Anda di halaman 1dari 3

Tahap Ketiga (Tawar Menawar)

Pada tahap ini, klien lansia pada umumnya berkata “Ya, benar aku, tetapi…” Kemarahan
biasanya mereda dan klien lansia dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang
terjadi dengan dirinya. Akan tetapi, pada tahap tawar – menawar ini banyak orang cenderung untuk
menyelesakan urusan rumah tangga mereka sebelum maut tiba, dan akan menyiapkan beberapa hal,
misalnya membuat surat dan mempersiapkan jaminan hidup bagi orang yang tercita yang ditinggalkan.

Selama tawar – menawar, permohonan yang dikemukakan gendaknya dapar dipenuhi kareana
merupakan urusan yang belum selesai dan harus diselesaikan sebelum mati. Misalnya, klien lansia
mempunyai permintaan terakhir untuk melihar pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat
cucu terkecil, atau makan di restoran. Perawat dianjurkan untuk memenuhi permohonan itu karena
membantu klien lansia memasuki tahap berikutnya.

Tahap Keempat (Sedih/Depresi)

Pada tahap ini, klien lansia pada hakikatnya berkata “Ya, benar aku.” Hal ini biasanya merupakan
saat yang menyedihkan karena klien lansia sedang dalam suasana berkabung. Di masa lampau, ia sudah
kehilangan orang yang dicintai dan sekarang ia meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah
dinikmatinya. Selam tahap ini, klien lansia cenderung tidak banyak bicara dan sering menangis. Saatnya
bagi perawat untuk duduk dengan tenang disamping klien lansia yang sedang melalui masa sedihnya
sebelum meninggal.

Tahap Kelima (Menerima/Asertif)

Tahap ini ditandai dengan sikap menerima kematian. Menjelang saat ini, klien lansia telah
menyelesaikan segala urusan yang belum selesai dan mungkin tidak ingin berbicara lagi karena sudah
menyatakan segala sesuatunya. Tawar-menawar sudah lewat dan tibalah saat kedamaian dan
ketenangan. Seseorang mungkin saja lama ada dalam tahap menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang
berarti kekalahan. Dengan kata lain, pasrah pada maut bukan berarti menerima maut.

3. Pengaruh Kematian
Pengaruh kematian terhadap klien lansia:
a. Bersikap kritis terhadap cara perawatan
b. Keluarga dapat menerima kondisinya
c. Terputusnya komunikasi dengan orang yang menjelang maut
d. Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak dapat mengatasi
rasa sedih
e. Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi
f. Keluarga menolak diagnosis. Penolakan tersebut dapat memperbesar beban emosi keluarga
g. Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan

Pengaruh kematian terhadap tetangga/teman:


a. Simpati dan dukungan moril
b. Meremehkan atau mencela kemampuan tim kesehatan
Saat kematian merupakan suatu proses berlangsungnya kematian, yang meliputi 5 tahap.
Pemenuhan kebutuhan klien menjelang kematian:

a. Kebutuhan jasmaniah. Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit berbeda pada setiap orang.
Tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien lansia (mis., sering mengubah posisi
tidur, perawatan fisik, dsb)
b. Kebutuhan emosi. Untuk menggambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lansia dalam
menghadapi kematian.
1) Mungkin klien lansia mengalami ketakutan yang hebat (ketakutan yang timbul akibat
menyadari bahwa dirinya tidak mampu mencegah kematian).
2) Mengkaji hal yang diinginkan penderita selama mendampinginya. Misalnya, lansia ingin
memperbincangkan tentang kehidupan dimasa lalu dan kemudian hari. Bila pembicaraan
tersebut berkenan, luangkan waktu sejenak. Ingat, tidak semua orang senang
membicarakan kematian.
3) Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama klien.

Pertimbangan khusus dalam perawatan:


a. Tahap I (penolakan dan rasa kesendirian), mengenal atau mengetahui bahwa proses ini
umumnya terjadi karena menyadari akan datangnya kematian atau ancaman maut.
1) Beri kesempatan kepada klien lansia untuk mempergunakan caranya sendiri dalam
menghadapi kematian sejauh tidak merusak.
2) Memfasilitasi klien lansia dalam menghadapi kematian. Luangkan waktu 10 menit sehari,
baik dengan bercakap-cakap maupun sekedar bersamanya.
b. Tahap II (marah), mengenal atau memahami tingkah laku serta tanda-tandanya.
1) Beri kesempatan kepada klien lansia untk mengungkapkan kemarahannya dengan kata-
kata.
2) Ingat, bahwa dalam benaknya bergejolak pertanyaan, “Mengapa hal ini terjadi pada
diriku?”
3) Seringkali perasaan ini dialihkan kepada oranglain atau anda sebagai cara klien lansia
bertingkah laku.
c. Tahap III (tawar-menawar), menggambarkan proses seseorang yang berusaha menawar waktu.
1) Klien lansia akan mempergunakan ungkapan, seperti seandainya “Saya…”
2) Beri kesempatan kepada klien lansia untuk menghadapi kematian dengan tawar-menawar.
3) Tanyakan kepentingan yang masih ia inginkan. Cara demikian dapat menunjukkan
kemampuan perawat untuk mendengarkan ungkapan perasaannya.
d. Tahap IV (depresi), lansia memahami bahwa tidak mungkin menolak lagi kematian yang tidak
dapat dihindarkan itu, dan kini kesedihan akan kematian itu sudah membayanginya.
1) Jangan mencoba menyenangkan klien lansia. Ingat bahwa tindakan ini sebenarnya hanya
memenuhi kebutuhan petugas. Jangan takut menyaksikan klien lansia atau keluarganya
menangis. Hal ini merupakan ungkapan pengekspresian kesedihannya. Anda boleh saja ikut
berduka cita.
2) “Apakah saya akan mati?” Sebab sebetulnya pertanyaan klien lansia tersebut hanya
sekedar mengisi dan menghabiskan waktu untuk memperbincangkan perasaanya,
bukannya mencari jawaban. Biasanya klien lansia menanyakan sesuatu, ia sebenarnya
sudah tahu jawabannya. Apakah anda merasa akan meninggal dunia?
e. Tahap V, membedakan antara sikap menerima kematian dan penyerahan terhadap kematian
yang akan terjadi. Sikap menerima: klien lansia telah menerima, dapat mengatakan bahwa
kematian akan tiba dan ia tak boleh menolak. Sikap menyerah: sebenarnya klien lansia tidak
menghendaki kematian ini terjadi, tetapi ia tahu bahwa hal itu akan terjadi. Klien lansia tidak
merasa tenang dan damai.
1) Luangkan waktu untuk klien lansia (mungkin beberapa klai dalam sehari). Sikap keluarga
akan berbeda dengan sikap klien lansia. Oleh karena itu, sediakan waktu untuk
mendiskusikan perasaan mereka.
2) Beri kesempatan klien lansia untuk mengarahkan perhatiannya sebanyak mungkin.
Tindakan ini akan meberi ketenangan dan perasaan aman.

4. Hak Asasi Pasien Menjelang Ajal