yang terbentuk.
Tahapan pembentukan tanah (Mohr) terdiri dari: (1) Tahap
permulaan: bahan induk masih belum mengalami pelapukan; (2) Tahap
Juvenil: proses pelapukan sudah mulai berjalan; (3) Tahap Viril: proses
pelapukan optimum; (4) Tahap Senil: tahap pelapukan sudah mulai berlanjut;
(5) Tahap Akhir: proses pelpukan sudah berakhir. Profil tanah merupakan
sampel tanah yang diambil daripermukaan sampai ke dalam tanah. Profil
tanah terdiri dari: (1) Horizon O, lapisan yang paling kaya humusdan
berwarna gelap(top soil); (2) Horizon A, di bawah lapisan O masih
mengandung humus berwarna keabu-abuan(sub soil); (3) Horizon B, sedikit
humus berwarna cokelat kuning/cokelat kemerh-merahan; (4) Horizon C,
tempat terjadinya pelapukan batuan; (5) Horizon D/R, tempat batuan induk,
dasar, tua (Sartohadi, 2014).
IV. LANGKAH KERJA
Langkah kerja praktikum pemahaman fenomena litosfer dan pedosfer
adalah :
Pemahaman Fenomena Litosfer dan Pedosfer

Data Kondisi Data Jenis dan Data Jenis Tanah


Fisiografi Makro Nama Batuan di dan Sebarannya di
Indonesia (website) Indonesia (website) Indonesia (website)

Mengidenifikasi dan Mengidentifikasi


Mengidentifikasi dan
Mengklasifikasi dan Mengklasifikasi
Mengklasifikasi
Kondisi Fisiografi Jenis Tanah dan
Jenis dan Nama
Makro per Pulau Sebarannya per
Batuan per Pulau
Besar di Indonesia Pulau Besar di
Besar di Indonesia Indonesia

Tabel Tabel
Tabel Jenis Peta Jenis
Kondisi Jenis dan
Tanah dan Tanah dan
Fisiografi Nama
Sebarannya Sebarannya
Makro per Batuan per
di Pulau di Pulau
Pulau Pulau
Besar di Besar di
Besar di Besar di
Indonesia Indonesia
Indonesia Indonesia

Keterangan : : Input : Proses : Output

V. HASIL PRAKTIKUM
Hasil praktikum pemahaman fenomena litosfer dan pedosfer adalah :
1. Tabel Kondisi Fisiografi Makro Indonesia
2. Tabel Jenis dan Nama Batuan di Indonesia
3. Tabel Jenis Tanah dan Sebarannya di Indonesia
4. Peta Jenis Tanah dan Sebarannya di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Endarto, Danang. 2009. Geografi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen


Pendidikan Nasional.

Munir, Moch. 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. Jakarta: Pustaka Jaya.

Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi. Bogor: CV Graha Ilmu.

Sartohadi, Junun., dkk. 2014. Pengantar Geografi Tanah. Pustaka Pelajar.

Warmada, W dan Titisari Anastasia. 2004. Agromineralogi (Mineralogi untuk


Ilmu Pertanian). Yogyakarta: Fakultas Teknik UGM.